Tampilkan postingan dengan label Ridley Scott. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ridley Scott. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE LAST DUEL

The Last Duel diangkat dari buku non-fiksi The Last Duel: A True Story of Trial by Combat in Medieval France karya Eric Jager. Latarnya tahun 1386, tapi ini bukan pengingat mengenai masa lampau, melainkan tamparan, bahwa dibanding enam abad lalu, cara masyarakat menyikapi kasus pemerkosaan, termasuk pendefinisian terhadapnya, belum mengalami perkembangan signifikan. 

Sebelum menyelami isunya, satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah tata artistik. Desain produksinya melahirkan latar medieval kelas satu, yang mana makin jarang kita temui, pada era di mana film medieval berbiaya ratusan juta dollar mendekati kepunahan (situasi yang sejatinya bisa dipahami melihat remuknya pendapatan The Last Duel). 

Naskah buatan Nicole Holofcener bersama Matt Damon dan Ben Affleck, yang kembali berduet menulis sejak Good Will Hunting (1997), tampil bak Rashomon (1950), membagi kisah menjadi tiga babak, guna mengolah konsep "perspektif". Tapi berbeda dengan karya Akira Kurosawa tersebut, di sini penonton diberi tahu mana kebenaran sesungguhnya. 

Tiga figur utamanya adalah Jean de Carrouges (Matt Damon), Jacques le Gris (Adam Driver), dan Marguerite de Carrouges (Jodie Comer). Kerap terjun ke medan perang bersama, Jean dan Jacques adalah kawan baik. Setidaknya sampai perbedaan nasib merenggangkan keduanya. Karir Jacques moncer pasca jadi orang kepercayaan Count Pierre (Ben Affleck), sebaliknya, Jean terlilit masalah finansial. 

Konflik meruncing setelah Marguerite, istri Jean, mengaku diperkosa oleh Jacques. Melalui tiga babak yang masing-masing menyoroti sudut pandang ketiga karakternya, kita dibawa menelusuri kebenaran. Benarkah Jacques memerkosa Marguerite? 

Apabila Rashomon menilik relativitas kebenaran lewat ketiadaan jawaban pasti, maka The Last Duel sebaliknya. Semua versi merupakan kebenaran, dipisahkan oleh perbedaan sudut pandang yang diciptakan misogini. Bagi satu karakter, perkosaan tak terjadi sebab memang itu yang ia percaya. Di mata karakter lain, ia tengah membela martabat wanita, karena begitulah isi kepalanya. Tidak ada kebohongan. Hanya ada kebodohan. 

Bukankah perihal serupa masih kerap terjadi hari ini? Pria merasa sudah meninggikan wanita walau sejatinya tengah merendahkan mereka. Di ranah seksualitas, pria mengesampingkan consent, menutup mata atas penolakan dengan anggapan "Dia mau tapi malu", atau "merupakan tugas istri melayani suami". Alhasil, pertanyaan sesungguhnya bukan "Apakah ada pemerkosaan?", melainkan, "Ada BERAPA pemerkosaan?". 

Segala hal di atas, ditambah penyalagunaan sisi agama yang meringankan pelaku sekaligus memberatkan korban, menghadirkan paralel dengan era sekarang. Sungguh keterlaluan saat manusia modern seperti kita masih bersikap seperti mereka, yang hidup saat pemerkosaan dilihat sebagai aksi kriminal terhadap suami selaku "pemilik properti". 

Naskahnya tidak asal membagi babak. Siapa pertama, kedua, dan ketiga, memiliki maksud. Bukan saja demi twist, pula menyampaikan, bahwa kita harus selalu memercayai korban terlebih dahulu. Setiap babak pun tampil efektif berkat akting kuat jajaran pemain. Comer, Damon, dan Driver memberi perbedaan bagi karakter masing-masing, tergantung bagaimana si "pemilik babak" memandang karakter mereka. 

Salah satu contoh terbaik adalah ketika Jacques mendadak mengunjungi Marguerite. Comer dan Driver melakoni dua interaksi berisi baris kalimat yang kurang lebih sama, tetapi dengan penanganan berbeda terhadap karakter masing-masing. Perubahannya subtil namun pasti. 

Judul The Last Duel merujuk pada tantangan Jean pada Jacques untuk berduel sampai mati sebagai bentuk pengadilan resmi, yang jadi judicial duel terakhir sepanjang sejarah (masih ada duel sampai 1547, namun bukan dalam rangka pengadilan legal). Filmnya mengandung beberapa sekuen peperangan berdarah, yang membuktikan masih piawainya Ridley Scott menyutradarai genre ini, namun "duel terakhir" adalah yang paling intens. 

Sebab di situ kita terlibat secara emosional. Bukan pada dua pria yang sedang beradu fisik, melainkan si wanita yang batinnya bergejolak, kala lukanya justru dijadikan ajang pembuktian maskulinitas. Ibaratnya seperti para aktivis berstandar ganda, yang daripada benar-benar memedulikan korban, lebih mementingkan peningkatan citra. 

(DISNEY+ HOTSTAR)

REVIEW - HOUSE OF GUCCI

Penonton drama Korea pasti akrab dengan istilah makjang. Sebuah genre penuh hal berlebihan, yang jago menaikkan tekanan darah penontonnya (contoh: Sky Castle, The World of the Married, Penthouse). Cinta beda kasta, keluarga luar biasa kaya (biasanya memiliki ayah diktator dan salah satu anaknya tidak berguna), latar mewah, konspirasi berbelit, korupsi, perselingkuhan, pembunuhan, jadi beberapa elemen khasnya. Eksekusinya cenderung over-the-top. Serba berlebih. 

House of Gucci punya semua elemen di atas, namun Ridley Scott jelas tidak pernah menonton makjang. Mengadaptasi buku The House of Gucci: A Sensational Story of Murder, Madness, Glamour, and Greed karya Sara Gay Forden, naskah buatan Becky Johnston dan Roberto Bentivegna kaya akan peristiwa menghebohkan, namun Scott bak gamang, terombang-ambing di antara pemahaman soal seberapa campy ceritanya, dengan ambisi bertutur secara elegan.

Tampilan House of Gucci jelas elegan. Mewah. Mahal. Baik dari pemilihan set, properti, kostum, pula bagaimana Dariusz Wolski menekankan nuansa grandiose melalui lensa kameranya. Kulit luarnya memang harus begitu, mengingat karakternya berasal dari keluarga yang dahulu membuat dan menguasai merek fashion tersohor, Gucci. 

Pada 1978, Maurizio Gucci (Adam Driver), pewaris 50% saham Gucci milik ayahnya, Rodolfo Gucci (Jeremy Irons), bertemu dengan Patrizia Reggiani (Lady Gaga) di sebuah pesta. Mereka jatuh cinta, walau Rodolfo (dan rasanya banyak penonton juga) meragukan Patrizia. Apakah ia tulus, atau hanya mengincar harta Maurizio? 

Pertanyaan itu terus berputar sepanjang durasi, namun bukan karena naskahnya kompleks. Sebaliknya, naskah House of Gucci luput mendalami internal si karakter. Tidak seperti anggota keluarga Gucci lain, Maurizio tak terobsesi harta. Di satu titik ia bahkan rela melepas segalanya, bekerja sebagai tukang cuci truk di perusahaan ayah Patrizia, demi menikahi gadis pujaannya yang tak direstui Rodolfo. Patrizia berbahagia. 

Apakah berarti ia memang tulus, atau tengah memainkan trik? Jika tengah "bermain", sungguh mulus permainannya. Tapi mengapa kemulusan itu lenyap selepas keduanya menikah? Patrizia mulai mengadu domba semua pihak, mulai dari paman Maurizio, Aldo (Al Pacino), hingga Paolo (Jared Leto), putera Aldo yang eksentrik dan berambisi memulai lini bisnis sendiri meski tak berbakat. Atau memang naskahnya hendak menampilkan proses berubahnya manusia akibat kuasa harta? Kalau iya, naskahnya gagal menggali detail transformasi tersebut (catat, "transformasi", bukan perihal keserakahan secara general). 

Mungkin karena naskahnya sendiri kepayahan dalam merangkum 400 halaman bukunya, sebab aliran alur pun kerap kurang mulus. Lompatan-lompatan kasar penuh kesan "tiba-tiba" jamak terjadi, yang makin kentara kala Scott menggerakkan film dengan tempo cepat. Tetap ada poin yang tersampaikan dengan kuat, yakni soal "Mana pihak yang benar?".

Jawabannya "tidak ada". Semua keliru. Semua terjerat keserakahan, sehingga saling berkhianat. Saling tusuk. House of Gucci adalah tragedi mengenai upaya saling menghancurkan didasari ketamakan, yang berakhir menghancurkan semuanya. Memang kelam, dan di sinilah masalah utama House of Gucci bermula: inkonsistensi tone.

Saya bisa membayangkan bagaimana Scott dan tim menilik materinya, lalu berujar, "Wow, this is absurd". Tragis, gelap, tetapi absurd. Ketimbang memilih, Scott justru meleburkan kedua sisi yang bak air dan minyak itu. Pengadeganan serius, plus color grading yang "dingin", membungkus momen-momen konyol, sebutlah pertemuan Patrizia dengan cenayang bernama Pina (Salma Hayek), yang selain meramal masa depan, juga mengirim mantera guna-guna untuk Maurizio. Tidak sinkron. 

Driver, Gaga, Irons, Pacino, Leto, semua bermain baik, namun masing-masing tokoh bagai berasal dari film berbeda. Maurizio dari film biografi serius yang mengingatkan pada perjalanan "good-boy-turns-bad" Michael Corleone di seri The Godfather, sedangkan Gaga dan Leto bersenang-senang memamerkan keeksentrikan.

Membingungkan. Inkonsisten. Paling tidak, pacing cepat Scott, biarpu mengorbankan kesolidan narasi, membuat durasi 157 menitnya tidaklah melelahkan. Pun tidak peduli seberapa kuat usaha Scott menekan sisi absurd filmnya agar tampak elegan, pada dasarnya House of Gucci sudah diberkahi materi warna-warni yang menarik diikuti. Andai saja Ridley Scott lebih dulu menonton makjang sebelum membuat film ini. 

ALL THE MONEY IN THE WORLD (2017)

J. Paul Getty (Christopher Plummer) tak bergeming, teguh pada keputusannya menolak membayar uang tebusan bagi penculik cucunya, Paul Getty III (Charlie Plummer), meski mendapat tekanan berbagai pihak termasuk sang menantu, Gail (Michelle Williams). Sutradara Ridley Scott, kukuh pada keputusan melakukan pengambilan gambar ulang demi menendang Kevin Spacey dari film pasca tertimpa kasus pelecehan seksual, meski hanya punya waktu sembilan hari yang bagi banyak orang adalah misi bunuh diri. Baik Getty maupun Scott yakin akan keputusan mereka karena menyimpan satu modal penting: pengalaman.

Pengalaman Scott yang telah 40 tahun berkecimpung di industri film, selain nampak dari caranya menangani masalah di balik layar, terlihat juga dari hasil di atas layar. All the Money in the World, selaku adaptasi buku Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, dikemas lewat ketepatan pacing dan dinamika. Scott menguasai betul dasar-dasar bercerita. Kapan alur harus dibawa berlari, kapan berjalan perlahan, kapan diam sejenak untuk memberi penonton kesempatan mencerna fakta. 
Semua soal kematangan, yang mana turut dimiliki Plummer, sehingga persiapan mepet tak menghalanginya memberi performa yang bagi banyak aktor mungkin memerlukan waktu panjang untuk mendalami peran. Di tangan Plummer, Getty bagai medan magnet kuat yang menarik segala atensi tatkala mengisi layar. Dialah taipan minyak sukses sekaligus orang terkaya kala itu (1973) yang bersedia menawar selama satu jam untuk mendapatkan patung murahan dan menjabat tangan sang putera layaknya rekan bisnis setelah berpisah bertahun-tahun ketimbang memeluk hangat. Beberapa dari penonton (termasuk saya) mungkin akan iseng bertanya dalam hati, “apakah Getty mempunyai gudang tempat ia berenang di kolam uang logam?”. 

Sewaktu Paul diculik, dan para penculik meminta tebusan $17 juta, Getty cuma tertawa di hadapan awak media sambil menyatakan enggan membayar. Lalu masuklah Gail yang coba membujuk mertuanya agar mau mengesampingkan keserakahan demi sang cucu. Ketika usaha tersebut sia-sia, dibantu oleh Fletcher Chase (Mark Wahlberg) selaku penasihat Getty plus mantan anggota CIA serta kepolisian, Gail coba mencari cara sendiri guna menyelamatkan Paul. Gail menolak hancur. Ketegaran yang malah memancing opini negatif media. Menurut salah satu wartawan, seorang ibu semestinya menangisi nasib putera yang diculik. 
Tapi Gail enggan bersikap sebagaimana ekspektasi umum. Dia melawan ekspektasi dan berani bertindak seorang diri. Keberanian yang terpancar dari tatapan menyengat dan selorohan sinis Williams. Mata sang aktris bicara begitu banyak. Serupa filmnya yang tidak pernah meledak-ledak namun mengikat melalui investigasi dan studi karakter, Williams mengekspresikan setumpuk rasa tanpa luapan besar. Obrolan Gail dengan Fletcher di penghujung film menyiratkan setumpuk interpretasi. Apakah ia mengingkan lelaki itu menetap? Apakah ia diam-diam jatuh cinta? 

Di luar investigasi, intensitas All the Money in the World bersumber dari ajakan untuk penonton mempertanyakan intensi Getty sesungguhnya. Benarkah ia sekedar kikir ataukah tengah menjalankan permainan pikiran terselubung? Inilah teka-teki sesungguhnya, yang hadir sambil diselimuti musik megah nan misterius buatan Daniel Pemberton. All the Money in the World merupakan sajian yang dikemas memakai gaya dasar minim terobosan. Dan Scott begitu menguasai dasar, sehingga film ini tersaji sedemikian solid. Tidak mendobrak batas, tidak pula meninggalkan banyak cacat.  

BLADE RUNNER 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film asli bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata usaha putus asa mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan adaptasi novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve mampu melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis tentang eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang kini berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik investigasi K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi intinya penyelidikan K mengarah akan rahasia replicants yang dapat mengubah dunia, khususnya hubungan mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya pengaruh noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat dipakai supaya tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, menjadikan aktivitas sederhana para tokoh bak berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins adalah masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah manusia dan replicants, Deakins juga menghadirkan kontradiksi antara reruntuhan peradaban maju seperti di Las Vegas, tempat Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants. 
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan aksi yang memberi peran penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling mempengaruhi rintangan karakter (ombak di klimaks) atau mempengaruhi mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi contoh eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak mampu mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis jelas lebih cocok.

Gosling sempurna mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan dingin yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih manusia dari manusia itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa tubuh nyata, justru lebih memiliki rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang ia lontarkan adalah hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang membuat kita spesial?

ALIEN: COVENANT (2017)

Alien: Covenant eksis semata-mata karena dua alasan, yaitu Ridley Scott ingin mengoreksi jalur yang ditempuh Prometheus dan menghalangi realisasi Alien 5 milik Neill Blomkamp. Mungkin Scott khawatir apabila terus membuat Alien dengan fokus bukan pada Xenomorph sementara Blomkamp sukses, tahtanya sebagai "Granddaddy of Alien franchise" bakal terusik oleh sang darah muda. Tapi rupanya talenta berbicara. Walau didorong niat demikian, nyatanya Covenant merupakan mimpi buruk yang mumpuni mengumbar teror, menjadikannya installment paling brutal walau masih teramat jauh dari status "terbaik". 

Tahun 2104 alias 11 tahun pasca Prometheus, pesawat koloni Covenant tengah mengarungi angkasa guna menuju planet baru untuk didiami manusia. Sampai sebuah insiden maut ditambah penerimaan transmisi yang ditengarai berasal dari planet layak huni terdekat membuat mereka memilih mengubah arah. Setibanya di sana, bisa ditebak teror mematikan telah menunggu di samping kembalinya David (Michael Fassbender), android selaku survivor dari misi Prometheus. Namun jangan harap tensi langsung meninggi, karena setelah first act cukup mencekam, Covenant melambat, menghabiskan 30 menit pertama menyoroti perdebatan kru dilanjutkan pencarian mereka atas sumber transmisi di atas.
Penuturan lambat ini urung dibarengi nuansa atmosferik seperti Alien atau misteri pengundang tanya serupa Prometheus. Obrolan di pesawat atau perjalanan di hutan mendominasi tanpa disokong penokohan solid. Ketika Fassbender sebagai David dan Walter, dua android beda jenis sekaligus kepribadian (apparently they have one) tampil memikat memisahkan dua sosok serupa tapi tak sama dengan mulus, sisa tokoh tak ubahnya onggokan daging tidak bernyawa yang ada hanya untuk dibantai. Talenta Danny McBride, James Franco, hingga Demian Bichir tersia-sia, sedangkan Katherine Waterston kekurangan keperkasaan sebagai action heroine. 

Mayoritas tokoh utama berstatus pasangan. Harapannya, timbul rasa iba dan dampak emosional bagi menonton mendapati mereka terancam. Walau memberi sedikit bobot, penokohan lemah minim daya tarik meniadakan dampak yang diinginkan. Setidaknya ada poin positif. Deretan tokohnya tidak sebodoh ilmuwan-ilmuwan Prometheus. Benar tingkah bodoh sempat ditunjukkan khususnya di awal teror Xenomorph, namun bisa dimaklumi mengingat saat itu mereka dikuasai ketakutan luar biasa. Ketakutan yang bisa dipercaya, sebab kita pun merasakan hal serupa berkat kapasitas Ridley Scott menyulut ketegangan menggunakan shaky cam dan dengung alarm di koridor sempit pesawat, serupa Alien dahulu.
Untungnya setelah babak awal melelahkan, film ini total menggelontorkan tensi. Aksi masif berhiaskan CGI meyakinkan jadi bukti kematangan Scott menyusun spectacle tanpa bujet berlebihan ("hanya" $111 juta, jauh dibanding banyak blockbuster yang mencapai di atas $200 juta). Satu-satunya kekurangan yakni terlampau pendeknya klimaks. Soal parade horor, Scott meminimalisir jump scare, berkonsentrasi pada gore serta gambar-gambar layaknya mimpi buruk. Di sini puncak Covenant, tatkala Scott mengekspresikan kegilaan, menghabisi tokoh-tokoh forgettable-nya sebrutal mungkin, menumpahkan isi perut, memotong bagian tubuh, membanjiri lantai dengan darah. Bahkan koneksi terhadap Prometheus pun diungkap secara twisted pun disturbing.

Bicara tentang kaitan dengan installment sebelumnya, Covenant berguna menjawab segelintir pertanyaan semisal soal wujud evolusi Xenomorph yang berubah-ubah. Diberikan pula "jembatan" antara cikal bakal sang alien di Prometheus dengan sosok yang kita kenal baik selama ini. Beberapa fakta ini akan lebih diapresiasi penggemar franchise-nya, namun takkan berpengaruh bagi penonton awam. Sederet poin menyiratkan usaha mengesampingkan plot thread milik Prometheus. Konsep "pencipta dan ciptaannya" masih disinggung, tapi menilik cliffhanger di akhir, rasanya alih-alih meluaskan lingkup membahas asal muasal manusia dan Engineer, babak berikutnya cenderung kembali ke akar, menautkan seri prekuel dengan original. Dan sebagaimana Alien pula, Scott coba bermain-main melalui seksualitas tersirat berupa "oral" antar kembar bersaudara" Fassbender. 

"ALIEN" FILM FRANCHISE: RANKED FROM WORST TO BEST

Rabu 10 Mei besok, Alien: Covenant bakal tayang di bioskop Indonesia, menjadikannya installment keenam franchise (di luar dua crossover dengan Predator) yang memulai petualangan sejak tahun 1979 ini. Berusia hampir empat dekade, naik turun kualitas dan bongkar pasang personel tentu jamak terjadi. Selain Scott, tercatat nama-nama tersohor mulai James Cameron, David Fincher, Jean-Pierre Jeunet pernah mengisi kursi sutradara. Begitu pula di jajaran cast meski Sigourney Weaver sebagai Ellen Ripley adalah tokoh paling ikonik. Menyambut perilisan Covenant, saya tertarik menyusun daftar urutan film Alien dari terburuk hingga terbaik. Daftar ini tidak menyertakan dua judul Alien vs. Predator karena: (a) Predator lebih dominan, (b) keduanya buruk luar biasa. 
(Artikel ini mengandung SPOILER)

5. ALIEN 3 (1992)
The only real bad movie in this franchise. Dalam debut penyutradaraannya, gaya Fincher yang mengawali karir sebagai pembuat video klip lebih kentara ketimbang jagoan storytelling sebagaimana ia kini dikenal. Konsep prison movie plus balutan post-apocalyptic serta alegori agama sempat menarik di awal, sebelum tenggelam di tengah kucing-kucingan medioker tak mencekam akibat deretan karakter pendukung membosankan, juga CGI buruk Xenomorph yang bak mutasi kucing liar. Tapi dosa terbesar film ini adalah membunuh tiga tokoh likeable (off-screen) film sebelumnya semata demi membuka jalan melanjutkan cerita. 
4. ALIEN: RESURRECTION (1997)
Jean-Pierre Jeunet (The City of Lost Children, Amelie) membawa keanehan visual dan selera humornya, menjadikan Resurrection rilisan paling ringan, sepenuhnya menghilangkan sentuhan horor. Keputusan kontroversial namun terbukti menghindarkan repetisi, toh selera absurd Jeunet masih mampu menghasilkan momen disturbing, sebutlah kala Ripley menemukan salah satu hasil kloningnya yang gagal. Ripley dalam wujud clone adalah sosok baru, lebih kuat, lebih dingin, lebih badass, meski naskah Joss Whedon lemah soal logika pengembangan karakter. Hiburan penuh histeria dalam balutan close-up serta monster hybrid manusia dengan Xenomorph yang, well, aneh.
3. PROMETHEUS (2012)
Prekuel yang lebih banyak mengumbar pertanyaan baru ketimbang menjawab atau membuat koneksi dengan film sebelumnya. Namun segala tanya itu ampuh melebarkan skala penceritaan franchise-nya, membawa ke arah baru yang menyimpan setumpuk potensi hingga bukan lagi sekedar sci-fi/horror klaustrofobik. Naskah garapan Jon Spaihts dan Damon Lindelof kuat mengusung filosofi soal Tuhan walau lemah dalam penokohan ketika sekelompok ilmuwan hadir begitu bodoh. Muncul pula lubang terkait teknologi yang lebih maju dibanding empat film lain (Prometheus ber-setting ratusan tahun sebelumnya). Bujet besar, desain produksi nomor wahid, plus Ridley Scott yang makin berpengalaman menangani blockbuster menghadirkan kemegahan memukau. 
2. ALIENS (1986)
Meninggalkan konsep horor atmosferik, James Cameron menyulap sekuel Alien menjadi suguhan aksi dengan machismo tingkat tinggi beserta metafora Perang Vietnam. Mengganti sexual innuendo dalam Alien dengan artileri militer kelas berat, deretan adegan aksi brutal dilakoni tokoh-tokoh memorable termasuk Ripley yang ketika third act, sepenuhnya bertrasnformasi dari final girl horror menjadi legitimate action heroine. Sambut pula Newt (Carrie Henn), salah satu karakter bocah terbaik Hollywood yang secara kurang ajar dimatikan oleh sekuelnya. 
1. ALIEN (1979)
Ridley Scott piawai menggabungkan teror atmosferik di mana adegan pembuka kala para kru terbangun dari kondisi stasis pun nampak creepy dengan jump scare efektif. Scott sanggup memancing kesan mencekam tak manipulatif bersenjatakan gambar menyeramkan (adegan Xenomorph diam bergelantungan di langit-langit jadi salah satu poin terbaik). Pace yang tak terburu-buru memberi penonton waktu mengenali tiap-tiap karakter. Murni film ensemble. Bahkan awalnya Ripley bak sekedar karakter pendukung ketimbang lead protagonist. Seperti telah disebut pula, sexual imagery bertebaran, entah pada pengadeganan, desain pesawat, pun Xenomorph sendiri. Menegaskan jika film Alien selalu mengusung alegori akan satu hal tertentu.