REVIEW - 'I, WILL, SURVIVE' TRILOGY

10 komentar

Hampir bersamaan dengan trilogi Fear Street, Indonesia juga menelurkan konsep yang serupa meski tak sama. Tiga film, I, Will, dan Survive karya Anggy Umbara dirilis dalam satu hari. Kisah dan karakternya saling terhubung, walau beberapa tidak secara langsung, dan ketiga judul punya subgenre berbeda. I adalah aksi-thriller soal vigilante, Will mengusung tema survival, sedangkan Survive merupakan torture porn. 

I - Film pertama mengisahkan tentang keputusasaan Sanjaya (Omar Daniel), dalam mencari sang istri, Mila (Amanda Rigby), yang telah menghilang selama enam bulan. Apakah ia diculik, kabur, atau malah sudah meninggal? Tiada kejelasan. Di sisi lain, kita turut melihat bagaimana Sanjaya membenci ayahnya, Bisma (Arswendy Beningswara), yang ia yakini, bertanggung jawab menghilangkan banyak nyawa tak bersalah kala masih bertugas sebagai tentara dulu. 

Tidak mengejutkan rasanya, saat saya menyebut Arswendy merupakan penampil terbaik di sini. Satu adegan di meja makan jadi contoh. Mendengar sindiran pedas si putera sulung untuk kesekian kali, hati Bisma hancur. Mata sang aktor berkaca-kaca, tapi ia menahan letupan emosi, menciptakan rasa sesak, seolah ditelannya seluruh air mata yang hendak jatuh.

Lalu hal yang ditakutkan Sanjaya sungguh terjadi. Mila ditemukan tidak bernyawa. Tubuhnya dimutilasi, dibuang di tengah kebun kosong. Dikuasai dendam, Sanjaya pun teringat obrolan dengan rekan-rekannya tentang petrus (film ini menyebut petrus sebagai vigilante, yang mana keliru). Berbekal senapan milik ayahnya, Sanjaya nekat menghakimi para pelaku kriminal, dari preman kelas teri hingga koruptor, yang menurutnya, gagal diadili oleh negara.  

Naskah yang juga ditulis oleh Anggy, mengambil keputusan ganjil dengan membuat Sanjaya dan Bisma berbaikan di awal durasi. Secara psikis, perdamaian itu semestinya mengangkat salah satu beban terberat di pundak Sanjaya. Bakal lebih masuk akal jika keduanya masih bertikai, sehingga batin Sanjaya makin bergejolak. Sebab di satu sisi ia membenci perbuatan ayahnya, namun di sisi lain, amarah semakin sulit ditahan. Keputusan nekat dalam kondisi pikiran keruh macam itu, lebih bisa dipahami. 

Bagaimana modus operandi Sanjaya? Dia menembak dari dalam mobil, yang diparkir di atas jembatan layang. Ya, aksi super berbahaya tersebut dijalankan di tengah keramaian, kala banyak kendaraan melintas. Bahkan Sanjaya tidak menunggu situasi sepi. Sekadar tengok kanan-kiri pun tidak. Alasan "Wajar, karena Sanjaya amatir" tidak bisa diterima, karena itu adalah logika dasar. Untungnya, setelah membeli senapan baru dari luar negeri, Sanjaya memindahkan posisinya ke puncak gedung yang lebih tersembunyi. 

Anggy memakai tempo cepat, yang sayangnya tak berdampak signifikan, akibat tanpa dibarengi penulisan kreatif. Aksi Sanjaya repetitif. Tiba di lokasi, bidik, tembak, selesai. Tidak ada variasi, intensitas, maupun bobot emosi. Naskah urung menggali perihal vigilante secara mendalam, sehingga gagal memancing penonton agar ikut merenungkan isu tersebut. Semua berlangsung datar. 

Berbeda dari biasanya, pengarahan Anggy miskin gaya. I memerlukan gaya khas Anggy, agar minimal, bukan cuma menampilkan adegan sniping ala kadarnya. Membosankan. Setidaknya sampai kemunculan twist yang memberi sedikit angin segar, sekaligus menyiratkan gagasan menarik soal bagaimana trilogi ini saling terhubung (2,5/5)

WILLJika I (begitu juga Survive nantinya) langsung tancap gas sejak awal, Will merupakan installment paling sabar. Selama 30 menit pertama, narasi dibangun secara layak, mengisahkan retaknya pernikahan Andra (Morgan Oey) dan Vina (Anggika Bolsterli). Andra kesal atas sikap Vina yang selalu mendiamkannya. Kelak terungkap, ada alasan menyakitkan di balik kerenggangan hubungan keduanya.

Morgan dan Anggika ibarat jaminan mutu departemen akting sebuah film, dan itu terbukti, khususnya kala Will mencapai titik balik, di mana keduanya mengobrak-abrik perasaan satu sama lain, juga penonton. Alhasil, saat selepas pertengkaran dengan sang istri Andra nekat memacu sepeda gunungnya melintasi rintangan berbahaya, saya bisa memahami kenekatan itu sebagai wujud pelampiasan rasa sakit. Mungkin di hati kecilnya, Andra berharap bisa melukai diri sendiri. 

Hal itu benar terjadi, namun tidak dengan cara yang ia harapkan. Andra mengalami kecelakaan, tubuhnya terluka parah, membuatnya terjebak seorang diri di tengah hutan. Setelah prolog menjanjikan, Will justru terjun bebas kala memasuki babak utama. Jika 30 menit pertama adalah proses penuh kesabaran dalam membangun pondasi narasi, satu jam berikutnya adalah ujian kesabaran bagi penonton.

Tugas penulisan berpindah ke tangan Bounty Umbara, namun kekurangan Will masih seperti pendahulunya, yakni terkait kreatvitias eksplorasi. Daya tarik sekaligus sumber ketegangan utama film survival terletak pada perjuangan protagonisnya bertahan hidup. Kadang ia harus bertaruh nyawa, kadang pula otaknya dituntut untuk bekerja lebih keras dari biasa. 

Apa yang Andra lakukan di sini? Merekam video, minum air dari daun, merekam video, minum lagi, merekam lagi, lalu bermimpi. Apa isi mimpi itu? Tentu saja minum. Bedanya, kali ini ia minum di sungai. Tapi jangan khawatir, interaksi Andra dengan daun bakal kembali, ketika ia lapar, lalu mengunyah daun lain yang ada di sekitarnya. 

Begitu akhirnya lepas dari rutinitas minum, bisa menebak elemen apa lagi yang filmnya pakai? Ya, halusinasi tentu saja. Terjadi dua halusinasi. Peristiwa pertama, biarpun presentasinya agak konyol, mampu memberi pemaknaan heartbreaking, yang mampu sejenak menghilangkan kantuk. Lain cerita soal halusinasi kedua. Muncul jelang akhir, momen ini berjalan terlalu lama, pula overly dramatic, cenderung manipulatif. 

Will adalah film survival yang sangat sedikit mengandung usaha bertahan hidup. Naskahnya bak ditulis oleh orang yang jarang menonton film serupa, sementara penyutradaraan Anggy (kali ini Bounty juga menjadi co-director) bagai tidak bertenaga. Kosong. Bahkan Morgan terlihat bosan di layar. 

This movie lacks desperation too. Tangan kiri serta kaki kanan Andra terluka, namun ia masih bisa bergerak. Setidaknya bila dibanding James Franco di 127 Hours, opsi yang tersedia bagi Andra jauh lebih banyak. Tapi dengan alasan "khawatir lukanya jauh lebih parah", ia cuma berbaring. In a movie like this, we want to see the characters tried their best. Dan begitu melihat bagaimana cara Andra selamat, saya hanya bisa mengelus dada (1,5/5)

SURVIVEDi Will, kita melihat Vina diculik oleh Dani si psikopat bertopeng (Onadio Leonardo), dan Survive langsung memperlihatkan istri Andra itu disekap dalam suatu ruangan. Akibat buruknya tata suara, gabungan teriakan Vina ditambah suara rantai terasa menyakitkan bagi telinga. Untuk kondisi tersebut tidak terlalu sering terulang di sepanjang film.

Selain Vina, Mila (istri Sanjaya dari film pertama) rupanya juga jadi korban Dani. Apa alasan Dani melakukan semua ini? Di sela-sela siksaan yang ia berikan pada dua wanita tersebut, terdapat flashback, tentang masa kecil Dani. Dani kecil (Fatir Tan Malaka) diajari oleh ayahnya (Teuku Rifnu Wikana), bahwa laki-laki harus kuat. "Kuat" di sini berarti, tidak ragu menyiksa wanita yang dianggap membangkang. Karena begitulah perbuatan ayah Dani terhadap ibu tirinya, Surti (Cindy Nirmala). 

Survive berusaha menjabarkan proses terbentuknya sosok psikopat kejam. Banyak film melakukan itu, dan andai dieksekusi dengan baik, berpotensi melahirkan thriller psikologis kompleks. Naskah buatan Anggy terasa bermasalah, akibat terkesan bersimpati kepada si psikopat, sambil menggambarkan para korban sebagai individu yang pantas dihabisi. 

Narasi semacam itu berhasil, andai antagonis bersikap "objektif", alias percaya bahwa perbuatannya bertujuan memperbaiki dunia. John Kramer di Saw misalnya. Sedangkan Dani, walau dicekoki hal serupa mengenai "menjaga peradaban" oleh ayahnya, melakukan aksinya juga didasari pemenuhan nafsu. 

(SPOILER STARTS) Kelak terungkap, Dani akhirnya membunuh sang ayah, karena menyadari ibunya tidak bersalah. Poin ini mengganggu. Wajar bila ajaran soal "menghukum para pendosa" tetap bertahan hingga ia dewasa, tapi jika ia tak menyalahkan sang ibu, mengapa orang-orang yang Dani hukum cuma wanita yang menurutnya "berdosa"? Artinya, sebagaimana telah disebut, kejahatan Dani memang didorong hasrat pribadi, sehingga tuturan perihal kompleksitas moral ala Saw pun gagal diterapkan. (SPOILER ENDS)

Kita tahu bagaimana Survive berakhir, termasuk cara Vina lolos. Sehingga intensitas sekaligus rasa penasaran tidak terlalu tinggi. Sebagai gantinya, Anggy menunjukkan berbagai kejadian "sakit". KDRT, pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, hingga yang paling ekstrim, elemen incestuous, yang meski tidak gamblang, cukup mencengangkan karena muncul dalam film Indonesia. 

Tapi jangan harap kegilaan-kegilaan di atas mendominasi. Ada beberapa, namun hanya mengisi sebagian kecil durasi. Sisanya, serupa dua film pertama, Survive cenderung repetitif dan melelahkan, biarpun cast-nya tidak mengecewakan. Anggika berusaha sekuat tenaga mencurahkan rasa sakit fisik dan mental, Teuku Rifnu Wikana mampu menghidupkan sosok sampah masyarakat yang mudah untuk dibenci, sementara Onadio, walau tak bisa disebut "bagus", minimal ia (berusaha) menjauhi keklisean "Oh-I'm-So-Crazy", yang jadi stereotip kala ada aktor memerankan psikopat. (2/5)

Available on KLIK FILM

10 komentar :

Comment Page:
adam mengatakan...

bang gue gak habis pikir sama anggy umbara ini.filmnya tahun ini ada 5 (6 sama yang angga satu lagi belum dikeluarin) tapi gak ada satu pun yang bagus.menurut gue daripada dia ngeluarin banyak film tapi hasilnya zonk semua, mendingan dia buat satu tapi dikerjain bener-bener.gue sekarang seneng sih sutradara indonesia yang lain mulai keluar zona nyaman merambah genre lain bahkan garin nugroho (kayaknya ada faktor film parasite) tapi kalau hasinya kacau kaya gini mah apa bedannya sama horror busuk yang selalu ada di bioskop saat belum pandemi.tapi bang dua filmnya si anggy umbara sebelum ini udah nonton. gue gak tertarik sih sama ini.gue kalau di suruh milih mending nonton yang will karena si morgan jadi tokoh utamanya daripada si onad sama omar.

Rasyidharry mengatakan...

Kalo soal variasi genre, sebenernya malah Anggy satu dari sedikit sutradara sini yg paling berani eksplorasi banyak genre & konsep. Cuma sayangnya, inkonsisten di kualitas, dan emang lebih banyak yg nggak oke

Yah, semua balik lagi soal duit. Anggy garap banyak film karena duit, Garin mulai nulis naskah mainstream juga butuh duit. Which is fine. Lemahnya banyak sutradara/penulis di sini kan karena referensi kurang, atau banyak nonton tapi ilmu yg diambil cuma di permukaan aja. So far baru Joko, Mouly, dan Timo yg bisa dibilang beneran jago soal "nyerap referensi sampe ke akar"

adam mengatakan...

ya sih bang si anggy umbara cukup "revolusioner" kalau di indonesia tapi balik lagi kalau hasilnya kaya gini buat apa.kayaknya sutradara kita harus sadar kalau film bagus dan "keren" tuh gak harus ngambil tema yang fantastis kaya i will survive ini.sutradara (sama penonton) kita sekarang banyak yang kiblat perfilmannya ke korea tapi film-film mereka sekarang pada mewah dan mahal.gue pengennya sutradara kita bisa niru asghar farhadi atau paling dekat edwin.film mereka gak mahal tapi naskah mereka kuat dan kualitasnya bagus

Rizal Khaefi mengatakan...

Bang rasyid, review a classic horor story dongg

Anonim mengatakan...

Menurut saya film Survive yang paling bagus diantara ke-3 film di atas. (Spoiler) Bener kata Abang, saya kaget pas lihat adegan penyiksaan ke Mila sama Vina. Apalagi pas Mila tubuhnya diperkosa pake alat sex(gw gak tau namanya), tubuhnya dimutilasi ditetel2. Saya sendiri gak simpati sama tokoh Dani, He is real psychopath and manipulator. Alasan cuman cewek yang disiksa menurut saya yang sotoy ini, soalnya dia udah ditanemin sifat toxic masculanity sama bapaknya, kalau cewek salah harus disiksa. Tapikan Ibunya ternyata gak selingkuh, jadi dia bunuh bapaknya, makannya dia ngehukum Mila cepet tapi pas Vina diundur2, karena emang Vina gak selingkuh. (Ada pas scene di kamar mandi yang Dani halu ketemu bapak ibunya). Tapi memang naskah yang buat saya bingung, kok Dani yang psychopath setia kawan? atau itu cuman cara dia nyari mangsa?

Ditulisan Abang di atas kok Bima bukan Dani bang? Saya bingung hehehe

Bener kata Abang, Morgan dan Anggika jaminan mutu, sayang dapetnya film malah yang terlemah. Pingin lihat pasangan ini main film romantis jadi pasangan utama.

Rasyidharry mengatakan...

Nah ya ini bener. Terlepas mau siapa pun kiblatnya, mau itu high concept, mau itu sederhana, mau itu tema klise sekalipun, nomor satu ya benerin di naskah. Industri kita butuh banget variasi genre, tapi naskah kuat itu nomor satu

Rasyidharry mengatakan...

Itu dia kontradiksinya. Momen dia bunuh bapaknya, itu harusnya jadi titik balik psikologis. Lebih masuk akal, kalo Dani tumbuh jadi psikopat yang nyiksa orang-orang kayak bapaknya. Lain cerita kalo Dani nggak butuh bapaknya

Soal setia kawan sih balik ke soal chosen family. Dani nggak pernah ngerasain keluarga yang utuh, makanya dia cari sendiri keluarga baru. Cuma emang naskahnya nggak cukup kuat buat jelasin itu

Thanks koreksinya. Di awal udah Dani, nggak tahu kenapa jadi Bima 😂

Masban mengatakan...

dari gambar posternya itu topeng badut kaya sisa penginggalan film Comic 8 yg pertama ya ? wkwkwk

kenapa anggi gk lanjutin Comic 8 aja ? sebodoh bodohnya film itu jauh lebih niat bikin adegan bodohnya.

Anonim mengatakan...

Bang, filmnya I mirip-mirip film Blue Caprice ya?

Unknown mengatakan...

Cinematografinya masih seperti ftv, jadi berasa ninton ftv, untuk cerita sudah lumayan berani