ANDHADHUN (2018)

Tidak ada komentar
Andhadhun bisa menjadi salah satu sajian Bollywood dalam beberapa tahun belakangan yang paling menyerupai karya-karya Alfred Hitchcock. Hasil penyutradaraan kelima Sriram Raghavan (Johnny Gaddaar, Badlapur) ini mengandung beberapa elemen Hitchcockian: seorang pria di situasi yang salah, kasus pembunuhan penuh rencana sarat tipu daya, perselingkuhan, karakter yang sulit dipercaya, dan hal favorit banyak penonton, apalagi kalau bukan twist. Filmnya tahu penonton suka dikejutkan oleh belokan alur tak terduga, dan memberikannya sebanyak mungkin. Terlalu banyak malah.

Akash (Ayushmann Khurana) adalah pianis buta bertalenta yang sedang berusaha menyelesaikan musik terbarunya ketika seorang gadis bernama Sophie (Radhika Apte) menabraknya dengan motor di jalan. Diawali kecelakaan, Sophie pun mengetahui bakat luar biasa Akash, lalu menawarinya pekerjaan sebagai pianis di sebuah cafe. Dari pekerjaan itu pula Akash bertemu Pramod Sinha (Anil Dhawan), mantan aktor ternama yang meminta Akash bermain piano di rumahnya, dalam rangka konser privat sebagai kejutan ulang tahun pernikahannya dengan Simi (Tabu) sang istri muda. Dari situlah Akash terseret menuju situasi yang hanya bisa saya deskripsikan sebagai “intens dan dilematis”.

Seperti telah disebutkan, kasus pembunuhan turut terjadi. Siapa yang dibunuh, oleh siapa, bagaimana, atau di mana, saya tak bisa menyebutkan, tapi bahkan sebelum itu terjadi, Andhadhun sudah memiliki elemen kejutan—yang mungkin tak seberapa sulit ditebak—yang berperan selaku peringatan bagi kita, bahwa tidak ada satu pun karakter dapat dipercaya.

Naskahnya yang ditulis oleh 5 orang, Sriram Raghavan, Arijit Biswas, Pooja Ladha Surti, Yogesh Chandekar, dan Hemant Rao, menyuntikkan unsur komedi hitam khususnya pada dua babak awal tatkala kesialan-kesialan Akash beserta tendensinya untuk muncul di waktu dan tempat yang keliru menghadirkan pemandangan menggelitik. Keterlibatan Akash pun senantiasa menciptakan kekacauan, dan Sriram Raghavan bermain-main dengan kekacauan tersebut guna menciptakan momen humor yang tak pernah mendistraksi akibat menjadi terlalu konyol.

Komedinya urung melucuti ketegangan situasi berbahaya yang dialami Akash berkat kemampuan sang sutradara memeras intensitas dari berbagai interaksi antara karakter, di mana mereka memainkan trik psikologis, saling tebak, sambil melancarkan tipu daya terhadap satu sama lain. Apabila Hitchcock gemar memusatkan ketegangan melalui peristiwa berlokasi tunggal, Raghavan memilih menebar beberapa situasi, yang masing-masing berpusat di lokasi tertentu, dengan tiap lokasi dan situasi itu dapat dijadikan film panjang berlokasi tunggal sendiri. 

Sampai kemudian lingkup cerita membesar, semakin banyak karakter turut terlibat dan terus berpindah sisi, pun jumlah kejutan yang dibeberkan terus bertambah. Apalagi di sepertiga akhir, saat alih-alih mempresentasikan alur utuh yang diselipi twist, justru alurnya yang berperan sebagai selipan dengan fungsi menjembatani twist demi twist. Alhasil baik ketegangan maupun efek kejutnya menurun, sebab kita sampai pada titik ketika kita tahu, jika kemungkinan besar, segala hal yang ada, sesungguhnya tidak seperti tampak luarnya.

Ayushmann, yang menghabiskan 2 bulan berguru pada pianis Los Angeles, Akshay Verma, tampil meyakinkan. Jari-jarinya lancar menari-nari di atas tuts. Sedangkan sebagai pria clueless yang terkurung di tengah situasi yang salah nan dilematis, kehampaan di matanya jelas mewakili kebingungan luar biasa yang karakternya rasakan. Turut mencuri perhatian adalah Tabu, lewat performa yang bisa disandingkan dengan jajaran “Hitchcock blonde”, hanya saja, dengan sedikit lebih banyak bumbu komedi.

Tidak ada komentar :

Comment Page: