ANNIHILATION (2018)

23 komentar

Saya sudah menjumpai begitu banyak film bagus. Lebih dari Annihilation. Tapi baru kali ini timbul urgensi untuk menonton ulang tepat setelah film berakhir. Alasannya sederhana. Karya penyutradaraan kedua Alex Garland (Ex Machina) ini terasa segar juga unik. Membuka jalan melakukan terobosan tanpa batas adalah kekuatan utama genre fiksi ilmiah (yang kerap dilupakan para pembuatnya), dan Garland memanfaatkannya guna menciptakan cerita, visual, serta dunia baru nan misterius yang belum pernah saya temui. Walau beberapa penonton bakal membencinya, karena seperti hidup, Annihilation enggan menawarkan kepastian.

Lena (Natalie Portman), ahli biologi sekaligus mantan prajurit, mungkin tidak membenci hidup, tapi jelas kurang antusias menjalaninya. Setahun berlalu setelah sang suami, Kane (Oscar Isaac) yang juga seorang tentara, hilang kala bertugas. Sehingga betapa mengejutkan ketika Kane tiba-tiba pulang meski ada yang berbeda dari dirinya. Kane hanya diam, menjawab singkat pertanyaan Lena, kemudian kejang sambil muntah darah. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, polisi menyergap ambulans yang ditumpanginya, membawa Lena dan Kane ke fasilitas rahasia bernama “Area X”. Semua terjadi hanya dalam 11 menit durasi. Untuk film yang diberi label “slow paced”, Annihilation bergerak cepat dari satu titik ke titik berikutnya.  
Ketiadaan momen bombastis adalah alasan filmnya disebut lambat. Pun tidak butuh waktu lama bagi kita (dan Lena) melihat “the shimmer”, area di balik gelombang elektromagnet warna-warni bak pelangi yang cakupannya meluas secara berkala. Semua tim yang dikirim ke sana hilang. Adegan pembukanya, di mana Lomax (Benedict Wong) menginterogasi Lena memperlihatkan jika ia memutuskan masuk dan jadi satu-satunya yang keluar hidup-hidup. Di film lain, itu bakal mengurangi intensitas. Namun Annihilation bukan film lain. Tersimpan setumpuk misteri yang menarik ditelusuri selain “apakah protagonisnya selamat?”.

Garland menjadikan “the shimmer” wahana bermain dengan kemungkinan tanpa batas. Selain Lena selaku ahli biologi, ada Anya (Gina Rodriguez) si paramedis, Josie (Tessa Thompson) si fisikawan, Cass (Tuva Novotny) si geologis, dan psikolog sekaligus pemimpin ekspedisi, Dr. Ventress (Jennifer Jason Leigh). Tapi “the shimmer” memporak-porandakan pemahaman saintific mereka. Seluruh organisme di sana adalah anomali dengan perubahan susunan DNA. Karakternya terpana, pun saya, ketika ditemani scoring elektronik garapan Ben Salisbury dan Geoff Barrow serta lagu Helplessly Hoping yang sama-sama menghipnotis, mendapati desain produksi menawan seperti bunga beraneka warna hingga tumbuhan berbentuk manusia (atau sebaliknya?). Dibantu tim artistiknya, Garland menunjukkan definisi dari “visioner”.
Pertanyaannya, “apakah tokoh-tokohnya juga ingin mengubah struktur diri mereka?”. Bukan cuma bicara di tataran fisik, pula psikis. Keempat wanita ini memendam luka sembari merusak diri sendiri. Self-destruct. Itu poin utama alur sekaligus kunci memecahkan misteri Annihilation yang bakal mencapai puncak absurditas pada klimaks. Seperti diungkap Dr. Ventress. self-destruct berbeda dengan bunuh diri, alias bukan akhir. Mayoritas dari kita melakukannya. Suatu proses natural yang nantinya berujung berubahan, menciptakan sesuatu yang baru. This is what the whole story of “Annihilation”, especially its weird climax is all about.

Sudah menontonnya dua kali, saya berkesempatan memperhatikan beragam detail termasuk akting Natalie Portman. Serupa dialog-dialog dalam naskah buatan Garland yang mengadaptasi novel berjudul sama milik Jeff VanderMeer, Portman handal memainkan kesubtilan, menyampaikan informasi terkait isi hati karakternya secara tersirat melalui perubahan kecil di raut wajah. Annihilation pun sama subtilnya, karena lagi-lagi sama seperti hidup, segalanya tak selalu terpapar gamblang. Perlu melalui proses pemahaman panjang serta beragam, yang menurut film ini, salah satunya adalah dance battle menghadapi alien peniru wujud dan gerakan kita.

23 komentar :

Comment Page:
Chan Hadinata mengatakan...

Ini beneran gak ada dibioskop mas?? Syg banget.. sound dan visualnya dpt banget kalo bisa nonton di bioskop apalg imax

Ungki Haeri mengatakan...

Akhirnya di review juga, thanks Mas. Sangat disayangkan film sebagus ini tak ditayangkan di layar bioskop. Paramount kurang pede buat di tayangkan di bioskop secara luas dan hanya di dua negara saja. Padahal sensasi menonton di layar bioskop akan begitu dapet feel-nya.

Rasyidharry mengatakan...

@chan sayang emang, trailer sempet diputer di cinemaxx padahal. Tapi tepat sih, kalau masuk bioskop kemungkinan flop. Rugi pasti.

@Ungki Nggak pedenya wajar kok. Di Cinemascore dapet C, artinya penonton umum nggak doyan. Dari perspektif finansial keputusan jitu.

Febrian Prisley mengatakan...

shit movie. trust me. banyak banget plot holenya. gue suka banget ex machina tapi annihilation is a crap movie. gue bukan tipe yang suka film bombastis, tapi ini film emang bikin ngantuk karena gue udh liat trlalu byk plot holes dari awal dan banyak hal2 non sense lainnya (i love weird movie tho but this is just nonsense) apalagi pas ada cewek yang bilang kalo video yg mereka liat itu ga nyata, itu cuman tipuan cahaya, cuman bisa ngakak. wkwk. gue suka film yg alurnya lambat malah karena ngebangun suspense (ex: arrival, sicario,-oh i love denis' movies). and this movie reminds me of arrival actually (aliens and stuff) dan selama gue nnton annihilation berharap prntanyaan2 di otak gw bakal kjawab seenggaknya di akhir film kyak arrival. but nope, it don't.
so, if u don't get this movie, like i do, dont blame yourself, it's the movie. ini film gaada pinter2nya (like it tried to be).
it's just my opinion tho, i do appreciate other's opinions. watch it yourself.

Rasyidharry mengatakan...

Could you explain which one (or two or three) is the plot hole. Karena bagian Anya bilang itu tipuan cahaya totally make sense. Itu denial. Like I said, the shimmer itu tempat di mana konstruksi scientific diporak-porandakan. Pas ada yang berlawanan sama pemahaman itu (especially if it's a scary one), masuk akal kalau tercipta self defense mechanism yang bentuknya denial, khususnya buat para ahli macam tokoh-tokohnya. For me, all the questions in my head got answered by this movie, entah ya kalau ada pertanyaan lain yang nggak kepikiran.

Roy Mudblood mengatakan...

Film yang meninggalkan banyak ruang untuk diperdebatkan. Penilaian setiap orang pasti berbeda dan saya termasuk yang menyukai film ini.
Scene beruang yang teriak "help me" bikin merinding.

Lucass mengatakan...

Kurang dapet si maksud dari ending nya, jadi Lena yg diakhir itu Lena yang baru kah ato gimana, sama brarti the schimmer nya berhasil dong preses ngebuat baru lewat diri Kane? Tolong jelasin dong mas ending ato point nya

Rasyidharry mengatakan...

@Lucass (SPOILER)


Bukan, itu masih Lena yang asli, kalau Kane, iya, itu "kembarannya". Poin dari ending-nya sama kayak keseluruhan filmnya: self-destruct & rekonstruksi diri. Makanya si alien akhirnya bakar semua shimmer, karena dia akhirnya meniru Lena, yang seperti manusia kebanyakan, punya tendensi self-destruct.

Anonim mengatakan...

Lho bukannya Lena sudah terkontaminasi darahnya, jd yg sdh masuk the shimmer, perlahan sdh bukan lagi dirinya

Rasyidharry mengatakan...

Bukan darahnya terkontaminasi, tapijadi sel dasar pembentuk "kembarannya". Lena yang keluar masih Lena yang sama, tapi DNA tubuhnya (seperti semua yang masuk shimmer) sudah termodifikasi. Kelihatan dari matanya di shot terakhir.

Lucass mengatakan...

Brarti point utama yang pengen disampein Garland adalah manusia mrupakan sel kanker yg perlahan mrusak bumi (krena itu background smua krakter utamanya bermasalah) cuman disampein nya dengan metafora unik bgt (sperti Mother yg mengusung tema yg sama juga) berkaca dari ini spertinya tema mnusia menjadi penyakit bagi dunia bisa menelurkan berbagai macam film unik tergantung kejeniusan saudara itu sendiri ya ga bang

Jackman mengatakan...

Saya mungkin masuk kategori penonton yang membenci film ini.
Hehehe....
Dalam artian kurang suka dengan endingnya yang gitu doang.
Ga klimaks.
Padahal awal ceritanya menarik dan bikin penasaran.
Sangat bagus sekali film ini ga tayang di bioskop karena pasti flop.

Satria Wibawa mengatakan...

garland mungkin terinspirasi manga manga dari junji ito ya...weird,absurd,out of this world terutama scene beruang sama mercusuar,love it ❤

Rasyidharry mengatakan...

@Lucass Bisa juga gitu, kalau saya sih daripada "manusia penyakit bagi dunia", lebih cocok ngelihatnya sebagai self-destruct yang sifatnya natural. Nggak jelek. Parts of our natural process as human being.

@Jackman Makanya, kalau jadi programer bioskop pun, sesuka apa sama film ini, bakal mikir puluhan kali buat nayangin.

@Satria Bener juga, beberapa gambarnya ngingetin ke creepy imageries bikinan Ito.

Zulfikar Knight mengatakan...

Kira-kira film ini dapet ya nominasi Oscar untuk SFX tahun depan?

Rasyidharry mengatakan...

Wah terlalu cepet buat prediksi. Kayaknya sih susah, belum Infinity War, Star Wars, dan blockbuster lain soalnya.

eko sutrisno mengatakan...

Setelah nonton ada beberapa scene yg belum saya mengerti
1. Apakah motif alien dalam buat copy an Lena dan terlibat dalam dance fight di scene akhir tujuannya apa ya? Apakah Lena spesial sehingga alien berniat meniru nya?
2. Maksud si alien membuat schimer buat apa? Apakah tujuannya terraforming?
3. Korelasi judul annihilation dengan isi cerita masih samar?, Tidak ada pemusnahan tapi membangun kembali
4. Alasan si alien memilih bumi juga apakah sebuah ketidaksengajaan?

Rasyidharry mengatakan...

1.Itu simbol aja buat usaha Lena yang struggle dan harus menghadapi sisi lain dirinya yang lebih gelap.
2.To recreate, kayak dijelaskan di endingnya.
3.Ya itu pemusnahan. Memusnahkan yang lama untuk membangun yang baru. Berkorelasi juga sama subteks tentang "self destruction".
4.Nggak dijelaskan dan memang nggak perlu. Karena "Annihilation" ini bukan film "invasi alien", jadi nggak bisa dipandang pakai sturktur itu. Jangan dilihat sebagai "manusia vs alien", tapi tentang manusia itu sendiri.

Reza Deni Saputra mengatakan...

Ada satu pertanyaan gue bang di film ini yg ganjel. Kalo gue komparasi ke Arrival yaa, film ini kan sama2 menemukann entitas baru gitu yaa. Bedanya kalo di Annihilation ada semacam entitas yg pada akhirnya membuat dimensi baru gitu (The Shimmer), kalo di Arrival yaa jelas kita tahu bentuknya kayak sarang. Nah bedanya, kenapa di Annihilation ini kok yg berperan besar dalam penemuan tersebut malah scientist? Beda sama di Arrival yg diwakili oleh militer, meskipun kita tahu tkoh utamanya juga diikutsertakan linguis dan akhli matematika. Tapi tetep, orang yg menemukan pertama kali adalah militer. Nah, sepanjang filmnya di sini gue enggak lihat ada orang berseragam militer, kecuali si Kane itu. Tapi misalnya mau nyimpulin kalo militer di sini ikut serta juga, porsinya yaa terlalu sedikit. Apa ada unsur kesengajaan kali yaa di sana? Semisal tuh kayak pengin menyuarakan kalo scientist (and also woman) juga bisa bergerak secara independen wkwkwk. Sayang sih yaa, Waralaba Star Wars nggak lirik Garland buat seri selanjutnya? wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Nah itu udah kejawab. Ada militer, tapi bukan pasukan resmi. Termasuk si Oscar Isaac itu kan militer. Intinya sih ilmuwan cewek bisa "ngalahin" militer cowok. Brain over brawl.

Oh, nggak akan bisa Garland di Star Wars yang kasih kontrol ketat ke sutradaranya. Harus bisa kooperatif cenderung nurut kalau mau kerja di situ.

Anonim mengatakan...

Kenapa militer ga pake pesawat aja lgsg ke pantai. Kalo ternyata aliennya bs terbakar kenapa ga lgsg tembak aja pake rudal.

Dhika Syahriza mengatakan...

Mulai nonton males mikir trus beres nonton jadi nyari-nyari inti filmnya apa

Mystique mengatakan...

Habis baca review org ttg film ini, ada yg bilang tanpa sadar diri kita melakukan self destruction para ilmuwan itu hidupnya udh rusak Lena jg selingkuh. Untungnya si Lena scientist bisa lgsg ngerti arti Shimmer ini yg seperti kanker ( perusak ) hidup. Para militer pd gbsa tau arti dari Shimmer itu.