AIB: #CYBERBULLY (2018)

1 komentar
Masalah Aib: #Cyberbully bukan pemakaian konsep found footage berbasis Skype serupa Unfriended (2014). Konsep sama tidak berarti menjiplak selama elemen-elemen di dalamnya berbeda. Searching yang bakal rilis bulan ini pun mengusung gaya setipe. Masalah timbul bagi Aib: #Cyberbully ketika terdapat kesamaan di berbagai detail dengan film garapan Levan Gabriadze tersebut. #JanganDianggapRemeh, demikian bunyi hashtag perihal perundungan di internet yang coba film ini populerkan. Tapi sepertinya, Amar Mukhi selaku sutradara, penulis naskah, sekaligus produser, menganggap remeh plagiarisme.

Pertama, mari bicarakan premisnya. Tujuh orang sahabat dihubungi via Skype oleh teman mereka, Caca (Ade Ayu), yang beberapa tahun lalu, semasa SMA, meninggal bunuh diri setelah tertekan akibat berita pemerkosaan terhadapnya disebarkan di situs sekolah. Pelakunya salah satu dari mereka bertujuh. Arwah Caca pun melibatkan mereka dalam permainan maut untuk mengungkap aib diri sendiri, teman, dan keluarga. Menolak berarti mati. Permainan itulah yang mendorong mereka “saling tusuk” satu sama lain. Unfriended, punya kisah serupa. Bedanya, karakternya memainkan “Never Have I Ever”, yang intinya juga soal membuka rahasia.

Sekarang karakternya. Ada sepasang kekasih, Sarah (Yuniza Icha) dan Antoni (Harris Illano) yang mengawali obrolan. Apabila pasangan di Unfrieded berniat melepas keperjakaan di malam prom, Sarah dan Antoni hendak melakukan cybersex, yang berjalan terlalu lama (lebih dari 5 menit), sampai saya merasa sedang menyaksikan rekaman tindak mesum remaja di Camfrog yang bocor. Pun di kedua film sama-sama ada karakter bertubuh tambun yang jago mengoperasikan komputer. Kemiripannya terus bertambah, tapi jika saya lanjutkan, ulasan ini akan menjadi checklist.

Menariknya, di luar kemiripan (baca: plagiarisme) itu, pasca kecanggungan tanpa henti “rekaman Camfrog” tersebut, Aib: #Cyberbully ternyata merupakan tontonan intens. Benar bahwa tersimpan kelemahan aspek teknis, semisal judul rekaman bunuh diri Caca yang berbunyi “Girl Committed Suicide in Hostel in Bihar”,  yang video aslinya akan mudah anda temukan di Google. Kelalaian yang semestinya tak terjadi mengingat ukuran judul itu cukup besar mengisi layar. Selain itu, pertukaran dialog, pertengkaran, yang membawa kita menuju terungkapnya satu per satu aib yang mayoritas datang dari video yang mereka bagikan di Facebook, dituturkan secara dinamis.

Aib yang dibagikan tidak beranjak dari seputaran melacurkan diri, perselingkuhan, seks antar teman, hingga LGBT. Hal-hal itu memang paling mudah dijadikan kambing hitam, yang membantu kebuntuan ide penulis naskahnya. Untunglah proses menuju terbongkarnya tiap aib cukup seru, pun mampu menjaga atensi. Bahkan secara mengejutkan, film ini tidak preachy terkait penuturan pesan sosialnya. Tidak ada petuah berulang soal larangan cyberbully. Tanpa banyak berceramah, filmnya langsung menghadirkan konsekuensi atas tindakan tersebut.

Pun Amar Mukhi cukup baik mengeksplorasi kesemuan persahabatan remaja melalui kisahnya. Mereka bertujuh mendeklarasikan “Sahabat selamanya!”, tapi tak butuh waktu lama untuk saling serang, saling menyalahkan, saling membuka rahasia kelam. Seiring permainan berjalan, semakin kentara bahwa karakternya melakukan itu bukan demi bertahan hidup dalam permainan maut Caca, melainkan didorong amarah serta hasrat balas dendam. Sayang, naskahnya lemah soal penulisan dialog. Pertengkaran pun berkutat tidak jauh-jauh dari kata-kata seperti “anjing”, “bangsat”, dan umpatan klise lain. Hal ini diperparah oleh akting monoton jajaran cast, yang sekedar berteriak di volume tertinggi. Memasuki pertengahan, telinga saya semakin lelah mendengar histeria itu.

Kalau Unfriended mengandung adegan memorable saat salah satu tokoh tewas karena blender, maka Aib: #Cyberbully punya...well, saya tidak tahu apa yang terjadi. Dicekoki tuts keyboard? Tertusuk tuts keyboard? Sudut pengambilan gambarnya tak membantu. Sebagai cara menjangkau penonton lebih luas, film ini bukan saja mengandalkan pembantaian, juga formula jump scare sebagaimana biasa, yang sayangnya, gagal tampil mengerikan akibat riasan pula metode kemunculan hantu yang begitu ala kadarnya.

Ditambah lagi, jika Aib: #Cyberbully memang ingin meniru Unfriended, ada satu poin penting yang dilupakan, yakni tidak munculnya sosok hantu, bahkan lewat foto profil Skype sekalipun. Hal itu menghasilkan tensi dari ketakutan atas teror tak terlihat, sekaligus misteri seputar kebenaran teror itu—sebatas prank orang usil atau aksi hantu—yang diungkap secara bertahap. Walau harus diakui, di samping berbagai kekurangannya,  Aib: #Cyberbully masih cukup menghibur. Namun saya tidak bisa memberikan nilai positif terhadap film yang terang-terangan meniru karya lain, tidak peduli seberapa bagus hasilnya. Sebab urusan orisinalitas #JanganDianggapRemeh.

1 komentar :

Comment Page:
Aliando Bae mengatakan...

Dari trailer nya saja udh gak tertarik apalagi ceritanya mirip film barat itu mangkin gak semangat ditambah banyak film bagus yg lain lagi tayang jadi tambah deh.