REVIEW - SING 2
Sing 2 kemungkinan besar hanya memuaskan bagi anak, penyuka film pertamanya, dan penggemar U2 (menyumbang empat lagu, termasuk Your Song Saved My Life selaku original soundtrack). Bukan masalah. Artinya film ini betul-betul memahami keinginan target pasarnya.
Dibekali dana sedikit lebih tinggi dibanding pendahulunya (selisih 10 juta dollar), peningkatan kualitas animasinya langsung nampak sejak sekuen pembuka, kala karakternya mementaskan Alice in Wonderland diiringi lagu Let's Go Crazy. Baik detail warna maupun teksturnya jauh lebih baik, bak mewakili karir Buster Moon (Matthew McConaughey) dan kelompok teater miliknya yang senantiasa mendapat sambutan meriah dari penonton.
Meena (Tori Kelly) tak lagi kekurangan rasa percaya diri, Rosita (Reese Witherspoon) sudah bukan seorang ibu rumah tangga dengan rutinitas monoton, Johnny (Taron Egerton) lepas dari tentangan sang ayah, Ash (Scarlett Johansson) sukses sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu, sedangkan Gunter (Nick Kroll).....well, masih eksentrik.
Keberhasilan telah mereka dapat di skena lokal, dan kini tiba waktunya melebarkan sayap. Buster nekat menerobos ke audisi yang dilangsungkan oleh Jimmy Crystal (Bobby Cannavale), seorang pengusaha bidang hiburan ternama di Redshore City. Perhatian sang media mogul mampu didapat, ketika Buster berjanji bakal menampilkan Clay Calloway (Bono U2), legenda hidup dunia rock yang sudah menghilang selama 15 tahun. Apa Buster mengenal Calloway? Jelas tidak.
Alur Sing 2 terbagi dua. Pertama adalah pencarian terhadap Calloway, yang melibatkan petualangan Miss Crawly (Garth Jennings) si iguana tua ke area antah berantah sambil ditemani lagu Chop Suey!. Sedangkan yang kedua menyoroti proses pembuatan teater musikal bergenre fiksi ilmiah. Tentu ada banyak masalah. Rosita yang akibat takut ketinggian mesti merelakan posisi pemeran utama kepada Porsha (Halsey), puteri Jimmy yang kemampuan aktingnya buruk, Johnny yang kesulitan belajar menari sampai akhirnya bertemu Nooshy (Letitia Wright) si penari jalanan, hingga Meena yang kelabakan saat dihadapkan dengan adegan romansa.
Bisa ditebak, walau durasinya tidak bisa dibilang pendek (110 menit), naskah buatan sang sutradara, Garth Jennings, kesulitan mengolah cerita sebanyak itu secara memadai. Semua serba instan, penuh simplifikasi. Johnny tiba-tiba jago menari, sementara Calloway rupanya cukup mudah dibujuk agar "turun gunung" biarpun telah menyepi hampir dua dekade sepeninggal sang istri.
Alhasil, penceritaan Sing 2, terutama di babak kedua, cenderung hampa. Tetapi, apabila termasuk dalam tiga kelompok penonton yang saya sebut di atas, apakah anda memusingkan penceritaan? Tentu tidak. Deretan lagu beraneka genre yang catchy, ditambah beberapa sentuhan humor segar (siapa sangka Bad Guy bisa menjadikan materi komedi formulaik terkesan unik dan lebih menggelitik?), adalah hal-hal yang dicari.
Tercipta paralel antara Jennings dan protagonisnya. Keduanya sama-sama berambisi melebihi pencapaian artistik mereka sebelumnya, dan sama-sama berujung keberhasilan. Klimaks Sing 2 mungkin bukan bentuk kecerdikan menyatukan jukebox dengan narasi sebagaimana film pertama (alasan terbesar saya menyukai Sing), namun kali ini pertunjukannya lebih megah, lebih festive, dan terpenting.....U2!
Mendengar Bono dan Scarlett Johansson membawakan I Still Haven't Found What I'm Looking For (one of the greatest songs of all time, from one of the greatest albums of all time), dibarengi suara nyanyian kompak para penonton, merupakan pengalaman yang emosional. Tentu pernyataan ini datang dari orang yang perasaannya sudah teraduk-aduk tatkala intro gitar Where the Streets Have No Name baru berkumandang.
REVIEW - TOM & JERRY
Tahukah kalian bahwa seri Tom and Jerry yang menghiasi masa kecil kita dahulu, mengantongi tujuh piala Academy Awards untuk kategori Best Animated Short Film? Raihan yang menjadikannya seri kartun pemenang piala terbanyak bersama dengan Silly Symphony (1929-1939) milik Disney. Rata-rata durasi tujuh menit memang wadah sempurna bagi rangkaian slapstick imajinatifnya.
Selang 29 tahun pasca film layar lebar berdurasi panjang perdananya (yang membuat Tom dan Jerry berbicara, mendapat respon negatif kritikus, serta flop di pasaran), hadirlah animasi hybrid karya sutradara Tim Story (Barbershop, Taxi, Fantastic Four) ini, yang meski belum menandingi kreativitas 114 judul animasi pendek buatan William Hanna dan Joseph Barbera, pula takkan meramaikan ajang penghargaan apa pun, mampu sedikit mengembalikan kenangan para penggemar.
Tentu aksi kejar-kejaran Tom dan Jerry, yang kali ini menciptakan kekacauan di New York, tidak cukup mengisi durasi 101 menitnya. Sehingga naskah buatan Kevin Costello (Brigsby Bear) menambahkan karakter Kayla (Chloë Grace Moretz), gadis muda yang berambisi meraih kesuksesan di kota besar. Demi impiannya, Kayla sampai mencuri CV orang lain, lalu nekat mendaftar sebagai bagian tim Hotel Royal Gate, dalam merencanakan pernikahan mewah dua selebritas, Ben (Colin Jost) dan Preeta (Pallavi Sharda), yang bakal melibatkan drone, gajah, harimau, dan sebagainya.
Rencana pernikahan gila-gilaan hingga ketidaksukaan Terence (Michael Peña) selaku atasannya, rupanya bukan akhir rintangan. Kayla masih harus mengurusi pertengkaran Tom dan Jerry, yang berpotensi menimbulkan kekacauan di Hari-H. Kisah Kayla sekilas tidak cocok bersandingan dengan dunia Tom & Jerry, yang umumnya, nyaris tanpa karakter manusia, apalagi sebagai sentral cerita. Tapi Moretz adalah aktris serbabisa, yang mampu meleburkan diri di kejenakaan dunia kartun. Bukan cuma Moretz, seluruh penampil termasuk Peña, piawai soal interaksi dengan figur-figur animasi.
Selain talenta pemain, gaya hybrid-nya turut membantu mulusnya penyatuan dua dunia. Story menetapkan "aturan", di mana semua hewan ditampilkan dalam bentuk animasi, menciptakan pemahaman bahwa memang demikian perwujudan hewan di dunia filmnya. Animasi hybrid-nya colorful, atraktif, dan ketika energi sang sutradara (selaku penggemar serialnya) ditambahkan, mata penonton dibuat terus menempel pada absurditas-absurditas di layar, sebutlah "animal tornado" khas "kartun Minggu pagi".
Pada titik tertentu, bahkan setelah mendapat tambahan kisah mengenai Kayla, alurnya memang mencapai titik jenuh. Wajar, mengingat tidak banyak variasi atau bahan eksplorasi. Pesan anti-kebenciannya pun bakal cukup sulit disampaikan pada penonton anak, mengingat tidak peduli berapa kali keduanya berdamai, pada akhirnya Tom dan Jerry bakal kembali bermusuhan.
Tapi rangkaian aksi bermodalkan slapstick sarat kekerasan yang dahulu kerap menyulut kontroversi, menginjeksi cukup tenaga. Sementara beberapa pemandangan familiar, seperti kemunculan sosok setan dan malaikat di samping telinga Tom, maupun tokoh-tokoh pendukung seperti Spike si buldog (Bobby Cannavale) sampai Butch si kucing liar (Nicky Jam), akan membangkitkan nostalgia penonton lama. Alhasil, serupa keawetan franchise-nya, meski ada kalanya tampak melelahkan sekaligus repetitif, pesonanya tidak pernah benar-benar mati.
Available on HBO MAX & CINEMAS









