MONSTER HUNT 2 (2018)

14 komentar

Suatu ketika pacar saya pernah berkata bahwa ibunya suka menonton film di bioskop, tapi hanya sebagai media hiburan. “Yang penting gambarnya enak dilihat”, sebutnya. Saya percaya itu bukan cuma mewakili penonton dari kalangan ibu-ibu, tapi secara umum. Beramai-ramai, entah bersama kawan atau keluarga, mereka datang mencari eskapisme. Kebanyakan enggan melihat pemandangan sehari-hari di layar. Mereka ingin dihibur, tertawa, terpana, dan kalau bisa, sedikit disentuh perasaannya. Blockbuster Cina belakangan makin ahli melakukan itu sehingga menghasilkan iklim industri yang makin positif.

Monster Hunt 2, selaku sekuel film terlaris keempat sepanjang masa di Cina, sanggup melakukannya. Hebatnya, pencapaian tersebut berlaku ke semua umur. Penonton dewasa akan menyukai tingkah konyol tokoh-tokohnya, Wuba yang menggemaskan, juga tata artistik megah dari penataan setting hingga kostum, sementara anak tentu menyukai pertarungan monster-monster berpenampilan bagai karakter kartun. Monster Hunt 2 memang memposisikan diri sebagai tontonan keluarga. An entertaining one.
Tidak ada usaha untuk menjadi suguhan cerdas dalam naskah buatan Jack Ng, Sunny Chan, dan Su Liang. Bahkan cenderung memaksa untuk melanjutkan kisah yang telah ditutup manis. Bila film pertamanya ditutup saat Song Tianyin (Jing Boran) dan Huo Xiaolan (Bai Baihe) merelakan anak monster mereka, Wuba, tinggal di dunia monster, maka kali ini keduanya menyadari bahwa hidup terpisah dengan keluarga bukan hal terbaik bagi Wuba. Dua cerita terpisah yang merupakan satu rangkaian proses dan sejatinya dapat dirangkum dalam satu film.

Seperti Wuba yang sulit diam dan berlarian semaunya tak tentu arah, alurnya bergerak cepat hanya guna melayani satu aksi menuju aksi berikutnya, melompat dari kekacauan satu ke kekacauan lain, tanpa tertarik memaparkan narasi runtut yang solid. Namun seperti Wuba pula, alurnya memang hanya ingin bersenang-senang. Pertemuan Wuba dengan Tu Sigu (Tony Leung), seorang penjudi dan penipu beserta asistennya, monster tambun bernama BenBen, membuka gerbang petualangan menyenangkan tersebut.
Bersama Tu Sigu lah kita bertemu Zhu Jinzhen (Li Yuchun) dengan metode hukuman uniknya, kegaduhan di kasino, pula kekonyolan sebuah pertunjukan sulap. Kata kuncinya adalah “imajinatif”. Monster Hunt 2 berbeda dengan suguhan Hollywood yang kerap mengasosiasikan hiburan ringan dengan minimnya kreativitas. Karena bukan “film serius”, Monster Hunt 2 bebas bermain-main dan bereksplorasi tanpa peduli logika, menghasilkan bumbu komedi yang tidak berhenti di tataran slapstick, hingga beragam cara terkait eksekusi aksi, termasuk dalam klimaks yang enggan asal besar. Walau ada satu momen di klimaks yang mungkin terlampau mengerikan, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.

CGI para monster jelas belum setingkat Hollywood, dan meski penokohannya tidak kompleks, sosok-sosok seperti Wuba yang menggemaskan dan BenBen yang lembut mampu merebut hati penonton. Untuk karakter manusia, Bai Baihe mengasyikkan disimak, tetapi Tony Leung  paling menyedot atensi tiap kali  Tu Sigu mengisi layar. Dia lancar menangani porsi komedi juga (tentu saja) drama. Tu Sigu menjadi tokoh terbaik, sebab ia paling banyak mengalami proses dibanding karakter lain di sini, hingga akhirnya bertransformasi. Andai franchise Monster Hunt hendak bergerak ke haluan berbeda, Leung jelas lebih dari cukup mengisi slot protagonis utama.

14 komentar :

Comment Page:
Arif Hidayat mengatakan...

Bang, iklan nya makin mengganggu

Rasyidharry mengatakan...

Yang mana sih? Perasaan dari hape cuma ada di sela artikel deh

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

di hape saya sering muncul iklan dan sering sekali kena klik hehehe,
moga dapet banyak mas dari ads nya
hahaha

Rasyidharry mengatakan...

Yang kadang-kadang pop up nutupin layar? Itu mau diilangin tapi nggak tahu caranya karena lupa naroh script di sebelah mana. Lha dapet nggak seberapa juga haha

Anonim mengatakan...

Ga ada tuh perasaan iklan pop up...iklan di hape saya malah cuma ada di bawah artikel.

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
kesuma wijaya mengatakan...

jadi udah punya pacar intinya?

Rasyidharry mengatakan...

Makanya, lagi berusaha diakalin tapi nggak nemu caranya haha

Rasyidharry mengatakan...

Ya, itulah inti review kali ini haha

Budi Nurdin mengatakan...

Wah..... ibunya pacar abang pasti suka ma filmnya Terrence Malick.....

Rasyidharry mengatakan...

@Budi Gambar bagus sih gambar bagus, tapi nggak yang kayak begitu juga :D

kiki awang soebagio mengatakan...

ya...apapun itu tony leung adalah alasan mengapa saya harus nonton film ini haha

Rasyidharry mengatakan...

Yes, lucu banget TOny Leung di sini :D

Kasamago mengatakan...

Andai Tony Leung duet dg Jay Chou