ALIEN: COVENANT (2017)

28 komentar
Alien: Covenant eksis semata-mata karena dua alasan, yaitu Ridley Scott ingin mengoreksi jalur yang ditempuh Prometheus dan menghalangi realisasi Alien 5 milik Neill Blomkamp. Mungkin Scott khawatir apabila terus membuat Alien dengan fokus bukan pada Xenomorph sementara Blomkamp sukses, tahtanya sebagai "Granddaddy of Alien franchise" bakal terusik oleh sang darah muda. Tapi rupanya talenta berbicara. Walau didorong niat demikian, nyatanya Covenant merupakan mimpi buruk yang mumpuni mengumbar teror, menjadikannya installment paling brutal walau masih teramat jauh dari status "terbaik". 

Tahun 2104 alias 11 tahun pasca Prometheus, pesawat koloni Covenant tengah mengarungi angkasa guna menuju planet baru untuk didiami manusia. Sampai sebuah insiden maut ditambah penerimaan transmisi yang ditengarai berasal dari planet layak huni terdekat membuat mereka memilih mengubah arah. Setibanya di sana, bisa ditebak teror mematikan telah menunggu di samping kembalinya David (Michael Fassbender), android selaku survivor dari misi Prometheus. Namun jangan harap tensi langsung meninggi, karena setelah first act cukup mencekam, Covenant melambat, menghabiskan 30 menit pertama menyoroti perdebatan kru dilanjutkan pencarian mereka atas sumber transmisi di atas.
Penuturan lambat ini urung dibarengi nuansa atmosferik seperti Alien atau misteri pengundang tanya serupa Prometheus. Obrolan di pesawat atau perjalanan di hutan mendominasi tanpa disokong penokohan solid. Ketika Fassbender sebagai David dan Walter, dua android beda jenis sekaligus kepribadian (apparently they have one) tampil memikat memisahkan dua sosok serupa tapi tak sama dengan mulus, sisa tokoh tak ubahnya onggokan daging tidak bernyawa yang ada hanya untuk dibantai. Talenta Danny McBride, James Franco, hingga Demian Bichir tersia-sia, sedangkan Katherine Waterston kekurangan keperkasaan sebagai action heroine

Mayoritas tokoh utama berstatus pasangan. Harapannya, timbul rasa iba dan dampak emosional bagi menonton mendapati mereka terancam. Walau memberi sedikit bobot, penokohan lemah minim daya tarik meniadakan dampak yang diinginkan. Setidaknya ada poin positif. Deretan tokohnya tidak sebodoh ilmuwan-ilmuwan Prometheus. Benar tingkah bodoh sempat ditunjukkan khususnya di awal teror Xenomorph, namun bisa dimaklumi mengingat saat itu mereka dikuasai ketakutan luar biasa. Ketakutan yang bisa dipercaya, sebab kita pun merasakan hal serupa berkat kapasitas Ridley Scott menyulut ketegangan menggunakan shaky cam dan dengung alarm di koridor sempit pesawat, serupa Alien dahulu.
Untungnya setelah babak awal melelahkan, film ini total menggelontorkan tensi. Aksi masif berhiaskan CGI meyakinkan jadi bukti kematangan Scott menyusun spectacle tanpa bujet berlebihan ("hanya" $111 juta, jauh dibanding banyak blockbuster yang mencapai di atas $200 juta). Satu-satunya kekurangan yakni terlampau pendeknya klimaks. Soal parade horor, Scott meminimalisir jump scare, berkonsentrasi pada gore serta gambar-gambar layaknya mimpi buruk. Di sini puncak Covenant, tatkala Scott mengekspresikan kegilaan, menghabisi tokoh-tokoh forgettable-nya sebrutal mungkin, menumpahkan isi perut, memotong bagian tubuh, membanjiri lantai dengan darah. Bahkan koneksi terhadap Prometheus pun diungkap secara twisted pun disturbing.

Bicara tentang kaitan dengan installment sebelumnya, Covenant berguna menjawab segelintir pertanyaan semisal soal wujud evolusi Xenomorph yang berubah-ubah. Diberikan pula "jembatan" antara cikal bakal sang alien di Prometheus dengan sosok yang kita kenal baik selama ini. Beberapa fakta ini akan lebih diapresiasi penggemar franchise-nya, namun takkan berpengaruh bagi penonton awam. Sederet poin menyiratkan usaha mengesampingkan plot thread milik Prometheus. Konsep "pencipta dan ciptaannya" masih disinggung, tapi menilik cliffhanger di akhir, rasanya alih-alih meluaskan lingkup membahas asal muasal manusia dan Engineer, babak berikutnya cenderung kembali ke akar, menautkan seri prekuel dengan original. Dan sebagaimana Alien pula, Scott coba bermain-main melalui seksualitas tersirat berupa "oral" antar kembar bersaudara" Fassbender. 

28 komentar :

Comment Page:
Bayu Wibowo mengatakan...

Lambat di awal, menghujam habis tiada ampun di paruh akhir.
Bangku sebelah saya setengah film malah keluar studio..
Bener mas, james franco kasian bgt hahaha

Briyogi Shadiwa mengatakan...

ane malah justru merasa 1/3 akhir terkesan buru-buru om, tapi salut Om Ridley coba gabungin konsep Alien + Aliens + Alien 3 dalam satu film ini.. :) #fansaliengariskeras

Wahid Kurniawan mengatakan...

Bagus, tapi endingnya bikin getir...

Anonim mengatakan...

Menurutku kok kurang ya..
Seharusnya ini film tentang alien ya kok malah creepy an michael fassbender daripada aliennya
Trus Penokohannya juga kurang, sampe G peduli si katherine waterstone mau idup atau mati
Tapi adegan suling sungguh mindblowing
selebihnya banyak Talenta disia siakan

Rasyidharry mengatakan...

Tapi memang kalau nggak gitu Franco bisa jadiin nih film komedi haha

Rasyidharry mengatakan...

Seperti udah ditulis, klimaksnya memang terlalu ringkas.
Yes, horor Alien + action Aliens + cerita Prometheus

Rasyidharry mengatakan...

Ending paling getir sejak Alien 3 :)

Rasyidharry mengatakan...

Somehow benar. Android lebih dominan & Katherine jangankan Weaver, sama Rapace aja kalah.
I know right? Alat musik jadi simbol seks :D

tauriza iqbal mengatakan...

Benarkah Scott berencana membuat 3 prekuel film Alien stlh Alien: Covenant ?

Rasyidharry mengatakan...

Ridley Scott sih selalu ganti rencana. Di 2015 bilang setelah Covenant bakal ada 1-2 prekuel lagi. Maret 2017 ganti lagi jadi 3 film setelah Covenant & next project judulnya "Alien: Awakening", interquel antara Prometheus-Covenant. Pokoknya apapun asal franchise Alien nggak dipegang orang lain

Badminton Battlezone mengatakan...

Entah kenapa saya pikir prometheus lebih bagus daripada sekuelnya ini. Alurnya berjalan lambat,dengan judul alien...agak aneh antagonis alien berperan sedikit dan justru digantikan peran lain. Tp alien kali ini lebih beringas,liar dan kejam :D

Dana Saidana mengatakan...

Kok sya malah merasa seperti lagi nonton sequel film Life ya Bang :-D

Rasyidharry mengatakan...

Kalau suruh pilih juga lebih suka Prometheus sih :)

Rasyidharry mengatakan...

Tergantung, lebih dulu nonton mana. Aslinya ya Life yang ngikutin Alien sana-sini :D

Dana Saidana mengatakan...

Adegan para kru nembakin bayi alien (aka alien mini) n gak ada satupun peluru yg mengenai sasaran itu identik banget sama Life ya Bang. :-D

Rasyidharry mengatakan...

Oh itu formula standar yang dari jaman Aliens dulu udah (dan akan selalu) dipake. Macam jagoan ditembakin nggak kena di film eksyen lah :D

Ariyadi Firmansyah mengatakan...

Baru nonton nie film n emang agak boring diawal tapi abis itu emang bener2 tegang, ane pikir james franco bakal mati secara heroik, tapi ya emang nasib cuma cameo doang...adegan favourite ane pas dua org bodoh lagi mandi hehehe

Ariyadi Firmansyah mengatakan...

Tambahan, fasbender emang lbh cocok jadi bad guy drpd good guy dgn ekspresi muka datarnya

Rasyidharry mengatakan...

Jadi good guy ya ujungnya si Walter itu :D

Anonim mengatakan...

Kecewa aku, gara2 terlanjur suka dengan Prometheus dan tema pencarian Tuhan dengan ending yg menjanjikan sequel. Eh...ternyata jadi kayak gini.

Rasyidharry mengatakan...

Kekecewaan yang bisa dimengerti hehe
Tapi gimana lagi, Ridley Scott sendiri (diam-diam) nggak suka sama Prometheus sih

Anonim mengatakan...

Astronotnya ini mirip banget sama orang Indonesia, malas pakai helm.

ray tamao mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
ray tamao mengatakan...

boleh dikatakan sebagai salah satu franchise film favorite saya, mulai dri alien 1979 dan sterusnya. bnyk misteri yg blum trjwb mengenai asal usul bangsa engineers dan tentunya teknologi peradabannya, ahh sya pikir harus dbuat film lagi judulnya the last engineers, bgaimana bung harry setuju hahaha..

Rasyidharry mengatakan...

Haha pasti ada kok itu, buat nyambungin lagi ke film pertama. Tinggal si Scott dikasih lampu hijau sama studio nggak, secara pendapatan filmnya nggak seberapa :D

Handy Kurniawan mengatakan...

waah sepertinya saya kelewatan , sulingnya buat apa gan ??

Handy Kurniawan mengatakan...

yaah demi cerita sih oke oke wae , tapi kegoblokan staffnya kok keterlaluan ya -_-
1. Gak diselidikin pake robot / pemantau yang lain
2. waktu ke planetnya gak pake pengaman apa2

btw endingnya bikin gregetan fak

Rasyidharry mengatakan...

Sulingnya simbol kelamin, jadi kayak blowjob 2 Fassbender. Ditambah ada kalimat "I'll do the fingering" :D