Tampilkan postingan dengan label Surya Saputra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surya Saputra. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MY SASSY GIRL

(Tulisan ini mengandung SPOILER)

Jika ditengok sekarang, beberapa nilai milik My Sassy Girl (2001) mungkin sudah usang (kewajaran bagi sebuah "product of its time"), pun alurnya tampak klise. Tapi patut diingat, keklisean itu muncul karena dampak luar biasa yang filmnya bawa. Rilis di tahun-tahun awal kebangkitan sinema Korea Selatan, 4,8 juta penonton berhasil dikumpulkan, menjadikannya film lokal terlaris keempat sepanjang masa kala itu. Alhasil, formulanya banyak ditiru hingga sekarang, baik di medium film maupun drama.

Dua poin di atas pun jadi PR bagi remake Indonesia buatan sutradara Fajar Bustomi (trilogi Dilan, Mariposa). Bisakah modernisasi nilai diterapkan? Bisakah romantisme dipercikkan tatkala formulanya telah berulang kali dipakai? 

Pertanyaan pertama dapat langsung dijawab di pertemuan perdana dua tokoh utama. Gian (Jefri Nichol) tertarik pada paras Sisi (Tiara Andini), tapi merasa gadis itu "nggak jelas". Bandingkan dengan Gyeon-woo (Cha Tae-hyun) yang beranggapan bahwa gadis mabuk adalah hal buruk. Gian juga tidak curi-curi kesempatan dengan memandangi tubuh gadis yang pingsan secara creepy. Protagonis pria merupakan keunggulan remake ini dibanding film aslinya.

Tapi garis besar alurnya cenderung setia. Dituturkan melalui flashback dari sudut pandang Gian, kita melihat bagaimana ia menjalin hubungan unik dengan si "cewek ajaib" yang pemarah, hobi memukul, ceria, walau sebenarnya menyimpan kesedihan mendalam. Keduanya berpacaran, berpisah, lalu berjanji bakal bertemu lagi dalam waktu dua tahun, di bawah sebuah pohon tempat kenangan tersimpan.

Saking setianya, naskah buatan Titien Wattimena (trilogi Dilan, Aruna & Lidahnya, Backstage) masih mempertahankan penceritaan episodik yang melompat-lompat. Tentunya ada perubahan, termasuk yang mau tak mau mesti dilakukan akibat perbedaan kultur. Ayah Sisi (Ferry Salim) misal, bukan lagi pemabuk akut yang tiba-tiba pingsan, sehingga kehilangan ciri khas memorable. Minimal kekurangan itu ditambal oleh ayah Gian (Surya Saputra) yang kebagian (sedikit) lebih banyak momen komedik. 

Di versi Korea, dua protagonis merayakan hari jadi ke-100 dengan jalan-jalan ke taman hiburan, namun kencan mereka diganggu oleh desertir yang hendak bunuh diri karena putus cinta. Tingginya relevansi membuat momen tersebut tampil organik. Di sini, Gian dan Sisi mengunjungi TMII, saat dikejutkan oleh pria dengan intensi sama. Tapi kesan organik tadi lenyap. Seolah peristiwa ini dimasukkan hanya karena sumber adaptasinya memiliki momen serupa. 

Saya sempat mendengar beberapa keluhan soal pendekatan visual My Sassy Girl yang dianggap berlebihan memanipulasi warna. Saya tidak setuju. Estetika dalam semesta film punya bahasanya sendiri, yang tak wajib sesuai realita, apalagi untuk suguhan di mana realisme bukan elemen substansial macam ini. Sebaliknya, My Sassy Girl justru enak dipandang bila memegang prinsip tersebut. 

Terkait warna, di luar manipulasi pasca-produksi, pada dasarnya, Eros Eflin selaku penata artistik memang memperhatikan betul detail pewarnaan latar serta properti. Begitu pula tata busana yang dipegang Quartini Sari. Tidak sekalipun Gian dan Sisi muncul dengan pakaian ala kadarnya. Pendekatan visual ini tepat, jika ditujukan bagi target penonton para penyuka hiburan Korea, terutama drama.

Nah, di sini timbul masalah. Keputusan me-remake My Sassy Girl (juga Miracle in Cell No. 7 dan Hello Ghost) tentu didasari kesimpulan bahwa penonton kita menggilai hiburan Korea. Sayangnya, sineas kita masih sering terjebak stigma kalau film arus utama atau drama Korea cuma identik dengan warna-warna cantik, romansa menggemaskan, atau drama mengharu-biru. Saya ragu mereka mengonsumsi tontonan yang dijadikan kiblat. Keraguan tersebut menguat kala menyaksikan My Sassy Girl.

Titik terbaik My Sassy Girl Korea, yang mengangkat statusnya dari komedi romantis menghibur jadi sebuah karya klasik adalah 30 menit terakhir. Fajar Bustomi tak punya sensitivitas yang diperlukan. Kwak Jae-yong selaku sutradara film aslinya, sebagaimana film atau drama Korea, jeli dalam hal dramatisasi. Berjalan perlahan, membiarkan penonton meresapi emosinya, sehingga antisipasi pun terbangun. Fajar menggerakkan adegan penting begitu cepat, bak buru-buru ingin selesai bercerita. Momen "10 aturan" kehilangan kekuatannya gara-gara hal tersebut. 

Selain urusan pacing, pilihan shot dan musik juga termasuk poin-poin penting soal sensitivitas. Ketika Gyeon-woo menemui "The Girl" di ruang kontrol stasiun, Jae-yong memposisikan kamera di belakang pundak pria. Kita melihat yang dia lihat, sehingga ikut tersentuh menyaksikan tindakan si gadis. Di versi Indonesia, kamera sebatas menangkap keseluruhan ruang, lagi-lagi dengan tempo buru-buru.

Keputusan menghapus shot si gadis duduk bersama ibu mantan pacarnya pun, meski terkesan remeh, membawa dampak besar. Dampak negatif tentu saja. Isi surat Sisi kehilangan rasa, pun efek kejut yang dibawa twist di penghujung durasi turut melemah, karena pertemuan kedua wanita itu luput ditekankan. 

Tapi segala kelemahan terkait sensitivitas terangkum di adegan-adegan berlatar pohon kenangan. Pacing kacau, pilihan shot seadanya, pemakaian musik pop yang mengurangi kemegahan emosi, semua muncul. Seolah Fajar sendiri tidak paham mengapa peristiwa-peristiwa di sana (Gian yang rutin datang, Sisi membaca surat Gian, fakta mengejutkan tentang Gian yang diungkap seorang bapak tua) adalah wujud romantisme menggugah.

Di departemen akting, Jefri tampil baik mengombinasikan kejenakaan dan akting dramatik. Sekali lagi, ia lebih berhasil membuat karakternya terasa simpatik ketimbang Cha Tae-hyun. Tiara lain cerita. Dia berusaha sekuat tenaga menghidupkan energi si "sassy girl". Mungkin malah terlampau berusaha, sampai terkesan kurang efortless. Kurang natural. Tapi sebagai debutan, upayanya patut dihargai, dan memang tak semua orang bisa mengikuti pencapaian Jun Ji-hyun (come on, she's one of "The Troika"). Setidaknya kombinasi Jefri-Tiara mulus mengeksekusi deretan humor, yang membuat My Sassy Girl masih punya nilai hiburan.

POCONG THE ORIGIN (2019)

Pocong the Origin, selaku (meminjam istilah Monty Tiwa) “reinkarnasi” Pocong (2006) yang dilarang tayang oleh LSF karena dianggap membangkitkan luka lama  terkait tragedi 1998 (konon film ini dibuat berdasarkan naskah sama), berusaha mencampur elemen horor dengan komedi, mengingatkan akan judul-judul legendaris Suzzanna. Tapi ada satu masalah besar: filmnya gagal tampil menyeramkan.

Adegan pembukanya menjanjikan, kala pembunuh berantai bernama Ananta (Surya Saputra) sedang menanti waktu eksekusi sambil mendengarkan lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama milik Sundari Soekotjo. Saya menyukai keputusan film ini memakai nomor-nomor keroncong, yang di balik keindahannya sebagai karya seni, menyimpan mistisisme yang dapat menciptakan kengerian bila digunakan secara tepat.

Selepas dieksekusi, jenazah Ananta mesti dimakamkan di kampung halamannya sebelum lewat 24 jam. Jika tidak, ilmu banaspati yang ia miliki akan terus bangkit. Karenanya, Sasthi (Nadya Arina), puteri tunggal Ananta yang hidup menyendiri di bawah tekanan sosial akibat status sang ayah, ditemani Yama (Samuel Rizal) si sipir penjara, mesti mengantar jenazah itu, dalam sebuah perjalanan penuh gangguan gaib.

Jalur menarik ditempuh Pocong the Origin, sebagai horor lokal langka (kalau bukan satu-satunya) yang meminjam unsur film road trip. Sayang, naskah besutan Monty bersama Eric Tiwa (Laskar Pemimpi, Barakati) tak cukup kreatif dalam menangani elemen tersebut, dan berujung melahirkan repetisi. Gangguan terjadi tiap Yama dan Sasthi menghentikan perjalanan, yang tidak pernah jauh dari dua hal, yakni antara Yama ingin kencing atau mobil yang rusak. Pun respon keduanya hampir selalu sama: membuka telepon genggam, lalu mengeluhkan hilangnya sinyal.

Seperti telah saya sebut, Pocong the Origin berniat menciptakan lagi sensasi horor-horor Suzzanna. Filmnya ingin memancing keriuhan penonton, di mana kita diharapkan berteriak histeris sembari tertawa lepas. Tawa bisa ditemukan berkat humor efektif berupa situasi jenaka saat tokoh-tokohnya dibuat tunggang langgang oleh penampakan hantu, namun teriakan ketakutan urung hadir.

Menolak mengeksploitasi jump scare pantas diapresiasi, tapi pilihan itu tak otomatis membuat terornya lebih berdampak. Padahal Monty adalah orang di balik adegan penampakan pocong paling mengerikan sepanjang masa di Keramat (2009). Bukan cuma itu, kali ini Monty sempat coba melakukan “reka ulang” terhadap adegan “keranda mayat” dari film tersebut, tapi gagal memproduksi intensitas serupa. Terlebih, bagi sebagian penonton, riasan bagi para hantu di momen tersebut mungkin bakal tampak menggelikan.

Sedangkan perihal membangun atmosfer melalui penerangan minimalis justru kerap menjadi bumerang. Tidak jarang adegan tampil terlampau gelap, meski harus diakui, gambar-gambar memikat masih bisa sesekali ditemukan, berkat kelihaian Anggi Frisca (Sekala Niskala, Negeri Dongeng, Night Bus) selaku penata kamera bermain cahaya.

Jajaran pemain berusaha maksimal, khususnya Samuel dan Nadya. Semenjak Target tahun lalu, Samuel mengambil jalur tepat bagi babak baru karir layar lebarnya, dengan menjauh dari peran “cowok keren”, dan berani memainkan sosok konyol. Di sini ia tampil menghibur, meski saya bingung, bagaimana bisa momen saat ia salah mengucap “mas” menjadi “mbak”, lolos dari penyuntingan. Sementara Nadya cukup solid memerankan gadis yang terjebak di konflik batin. Biarpun amat menyayangi sang ayah, ia tak bisa menyangkal  jika Ananta adalah pembunuh berantai. Sebuah dilema menarik yang tidak sanggup dipresentasikan secara memuaskan oleh naskahnya.

“Lawan” Nadya adalah Jayanthi (Della Dartyan), jurnalis yang diam-diam mengikuti Yama dan Sasthi demi memperoleh berita, sambil mengusung alasan personal karena sahabatnya merupakan salah satu korban Ananta. Ketimbang drama thought-provoking berupa gesekan argumen dua pihak berlawanan, kita hanya disuguhi debat kusir tanpa akhir maupun jiwa, tatkala hanya volume suara yang meninggi, bukan kadar emosi.

Sebagaimana nasib banyak horor belakangan baik dalam atau luar negeri, Pocong the Origin kesulitan menciptakan babak ketiga yang mumpuni. Setelah lama menanti, konfrontasi final ketika banaspati mencapai puncak kekuatan berkat keberadaan blood moon, malah berujung pertarungan canggung nan antiklimaks, yang gagal menangkap reputasi pocong sebagai salah satu hantu Indonesia paling mengerikan.

THE WAY I LOVE YOU (2019)

The Way I Love You punya kans menjadi suguhan bernilai tentang proses saling menemukan belahan jiwa yang sanggup menambal lubang dalam hati, andai pilihan fokus utama bukan dijatuhkan kepada unsur lain yang lebih dangkal. Tidak sepenuhnya keliru memang, namun menghilangkan peluang filmnya memiliki pembeda dibanding setumpuk cerita cinta remaja pada umumnya.

Faktanya, naskah buatan Johanna Wattimena (#Teman tapi Menikah) dan Gendis Hapsari menyimpan banyak elemen menarik, seperti duka keluarga, persahabatan yang mengobati kesedihan, atau perihal jatuh cinta lewat perkenalan di dunia maya. Semua itu pernah diangkat ke layar lebar tentu saja, tapi eksplorasi lebih jauh dapat menghasilkan kisah kaya rasa yang tak berkutat di drama romantika remaja yang itu-itu saja.

Setelah kehilangan sang ibu, Senja (Syifa Hadju) tinggal bersama sepupunya, Anya (Tissa Biani), beserta kedua orang tuanya (Adi Nugroho dan Windy Wulandari). Usia sepantaran memudahkan keduanya menjalin persahabatan erat, di mana mereka menganggap satu sama lain sebagai hal terpenting dalam hidup. Bahkan saat menghilangkan buku harian yang selalu jadi tempat Senja menuliskan kegundahan termasuk kerinduan akan mendiang ibunya, Anya membelikan laptop untuk menebus kesalahannya. Melihat itu, Senja memeluk sang sahabat, berurai air mata, sambil berkata, “Keterlaluan lo”. Ucapan sederhana itu merupakan satu-satunya kalimat di film ini yang tak terdengar membosankan sekaligus memiliki rasa.

Tanpa mereka tahu, buku Senja ada di tangan Bara (Rizky Nazar), murid baru yang enam bulan lalu juga baru saja ditinggal pergi ibu. Ayahnya (Surya Saputra), memaksa Bara ikut pindah dari Bandung ke Jakarta guna memulai lembaran kehidupan baru, dan itu memancing amarahnya. Hingga pada satu adegan yang sekali lagi menunjukkan kapasitas Surya Saputra memerankan sosok ayah sentimentil nan gundah gulana, keduanya saling memaafkan. Momen itu muncul di paruh awal, mengakhiri konflik ayah-anak yang ada sebelum sempat berkembang.

Buku itu tidak sengaja ditinggalkan Anya—yang jatuh cinta kepada Bara—ketika duduk di sebelah Bara. Anehnya, tidak sekalipun Bara berasumsi buku tersebut kepunyaan Anya. Jika saya adalah Bara, Anya bakal jadi orang pertama yang saya datangi. Setidaknya langkah itu logis, serta punya probabilitas keberhasilan lebih besar ketimbang secara acak meminta satu per satu siswi di sekolah memperlihatkan tulisan tangan mereka.

Berkat laptop pemberian Anya, Senja pun memulai menulis kisah pribadinya di blog menggunakan nama pena Caramel Latte. Di sana, Senja bertemu seseorang dengan nama pengguna BadBoy, yang mengaku menyukai tulisannya. Senja pun terpikat oleh kata-kata manis si pria misterius. Setelah rutin mengobrol di dunia maya, keduanya memutuskan bertemu. Bertatap mukalah akhirnya Senja dengan Rasya (Baskara Mahendra), dan hubungan mereka makin dekat. Tapi pelan-pelan, Senja merasa ada keanehan. Berbeda dengan BadBoy, Rasya lebih “nakal”, gemar merayu, juga “agresif”.

Tentu kita tahu ke mana alurnya bergerak. Kita tahu bahwa Bara, yang selalu terlibat pertengkaran dengan Senja di sekolah, sejatinya adalah BadBoy. Kita tahu hubungan Senja dan Anya akan diuji begitu rahasia identitas BadBoy terungkap. Kita pun tahu, jika kisah semacam ini punya akhir bahagia, ketika kekuatan persahabatan mendorong salah satu untuk mengalah. Dikarenakan Rasya adalah pria brengsek, kita tahu kalau Senja takkan berakhir di pelukannya, sehingga bisa ditebak, Anya yang bakal berbesar hati merelakan cintanya.

Teramat klise, namun sekali lagi, bukan hal haram. Kekeliruan terletak pada ketiadaan elemen dalam plot yang membuat proses tetap layak kita lewati walau tujuannya mudah ditebak. Aspek-aspek penceritaan yang saya sebut di paragraf awal urung dikembangkan agar tak berakhir sebagai pajangan belaka. Naskahnya kekurangan daya guna menciptakan interaksi dinamis di antara karakter, sedangkan Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie, Dancing in the Rain) bagai memasang mode autopilot di penyutradaraannya. Terdapat usaha memproduksi kejenakaan, tapi satu-satunya momen di mana tawa saya meledak yakni ketika Adi Nugroho melontarkan “lelucon Gaara”.

Beruntung, The Way I Love You punya dua talenta muda berbakat. Syifa Hadju mampu menghadirkan protagonis likeable yang piawai memancing senyum tiap kali ia bertingkah canggung menanggapi pesan-pesan BadBoy di layar laptop. Sementara Tissa Biani melahirkan tokoh paling memorable di sini, serupa keberhasilannya di Laundry Show yang juga rilis minggu ini. Lain cerita bagi Rizky Nazar. Bukan kharismanya yang perlu dipertanyakan, melainkan seberapa alamiah ia dalam berlakon. Tengok tawa dipaksakan selaku respon Bara tatkala sang ayah salah mengartikan “kecelakaan” sebagai “menghamili”, yang menambah kecanggungan adegan komedik gagal tersebut.

LAGI-LAGI ATENG (2019)

Lagi-Lagi Ateng merupakan korban dari marketing lemah. Kaum muda sekarang tidak terlalu mengenal sosok Ateng dan Iskak, karena film-film mereka yang “meledak” di era 70-an seperti Ateng Minta Kawin (1974), Ateng Sok Tahu (1976), dan lain sebagainya, semakin jarang diputar di layar kaca. Melihat poster serta trailer, saya meragukan kemampuannya memikat penonton baru. Sebelum menontonnya, jika ada yang menyebut Lagi-Lagi Ateng layak menjadi kandidat awal film Indonesia terbaik 2019, saya hanya akan tertawa tak percaya.

Tapi begitulah kenyataannya. Saya bisa melihat karya terbaru Monty Tiwa (Rompis, Critical Eleven, Kapan Kawin?) ini bertengger di beberapa daftar film terbaik akhir tahun nanti. Para pembuatnya sadar, untuk memenangkan penggemar baru, komedi beraroma nostalgia saja tidak cukup, sehingga dihembuskanlah drama keluarga kaya rasa. Elemen yang sayangnya gagal dipresentasikan materi promosinya, yang berakibat banyak berkurangnya jumlah layar di hari kedua penayangan.

Sekitar 30-45 menit pertama memang murni komedi, memperlihatkan kehidupan Ateng (Augie Fantinus), pria 26 tahun dengan tingkah bak bocah karena amat dimanjakan oleh ayahnya, Budiman (Surya Saputra), yang juga seorang bangsawan. Sebagai kado ulang tahun, Ateng meminta diperbolehkan berlibur ke Jakarta. Walau awalnya menolak, Budiman akhirnya mengizinkan, selama Iskak (Soleh Solihun) turut serta demi menjaga puteranya.

Cukup melihat bagaimana semua lelucon disatukan, jelas bahwa Lagi-Lagi Ateng bukan komedi sembarangan. Naskah buatan Monty tidak asal mengumpulkan materi-materi humor acak guna disatukan paksa ibarat sketsa. Lucu, ditambah penghantaran sempurna dari kedua pemeran utama, tersajilah kumpulan humor yang bergerak mulus sebagai narasi utuh berstruktur rapi.

Satu detail menarik lain terletak pada kemasan bagi kamar Budiman. Tata artistik garapan sutradara video klip veteran Tepan Cobain (Mau Jadi Apa?, Reuni Z) serta bagaimana sinematografer Anggi Frisca (Night Bus, Sekala Niskala, Negeri Dongeng) memainkan pencahayaan adalah sesuatu yang jarang kita temui di komedi-komedi dalam negeri kebanyakan.

Sesampainya di Jakarta, Ateng bertemu Agung (Augie Fantinus), motivator dengan slogan “Masa lalu ditambah masa sekarang sama dengan masalah” yang rupanya adalah saudara kembarnya. Mereka berdua terpisah seiring perpisahan Budiman dengan sang istri, Ratna (Unique Priscilla). Didorong ide dari asisten Agung, Cemplon (Julie Estelle), reuni kakak-beradik ini segera berubah menjadi rencana gila: Ateng dan Agung bertukar posisi guna bertemu orang tua yang belum pernah mereka kenal.

Di dalam cerita ala The Parent Trap ini, mengasyikkan mengamati Augie silih berganti memainkan dua tokoh dengan sifat berkebalikan, walau di beberapa kesempatan, ia sendiri bagai kebingungan tengah memerankan siapa. Ateng? Agung? Ateng yang menjadi Agung? Atau sebaliknya? Tapi di samping itu, Augie bersama Soleh Solihun terbukti merupakan duet maut perihal melontarkan lawakan khas Ateng-Iskak yang efektif mengocok perut. Tidak kalah menghibur tentu saja Julie Estelle lewat peran paling komedik sepanjang karirnya.

Begitu rencana Cemplon dieksekusi, Lagi-Lagi Ateng mulai merambah jalur drama, di mana humor berdaya bunuh tinggi tetap menyeruak di sana-sini. Berkat kemahiran Monty Tiwa menyusun momen emosional, dramanya sukses mencuri hati. Monty bak tengah “panas” di sini. Kita bisa mengambil adegan dramatik mana pun dari Lagi-Lagi Ateng, lalu menjadikannya titik puncak emosi di film lain. Selaku penulis naskah pun, Monty terbukti piawai merangkai kata. Dia tahu cara memancing rasa dari kata-kata singkat, sederhana, namun bermakna, sebutlah saat Budiman bertanya kepada Ratna, “Di mana istriku?”.

Keberhasilan dramanya turut dilatari penampilan apik dua pemeran orang tua. Surya Saputra selalu menyentuh hati tiap Budiman mengenang masa indah bersama Ratna, kemudian mulai bicara sambil menahan air mata. Demikian pula Unique Priscilla, yang “ketiban sial” karena harus mendapati momen unscripted kala Surya Saputra “mengunjungi” masa lalunya sebagai personel boy band.

Jikalau elemen melodrama film ini memiliki kelemahan, itu tak lain kuantitas yang agak terlalu banyak. Beberapa titik jelang akhir mungkin takkan lagi memancing haru, sebab adegan-adegan yang hadir sebelumnya telah menempatkan standar tinggi. Tidak peduli seberapa berkualitas, ketika suatu hal diulang terus-menerus, cepat atau lambat, niscaya kekuatannya bakal melemah.

Saya mendorong anda menonton film ini segera, sembari berharap Lagi-Lagi Ateng akan mendapat sedikit tambahan layar yang mana layak didapatkan. This movie will give you big laughs and also (surprisingly) has a big heart too. Pada akhir film, tampak foto Ateng dan Iskak tersenyum lebar. Mungkin itu reaksi mereka tatkala menyaksikan tribute ini dari surga.

SILAM (2018)

Silam, yang juga adaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, awalnya diniati sebagai spin-off terbaru Danur untuk mengeksploitasi kesuksesan franchise-nya. Sampai tiba-tiba niat tersebut dibatalkan, dan embel-embel “From the Danur Universe” dihapus dari seluruh materi promosi. Untunglah, sebab meski lambat, seri Danur tengah berprogres ke arah positif, hingga tahun ini, Asih jadi judul pertama yang pantas disebut baik. Menyertakan Silam, yang bahkan jauh lebih buruk dibanding film pertama, bakal mengembalikannya ke titik nadir.

Pasca meninggalnya sang ayah, Baskara (Zidane Khalid) merasa dibenci oleh ibunya (Nova Eliza), yang seolah menyalahkan seluruh perbuatan putera semata wayangnya itu. Ditambah perundungan di sekolah, lengkap sudah penderitaan Baskara. Sampai ia menemukan foto saudara kembar ayahnya, Anton (Surya Saputra), lalu memutuskan minggat ke rumah pamannya. Mengapa di balik foto pribadi tertulis nama serta alamat saudara kembar sendiri? Entah. Sepertinya ini hanya cara malas Lele Laila (Danur 2: Maddah, Keluarga Tak Kasat Mata, Asih) selaku penulis naskah agar Baskara menemukan kediaman Anton.

Tapi sebelum itu, kita menyaksikan lebih dahulu peristiwa yang membuka mata batin Baskara, yakni ketika kepalanya terbentur lantai setelah didorong oleh teman sekelasnya. Sejak itu Baskara dapat melihat hantu. Peristiwa tersebut terjadi pada suatu ruangan terlarang di sebuah museum. Mengapa ruangan terlarang tidak diberi gembok atau pengamanan ekstra dalam bentuk apa pun? Entah. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskahnya.

Seandainya anda lupa, film ini disutradarai Jose Purnomo (Alas Pati, Jailangkung, Gasing Tengkorak) yang belakangan bak bersemangat menjadi Nayato 2.0 perihal menyajikan horor-horor bobrok. Di sini, Jose menunjukkan bahwa ia belum banyak berubah, walau soal menciptakan jump scare, tampak sedikit peningkatan. Ada sekitar tiga momen yang sanggup menyentak berkat ketepatan timing.

Soal membangun kengerian, dia masih Jose yang kita sayangi bersama. Di tangan sutradara mumpuni, adegan kala Baskara mampir ke kuburan ayahnya di tengah malam kemudian dikepung barisan setan bisa hadir mencekam. Walau lagi-lagi, timbul pertanyaan. Jika Baskara sudah menyadari kemampuannya melihat hantu, kenapa ia nekat ke kuburan hanya untuk meminta petunjuk yang takkan memperoleh jawaban? Bocah SD kebanyakan takkan melakukan itu. Sekali lagi saya cuma bisa menjawab, “entah”. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskah guna membuka jalan menampilkan kengerian.

Tapi naskahnya masih menyimpan kelebihan. Berbeda dengan Baskoro Adi Wuryanto selaku kompatriotnya sesama pemuja kekosongan cerita dalam horor, pelan-pelan naskah Lele Laila meningkat. Setibanya Baskara di rumah Anton, plot Silam mulai memancarkan daya tarik. Baskara menyadari keanehan pada tingkah Anton, Ami (Wulan Guritno) sang istri, juga dua puteri kembar mereka (yang dicomot dari The Shining). Didasari keanehan itu Silam menghadirkan cerita sungguhan, di mana tercipta pertanyaan, juga misteri untuk digali. Bukan bentuk misteri segar, pun besar kemungkinan anda bisa menebak jawabannya sedari awal. Namun paling tidak, keberadaannya menjauhkan Silam dari deretan horor kosong yang gagal membedakan antara plot dengan segmen-segmen jump scare tak mengerikan.

Sayang, di sela-sela misteri kita dipaksa jadi saksi kecanggungan penyutradaraan Jose. Ada satu momen yang melibatkan hantu gadis cilik dengan riasan dan perilaku yang bagai kombinasi penggila black metal dan emo. Si hantu mengikuti Baskara dan teman barunya yang juga mampu melihat makhluk halus, Irina (Dania Michelle). Pemandangan itu sontak memancing tawa seisi studio. Jose baru saja menghantarkan salah satu kelucuan tak disengaja paling epic sepanjang tahun. Satu lagi elemen mengganggu adalah keputusan Jose, yang seperti biasa merangkap DOP, menerapkan warna kusam termasuk di situasi gelap gulita, sehingga gambar terlihat keruh dan sukar dilihat.

Kemudian tibalah konklusinya, yang terjangkit penyakit mayoritas film horor lokal, yakni kegagalan menghadirkan penutup memuaskan. Babak akhirnya begitu berantakan, di mana beberapa poin cerita dibiarkan tanpa kejelasan atau memunculkan plot hole akibat penyertaan sebuah twist. Kalau itu belum cukup, jangan khawatir. Anda bakal mendapat hal lain untuk ditertawakan, tatkala Silam mengajarkan bahwa untuk membatalkan perjanjian dengan setan, seseorang hanya butuh berniat, tanpa perlu repot-repot melangsungkan ritual. Mendengar itu, karakternya pun berkata, “Saya niatkan pembatalan perjanjian.....”. Oh, for God's sake!

DEAR NATHAN HELLO SALMA (2018)

Ironis. Dear Nathan Hello Salma (berikutnya disebut “Hello Salma”) terkena dampak tren “Jefr-Amanda” yang dimulai oleh film pertamanya, yang secara mengejutkan jadi salah satu tontonan terbaik tahun lalu. Setelahnya, selama satu setengah tahun, mereka berpasangan dalam 4 judul (Jailangkung, Jailangkung 2, A: Aku, Benci, dan Cinta, Something in Between), belum ditambah One Fine Day di mana Amanda Rawles mendapat peran kecil. Padahal Hello Salma adalah film solid, tapi serupa pasangan yang selalu bersama tiap hari, pasti ada kejengahan, sehingga kilau-kilau percintaan yang dahulu manis mulai terkikis.

Tapi kembali, Hello Salma tetap film apik. Mengadaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani, kisahnya melanjutkan romantika Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) selepas keduanya memutuskan berpacaran di film pertama. Namun, memasuki tahun akhir SMA, hubungan mereka justru retak, (lagi-lagi) akibat kekisruhan buatan Nathan, yang berujung memaksanya pindah sekolah. Mereka memilih putus. Sewaktu Salma tertekan akibat paksaan ayahnya (Gito Gilas) melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UI (terjadi pada banyak remaja termasuk di sekitar saya), Nathan bertemu Rebeca (Susan Sameh) di sekolah barunya.

Rebeca tak ubahnya Nathan di masa lalu. Dia hidup sendiri, jauh dari ibu karena enggan tinggal bersama sang suami baru pasca ayahnya meninggal bunuh diri, sebagaimana dahulu konflik Nathan dengan ayahnya (Surya Saputra). Apabila perkelahian jadi pelarian Nathan, Rebeca tenggelam dalam depresi, bahkan mencoba bunuh diri. Kemiripan itu mendorong Nathan tergerak mengulurkan tangan, sesuatu yang akhirnya meluluhkan hati sang gadis.

Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Kartini, Benyamin Biang Kerok) mempertahankan elemen terbaik dari naskah film pertama buatannya, yakni perihal motivasi. Kita tak perlu bertanya-tanya “Kenapa?”, sebab senantiasa ada alasan jelas. Sungguh wajar bila Rebeca kepincut. Ketika keluarganya menjauh, pihak sekolah hanya bisa memarahi dan menghukum, juga jadi korban perundungan teman-teman, Nathan justru berdiri, bersedia terlibat perkelahian demi membelanya.

Nathan menghembuskan napas baru bagi hidup Rebeca, mengalunkan kembali musik di telinganya seperti saat Nathan memperbaiki radio tape milik mendiang ayahnya. Sama pula dengan bagaimana Rebeca membawa nyawa baru untuk franchise ini. Nathan tetap sosok yang dicintai penggemarnya berkat kemampuan Jefri Nichol menyeimbangkan sisi bad boy dan sweet boy. Chemistry-nya dengan Amanda Rawles pun sekuat biasanya, kalau bukan bertambah natural.

Tapi mungkin itu penyebabnya. Mereka berdua masih (atau selalu) sama, dan setelah bersama di begitu banyak film dalam waktu berdekatan, saya mulai lelah menyaksikan dinamika yang “itu-itu saja”. Nathan berseloroh, Salma merespon lewat sikap malu-malu mau. Beberapa pihak mungkin bakal berargumen bahwa itu bukan kesalahan filmnya, melainkan eksploitasi berlebihan dari industri. Tapi tidak. Orang-orang di balik Hello Salma sadar betul formula Jefri-Amanda telah diperas habis-habisan, dan ketimbang mencoba arah baru yang segar, mereka memilih jalur mudah dengan mengikuti pola.

Dan begitu Rebeca muncul sebagai sosok likeable berkat kemahiran Susan Sameh memainkan 2 wajah berlainan karakternya, Hello Salma malah tiba di titik jenuhnya kala kedua tokoh utamanya bersama. Khususnya saat sutradara Indra Gunawan (Hijrah Cinta, Dear Nathan, Serendipity) memasang mode autopilot, berbeda dibanding film pertama tatkala ia sanggup mengkreasi beberapa situasi romantis. Tarian slo-mo di bawah ujan sebagai penutup, misalnya.

Bukti kebersamaan Jefri-Amanda mulai menjemukan adalah, setiap Hello Salma menyelipkan elemen tambahan (meski kecil), contohnya menaruh Surya Saputra—dengan sisi kebapakan yang jauh dari kaku—di antara mereka, filmnya selalu menemukan pijakannya lagi. Semua berjalan mulus selama layar tidak cuma menampilkan mereka saja. Satu-satunya modifikasi bagi dinamika Nathan dan Salma, yakni menggiring Salma menuju kondisi yang lebih gelap, pun tak seberapa membantu.

Permasalahan Salma relevan. Tekanan orang tua, depresi pada pelajar akibat tuntutan akademis, semua penting untuk dituturkan. Namun naskahnya urung menghasilkan penelusuran mendalam terhadap masalah-masalah di atas, melainkan sebatas jembatan supaya Nathan dan Salma bisa kembali bersama. Nasib demikian turut dialami Rebeca, yang berujung dikesampingkan selaku penghubung, walau kondisinya lebih kompleks, menarik, pun mampu mengemban peran Salma sebagai penyalur isu.

Untunglah, soal menyusun momen-momen ringan termasuk komedik, naskahnya tampil solid. Walau satu adegan yang menampilkan seorang dukun terasa dipaksakan, sisanya mampu menghadirkan senyum dan tawa, apalagi saat berurusan dengan situasi-situasi canggung yang berujung celetukan jenaka karakternya. Hello Salma menunjukkan bahwa seri Dear Nathan masih menonjol dibanding romansa putih abu-abu kebanyakan. Andai Jefri dan Amanda tak sesering itu bersama. Sebab, sewaktu pasangan utama film romansa yang mestinya didukung penonton justru tenggelam, tentunya ada permasalahan.  

SOMETHING IN BETWEEN (2018)

Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films mampu tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat agar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di kursi sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.

Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melakukan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, seperti dialog puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada akhir bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, sebab mengungkap kejadian selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang pemuda yan memutuskan kembali ke Indonesia dari London setelah ia terus bermimpi tentang sebuah tempat dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi SMA yang saling cinta.

Tidak ada alasan kuat mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), sebab keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya karena mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema adalah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya bahan pembicaraan. Gema sendiri beralasan jika “Menyukai Maya karena tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi mencintai dalamnya?”. Tidak masuk akal memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan verbal gombal. Something in Between menekan dialog (sok) puitisnya sampai ke dosis yang dapat dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah perilaku antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali populer di kisah cinta SMA perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup menciptakan nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa bodoh ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan efek kejut, juga menjadikan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar relasi berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, sampai Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang tua Maya, semua mendapat kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan karena ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri kisah sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya meragukan sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

REUNI Z (2018)

Berjam-jam saya memandangi halaman review yang masih putih polos alias kosong. Sambil duduk ditemani batang demi batang rokok, ingatan saya melayang kembali menuju Reuni Z, kolaborasi kedua Soleh Solihun bersama Monty Tiwa di kursi penyutradaraan setelah Mau Jadi Apa? (2017), berharap memperoleh ide tentang paragraf pembuka. Tapi nihil. Semakin memeras otak, semakin kusut isi kepala. Mungkin saya sedang buntu. Mungkin saya penulis yang buruk. Mungkin karena cuma sedikit hal berkesan dalam filmnya.  Reuni Z memang tidak buruk, tetapi bakal segera terlupakan. Padahal, dilupakan jauh lebih mengerikan dari dikejar zombie.

Berbeda dengan jajaran protagonis, khususnya Juhana (Soleh Solihun) dan Jeffri (Tora Sudiro) yang sulit melupakan permasalahan mereka semasa SMA. Sempat bersahabat, bahkan membentuk band bersama, keduanya bertengkar di panggung, menghasilkan hubungan canggung yang bertahan hingga 20 tahun kemudian tatkala reuni diadakan. Ketika Juhana telah angkat nama sebagai aktor film murahan sekaligus bintang iklan pompa air, Jeffri tetap merasa Juhana menghancurkan mimpinya sukses di dunia musik. Jeffri sendiri kini menikahi Lulu (Ayushita), si mantan bassis, dan sudah dianugerahi momongan, sedangkan Juhana masih hidup seorang diri.
Ketiganya, ditambah Mastur si penggebuk drum yang telah berganti kelamin dan nama menjadi Marina (Dinda Kanya Dewi), bertemu lagi di reuni SMA yang oleh naskah buatan Soleh bersama Agasyah Karim dan Khalid Kashogi bukan cuma dijadikan arena para zombie berburu mangsa empuk, pula memfasilitasi keberadaan ensemble cast. Dari Surya Saputra si tukang bully, Henky Solaiman si guru, Verdi Solaiman si tukang pamer, Fanny Fabriana si MC, Ence Bagus si pria sok alim, Joe P Project si satpam, sampai penampilan pasangan Anjasmara dan Dian Nitami. Begitu ambisius, kisahnya berusaha membagi porsi nyaris sama rata ke setumpuk nama di atas. Waktu pun terbagi, sehingga elemen persahabatan Juhana-Jeffri yang harusnya diutamakan justru sebatas numpang lewat.

Setelah repot-repot menaruh fokus pada banyak tokoh, saat tiba waktunya ajal menjemput akibat serangan zombie, adegan kematian malah tersaji off-screen. Apalagi kalau bukan demi meminimalkan sadisme yang berpotensi memantik debat kusir melelahkan di tahap sensor. Dampaknya, beberapa kematian tak terduga maupun pengorbanan karakternya urung berefek. Polanya sering berulang. Salah satu tokoh terkepung pasukan zombie, sebelum adegan langsung berpindah tanpa memperlihatkan nasibnya. Bahkan sulit mengetahui apakah seseorang sudah meregang nyawa atau belum, jika bukan karena mereka tak muncul di momen penutup.
Poin terkuat Reuni Z, yang sejatinya juga urung dimaksimalkan, adalah komedi. Beberapa kali saya tergelak. Melanjutkan pencapaian di Hangout (2016), Dinda jadi sosok terlucu yang mencuri perhatian berkat kesediaan menanggalkan rasa malu saat melucu. Totalitas. Masalahnya tak semua tokoh menyimpan karakteristik selucu Marina alias Mansur. Jeffri tak lebih dari pria paruh baya yang sesekali bersikap bodoh. Sementara profesi Juhana sebagai aktor film murahan hanya dijadikan jalan supaya film ini bisa memajang beberapa parodi poster film Indonesia klasik serta menyelipkan cameo Joko Anwar. Selebihnya, daya tarik Juhana cuma sebuah slogan yang semakin sering diulang semakin menghilang kelucuannya.

Serbuan zombie dapat memunculkan kesan atmosferik sebagaimana Night of the Living Dead (1968), bisa pula seru seperti Dawn of the Dead, baik versi Romero (1978) atau remake karya Zack Snyder (2004). Tapi kejar-kejaran dengan zombie di Reuni Z tidak menegangkan, mencekam, atau seru. Humornya pun bak berdiri sendiri, di mana mengganti zombie dengan makhluk lain, takkan mempengaruhi gaya leluconnya. Timbul beberapa pertanyaan. Bagaimana zombie mendeteksi korbannya? Mereka bisa ditipu oleh bau, terpancing suara, tapi kadang melihat buruannya. Mereka pun dapat dihentikan melalui serangan di bagian tubuh mana saja, membuat konklusi yang coba bermetafora bahwa mengenai kekuatan persahabatan jadi kurang berarti. Setidaknya riasan dan efek spesial pada klimaks digarap cukup baik.


Untuk ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

HUJAN BULAN JUNI (2017)

Hujan Bulan Juni selaku adaptasi novel puitis berjudul sama buatan Sapardi Djoko Darmono dari luar tampak sederhana tapi mengandung pergolakan rumit nan filosofis soal cinta di dalam. Mengisahkan Sarwono (Adipati Dolken) dan Pingkan (Velove Vexia), sepasang kekasih yang mengajar di Universitas Indonesia. Sarwono yang memilih puisi sebagai cara mengungkapkan segala isi hati kepada Pingkan mulai khawatir begitu sang kekasih bakal melanjutkan kuliah di Jepang selama dua tahun. Alasannya Katsuo (Koutaro Kakimoto, putera Tetsuo Kurata alias Kotaro Minami), pria Jepang sesama alumni UI yang akan menemani Pingkan selama masa studinya. 

Ini bukan semata konflik saling cemburu saling curiga yang kerap dijumpai dalam karya romansa populer. Seperti gaya bahasa metaforik multitafsir Sapardi, skenario karya Titien Wattimena menjadikan puisi media penyusun analogi guna merangkum setumpuk pemikiran serta problematika kompleks. Ada masalah perbedaan suku pula keyakinan yang menyeret keluarga Pingkan (Sarwono adalah Jawa-Islam, Pingkan Manado-Kristen), keresahan terkait kesetiaan, sampai gagasan-gagasan Sarwono terkait cinta. Betapa sulit menuturkan beragam hal tersebut melalui paparan narasi tersurat. 
Ketersiratan membantu menyingkat penyampaian sembari menjangkau makna terdalam. Tentu butuh kesediaan penonton menguraikan benang berbentuk kalimat bersayap maupun simbolisme. Sebutlah perjalanan ke Manado yang notabene rumah Pingkan. Di sana pikiran Sarwono diganggu dua pria. Benny (Baim Wong) jadi perwakilan masa lalu Pingkan, dan Katsuo yang segera mengisi rutinitas Pingkan di masa depan. Sementara Pingkan mesti bergulat dengan jati dirinya sebagai keturunan Manado. Proses tersebut makin berarti sebab hadir di rumah atau kampung halaman selaku tempat segalanya bermula, layaknya menyusuri ruang paling dalam sekaligus paling nyata karakternya.

Pun pemakaian sajak Sapardi memberi kenikmatan tersendiri. Mendengarkan lantunan bait demi bait senantiasa mengundang decak kagum atas pengolahan kata sang penulis. Demikian indahnya, tanpa perlu memikirkan interpretasi pasti pun hati ini bisa kembang-kempis dibuatnya. Mendukung usaha Hujan Bulan Juni memvisualkan puisi, sinematografi Faozan Rizal memproduksi jalinan gambar yang menyimpan tuturan di balik keindahan. Kelopak bunga sakura, debur ombak, nyala neon berbentuk salib, masing-masing bagai punya kisah untuk diceritakan. Kisah yang mewakili rasa dua tokoh utama.
Penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda, Air Mata Surga) juga mencapai titik terbaik, menuangkan sensitivitas dalam keintiman Sarwono dan Pingkan lewat kedekatan batin ketimbang fisik. Bentuk olah rasa serupa dilakukan oleh Adipati Dolken dan Velove Vexia. Adipati dengan kelembutan natural yang menyimpan kerapuhan guna menjauhkan Sarwono dari kesempurnaan, Velove dengan energi ditambah keanggunan sehingga Pingkan layak dipuja. Mereka mulus bicara lewat hati, bercinta menggunakan kata. Sedangkan Baim Wong bersama Surya Saputra berjasa menyuntikkan humor segar yang menambah dinamika kunjungan ke Manado.

Sayangnya transformasi bahasa sajak ke sinema belum sepenuhnya lancar. Terdapat dua kelemahan di dua poin vital. Pertama monotonitas alur. Media novel tak menghadapi masalah ini karena membiarkan imaji pembaca bebas bermain. Tapi di film, puisi serta gambar indah tidak sanggup menyembunyikan repetisi momen "tukar puisi" Sarwono dan Pingkan. Kedua, menerjemahkan ambiguitas ending novelnya yang berupa sajak bukan perkara gampang. Kembali, film butuh visualisasi, memaksa ambiguitas tadi dilucuti. Hasilnya adalah penutup yang terburu-buru, dipaksakan, bahkan seperti kebingungan menentukan arah. 

DEAR NATHAN (2017)

Dilihat dari sampul luarnya, mudah menghakimi "Dear Nathan" sebagai kisah cinta remaja dangkal yang sekedar mengandalkan paras rupawan para pemeran dan baris kalimat sok puitis. Tapi siapa sangka, adaptasi adaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani ini merupakan salah satu romansa putih abu-abu paling manis dalam beberapa tahun terakhir. Tidak perlu setting luar negeri megah, wardrobe serba mahal, atau kemewahan-kemewahan lain yang belakangan kerap dipakai film cinta dalam negeri guna membuai penonton supaya melupakan setumpuk kelemahannya. "Dear Nathan" sanggup membuai karena dua sejoli tokoh utamanya likeable serta believable.

Salma (Amanda Rawles) dan Nathan (Jefri Nichol) pertama bertemu saat mereka terlambat mengikuti upacara bendera di sekolah. Nathan membantu Salma masuk lewat jalan rahasia, kemudian menghilang. Rupanya Nathan dikenal bandel, hampir tiap hari berkelahi walau satu-satunya yang dia jadikan target pukulan adalah para bully atau preman. Rupanya pertemuan pertama itu langsung membuat Nathan jatuh hati, dan dibantu oleh Rahma (Diandra Agatha), ia mulai mendekati Salma, yang meski menyimpan perasaan sama, ragu untuk langsung menerima cinta Nathan. Tanpa diketahui banyak orang, Nathan sendiri menyimpan masalah terkait masa lalu tragis keluarganya.
Mengambil setting SMA, "Dear Nathan" menghadirkan pernak-pernik dunia tersebut. Bagus Bramanti dan Gea Rexy paham benar seperti apa asmara yang pernah dialami mayoritas orang ketika SMA, lalu menuangkannya ke naskah dalam takaran tepat. Curi-curi pandang saat pelajaran olahraga, duduk berdua di sudut belakang sekolah, sampai jadi pusat perhatian sewaktu kali pertama berangkat berboncengan berdua. Memori saya dilemparkan ke masa itu dan dibuat tersenyum mengingatnya. SMA adalah tempat cinta monyet penuh romantisme gombal mulai bersemi. "Dear Nathan" sanggup merangkum poin itu sembari menyelipkan keping lain seperti teman egois yang gemar mengatur, tata tertib menyebalkan, hingga selintas gesekan siswa akademisi (nan sok suci) dengan mereka yang dianggap nakal.

Nathan mewakili korban prejudice yang dipandang buruk bahkan sampah karena menolak mengikuti jalur lurus yang dianggap sesuai kaidah moralitas. Namun di balik tingkah kasar, ada kebaikan yang enggan diperhatikan orang-orang di sekitarnya. Nathan bukan manusia penghasil quote "ajaib" macam Dimas Anggara di film-film produksi Screenplay. Daripada berkata-kata mesra, ia langsung bertindak untuk hal kecil sekalipun macam membelikan Salma cilok di jam istirahat. Jefri Nichol punya pesona yang bakal memancing jeritan penonton wanita (dan beberapa pria) tanpa perlu kaku bertutur akibat berusaha tampak keren. Nichol tak coba mendramatisir penuturan kalimatnya. Terdengar manis berkat pelafalan natural, asyik, mudah menggaet simpati penonton bagi Nathan. Bagi para pria emosional, Nathan akan terasa relatable. 
Cinta pada Salma ditambah usaha mengambil kembali kasih sayang ibu (Ayu Dyah Pasha) mendorong perubahan Nathan. Konsisten dengan perlawanannya terhadap prejudice, film ini tak berniat mengubah Nathan menjadi sosok lain yang oleh konsensus publik dianggap lebih baik seperti Aldo (Rayn Wijaya) si ketua OSIS berprestasi misal. Serupa yang diungkapkan Salma, Nathan mesti menjadi versi lebih baik dari dirinya sendiri. Tetap easy going namun lebih teratur, pula bersedia memulai babak baru hidup khususnya bersama sang ayah (Surya Saputra). Patut disayangkan, mencapai titik ini penceritaan kurang mulus. Proses perubahan Nathan terkesan mendadak, tidak bertahap. Lubang pun sempat hadir terkait timeline membingungkan suatu adegan. Saya tidak bisa menuliskan adegan apa, tapi melibatkan momen penting salah satu tokoh.

Daripada orkestra menggelegar, sutradara Indra Gunawan ("Hijrah Cinta") memilih lagu-lagu pop ringan guna menemani perjalanan cinta Nathan dan Salma. Pilihan tepat, karena momen-momen mereka berdua terasa manis tanpa harus didramatisasi berlebihan (penyakit banyak romansa Indonesia). Balutan komedi segar hasil interaksi malu-malu kucing dua remaja sukses pula hidupkan suasana. Amanda Rawles berjasa di sini, dengan baik menangani kecanggungan dan salah tingkahnya Salma yang efektif memancing senyum. Ditutup oleh kebahagiaan manis di bawah guyuran hujan, lengkaplah "Dear Nathan", romantika remaja dengan penekanan pada penokohan, suatu hal yang kini semakin jarang ditemui tatkala puisi-puisi hampa nihil rasa jadi andalan.

PROMISE (2017)

Film-film produksi Screenplay Films itu penting bagi industri perfilman tanah air. Walau sering dicap berkualitas sinetron, judul-judul macam "London Love Story" dan "ILY from 38.000 Ft" sanggup meraih jutaan penonton bahkan bukan mustahil memperkenalkan kultur menonton bioskop kepada target pasarnya (pemirsa televisi). Lambat laun mereka bakal melirik film lain, menjalani proses "belajar film". Tapi "Promise" adalah kasus spesial di mana para pembuatnya berambisi mengusung kisah dewasa dan bangunan alur rumit, menerapkannya di formula FTV dangkal yang mana tidak selaras hingga gagal bekerja.

Kisahnya dibuka melalui pengenalan sepasang sahabat, Rahman (Dimas Anggara) dan Aji (Boy William). Rahman merupakan remaja polos anak pemuka agama (Surya Saputra). Didikan kolot sang ayah membuatnya malu berinteraksi pula enggan menatap mata wanita dengan alasan menghormati. Tapi kenapa tato Dimas Anggara beberapa kali terlihat? Sebegitu malaskah departemen make-up film ini? Tidakkah sutradara Asep Kusdinar menyadari itu? Come on, menonton porno saja Rahman tidak berani, apalagi membuat tato. Sebaliknya, Aji adalah playboy, anak gaul yang bicara sok asyik, menggulung lengan dan membuka kancing seragamnya. Come on, anak gaul tak lagi berpenampilan begitu termasuk di Jogja yang menjadi setting.

Kenapa Jogja dipilih tak pernah jelas kecuali penegasan protagonisnya adalah pria kampung nan polos pula lurus. Really? Para penulisnya pasti tidak memahami Jogja. Rahman pun hanya sesekali memakai logat Jawa (bukan bahasa Jawa) dan pelafalan Dimas Anggara terdengar menggelikan. Singkat cerita, akibat ketahuan menyimpan film porno pemberian Aji, Rahman diharuskan menikah oleh ayahnya. Ada potensi menggugat konsep perjodohan dan pemikiran kolot bersenjatakan agama, tapi Sukhdev Singh dan Tisa TS selaku penulis naskah urung bereksplorasi, membiarkannya tertinggal sebagai hiasan nihil substansi. Lalu dengan siapa Rahman dijodohkan? Di sini alur "Promise" bererak makin ambisius, memakai gaya non-linier. 
Kisahnya langsung melompat beberapa waktu ke depan, ketika Rahman berkuliah di Milan, bertemu Moza (Mikha Tambayong) yang diam-diam jatuh cinta padanya. Hadir pula Ricky Cuaca sebagai comic relief tak lucu yang tampil hanya untuk bertingkah norak dan menyebalkan. Total screentime-nya tak sampai 10 menit termasuk adegan Ricky marah-marah di tempat umum karena menabrak tiang. Come on, this is Milan for fuck sake! Rahman sendiri rupanya tengah mencari sang istri yang identitas serta alasan kepergiannya belum terungkap. Sampai ia bertemu Aji yang kini menjadi fotografer sukses dan berpacaran dengan model bernama Kanya (Amanda Rawles).

Lupakan fakta jika sebelumnya Rahman dan Aji tak pernah diperlihatkan tertarik akan bidang yang mereka geluti di Milan, karena toh jalan hidup manusia siapa yang tahu. Anda bisa mendadak ingin menjadi politikus saat kuliah walau di SMA bercita-cita sebagai aktivis. God only knows. Mari fokus pada pilihan alur non-linier saja. Apakah pemakaian gaya tersebut penting? Tentu tidak. Sama tidak pentingnya dengan pertanyaan "Kucing jatuh dari pohon apanya dulu?" yang jawaban serta konteksnya teramat menggelikan. Pemakaian alur non-linier tak lebih dari bentuk kemalasan menghadirkan kejutan yang bahkan sama sekali tak mengejutkan.
"Promise" justru tersesat di kerumitan kisah yang dibangun. Alurnya asal melompat, begitu berantakan tanpa disertai alasan jelas mengapa dari titik A ceritanya perlu melompat ke titik D, kemudian kembali ke B, dan seterusnya. Film ini tidak memerlukan kejutan, cukup nuansa romantis. Masalahnya, lompatan alur memaksa paparan hubungan Rahman dan cinta sejatinya ditempatkan di tengah menjelang akhir. Penonton dipaksa tersentuh oleh percintaan yang belum sempat disaksikan. Andai usaha memunculkan kejutan yang tidak perlu ini ditiadakan, bukan mustahil filmnya mampu sedikit mempermainkan emosi. 

Bila ada faktor penyelamat, itu terletak pada beberapa shot memikat mata lengkap disertai warna-warna cerah. Jangan lupakan pula Mikha Tambayong yang sama memikatnya bagi mata. Mengenakan busana yang ditata apik oleh Aldie Harra, walau akting Mikha masih belum layak disebut realistis (sinetron-ish), penonton pria pastinya bakal terhibur oleh gerak-gerik termasuk tariannya sewaktu clubbing. Am I being sexist right now? Entahlah, tapi ketika filmnya menempatkan sang aktris selaku eye candy semata yang karakternya tak menyimpan signifikansi, saya bisa apa? 

Setiap tingkah dan keputusan karakter sulit diterima akal sehat. Di produksi Screenplay lain saya dapat menerima perilaku tak logis yang sengaja dibuat demi memuaskan hasrat penonton atas konsep cinta sejati. Kali ini kebodohan mereka sudah keterlaluan, terlampau dipaksakan demi menggerakkan alur atau menambah konflik. Dosis kalimat puitis pun bertambah dan makin menggelikan semisal "Kamu seterang lampu di luar sana" (lampu mana mbak? Berarti kalau mati listrik Rahman tidak lagi terang?). Selipan unsur pernikahan, perjodohan, dan religiusitas tak membuat "Promise"  lebih dewasa sebab semuanya sekedar tempelan yang bila dihilangkan pun tak jadi masalah. Untuk apa pula memaksakan tampil (sok) pintar dengan alur acak dalam suguhan semacam ini? Seolah belum cukup, menjelang akhir filmnya masih menyelipkan unsur penyakit secara mendadak, menambah satu lagi hal tak perlu di tengah ambisi besar yang berujung kehancuran. Ungkapan "less is more" nampaknya patut diresapi Screenplay Films.