FERDINAND (2017)

16 komentar
Karakter Ferdinand dalam buku cerita anak The Story of Ferdinand adalah banteng cinta damai berhati lembut. Daripada bertarung melawan matador, ia memilih menikmati aroma bunga. Di realita yang diselimuti prasangka dan amarah, kepribadian macam itu justru kerap dibenci. Jika dalam buku serta filmnya Ferdinand diasingkan oleh banteng lain, maka dunia nyata menjadi saksi buku buatan Munro Leaf ini sempat dilarang beredar. Terbit kala iklim politik tengah tak kondusif, sembilan bulan jelang Perang Sipil Spanyol melanda dan Hitler sedang berkuasa, beragam tuduhan dari fasisme, komunisme, hingga sosialisme pun dialamatkan.

Sindiran terhadap Nazi memang tampak pada penokohan tiga kuda: Hans, Klaus, dan Greta yang memiliki nama sekaligus aksen Jerman, menganggap spesies mereka paling unggul. Tapi intinya, Ferdinand (baik versi buku maupun film) murni soal perdamaian, menjadi diri sendiri, juga bersikap baik tanpa pandang bulu. Barisan pesan yang dapat diajarkan bagi anak di sela-sela gelak tawa mereka melihat Ferdinand (John Cena) terjebak dalam toko barang pecah belah, atau Maquina si banteng dengan gerak robotik dan suara kedipan mata yang terdengar bak besi beradu (bisa ditebak namanya berasal dari "machina"). Untuk Maquina, tawa saya jauh lebih kencang ketimbang para bocah.
Ferdinand kecil yang kabur dari peternakan banteng demi menghindari hidup penuh kekerasan pasca ayahnya tewas di arena pertarungan, tumbuh besar dalam harmoni bersama Nina (Lily Day) dan ayahnya, dikelilingi bunga-bunga yang jadi benda favorit Ferdinand. Melalui montage singkat kita menyaksikan persahabatan berlandaskan cinta antar-spesies terjalin, walau bagaimana Nina mengetahui nama Ferdinand tak pernah terjawab. Tapi filmnya bergerak cepat, segera mengembalikan Ferdinand ke peternakan akibat suatu kecelakaan berujung kesalahpahaman, urung menyisakan waktu bagi kita memikirkan kejanggalan tersebut.

Meski waktu berlalu, namun kondisi peternakan tetap sama. Valiente (Bobby Cannavale) masih memusuhi, mencela keengganan Ferdinand bertarung, sementara banteng-banteng lain pun bertahan mengusung mimpi meraih kejayaan sebagai lawan tanding matador. Satu-satunya perubahan adalah bertambahnya jumlah hewan yang berjasa meramaikan suasana. Lupe si kambing betina mencuri perhatian berkat suara Kate McKinnon yang sempurna mewakili keanehan tokohnya, sedangkan trio landak, Una, Dos, Cuatro terampil mencuri benda-benda di sana. Jangan tanyakan keberadaan Tres. Mereka sudah memperingatkan kita.
Dengan karakter sekaya itu, sutradara Carlos Saldanha punya cukup modal merangkai kemeriahan kreatif. Ambil contoh adegan dance battle yang bukan cuma tentang kekonyolan tingkah hewan, tapi pemanfaatan ciri masing-masing. Trio kuda dengan gaya elegan, Angus (David Tennant) dan sentuhan Skotlandia miliknya, sampai Maquina yang kembali mengocok perut melalui gerak robotik, membabat habis lagu Watch Me-nya Nick Jonas, memancing gadis kecil yang duduk di sebelah saya ikut menari penuh semangat. Sungguh pemandangan menyenangkan.

Ferdinand memang urung menyoroti ambiguitas moral terkait adu banteng di Spanyol, memilih pendekatan bersenang-senang menyikapi aspek kulturalnya, seperti dipertontonkan pada suatu adegan yang memparodikan parade Running of the Bulls. Tapi bukan masalah. Tidak semua animasi wajib menyusuri jalur kompleks sebagaimana Pixar agar menjadi bagus. Terlebih ketika pelajaran berharga tentang kasih sayang bisa dipetik oleh penonton anak, sementara kita, orang dewasa, dibuat merenungkan "siapa monster sesungguhnya?" begitu klimaks bergulir.

16 komentar :

Comment Page:
Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Ternyata dalam filmnya ada unsur politisinya ya, Bang ? Tapi pas nonton saya gak ngeh tuh. Mungkin karena terlalu asik menyelami dunia banteng.

Rasyidharry mengatakan...

Oh nggak kok. Cuma tudingan di masa bukunya dulu. Sindiran ke Nazi yang ada di film & buku bernada humanis, bukan politis :)

Raid Mahdi mengatakan...

Mas, review The Room 2003 ama The Disaster Artist 2017 bisa mas>?

Nur'aini Tri Wahyuni mengatakan...

kemarin nonton ini, senang karena studionya penuh dan banyak anakanak. baru kali ini ga ngerasa kesel ada yg ngobrol di bioskop, karena yg ngobrol itu ibuibu yg lagi ngejelasin ke anaknya kenapa si Ferdinand masuk ke rumah jagal.

dance battle nya terbaik sih emang.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Bang Rasyid Oalah, kirain ada unsur propaganda atau apa gitu. Unsur Nazi-nya pun pasti gak akan terlalu diperhatiin juga kan sama anak-anak, jadi itu sindirannya masih tahap normal kali ya. Emang bukunya itu sendiri terbitnya taun berapa ya, Bang ?

Rasyidharry mengatakan...

@Raid The Room itu nggak bisa di-review :)

@Nur'aini Sama, seneng malah denger anak-anak yang excited, ketawa, joget, tanya-tanya :)

@Pramudya Oh nggak. Orang dewasa pun mayoritas nggak akan ngeh soal trio kuda. Terbit 1936

Wendi Burhan mengatakan...

Setuju bg bro rasyid,, ini menghibur dengan segala kesedrhanaannya.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Bang Rasyid Hahaha, ya awalnya saya ngerasa kesel aja sama trio kuda sombong dan sok berkuasa itu. Ehh taunya ada unsur di baliknya. Udah lama juga ya Bang, macem bukunya Disney berarti ya kalo taun 1930-an mah.

Rasyidharry mengatakan...

Komik Disney malah baru mulai terbit rutin 1940-an. Lebih ke arah buku anak klasik macam Cat in the Hat, Mr Popper's Penguin, dll

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Bang Rasyid Wah, malah Disney agak "telat" ya, Bang. Oke makasih Bang buat info sama review-nya. Ditunggu review selanjutnya.

SALEMBAY mengatakan...

Bang rasiyd film yang paling bagus menurut,, abang apa sih..kalau saya jujur Sherlock: "The Reichenbach Fall" itu.. Gak bisa diceritain lewat kata, sih mesti rasain sendiri.. Saking bagusnya.. Menurut bang rasyid gimana..?

Rasyidharry mengatakan...

Nggak ngikutin series Sherlocknya Cumberbatch hehe
3 Film yang selalu bikin terpukau si Pulp Fiction, The Godfather, Shaun of the Dead

Budi Nurdin mengatakan...

Wah.... pas bgt.... ane lg obsess ma poets dr Spain especially generation '27...... kalo gk baca reviewnya bang Rasyid... kayankya ni film ane lewat.....

Rasyidharry mengatakan...

Literatur Eropa macam itu menarik emang, bisa buat ngintip kondisi politik atau sosial/masyarakat. Dari yang diniati punya subteks, sampai yang dituduh punya "kepentingan" macam Ferdinand ini

aryo mengatakan...

Mas, filmnya didubbing nggak ya? Saya khawatir, soalnya tagline di posternya bahasa indonesia.

Rasyidharry mengatakan...

Oh nggak kok, biasanya Disney yang begitu