Tampilkan postingan dengan label Hanung Bramantyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanung Bramantyo. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SATRIA DEWA: GATOTKACA

Satria Dewa: Gatotkaca melalui perjalanan panjang nan berliku sebelum sampai di layar lebar. Perubahan tim produksi termasuk perpindahan kursi sutradara dari Charles Gozali ke Hanung Bramantyo, kasus si pemeran utama, hingga kontroversi kredit penata kostum (untungnya sudah terselesaikan). Tapi bakal sangat heroik bila selepas masalah-masalah di atas, filmnya justru melesat dengan kualitas luar biasa. Sayangnya tidak. Satria Dewa: Gatotkaca adalah bentuk kebingungan soal cara meramu aksi superhero energik. 

Latarnya adalah Kota Astina, tempat Yuda (Rizky Nazar) tinggal bersama sang ibu, Arimbi (Sigi Wimala), yang kehilangan ingatan akibat serangan sosok misterius beberapa tahun lalu. Sosok itu (ya, karakter ini disebut "Sosok") mengincar medali brajamusti guna membangkitkan Aswatama. Seperti kita tahu, medali brajamusti nantinya memberi Yuda kekuatan Gatotkaca. Sementara Pandega (Cecep Arif Rahman), ayah Yuda, pergi meninggalkan keluarganya entah ke mana.

Astina sendiri tengah dalam kondisi mencekam. Terjadi pembunuhan berantai, yang menurut Arya Laksana (Edward Akbar), seorang profesor, dan puterinya, Agni (Yasmin Napper), mungkin saja didalangi orang-orang yang mewarisi gen Kurawa. Karena kota fiktif, naskah buatan Hanung dan Rahabi Mandra (Hijab, Night Bus, Kadet 1947) tentu bebas mengeksplorasi Astina. Kondisi sosial, budaya, teknologi, apa pun itu, tiada batasan. 

Sayangnya peluang tersebut tak dimanfaatkan. Astina sebatas amalgam kota-kota era kontemporer di Indonesia, dengan mata uang rupiah, dan juara lari bernama Zohri. Sebagai kota fiktif yang eksistensinya bukan melahirkan satir, Astina terlampau dekat dengan Indonesia. Bukan dosa besar, namun sungguh potensi kreatif yang tersia-siakan. 

Pertemuan Yuda dengan Dananjaya (Omar Daniel) menyadarkannya bahwa perang modern antara keturunan Pandawa dan Kurawa sungguh terjadi. Dananjaya, dibantu Gege (Ali Fikry) dan kurawa baik hati bernama Bu Mripat (Yati Surachman), tengah berniat membangkitkan proyek "Satria Dewa" guna melawan Kurawa. Di situlah Yuda dengan kekuatan Gatotkaca miliknya berperan selaku pelindung Pandawa. 

Satu hal yang selalu jadi bumerang adalah ambisi tampil dinamis. Cepat. Bertenaga. Sebenarnya wajar, mengingat itulah winning formula banyak superhero blockbuster, tapi baik penulisan maupun penyutradaraannya tak mampu mengemban ambisi tersebut. Alhasil, "kekacauan" bak jadi pola yang terus berulang sepanjang 129 menit durasinya. 

Penceritaannya kacau. Kerap melompat-lompat tidak karuan, yang mana diperparah oleh penyuntingan lemah, pun lalai menyisakan ruang bagi penggalian karakter. Yuda adalah Gatotkaca si pahlawan legendaris. Tapi sebagai pahlawan, sebagai calon pelindung Pandawa, nilai apa yang melandasi perjuangannya? Yuda merupakan protagonis mentah, meski Rizky Nazar jelas sempurna memerankan figur superhero. 

Buruknya penceritaan makin kentara memasuki paruh akhir. Klimaksnya diisi dua momen "perpisahan", yang seharusnya memberi dampak emosi besar bagi tokoh-tokohnya, tapi karena muncul berurutan, dengan jeda tidak sampai lima menit, hasilnya justru canggung. Bahkan menggelitik. Seorang penonton berseloroh, "Lah, mati lagi?", dan saya setuju. Sebab selain berdekatan, cara Hanung memoles dua peristiwa itu juga serupa. 

Saya mengapresiasi cara naskahnya menyelipkan goro-goro sebelum puncak, yakni kemunculan Punakawan: Semar (Butet Kartaredjasa), Petruk (Gilang Bhaskara), Gareng (Indra Jegel), Bagong (Rigen Rakelna). Di situ segala intrik para pesohor diistirahatkan, diganti celotehan rakyat biasa. Satu yang sukar diapresiasi adalah terkait product placement. Percayalah, saya termasuk yang jarang mengeluhkan iklan sponsor, namun Satria Dewa: Gatotkaca membawa kuantitas serta kegamblangannya ke tingkatan "lebih tinggi". 

Adegan aksi yang mestinya jadi jualan utama tidak kalah kacau. Sedari menit-menit awal, kombinasi penyuntingan frantic, pilihan shot ala kadarnya, dan pencahayaan yang kalau mengutip kalimat King Nassar, "seperti mati lampu", menyulitkan untuk menikmati segala baku hantam. Saya paham, Hanung ingin menguatkan atmosfer lewat suasana remang dan pemakaian warna seperti merah tua, tapi apakah harus sesering itu? Kita pun baru bisa benar-benar menyaksikan kostum keren Gatotkaca (elemen terbaik filmnya) jelang konklusi. 

Para cast sejatinya meyakinkan dalam melakoni aksi. Sekali lagi, Rizky Nazar cocok sebagai figur satria, begitu pula Omar Daniel yang membuat saya menantikan film Arjuna. Pastinya salah satu momen paling ditunggu adalah konfrontasi dua ikon laga Indonesia, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman. Tapi ketika sebuah film aksi membungkus jurus-jurus mereka dengan penyuntingan kilat dan tata kamera shaky, artinya ada yang salah dalam film tersebut.

REVIEW - ADIT SOPO JARWO: THE MOVIE

Mengingat serial televisinya semacam "jawaban" untuk Upin & Ipin, sebagaimana animasi negeri tetangga itu pula, sudah sepantasnya Adit Sopo Jarwo dibuatkan versi film panjang. Dibesut oleh Eki N. F selaku salah satu kreator serialnya bersama Hanung Bramantyo, Adit Sopo Jarwo: The Movie merupakan salah satu film animasi terbaik Indonesia, meski berkaca pada progres genrenya sejauh ini, sebutan "terbaik" sebenarnya tidak berarti banyak. 

Jika Upin & Ipin memakai pendekatan ala Doraemon terkait adaptasi layar lebar (cerita dengan skala lebih besar dibanding versi televisi, ditambah sentuhan fantasi), maka Adit Sopo Jarwo: The Movie memilih tetap menuturkan kisah sehari-hari. Karena ditayangkan di Disney+, dampaknya tidak begitu besar. Lain cerita bila di bioskop. Biarpun bukan harga mati, petualangan imajinatif berskala besar dapat memaksimalkan pengalaman menonton di layar lebar, khsususnya bagi anak-anak.

Mengambil latar cerita sebelum serialnya, film ini mengisahkan perjalanan Adit (Muzakki Ramdhan), yang berlibur ke Yogyakarta bersama kedua orang tuanya. Sesungguhnya Adit ingin liburan ke luar negeri (tepatnya Jepang) seperti teman-temannya, namun karena sang ayah (Hanung Bramantyo) baru mengalami PHK, rencana itu batal. Substansi naskah buatan Anto Malaya dan Beni Susanto memasukkan masalah PHK ayah sebenarnya patut dipertanyakan. 

Singkat cerita, berangkatlah Adit sekeluarga menaiki kereta. Sesampainya di stasiun Cirebon, Bunda (Musripah) yang tengah hamil tujuh bulan, mendadak sakit perut. Berniat membelikan biskuit untuk bundanya, Adit malah ketinggalan kereta, sebelum bertemu Sapo (Dharmawan Susanto) dan Jarwo (Ery Makmur), yang menolong Adit dengan harapan mendapat imbalan uang dari ayahnya. 

Tentu semua takkan berlangsung mulus. Perjalanan Cirebon-Yogyakarta yang mestinya bisa ditempuh kurang lebih lima jam dengan kereta api pun molor. Mayoritas masalah terjadi akibat Jarwo yang sering sok tahu, tidak sabar, dan melakukan hal-hal buruk seperti mencuri sepeda. Keburukan Jarwo itulah yang dijadikan pembelajaran film ini bagi penonton anak. Jauhi keburukan, harus sabar, jangan enggan menolong orang lain. Nilai-nilai kehidupan mendasar yang memang penting untuk diajarkan. 

Pun melihat dua pria dewasa berpenampilan bak preman menunjukkan kepedulian pada seorang bocah, jadi pemandangan menarik, sekaligus memberi pesan agar tidak menilai seseorang dari penampilan saja. Tapi ada masalah. Di serialnya, Sapo dan Jarwo adalah tetangga Adit. Biarpun bak preman, merupakan kewajaran saat bocah-bocah berinteraksi dengan mereka. Aman, apalagi karena kisahnya berlatar area perkampungan. Sedangkan di filmnya, menyaksikan anak sekecil Adit dengan nyaman, tanpa sedikitpun kecurigaan, menerima tawaran bantuan dari dua pria dewasa asing, meninggalkan kesan kurang baik. Bagaimana jika mereka ternyata penculik? Bagaimana jika ada anak mengalami nasib seperti Adit, kemudian datang orang asing menawarkan pertolongan, dan si anak berpikir, "Mungkin orang ini baik, kayak Bang Sapo dan Bang Jarwo"? 

Di luar itu, dalam bercerita, naskahnya juga sering memaksakan hadirnya konflik. Tengok sebuah "insiden" di Dieng, yang mungkin bakal memusingkan penonton dewasa, tatkala anak/adik/keponakan mereka bertanya, "Kok Adit kabur?". Sewaktu alur memasuki babak akhir pun, naskahnya merasa harus memperpanjang permasalahan, yang sejatinya tidak diperlukan, karena tidak memberi dampak apa pun, baik terkait emosi, maupun pesan.

Penuturan film ini memang tak semulus visualnya. Ya, satu-satunya elemen yang sepenuhnya memuaskan adalah kualitas animasinya. Terdapat beberapa rendering kurang halus, terutama ketika menerapkan gerak lambat, namun saya sering dibuat terpukau oleh presentasi visualnya, terlebih saat menampilkan pemandangan alam, dengan detail-detail yang tergarap apik. Ditambah performa maksimal jajaran pengisi suara, walau sedikit unggul dibanding kompatriotnya, Adit Sopo Jarwo: The Movie masih memiliki plus minus khas film animasi kita: naskah lemah dengan visual memuaskan.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

REVIEW - TERSANJUNG THE MOVIE

Suka atau tidak, Tersanjung merupakan salah satu sinetron paling berpengaruh sepanjang sejarah pertelevisian Indonesia. Berlangsung selama tujuh musim dari 1998-2005 (termasuk musim ketujuh yang berganti judul menjadi Adilkah), hampir semua selebritis ternama layar kaca pernah ambil bagian (silahkan cek daftar cast di Wikipedia, saya jamin akan muncul respon, "Lho, si A pernah ikut main juga???"). 

Walau bukan penggemar setia yang hafal detail alur maupun tokohnya, saya cukup familiar dengan beberapa elemen pembentuk pondasi dasarnya, sehingga bisa menyebut bahwa versi layar lebar besutan Hanung Bramantyo dan Pandhu Adjisurya (sebelumnya adalah asisten Hanung di The Gift, Jomblo versi remake, dan Benyamin Biang Kerok) ini, merupakan adaptasi, yang meski cukup lepas, mampu mempertahankan jiwa materi aslinya.

Kedua sutradara turut menulis naskahnya, yang secara cerdik merangkum, kemudian memodifikasi poin-poin dalam 365 episode sinetronnya, menjadi film berdurasi 115 menit. Dari penceritaan, kita bisa menemukan ibu tiri jahat, mertua kejam, romansa beda kasta, kehamilan di luar nikah, penyakit kronis, hingga adegan kejar-kejaran, di mana sewaktu protagonis mulai tersudut, mendadak datang sosok penolong, yang memukul si antagonis dari belakang memakai sebatang kayu. 

Segala hal di atas bakal mengaduk-aduk emosi penonton, membuat kita ingin marah-marah sebagaimana penonton sinetron, namun Hanung dan Pandhu paham betul bahwa butuh penyesuaian agar jangkauan pasar filmnya lebih luas. Alhasil, kesan hiperbolis sedikit ditekan, yang berujung membuat presentasinya lebih berkelas dari perkiraan.

Karakternya pun mengalami modifikasi. Yura (Clara Bernadeth), Christian (Giorgino Abraham), dan Oka (Kevin Ardilova) jelas perwujudan lain dari Indah, Bobby (walau ada juga karakter bernama Bobby yang diperankan Marthino Lio), dan Rama. Bedanya, kali ini ketiganya digambarkan sebagai sahabat, dengan interaksi yang begitu hidup sedari momen perkenalan, sehingga nantinya, transformasi pertemanan hangat itu menjadi romansa manis (plus tragis) sarat pengorbanan, berlangsung mulus. 

Tersanjung lekat dengan penderitaan, dan filmnya tak mengubah itu. Penderitaan Yura berawal saat ia dipaksa menjalani perjodohan oleh ibu tirinya yang diperankan Kinaryosih, Indah Besari (kemungkinan sebuah easter egg, mengingat di sinetron ada karakter Indah Besar dan Indah Kecil). Melunasi hutang keluarga jadi alasan, mengingat karir bermusik sang ayah, Gerry (Nugie), sudah meredup. Berkat bantuan Christian dan Oka, Yura berhasil kabur, namun itu cuma awal penderitaan. 

Alurnya penuh konflik tanpa terasa tumpang tindih, meski beberapa tetap kurang substansial. Sebut saja soal pecahnya konflik 1998, yang di titik ini, kemunculannya bak kewajiban bersifat formalitas di film Indonesia berlatar tahun 90an. Pun bila niatnya adalah menggambarkan kekalutan personal di tengah kekacauan berskala nasional, naskahnya tidak cukup kuat dalam menautkan kedua peristiwa.

Lubang lain dalam naskah, yang biarpun tak mempengaruhi keseluruhan cerita namun membuktikan penulis-penulis kita masih sering mengabaikan ketepatan medis (fisik maupun psikis), tampak saat Yura didiagnosa menderita "depresi berat" oleh dokter (bukan psikolog atau psikiater), pada pertemuan pertama, tanpa melalui pemeriksaan memadai. Para penulisnya punya pola pikir serupa remaja-remaja masa kini, yang di media sosial dengan mudah menyebut diri mereka menderita depresi, bipolar, atau gangguan mental lain.

Sebaliknya, estetika 90an digarap cukup baik melalui kemunculan berbagai properti dan budaya populer masa itu. Setidaknya lebih baik dibanding film Indonesia lain dengan embel-embel "90an" di judulnya, yang belum lama ini rilis. Tapi tugas Tersanjung the Movie bukan cuma membangun latar waktu, melainkan juga cerminan sinetron pada masa itu. Paling terasa adalah ketika latar belakang salah satu tokoh utama terungkap, dan kita dibawa mengunjungi rumah dengan kemewahan luar biasa khas suguhan layar kaca. Aura sinetron (in a positive way) pun terpancar kuat dari obrolan di rumah tersebut. Mungkin berkat manner tokoh-tokohnya, di mana dua pemain sinetronnya berkesempatan tampil sebagai cameo. 

Tapi tidak ada sentuhan nostalgia sebaik penggunaan versi baru dari lagu tema Tersanjung (dibawakan Umimma Khusna, diaransemen ulang oleh Charlie Meliala1) yang dulu dinyanyikan Retno Susanti. Bukan sekadar nostalgia kosong, karena lagunya diperdengarkan di momen yang tepat. Sangat tepat, hingga berhasil menggandakan dampak emosional momen yang diiringinya. Momen romantis nan menyentuh yang jadi titik balik hubungan karakternya. Sayang, alih-alih lagu itu, Salam Rindu dari Tipe-X justru menutup filmnya secara kurang tepat. 

Turut berjasa mengangkat rasa filmnya adalah penampilan memikat tiga pemeran utama. Giorgino Abraham tampil jauh lebih lepas dari biasanya, Kevin Ardilova mencuri hati sebagai pria baik yang hati yang bisa selalu diandalkan, sedangkan Clara Bernadeth, dengan gaya ala Nike Ardilla (posternya terpasang di kamar Yura), mampu menarik simpati, membuat penonton mengharapkan kebahagian bagi Yura, si gadis kuat yang dihantui oleh penderitaan dalam tiap langkahnya. 


Available on NETFLIX

REVIEW - BENYAMIN BIANG KEROK 2

Terkait Benyamin Biang Kerok (2018), saya termasuk minoritas. Saya tidak menentang, tidak membenci, meski harus diakui, hasilnya jauh dari kata “bagus”. Sangat jauh. Setidaknya ada visi yang jelas, walau apakah visi tersebut cocok diterapkan, patut dipertanyakan. Direncanakan sebagai trilogi, setelah film pertama mendapat respon cenderung negatif, baik perihal ulasan, jumlah penonton (730 ribu tidak sedikit, namun jelas bukan angka yang diharapkan), belum lagi perseteruan hak cipta, kabar perilisan film kedua tak kunjung jelas, sebelum akhirnya tayang di Disney+ Hotstar.

Berbeda dengan pendahulunya, Benyamin Biang Kerok 2 bak produk asal jadi, tanpa arah, yang buru-buru diselesaikan guna mengejar tanggal tayang di streaming platform. Selepas rekap beberapa menit yang tidak banyak membantu akibat kisah film pertamanya kurang meninggalkan kesan, protagonis kita, Pengki (Reza Rahadian), berkata pada penonton, jika petualangannya melawan sindikat mafia pimpinan Said (Qomar) demi menyelamatkan sang pujaan hati, Aida (Delia Husein), bakal lebih seru dari film-film Amerika. Berarti, Hanung bersama trio penulis naskahnya, Bagus Bramanti, Senoaji Julius, dan Hilman Mutasi, masih berniat membuat blockbuster mahal, sarat aksi berteknologi tinggi, juga bertabur CGI.

Tapi itu tidak terlihat. Aksi bisa dihitung jari, sementara CGI, selain kuantitasnya menurun drastis, begitu pula kualitasnya. Ada satu momen yang berpotensi melahirkan hiburan berupa pertarungan absurd, di mana Sabeni (Rano Karno), ayah Pengki, memancarkan laser untuk menghajar habis anak buah Hengki (Hamka Siregar) yang berniat membunuh Pengki, disusul tembakan gelombang dari gitar elektrik Nurlela (Lydia Kandou). Tapi efek visualnya setengah (atau malah seperempat?) matang, yang diperparah oleh kecanggungan pengadeganan Hanung.

Mau dibawa ke mana film ini? Seberapa buru-buru penyelesaiannya? Jangankan pasca-produksi, saya pun mempertanyakan, apakah proses produksi, termasuk pick-up, benar-benar sudah usai jauh-jauh hari? Alurnya sendiri sudah dilukai oleh keputusan memecah cerita. Terasa betul kisah dimulai dari tengah, sehingga tanpa struktur penceritaan layak. Belum lagi, perpindahan antar adegan tidak dijembatani secara mulus, seolah tidak ada stok transisi yang cukup.

Misalnya sewaktu Pengki, Somad (Adjis Doaibu), dan Achie (Aci Resti) hendak pergi ke hutan di Kalimantan menggunakan helikopter, untuk memecahkan misteri harta karun Soekarno, yang diduga jadi incaran utama para mafia. Sayang, helikopter kepunyaan Nyak Mami (Meriam Bellina) tiba-tiba mogok. Lalu Achie berkata, bahwa dia tahu harus berbuat apa. Sejurus kemudian, kita melihat CGI shot yang menampilkan sebuah pesawat di angkasa. Mendadak mereka telah tiba di tujuan. Pesawat siapa itu? Mengapa efek visualnya tampak amat mentah? Bagaimana pula Hengki beserta anak buahnya bisa tahu persis keberadaan ketiganya di tengah hutan keramat?

Paling tidak saya menikmati penampilan para pelakon senior, khususnya Rano Karno dan Lydia Kandou, yang berusaha sekuat tenaga memaksimalkan porsi masing-masing. Reza, bermodalkan kejenakaan gestur serta permainan logat dan warna suaranya pun masih nyaman disaksikan. Satu yang benar-benar mengganggu, terlebih di third act, hanya Aci Resi dengan gerutuan dan rengekan menyebalkan yang tak kunjung berakhir.

Artinya jajaran cast berhasil menyelamatkan film ini bukan? Kata “menyelamatkan” rasanya berlebihan. Paruh akhirnya membuat Benyamin Biang Kerok 2 tidak terselamatkan. Antiklimaks, cuma menampilkan sekelumit aksi singkat berisi serbuan beruang dengan CGI menyedihkan, nomor musikal cringey nan murahan diiringi lagu hip hop, pula konklusi dadakan yang menyisakan banyak subplot tanpa resolusi.

Satu hal paling fatal: rambut Pengki berubah! Itu bukan rambut Pengki, tapi rambut Reza. Pengki beralasan, rambutnya dipotong oleh suku pedalaman. Saya curiga, konklusinya adalah pick-up yang diambil jauh setelah produksi selesai, besar kemungkinan untuk menghapus jembatan menuju film ketiga, yang konon merupakan adaptasi Tarsan Kota (1974). Syukurlah bila memang demikian. Cukup. Berhenti sampai di sini.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

HABIBIE & AINUN 3 (2019)

Di realita, romantika Habibie dan Ainun akan terus abadi dan menyentuh hati, tapi setelah tujuh tahun lalu Habibie & Ainun jadi fenomena saat mencatatkan sekitar 4,6 juta penonton, lalu disusul empat tahun kemudian oleh pengultusan dengan pendekatan blockbuster bernama Rudy Habibie, harus diakui bahwa di layar lebar, kesakralan kisah cinta ini mulai terkikis. Habibie & Ainun 3 menegaskan itu lewat paparan drama yang kembali digarap mewah, diisi akting-akting kuat, namun dilemahkan oleh ketiadaan jiwa.

Jika Rudy Habibie berfokus pada, well, Rudy Habibie (Reza Rahadian), maka film ketiga ini, yang awalnya berjudul Ainun, menceritakan lebih jauh soal kehidupan Hasri Ainun Besari (Maudy Ayunda) sebelum bersatu dengan pasangan sehidup sematinya. Alurnya dibuka saat suatu malam, di acara kumpul keluarga, Habibie menceritakan sosok mendiang sang istri kepada cucu-cucunya. Teguh Widodo, Orlando Bassi, dan Aktris Handradjasa selaku tim tata rias berhasil memperbaiki kekurangan fatal film pertama terkait menuakan para aktor kala secara meyakinkan menyulap Reza menjadi Habibie di usia senja. Sebagai bentuk kepercayaan diri, Reza sempat dibuat membuka pecinya, sekilas menunjukkan uban serta rambut yang telah menipis.

Tentu performa sang aktor turut membantu, di mana melalui detail gestur tangan juga mimik wajah, kerentaan karakternya mampu ditampakkan oleh Reza. Tapi sebaik apa pun aktingnya, Reza tetap tak kuasa menolong CGI buruk, kala latarnya mundur ke era 1950an. Habibie remaja dihidupkan memakai teknologi de-aging menggelikan, yang gagal menciptakan sinkronisasi antara wajah dengan gerak leher Reza. Bukan cuma terlalu mulus (in a weird way), wajahnya seperti melayang. Beruntung ini film tentang Ainun, sehingga kita takkan sering melihat hasil menyedihkan tersebut.

Ainun bercita-cita menjadi dokter meski sebagai wanita, impian itu kerap dianggap remeh. Bahkan begitu diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diskriminasi gender terus dirasakan, baik dari olok-olok mahasiswa pria, maupun pandangan sebelah mata sang dosen, Pak Husodo (Arswendi Bening Swara). Jadi apakah naskah buatan Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta) mengusung pesan female empowerment? Benar bahwa filmnya menyimpan sederet momen perlawanan gambling terhadap seksisme, namun sejatinya, ini hanyalah quasi-empowerment.

Contohnya sewaktu Arlis (Aghniny Haque), sahabat Ainun yang terkenal berani melawan penindasan bahkan memukul senior, mengucapkan kalimat “Ini urusan laki-laki”, saat teman dekatnya, Soelarto (Kevin Ardilova), hendak terlibat baku hantam dengan Ahmad (Jefri Nichol), mahasiswa Fakultas Hukum yang berusaha merebut hati Ainun. Sejak kapan cerita empowerment mengasosiasikan perkelahian sebagai “urusan laki-laki”?

Setelahnya, Habibie & Ainun 3 mengambil sudut pandang menarik terkait tujuannya menguatkan percintaan pasangan legendarisnya. Filmnya mengetengahkan bagaimana mereka bisa langgeng, karena masing-masing mampu belajar dari pengalaman dan kesalahan masa lalu, khususnya hubungan Ainun dengan Ahmad. Bahkan karakter Habibie di sini hanya sebatas pendukung. Setidaknya penonton bisa dibuat memahami itu, meski dilakukan memakai cara gampang, yakni memberi Ahmad karakterisasi yang benar-benar berlawanan dengan Habibie.

Dia lebih agresif, jago merayu wanita, gemar berkelahi, selalu mengalihkan pembicaraan sewaktu Ainun menanyakan soal rencana masa depannya, dan ingin keluar dari Indonesia. Tidak diragukan lagi, Jefri adalah jagonya perihal memerankan tokoh berkepribadian seperti itu, dengan tenaga yang menjadi salah satu dinamo utama penggerak filmnya. Setelah Bebas, ini merupakan kali kedua Jefri dan Reza bermain di satu judul tapi tidak berbagi adegan bersama. Saya berharap suatu hari bisa menyaksikan keduanya bertatap muka di layar.

Seperti Rudy Habibie, Hanung Bramantyo kembali menjadi sutradara. Bermodal pengalaman hampir dua dekade, Hanung adalah sutradara yang hafal betul formula tontonan arus utama agar bisa dinikmati penonton sebanyak mungkin. Bagaimana kamera harus diposisikan supaya gambar nyaman dilihat, bagaimana cerita mengalir supaya mudah diikuti, atau kapan musik mesti muncul dan tenggelam demi mendramatisasi peristiwa. Mungkin Hanung sudah melakukan itu secara otomatis. Tapi otomatisasi itu pula yang membuat film ini bak tanpa jiwa. Habibie & Ainun 3 seperti dibuat berdasarkan rumus-rumus pasti ketimbang suatu permainan rasa.

Bakal semakin kosong andai filmnya tak memiliki Maudy Ayunda dengan segala sensibilitasnya yang sanggup membedakan mana “kelembutan” dan mana “kelemahan”, juga Arswendi Bening Swara yang di balik sikap galak serta kata-kata pedasnya, juga menyimpan keteduhan dalam bertutur kata. Habibie & Ainun 3 merupakan film yang digarap secara kompeten, layak tonton, tetapi urung mengulangi pencapaian film pertama, apalagi menangkap elemen terpenting dari kisah yang diangkat, yaitu “rasa”.

BUMI MANUSIA (2019)

Timbul kontroversi kala Hanung Bramantyo (Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Kartini) menyatakan bakal memfokuskan Bumi Manusia pada elemen percintaan remaja. Banyak orang murka, tapi mungkin mereka lupa, kurang (atau menolak) memahami, bahwa novelnya sendiri mengetengahkan romantika. Tepatnya, Pramoedya Ananta Toer tahu jika cinta sepasang kekasih merupakan perihal universal yang mudah menyerap di hati.

Tujuan novelnya adalah membuat pembaca jatuh cinta bersama Minke dan Annelies, memedulikan mereka, sehingga tergerak mengutuk kolonialisme, rasisme, atau tindak ketidakadilan secara umum, selaku kebiadaban yang berpotensi merenggut keindahan rasa bernama “cinta”. Dan Hanung bersama Salman Aristo (Garuda di Dadaku, Athirah, Mencari Hilal) sebagai penulis naskah, menangkap esensi itu dengan baik.

Minke (Iqbaal Ramadhan) adalah pribumi beruntung yang berkesempatan menuntut ilmu di Hogere Burgerschool (HBS), sehingga bisa terpapar ilmu pengetahuan serta pola pikir modern, hal-hal yang jauh dari jangkauan mayoritas pribumi. Minke merasa “tahu”, sampai tiba kunjungannya ke kediaman keluarga Mellema di Wonokromo, Surabaya.

Bertemulah ia dengan Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). “Nyai” merupakan panggilan bagi wanita pribumi simpanan orang Belanda. Masyarakat memanang rendah para nyai, menganggap mereka sebatas gundik kelas rendah tak berpendidikan. Tapi anggapan itu—yang turut menancap di otak Minke—dipatahkan Nyai Ontosoroh. Dia pintar, penuh harga diri, kaya akan pengetahuan, pula bertindak sebagai ketua pelaksana seluruh bisnis Keluarga Mellema, menggantikan sang suami, Herman Mellema (Peter Sterk) yang sibuk mabuk-mabukkan. Bahkan Nyai Ontosoroh berani berdiri melawan Herman.

Tapi sambaran lebih kuat ke hati Minke ia rasakan kala berjumpa dengan puteri Nyai Ontosoroh, Annelies (Mawar de Jongh), gadis indo (berdarah campuran) yang berkebalikan dengan sang kakak, Robert (Giorgino Abraham), ingin menjadi pribumi. Minke jatuh cinta pada pandangan pertama. Annelies pun demikian. Namun cinta mereka takkan mudah, sebab ketidakadilan hukum, budaya, juga persepsi sosial yang menggelayuti bumi manusia senantiasa siap menghancurkan hubungan ini.

Apabila pernah membaca novelnya, tentu anda tahu sudut pandang ceritanya selalu berganti, dari Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh, sampai PSK asal Jepang bernama Maiko (Kelly Tandiono). Naskahnya sanggup merangkum semua, menyederhanakannya tanpa kehilangan substansi.

Pun pemakaian durasi mencapai tiga jam tidak sia-sia, kala Bumi Manusia menghasilkan sebuah adaptasi yang setia. Tentu beberapa aspek perlu diringkas, dihapus, atau dipindah penempatannya, namun Salman Aristo jeli memilih, mana yang wajib dipertahankan, mana yang bisa diubah. Saya masih menemukan pergerakan kasar, misalnya saat di suatu subuh Minke dijemput paksa oleh polisi, tapi keseluruhan, filmnya mengalir mulus berbekal konsistensi pacing juga tensi.

Itulah mengapa penunjukkan Hanung tepat. Tidak banyak sutradara yang siap menangani drama kolosal berdurasi tiga jam supaya gampang dinikmati, bahkan oleh penonton muda yang mungkin datang hanya demi melihat Iqbaal. Dibutuhkan fokus, energi, sekaligus jam terbang tinggi. Dan Bumi Manusia merupakan karya penyutradaraan terbaik Hanung selama beberapa tahun terakhir, di mana ia sukses meraih apa yang ia kejar sepanjang karir: melahirkan drama emosional yang bisa menjangkau penonton umum, namun tetap elegan agar tak berakhir murahan.

Pendekatan tersebut menjadikan Bumi Manusia sebuah romansa epik, dibantu musik Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990, Dua Garis Biru) yang sempurna mewakili kemegahan kisah berskala besar. Satu departemen sayangnya melemahkan kesan epik itu: tata dekorasi. Ya, rumah Keluarga Mellema dan lokasi-lokasi lain sekilas tampak bagus, terlalu bagus dan terpoles sehingga mengurangi kesan realistis. Bangunan-bangunannya artificial layaknya panggung yang (baru) dibangun ketimbang lingkungan nyata.

Apalah arti suguhan drama tanpa performa apik jajaran pemain. Banyak orang menyuarakan keraguan terkait pemilihan Iqbaal. “Kenapa Minke diperankan Dilan?!”, begitu ujar mereka. Tapi pengalaman Iqbaal menghantarkan gombalan Dilan membantunya menghadapi kalimat-kalimat romantis di film ini. Mampu pula ia seimbangkan sisi rapuh dan kokoh Minke, meski saat tiba waktunya melakoni adegan yang menuntut luapan rasa (orasi berapi-api, tangisan, dan lain-lain), ekspresinya kerap kurang natural.

Sedangkan bagi Mawar, Annelies merupakan peran yang bakal melambungkan status kebintangannya. Mawar bisa menyeimbangkan dua sisi karakternya. Dibuatnya kita gemas pada kemanjaan Annelies, sementara di lain kesempatan, kekaguman terhadap ketangguhannya tak tertahankan.

Tapi tiada satu pun sanggup menandingi Sha Ine Febriyanti, yang tampil bagai kekuatan alam yang menyedot seluruh gravitasi di ruangan di tiap kemunculan, bahkan tanpa harus mengucap sepatah kata pun. Sosoknya mantap, intimidatif, namun berhiaskan kehangatan juga, tergantung situasi atau dengan siapa sang Nyai berinteraksi. Kemudian sewaktu Ine mulai meningkatkan kadar emosi, hati ini pun ikut bergetar hebat.

Di tangan Ine, Nyai Ontosoroh bagaikan figur pemimpin perjuangan tokoh-tokoh wanita film ini, yang seluruhnya kuat, sanggup “berdiri dengan kaki sendiri” juga menaklukkan semua pria, baik menggunakan cara keras (diwakili Nyai Ontosoroh) atau kelembutan (diwakili Ibunda Minke yang diperankan penuh kehangatan oleh Ayu Laksmi). 

Inilah alasan, walau novelnya terbit hampir 40 tahun lalu dan mengusung latar 121 tahun lalu, Bumi Manusia masih relevan. Perjuangan menegakkan keadilan (ras, gender, agama) berlandaskan asas kemanusiaan masih berlangsung sampai sekarang. Sebuah perjuangan yang dipersenjatai hati dan cinta ketimbang (sekadar) amarah. Perjuangan tersebut bergema kuat, mungkin sekitar separuh durasi, saya kesulitan menahan haru.

SULTAN AGUNG: TAHTA, PERJUANGAN, CINTA (2018)

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta menempatkan penonton di posisi sebagaimana kita sehari-hari, sebagai rakyat, menyikapi seorang pemimpin. Coba pikirkan, seberapa sering anda meragukan Camat, Bupati, Gubernur, sampai Presiden? Kita cenderung—dan merupakan hal wajar—menghakimi mereka berdasarkan apa yang terlihat kini. Karena kita pun tidak tahu menahu soal pertimbangan di belakang. Apalagi saat suatu keputusan lebih berorientasi jangka panjang. Masalahnya, walau film ini berhasil menghadirkan pemahaman soal proses di balik layar itu, hal paling esensial, yakni hasil, urung ditampilkan.

Pembicaraan terkait politik beserta filosofi di belakangnya memang rumit, namun satu jam pertama Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta tampil lebih sederhana, yang mana merupakan paruh terbaiknya. Wajah bila sederhana, sebab inilah masa di mana Sultan Agung alias Raden Mas Rangsang (Marthino Lio) masih muda dan berguru pada Ki Jejer (Deddy Sutomo) di padepokan. Menimba ilmu, baik fisik maupun batin, jadi konsentrasi utama, yang tentu saja diselingi romantika. Raden Mas Rangsang memadu kasih dengan Lembayung (Putri Marino), seorang rakyat biasa.

Romansanya hidup, selain berkat selipan interaksi keseharian santai kaya selipan humor, juga perpaduan apik Marthino-Marino. Putri Marino memudahkan siapa saja mencintai Lembayung, si gadis dengan kekuatan fisik pula batin. Ya, batinnya tergoncang kala Raden Mas Rangsang didapuk sebagai Raja sehingga mesti pulang ke Kraton sekaligus menikahi wanita lain yang ditentukan mendiang ayahnya. Tapi seiring kemampuan Putri mengguncang hati penonton lewat luapan emosi, turut ditegaskan bahwa ia ikhlas, memahami jika tiada pilihan. Jadilah elemen romansanya tak menyentuh ranah dramatisasi opera sabun. Ini tentang sepasang muda-mudi kuat yang mendahulukan kepentingan negeri.

Di antaranya, beberapa adegan laga yang disusun solid oleh Hanung Bramantyo sesekali mengisi, menghasilkan adu jurus menghibur khas kisah pendekar masa lampau. Fase masa muda Sultan Agung ditutup perebutan kekuasaan sarat intrik serta pertumpahan darah yang mana tak pernah lepas dari sejarah kerajaan mana pun. Kemudian kisahnya melompat beberapa tahun, beranjak menyelami konflik politis kompleks dan peperangan kolosal yang mengetengahkan perlawanan Kerajaan Mataram terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC.

Dari Marthino Lio, Sultan Agung dewasa anti diperankan Ario Bayu. Anda akan sadar betapa cerdik casting film ini begitu melihat kemiripan paras kedua aktor. Ario memerankan Sultan Agung yang telah tumbuh jadi Raja berkepribadian keras yang menolak berkompromi kala VOC berusaha menundukkan Mataram melalui kedok kerja sama dagang dengan aturan mencekik. Lembayung dewasa diperankan Adinia Wirasti, yang bukan saja jago mengolah rasa, juga meyakinkan melakoni porsi aksi. Sementara Ario, lewat wibawanya, mulus memerankan Raja yang mantap menyerukan teriakan perang “Mukti utawa mati!”.

Sultan Agung memutuskan menabuh genderang perang, mengerahkan ribuan rakyat termasuk sekumpulan petani guna menyerbu VOC di Batavia, meski menurut beberapa pihak termasuk sang paman, Tumenggung Notoprojo (Lukman Sardi), itu bak misi bunuh diri. Tapi Sultan tidak bergeming. Mengapa harus mengalah kalau ujungnya kehilangan harga diri sebagai budak penjajah? Di sini kompleksitas muncul, ketika mereka yang menaruh kepercayaan sekalipun, pasti akan bertanya-tanya, “Apakah Sultan sudah dibutakan harga diri sampai membiarkan ribuan rakyat meregang nyawa?”.

Korban berjatuhan, pasukan Mataram tersudut, kian mudah baik bagi rakyat dan penonton meragukan Sultan. Sepanjang pertempuran, jarang kita melihat Sultan, apalagi memperoleh detail soal pendorong keputusan kontroversialnya. Naskah karya BRA Mooryati Soedibyo (juga produser dan produser eksekutif), Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2), dan Bagas Pudjilaksono memang sengaja meninggalkan penonton dalam ketidaktahuan, serupa yang dialami pasukan Mataram di medan perang, yang lebih sering kita tengok kondisinya. Kita sama-sama ada dalam “ruang gelap”, menduga-duga maksud Sultan sebagaimana pada umumnya rakyat mempertanyakan sikap sang pemimpin.

Sekuen peperangan di benteng Batavia tampil problematik. Benar tata artistik, semisal kostum dan properti persenjataan tampak solid. CGI yang dipakai menggambarkan ribuan manusia di medan laga pun nyaman dilihat. Poin mengganjal justru ketiadaan paparan taktik. Apa taktik Mataram, hingga Jan Pieterzoon Coen (Hans de Kraker) kaget, mempertanyakan dari mana mereka paham cara mengepung benteng? Kita hanya akan melihat serbuan acak yang terkesan asal gempur. Lalu apa sebab VOC berbalik unggul? Tidak ada perubahan taktik, kecuali mendadak beberapa orang, termasuk J.P. Coen, menembakkan senapan (yang anehnya, merupakan pengulangan adegan flashback sebelumnya). Atau karena menang jumlah? Sulit dipastikan, mengingat sepanjang sekuen, pasukan Mataram justru terlihat unggul kuantitas.

Setelah lokasi pindah ke hutan, baru peperangan lebih menarik. Satu-satunya momen berisi taktik jitu hadir di sini, sewaktu prajurit Mataram menggunakan otak, memanfaatkan alam guna memberi pukulan terbesar bagi VOC. Pada fase ini, ada tata kamera menarik berupa siluet berlatar belakang warna jingga dari nyala obor. Faozan Rizal memang ahli bermain bayangan. Contoh lain eksplorasi bayangan dalam sinematografi tersaji ketika ibunda Sultan Agung, Gusti Ratu Banowati (Christine Hakim) memberi petuah kepada sang anak. Suasana ruang remang-remang, sebagian wajah Christine maupun Marthino gelap, memunculkan keintiman nan khidmat.  

Kembali menuju keputusan kontroversial Sultan. Pernyataan jika perang ini bakal terasa dampaknya 100 tahun ke depan merupakan kunci. Saat itulah asumsi saya menjadi fakta, didukung oleh sekuen berikutnya, yang menegaskan mengapa kebesaran Sultan Agung perlu kita ketahui. Sultan memikirkan masa depan. Dia memupuk bibit generasi mendatang agar kelak dapat menuai perjuangan generasi kini, yang dengan terpaksa harus berkorban bertaruh nyawa. Masalahnya, hasil nyata siasat Sultan Ahanya ditaruh di teks sebelum credit akhir. Kita tak pernah melihatnya divisualisasikan. Itu kenapa, setelah 148 menit, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta terasa baru melaju separuh jalan. Tidak peduli seberapa mumpuni, separuh jalan tetaplah kurang utuh.

THE GIFT (2018)

Bagi banyak sutradara, mengarahkan Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Diyon Wiyoko, hingga Christine Hakim dalam satu film yang sepertiga bagian akhirnya bertempat di Italia merupakan kemewahan. Namun kita membicarakan Hanung Bramantyo. Baginya, menangani deretan nama besar serta setting luar negeri jadi hal biasa. Menjadi tidak biasa tatkala The Gift membawanya menarik rem dramatisasi, membiarkan musik mengalun secukupnya, dan menekan jumlah sekaligus intensitas tangisan. Rupanya setelah bertahun-tahun menerapkan pemahaman akan formula, Hanung masih menyimpan kepekaan bertutur. 


Berusaha menyelesaikan novel terbarunya, Tiana (Ayushita Nugraha) pindah ke Yogyakarta, menempati kamar kosong yang terletak di kediaman Harun (Reza Rahadian). Mengalami gangguan penglihatan dan masalah personal terkait keluarga membentuk Harun sebagai pribadi yang kurang ramah. Berbeda kondisi fisik, keduanya memiliki kesamaan, sama-sama terbiasa memandang dunia dari dalam kegelapan. Dibantu naskah buatan Ifan Ismail (Habibie & Ainun, Ayat-Ayat Cinta 2), Hanung mempresentasikan percintaan sebagai hasil kecocokan dua insan, membangun romantika dari interaksi yang tersusun atas dialog tajam nan menarik ketimbang eksploitasi momen manis.
Kali ini Hanung turut menggunakan simbolisme yang tersaji subtil nan mulus, bermain-main dengan metafora guna menyoroti sisi gelap serta sifat hubungan manusia. Gembok pemisah kamar Tiana dan Harun melambangkan sekat pembatas dua hati, sementara bahasan soal "penglihatan" yang kental mengisi sepanjang film tak hanya bermakna literal. Apakah Tiana dengan mata yang sempurna mampu melihat lebih jelas dibanding Harun? Ataukah kesempurnaan itu membuatnya terlena, melupakan sensitivitas lain termasuk perasaan? 

Dibekali kebebasan kentara memaksimalkan kualitas penyutradaraan Hanung. Hasil pengadeganannya penuh kreativitas yang memperkuat dinamika. Kamera bergerak lincah pun beberapa kali memanfaatkan pantulan cermin dengan puncak kebolehan menyusun mise-en-scène tersaji pada sebuah pertengkaran Harun dan Tiana, sedangkan karakter Simbok berdiri di kejauhan sambil merespon. Perpindahan rutin flashback ke masa kini pun bergerak rapi, saling menguatkan dan menyokong alih-alih mendistraksi. Tapi poin terbaiknya adalah penyusunan situasi dramatis. 
Musik garapan Charlie Meliala dibiarkan melantun merdu sebagai latar, bukan media manipulasi rasa. Bahkan mayoritas momen terkuat tampil di tengah kesunyian mencekat layaknya tragedi yang menghadang tiba-tiba tanpa bisa kita antisipasi. Penampilan para pemain ikut jadi tonggak. Baik selaku tuna netra maupun ketepatan ekspresi emosi, telah cukup mengingatkan penonton betapa Reza Rahadian merupakan aktor terbaik yang jauh meninggalkan generasinya di level berbeda. Ayushita mengimbangi lewat sensibilitas tinggi, dan bukan sebuah kejutan kala Christine Hakim sanggup merenggut hati walau cuma muncul beberapa menit. 

Sayangnya The Gift menurun saat menyentuh babak akhir, pasca memindahkan setting ke Italia seiring kehadiran Arie (Dion Wiyoko) mewarnai cinta segitiga, kemudian bertransformasi dari drama low-key menuju konflik penuh kebetulan yang bagai hasil kebingungan penulis menyusun konklusi. Belum lagi bumbu kejutan yang diharapkan mencengkeram emosi namun berakhir sebatas shock value akibat kurangnya fase pembangunan. The Gift bukan persembahan terbaik Hanung Bramantyo, tapi cukup menjadi bukti bahwa sang sutradara punya kapasitas lebih dari sekedar meramu tontonan sesuai pakem.

OFFICIAL TRAILER DAN POSTER "THE GIFT", KARYA BARU HANUNG BRAMANTYO

Mendengar nama Hanung Bramantyo, kemungkinan besar yang terlintas di benak kebanyakan dari kita adalah sutradara “film komersil”. Tidak sepenuhnya keliru. Hanung sendiri mengakui, sebagai seniman sekaligus pekerja industri, dia mesti bisa memilah, kapan harus membuat film yang ditujukan bagi penonton (baca: berorientasi keuntungan finansial), kapan bisa mengedepankan idealisme dan bertutur sebebas mungkin. The Gift, selaku karya ke-30 Hanung sepanjang 14 tahun karirnya sebagai sutradara, jelas masuk golongan yang disebut terakhir. Hanung sendiri menyatakan, bahwa inilah dirinya dalam kemerdekaan seutuhnya.

The Gift yang sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada Desember 2017 lalu ini bercerita tentang Tiana (Ayushita Nugraha), seorang novelis yang tinggal bersebelahan dengan Harun (Reza Rahadian), seorang lelaki dengan penglihatan tidak sempurna. Awalnya saling bertengkar, lama-kelamaan mereka mulai dekat, bahkan saling mencintai. Tiana belajar jika di balik ketidaksempurnaan Harun, justru banyak keindahan baru dalam hidup bisa ia temui. Sementara Harun menemukan sosok wanita yang bersedia menerima kekurangannya.

Menengok trailer-nya, langsung terasa peralihan gaya Hanung dibanding kebanyakan karyanya belakangan ini. The Gift tampak sebagai romantika sederhana berbalut pemaknaan kehidupan, yang alih-alih mempersenjatai diri dengan gempuran dramatisasi, memilih pendekatan kontemplatif. Walau baru nampak sekilas, pun Reza Rahadian menjanjikan performa meyakinkan nan alamiah sebagai pria tuna netra. “Damai dan cantik”. Mungkin itu kesan spontan yang saya dapat selama menyaksikan trailer The Gift, yang tentu saja saya harapkan juga muncul kala menyaksikan hasil akhir filmnya. Untuk merasakan kesan serupa, silahkan saksikan trailer-nya berikut ini, atau bisa dengan menunjungi kanal YouTube resmi “The Gift Movie ID”.


Dibintangi juga oleh Dion Wiyoko (Terbang: Menembus Langit), Christine Hakim (Kartini, Guru Bangsa Tjokroaminoto), Rukman Rosadi (Love for Sale, Arini), dan Annisa Hertami (Aach...Aku Jatuh Cinta, Soegija), The GIft akan tayang di bioskop mulai 24 Mei 2018.

BENYAMIN BIANG KEROK (2018)


Benyamin Biang Kerok adalah usaha modernisasi. Bukan saja menyesuaikan kemajuan zaman lewat bumbu fiksi ilmiah lewat kehadiran ragam peralatan canggih macam kepunyaan Ethan Hunt di Mission: Impossible hingga robot, pula terkait urusan moralitas masa kini. Pengki yang diperankan Reza Rahadian tak lagi gemar berkata “brengsek” atau minum bir. Bahkan motivasinya adalah membuktikan bisa menjadi pria berguna, juga membantu warga korban penggusuran alih-alih sekedar memuaskan ego pribadi. Haruskah semua “kelahiran kembali” legenda komedi dikemas begini? Dibuat sebagai blockbuster megah yang dipecah jadi dua bagian?

Keputusan membagi dua Benyamin Biang Kerok nyatanya memunculkan “penyakit lama” berupa ketiadaan klimaks, konklusi yang terpotong kasar, serta kurang bekembangnya berbagai poin alur, khususnya percintaan Pengki dengan Aida (Delia Husein), penyanyi ternama yang terperangkap dalam kekangan mafia bernama Said Toni Rojim (Qomar). Aida terganggu saat Pengki mengejar-ngejar dia, tapi beberapa menit kemudian hatinya mendadak luluh. Pengki yang di versi baru ini bukan lagi sopir melainkan anak manja putera pengusaha terkaya se-Indonesia, Nyak Mami (Meriam Bellina), memang mudah mendapatkan segala kemauannya. Bagaimana bisa terikat dengan karakter seperti itu?
Turut dilontarkan juga pesan-pesan bernada sindiran mengenai ragam isu, seperti penggusuran sampai praktik KKN di kalangan politikus serta pengusaha yang memang relevan dengan kondisi Jakarta/Betawi, yang mana merupakan identitas seorang Benyamin. Pesan yang tak memperoleh kesempatan bergulir lebih dalam sehingga berujung tempelan sambil lalu di antara parade komedi plus aksi berkonsep menarik tapi amat lemah di eksekusi. Hanung luput memberi hook dalam visualisasi tiap lelucon. Ibarat pertandingan sepak bola, Benyamin Biang Kerok adalah tim berkemampuan olah bola dasar mumpuni tanpa dibarengi efektivitas penyelesaian akhir. Sulit untuk memenangkan pertandingan.

Beruntung film ini punya Reza Rahadian dengan kemampuannya menyulap materi komedi medioker jadi senjata pemancing tawa yang cukup ampuh. Berkaca dari karakter Pengki di Biang Kerok versi 1972, Reza mampu tampil mirip dengan Benyamin, mulai suara termasuk cara tertawa dan bernyanyi, gestur jenaka, hingga gaya merengek yang bila di film asli membuat Nyonya Besar (Mak Wok) jengkel, kini memancing amarah Nyak Mami. Pun Reza sanggup menjadikan sederet adegan musikalnya terasa menyenangkan meski kerap kemunculannya kerap terganjal transisi kasar.
Terinspirasi film-film Bollywood—yang juga dijadikan “kiblat” film-film Benyamin dahulu—momen musikal Benyamin Biang Kerok diiringi lagu-lagu seperti Ondel-Ondel, Biang Kerok, Hujan Gerimis Aje, dan Nonton Bioskop yang diaransemen ulang, lebih kekinian tanpa harus melenceng dari esensi orisinalnya. Masalahnya ada di penempatan, yang daripada bertujuan melanjutkan atau mewakili rasa adegan sebelumnya, cenderung dipakai untuk menghabiskan stok lagu belaka. Bahkan “keserampangan” musikal Bollywood lebih tertata dari ini dipandang dari kesinambungan rasa. Tata artistiknya tergarap baik. Ada kemeriahan di sana, yang tidak pernah mampu ditangkap secara sempurna akibat pilihan-pilihan shot Hanung.

Layaknya produksi Falcon lain, production value film ini jelas kelas satu, yang akhirnya mendukung kemewahan momen-momen aksi kental teknologi mutakhir. Tapi keseruan gagal mencapai puncak, selain karena filmnya dipaksa berakhir sebelum menyentuh klimaks, juga disebabkan kurang piawainya Hanung meramu aksi absurd (dalam hal ini Anggy Umbara lebih baik). Benyamin Biang Kerok urung membuat saya kesal. Saya betah duduk manis selama 90 menit, tetapi selama 90 menit itu hanya ada pertunjukan sambil lalu. Kosong. This movie tried too hard to be everything but ended up as nothing. Benyamin S. adalah soal kekayaan warisan baik seni maupun kultural, sedangkan Benyamin Biang Kerok, jangankan warisan, meninggalkan kesan saja tidak mampu.

JOMBLO (2017)

Jomblo versi 2017 punya niat mengenalkan nama besar adaptasi novel berjudul sama buatan Adhitya Mulya pada generasi masa kini sembari tetap merangkul penggemar lama, salah satunya dengan mempertahankan Hanung Bramantyo di kursi penyutradaraan. Masalahnya, remake ini bak lupa alasan film aslinya disukai. Jomblo versi 2006 mewakili liku hidup remaja, khususnya mahasiswa yang diisi keliaran menyenangkan, dari menghisap ganja, mencoba seks, sampai merebut pacar sahabat. Poin terakhir dipertahankan, tapi secara keseluruhan lebih "jinak" (tentu empat protagonis bukan lagi perokok berat), hanya tertarik menertawakan kebodohan tingkah para jomblo mencari cinta.

Untuk sedikit melihat gambaran perbandingan dua versi, mari tengok lagu tema masing-masing. Versi lama memiliki BDG 19 OKT dengan petikan lirik "Segala yang kuberi, tak pernah berarti, berat terasa, habiskan darahku, menusuk tulangku, yang lelah" adalah nomor rock seputar curahan hati. Sedangkan remake-nya ditemani Jomblo dengan hook pada bagian "Masih betah jadi jomblo, Since Grow, Sampai kapan jadi jomblo, Since Grow" selaku hip hop nuansa modern yang lebih lugas dan playful. Intinya, didorong menyasar para milenial, Jomblo berusaha tampil (lebih) ringan yang sayangnya berujung simplifikasi kosong.
Empat tokoh utamanya masih sama, Agus (Ge Pamungkas) yang berambisi mengakhiri masa jomblo kala bertemu teman lamanya, Rita (Natasha Rizky), Bimo (Arie Kriting) yang menembak semua wanita, Doni (Richard Kyle) si playboy ganteng, dan Olip (Deva Mahenra) yang takut berkenalan dengan Asri (Aurelie Moeremans). Dari luar, kepribadian pula permasalahan tetap sama. Bedanya, walau konflik meninggi hingga mengancam jalannya persahabatan, kali ini sulit merasa terikat karena jarangnya momen kebersamaan. Benar mereka sempat nongkrong di kampus tetangga atau berlibur ke pantai bersama, tapi semua belum cukup kuat menggambarkan ikatan pertemanan. 

Agar peduli, penonton butuh keintiman, sebagaimana kala Bimo-nya Dennis Adhiswara tersenyum pilu sambil dipeluk tiga sahabatnya. Tanpanya, Jomblo begitu hampa rasa, tidak peduli berapa banyak air mata tumpah maupun seberapa keras pukulan Deva Mahenra ke pipi Richard Kyle ketika perselisihan memanas. Pun keputusan mempertahankan konklusi bittersweet turut nihil dampak. Satu-satunya perubahan positif dari naskah garapan Adhitya Mulya dan Ifan Ismail adalah menjadikan Olip bukan lagi creepy stalker, melainkan pria pemalu yang diakibatkan tekanan untuk selalu berhasil dari latarnya sebagai anak tentara. 
Sisi komedi tampil selaku penyelamat melalui sentuhan humor menghibur yang sesekali terjun ke ranah absurditas. Tapi penekanan terhadap komedi turut membawa efek negatif, yakni karakter utama yang sebatas karikatur ketimbang manusia nyata. Contohnya Ge Pamungkas. Meski ahli memainkan kekonyolan berlebihan, tapi kekonyolan itu pula yang mendorong Agus menjadi sosok komikal nan artificial belaka. Toh itu belum seberapa dibanding Richard Kyle yang bagaikan robot berperut six pack dengan pengucapan kalimat carut-marut. Deva tampil meyakinkan, sehingga patut disayangkan filmnya terlampau menyoroti Agus dan mengesampingkan Olip, padahal dialah tokoh paling kompleks.

Demi menyulut nostalgia, homage diselipkan, pun beberapa komponen film sebelumnya dipertahankan walau banyak di antaranya terkesan asal tempel. Misalnya penokohan Bimo, sebagai orang Papua yang lahir di Jogja. Mengapa tidak sekalian mengubahnya secara menyeluruh? Pilihan ini nihil substansi, tidak dipakai sebagai sumber humor, tidak pula disinggung lagi di kemudian waktu. Jomblo begitu berhasrat menjadi berbeda sampai kehilangan semangat aslinya, tetapi ingin juga mencuri perhatian penggemar lama tanpa memahami sisi yang mereka kagumi atau aspek mana yang perlu disertakan. Dalam usahanya merenggut atensi remaja milenial, Jomblo rupanya serupa sederet dari mereka yang mengalami krisis identitas.

SETERU (2017)

Dari sekian banyak "gejolak kawula muda" khususnya siswa SMA, tawuran termasuk tindakan paling bodoh. Kalau ditelusuri, fenomena tersebut bakal memancing studi menarik, sebutlah tumbuh kembang remaja, tendensi kekerasan, budaya konformitas, bullying, bahkan bisa ditarik sampai ke lingkup keluarga. Banyak poin dapat diamati, tapi jangan harap Seteru menghasilkan observasi hingga sedalam itu, sebab karya teranyar Hanung Bramantyo bersama co-director Seno Aji (dirilis seminggu pasca Kartini mungkin demi tertular momentumnya) sekaligus produk kampanye kebhinekaan dan anti tawuran dari Kementrian Pertahanan (Kemhan) ini hanya berniat menyerukan "tawuran itu keliru".

Bukan masalah. Sejak dulu film telah sering dipakai untuk media propaganda, promosi, atau iklan layanan masyarakat versi panjang. Lagipula pesan yang diusung baik. Terpenting, pesan itu tersampaikan, bahkan kalau bisa memberi dampak. Pelaku tawuran dalam Seteru adalah pelajar dua SMA di Yogyakarta, yakni Kesatuan Bangsa (berisi siswa kaya) dan Budi Pekerti (berisi siswa miskin). Permusuhan dipicu kematian siswa Budi Pekerti yang konon disebabkan oleh Kesatuan Bangsa. Sulitnya upaya perdamaian memaksa kedua sekolah menyerahkan pentolan tawuran masing-masing pada Letkol Rahmat (Mathias Muchus), Komandan Kodim setempat yang kemudian menyerahkan pembinaan pada Lettu Makbul (Alfie Alfandy). 
"Sasaran tembak" Seteru tentu para pelajar SMA yang terbagi jadi dua golongan: pelaku tawuran dan bukan pelaku tawuran. Golongan kedua akan mudah mengamini tuturan filmnya, tapi lain cerita dengan golongan pertama yang notabene target utama filmnya. Masalahnya, naskah karya Bagus Bramanti sekedar bertindak selaku pemberi nasihat eksternal, bagai orang tua atau guru tengah berpetuah tanpa coba memposisikan diri di frekuensi serupa lawan bicaranya. Terkesan dangkal pula menggampangkan resolusi, sehingga mudah membayangkan bila seorang siswa "berandalan" penyuka tawuran disuguhi film ini, dia seketika menjawab "tidak semudah itu, bro". 

Bukan berarti sama sekali nihil usaha mengetuk hati mereka. Konflik internal keluarga Martin (Bio One) dan Ridwan (Yusuf Mahardika) diharapkan mewakili masalah personal remaja. Namun presentasi soal harapan membanggakan orang tua berhenti di tatanan permukaan, sebab lagi-lagi mengubah pola pikir individu tak sesederhana itu. Sebelum ditawari gambaran ideal, seseorang perlu direnggut dahulu hatinya supaya ikhlas menerima arahan. Upaya menarik hati dilakukan melalui pemakaian futsal, yang mana kegiatan favorit mayoritas remaja, sebagai pemersatu. 
Hanung (selaku penggemar sepakbola) cukup piawai merangkai pertandingan menghibur. Tapi turnamen futsal justru memantik persoalan baru ketika Seteru jadi condong ke arah film olahraga hiburan. Praktis paruh kedua menenggelamkan usungan pesan akibat sequence futsal menekankan hiburan berupa gol demi gol ketimbang suguhan kerja sama tim. Ditambah lagi cuma Bio One dan Yusuf Mahardika yang tampak meyakinkan di atas lapangan, merenggangkan jarak keduanya dengan kawan-kawannya yang minim ciri pembeda. Paling hanya Dito (Dhemi Purwanto) lewat sisi komikalnya yang menonjol. Kalau ditelusuri lebih jauh pun, sulit menjabarkan detail penokohan keenam protagonis. Unsur perbedaan etnis siswa Budi Pekerti dan Kesatuan Bangsa pun berujung tempelan tak substansial. 

Seteru memang tidak subtil bertutur. Segala wejangan disampaikan gamblang, namun bisa diterima berkat penempatan tepat. Setting militernya memfasilitasi cara bertutur tersebut. Adalah wajar tatkala seorang Letkol berceramah panjang lebar seputar moral dan nilai persatuan bangsa. Awalnya saya pesimis akan pemilihan tempaan berat militer sebagai jalan pembentuk disiplin, sebelum filmnya menunjukkan kalau hal terpenting bukan fisik atau bentakan yang selalu diteriakkan Lettu Makbul semata, pula hati dan rasa. Alfie Alfandy sendiri meyakinkan sebagai sosok tentara keras meski kala tokohnya melunak, transformasinya berjalan kurang mulus, sebagaimana transformasi terlalu instan dua kubu protagonis dari lawan menjadi kawan. Setidaknya kematangan Hanung berhasil menjaga jalannya alur tetap nyaman diikuti. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics