BENYAMIN BIANG KEROK (2018)

14 komentar

Benyamin Biang Kerok adalah usaha modernisasi. Bukan saja menyesuaikan kemajuan zaman lewat bumbu fiksi ilmiah lewat kehadiran ragam peralatan canggih macam kepunyaan Ethan Hunt di Mission: Impossible hingga robot, pula terkait urusan moralitas masa kini. Pengki yang diperankan Reza Rahadian tak lagi gemar berkata “brengsek” atau minum bir. Bahkan motivasinya adalah membuktikan bisa menjadi pria berguna, juga membantu warga korban penggusuran alih-alih sekedar memuaskan ego pribadi. Haruskah semua “kelahiran kembali” legenda komedi dikemas begini? Dibuat sebagai blockbuster megah yang dipecah jadi dua bagian?

Keputusan membagi dua Benyamin Biang Kerok nyatanya memunculkan “penyakit lama” berupa ketiadaan klimaks, konklusi yang terpotong kasar, serta kurang bekembangnya berbagai poin alur, khususnya percintaan Pengki dengan Aida (Delia Husein), penyanyi ternama yang terperangkap dalam kekangan mafia bernama Said Toni Rojim (Qomar). Aida terganggu saat Pengki mengejar-ngejar dia, tapi beberapa menit kemudian hatinya mendadak luluh. Pengki yang di versi baru ini bukan lagi sopir melainkan anak manja putera pengusaha terkaya se-Indonesia, Nyak Mami (Meriam Bellina), memang mudah mendapatkan segala kemauannya. Bagaimana bisa terikat dengan karakter seperti itu?
Turut dilontarkan juga pesan-pesan bernada sindiran mengenai ragam isu, seperti penggusuran sampai praktik KKN di kalangan politikus serta pengusaha yang memang relevan dengan kondisi Jakarta/Betawi, yang mana merupakan identitas seorang Benyamin. Pesan yang tak memperoleh kesempatan bergulir lebih dalam sehingga berujung tempelan sambil lalu di antara parade komedi plus aksi berkonsep menarik tapi amat lemah di eksekusi. Hanung luput memberi hook dalam visualisasi tiap lelucon. Ibarat pertandingan sepak bola, Benyamin Biang Kerok adalah tim berkemampuan olah bola dasar mumpuni tanpa dibarengi efektivitas penyelesaian akhir. Sulit untuk memenangkan pertandingan.

Beruntung film ini punya Reza Rahadian dengan kemampuannya menyulap materi komedi medioker jadi senjata pemancing tawa yang cukup ampuh. Berkaca dari karakter Pengki di Biang Kerok versi 1972, Reza mampu tampil mirip dengan Benyamin, mulai suara termasuk cara tertawa dan bernyanyi, gestur jenaka, hingga gaya merengek yang bila di film asli membuat Nyonya Besar (Mak Wok) jengkel, kini memancing amarah Nyak Mami. Pun Reza sanggup menjadikan sederet adegan musikalnya terasa menyenangkan meski kerap kemunculannya kerap terganjal transisi kasar.
Terinspirasi film-film Bollywood—yang juga dijadikan “kiblat” film-film Benyamin dahulu—momen musikal Benyamin Biang Kerok diiringi lagu-lagu seperti Ondel-Ondel, Biang Kerok, Hujan Gerimis Aje, dan Nonton Bioskop yang diaransemen ulang, lebih kekinian tanpa harus melenceng dari esensi orisinalnya. Masalahnya ada di penempatan, yang daripada bertujuan melanjutkan atau mewakili rasa adegan sebelumnya, cenderung dipakai untuk menghabiskan stok lagu belaka. Bahkan “keserampangan” musikal Bollywood lebih tertata dari ini dipandang dari kesinambungan rasa. Tata artistiknya tergarap baik. Ada kemeriahan di sana, yang tidak pernah mampu ditangkap secara sempurna akibat pilihan-pilihan shot Hanung.

Layaknya produksi Falcon lain, production value film ini jelas kelas satu, yang akhirnya mendukung kemewahan momen-momen aksi kental teknologi mutakhir. Tapi keseruan gagal mencapai puncak, selain karena filmnya dipaksa berakhir sebelum menyentuh klimaks, juga disebabkan kurang piawainya Hanung meramu aksi absurd (dalam hal ini Anggy Umbara lebih baik). Benyamin Biang Kerok urung membuat saya kesal. Saya betah duduk manis selama 90 menit, tetapi selama 90 menit itu hanya ada pertunjukan sambil lalu. Kosong. This movie tried too hard to be everything but ended up as nothing. Benyamin S. adalah soal kekayaan warisan baik seni maupun kultural, sedangkan Benyamin Biang Kerok, jangankan warisan, meninggalkan kesan saja tidak mampu.

14 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

jadi aktingnya mas reza udah oke lah ya min? kalo cast pendukungnya gimana? kayanya masalahnya cuma dialur ceritanya aja ya heu. jadi galau pengen nonton apa engga

Rasyidharry mengatakan...

Pendukungnya biasa aja, nggak menonjol karena nggak dikasih waktu. Reza sih selalu bagus.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Mimiknya kalo dibandingin sama "My Stupid Boss" lebih ngeselin dan lebih kocak si bos sih. Tapi beneran mirip banget gaya ketawa, gaya joget sama Benyamin. Dan makin penasaran sama akting pertama Reza sebagai tunanetra di "The Gift", hebat dia bisa menjiwai sedalam itu dalam suatu karakter.

Rasyidharry mengatakan...

Di The Gift bagus juga dia, sayang sepertiga akhirnya rada ngaco.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Mas Rasyid Nonton screening kemaren di PI ya, Mas ? Tapi tetep worth it buat ditonton kan ?

Rasyidharry mengatakan...

Di JAFF Desember kemaren. Masih kok, at least 2/3 awalnya nampilin sisi Hanung yang beda, lebih intim. 1/3 akhirnya balik lagi ke Hanung versi SYTD2 haha

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Mas Rasyid Oh pas Mas di Jogja ya ? Karya terjujur Hanung katanya ya. Okelah jadi gak sabar buat nonton, tapi tayang regulernya kapan ya, Mas ?

Rasyidharry mengatakan...

Jujur iya, karena nggak dapet tekanan produser buat bikin yang komersil, tapi karena faktor kebiasaan, gaya Hanung kayaknya makin kebentuk ke arah komersil juga secara naluri.
Ngajuin tanggal 29 Maret & 5 April, nggak tahu akhirnya dapat yang mana.

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

@Mas Rasyid Udah mendarah daging kali ya Mas naluri komersilnya, hahaha. Oh akhir Maret atau awal April ya. Makasih Mas buat info sama reviewnya. Selamat menunggu "Benyamin Biang Kerok Beruntung", hehehe.

sugik tetap cowok ngalam mengatakan...

Seperti kebanyakan film remake ada sesuatu yang tidak bisa digantikan dari film aslinya.asal kita tidak terlalu berekspetasi terlalu tinggi dan hanya dianggap sebagai hiburan belaka tentu tak terlalu kecewa apabila filmnya tak sesuai harapan

vivici mengatakan...

mantap gan film benyamin biang kerok nya apalagi yg maen reza
vivici
jual viagra
viagra original

Rasyidharry mengatakan...

@Sugik oh itu kalo adaptasi novel, karena alih media. Kalau remake, walau tetep mempertimbangkan sebagai film yang berdiri sendiri, harus diperhatikan juga urgency pembuatan ulang, keberhasilannya memperbaharui, dan apa pembaruan itu ujungnya upgrade atau malah merusak esensi originalnya

Roy Mudblood mengatakan...

Kalo emang mau di bagi 2 filmnya. Paling engga ada misi yg harus diselesaikan di akhir film pertama, konflik besar yg nanti akan lebih besar di film kedua. Apa sineas kita kurang banyak nonton pilem yak?

Rasyidharry mengatakan...

Sebenernya Hanung paham soal itu, makanya sempat keluar statement "walau filmnya dibagi 2, tetep mengikuti kaidah 3 babak per film". Pernyataan yang akhirnya nggak terbukti.