FALL IN LOVE AT FIRST KISS (2019)

6 komentar
Lupakan “Jatuh cinta pada pandangan pertama”. Seperti sudah kita tahu dari judulnya, tokoh utama kita, Yuan Xiang Qin (Yun Lin alias Jelly Lin), jatuh cinta pada ciuman pertama, yang sebenarnya terjadi tidak sengaja. Di hari pertama sekolah, ia dan Jiang Zhi Shu (Talu Wang) bertabrakan. Zhi Shu menangkap Xiang Qin, menariknya agar tak terjatuh, lalu bibir mereka bertemu. Secepat dan semudah itu. Tapi tidak demikian dengan jalan yang Xiang Qin tempuh agar hati keduanya bisa bertemu.

Sebab mereka amat berseberangan. Xiang Qin tergabung dalam kelas F yang berisi murid-murid biang onar bernilai jeblok di mana membersihkan sarang lebah jadi rutinitas sehari-hari, sedangkan Zhi Shu adalah jenius dengan IQ 200 yang bahkan tampak menonjol di antara siswa-siswi kelas A. Ketika Zhi Shu berasal dari keluarga kaya pemilik perusahaan ternama, wajah Xiang Qin menghiasi berita televisi setelah rumah reyotnya roboh.

Begitu tergila-gila, Xiang Qin mengoleksi semua benda yang memajang wajah Zhi Shu. Kegilaan itu bukan menjangkit ia seorang. Seluruh siswi di sekolah bersikap serupa, semakin mengecilkan peluangnya merebut hati si pria idaman. Hingga suatu hari, kawan lama sang ayah mengajak mereka tinggal di rumahnya sampai semua masalah selesai. Bisa ditebak, kawan lama tersebut adalah ayah Zhi Shu. Ya, keduanya kini tinggal satu atap.

Fall in Love at First Kiss bukan romansa di mana karakter utamanya terpikat pada lawan jenis populer, hanya untuk akhirnya menyadari, sosok yang tulus mencintainya (dan juga ia cintai) adalah seorang biasa yang selalu ada di dekatnya. Seorang murid dari kelas F (Kenji Chen) selalu mengejar Xiang Qin, tapi elemen itu hanya berperan menambah kadar humor. Fall in Love at First Kiss adalah sepenuhnya cerita mengenai kepercayaan diri, berusaha keras mendapatkan cinta meski ditentang seluruh dunia.

Mungkin beberapa pihak bakal berpendapat kandungan kisah film ini merupakan kemunduran representasi terhadap  wanita di layar lebar. Tapi anggapan itu terasa seperti sebuah penggambangan. Sebab apa yang Xiang Qin lakukan adalah mengejar impian, dan tidak masalah bila mimpi itu berbentuk cinta kepada lawan jenis. Lagipula dia tak sampai menyia-nyiakan hidup lalu berakhir sebagai budak cinta tanpa nyawa. Xiang Qin bahkan termotivasi memperbaiki diri, belajar keras demi meningkatkan nilai ujian, hingga akhirnya meraih pekerjaan yang diinginkan.

Masalah sebenarnya dari film ini justru dipicu perilaku Zhi Shu. Dia merupakan pria dingin yang enggan menunjukkan perasaan sesungguhnya, sehingga tak jarang ia tampak seolah begitu membenci Xiang Qin. Tapi perbuatannya seringkali terlalu kejam, sampai mengancam peluang tercurahnya dukungan penonton bagi cinta mereka. Untunglah ada Yun Lin lewat kepiawaian menampilkan keluguan dan kekonyolan (wajar, mengingat ia mengawali karir lewat The Mermaid-nya Stephen Chow), menjadikan Xiang Qin karakter likeable. Cuma penonton tanpa hati yang berharap Xiang Qin gagal, apalagi setelah melihat tangisan sang gadis.

Karena hanya melihat poster tanpa menyaksikan trailer, saya terkejut mendapati fakta bahwa Fall in Love at First Kiss rupanya sebuah komedi absurd. Penggambaran situasi sekolah serta penokohan mayoritas karakternya dikemas amat komikal. Pemilihan gaya itu dapat dipahami, sebab filmnya sendiri merupakan adaptasi manga Itazura na Kiss karya mendiang Kaoru Tada, yang sebelumnya sudah menjadi materi adaptasi bagi 8 judul serial televisi dari 4 negara (Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Thailand), 25 episode anime, dan 3 film layar lebar. Wajar saat sutradara Yu Shan Chen (Our Times) ingin mempertahankan gaya tersebut, termasuk visual penuh warna cerah yang memanjakan mata.

Tidak semua humornya bekerja efektif, karena duo penulis naskahnya, Chi-Jou Huang dan Yung-Ting Tseng (Our Times), memilih mengedepankan kuantitas ketimbang kualitas, mendorong saya berharap filmnya mau beristirahat sejenak dalam upayanya memancing tawa dan menambah fokus di paparan drama untuk membangun rasa. Menekan kadar humor bukan saja berguna memberi penonton waktu mengambil napas, pula memberi alurnya ruang  mempresentasikan kebersamaan dua tokoh utama.

Akhirnya tersisa setumpuk aspek yang berpeluang menyetir emosi namun urung terjadi akibat minimnya eksplorasi. Contohnya saat ibu Zhi Shu (Christy Chung) berkata bahwa setelah kehadiran Xiang Qin di rumah, puteranya mulai berubah. Perubahan yang tak pernah benar-benar penonton saksikan (ingat, konteks pernyataan sang ibu adalah Zhi Shu di rumah, bukan di luar). Pun Fall in Love at First Kiss tak mampu total memaksimalkan ide menempatkan dua tokoh utama di satu rumah tatkala interaksi keduanya di sana terhitung minim.

Tapi seiring waktu bergulir, filmnya mulai membayar lunas hal-hal yang terbuang percuma. Akhirnya kita disuguhi beberapa interaksi Xiang Qin dan Zhi Shu. Hadir sedikit terlambat, namun efeknya tidak main-main. Berkebalikan dengan humornya, momen romantis dua protagonis memang rendah soal kuantitas, tapi berkualitas tinggi berkat sensibilitas sang sutradara memainkan suasana sarat asmara. Puncaknya adalah 5-10 menit terakhir yang membuat kelemahan filmnya (juga kesalahan Zhi Shu) termaafkan sekaligus mampu melelehkan hati.

6 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

bang kalo bisa tambahin review film lawas dong soalnya setiap saya kl pgn nonton film saya liat rating dari agan dulu hehe.. saya ngerasa penilaian gan rasyid cocok dgn saya maklum lah saya nonton utk terhibur bkn malah bikin bad mood hehe
atau kl nggak letterboxd ente pnya letterboxd ora?

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

pantesan kok menurut saya sama banget ceritanyaitazura na kiss dan naughty kiss (kdrama).
ternyata emang beneran adaptasinya.

Rasyidharry mengatakan...

Film lama, kayak udah beberapa kali saya jawab, emang udah gak ditulis lagi karena waktu & tenaga yang nggak memungkinkan. Tapi tiap nonton pasti dibahas lewat twitter. Letterboxd di "rasyidharry", tapi di situ cuma buat setor rating sih.

Faris F mengatakan...

bang ada translate isi surat xiang qin nya ga bang? nyari di google ga nemu nemu

Rasyidharry mengatakan...

Ada yang ngetwit nih
https://mobile.twitter.com/alvinxi123/status/1100683605905420289

Anonim mengatakan...

pas awal film ny langsung tau ni mang adaptasi itazura na kiss,
nnton film ini rasa nya mumet bgt... mengingat udah nonton serial versi jepang dan taiwan, nnton film ni jd terasa marathon...
tp lumayan lah utk sekedar hiburan..
btw ini setingan nya dimana sih, shanghai ya?