Tampilkan postingan dengan label Katherine Waterston. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katherine Waterston. Tampilkan semua postingan
FANTASTIC BEASTS: THE CRIMES OF GRINDELWALD (2018)
Rasyidharry
Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald adalah
film yang harus disaksikan dalam format 4DX3D. Format ini memaksimalkan
pendekatan David Yates—yang termasuk film ini, telah menyutradarai enam installment terakhir Wizarding World—terhadap sekuen aksi, di
mana ia menghancurkan berbagai lokasi, entah lewat ilmu sihir atau amukan monster,
menggerakkan kamera secara cepat, menampilkan kekacauan yang akan membuat
penonton memegang erat kursi agar tak terjatuh. Sementara 3D-nya, walau tak
memiliki kedalaman seberapa, dihiasi beberapa efek pop-up.
Apa jadinya jika film ini ditonton
di format biasa? Anda akan tenggelam dalam usaha J. K. Rowling memuaskan
penggemar seri Harry Potter memakai
deretan fan service penuh referensi atau
tokoh lama yang muncul acak tanpa urgensi, hanya agar para penggemar berujar “Whoaa
ini kan si itu....”. Rowling tahu jika banyak dari mereka terobsesi akan
keterkaitan tak terduga, memutuskan mengabulkan harapan tersebut hampir di tiap
kesempatan, hingga membuat naskah tulisannya terasa bak fan fiction.
Berjudul The Crimes of Grindelwald, dan benar, sang “penyihir hitam” memang melakukan
kejahatan-kejahatan, tapi sulit menampik kesan bahwa judulnya dipilih karena
terdengar keren dan supaya Grindelwald (baca: Johnny Depp) jadi jualan utama.
Tapi bukan masalah. Kelemahan fatal Rowling dalam bertutur bukan disebabkan tidak
menjadikan kejahatan Grindelwald sebagai fokus, melainkan ketiadaan fokus.
The Crimes of Grindelwald dibuka oleh keberhasilan upaya
Grindelwald kabur dari penjara berkat pengkhianatan seorang anggota kementrian
sihir. Tentu saja pengkhianatan, identitas rahasia, sampai mata-mata ganda merupakan
kejutan andalan Rowling, yang di titik ini tak lagi mengejutkan. Tapi jangan
khawatir. Sang penulis menemukan cara baru, yang jauh lebih konyol (we’ll get there later).
Bagi si titular character, film ini mengisahkan prosesnya mengumpulkan
pengikut sebanyak mungkin, namun target utamanya adalah Credence (Ezra Miller),
antagonis film pertama yang rupanya mampu bertahan hidup, dan kini berada di
sebuah kelompok sirkus bersama Nagini (Claudia Kim). Keduanya mengarungi
perjalanann dengan tujuan menemukan siapa Credence sebenarnya, siapa orang
tuanya, dan dari mana ia berasal. Di
paragraf ini saja saya sudah membahas dua subplot, dan belum menyentuh kisah si
protagonis, Newt Scamander (Eddie Redmayne).
Newt ditugasi Dumbledore (Jude Law)
meringkus Grindelwald, dan sekali lagi bertemu Jacob Kowalski (Dan Fogler),
yang mengikuti Newt demi memenangkan lagi hati Queenie (Alison Sudol), yang
kecewa akibat keengganan Jacob segera mengucap janji suci, lalu memilih
mengunjungi kakaknya, Tina (Katherine Waterston), yang mana hatinya pun coba dimenangkan
kembali oleh Newt. Tina sendiri tengah patah hati setelah melihat berita palsu
soal pertunangan Newt dengan Leta Lestrange (Zoë Kravitz). Oh Tuhan, begitu
banyak cerita. Kalau alasan kemarahan Tina terdengar bak sinetron, tunggu dulu.
Anda belum melihat apa-apa.
Jajaran cast tampil baik. Sekali lagi Fogler bukan saja pengundang tawa,
pula sumber hati. Konklusi film pertama mengharukan berkatnya, dan Rowling
ingin memunculkan dampak serupa namun gagal. Fogler berbuat sebisanya, tapi
emosi senantiasa hampa, sebab naskahnya urung menyuguhkan motivasi meyakinkan
bagi keputusan salah satu karakternya (Anda akan tahu karakter yang mana). Sedangkan
Jude Law sempurna memerankan Dumbledore, selain berkat kemiripan wajah dengan
Michael Gambon (tanpa uban, rambut panjang, dan jenggot lebat), ia membuat saya
percaya sedang melihat sosok penyihir terkuat di masa jayanya.
Lain halnya Depp. Dipandang dari
segi karakterisasi, Voldemort bukan villain
luar biasa, tapi pendekatan over-the-top Ralph
Fiennnes menjadikannya antagonis menghibur. Sementara Depp mencoba interpretasi
lebih serius, kejam, tenang, yang justru membuat Grindelwald membosankan, tak
jauh beda dibanding mayoritas antagonis generik film-film blockbuster Hollywood. Eddie Redmayne sebagai Newt dengan mata
lembut yang jarang menatap lawan bicaranya adalah protagonis likeable, namun ketidakfokusan naskah
menghalangi penonton mencintanya lebih jauh. Newt hanya satu bidak di sebuah
papan catur besar nan ramai yang di atasnya cuma terdiri atas bidak-bidak.
Rowling punya setumpuk ide yang cocok
dituangkan dalam novel 700 halaman, namun bagi film berdurasi 134 menit,
kisahnya bergerak liar tanpa kesan kesatuan. Pada beberapa poin, The Crimes of Grindelwald bagai midseason serial televisi yang
meletakkan cabang-cabang narasi dan belum sempat menautkannya satu sama lain,
sebelum ditutup oleh konklusi berbumbu kejutan khas opera sabun murahan. Saya
takkan terkejut bila kelak terungkap jika rumah produksi di balik film ini
adalah Sinemart dan Ezra Miller merupakan Glenn Alinskie yang menyamar.
Cara Rowling bertutur menunjukkan
ketidaksiapan menulis naskah film. Rowling bergantung pada tuturan verbal,
menyuruh karakternya bicara terlalu banyak, yang malah membuat alurnya bak
benang kusut. The Crimes of Grindelwald
adalah bentuk penceritaan amburadul. Jadi, sebagaimana Nolan menyarankan IMAX
70mm untuk Dunkirk, saya
merekomendasikan 4DX3D, atau setidaknya 4DX guna menyamarkan kelemahan narasi.
Aksi-aksi serunya bakal membuai, khususnya amukan Zouwu si kucing berukuran
gajah dari Cina. Walau lagi-lagi, Rowling perlu memperbaiki penulisan klimaks,
yang sejak era Harry Potter, selalu
lebih kuat di pembangunan ketimbang payoff.
Klimaks ciptaan Rowling acap kali bukan “puncak”, melainkan sekedar satu
lagi aksi yang bahkan bukan spectacle
terbesar di sepanjang cerita.
Dan bukankah serupa tajuknya, seri
ini mestinya mengeksplorasi mitologi Fantastic
Beasts? Mengapa makhluk-makhluk ajaib tersebut hanya berguna mengeskalasi
aksi atau senjata komedi namun punya pengaruh minim pada plot? Entahlah.
Alurnya datang dari penulis yang menyebut mitologi “Naga” berasal dari
Indonesia. So, yeah.....
November 16, 2018
Alison Sudol
,
Claudia Kim
,
Dan Fogler
,
David Yates
,
Eddie Redmayne
,
Ezra Miller
,
Fantasy
,
J. K. Rowling
,
Johnny Depp
,
Jude Law
,
Katherine Waterston
,
Kurang
,
REVIEW
,
Zoë Kravitz
ALIEN: COVENANT (2017)
Rasyidharry
Alien: Covenant eksis semata-mata karena dua alasan, yaitu Ridley Scott ingin mengoreksi jalur yang ditempuh Prometheus dan menghalangi realisasi Alien 5 milik Neill Blomkamp. Mungkin Scott khawatir apabila terus membuat Alien dengan fokus bukan pada Xenomorph sementara Blomkamp sukses, tahtanya sebagai "Granddaddy of Alien franchise" bakal terusik oleh sang darah muda. Tapi rupanya talenta berbicara. Walau didorong niat demikian, nyatanya Covenant merupakan mimpi buruk yang mumpuni mengumbar teror, menjadikannya installment paling brutal walau masih teramat jauh dari status "terbaik".
Tahun 2104 alias 11 tahun pasca Prometheus, pesawat koloni Covenant tengah mengarungi angkasa guna menuju planet baru untuk didiami manusia. Sampai sebuah insiden maut ditambah penerimaan transmisi yang ditengarai berasal dari planet layak huni terdekat membuat mereka memilih mengubah arah. Setibanya di sana, bisa ditebak teror mematikan telah menunggu di samping kembalinya David (Michael Fassbender), android selaku survivor dari misi Prometheus. Namun jangan harap tensi langsung meninggi, karena setelah first act cukup mencekam, Covenant melambat, menghabiskan 30 menit pertama menyoroti perdebatan kru dilanjutkan pencarian mereka atas sumber transmisi di atas.
Penuturan lambat ini urung dibarengi nuansa atmosferik seperti Alien atau misteri pengundang tanya serupa Prometheus. Obrolan di pesawat atau perjalanan di hutan mendominasi tanpa disokong penokohan solid. Ketika Fassbender sebagai David dan Walter, dua android beda jenis sekaligus kepribadian (apparently they have one) tampil memikat memisahkan dua sosok serupa tapi tak sama dengan mulus, sisa tokoh tak ubahnya onggokan daging tidak bernyawa yang ada hanya untuk dibantai. Talenta Danny McBride, James Franco, hingga Demian Bichir tersia-sia, sedangkan Katherine Waterston kekurangan keperkasaan sebagai action heroine.
Mayoritas tokoh utama berstatus pasangan. Harapannya, timbul rasa iba dan dampak emosional bagi menonton mendapati mereka terancam. Walau memberi sedikit bobot, penokohan lemah minim daya tarik meniadakan dampak yang diinginkan. Setidaknya ada poin positif. Deretan tokohnya tidak sebodoh ilmuwan-ilmuwan Prometheus. Benar tingkah bodoh sempat ditunjukkan khususnya di awal teror Xenomorph, namun bisa dimaklumi mengingat saat itu mereka dikuasai ketakutan luar biasa. Ketakutan yang bisa dipercaya, sebab kita pun merasakan hal serupa berkat kapasitas Ridley Scott menyulut ketegangan menggunakan shaky cam dan dengung alarm di koridor sempit pesawat, serupa Alien dahulu.
Untungnya setelah babak awal melelahkan, film ini total menggelontorkan tensi. Aksi masif berhiaskan CGI meyakinkan jadi bukti kematangan Scott menyusun spectacle tanpa bujet berlebihan ("hanya" $111 juta, jauh dibanding banyak blockbuster yang mencapai di atas $200 juta). Satu-satunya kekurangan yakni terlampau pendeknya klimaks. Soal parade horor, Scott meminimalisir jump scare, berkonsentrasi pada gore serta gambar-gambar layaknya mimpi buruk. Di sini puncak Covenant, tatkala Scott mengekspresikan kegilaan, menghabisi tokoh-tokoh forgettable-nya sebrutal mungkin, menumpahkan isi perut, memotong bagian tubuh, membanjiri lantai dengan darah. Bahkan koneksi terhadap Prometheus pun diungkap secara twisted pun disturbing.
Bicara tentang kaitan dengan installment sebelumnya, Covenant berguna menjawab segelintir pertanyaan semisal soal wujud evolusi Xenomorph yang berubah-ubah. Diberikan pula "jembatan" antara cikal bakal sang alien di Prometheus dengan sosok yang kita kenal baik selama ini. Beberapa fakta ini akan lebih diapresiasi penggemar franchise-nya, namun takkan berpengaruh bagi penonton awam. Sederet poin menyiratkan usaha mengesampingkan plot thread milik Prometheus. Konsep "pencipta dan ciptaannya" masih disinggung, tapi menilik cliffhanger di akhir, rasanya alih-alih meluaskan lingkup membahas asal muasal manusia dan Engineer, babak berikutnya cenderung kembali ke akar, menautkan seri prekuel dengan original. Dan sebagaimana Alien pula, Scott coba bermain-main melalui seksualitas tersirat berupa "oral" antar kembar bersaudara" Fassbender.
Mei 11, 2017
Alien
,
Bagus
,
Danny McBride
,
Demian Bichir
,
horror
,
James Franco
,
Katherine Waterston
,
Michael Fassbender
,
REVIEW
,
Ridley Scott
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





