Tampilkan postingan dengan label Teuku Rifnu Wikana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teuku Rifnu Wikana. Tampilkan semua postingan

REVIEW - 'I, WILL, SURVIVE' TRILOGY

Hampir bersamaan dengan trilogi Fear Street, Indonesia juga menelurkan konsep yang serupa meski tak sama. Tiga film, I, Will, dan Survive karya Anggy Umbara dirilis dalam satu hari. Kisah dan karakternya saling terhubung, walau beberapa tidak secara langsung, dan ketiga judul punya subgenre berbeda. I adalah aksi-thriller soal vigilante, Will mengusung tema survival, sedangkan Survive merupakan torture porn. 

I - Film pertama mengisahkan tentang keputusasaan Sanjaya (Omar Daniel), dalam mencari sang istri, Mila (Amanda Rigby), yang telah menghilang selama enam bulan. Apakah ia diculik, kabur, atau malah sudah meninggal? Tiada kejelasan. Di sisi lain, kita turut melihat bagaimana Sanjaya membenci ayahnya, Bisma (Arswendy Beningswara), yang ia yakini, bertanggung jawab menghilangkan banyak nyawa tak bersalah kala masih bertugas sebagai tentara dulu. 

Tidak mengejutkan rasanya, saat saya menyebut Arswendy merupakan penampil terbaik di sini. Satu adegan di meja makan jadi contoh. Mendengar sindiran pedas si putera sulung untuk kesekian kali, hati Bisma hancur. Mata sang aktor berkaca-kaca, tapi ia menahan letupan emosi, menciptakan rasa sesak, seolah ditelannya seluruh air mata yang hendak jatuh.

Lalu hal yang ditakutkan Sanjaya sungguh terjadi. Mila ditemukan tidak bernyawa. Tubuhnya dimutilasi, dibuang di tengah kebun kosong. Dikuasai dendam, Sanjaya pun teringat obrolan dengan rekan-rekannya tentang petrus (film ini menyebut petrus sebagai vigilante, yang mana keliru). Berbekal senapan milik ayahnya, Sanjaya nekat menghakimi para pelaku kriminal, dari preman kelas teri hingga koruptor, yang menurutnya, gagal diadili oleh negara.  

Naskah yang juga ditulis oleh Anggy, mengambil keputusan ganjil dengan membuat Sanjaya dan Bisma berbaikan di awal durasi. Secara psikis, perdamaian itu semestinya mengangkat salah satu beban terberat di pundak Sanjaya. Bakal lebih masuk akal jika keduanya masih bertikai, sehingga batin Sanjaya makin bergejolak. Sebab di satu sisi ia membenci perbuatan ayahnya, namun di sisi lain, amarah semakin sulit ditahan. Keputusan nekat dalam kondisi pikiran keruh macam itu, lebih bisa dipahami. 

Bagaimana modus operandi Sanjaya? Dia menembak dari dalam mobil, yang diparkir di atas jembatan layang. Ya, aksi super berbahaya tersebut dijalankan di tengah keramaian, kala banyak kendaraan melintas. Bahkan Sanjaya tidak menunggu situasi sepi. Sekadar tengok kanan-kiri pun tidak. Alasan "Wajar, karena Sanjaya amatir" tidak bisa diterima, karena itu adalah logika dasar. Untungnya, setelah membeli senapan baru dari luar negeri, Sanjaya memindahkan posisinya ke puncak gedung yang lebih tersembunyi. 

Anggy memakai tempo cepat, yang sayangnya tak berdampak signifikan, akibat tanpa dibarengi penulisan kreatif. Aksi Sanjaya repetitif. Tiba di lokasi, bidik, tembak, selesai. Tidak ada variasi, intensitas, maupun bobot emosi. Naskah urung menggali perihal vigilante secara mendalam, sehingga gagal memancing penonton agar ikut merenungkan isu tersebut. Semua berlangsung datar. 

Berbeda dari biasanya, pengarahan Anggy miskin gaya. I memerlukan gaya khas Anggy, agar minimal, bukan cuma menampilkan adegan sniping ala kadarnya. Membosankan. Setidaknya sampai kemunculan twist yang memberi sedikit angin segar, sekaligus menyiratkan gagasan menarik soal bagaimana trilogi ini saling terhubung (2,5/5)

WILLJika I (begitu juga Survive nantinya) langsung tancap gas sejak awal, Will merupakan installment paling sabar. Selama 30 menit pertama, narasi dibangun secara layak, mengisahkan retaknya pernikahan Andra (Morgan Oey) dan Vina (Anggika Bolsterli). Andra kesal atas sikap Vina yang selalu mendiamkannya. Kelak terungkap, ada alasan menyakitkan di balik kerenggangan hubungan keduanya.

Morgan dan Anggika ibarat jaminan mutu departemen akting sebuah film, dan itu terbukti, khususnya kala Will mencapai titik balik, di mana keduanya mengobrak-abrik perasaan satu sama lain, juga penonton. Alhasil, saat selepas pertengkaran dengan sang istri Andra nekat memacu sepeda gunungnya melintasi rintangan berbahaya, saya bisa memahami kenekatan itu sebagai wujud pelampiasan rasa sakit. Mungkin di hati kecilnya, Andra berharap bisa melukai diri sendiri. 

Hal itu benar terjadi, namun tidak dengan cara yang ia harapkan. Andra mengalami kecelakaan, tubuhnya terluka parah, membuatnya terjebak seorang diri di tengah hutan. Setelah prolog menjanjikan, Will justru terjun bebas kala memasuki babak utama. Jika 30 menit pertama adalah proses penuh kesabaran dalam membangun pondasi narasi, satu jam berikutnya adalah ujian kesabaran bagi penonton.

Tugas penulisan berpindah ke tangan Bounty Umbara, namun kekurangan Will masih seperti pendahulunya, yakni terkait kreatvitias eksplorasi. Daya tarik sekaligus sumber ketegangan utama film survival terletak pada perjuangan protagonisnya bertahan hidup. Kadang ia harus bertaruh nyawa, kadang pula otaknya dituntut untuk bekerja lebih keras dari biasa. 

Apa yang Andra lakukan di sini? Merekam video, minum air dari daun, merekam video, minum lagi, merekam lagi, lalu bermimpi. Apa isi mimpi itu? Tentu saja minum. Bedanya, kali ini ia minum di sungai. Tapi jangan khawatir, interaksi Andra dengan daun bakal kembali, ketika ia lapar, lalu mengunyah daun lain yang ada di sekitarnya. 

Begitu akhirnya lepas dari rutinitas minum, bisa menebak elemen apa lagi yang filmnya pakai? Ya, halusinasi tentu saja. Terjadi dua halusinasi. Peristiwa pertama, biarpun presentasinya agak konyol, mampu memberi pemaknaan heartbreaking, yang mampu sejenak menghilangkan kantuk. Lain cerita soal halusinasi kedua. Muncul jelang akhir, momen ini berjalan terlalu lama, pula overly dramatic, cenderung manipulatif. 

Will adalah film survival yang sangat sedikit mengandung usaha bertahan hidup. Naskahnya bak ditulis oleh orang yang jarang menonton film serupa, sementara penyutradaraan Anggy (kali ini Bounty juga menjadi co-director) bagai tidak bertenaga. Kosong. Bahkan Morgan terlihat bosan di layar. 

This movie lacks desperation too. Tangan kiri serta kaki kanan Andra terluka, namun ia masih bisa bergerak. Setidaknya bila dibanding James Franco di 127 Hours, opsi yang tersedia bagi Andra jauh lebih banyak. Tapi dengan alasan "khawatir lukanya jauh lebih parah", ia cuma berbaring. In a movie like this, we want to see the characters tried their best. Dan begitu melihat bagaimana cara Andra selamat, saya hanya bisa mengelus dada (1,5/5)

SURVIVEDi Will, kita melihat Vina diculik oleh Dani si psikopat bertopeng (Onadio Leonardo), dan Survive langsung memperlihatkan istri Andra itu disekap dalam suatu ruangan. Akibat buruknya tata suara, gabungan teriakan Vina ditambah suara rantai terasa menyakitkan bagi telinga. Untuk kondisi tersebut tidak terlalu sering terulang di sepanjang film.

Selain Vina, Mila (istri Sanjaya dari film pertama) rupanya juga jadi korban Dani. Apa alasan Dani melakukan semua ini? Di sela-sela siksaan yang ia berikan pada dua wanita tersebut, terdapat flashback, tentang masa kecil Dani. Dani kecil (Fatir Tan Malaka) diajari oleh ayahnya (Teuku Rifnu Wikana), bahwa laki-laki harus kuat. "Kuat" di sini berarti, tidak ragu menyiksa wanita yang dianggap membangkang. Karena begitulah perbuatan ayah Dani terhadap ibu tirinya, Surti (Cindy Nirmala). 

Survive berusaha menjabarkan proses terbentuknya sosok psikopat kejam. Banyak film melakukan itu, dan andai dieksekusi dengan baik, berpotensi melahirkan thriller psikologis kompleks. Naskah buatan Anggy terasa bermasalah, akibat terkesan bersimpati kepada si psikopat, sambil menggambarkan para korban sebagai individu yang pantas dihabisi. 

Narasi semacam itu berhasil, andai antagonis bersikap "objektif", alias percaya bahwa perbuatannya bertujuan memperbaiki dunia. John Kramer di Saw misalnya. Sedangkan Dani, walau dicekoki hal serupa mengenai "menjaga peradaban" oleh ayahnya, melakukan aksinya juga didasari pemenuhan nafsu. 

(SPOILER STARTS) Kelak terungkap, Dani akhirnya membunuh sang ayah, karena menyadari ibunya tidak bersalah. Poin ini mengganggu. Wajar bila ajaran soal "menghukum para pendosa" tetap bertahan hingga ia dewasa, tapi jika ia tak menyalahkan sang ibu, mengapa orang-orang yang Dani hukum cuma wanita yang menurutnya "berdosa"? Artinya, sebagaimana telah disebut, kejahatan Dani memang didorong hasrat pribadi, sehingga tuturan perihal kompleksitas moral ala Saw pun gagal diterapkan. (SPOILER ENDS)

Kita tahu bagaimana Survive berakhir, termasuk cara Vina lolos. Sehingga intensitas sekaligus rasa penasaran tidak terlalu tinggi. Sebagai gantinya, Anggy menunjukkan berbagai kejadian "sakit". KDRT, pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, hingga yang paling ekstrim, elemen incestuous, yang meski tidak gamblang, cukup mencengangkan karena muncul dalam film Indonesia. 

Tapi jangan harap kegilaan-kegilaan di atas mendominasi. Ada beberapa, namun hanya mengisi sebagian kecil durasi. Sisanya, serupa dua film pertama, Survive cenderung repetitif dan melelahkan, biarpun cast-nya tidak mengecewakan. Anggika berusaha sekuat tenaga mencurahkan rasa sakit fisik dan mental, Teuku Rifnu Wikana mampu menghidupkan sosok sampah masyarakat yang mudah untuk dibenci, sementara Onadio, walau tak bisa disebut "bagus", minimal ia (berusaha) menjauhi keklisean "Oh-I'm-So-Crazy", yang jadi stereotip kala ada aktor memerankan psikopat. (2/5)

Available on KLIK FILM

REVIEW - QUARANTINE TALES

Dibuat semasa pandemi dengan berbagai keterbatasan, rupanya tak menghalangi Quarantine Tales menjadi salah satu omnibus terbaik Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Padahal, dari kelima sutradara yang membidani lima segmen pengisi 87 menit durasinya, hanya Ifa Isfansyah yang berpengalaman menggarap film feature. Jason Iskandar, Sidharta Tata, dan Aco Tenriyagelli lebih dikenal di skena film pendek, sedangkan seperti kita tahu, Dian Sastrowardoyo baru menjalani debutnya.

Alasan Quarantine Tales menonjol dibanding sesamanya adalah perbandingan kualitas tiap segmen yang cenderung seimbang, sehingga dinamikanya terjaga secara konsisten. Nougat yang selain disutradarai, juga ditulis sendiri oleh Dian Sastrowardoyo, membuka Quarantine Tales lewat kisah tiga saudari, yang tumbuh bersama, namun seiring pertambahan usia, hubungan mereka makin renggang, dan cuma berkomunikasi lewat video call.

Ubay (Marissa Anita) menjauh dari kedua adiknya selepas menikahi seorang pria yang mengontrol hidupnya, si bungsu Deno (Faradina Mufti) tengah menyelesaikan kuliah, sementara Ajeng (Adinia Wirasti) yang masih tinggal di rumah mendiang orang tua mereka, jadi figur yang berusaha menyatukan keluarganya. Bukan kejutan bila saya menyebut bahwa ketiga aktrisnya merupakan penggerak utama Nougat. Adinia yang lebih pendiam, Faradina yang ceria, dan Marissa yang cepat panas, membuat saya bersedia duduk berjam-jam mendengarkan obrolan ketiganya. Di ranah penulisan, daripada mengambil latar pandemi, Dian dengan cerdik memilih melahirkan komparasi. Tanpa COVID pun, kita sudah berjarak.

Prankster selaku segmen kedua merupakan yang terlemah. Kisah tentang “Youtuber prank” bernama Didit Iseng (Roy Sungkono) yang tengah melakukan siaran langsung bersama Aurel (Windy Apsari) sang bintang tamu ini sejatinya tidak buruk, hanya saja dipenuhi keklisean genre revenge horror/thriller. Naskah buatan sang sutradara, Jason Iskandar, perlu menyediakan rencana balas dendam yang lebih pintar bagi karakternya, yang tak membuatnya terkesan “menggali kuburan sendiri”. Paling tidak, hasrat terpendam penonton untuk menghukum para prankster dunia nyata mampu diwakili oleh Jason.

Segmen Cook Book, yang ditulis Ifa Isfansyah bersama Ahmad Aditya, menyusul kemudian. Mengisahkan usaha Chef Halim (Verdi Solaiman) menulis buku resep di tengah masa karantina, Cook Book menyelipkan salah satu tragedi bangsa, dalam penuturan mengenai kerinduan terhadap “ikatan”. Di tengah kesepian akibat karantina, rasa itu menguat, dan kita mulai merindukan sosok-sosok tercinta, termasuk yang sudah meninggalkan kita. Cook Book menyajikan kepahitan yang rasanya dapat dipahami oleh banyak penonton.

Happy Girls Don’t Cry milik Aco Tenriyagelli adalah segmen favorit saya. Sri Arawinda Kirana memerankan Adin, gadis remaja yang keluarganya diterjang masalah bertubi-tubi akibat COVID. Adiknya (Muzakki Ramdhan) baru saja meninggal, sementara kedua orang tuanya (diperankan Teuku Rifnu Wikana dan Marissa Anita) terlilit begitu banyak hutang. Adin bermimpi memenangkan giveaway dari Youtuber favoritnya demi memperbaiki kondisi finansial keluarga. Tapi tatkala impian itu terwujud, masalah lebih besar justru menghampiri.

Aco menghadirkan satir tajam nan menggelitik perihal eksploitasi kemiskinan di media sosial, pada masa di mana orang-orang berharap memperoleh “uang kaget”. Sindirannya adil, sebab Aco menyentil seluruh pihak, baik kaya maupun miskin. Anda bakal berujar, “Ah, segmen ini memihak A”, kemudian, “Oh, ternyata B”, sebelum akhirnya menyadari, tidak ada satu pun yang “dimenangkan” oleh Happy Girls Don’t Cry. Tidak ada tawa yang tak dibarengi keperihan di segmen ini.

Sebagai penutup adalah The Protocol karya Sidharta Tata, di mana seorang pria (Abdurrahman Arif) sedang kelabakan, begitu mengetahui rekan seperjalanannya, Icuk (Kukuh Prasetya), meninggal di dalam mobil setelah memperlihatkan gejala COVID. Berikutnya, kita diperlihatkan pemandangan-pemandangan menggelikan kala sang protagonis kebingungan, harus mengurus jenazah temannya dengan cara apa. The Protocol begitu efektif memancing tawa di menit-menit pertama, namun ketika humor setipe diulang terus-menerus, kekuatannya perlahan memudar. Memang bukan penutup luar biasa, paling tidak segmen ini sukses mengakhiri sebuah film mengenai masa sulit dengan tawa bahagia.


Available on BIOSKOP ONLINE

LORONG (2019)

Kata “klise” didefinisikan dengan sempurna oleh Lorong, sebuah film yang bergerak sesuai pakem. “Mudah ditebak” tidak serta merta melahirkan dosa, namun ketika dilengkapi pula oleh penggarapan ala kadarnya serta tensi yang datar-datar saja, saya bertanya-tanya, “apa yang coba ditawarkan para pembuatnya?”.

Selepas proses persalinan, Mayang (Prisia Nasution) disambut kabar duka dari sang suami, Reza (Winky Wiryawan), bahwa buah hati mereka—yang hendak dinamai Reno—telah meninggal dunia. Tapi entah mengapa, Mayang yakin Reno masih hidup. Meyakini Mayang menderita depresi, Reza dibantu karyawan rumah sakit termasuk dr. Vera (Nova Eliza), berusaha menyadarkan sang ibu yang malang.

Tapi Mayang tetap ngotot, selalu nekat kabur dari kamar guna mencari Reno, menggiring kisahnya menuju peristiwa berulang di mana Mayang akan terbangun dari mimpi buruk, mencabut infus, bersusah-payah menyusuri lorong rumah sakit, lalu bertemu Darmo (Teuku Rifnu Wikana) si petugas kebersihan.

Pengulangan tersebut seakan membuktikan kebingungan Andy Oesman (The Sacred Riana: Beginning) dalam mengembangkan kisah yang bak diniati jadi versi jauh lebih sederhana dari Rosemary’s Baby-nya Roman Polanski. Begitu sederhana, naskahnya merasa tidak perlu mengangkat ambiguitas soal “apakah Mayang memang mengalami gangguan jiwa?”. Fakta sesungguhnya langsung diungkap di pertengahan durasi.

Sejatinya itu langkah berani, berpotensi membawa proses eksplorasi kisahnya ke arah berbeda. Sayangnya itu urung dilakukan, sehingga Lorong gagal menyediakan alasan mengapa penonton harus terus menaruh perhatian sampai akhir. Sementara sebagai usaha memfasilitasi selera penonton kebanyakan, turut dimasukkan elemen mistis berupa penampakan hantu wanita di beberapa kesempatan.

Naskahnya berniat menjadikan si hantu lebih dari sebatas penebar teror, meski pada akhirnya, kehadirannya tidak signifikan mempengaruhi berhasil atau tidaknya Mayang menyibak segala kebenaran. Pun kemunculannya tak pernah mengerikan akibat lemahnya penyutradaraan Hestu Saputra (Cinta tapi Beda, Hujan Bulan Juni, Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar).

Terbiasa mengarahkan drama, Hestu jelas belum menguasai teknik mengarahkan horor. Pacing maupun pemilihan sudut kamera pilihannya terkesan seadanya, kurang menunjang pembangunan atmosfer dan intensitas. Babak ketiga jadi korban terbesar pengarahan lemah sang sutradara. Padahal konsep klimaksnya menarik, menyimpan kengerian dari suatu peristiwa brutal nan ironis, yang dampaknya bakal menguat andai bersedia menambahkan kadar kekerasan.

Malang bagi Prisia Nasution. Penampilannya solid, cukup meyakinkan mengekspresikan keputusasaan seorang ibu yang hatinya remuk redam, walau cakupan emosi karakter Mayang sebenarnya tidak terlalu luas (ketakutan dan menangis). Prisia mesti lebih cermat memilih peran. Sempat digadang-gadang sebagai calon aktris Indonesia nomor satu, entah sudah berapa tahun ia tidak mendapatkan film berkualitas.

SAY I LOVE YOU (2019)

Tabiat buruk film yang coba menginspirasi adalah pengaplikasian gaya bicara motivator, berupa kegemaran melemparkan kalimat-kalimat mutiara, sekalipun dalam situasi santai macam obrolan kasual. Dan di Say I Love You, karakternya bahkan mengenakan pakaian bertuliskan kalimat motivasi seperti “Achieve your dream”, “Fight like a lion”, dan sebagainya.

Merupakan karya penyutradaraan pertama sinematografer Faozan Rizal selama tujuh tahun setelah kesuksesan Habibie & Ainun, film ini terinspirasi dari cerita nyata soal SMA Selamat Pagi Indonesia di Batu, Malang. Sebuah sekolah gratis bagi anak yatim piatu dan tidak mampu yang didirikan oleh Julianto Eka Putra alias Koh Jul (Verdi Solaiman), pengusaha sukses yang doyan meneriakkan jargon motivasional di hadapan murid-murid. Kalau adegan filmnya sering tampak bak forum MLM, wajar saja, sebab ia pun pendiri bisnis MLM Harmoni Dinamik Indonesia (HDI).

Tapi saya takkan membahas MLM. Ada banyak masalah mendasar dengan urgensi lebih besar terjadi di sini. Ketidakmulusan laju penceritaan misalnya. Gerakan alurnya kasar, melompat-lompat, pun sesekali bagai disusun dalam urutan yang keliru sehingga menciptakan lubang. Contohnya saat kedua tokoh utama, Sayydah (Rachel Amanda) dan Sheren (Dinda Hauw) mendaftar di lomba karya ilmiah, di mana murid-murid sekolah lain bertanya (dengan nada menyindir) mengapa murid SMA SPI belajar di luar kelas. Masalahnya, metode pembelajaran unik tersebut baru diutarakan Koh Jul beberapa saat selepas adegan di atas.

Elemen mengesalkan lain yaitu penggunaan voice over berlebihan di beberapa menit awal. Kita mendengar suara Sheren mendeskripsikan hal-hal non-substansial, seolah filmnya kurang percaya diri pada kemampuannya bercerita, atau lebih parah lagi, meremehkan inteligensi penonton.

Sejatinya, Say I Love You menyimpan potensi memadai untuk menggerakkan hati tanpa perlu menyelipkan kalimat motivasional. Kisahnya merangkum bagaimana siswa-siswi SMA SPI bertransformasi menjadi individu kreatif nan berprestasi dari pembuat masalah yang kerap mabuk dan teler di jam pelajaran. Begitu nakal mereka, salah satu guru, Pak Didik (Butet Kartaredjasa) memutuskan berhenti mengajar.

Bukan Pak Didik saja yang pergi, sebab Pak Ahiat (Teuku Rifnu Wikana) si guru galak pun menghilang di pertengahan durasi sebelum muncul kembali jelang akhir tanpa penjelasan pasti. Bedanya, “kasus” Pak Ahiat ini bukan salah satu bentuk konflik, melainkan kebingungan duo penulis naskah, Alim Sudio (99 Cahaya di Langit Eropa, Kuntilanak) dan Endik Koeswoyo (Kesurupan Setan, MeloDylan) memberinya peran seiring masuknya Koh Jul. Alhasil, mereka memilih sepenuhnya membuang Pak Ahiat yang malang.

Tapi tidak semua murid bermasalah. Sheren dan Sayydah merupakan contoh positif. Mereka sopan, berprestasi, rajin, dan menggantungkan mimpi besar yang akhirnya memotori semangat murid lain. Awalnya dua siswi ini menderita akibat ketidakpedulian teman-temannya. Beruntung, semenjak Koh Jul turun tangan dan menerapkan pendekatan bersahabat, mereka mulai menurut, meski perubahan sikap itu terjadi luar biasa tiba-tiba. Hanya lewat beberapa aktivitas  singkat seperti memasak bersama, deretan super anak nakal yang dipimpin Robet (Aldy Maldini) bukan cuma luluh, bahkan kompak menirukan jargon motivasi Koh Jul. Seolah mereka dicuci otak layaknya para pelaku bisnis......ah sudahlah. 

Beberapa pemainnya tampil baik hingga kerap menolong filmya. Rachel berakting solid, pula Dinda, walau aksen Jawanya terdengar seperti hasil menimba ilmu dari FTV. Tapi Verdi Solaiman adalah MVP film ini. Biarpun karakter Koh Jul tak ubahnya vending machine kalimat motivasional, sang aktor menyuntikkan emosi kuat, menghembuskan hati, menjadikan Koh Jul jiwa dari Say I Love You, sekaligus membuat saya bersimpati, juga mempercayai niat baiknya.

Segala perjalanan terjal orang-orang SMA Selamat Pagi Indonesia berpuncak di klimaks ketika para murid menyelenggarakan pertunjukan berjudul Blaze of Glory, yang mencampurkan musikal, aksi sulap, dan banyak penampilan seni lain. Terdengar menarik nan meriah, namun sayangnya sekuen puncak tersebut ditangkap oleh penataan kamera seadanya (ironis, sebab sang sutradara adalah sinematografer kelas satu) yang tidak lebih baik dibanding iklan Dufan. Alhasil, ketika hasil kerja keras karakternya semestinya menyentuh, saya justru dibuat bosan.

DOREMI & YOU (2019)

Siapa sangka sineas di balik arthouse tentang perjalanan wanita lanjut usia mencari makam sang suami berjudul Ziarah (2016), berujung menghasilkan salah satu film anak Indonesia terbaik selama beberapa tahun terakhir, yang pula pantas disebut sebagai salah satu musikal lokal modern paling meghibur. Doremi & You ibarat ajang pembuktian versatilitas seorang BW Purbanegara.

Bagi saya, musikal yang baik adalah pertemuan kreativitas dengan keindahan tak tergambarkan, yang mampu menggerakkan rasa meski tanpa peristiwa penuh drama. Doremi & You menampilkan itu sedari momen pembuka tatkala para tokoh utama bersatu dalam nomor musikal berlatar lingkungan sekolah.

Di situ, BW Purbanegara bukan sebatas mengumpulkan sebanyak mungkin siswa untuk menari di lapangan sekolah, melainkan menempatkan mereka di berbagai titik peristiwa, yang masing-masing menyimpan elemen unik. Dipandu koreografi sarat kreativitas garapan Mila Rosinta (Another Trip to the Moon), kita berkesempatan menyaksikan siswa-siswi menari dalam sapuan cat tubuh warna-warni atau menggunakan peralatan pramuka sebagai properti. Sungguh momen pembuka yang efektif merebut atensi.

Naskah hasil tulisan BW bersama Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?, Pendekar Tongkat Emas, Petualangan Menangkap Petir) sejatinya tidak melakukan banyak modifikasi formula, yang mana bukan kewajiban dalam tontonan ringan bagi anak semacam ini. Kisahnya mengangkat tentang persahabatan empat murid SMP: Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Anisa (Nashwa Zahira), Markus (Toran Waibro) dari ekstrakulikuler paduan suara, dan Inung (Fatih Unru) dari ekstrakulikuler teater.

Suatu sore, akibat kecerobohan di tengah perjalanan sepulang sekolah, mereka menghilangkan uang iuran jaket tim paduan suara sebesar tiga juta rupiah. Demi menggantinya, mereka memutuskan mengikuti Doremi & You, sebuah lomba tarik suara yang menjanjikan uang sebesar 10 juta rupiah bagi sang pemenang. Anda mungkin merasa kejadian tersebut bukan akhir dunia, tapi ingat, keempatnya adalah bocah SMP. Bayangkan anda berada di usia mereka (ditambah bukan berasal dari keluarga kaya), masalah serupa pasti bakal memberi tekanan luar biasa.

Tapi karena semakin dekatnya UAS, si guru paduan suara (Ence Bagus) melarang adanya kegiatan ekstrakulikuler dan menolak permintaan menjadi pelatih. Alhasi, Putri meminta pertolongan Reno (Devano Danendra), siswa SMA yang berposisi sebagai asisten pelatih paduan suara. Sebuah ide yang terbentur ketidaksukaan teman-teman Putri terhadap Reno, yang menganggapnya dingin, galak, menyebalkan, dan pretensius. Reno sendiri awalnya menolak tawaran itu.

Masalah belum berhenti. Karena kegagalan di UAS berpotensi membuat beasiswanya dicabut, Anisa dilarang turut serta oleh sang paman (Teuku Rifnu Wikana) yang keras, sementara Markus mendapati bisnis jasa badut ayahnya mulai sekarat. Naskahnya cukup rapi guna memposisikan konflik-konflik itu selaku pondasi penokohan ketimbang distraksi. Kehadirannya justru memperkaya cerita alih-alih menghilangkan fokus.

Adegan pembuka beriringkan lagu Hari ini Indah tetap jadi favorit saya, namun bukan berarti momen lainnya lemah. Harmoni melahirkan musikal berskala lebih kecil tapi dengan romantisme besar, sedangkan usaha melagukan beberapa dialog, walau tak selalu sukses (sesekali berujung cringey), mayoritas sukses menambah dinamika menyenangkan dalam interaksi karakternya, termasuk menghadirkan tawa.

Klimaks berlatar kompetisi Doremi & You (didahului twist yang sebenarnya kurang substansial) menampilkan kepiawaian Andi Rianto (30 Hari Mencari Cinta, Arisan!, Kartini) memadukan ragam musik nusantara. Keragaman memang salah satu pesan utama filmnya, yang menekankan “unity in diversity”. Keempat protagonis memiliki latar kultural berbeda, pun perspektif Doremi & You tentang musik mengandung pesan serupa, yang diwakili sempilan obrolan antara Reno dan Putri mengenai perbedaan cara memakan bubur ayam.

Penonton anak bisa memetik pesan berharga dari hal-hal tersebut, di samping selipan pernak-pernik lain, misalnya pelajaran perihal mencari informasi via membaca buku yang kini mudah dilakukan berkat fasilitas daring. Anak-anak pun berkesempatan menikmati jajaran idola seusia unjuk gigi memamerkan talenta. Toran menggelitik, Nashwa tampil baik melakoni mome dramatik, Fatih penuh warna seperti biasa, dan Naura “membabat habis” seluruh nomor musikal berbekal aura bintang tak terbantahkan. Sebagai penampil yang (sedikit) lebih dewasa, Devano membuktikan bahwa ia jauh lebih hidup ketimbang saat dipaksa memerankan remaja (sok) keren di Melodylan.

Kelemahan muncul sewaktu BW menempatkan terlalu banyak shot tak perlu, yang bakal lebih berguna dalam suguhan “arus samping” sebagai media membangun atmosfer dan kesadaran penonton akan latar sebuah peristiwa, tapi justru melemahkan kelincahan gerak tontonan ringan macam Doremi & You. Tapi itu bisa dipahami. Film ini merupakan transisi bagi sang sutradara, dan sungguh transisi yang memuaskan.

TEMBANG LINGSIR (2019)

Setidaknya karya teranyar Rizal Mantovani ini sedikit lebih “tepat” perihal penggambaran latar lagu Lingsir Wengi, yang kerap salah dipahami sebagai “mantera pemanggil hantu”. Sebuah interpretasi yang dipopulerkan belasan tahun lalu oleh film Rizal lainnya. Tapi jangan salah sangka mengira bahwa dengan itu, Tembang Lingsir otomatis menjadi sajian berkualitas. Lihat saja rumah produksi di belakang film ini. Dan mustahil sebuah film berlatar modern, di mana karakter yang tidak mampu bicara memilih papan tulis sebagai alat bantu komunikasi ketimbang telepon genggam, berakhir memuaskan.

Filmnya berkisah tentang Mala (Marsha Aruan) yang kehilangan suaranya untuk sementara dan harus tinggal bersama kerabatnya, Om Gatot (Teuku Rifnu Wikana) dan Tante Gladys (Meisya Siregar), pasca insiden mistis yang merenggut nyawa sang ibu. “Dia aneh!”, demikian protes Desi (Aisyah Aqilah), puteri Gladys, merujuk pada kebiasaan Mala yang kerap tiba-tiba diam sebelum menyanyikan Lingir Wengi. Tapi selain perilaku Mala, ada misteri lain terkait keluarga tersebut.

Seperti biasa, eksplorasi plot atau misteri bukan hal yang menarik (atau sanggup?) dilakukan oleh penulis naskah horor negeri ini. Alhasil, guna mengisi durasi, Andhika Lazuardi memakai kumpulan gangguan mistis, yang menimpa satu per satu anggota keluarga. Jika teror terhadap Mala usai, kita akan dilempar menuju teror terhadap Tante Gladys, Om Gatot, dan seterusnya.

Semakin terasa bagai filler akibat pendekatan Rizal, yang menyeret pembangunan tensi—yang tak pernah sekalipun menyimpan atmosfer mencekam atau ketegangan—sebelum menutupnya lewat jump scare semurah kerupuk di warteg. Rizal bukan sutradara horor hebat. Tapi bahkan dibandingkan Jelangkung atau Kuntilanak, performanya di sini terlihat malas. Tidak kalah malas adalah tata riasnya. Walau sosok Kanjeng Ratu dengan semua aksesoris akar pohon jauh dari buruk, namun hantu yang secara reguler meneror Mala sekeluarga, punya bekas luka di wajah yang tampak seperti ditempeli pizza bekas makan malam.

Ketika teror absen mengisi, Tembang Lingsir semakin membosankan sebagai dampak pemakaian kalimat-kalimat dangkal, yang bahkan seorang Teuku Rifnu pun tak kuasa menyelamatkannya walau telah berusaha sekeras mungkin. Sementara itu barisan kebodohan pun tak ingin kalah eksis. Salah satunya saat dua teman Desi ketakutan lalu memilih meninggalkan rumahnya. Terdengar pintar, sampai kita melihat mereka memutuskan berjalan kaki masuk hutan di tengah malam. Bukankah sebelumnya mereka mengendarai mobil?

Kebodohan itu penulisnya pilih agar Tembang Lingsir berkesempatan menginjeksi alurnya dengan sentuhan slasher, yang sejatinya berpotensi menghibur andai penempatan unsur gore-nya—yang memaksa filmnya diberi rating “17 tahun ke atas”—tepat. Paling tidak, melihat karakternya memotong kaki manusia seolah-olah itu daging sapi bisa membuat saya terjaga lebih lama. Klimaks Tembang Lingsir ditutup tanpa taring pula begitu mendadak setelah Mala melantunkan Lingsir Wengi. Ya, horor produksi Baginda KKD alias Maharaja Dheeraj Kalwani ini selesai setelah satu nyanyian pendek. Mungkin suara Mala begitu jelek sampai Kanjeng Ratu tak mampu bertahan kemudian musnah. Sayangnya film ini tidak ikut musnah.

SUZZANNA: BERNAPAS DALAM KUBUR (2018)

Judul film ini terdengar seperti gabungan antara Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971), dua film yang dibintangi Suzzanna Martha Frederika van Osch. Judul yang disebut pertama bukan horor, namun drama, yang konon merupakan film Indonesia pertama yang berani menonjolkan seksualitas, pemerkosaan, juga kata-kata kasar, dengan “sundel” alias “sundal” alias “pelacur” sebagai salah satunya. Menariknya, elemen-elemen plot Suzzanna: Bernapas dalam Kubur banyak mengambil inspirasi dari Sundel Bolong (1981).

Kebetulan? Sepertinya begitu. Tapi saya bakal percaya jika muncul pernyataan bahwa easter egg di atas adalah kesengajaan. Sebab orang-orang di balik Suzzanna: Bernapas dalam Kubur terbukti paham betul kriteria yang harus dipenuhi kala membuat “Film Suzzanna”. Ini bukan biopic, bukan pula remake, melainkan penghormatan yang dilakukan dengan benar, alih-alih sekedar usaha tak tahu malu guna mengeruk uang. Ini adalah ode yang menunjukkan betapa (warisan) Suzzanna masih menghembuskan napas terornya dari dalam kubur.

Pendekatan tersebut tampak dari pemilihan nama tokoh utama. Bukan Alicia, Lila, atau (yang paling tenar) Suketi, tapi Suzzanna, yang diperankan oleh Luna Maya dalam penjelmaan sempurna sebagai sang ratu horor. Dalam wujud manusia (a.k.a. sebelum bertransformasi menjadi sundel bolong), kita melihat Luna dalam balutan prostetik yang membuatnya bak kembaran Suzzanna, apalagi ditambah kefasihannya berlogat bak noni Belanda. Walau sesekali terdengar inkonsisten, Luna sebagai Suzzanna adalah pemandangan adiktif yang membuat saya lupa, jika butuh beberapa lama sebelum horor merangsek masuk.

Suzzanna dan sang suami, Satria (Herjunot Ali), menjalani kehidupan penuh cinta yang bahagia, khususnnya saat setelah tujuh tahun, momongan yang dinanti akhirnya tiba. Tapi jika mengenal film-film Suzzanna, tentu anda tahu ada tragedi bersiap mengacaukan kebahagiaan mereka. Tragedi yang hadir dalam wujud rencana empat karyawan Satria: Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman), dan Gino (Kiki Narendra). Mereka memutuskan merampok rumah Satria setelah permintaan naik gaji ditolak. Aksi itu dilangsungkan di tengah penugasan Satria ke Jepang, sementara Suzzanna sedang  menghabiskan malam Minggu menonton layar tancap. Ketika di luar dugaan Suzzanna pulang lebih awal, mereka berempat terpaksa membunuh, lalu menguburnya di pekarangan belakang rumah.

Keesokan paginya ia terbangun, seolah baru bermimpi buruk seperti biasa. Sebuah keputusan berani dari naskah karya Bene Dion Rajagukguk (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 & 2, Stip & Pensil) yang dibuat berdasarkan cerita buatannya bersama Sunil Soraya (Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh, Single) dan Ferry Lesmana (Danur: I Can See Ghosts). Sekilas absurd, tapi—dalam kasus langka di film horor kita—Bene menyusun aturan-aturan soal apa yang bisa/tidak bisa sundel bolong lakukan, alasan ia melakukan “A” daripada “B”, dan sebagainya. Jumlahnya bisa dihitung jari, tak seberapa kompleks, tapi Bene terus konsisten membangun alur berdasarkan aturan yang ia tetapkan.

Film-film Suzzanna dahulu adalah wujud totalitas hiburan, yang meski punya tujuan utama menakut-nakuti, menolak malu-malu menyentuh ranah kekonyolan, baik melalui komedi maupun cara metode membunuh over-the-top dari sundel bolong. Sebuah hiburan paket lengkap bagi semua kalangan yang seru disaksikan beramai-ramai, baik di studio bioskop atau layar tancap di tengah lapangan kampung. Suzzanna: Bernapas dalam Kubur mengusung tujuan serupa, sehingga diselipkanlah komedi, yang penghantarannnya dilimpahkan pada trio Asri Welas, Opie Kumis, Ence Bagus.

Ketiganya memerankan pembantu Suzzanna. Di satu kesempatan, mereka mecurigai jati diri si majikan, dan memulai penyelidikan yang berujung pada momen paling jenaka sepanjang film. Khususnya Opie Kumis dengan kepiawaian melontarkan celotehan-celotehan absurd yang kelucuannya sukar ditampik. Opie memang komedian berbakat yang butuh lebih banyak tampil di film apik macam ini ketimbang judul-judul seperti Humor Baper (2016) atau Selebgram (2017).

Suzzanna: Bernapas dalam Kubur memang hendak mengikuti formula horor Suzzanna masa lalu, namun juga berfungsi selaku modernisasi. Daripada b-movie, pendekatan lebih “besar” diterapkan, yang mana dapat kita sadari hanya dengan sekilas mengamati tata artistik dan sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, Rudy Habibie). Ketika Suzzanna memeriksa seisi rumahnya sewaktu perampokan berlangsung, kameranya bergerak mulus, menyapu seisi ruangan lewat single take untuk memperlihatkan keempat perampok di persembunyian masing-masing. Sedangkan musik gubahan Andhika Triyadi (Dilan 1990, Dear Nathan, Cek Toko Sebelah) terdengar megah sebagai cara mewah menyusun tensi dramatis, yang sayangnya kurang berdampak akibat lemahnya performa aktor utama.

Bentuk modernisasi lainnya adalah ditiadakannya cara membunuh cartoonish, lalu sebagai gantinya, menambah kadar gore. Seberapa pun saya rindu melihat sundel bolong mengendarai mobil atau traktor, harus diakui, pemandangan tersebut akan sulit diterima penonton kekinian. Setidaknya Suzzanna: Bernapas dalam Kubur masih memberi kepuasan serupa kala memperlihatkan setan yang punya peran cenderung heroik ketimbang makhluk kejam, menegakkan keadilan dengan caranya. She’s a supranatural vigilante. Tatkala dunia nyata kerap membebaskan para pelaku kejahatan terhadap wanita dari hukuman, menyaksikan mereka menerima penghakiman di sini jelas menyenangkan.

Aspek horornya memang tak seberapa mengerikan. Mungkin karena sundel bolong tak pernah menampakkan diri di lingkungan yang familiar untuk menghantui “rakyat biasa” (pinggir jalan, perkampungan, dll.) sehingga terornya kurang terasa dekat, atau mungkin, karena Suzzanna sendiri punya aura mistis tak tertandingi. Luna Maya sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebagai sundel bolong dengan tawa menyayat telinga dan mata yang melotot begitu lebar, seolah menatapnya dapat menyebabkan kematian.

Awalnya film ini disutradarai Anggy Umbara (Comic 8, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Insya Allah Sah 2) seorang, namun pasca suatu peristiwa (yang tak bisa saya ungkap), Rocky Soraya (The Doll, Sabrina) bergabung, berbagi kredit penyutradaraan. Sulit memilah mana hasil kerja Rocky mana Anggy, sehingga saya memutuskan menganggapnya sama rata. Pergerakan ceritanya mulus, menyebabkan alurnya nyaman dinikmati mesti suguhan utamanya tak langsung muncul. Urusan membangun teror, kadang kita diajak berdiam terlalu lama di satu momen sampai intensitasnya turun drastis, tapi siapa pun yang menggarap klimaks, khususnya adegan “Kebangkitan sundel bolong”, layak dipuji atas kemampuan mencuatkan keindahan dari dramatisasi teror. Tonton film ini, nikmati perjalanannnya, kemudian mari menanti, apakah ular di atas pohon itu cuma ular biasa atau petunjuk mengenai reboot untuk.....

NIGHT BUS (2017)

Kalau tidak salah kabar pembuatan film ini sudah didengungkan oleh Darius Sinathrya sang produser sejak 2014 dan sempat mengadakan crowdfunding. Dibuat berdasarkan cerpen Selamat buatan Teuku Rifnu Wikana yang sebagai hasil penuangan pengalamannya di tahun 1999 kala terjebak di bus selama 12 jam ketika melewati daerah konflik bernama Sampar, Night Bus memang terasa ambisius. Bagaimana tidak? Mayoritas alurnya bertempat di satu lokasi (bus malam) serta berisi belasan tokoh yang oleh Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana selaku penulis naskah coba diseimbangkan porsinya. Hasilnya adalah sajian berkonsep segar yang meski punya kekurangan di sana-sini, sanggup menonjol di antara thriller lokal sejauh ini.

Sebuah bus malam yang disopiri Amang (Yayu AW Unru) siap mengarungi perjalanan selama 12 jam menuju Sampar. Berdasarkan cerita si kondektur (Teuku Rifnu Wikana), di sana sedang meletus konflik antara militan penuntut kemerdekaan dan pemerintah. Alhasil sepanjang perjalanan mereka harus melewati pengecekan di beberapa pos militer. Penumpang bus terdiri dari beragam orang dengan tujuan sendiri-sendiri, ada wartawan, wanita tua yang hendak berziarah ke makam puteranya bersama sang cucu, sepasang kekasih remaja pencari kerja, dan lain-lain. Tanpa diduga pertikaian makin sengit, bahkan turut menyeret para penumpang lebih dalam, mengancam nyawa mereka. Rahasia yang dipendam masing-masing pun mulai terungkap. 
Sempat timbul dugaan Night Bus sejatinya belum siap rilis. Selain molornya proses produksi, beberapa masalah teknis yang membuat premiere-nya sempat tertunda berjam-jam sampai batalnya penayangan di banyak kota dengan alasan serupa jadi pemicu asumsi tersebut. Tapi itu kisah di balik layar yang sulit dibuktikan kebenarannya. Dari hasilnya, Night Bus kentara mengusung ambisi besar pula digarap serius. Production value-nya tidak main-main, membuat gambarnya enak dipandang khususnya sewaktu Anggi Frisca sang sinematografer tahu cara merangkai visual enjoyable walau didominasi ruang sempit minim cahaya. Ketepatan menempatkan kamera dan bermain warna jadi kunci. 

Kesan mahal menguat tatkala efek CGI kerap menghiasi. Tentu saya tak mengharapkan kualitas nomor satu, tapi di tengah keterbatasan, penggunaan CGI-nya nampak berlebihan di berbagai kesempatan semisal kobaran api dan puing reruntuhan atau helikopter selaku cara klise menunjukkan militer tengah bergerak. Padahal tanpa CGI clumsy itu penonton sudah memahami situasinya. Aspek sound mixing turut menyimpan masalah. Acap kali memakai bahasa dan logat daerah, ketiadaan subtitle mengharuskan tata suara solid agar mudah dicerna. Kebutuhan itu gagal dipenuhi, berujung banyak dialog samar-samar. Paling fatal saat kalimat dari Mahdi (Alex Abbad) yang mengandung poin alur kunci diucapkan dengan berbisik, mengharuskan penonton berkonsentrasi ekstra mengolah kata demi kata.
Di luar kelemahan teknis, Night Bus masih thriller menegangkan yang sanggup memaksa penonton mencengkeram kursi lalu menahan nafas. Emil Heradi bersedia meluangkan waktu membangun intensitas ketimbang langsung meledakkannya, terlebih dulu mempermainkan antisipasi penonton, memancing atmosfer harap-harap cemas. Sewaktu teror akhirnya menampakkan diri, alih-alih terbatasi setting sempit, Emil sanggup menyeret penonton ikut duduk di dalam bus, berbagi ketakutan serupa penumpangnya. Sementara musik karya Yovial Tri Purnomo Sigi terdengar dramatis, sempurna menemani gejolak mencekam filmnya. 

Sayang, usaha Emil membangun ketegangan tak jarang bertele-tele, diseret terlalu lama sebelum masuk ke menu utama. Dipaksa menanti ketika tahu akan terjadi sesuatu khususnya terkait paparan horor atau thriller memang asyik, tapi jika penantian itu terlampau panjang dan sering, rasanya mengesalkan. Saya berkali-kali dibuat gemas akibat Emil gemar berlama-lama berkutat di momen kurang penting seperti karakter berjalan atau bicara perlahan dengan tempo lambat pula. Tambah melelahkan akibat repetitifnya bentuk teror yang dihadapi. Sekitar empat kali bus bertemu sebuah rombongan, dihentikan, kemudian penumpang dipaksa turun. Hal ini berlangsung sampai konklusi membungkus cerita. Tidak heran durasi mencapai 135 menit. 
Durasi tersebut turut dipengaruhi kerapnya naskah memasukkan momen non-esensial. Tujuannya baik, supaya penonton memahami setiap tokoh yang mana berhasil dicapai. Setidaknya saya tahu siapa dan apa motivasi masing-masing dari mereka. Tapi setelah berkali-kali melihat tingkah Kondektur (diperankan begitu baik oleh Teuku Rifnu Wikana sehingga walau tampak seenaknya, ia tetap berperasaan dan likeable), perlukah adegan menari mengikuti musik sambil mabuk untuk menegaskan bahwa dia sosok nyeleneh? Penegasan berulang ini berkontradiksi dengan kesubtilan naskah dalam memprsentasikan kompleksitas konflik. 

Rahabi Mandra bersama Teuku Rifnu cukup piawai menjalin kaitan antar fakta tanpa mesti gamblang bertutur, sepenuhnya menyerahkan proses penyusunan keping-keping puzzle pada penonton. Jalinan kisahnya memang rumit, namun suatu kerumitan yang selaras dengan kekacauan dunianya. Sebuah dunia di mana kekuasaan disalahgunakan, ambisi pribadi dipentingkan, di mana para pemegang kekuatan saling berseteru, meninggalkan masyarakat biasa yang lemah terombang-ambing di tengah sebagai korban tak berdaya. Sungguh kejam si kuat, sungguh malang si lemah. Di luar setumpuk kekurangannya, Night Bus kuat menghasilkan ketegangan juga lantang menyuarakan pesan.