CINTA SAMA DENGAN CINDOLO NA TAPE (2018)

4 komentar
Cinta Sama dengan Cindolo na Tape adalah tontonan membingungkan, canggung, layaknya pertemuan dengan gebetan yang berujung kekacauan, grogi, tidak tahu mesti berkata apa. Akhirnya untuk menyampaikan maksud sederhana pun sulit, hanya bisa meracau, bicara tidak keruan. Seperti film ini, yang bermaksud menyampaikan perihal sederhana, bahwa cinta serupa cendol dan tape, walau manis di awal akan basi kalau dibiarkan terlalu lama, tapi terbata-bata akibat terjebak dalam narasi tanpa arah pasti.

Film ini melanjutkan kisah film pendek berjudul sama karya Rusmin Nuryadin (kini menjadi penulis naskah) yang beberapa tahun lalu “meledak” di Makassar. Dua sahabat, Timi (A Thesar Resandy) dan Ian (Brilian Rexy Sondakh), yang di film pendeknya masih siswa SMP, sekarang telah duduk di bangku SMA. Hubungan mereka merenggang setelah Timi merasa mendapat pengaruh buruk dari Ian, yang gemar membolos, malas belajar, dan bergaul dengan berandalan. Singkatnya, Timi ingin bertobat. Sampai datang Cinde (Maizura), siswi pindahan dari Jakarta, yang seketika merenggut hati Timi, pun sebaliknya.

Ian menganggap kehadiran Cinde membuat Timi melupakannya. Dia bingung, mengapa kawan lamanya menjauh. Ian tidak sendiri. Saya pun bingung, kesulitan memahami jalan pikiran atau motivasi perbuatan semua karakternya. Ambil satu adegan sebagai contoh. Ian mendatangi Cinde, mencurahkan kekesalannya soal perubahan Timi. Cinde mengamini. Namun ketika Cinde coba menenangkan, Ian tersinggung, merasa si gadis malah membela Timi. Lalu Ian pergi sambil tetap mengomel, memaksa Cinde mengaku kalau sebenarnya ia menyukai Timi. Apa ada cinta segitiga di sini? Tersirat demikian di satu kesempatan, hanya untuk dibantah di kesempatan lain.

Semakin membingungkan, selain akibat naskahnya, juga karena ketidakmampuan sutradara Andi Burhamzah bertutur lewat visual dalam debutnya ini. Konon, diam punya jutaan arti, tapi Cinta Sama dengan Cindolo na Tape membuatnya jadi milyaran alias gagal memberi titik terang. Kesubtilan bisa berujung baik. Artinya sang pencerita menghargai intelegensi penonton, enggan menyuapi mereka. Tapi kesubtilan yang baik mesti mengandung petunjuk-petunjuk yang mengarahkan pemaknaan menuju satu tujuan, pula tidak saling berkontradiksi sebagaimana terjadi di sini.

Penampilan jajaran pemain makin menambah kekusutan, khususnya kala dituntut bicara melalui mimik wajah, yang ketimbang menyiratkan isi hati, justru menegaskan kecanggungan serta ketidaknyamanan di depan kamera. Apalagi sewaktu muncul jeda berhiaskan keheningan. Saya dibuat bertanya-tanya, apakah ada humor yang hendak menyusul? Apakah ini momen dramatis saat seseorang begitu terpana? Atau sekedar adegan yang dibiarkan mengalir terlalu lama di ruang penyuntingan? Departemen penyuntingan memang bermasalah.  Banyak adegan dimulai terlalu cepat atau diakhiri terlalu lama. Miskin dinamika, apalagi saat bersinggungan dengan barter kalimat antara pemain.  Kelemahan yang turut menyulut masalah pada komedinya.

Sebagian humornya berpotensi lucu. Di atas kertas, ide-ide segar Rusmin Nuryadin dapat dirasakan. Namun ide-ide tersebut mayoritas berupa humor yang membutuhkan gerak dinamis guna menciptakan kesan dadakan agar mampu tampil lucu. Lelucon soal cokelat adalah contoh sempurna ketika seluruh kekurangan-kekurangan bersatu membunuh kelucuan komedi. Naskah yang menambahkan dialog tak perlu pasca punch line, sutradara yang luput memainkan dinamika, penyuntingan yang sekedar “potong-dan-sambung”, hingga akting para pemain yang ada di ambang batas antara deadpan comic atau murni datar.

Sebaliknya, paparan dramanya justru bergerak liar ke sana kemari layaknya setumpuk film pendek dengan karakter sama namun tema berbeda yang dipaksa bersatu. Cinta Sama dengan Cindolo na Tape awalnya cuma kisah cinta biasa berbalut lika-liku dunia remaja: laki-laki bertemu perempuan, sang sahabat cemburu, pertemanan mereka renggang. Itu saja merupakan pondasi solid, tapi bak merasa belum cukup kompleks, konflik di atas menemukan resolusi di pertengahan durasi, kemudian filmnya berpindah menuju permasalahan berikutnya. Benang merahnya tetap sama. Tetap soal “Cinta adalah cindolo na tape”, tetap membahas para laki-laki “mati kiri” yang dibutakan cinta, melupakan teman-temannya. Tapi serupa karakternya, yakni remaja yang terombang-ambing tak menentu, Cinta Sama dengan Cindolo na Tape bergerak semaunya ke segala penjuru, menggantung penonton dalam ketidakpastian, layaknya akhir pahit sebuah hubungan romansa.

4 komentar :

Comment Page:
Unknown mengatakan...

haduhhh mnding upload review 'sultan agung' bg, pasti lbih bnyak yg nunggu film itu hehe. kan yg nyutradain hanung bramantyo biasanya bagus

Pink Princess mengatakan...

Bang nonton 'searching' gak?

Andi mengatakan...

Bagusan mana dibanding suhu beku?

Faqih mengatakan...

bang, di tunggu review Sultan Agung. Pengen nonton tapi nunggu review dari sini