SEBELUM IBLIS MENJEMPUT (2018)

50 komentar
Kenapa kualitas horor lokal tak berbanding lurus seiring dengan peningkatan kuantitasnya belakangan? Kemungkinan besar karena mayoritas pembuatnya, meski sering menonton horor (who doesn’t?), tidak menaruh rasa cinta terhadapnya, sehingga kurang memahami seluk beluknya akibat miskin referensi. Sebab horor sendiri beraneka ragam cabangnya. Dari trashy sampai artsy, dari slasher sampai supranatural. Selain Joko Anwar yang sudah kita saksikan pembuktiannya lewat Pengabdi Setan, ada Timo Tjahjanto yang sebelumnya mempersembahkan Rumah Dara (sebagai Mo Brothers bersama Kimo Stamboel) juga Safe Haven (berduet dengan Gareth Evans) selaku segmen dalam antologi V/H/S/2 (2013).

Harapan publik, termasuk saya, kepada karya terbaru Timo, Sebelum Iblis Menjemput, luar biasa besar. Apalagi setelah menanti hampir setahun, belum ada horor lokal mumpuni penerus prestasi Pengabdi Setan. Sebelum Iblis Menjemput dibuat atas dasar kekaguman Timo atas Sam Raimi, khususnya trilogi Evil Dead. Teror datang dari entitas jahat yang merasuki manusia, mengubah mereka jadi makhluk buas seperti Deadite, lengkap dengan riasan serupa (plus sedikit pengaruh dari Pazuzu-nya The Exorcist?), yang pada salah satu serangannya, melompat dalam balutan POV shot sebagaimana gemar dipakai Raimi.

Ceritanya masih memakai formula “cabin in the wood”, tapi alih-alih sekelompok remaja penuh hasrat, tokohnya terdiri atas anggota keluarga disfungsional. Ketika Lesmana (Ray Sahetapy), mantan pengusaha sukses yang telah bangkrut terbaring di rumah sakit akibat penyakit misterius, puteri dari pernikahan pertamanya, Alfie (Chelsea Islan) terpaksa kembali pulang. Alfie masih terluka karena dahulu Lesmana meninggalkan ia dan ibunya, yang kemudian tewas bunuh diri, untuk menikahi artis ternama, Laksmi (Karina Suwandi). Pernikahan kedua ini memberi Lesmana tiga buah hati: Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan si bungsu Nara (Hadijah Shahab).

Berniat menguasai harta sang suami, Laksmi mengajak ketiga anaknya mengunjungi vila milik Lesmana guna mencari barang berharga yang bisa “diamankan”. Tapi mereka, termasuk Alfie yang datang karena enggan membiarkan Laksmi berbuat seenaknya, justru menemukan rahasia mengerikan serta teror mematikan yang disembunyikan sang ayah. Jangan berharap rekonsiliasi emosional di antara mereka. Melalui Sebelum Iblis Menjemput, Timo hanya ingin memindahkan neraka dan segala isinya ke dunia manusia. Menghadirkan kengerian audiovisual merupakan tujuan tunggal film ini.

Departemen audio, selain lagu bernuansa lawas berjudul Hampa, diisi scoring karya Fajar Yuskemal (The Raid, Killers) yang mengkombinasikan denting piano ritmis bernada tinggi di satu kesempatan, dengan bunyi synth yang memunculkan kesan serupa music score era 70-80an macam Tubular Bells (lagu tema The Exorcist) di kesempatan lain. Tidak heran, sebab sengaja atau tidak, Sebelum Iblis Menjemput juga mengingatkan pada film buatan William Friedkin itu. Apabila Friedkin sesekali menyelipkan “wajah iblis” secara sembunyi-sembunyi, Timo pun sempat memasukkan sekilas penampakan yang mungkin penonton lewatkan (hint: Chelsea Islan dan bus).

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan seputar film ini tentu terkait kadar gore. Sebab berkat itulah karya Timo banyak digandrungi pecinta horor. Sebelum Iblis Menjemput boleh tidak seeksplisit Rumah Dara, pun tak menumpahkan darah sebanyak itu, namun cukup untuk membuat anda meringis ngeri sambil menutup mata. Beberapa elemen gore juga berfungsi melengkapi jump scare, yang Timo kemas agar tidak asal mengageti, pula berdampak. Saat iblis menyeret tubuh karakternya, kita melihat kuku-kuku si karakter terlepas, berdarah, sebagai akibat usaha melarikan diri. Iblis muncul bukan cuma untuk “setor muka”, melainkan ada usaha nyata mendatangkan maut bagi korbannya.

Timo, seperti sutradara horor bertalenta lain, pandai memainkan ekspektasi. Salah satu sekuen paling menegangkan, melibatkan Nara di kamar tidur. Timo paham kapan penonton menduga jump scare bakal menyerbu. Berbekal itu, saya dipaksa menahan nafas, terombang-ambing di tengah penantian tidak pasti, sambil secara perlahan, dibarengi keheningan, wajah asli teror diungkap. Sedangkan alur berjalan penuh kesabaran, terkadang pelan, tetapi tak pernah melepakan cengkeraman berkat ketelatenan Timo, yang turut menulis naskahnya, menjabarkan poin-poin kisah secara bertahap. Pemilihan timing-nya tepat, kapan mesti menggeber kengerian, kapan mesti berhenti sejenak guna bernarasi. Begitu teror diluncurkan, hadrilah pertunjukan mengenai cara memacu adrenalin berbekal kekacauan situasi.

Pujian wajib diberikan untuk tiga pemeran wanitanya. Berkat mereka, “Neraka Dunia” ciptaan Timo tampak meyakinkan. Chelsea Islan akhirnya menemukan film yang sempurna memfasilitasi gaya aktingnya, yang acap kali terkesan berlebihan di berbagai drama. Di sini luapan emosinya sesuai dengan kengerian yang karakternya hadapi. Pevita, walau belum sekuat rekannya, mampu mengangkat tensi klimaks di mana sosok Maya berperan besar. Walau menyaksikan keduanya berbagi layar bagai impian yang jadi kenyataan, Karina Suwandi muncul sebagai kekuatan tak terduga. Sang aktris menggila, bak pelayan buas Bafomet yang bertugas mengacaukan seisi dunia.

Kelemahan Sebelum Iblis Menjemput terletak di third act yang gagal menandingi dinamika parade teror sebelumnya. Timo menolak menginjak pedal gas lebih kencang, menjadikannya terkesan diulur. Lagipula, durasi 110 menit bagi horor berskala kecil macam ini memang agak terlalu lama, ketika 90an menit saja rasanya cukup. Bukan berarti klimaksnya buruk. Adegan-adegan yang muncul sebelumnya lah yang levelnya sukar dikejar. Sama seperti keseluruhan filmnya, yang meneruskan tongkat estafet dari Pengabdi Setan untuk menempatkan standar tinggi terhdap film horor Indonesia. Semoga tidak perlu menunggu satu tahun lagi sampai judul memikat berikutnya menjemput.  

50 komentar :

Comment Page:
jefry punya cerita mengatakan...

Kalau dibandingkan dengan pengabdi setan, bagus mana bang?

Warna Tekno mengatakan...

wah. mengalahkan tafir: bersekutu dgn ketan ya?

Aliando Bae mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Aliando Bae mengatakan...

Asyik ada lagi film horot berkualitas setelah kafir yg menurut saya tdk mengecewakan krn ada di jalur horor yg tepat, kini iblis menjemput... Next ada sesat yg menjanjikan juga.. Kalo gentayangan kok ragu ya...

Heru Pramono mengatakan...

Penasarannnnnnnn... 😣😣😣

Zamal mengatakan...

Kafir..dan sebelum iblis menjemput 22nya udah nnton..untuk saya pribadi lbh ngena film kafir..dri segi cerita dan intensitas..p dpat saya ga tau slah atau benar..nnti mas rasyid mungkin bsa mnjlaskanya..perihal SIM ..ntah knapa ya ..saya ga bsa trikat d crita filmnya ..ada rasa hambar ..bner ga bang rasyid?

hilpans mengatakan...

Penasaran ama penjiwaan chelsea.dfilm ini.Juara bnegt ya aktingny Chelsea...berarti lebih baik dr film2 sbelumny doi dund kyk street society ato headshoot dunks

Rasyidharry mengatakan...

@Jefry Pengabdi Setan. Elemen drama di naskah lebih kuat, which is bonus buat film horor, bukan kewajiban.

@Warna Jauh 😁

@Aliando Nggak berharap banyak ke Sesat. Sutradaranya belum terbukti di horor, tapi berharap yang terbaik. Kalau Gentayangan, expect b-movie aja, kayak yang sutradaranya biasa bikin di India dulu.

@Zamal Soal intensitas, jauh lebih pilih SIM. Cerita, kayak udah disebut, Timo emang nggak ada intensi tekanin ke family value.

@hilpans Lebih tepatnya, dapet film yang pas. Macam di 3 Srikandi dulu yang karakternya cocok sama gaya aktingnya.

Anonim mengatakan...

Mas Rasyid, cerita di film Sebelum Iblis Menjemput gak ambigu atau menggantung kan?
Penasaran banget sama akting para cast film ini.

Gentayangan kayaknya biasa aja, tapi yang paling gw sebel itu pas diputar trailernya di bioskop soundnya benar2 membunuh telinga, bikin pekak.

jefry punya cerita mengatakan...

Sesat kalo liat trailer nya bikin ragu, tapi kalo liat nama sammaria bikin penasaran. Apalagi dia pernah bikin genre film yg beda seperti dari fiksi Ke demi ucok. Ada sedikit harapan lah. Btw bukannya sebelum iblis menjemput itu resmi tayang 9 agustus ya bang? Biasanya mo brothers nyaman di thriller

Zamal mengatakan...

Di kota2 piligan bnyak acara nobar with cast ..termasuk di bandung kemarin..mkanya bsa nntn dluan

Rasyidharry mengatakan...

@jefry Sammaria itu Cin(t)a, Fiksi Mouly Surya. 2 film dia romance & komedi, baru pertama ini masuk ke horor makanya masih hati-hati ekspektasi. Kalau Timo emang passion ke "film genre", jadi horor/thriller jago.

Jackman mengatakan...

Sengaja ga mau baca sinopsis nya
Langsung baca 2 paragraph terakhir aja. Hehehe...

Ga sabar banget nunggu ini film. Waktu premiere di Plaza Indonesia ga sempet dateng soalnya.
Lagipula duet Chelsea dan pevita ga mungkin saya lewatkan.

Kira2 lebih bagus ini atau Pengabdi Setan min?
Soalnya ada yang bilang lebih oke SIM.

Rasyidharry mengatakan...

@Jackman Oh yeah, ngelihat mereka berdua di satu frame, walaupun nggak ngapa-ngapain, itu dreams come true hehe.

PS is slightly better. Semakin banyak horor muncul, makin kagum sama PS dan sadar kalau level Joko Anwar dibanding sineas lokal lain udah jauh.

nasrullah sr mengatakan...

Fix, mungkin ini masuk film Indonesia kedua yg gue tonton di bioskop tahun ini.

Warna Tekno mengatakan...

berikutnya giliran Kimo yg menggarap Dreadout...

Heru Pramono mengatakan...

Baru kelar nonton. Filmnya gokil. Perempuan-perempuan sinting yang kayak beneran dirasuki iblis. Haha.

Laksmi aka Karina Suwandi adalah sekejam-kejamnya ibu tiri. Ibu tirinya Cinderella aja nggak sampe melet2in lidah gitu. πŸ˜ƒ

Andai aja yang jadi tokoh Lili itu Tatjana Saphira, sehingga satu layar bareng Chelsea dan Pevita. πŸ˜‚

Yoan Heavensbee mengatakan...

Saya juga lebih suka Kafir gan. Lebih rapi penceritaannya dari awal. Kalo SIM cuma nampilin betapa ngerinya villa itu. Masa adeknya yg teriak2 sampe kasurnya kebanting2 kakak2nya pada ga denger.

Rahmad Putra mengatakan...

Kok cuman "serem" di tengah ya πŸ˜‚. Semakin ke ending film semakin berkurang "serem"nya.

Gapapa yang penting mata adem dapet fanservice chelsea islan di akhir film πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

jefry punya cerita mengatakan...

Kok saya merasa kelemahan film ini terletak di pevita & adik kecilnya hahaha. Bener banget bang, timo di ending kurang nge-gas full padahal awalnya udah kebut kebutan. Karina suwandi gak nyangka. Dan harus jujur film ini lebih menegangkan daripada pengabdi setan hehehe

Surya AS mengatakan...

Bang lagu ost film ini apa yaa? Yg muncul du awal sama akhir film itu? Penasaran habis nonton lagunya bagus soalnyaa

Ricky Manurung mengatakan...

Lope lope buat akting Chelsea Islan yg bikin mulut sy mangap sepanjang film...emamg ngehe!!!

Panca Sona mengatakan...

SIM terrornya gila sih..mencengkram.. Salut sama Karina dan Chelsea. Tapi pendapat saya pribadi PS masih tetap unggul walau tanpa Gore dan Penampakan Iblis. Kekuatan PS adalah drama lebih mengena dan terror pun mencekam. Cukup ada Ibu aja udah bikin merinding dan susah tidur. :D

Lusiana Tawaang mengatakan...

SIM menururut saya ceritanya lebih clear dibanding PS yang menebar teka teki. walaupun tetap memorable scene saya untuk PS *pocong di jendela*. Sempat berekspektasi bahwa kadar gore akan lebih tinggi mengingat seorang mas timo tapi disini agak dikurangi which is mungkin karena gak ada mas kimo stamboel. Chelsea makin keren aktingnya setelah di headshot dan Pevita dari track record filmnya yang drama menurut saya lumayan menunjukkan performa baik di SIM. Scene favorit saya justru saat di rumah sakit. Unpredictable untuk Karina, awalnya smpt ketawa2 sama temen mengingat Karina dlu pernah main di Warkop. Saya masih mengharapkan horror-horror mencekam yang akan keluar sehabis SIM, PS, dan Kafir tapi dengan tone serta formula yang kalau bisa berbeda daripada ketiganya.

Aliando Bae mengatakan...

Suka sekali sampe lemes ni badan abis nonton nya.. Adegan ibu kemasukan iblis juara...

Rasyidharry mengatakan...

@nasrullah Oh Wajib!

@Warna Yeah, can't wait for that one too. Waktunya pembuktian Kimo.

@Heruu Yes, apalagi Karina Suwandi. Nggak pakai pemeran pengganti pula. Gil!

@Yoan Karena SIM emang nggak berniat pasang cerita. Beda sama Kafir, yang lebih concern ke cerita, walaupun naskah bagusnya Upi gagal ditransfer karena directing-nya ambyar.

@Rahmad Ya udah dibahas di atas. Timo kehabisan tenaga. Terlanjur gaspol dari awal.

@jefry Pevita not bad, masalahnya, "lawan" dia Chelsea & Karina yang jelas jauh lebih oke.

@Surya Judulnya "Hampa". Lupa penyanyinya siapa.

@Panca True. PS itu kayak hal-hal bagus di Kafir+SIM campur jadi satu.

@Lusiana Karena sekali lagi, SIM emang nggak bermaksud kasih cerita kompleks. Soal gore, karena Timo tahu dia lagi bikin film komersil. Makin sadis makin susah dapet rating.

Lusiana Tawaang mengatakan...

Saya sempet mikir soal rating juga mas rasyid, haha tetep ujungnya pasti akan ngarah ke komersil. Gila banget sih Karina gak pakai pemeran pengganti.
SPOILER : klimaks one by onenya juga kurang greget menurut saya.
Setelah terpuaskan sama mas Timo saya tetap ga sabar menunggu DreadOutnya mas Kimo.

Heru Pramono mengatakan...

Spoiler


Pas adegan Maya ketemu Lili di mobil, itu kan Maya dialog 'bilang apa?' sampe 3 kali klo gak salah. Itu maksudnya apaan sih? Karena dia nggak denger yg diucapin Lili?

Trus rambut yg dikasih Lesmana sblm bunuh si perempuan, itu rambutnya siapa ya? Laksmi, kah? Terus si perempuan nelen itu rambut sebelum mati padahal sebelumnya bilang ke Lesmana "Kamu mau coba main2". Kirain itu rambut nggak penting krna bukan yg diminta.

Rasyidharry mengatakan...

@Lusiana Nah itu, udah belajar dari Rumah Dara. Silahkan bikin segila mungkin, tapi kalau mau karir awet juga kudu sesekali bisa balance ke komersil. Ya semoga Dreadout bagus & sukses, biar di mata awam Kimo bukan lagi cuma "Mo Brothers yang satunya lagi".

@Heru Kalimat Maya ya nggak ada maksud apa pun. Namanya juga udah setengah sadar. Agak lupa soal detail rambut, tapi yang jelas itu bukan punya Alfie kayak yang diminta. Rambug Laksmi itu yang pertama, makanya dia jadi tumbal.

Arif Hidayat mengatakan...

SPOILER ALERT!!

Kalau ngga salah, si herman ngasih rambut sama si dukun, eh ternyata rambut itu bukan yg diinginkan oleh si dukun. Lalu si herman menyerang si dukun. Si dukun menarik rambut Herman hingga terdapat cakaran di kepalanya.

Si dukun memasukan rambut Herman ke dalam kertas dan menelannya.

Si dukun tertawa dan bersumpah bahwa Herman akan bangkrut suatu saat nanti.

Surya AS mengatakan...

Makasi bangg buat judulnyaa

Satria Wibawa mengatakan...

Ga nyangka sama akting karina suwandi ,salut !
Agak berbau2 drag me to hell juga sih ya ala film2 horror kelas B
menurutku ini film horror indonesia terbaik tahun ini deh setelah tahun kemaren dipegang pengabdi setan .

Rasyidharry mengatakan...

@Arif Ah yes, itu detailnya. Thanks!

@Satria Ya Timo emang cinta Sam Raimi, dari trilogi Evil Dead sampai Drag Me to Hell. Malah dia nggak masalah kalau ada yang bilang rip-off. Oh ya, easily this year's best. Saingan terdekat ya cuma Kafir.

jefry punya cerita mengatakan...

Perkiraan bang rasyid, bisa sampe tembus berapa nih penonton?

Heru Pramono mengatakan...

Thanks. Iya baru inget. Haha. Tapi bukan Herman deh namanya, Lesmana. Herman bapak di film Kafir bukan.

Rasyidharry mengatakan...

@Jefry Hari pertama 60an ribu, kalau WoM bagus, Minggu malem bisa 250-300 ribu. I'm not an expert box office analyst, tapi bisa sekitar 800 ribu. Kalau WoM terus jalan positif, 1 juta nggak mustahil. Pengabdi Setan dari 95 ribu aja tembus 4 juta.

Heru Pramono mengatakan...

Gak rela klo SIM peraihan penontonnya gak bisa ngalahin Rasuk atau Sabrina. Soalnya SIM kurang apa lagi bagi penonton Indonesia? Jump scares, hantu muncul mulu, musik, darah, semua yg disukai kebanyakan penonton horror ada di situ. Yakali 2 jt aja nggak nyampe. Haha.

Rahmad Putra mengatakan...

Di kesunyian malam ini~

Rasyidharry mengatakan...

@Heru Rasuk & Sabrina udah jadi brand. Rasuk kan novel Risa, jadi fasnya, dan sebagian fans Danur pasti nonton. Sabrina jelas, spin-off The Doll yang laku. Penonton udah tahu bakal dapet tontonan seperti apa. Buat yang awam, belum kenal karya Timo, SIM tetep macam beli kucing dalam karung. Makanya tergantung WoM. Kita tunggu Minggu malem. Baru bisa prediksi dari situ.

Mochamad Fauzi Clementi mengatakan...

Spoiler!

Maaf bang mau nanya kenapa Maya nyium Ruben? Asli gk ngerti knpa hrus ada scene itu? haha :v

Panca Sona mengatakan...

Ngomongin jumlah penonton, saya cek di filmindonesia.or.id sudah 270ribuan dan saya yakin terus bertambah pastinya, feeling saya sampe sih 1 jutaan.
Berdasarkan filmindonesia.or.id 15 besar film indonesia sudah makin bertambah peminatnya,seperti dibaru pertengahan 2018, posisi 15 besar sudah diatas 500ribu penonton. Walaupun filmnya ada beberapa yg meh.. :D
cmiiw

Tapi untuk SIM ga ada dorongan untuk 2x nonton walaupun bagus, mungkin karena baru sekali nonton langsung terjawab dan tidak ada kebingungan seperti nonton PS yg mengajak saya nonton 2x.

Rasyidharry mengatakan...

@Mochamad Namanya juga udah dijemput iblis :D

@Panca SIM itu kalau dihitung progres harian, nggak jauh sama Kafir. Sedikit di atasnya. WoM lebih positif. Kalau dari fakta itu dihitung kasar, Kafir 10 hari 519 rb, SIM nanti mungkin 550-600 ribu. Bakal mentok di 800-900. Tambah sedikit keajaiban baru bisa sejuta. Inget, 270 itu karena weekend (berarti Sabtu & Minggu masing-masing sekitar 100-110 ribu).

Ya di situ kurangnya, karena nggak mancing pertanyaan & diskusi, dorongan nonton lagi nggak besar.

Reza Deni Saputra mengatakan...

Spoiler: bang mau tanya, itu adegan di scene akhir yang chelsea di dalam tanah sama mayat penyihirnya kan posisinya masih di basement ya, tapi kok kesannya kayak di luar ruangan yaa bang? Mana ujan terus juga airnya banyak bgt? Itu air turun darimana yaakk? Sama satu hal yg aneh ketika si pevita bunuh ibunya pake senter, menurut gue itu gak konsisten. Secara si chelsea udah hantem pake palu tapi gak mati, tapi ini pake senter malah mati yaa? Overalll, 2018 seenggaknya ada dua horror yg patut diperhitungkan hehe

Rasyidharry mengatakan...

@Reza Itu sih kayaknya pilihan artistik Timo aja buat kesan dramatis & homage ke Drag me to Hell. Nggak masuk akal? Yes, tapi di horor mistis yang (bisa) main di ranah antar-dimensi, masih halal. Soal pukul pake palu & senter juga nggak terlalu ambil pusing. Selain karena pukul pake senternya berkali-kali, hal di luar nalar dalam "film genre" apalagi horor, selama berhasil bikin suasa dramatis dan/atau intens, masih boleh :)

jefry punya cerita mengatakan...

Kafir sayang banget gagal tembus top 15, coba ending nya nampol minimal kayak SIM, mungkin bisa disejajarkan sama PS. Tapi emang harus jujur, biarpun SIM lebih bikin jantungan daripada PS, tapi PS masih yg terbaik. Untuk saat ini belum ada film horor yg bikin penontonnya terikat sama karakter pemainnya, si kecil adhiyat berhasil bikin simpati penonton. Dan tema nya pun beda 'sekte kesuburan'

Eldwin Muhammad mengatakan...

Sedikit ralat, Maya dan Ruben bukan anaknya Lesmana. Jadi sebelum menikah dengan Lesmana, Laksmi udah punya 2 anak. Nara baru anaknya Laksmi dengan Lesmana.

Rasyidharry mengatakan...

@jefry Memang nggak berekspektasi Kafir bakal tinggi penontonnya. Bukan tipe horor "semua kalangan". Oh jelas, Pengabdi Setan unggul semua sisi, naskah, teror, akting, tata artistik, dsb.

@Eldwin Aware of that. Kan tetep bisa disebut "anaknya Lesmana" :)

Novi Damayanti mengatakan...

Kalau dibandingin sama PS,plot dan naskah jelas lebih unggul,teror secara psikologis lebih kuat di PS.Tapi entah kenapa saya jauh lebih ketakutan setelah menonton SIM.Saya kangen banget sih karya dari MO brothers ini,sejak Killers.Karena menurut saya mereka adalah sutradara indonesia yang berani brutal terutama Timo Tjahjanto.Saya suka banget dengan konsep sinting dia mulai dari Rumah dara,Libido,dan of course safe haven.Dan saya berharap SIM bakalan sinting juga.Akhirnya setelah nonton,meskipun konsepnya tidam terlalu sinting,tapi pengeksekusianya luar biasa brutal,bisa dibilang evil dead versi indonesia.Adegan subtil namun mengganggu juga dihadirkan ketika maya melakukan incest kiss ke ruben dan itu bikin saya terpukau dan tetep memuaskan saya.Satu-satunya horror tahun ini yang bisa membuat saya stress gak karuan setelah hereditary.Semoga Kimo dengan Dreadoutnya juga sesukses ini,tapi untuk segi finansial pastinya SIM kebantu dengan nama chelsea islan dan pevpearce wkwk.

Rasyidharry mengatakan...

@Novi Bisa dipahami itu, SIM lebih frontal dan non-stop kasih terornya. Tergantung preferensi & ketakutan personal kalau ini. Dreadout juga kemungkinan sukses finansialnya lumayan besar. Ada Jefri Nichol soalnya

yusuf billy mengatakan...

Barusan semalam nonton.. Ga menngecewakan...kekurabgannya hanya di akur cerita yang kurang kuat dalam ngiket penonton... Untuk keseramannya 5 jempol deh... Walau ada beberapa bagian yang mirip evil dead contohnya yang adegan muntah darah di wajah orang lain....
Layak ditonton....