Tampilkan postingan dengan label Tony Leung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tony Leung. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SHANG-CHI AND THE LEGENDS OF THE TEN RINGS

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings takkan menghasilkan dampak kultural signifikan sebagaimana Black Panther, karena representasinya terhadap Asia masih amat terbatas. Pun jika familiar dengan film-film wuxia, khususnya yang dibintangi Jackie Chan, disutradarai Zhang Yimou, atau diproduseri Shaw Brothers, apa yang ditawarkan sutradara Destin Daniel Cretton (Short Term 12, Just Mercy) dan tim sama sekali tidaklah baru. Tapi apakah semua itu wajib?

Hal-hal di atas memang menghalangi tercapainya potensi, namun berkaca pada iklim film pahlawan super yang masih terlalu Barat-sentris, apa yang Shang-Chi tawarkan tetap memberi angin segar. 

Shang-Chi, yang kini memakai nama Shaun (Simu Liu), menyembunyikan identitasnya sebagai jago kung-fu, menjalani hidup sederhana sebagai valet bersama sahabatnya, Katy (Awkwafina). Sampai terjadilah reuni antara Shang-Chi dengan adiknya, Xu Xialing (Meng'er Zhang), yang kini mengelola underground fight club di Makau, juga ayah mereka, Xu Wenwu (Tony Leung), si pemimpin Ten Rings, organisasi yang namanya diambil dari sepuluh cincin ajaib, yang memberinya kekuatan super sekaligus keabadian.

Dibuat Cretton bersama Andrew Lanham (The Glass Castle, Just Mercy) dan Dave Callaham (The Expendables, Wonder Woman 1984), naskahnya masih menawarkan formula familiar seputar keluarga disfungsional, yang kemudian menggiring proses pencarian jati diri sang protagonis. Karena sejak kecil dilatih sebagai pembunuh, apakah berarti itu merupakan takdir yang tak bisa ia lepaskan? Pertanyaan itu sudah kita ketahui secara pasti jawabannya. 

Naskahnya memang tidak beranjak dari tuturan formulaik, tidak pula mengeksplorasi temanya lebih mendalam, namun porsi drama, terutama perihal hubungan keluarga, mampu tampil solid berkat Tony Leung. Di tangan sang aktor legendaris, Wenwu bukan villain yang bakal kita benci, melainkan pahami. Leung tidak hanya memberi karisma sosok pembunuh yang telah hidup ribuan tahun, juga kerapuhan pria biasa yang kehilangan cintanya, kehilangan alasan terbesarnya untuk memiliki hati nurani. Dia bukan figur penghancur dunia. Tapi demi mengembalikan "dunianya" yang hancur, Wenwu rela bila harus menghancurkan dunia. Menyaksikan Leung membuat saya berpikir, "Kalau ditempatkan di situasinya, apakah akan melakukan hal yang sama?". 

Di ranah aksi, Cretton menggabungkan tiga elemen, yakni pertempuran masif sarat CGI khas MCU, baku hantam chaotic ala Jackie Chan, dan seni bela diri selaku ekspresi rasa serta filosofi sebagaimana kerap dipakai Zhang Yimou. Dua jenis terakhir tampil paling mengesankan. Simu Liu dan Meng'er Zhang (such badass) membantu Cretton memaksimalkan latar kreatif aksinya (bus, konstruksi gedung pencakar langit), yang juga mengedepankan koreografi, sambil menekan jumlah manipulasi lewat penyuntingan. 

Pengaruh karya-karya Zhang Yimou terasa betul pada pertemuan perdana Wenwu dengan sang istri, Ying Li (Fala Chen), dan ketika Shang-Chi dilatih oleh bibinya, Ying Nan (Michelle Yeoh). Ketimbang perkelahian, momen-momen tersebut lebih seperti pertukaran rasa. Yeoh, berbekal pengalaman membintangi judul martial arts selama hampir empat dekade, bergerak indah, namun tidak lemah, layaknya entitas yang sudah mengentaskan diri dari fase duniawi. 

Tapi Shang-Chi tentu saja masih installment MCU dengan segala ramuan khasnya (for better or worse). Humor yang meski cenderung hit-and-miss tetap memancing beberapa tawa, ekspansi universe melalui deretan cameo serta hint bahwa sang protagonis bakal memegang peranan besar di masa depan, pula set-piece aksi masif yang tetap punya tempat, kendati di paruh akhir, filmnya mendekatkan diri ke nuansa fairytale, ketika latar bergerak memasuki dunia fantasi penuh hewan-hewan mitologi. 

CGI di klimaksnya agak inkonsisten, yang mungkin disebabkan karena bujet dialokasikan untuk membungkus pertarungah terakhir, saat Shang-Chi berpindah ke genre kaiju. Di satu sisi, pilihan ini melucuti keintiman emosional yang dibawa elemen wuxia, tapi di sisi lain, turut menegaskan bahwa wajah film Asia bukan cuma martial arts, sebagaimana stigma yang sering disematkan terhadapnya.  

MONSTER HUNT 2 (2018)


Suatu ketika pacar saya pernah berkata bahwa ibunya suka menonton film di bioskop, tapi hanya sebagai media hiburan. “Yang penting gambarnya enak dilihat”, sebutnya. Saya percaya itu bukan cuma mewakili penonton dari kalangan ibu-ibu, tapi secara umum. Beramai-ramai, entah bersama kawan atau keluarga, mereka datang mencari eskapisme. Kebanyakan enggan melihat pemandangan sehari-hari di layar. Mereka ingin dihibur, tertawa, terpana, dan kalau bisa, sedikit disentuh perasaannya. Blockbuster Cina belakangan makin ahli melakukan itu sehingga menghasilkan iklim industri yang makin positif.

Monster Hunt 2, selaku sekuel film terlaris keempat sepanjang masa di Cina, sanggup melakukannya. Hebatnya, pencapaian tersebut berlaku ke semua umur. Penonton dewasa akan menyukai tingkah konyol tokoh-tokohnya, Wuba yang menggemaskan, juga tata artistik megah dari penataan setting hingga kostum, sementara anak tentu menyukai pertarungan monster-monster berpenampilan bagai karakter kartun. Monster Hunt 2 memang memposisikan diri sebagai tontonan keluarga. An entertaining one.
Tidak ada usaha untuk menjadi suguhan cerdas dalam naskah buatan Jack Ng, Sunny Chan, dan Su Liang. Bahkan cenderung memaksa untuk melanjutkan kisah yang telah ditutup manis. Bila film pertamanya ditutup saat Song Tianyin (Jing Boran) dan Huo Xiaolan (Bai Baihe) merelakan anak monster mereka, Wuba, tinggal di dunia monster, maka kali ini keduanya menyadari bahwa hidup terpisah dengan keluarga bukan hal terbaik bagi Wuba. Dua cerita terpisah yang merupakan satu rangkaian proses dan sejatinya dapat dirangkum dalam satu film.

Seperti Wuba yang sulit diam dan berlarian semaunya tak tentu arah, alurnya bergerak cepat hanya guna melayani satu aksi menuju aksi berikutnya, melompat dari kekacauan satu ke kekacauan lain, tanpa tertarik memaparkan narasi runtut yang solid. Namun seperti Wuba pula, alurnya memang hanya ingin bersenang-senang. Pertemuan Wuba dengan Tu Sigu (Tony Leung), seorang penjudi dan penipu beserta asistennya, monster tambun bernama BenBen, membuka gerbang petualangan menyenangkan tersebut.
Bersama Tu Sigu lah kita bertemu Zhu Jinzhen (Li Yuchun) dengan metode hukuman uniknya, kegaduhan di kasino, pula kekonyolan sebuah pertunjukan sulap. Kata kuncinya adalah “imajinatif”. Monster Hunt 2 berbeda dengan suguhan Hollywood yang kerap mengasosiasikan hiburan ringan dengan minimnya kreativitas. Karena bukan “film serius”, Monster Hunt 2 bebas bermain-main dan bereksplorasi tanpa peduli logika, menghasilkan bumbu komedi yang tidak berhenti di tataran slapstick, hingga beragam cara terkait eksekusi aksi, termasuk dalam klimaks yang enggan asal besar. Walau ada satu momen di klimaks yang mungkin terlampau mengerikan, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.

CGI para monster jelas belum setingkat Hollywood, dan meski penokohannya tidak kompleks, sosok-sosok seperti Wuba yang menggemaskan dan BenBen yang lembut mampu merebut hati penonton. Untuk karakter manusia, Bai Baihe mengasyikkan disimak, tetapi Tony Leung  paling menyedot atensi tiap kali  Tu Sigu mengisi layar. Dia lancar menangani porsi komedi juga (tentu saja) drama. Tu Sigu menjadi tokoh terbaik, sebab ia paling banyak mengalami proses dibanding karakter lain di sini, hingga akhirnya bertransformasi. Andai franchise Monster Hunt hendak bergerak ke haluan berbeda, Leung jelas lebih dari cukup mengisi slot protagonis utama.