THE BEATLES: EIGHT DAYS A WEEK - THE TOURING YEARS (2016)

4 komentar
Siapa tidak kenal The Beatles? Hampir semua orang tahu bermacam hal tentang mereka, mulai fakta umum bagaimana empat pemuda asal Liverpool ini mendominasi kancah musik dunia, hingga mitos unbeliveable  yet convincing for some mengenai kematian Paul McCartney beserta pesan rahasia dalam cover album "Abbey Road". Walau anda bukan seorang die-hard fan sekalipun, pastilah anda pernah mendengar bahkan mungkin menyukai deretan hits macam "I Want to Hold Your Hand" atau "Yesterday". Jadi masih adakah hal baru yang bisa Ron Howard selaku sutradara sampaikan? Jawabannya tidak. Tapi bukan berarti dokumenter berisi masa The Beatles menggelar tur pada 1961-1966 ini buruk.

Howard jelas sutradara bagus, namun berkaca dari beberapa karyanya termasuk "Inferno" yang dirilis selang satu bulan pasca film ini, ia kerap tak berdaya bila dihadapkan dengan naskah lemah. Permasalahan tersebut mencuat di sini. Ditulis naskahnya oleh Mark Monroe, "The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years" punya beberapa kisah menarik yang dipaparkan sambil lalu, hanya menawarkan sekilas informasi yang mayoritas dapat kita dapatkan di internet. Beberapa hal sederhana semisal saat Ringgo menceritakan jika ia mengetahui bagian lagu yang tengah dimainkan dengan melihat goyangan pantat John dan Paul (teriakan penonton mengalahkan volume instrumen) menarik disimak, tapi itu saja belum cukup memenuhi janji filmnya guna menyuguhkan tentan "the band you know, the story you don't".
Film ini enggan menyentuh sisi gelap The Beatles, tapi bisa diterima karena tujuannya memang memperlihatkan betapa besar mereka khususnya kala "the touring years", yang notabene puncak kesuksesan bermodal nomor-nomor pop catchy sebelum beralih ke experimental psychedelic. Filmnya mengaitkan keberhasilan itu dengan faktor kultural seperti era baby bloom di mana jumlah remaja (mayoritas Beatlemania kala itu) membludak, pula kepekaan pada isu sosial yang tampak ketika Beatles mengancam batal manggung demi melawan rasialisme. Beberapa wawancara turut mendukung pemahaman penonton. Whoopy Goldberg, Sigourney Weaver sampai Elvis Costello menyatakan kekaguman, dan saat nama-nama besar tersebut berkata demikian, you know you're the real deal. Sedangkan Paul dan Ringgo menjelaskan alasan berhenti tampil live karena fokus utama pertunjukkan bukan lagi musik, melainkan The Beatles sendiri. Bisa diterima tatkala "real artist" berharap diapresiasi karya daripada ketampanan fisiknya.

Walau mengandung kalimat "The Touring Years" di judul serta berisi banyak footage konser, "The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years" bukan concert movie mengingat adanya kandungan kisah di luar pertunjukan musik. Maka dari itu kurang luasnya (juga dalam) kisah merupakan kekurangan. Namun harus diakui setumpuk arsip footage  konser dan belakang panggung  tersaji memuaskan. Jika anda mempertanyakan sebesar apa band ini, menyaksikan para fans berteriak histeris sampai menangis sewaktu melihat John atau Paul menggoyangkan kepala sudah jadi bukti sahih. Dari atas panggung pun terhampar pemandangan luar biasa berupa performa penuh energi serta kesatuan harmoni meski nyaris mustahil bagi keempatnya mendengar instrumen masing-masing. Bukan saja bukti skill bermusik tingkat tinggi, juga eratnya chemistry.
Di belakang panggung saat musik berhenti dimainkan, daya tarik film tak pernah mengendur, sebab John-Paul-Ringgo-George selalu mampu melontarkan kelakar jenaka sekaligus cerdas dalam menanggapi serangkaian pertanyaan wartawan. Tentu Ringgo di masa muda paling mencuri perhatian lewat tingkah quirky ditambah senyum adorable, menjadikannya sosok paling lovable dalam film ini. More footage of John Lennon and George Harrison will do this movie good, though

Lagu-lagunya menggabungkan widely-known hits macam "Ticket to Ride" dengan beberapa nomor yang mungkin terdengar asing bagi non-fans. Tapi kita tengah membicarakan karya The Beatles yang dapat seketika "meracuni" pikiran. Penonton yang merasa asing dapat tergerak mencari lagu-lagu itu setelah film usai, sedangkan longtime fans bakal puas ber-sing-along. Unsur di atas sesuai dengan tujuan utama film, yaitu menyeimbangkan antara nostalgia penggemar lama dengan menghibur penonton awam, mengenalkan mereka akan masa keemasan dari band terbesar sekaligus (bisa jadi) terbaik sepanjang masa. 

4 komentar :

Comment Page:
naufal junior mengatakan...

nonton dimana mas?

Rasyidharry mengatakan...

Udah tayang di bioskop kok

Debraldi Resandono mengatakan...

Awalnya kirain film ini cuma bahas sampai sekitar tahun 1966 doang. Ternyata sampe mereka mengganti gaya bermusik juga di ceritain. Kalo suka sama film ini, coba nonton juga film2 mereka mulai A Hard Day's Night sampe Let it Be. IMO, Magical Mystery Tour yg paling psychedelic. 30 menit setelah end credit adalah bagian terbaik...

Rasyidharry mengatakan...

Definitely gonna watch Magical Mystery Tour, karena personally lebih suka Beatles era psychedelic :)