Tampilkan postingan dengan label Michael Fassbender. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Michael Fassbender. Tampilkan semua postingan

DARK PHOENIX (2019)

Simon Kinberg betul-betul memahami X-Men tapi tidak soal penyutradaraan. Kesimpulan itu saya ambil setelah menyaksikan Dark Phoenix, film X-Men kedua dan mungkin terakhir untuk jangka yang lama (Marvel Studios takkan menampilkan para mutan dalam waktu dekat dan pastinya bakal mengeksplorasi cerita lain dahulu) yang mengadaptasi The Dark Phoenix Saga.

Judul-judul X-Men terburuk, dari X-Men Origins: Wolverine, X-Men: Apocalypse dan tentu saja X-Men: The Last Stand, selalu menampilkan misinterpretasi dan/atau penyia-nyiaan karakter. Dark Phoenix berbeda. Filmnya tahu bahwa Charles Xavier (James McAvoy) bukan orang suci, Erik Lehnsherr (Michael Fassbender) (seringkali) merupakan antihero, Scott Summers (Tye Sheridan) adalah jagoan tangguh, sementara entitas Phoenix memberontak bila Jean Grey (Sophie Turner) mengalami ketidakstabilan emosi.

Kinberg pun tidak lupa menggambarkan X-Men selaku tim penuh warna, seperti ditampilkan babak pertama, tatkala mereka melakoni misi luar angkasa guna menyelamatkan para astronot yang pesawatnya rusak akibat energi bak suar matahari. Kinberg memanfaatkan misi tersebut untuk memperlihatkan X-Men bekerja sebagai tim dalam sekuen seru yang pantas dijadikan klimaks.

Saat itulah Jean terpapar pancaran energi misterius tadi, memberinya kekuatan tanpa batas. Menebus kesalahan di The Last Stand, Kinberg kali ini lebih setia kepada materi aslinya dengan menjadikan Phoenix entitas kosmik ketimbang perwujudan kepribadian ganda Jean Grey. Kembali ke Bumi, Jean makin kehilangan kontrol atas kekuatannya, sebelum emosinya meledak begitu mengetahui rasa gelap yang disembunyikan Charles.

Sisi problematik Charles sudah menggaggu Raven (Jennifer Lawrence), yang merasa sang sahabat lama enggan mempedulikan keselamatan murid-muridnya demi kejayaan pribadi. Raven berniat pergi, tapi Hank (Nicholas Hoult) menghalanginya. Charles sendiri tak menyangkal jika ia menikmati diperlakukan layaknya pahlawan dan dibanjiri penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat. Pembaca komiknya tentu tahu jika Charles senantiasa berada di area abu-abu, bahkan melakukan berbagai tindakan yang jauh lebih kejam daripada versi film. Patrick Stewart memerankan Charles tua dengan baik, tapi McAvoy lebih cocok memotret sisi kelam sang tokoh tatkala jiwanya berantakan.

Jean kehilangan kontrol, Charles terobsesi memegang kontrol, dan seolah belum cukup, muncul rintangan baru bagi X-Men, saat ras alien pengubah wujud bernama D’Bari menginvasi demi mengambil alih kekuatan Phoenix. Walau karakternya dangkal, sebagai Vuk sang pemimpin ras D’Bari, Jessica Chastain punya aura tak manusiawi yang misterius, membuatnya paling tidak jadi antagonis yang lebih enak dilihat ketimbang si konyol Apocalypse.

Ketika hampir semua pihak termasuk dirinya sendiri merasa bahwa Jean membawa kehancuran, Vuk sebaliknya, menyampaikan gagasan tentang bagaimana ia adalah sumber kehidupan. Itu dia. Biarpun keseluruhan alurnya kurang solid, dibangun atas rangkaian perdebatan idealisme yang gagal memprovokasi, keberadaan motivasi jelas nan tepat bagi gejolak batin Jean telah membawa Dark Phoenix menyelesaikan misinya selaku remedial untuk The Last Stand.

Lewat naskahnya, Kinberg menunjukkan cara tepat (meski tidak luar biasa) mengadaptasi The Dark Phoenix Saga. Tapi Kinberg “si sutradara debutan” sayangnya tak sepiawai Kinberg si “penulis naskah film buku komik”. Eksekusi adega aksinya acap kali penuh kecanggungan, walau beragam gagasan brilian nampak jelas tersimpan dalam kepalanya.

Salah satu contoh gagasannya terkait kemampuan para mutan di medan pertarungan. Teleportasi Kurt (Kodi Smit-McPhee) terbukti banyak menolong, optic blast milik Scott adalah serangan yang layak ditakuti, kekuatan Phoenix praktis membuat Jean dapat melakukan apa saja, dan Erik adalah sosok badass. Entah saat ia melempar helikopter atau menghancurkan lawan menggunakan kereta, Erik membuktikan bahwa film X-Men tak selalu membutuhkan Wolverine guna menghadirkan aksi keren.

Tapi sekali lagi, banyak di antara gagasan tersebut hanya berhenti sebagai gagasan. Tengok pertempuran di depan rumah Jean. Cara Kinberg memposisikan kamera, mengatur tempo dan mise-en-scène, kerap melucuti sisi epik yang sang sutradara inginkan. Itu pula alasan mengapa suatu peristiwa tragis yang menyusul tak lama kemudian gagal memberi dampak. Peristiwa itu dibangun, terjadi, dan diakhiri secara terburu-buru.

Lemahnya pengadeganan Kinberg kian nyata kala disandingkan dengan musik bombastis Hans Zimmer. Kedua sisi seolah eksis dalam alam yang berbeda sehingga kesulitan saling melengkapi. Gubahan musik Zimmer terdengar mengguncang seperti biasa (pemakaian terletak pada sekuen misi luar angkasa), meski saya menyayangkan ketiadaan Suite, lagu tema ikonik buatan John Ottman.

Filmnya berakhir antiklimaks. Selepas sekuen kereta yang menghibur, Kinberg justru menyajikan pertarungan membosankan nihil tensi dan kreativitas, ketika dua karakter dengan aura berapi-api tampak sibuk saling peluk. Keseluruhan Dark Phoenix pun terkesan mirip. Selaku penutup, film ini jelas jauh dari ideal, namun keengganan mengkhianati sumber adaptasinya adalah sesuatu yang pantas mendapat pujian.

SONG TO SONG (2017)

Menutup trilogi kontemporer tak resmi milik Terrence Malick, Song to Song menyatukan kisah cinta To the Wonder dengan gemerlap membutakan kehidupan modern Knight of Cups. Sampai titik ini penonton mestinya tahu sang sutradara bakal memberi tontonan seperti apa. Sehingga walau menyoroti skena musik di Austin, Texas, menuturkan romantika, serta dibintangi Ryan Gosling sebagai musisi passionate, jangan mengharapkan "La La Land 2.0". Song to Song adalah "film Malickian" saat karakter merupakan representasi ide ketimbang manusia kompleks yang tinggal dalam dunia di mana matahari selalu bersinar dan jatuh cinta diekspresikan dengan berguling di rumput atau saling belai di balik balutan gorden.

Menit-menit awal diisi perkenalan terhadap tiga tokoh utama, BV (Ryan Gosling), Cook (Michael Fassbender), dan Faye (Rooney Mara). Penonton hanya disuguhi sekelumit karakterisasi: BV ingin menyentuh rasa orang-orang lewat musiknya, Berbekal prinsip "any experience is better than no experience" Faye mengejar kehidupan sebebas mungkin, sedangkan Cook adalah pelaku industri musik handal yang bergelimang kemewahan (tipikal "manusia kosong" yang gemar Malick kritisi). Penokohan singkat di atas berfungsi menjelaskan (baca: menjustifikasi) tindakan karakter, bagai kitab yang memandu kita apabila tersesat di tengah gerak liar filmnya.
Ruang dan waktu bagi Malick bersifat abstrak. Penonton sulit memastikan sedang berada di mana dan kapan kala alur melompat dari lagu ke lagu, manusia ke manusia, ciuman ke ciuman, hubungan ke hubungan. Namun kini alurnya lebih runtut dibanding dua film sebelumnya. Setidaknya bisa dipahami ketika BV, Faye, dan Cook saling tertawa bersama sebelum konflik asmara segitiga menyeruak, kemudian dengan tiap gejolak pribadi mereka menempuh jalan masing-masing, bertemu sederet tokoh lain. Cook menyeret Rhonda (Natalie Portman) si pelayan ke kehidupan seks liarnya, BV bertemu Amanda (Cate Blanchett) yang terluka, sementara Faye melanjutkan "petualangannya" dengan seorang wanita bernama Zoey (Berenice Marlohe). 

Progresi chaotic yang menjelajah ke pemandangan paling acak sekalipun (sempat menampilkan adegan film lama Rusia) untungnya dibantu kehadiran voice over. Ucapan berbisik wajib ada dalam karya Malick, namun jika biasanya sekedar menguatkan mood, voice over milik Song to Song ibarat pemandu yang mengajari penonton cara merangkai plot. Tidak seluruhnya gamblang, jadi pastikan berkonsentrasi pada tiap kalimat. Namun andai tanpa voice over pun, gelaran penceritaan visual Malick di sini lebih koheren, saling mengikat walau bergerak acak maju-mundur. Memang kurang substansial (feeling or memory doesn't work liket that) tapi membentuk lingkaran utuh seputar kehidupan kontemporer hampa yang akhirnya mendorong manusia kembali menuju kesederhanaan, "memandikan diri" (bentuk meyucikan) dengan alam bersama cintanya.
Bukan berarti keliaran chaotic di atas sepenuhnya nyaman disimak. Seiring makin banyak tokoh baru diperkenalkan sekaligus repetisi momen (bertemu-bertatapan-berkencan-foreplay) yang selalu mengisi, Song to Song mudah menggiring penonton menuju titik jenuh. Ketika pengulangan-pengulangan itu terus berlangsung selama 129 menit, bukan mustahil rasa lelah pula frustrasi yang menghinggapi deretan tokohnya.

Setelah menggarap sinematografi Malick sejak The New World, menggerakkan kamera laksana hantu yang terbang diam-diam membuntuti para tokoh rasanya sudah menjadi refleks bagi Emmanuel Lubezki. Begitu pula rutinitas "memuja" siraman cahaya mentari, entah di pagi hari, siang bolong, atau senja. Tetap indah, sedap dipandang, tetapi tidak lagi groundbreaking. Serupa rutinitas yang mudah ditebak, kita tahu kapan Faye bakal bersandar sembari tersenyum mesra di tembok, kapan BV memandang syahdu matahari, atau kapan kameranya berjungkir balik menangkap kemesraan sepasang kekasih. 
Bermain di film Terrence Malick bak ujian seberapa jauh seorang aktor mampu berakting tanpa naskah, memunculkan improvisasi natural. Terlebih karakternya kerap dituntut mengekspresikan cinta serta kegembiraan melalui perilaku "kekanak-kanakan" berupa keusilan, tarian, atau ekspresi yang nampak konyol. Gosling dan Fassbender lulus ujian berkat pameran tingkah alamiah pemancing senyum sembari menjalin interaksi bernyawa walau hanya dibekali sedikit dialog. Keduanya menghembuskan dinamika, sesuatu yang gagal dilakukan Ben Affleck (To the Wonder) atau Christian Bale (Knight of Cups). Sementara di antara penuh sesaknya cameo musisi  yang anehnya jarang diperlihatkan bermain musik  hanya Patti Smith dengan cerita duka emosionalnya yang meninggalkan kesan. 

Tidak bisa dipungkiri juga, Malick punya ragam aktivitas yang lebih menarik untuk dilakukan para karakter. Tentu rutinitas tersebut di atas, ditambah foreplay berkepanjangan masih mendominasi, tapi pemandangan semisal keisengan Gosling mencoba-coba pakaian kekecilan hingga Mara yang menari begitu antusias memunculkan kesenangan. Song to Song tetap bukan perenungan filosofis dengan keindahan luar dalam macam The Tree of Life, tidak akan pula mencerahkan hati dan pikiran penonton soal tuturannya mengenai "settling down", namun eksperimen terakhir Terrence Malick (untuk sekarang) sebelum kembali ke narasi terstruktur lewat Radegund urung berujung kekosongan. 


ALIEN: COVENANT (2017)

Alien: Covenant eksis semata-mata karena dua alasan, yaitu Ridley Scott ingin mengoreksi jalur yang ditempuh Prometheus dan menghalangi realisasi Alien 5 milik Neill Blomkamp. Mungkin Scott khawatir apabila terus membuat Alien dengan fokus bukan pada Xenomorph sementara Blomkamp sukses, tahtanya sebagai "Granddaddy of Alien franchise" bakal terusik oleh sang darah muda. Tapi rupanya talenta berbicara. Walau didorong niat demikian, nyatanya Covenant merupakan mimpi buruk yang mumpuni mengumbar teror, menjadikannya installment paling brutal walau masih teramat jauh dari status "terbaik". 

Tahun 2104 alias 11 tahun pasca Prometheus, pesawat koloni Covenant tengah mengarungi angkasa guna menuju planet baru untuk didiami manusia. Sampai sebuah insiden maut ditambah penerimaan transmisi yang ditengarai berasal dari planet layak huni terdekat membuat mereka memilih mengubah arah. Setibanya di sana, bisa ditebak teror mematikan telah menunggu di samping kembalinya David (Michael Fassbender), android selaku survivor dari misi Prometheus. Namun jangan harap tensi langsung meninggi, karena setelah first act cukup mencekam, Covenant melambat, menghabiskan 30 menit pertama menyoroti perdebatan kru dilanjutkan pencarian mereka atas sumber transmisi di atas.
Penuturan lambat ini urung dibarengi nuansa atmosferik seperti Alien atau misteri pengundang tanya serupa Prometheus. Obrolan di pesawat atau perjalanan di hutan mendominasi tanpa disokong penokohan solid. Ketika Fassbender sebagai David dan Walter, dua android beda jenis sekaligus kepribadian (apparently they have one) tampil memikat memisahkan dua sosok serupa tapi tak sama dengan mulus, sisa tokoh tak ubahnya onggokan daging tidak bernyawa yang ada hanya untuk dibantai. Talenta Danny McBride, James Franco, hingga Demian Bichir tersia-sia, sedangkan Katherine Waterston kekurangan keperkasaan sebagai action heroine

Mayoritas tokoh utama berstatus pasangan. Harapannya, timbul rasa iba dan dampak emosional bagi menonton mendapati mereka terancam. Walau memberi sedikit bobot, penokohan lemah minim daya tarik meniadakan dampak yang diinginkan. Setidaknya ada poin positif. Deretan tokohnya tidak sebodoh ilmuwan-ilmuwan Prometheus. Benar tingkah bodoh sempat ditunjukkan khususnya di awal teror Xenomorph, namun bisa dimaklumi mengingat saat itu mereka dikuasai ketakutan luar biasa. Ketakutan yang bisa dipercaya, sebab kita pun merasakan hal serupa berkat kapasitas Ridley Scott menyulut ketegangan menggunakan shaky cam dan dengung alarm di koridor sempit pesawat, serupa Alien dahulu.
Untungnya setelah babak awal melelahkan, film ini total menggelontorkan tensi. Aksi masif berhiaskan CGI meyakinkan jadi bukti kematangan Scott menyusun spectacle tanpa bujet berlebihan ("hanya" $111 juta, jauh dibanding banyak blockbuster yang mencapai di atas $200 juta). Satu-satunya kekurangan yakni terlampau pendeknya klimaks. Soal parade horor, Scott meminimalisir jump scare, berkonsentrasi pada gore serta gambar-gambar layaknya mimpi buruk. Di sini puncak Covenant, tatkala Scott mengekspresikan kegilaan, menghabisi tokoh-tokoh forgettable-nya sebrutal mungkin, menumpahkan isi perut, memotong bagian tubuh, membanjiri lantai dengan darah. Bahkan koneksi terhadap Prometheus pun diungkap secara twisted pun disturbing.

Bicara tentang kaitan dengan installment sebelumnya, Covenant berguna menjawab segelintir pertanyaan semisal soal wujud evolusi Xenomorph yang berubah-ubah. Diberikan pula "jembatan" antara cikal bakal sang alien di Prometheus dengan sosok yang kita kenal baik selama ini. Beberapa fakta ini akan lebih diapresiasi penggemar franchise-nya, namun takkan berpengaruh bagi penonton awam. Sederet poin menyiratkan usaha mengesampingkan plot thread milik Prometheus. Konsep "pencipta dan ciptaannya" masih disinggung, tapi menilik cliffhanger di akhir, rasanya alih-alih meluaskan lingkup membahas asal muasal manusia dan Engineer, babak berikutnya cenderung kembali ke akar, menautkan seri prekuel dengan original. Dan sebagaimana Alien pula, Scott coba bermain-main melalui seksualitas tersirat berupa "oral" antar kembar bersaudara" Fassbender.