Tampilkan postingan dengan label Morgan Oey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Morgan Oey. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SRIMULAT: HIL YANG MUSTAHAL - BABAK PERTAMA

Status sebagai "babak pertama" memang melukai narasi milik Srimulat: Hil yang Mustahal. Naskah buatan Fajar Nugros tampil bak prolog yang diulur-ulur, kemudian usai sebelum memberi payoff sepadan (masalah khas film yang kisahnya dipecah). Secara penceritaan, filmnya lemah. 

Tapi di menit awal, ketika dalam gerak lambat, satu demi satu anggota Srimulat turun dari mobil yang dikerumuni para penggemar, sementara Whiskey and Soda kepunyaan Roberto Delgado yang lebih dikenal publik Indonesia sebagai "lagu tema Srimulat" terdengar, saya bisa merasakan kekaguman Fajar pada kelompok komedi legendaris itu. Srimulat: Hil yang Mustahal mungkin kurang lihai bercerita, namun ia jelas dibuat memakai cinta. 

Alurnya sederhana. Popularitas Srimulat sebagai grup lawak di Jawa telah tersebar, dan mereka pun diundang ke Jakarta guna tampil di televisi nasional. Teguh (Rukman Rosadi), selaku pemimpin Srimulat, mengutus Asmuni (Teuku Rifnu Wikana) untuk mengepalai rombongan yang terdiri dari Timbul (Dimas Anggara), Tarsan (Ibnu Jamil), Tessy (Erick Estrada), Basuki (Elang El Gibran), Nunung (Zulfa Maharani), Paul (Morgan Oey), Anna (Naima Al Jufri), serta istri Teguh, Djudjuk (Erika Carlina).

Muncul satu nama baru, yaitu Gepeng (Bio One), pemain kendang yang justru lebih lucu dari mereka semua. Teguh mengizinkannya bergabung, meski beberapa pihak keberatan, khususnya Tarsan. Penggambaran Tarsan di sini cukup menarik. Penggambarannya tak dipaksakan "sempurna", walau "Tarsan asli" tampil sebagai cameo. Bahkan di salah satu bagian, meski tersirat, filmnya menyebut Tarsan "tidak lucu", karena tugasnya adalah membuat anggota lain terlihat lucu. 

Ada juga bumbu romansa antara Gepeng dan Royani (Indah Permatasari), puteri Babe Makmur (Rano Karno) si pemilik kontrakan tempat Srimulat tinggal selama di Jakarta. Tapi fokus utama tetap tentang para anggota Srimulat, terutama proses mereka mencari kekhasan masing-masing, seperti Tarsan dengan seragam tentara, atau Tessy yang mendapat ide memakai batu akik serta pakaian wanita. 

Penuturannya memang kurang rapi. Kadang tampak ingin bercerita, tetapi bentuknya tidak jarang seperti kumpulan sketsa. Untungnya, kumpulan sketsa yang lucu. Selain humor toilet yang cenderung menjijikkan alih-alih menggelitik, sisanya efektif memancing tawa. Seperti sudah saya sebut, kekaguman Fajar terhadap Srimulat amat kentara. Dia tahu letak "daya bunuh" tiap lawakan, lalu mempresentasikannya berbekal timing serta semangat yang tepat. Ini karya terbaik seorang Fajar Nugros.

Ensemble cast-nya juga berjasa besar. Salah satu ensemble cast terbaik di film kita. Saking bagusnya, sulit memilih sosok favorit. Merujuk pada kemiripan tampang dan gerak-gerik, Ibnu Jamil cukup menonjol. Apalagi ia berhasil "lulus ujian" tatkala muncul di satu frame bersama Tarsan. Tapi bukan berarti nama lain kalah bagus. Bio One di performa terbaik, Teuku Rifnu mengolah citra intimidatifnya selaku penguat komedi, Zulfa Maharani sempurna memotret ke-lebay-an Nunung, sedangkan Elang El Gibran sempat memamerkan kekuatan dramatik di sebuah momen non-verbal.

Momen favorit saya adalah sewaktu anggota Srimulat berkumpul di teras bersama Ki Sapari (Whani Darmawan), kemudian melempar satu per satu lawakan klasik yang sudah kita kenal betul. Saya tertawa, tapi anehnya, juga terharu. Aneh, karena sebagai anak 90an, kenangan saya akan Srimulat yang bubar pada 1989 jelas sedikit. Hanya lewat acara Aneka Ria Srimulat (1995-2003), itu pun sebatas tahu, bukan menggemari. 

Sampai saya sadar, rasa haru tersebut bukan dipicu nostalgia tentang Srimulat, melainkan memori-memori indah yang dibawa lawakannya. Kaki terinjak, melorot dari kursi, dan lain-lain, adalah lawakan yang senantiasa muncul di tongkrongan. Lakukan itu, maka orang-orang yang tumbuh pasca era kejayaan Srimulat pun tetap bakal berkata, "Waah Srimulat". Srimulat telah meresap begitu kuat dalam keseharian kita. Srimulat lebih dari salah satu bagian kultur, melainkan kultur itu sendiri. 

Lawakan Srimulat memang "lawakan tongkrongan". "Gayeng" kalau kata kami orang Jawa. Itulah mengapa pemakaian teras sebagai latar menjadi penting. Tempat yang identik dengan kesantaian, tawa, kehangatan, kebersamaan. Sama seperti nilai-nilai usungan Srimulat.

REVIEW - TEKA-TEKI TIKA

Durasi pendek tidak semestinya menyulut kekhawatiran dan pesimisme. Bisa saja sineas memilih bercerita secara to the point. Padat, singkat, sesuai kebutuhan. Sayangnya Teka-Teki Tika tidak demikian. Ketika film berdurasi hanya 83 menit terkesan kehabisan ide, artinya ide dasarnya memang sudah lemah sejak awal. 

Pasca Imperfect (2019) membawa Ernest Prakasa kembali ke performa terbaiknya, ia mengambil langkah berani dengan menjajal genre thriller misteri. Wajar. Lima film drama komedi dalam lima tahun berturut-turut rasanya memang cukup untuk melahirkan kejenuhan dan/atau ambisi mencoba warna baru. Bisa dibilang Ernest bereksperimen. Tapi sebuah eksperimen, apalagi di percobaan pertama, memang besar kemungkinan berujung kegagalan.

Walau demikian, Teka-Teki Tika sejatinya bukan eksperimen yang ekstrim. Semua nampak serius di awal. Budiman (Ferry Salim) dan Sherly (Jenny Zhang adalah penampil terbaik film ini) tengah merayakan ulang tahun pernikahan, di tengah gonjang-ganjing perusahaan mereka yang terjebak kredit macet. Si putera sulung, Arnold (Dion Wiyoko) datang bersama istrinya yang hamil sembilan bulan, Laura (Eriska Rein), sementara Andre (Morgan Oey) si putera kedua, membawa kekasih barunya, Jane (Tansri Kemala). 

Jane merupakan alasan mengapa saya menyebut ini bukan eksperimen yang ekstrim. Fungsi Jane cuma satu: comic relief. Seolah ia eksis guna mengingatkan pada penonton, bahwa kita sedang menonton karya Ernest. Tansri melakoni debutnya dengan gemilang, selalu memancing tawa lewat kepolosannya (kalau tak mau disebut "kebodohan"), tapi beberapa humor muncul di waktu kurang tepat, sehingga menciptakan inkonsistensi tone. 

Inkonsisten, namun menghibur. Itulah paruh awal Teka-Teki Tika, pasca kemunculan tiba-tiba Tika (Sheila Dara), yang mengaku sebagai puteri hasil perselingkuhan Budiman. Ernest menggerakkan tempo secara cepat, sembari melempar satu demi satu fakta mengejutkan mengenai rahasia kelam Keluarga Budiman. Tempo cepat itu meniadakan eksplorasi karakter, juga mendangkalkan pendalaman terkait kritik terhadap praktek korupsi serta sentilan bagi pelaku perselingkuhan yang reputasinya telah cacat di mata pasangan, tetapi efektif menjaga atensi penonton, yang terus dibuat ingin tahu jati diri beserta motivasi Tika sesungguhnya.

Dari segi artistik, Teka-Teki Tika justru pencapaian terbaik Ernest, yang biasanya cuma fokus pada pengolahan cerita, lalu melupakan tetek bengek sinematik. Desain produksinya memanjakan mata, pewarnaan gambarnya lebih diperhatikan, musiknya pun tergarap apik meski mengikuti pola klise scoring bagi genre misteri. 

Masalahnya, memasuki pertengahan, makin kentara kalau Ernest kesulitan mengembangkan misterinya. Hasilnya adalah setumpuk momen filler yang tak memberi dampak apa pun, baik pada penokohan maupun penceritaan. Semisal obrolan Andre dan Jane yang cuma berisi banyolan-banyolan tak perlu nan berkepanjangan. 

Tapi kejatuhan sebenarnya dari film ini baru terjadi saat memasuki paruh akhir. Momen "pengungkapan" yang semestinya merupakan puncak untuk film semacam ini, tampil datar akibat lemahnya pembangunan intensitas dalam pengadeganan Ernest. Setelah satu jam lebih disuguhi konflik yang melibatkan intrik pelik bahkan usaha pembunuhan, misteri ditutup oleh ucapan "Yaah, sebenarnya saya....." dari mulut protagonisnya, yang lebih terdengar seperti pengakuan atas hal sepele. 

Kemudian Teka-Teki Tika memberikan epilog, yang biarpun menampilkan sesosok cameo luar biasa menarik, bergulir terlalu lama, sekaligus bak berasal dari film berbeda. Jika ini "petunjuk" bahwa kelak Ernest ingin mencoba genre aksi, saya amat menantikan itu. Teka-Teki Tika memang buruk, tapi saya takkan berkata, "Sebaiknya Ernest membuat komedi saja". Karena sewaktu eksperimen berhenti gara-gara satu kegagalan, maka usaha perdana itu jadi sia-sia. 

REVIEW - 'I, WILL, SURVIVE' TRILOGY

Hampir bersamaan dengan trilogi Fear Street, Indonesia juga menelurkan konsep yang serupa meski tak sama. Tiga film, I, Will, dan Survive karya Anggy Umbara dirilis dalam satu hari. Kisah dan karakternya saling terhubung, walau beberapa tidak secara langsung, dan ketiga judul punya subgenre berbeda. I adalah aksi-thriller soal vigilante, Will mengusung tema survival, sedangkan Survive merupakan torture porn. 

I - Film pertama mengisahkan tentang keputusasaan Sanjaya (Omar Daniel), dalam mencari sang istri, Mila (Amanda Rigby), yang telah menghilang selama enam bulan. Apakah ia diculik, kabur, atau malah sudah meninggal? Tiada kejelasan. Di sisi lain, kita turut melihat bagaimana Sanjaya membenci ayahnya, Bisma (Arswendy Beningswara), yang ia yakini, bertanggung jawab menghilangkan banyak nyawa tak bersalah kala masih bertugas sebagai tentara dulu. 

Tidak mengejutkan rasanya, saat saya menyebut Arswendy merupakan penampil terbaik di sini. Satu adegan di meja makan jadi contoh. Mendengar sindiran pedas si putera sulung untuk kesekian kali, hati Bisma hancur. Mata sang aktor berkaca-kaca, tapi ia menahan letupan emosi, menciptakan rasa sesak, seolah ditelannya seluruh air mata yang hendak jatuh.

Lalu hal yang ditakutkan Sanjaya sungguh terjadi. Mila ditemukan tidak bernyawa. Tubuhnya dimutilasi, dibuang di tengah kebun kosong. Dikuasai dendam, Sanjaya pun teringat obrolan dengan rekan-rekannya tentang petrus (film ini menyebut petrus sebagai vigilante, yang mana keliru). Berbekal senapan milik ayahnya, Sanjaya nekat menghakimi para pelaku kriminal, dari preman kelas teri hingga koruptor, yang menurutnya, gagal diadili oleh negara.  

Naskah yang juga ditulis oleh Anggy, mengambil keputusan ganjil dengan membuat Sanjaya dan Bisma berbaikan di awal durasi. Secara psikis, perdamaian itu semestinya mengangkat salah satu beban terberat di pundak Sanjaya. Bakal lebih masuk akal jika keduanya masih bertikai, sehingga batin Sanjaya makin bergejolak. Sebab di satu sisi ia membenci perbuatan ayahnya, namun di sisi lain, amarah semakin sulit ditahan. Keputusan nekat dalam kondisi pikiran keruh macam itu, lebih bisa dipahami. 

Bagaimana modus operandi Sanjaya? Dia menembak dari dalam mobil, yang diparkir di atas jembatan layang. Ya, aksi super berbahaya tersebut dijalankan di tengah keramaian, kala banyak kendaraan melintas. Bahkan Sanjaya tidak menunggu situasi sepi. Sekadar tengok kanan-kiri pun tidak. Alasan "Wajar, karena Sanjaya amatir" tidak bisa diterima, karena itu adalah logika dasar. Untungnya, setelah membeli senapan baru dari luar negeri, Sanjaya memindahkan posisinya ke puncak gedung yang lebih tersembunyi. 

Anggy memakai tempo cepat, yang sayangnya tak berdampak signifikan, akibat tanpa dibarengi penulisan kreatif. Aksi Sanjaya repetitif. Tiba di lokasi, bidik, tembak, selesai. Tidak ada variasi, intensitas, maupun bobot emosi. Naskah urung menggali perihal vigilante secara mendalam, sehingga gagal memancing penonton agar ikut merenungkan isu tersebut. Semua berlangsung datar. 

Berbeda dari biasanya, pengarahan Anggy miskin gaya. I memerlukan gaya khas Anggy, agar minimal, bukan cuma menampilkan adegan sniping ala kadarnya. Membosankan. Setidaknya sampai kemunculan twist yang memberi sedikit angin segar, sekaligus menyiratkan gagasan menarik soal bagaimana trilogi ini saling terhubung (2,5/5)

WILLJika I (begitu juga Survive nantinya) langsung tancap gas sejak awal, Will merupakan installment paling sabar. Selama 30 menit pertama, narasi dibangun secara layak, mengisahkan retaknya pernikahan Andra (Morgan Oey) dan Vina (Anggika Bolsterli). Andra kesal atas sikap Vina yang selalu mendiamkannya. Kelak terungkap, ada alasan menyakitkan di balik kerenggangan hubungan keduanya.

Morgan dan Anggika ibarat jaminan mutu departemen akting sebuah film, dan itu terbukti, khususnya kala Will mencapai titik balik, di mana keduanya mengobrak-abrik perasaan satu sama lain, juga penonton. Alhasil, saat selepas pertengkaran dengan sang istri Andra nekat memacu sepeda gunungnya melintasi rintangan berbahaya, saya bisa memahami kenekatan itu sebagai wujud pelampiasan rasa sakit. Mungkin di hati kecilnya, Andra berharap bisa melukai diri sendiri. 

Hal itu benar terjadi, namun tidak dengan cara yang ia harapkan. Andra mengalami kecelakaan, tubuhnya terluka parah, membuatnya terjebak seorang diri di tengah hutan. Setelah prolog menjanjikan, Will justru terjun bebas kala memasuki babak utama. Jika 30 menit pertama adalah proses penuh kesabaran dalam membangun pondasi narasi, satu jam berikutnya adalah ujian kesabaran bagi penonton.

Tugas penulisan berpindah ke tangan Bounty Umbara, namun kekurangan Will masih seperti pendahulunya, yakni terkait kreatvitias eksplorasi. Daya tarik sekaligus sumber ketegangan utama film survival terletak pada perjuangan protagonisnya bertahan hidup. Kadang ia harus bertaruh nyawa, kadang pula otaknya dituntut untuk bekerja lebih keras dari biasa. 

Apa yang Andra lakukan di sini? Merekam video, minum air dari daun, merekam video, minum lagi, merekam lagi, lalu bermimpi. Apa isi mimpi itu? Tentu saja minum. Bedanya, kali ini ia minum di sungai. Tapi jangan khawatir, interaksi Andra dengan daun bakal kembali, ketika ia lapar, lalu mengunyah daun lain yang ada di sekitarnya. 

Begitu akhirnya lepas dari rutinitas minum, bisa menebak elemen apa lagi yang filmnya pakai? Ya, halusinasi tentu saja. Terjadi dua halusinasi. Peristiwa pertama, biarpun presentasinya agak konyol, mampu memberi pemaknaan heartbreaking, yang mampu sejenak menghilangkan kantuk. Lain cerita soal halusinasi kedua. Muncul jelang akhir, momen ini berjalan terlalu lama, pula overly dramatic, cenderung manipulatif. 

Will adalah film survival yang sangat sedikit mengandung usaha bertahan hidup. Naskahnya bak ditulis oleh orang yang jarang menonton film serupa, sementara penyutradaraan Anggy (kali ini Bounty juga menjadi co-director) bagai tidak bertenaga. Kosong. Bahkan Morgan terlihat bosan di layar. 

This movie lacks desperation too. Tangan kiri serta kaki kanan Andra terluka, namun ia masih bisa bergerak. Setidaknya bila dibanding James Franco di 127 Hours, opsi yang tersedia bagi Andra jauh lebih banyak. Tapi dengan alasan "khawatir lukanya jauh lebih parah", ia cuma berbaring. In a movie like this, we want to see the characters tried their best. Dan begitu melihat bagaimana cara Andra selamat, saya hanya bisa mengelus dada (1,5/5)

SURVIVEDi Will, kita melihat Vina diculik oleh Dani si psikopat bertopeng (Onadio Leonardo), dan Survive langsung memperlihatkan istri Andra itu disekap dalam suatu ruangan. Akibat buruknya tata suara, gabungan teriakan Vina ditambah suara rantai terasa menyakitkan bagi telinga. Untuk kondisi tersebut tidak terlalu sering terulang di sepanjang film.

Selain Vina, Mila (istri Sanjaya dari film pertama) rupanya juga jadi korban Dani. Apa alasan Dani melakukan semua ini? Di sela-sela siksaan yang ia berikan pada dua wanita tersebut, terdapat flashback, tentang masa kecil Dani. Dani kecil (Fatir Tan Malaka) diajari oleh ayahnya (Teuku Rifnu Wikana), bahwa laki-laki harus kuat. "Kuat" di sini berarti, tidak ragu menyiksa wanita yang dianggap membangkang. Karena begitulah perbuatan ayah Dani terhadap ibu tirinya, Surti (Cindy Nirmala). 

Survive berusaha menjabarkan proses terbentuknya sosok psikopat kejam. Banyak film melakukan itu, dan andai dieksekusi dengan baik, berpotensi melahirkan thriller psikologis kompleks. Naskah buatan Anggy terasa bermasalah, akibat terkesan bersimpati kepada si psikopat, sambil menggambarkan para korban sebagai individu yang pantas dihabisi. 

Narasi semacam itu berhasil, andai antagonis bersikap "objektif", alias percaya bahwa perbuatannya bertujuan memperbaiki dunia. John Kramer di Saw misalnya. Sedangkan Dani, walau dicekoki hal serupa mengenai "menjaga peradaban" oleh ayahnya, melakukan aksinya juga didasari pemenuhan nafsu. 

(SPOILER STARTS) Kelak terungkap, Dani akhirnya membunuh sang ayah, karena menyadari ibunya tidak bersalah. Poin ini mengganggu. Wajar bila ajaran soal "menghukum para pendosa" tetap bertahan hingga ia dewasa, tapi jika ia tak menyalahkan sang ibu, mengapa orang-orang yang Dani hukum cuma wanita yang menurutnya "berdosa"? Artinya, sebagaimana telah disebut, kejahatan Dani memang didorong hasrat pribadi, sehingga tuturan perihal kompleksitas moral ala Saw pun gagal diterapkan. (SPOILER ENDS)

Kita tahu bagaimana Survive berakhir, termasuk cara Vina lolos. Sehingga intensitas sekaligus rasa penasaran tidak terlalu tinggi. Sebagai gantinya, Anggy menunjukkan berbagai kejadian "sakit". KDRT, pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, hingga yang paling ekstrim, elemen incestuous, yang meski tidak gamblang, cukup mencengangkan karena muncul dalam film Indonesia. 

Tapi jangan harap kegilaan-kegilaan di atas mendominasi. Ada beberapa, namun hanya mengisi sebagian kecil durasi. Sisanya, serupa dua film pertama, Survive cenderung repetitif dan melelahkan, biarpun cast-nya tidak mengecewakan. Anggika berusaha sekuat tenaga mencurahkan rasa sakit fisik dan mental, Teuku Rifnu Wikana mampu menghidupkan sosok sampah masyarakat yang mudah untuk dibenci, sementara Onadio, walau tak bisa disebut "bagus", minimal ia (berusaha) menjauhi keklisean "Oh-I'm-So-Crazy", yang jadi stereotip kala ada aktor memerankan psikopat. (2/5)

Available on KLIK FILM

EGGNOID: CINTA & PORTAL WAKTU (2019)

Saya yakin, di luar tujuan finansial, salah satu alasan Visinema Pictures mengadaptasi berbagai judul webtoon dengan beragam imajinasi liarnya—yang diawali oleh Terlalu Tampan Januari lalu—adalah memberikan kesegaran bagi tema-tema usang. Demikian pula Eggnoid: Cinta & Portal Waktu yang diadaptasi dari karya Archie The RedCat, di mana elemen fiksi ilmiah disuntukkan dalam tuturan romansa remaja dan drama tentang proses individu menyembuhkan duka.

Tepat di ulang tahunnya yang ke-17, Ran (Sheila Dara), gadis SMA yang hidupnya dipenuhi kesedihan setelah kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan, menemukan sebuah telur bercahaya misterius. Dari telur itu keluar sosok seperti manusia yang disebut Eggnoid. Ternyata, Eggnoid yang olehnya diberi nama Eggy (Morgan Oey) itu dikirim dari masa depan guna membahagiakan Ran, menghilangkan kabut kelam bernama duka yang sudah terlalu lama menyelimuti kesehariannya.

Kalau sudah membaca webtoon-nya, anda tahu naskah buatan sutradara Naya Anindita (Sundul Gan: The Story of Kaskus, Berangkat!), Nurita Anindita (Terlalu Tampan), Yemima Krisantina, dan Indriani Agustina, melewatkan salah satu bagian paling menarik, yakni proses belajar pendewasaan serta pembiasaan Eggy, dari bayi bertubuh pria dewasa yang hanya bisa berkata “mama”, menjadi seperti manusia normal. Bahkan menyelipkan montage pun tidak. Agak disayangkan, karena selain punya potensi tinggi memproduksi tawa, Morgan terbukti mampu mengeluarkan kekonyolan di balik kepolosan kanak-kanak seorang pria dewasa. Bayangkan melihat Eggy miliknya kesulitan belajar memakai baju dan lain sebagainya.

Filmnya memilih langsung lompat menuju dua tahun berikutnya, sewaktu Ran mulai membaik. Dengan kepolosannya, Eggy, yang tinggal bersama Ran dan Diany (Luna Maya), tantenya—yang hanya mau dipanggil “kakak”—bisa mengembalikan tawa sang gadis. Eggy sendiri mulai menyesuaikan diri dengan dunia luar, setelah bekerja di toko es krim kepunyaan Tania (Anggika Bolsterli). Satu hal yang mestinya di titik ini telah dipahami produser dan sineas. Menempatkan Anggika Bolsterli dalam peran komedik dapat mengatrol daya hibur suatu film, yang kembali dibuktikannya di sini melalui reaksi-reaksi komikal lovable, yang membuat kita paham mengapa Zen (Reza Nangin) terpikat pada Tania di pandangan pertama.

Zen dan Zion (Martin Anugrah) merupakan dua orang dari masa depan yang bertugas mengawasi Eggy, menjaga si Eggnoid agar tidak menyalahi aturan. Di situ pangkal permasalahannya. Eggnoid dilarang jatuh cinta apalagi memacari majikannya. Dan Eggy, pasca mendapat kecupan di pipi, sadar bahwa ia mencintai Ran. Mencapai musim keempat yang masih bergulir hingga sekarang, Eggnoid versi Webtoon menyimpan mitologi menarik dan cakupan luas, yang dibangun lewat penceritaan jangka panjang. Bisa diapahami ketika film ini memilih menyederhanakannya.

Penyederhanaan yang naskahnya lakukan cukup banyak, tapi poinnya bukan di “seberapa berbeda”, namun mampu atau tidaknya para penulis mengubah tanpa menghilangkan esensi. Eggnoid: Cinta & Portal Waktu sukses melakukan itu, menjalin sebuah romantika ringan yang menggunakan elemen fiksi ilmiahnya sebagai faktor penyegar guna mengurangi familiaritas dengan deretan film percintaan anak muda yang banyak bertebaran.

Tahun 2019 benar-benar titik lonjakan karir Sheila Dara. Setelah sahabat yang mencuri perhatian di Bridezilla dan wanita misterius dalam Ratu Ilmu Hitam, kali ini ia kembali memikat sebagai gadis kesepian yang seringkali clingy setelah Eggy melenyapkan kesepian tersebut. Membuat kita bersimpati terhadap Ran sehingga memberi nyawa kepada romansanya, Eggnoid: Cinta & Portal Waktu adalah pembuktian dari Sheila, jika ia sudah lebih dari siap mengemban posisi peran utama.

Kembali soal penyederhanaan, mencapai babak konklusi, naskahnya seolah “kaget” ketika coba sedikit menggali perihal latar belakang Eggnoid. Dari kisah cinta ringan, lompatan menuju unsur fiksi ilmiah yang menyelipkan sekelumit filosofi soal ambiguitas benar/salah dalam hidup, gagal berjalan mulus. Merangkum nilai yang sedikit kompleks lewat beberapa baris kalimat dari mulut karakter yang baru muncul di akhir jelas bukan keputusan bijak. Apalagi saat filmnya terkesan ditutup tiba-tiba oleh konklusi yang lebih banyak memancing pertanyaan mengganjal ketimbang dampak emosi, biarpun niatnya memang membuka jalan bagi sekuel.

Setidaknya kekurangan tersebut bisa dimaafkan, sebab Eggnoid: Cinta & Portal Waktu punya salah satu momen paling emosional dalam film Indonesia sepanjang tahun (bukankah ini selalu jadi kebolehan judul produksi Visinema Pictures?), yang turut melibatkan Marissa Anita dalam penampilan singkat namun berkesan lewat penanganan penuh rasa akan kalimat sederhana. Silahkan berusaha menahan haru ketika filmnya mengungkap proses terciptanya foto polaroid yang tergantung di kamar Ran. Melalui momen itu saja, meski melewati banyak penyederhanaan, film ini sudah membuktikan kesuksesannya memanfaatkan elemen fiksi ilmiah demi menunjang paparan drama.

MAHASISWI BARU (2019)

Pada satu titik, Sarah (Mikha Tambayong) menawarkan bantuan ada Lastri (Widyawati) yang tak mempunyai laptop agar mengerjakan tugas di kamarnya. Mereka turut mengajak Reva (Sonia Alyssa) yang duduk sendirian dengan wajah muram. Adegan ini bukan momen paling dramatis dalam Mahasiswi Baru, tapi merangkum inti filmnya tentang “menemukan orang yang mencintai kita saat kita jatuh, tersesat, dan kesepian”, secara sederhana namun efektif.

Begitulah kondisi Lastri kala pertama kita menemuinya karena ia baru saja kehilangan sosok terkasih. Merasa perlu menjalani hidup semaksimal mungkin (dan satu alasan lain yang filmnya simpan), Lastri memutuskan berkuliah meski usia sudah menginjak kepala tujuh. Sang puteri, Anna (Karina Suwandi) dibuat pusing ketika Lastri mulai kerap pulang larut, bahkan terluka akibat terjebak tawuran.

Universitas Cyber Indonesia jadi kampus pilihannya. Setelah menyulut kehebohan di hari ospek—yang menampilkan penampilan berkesan meski singkat dari Della Dartyan dan Ananta Rispo—Lastri menjalin pertemanan dengan empat orang: Sarah yang bermimpi menjadi desainer, Reva yang sering bermalam di kampus dan selalu mengantuk, Erfan (Umay Shahab) si aktivis, dan Danny (Morgan Oey) si selebriti-wannabe yang senantiasa membuat live di Instagram.

Bersama, mereka kerap terlibat masalah, membuat Chaerul (Slamet Rahardjo) selaku dekan kelimpungan. Begitu bermasalah, Lastri sempat dua hari beruntun dibawa ke kantor dekan, “memaksa” Chaerul mengucapkan kalimat sama persis dalam dua kesempatan tersebut (Lastri akan dikeluarkan bila di akhir semester nilainya di bawah rata-rata). Entah trio Sarahero, Monty Tiwa (Critical Eleven, Lagi-Lagi Ateng), dan Jujur Prananto (Petualangan Sherina, AADC?, Doremi & You) selaku penulis naskah lalai, atau bentuk kesengajaan sebagai penekanan yang justru terkesan repetitif.

Hal yang walau diulang tak pernah melelahkan adalah interaksi antara Lastri dan “gengnya”, masing-masing dengan ciri komedik kuat yang tak pernah gagal memancing tawa berkat kemampuan jajaran pemain memanfaatkan ciri tersebut. Umay kembali membuktikan ketenangan dan kenaturalan aktingnya, sementara Morgan menghibur lewat kepiawaian bertingkah alay serta melontarkan catchphrase “asolole” dan “guys”. Celetukan hasil improvisasi Morgan bahkan memaksa Umay dan Mikha susah payah menahan tawa di adegan “teras”, yang justru menambah kelucuan.

Bagaimana dengan Widyawati? Rupanya, selain kelucuan di trailer masih banyak yang sang aktris legendaris tawarkan. Beliau jelas melucu, tapi bukan lewat usaha tampak sekonyol mungkin, melainkan dengan memahami bahwa kondisi di mana orang tua bertingkah bak anak muda sudah merupakan pemandangan menggelitik. Cukup berlaku sewajarnya (tentu tetap menabur sedikit bumbu).

Sudah bisa ditebak, akting dramatiknya pun tidak kalah apik, berkat kebolehan “berganti wajah” secara berulang, dari seorang nenek konyol menjadi sosok penyayang, dan sebaliknya. Transformasi yang lebih mulus dibandingkan penyutradaraannya. Monty kuat perihal menangani adegan yang hanya melibatkan drama. Tengok saat Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki mengiringi momen intim banjir air mata Lastri dan Anna. Tapi jika drama itu bersandingan dengan komedi, tercipta kekacauan rasa yang membingungkan.

Contohnya pertengkaran Lastri-Anna di meja makan. Amarah keduanya tersulut akibat topik pembicaraan sensitif, namun Amri (Iszur Muchtar), suami Anna, selalu melemparkan celotehan-celotehan konyol, bahkan sewaktu tensi berada di puncak dengan musik melodramatis masih mengalun di belakang.

Naskahnya juga menyimpan masalah. Chaerul mengancam akan mengeluarkan Lastri apabila nilainya jeblok, tapi tak sekalipun kita menyaksikan prosesnya mengejar ketinggalan. Kita hanya tahu IPK-nya berhasil melonjak jauh di akhir. Persoalan ancaman Chaerul pun diselesaikan bukan oleh perjuangan Lastri, melainkan berkat bantuan subplot tentang Reva, yang signifikansinya layak dipertanyakan karena tidak lebih dari sekadar tambalan ketimbang elemen yang mempengaruhi alur utama.

Biarpun Mahasiswi Baru kekurangan proses pembelajaran akademis Lastri, percintaannya dengan Chaerul adalah hubungan yang manis. Karena merupakan romantika dua individu berusia tua, tiap rayuan atau gombalan jelas bukan asmara omong kosong, namun ekspresi kebahagiaan ketika menemukan individu yang dapat diajak “berdansa” menikmati “lagu” sebelum “lagu” tersebut usai.

MY STUPID BOSS 2 (2019)

Walau kelucuannya fluktuatif, My Stupid Boss (2016)—adaptasi novel berjudul sama karya Chaos@work yang sukses mengumpulkan lebih dari tiga juta penonton—menghembuskan angin segar bagi genre komedi tanah air. Ketika banyak komedi kita kurang memperhatikan tampilan sinematik, saya terkejut mendapati Upi (30 Hari Mencari Cinta, Belenggu, My Generation) dan tim artistiknya amat memperhatikan detail pemilihan warna maupun properti. Belum lagi membahas transformasi ikonik Reza Rahadian.

Memasuki film kedua, kelebihan-kelebihan tadi mampu dipertahankan. Di salah satu kesempatan kita bisa melihat pulpen, kalkulator, sampai kertas diberi warna merah muda yang senada, sementara pencahayaan di set kamar hotel Vietnam tak kalah memanjakan mata. Demikian pula Reza yang mampu mengangkat humor terlemah sekalipun lewat talenta komikal kreatifnya, entah dari gestur maupun percampuran Bahasa Indonesia, Malaysia, Jawa, dan Inggris (semaunya).

Biar begitu, secara natural daya kejut milik keunggulan-keunggulan tersebut jelas memudar. Selaku penulis, Upi memahami risiko itu, lalu memutuskan mengikuti formula sekuel kebanyakan dengan membuat filmnya lebih besar, baik soal kegilaan komedi atau skala cerita. Bukan cuma berlatar di kantor dan Malaysia, karakternya mengajak kita berjalan-jalan menuju Vietnam.

Dipicu kepelitan Bossman (Reza Rahadian) yang menolak membelikan mesin pemotong kayu baru, sebagian besar karyawan pabriknya memutuskan keluar. Sebagai solusi, Bossman membawa Kerani (Bunga Citra Lestari), Mr. Kho (Chew Kinwah), dan Adrian (Iedil Putra) ke Vietnam guna mencari karyawan baru dengan harga murah dengan bantuan warga lokal bernama Nguyen (Morgan Oey). Secara bersamaan, Bossman pun menghadiri pertemuan pebisnis furnitur se-Asia selaku pembicara. Makhluk macam apa yang mengundang pebisnis gagal seperti dia?

Tentu anda tak perlu repot-repot memikirkan logika semacam itu, karena di sini, Upi menambah absurditas yang sesungguhnya sudah cukup tinggi di film pertama. Seperti pendahulunya, sederet lelucon gagal mendarat tepat sasaran, entah akibat penulisan atau penyutradaraan Upi yang kerap lalai memperhatikan timing melempar kelucuan. Fluktuasinya memang cukup ekstrim. My Stupid Boss 2 bisa begitu datar di satu waktu, lalu luar biasa lucu di kesempatan lain.

Beruntung para pemain tampil total, sehingga kehadiran lelucon hambar pun tak sampai taraf mengganggu. Bukan cuma Reza, Morgan sebagai pria Vietnam berdarah panas, juga kelima anak buah Bossman dengan variasi kepribadian yang makin kuat. Saya suka adegan saat Kerani dikelilingi oleh teman-teman sekantornya. Menangkapnya dengan close up, Upi menjadikan situasi tersebut sebuah pameran akan kepiawaian para pemain memerankan tokoh-tokoh kaya warna. Tapi absurditas terlucu justru ditampilkan dua nama lain, yakni Shahil Shah dan Verdi Solaiman sebagai dua kubu gangster berlawanan yang datang untuk menagih hutang Bossman. Keduanya habis-habisan mengerahkan bakat komedik masing-masing dalam sebuah “pertempuran epic” yang takkan anda duga kemunculannya.

My Stupid Boss 2 bergulir cukup pendek, hannya 96 menit (film pertamanya 108 menit), membuatnya lebih padat dan dinamis, khususnya saat Upi menggulirkan kisahnya dalam kecepatan penuh. Namun, dari segi narasi, My Stupid Boss 2 mempunyai kelemahan serupa pendahulunya, yaitu third act. Jika film pertama memaksakan diri beralih ke drama demi menunjukkan kebaikan terpendam Bossman, kali ini (dengan motif nyaris sama), third act-nya melompat menuju penceritaan berbeda. Walau telah disiratkan sebelumnya, kisah yang mengisi klimaksnya jelas beranjak dari rute yang filmnya tempuh di mayoritas durasi. Beruntung, idenya cukup gila untuk menghadirkan tawa. 

GENERASI MICIN (2018)

Generasi Micin adalah tontonan menghibur, tapi menilik dari usahanya mengangkat jarak antargenerasi sekaligus observasi terhadap remaja kekinian, film ini kosong. Ibarat hidangan penuh micin, terasa sedap namun kurang bergizi. Bukan masalah andai tujuannya memang sebatas hiburan ringan, tapi bahkan sejak sekuen pembukanya bergulir, karya penyutradaraan teranyar Fajar Nugros (Yowis Ben, Terbang: Menembus Langit) ini mengincar lebih.

Sekuen yang dimaksud menampilkan Anggara muda (Brandon Salim), sebagai keturunan Cina masa lalu, menghabiskan hidupnya bekerja keras belajar berdagang. Bahkan setelah dewasa (diperankan Ferry Salim) dan menikah, ia menjanjikan sang istri (Melissa Karim) ruko mewah di Pantai Indah Kapuk. Fakta-fakta tersebut berlaku sebagai perbandingan begitu kita bertemu putera sulung Anggara, Kevin (Kevin Anggara), si generasi micin yang (katanya) ingin semua berjalan instan, enggan bersosialisasi, memilih berkutat dengan gadget dan video game di kamarnya.

Komparasi lain datang dari Trisno (Morgan Oey), generasi pasca reformasi, yang merujuk pada salah satu dialog, punya ciri berkebalikan dengan generasi micin: lambat. Trisno sempat bermimpi jadi penyanyi, sebelum membuangnya, dan kini hanya menghabiskan waktu bermalas-malasan di rumah. Generasi Trisno tak digali cukup dalam, tapi tak jadi soal. Pertama, ini bukan film tentang mereka. Kedua, Morgan menampilkan salah satu performa terbaik, paling natural, paling asyik disimak sepanjang karirnya. Begitu asyik, saya lupa bahwa sosok Trisno tak seberapa berarti. Dia hanya memberi petuah singkat bagi Kevin, sebuah peran yang sejatinya turut diemban Anggara.

Naskah tulisan Faza Meonk (Si Juki the Movie: Panitia Hari Akhir) kebingugnan hendak menyampaikan apa serta bagaimana. Kadang, Generasi Micin bagai ingin menunjukkan perbedaan remaja-remaja micin dengan generasi sebelumnya. Salah satu elemen komedik dari aspek itu adalah cara bicara Kevin saat menjelaskan sesuatu yang secepat berondongan senapan mesin. Karena, well, sebagai generasi micin, ia identik dengan hal-hal instan dan cepat. Pun film ini menampilkan bagaimana remaja sekarang punya keunggulan yang tak dimiliki pendahulunya, semisal memanfaatkan internet demi kebaikan.

Sedangkan di kesempatan lain, filmnya justru menakankan bila semua generasi sama saja. Mereka yang tua selalu merasa generasi di bawah mereka adalah penurunan. Kondisi itu terjadi sejak dulu dan akan terus berulang. Sebab apa pun generasinya, di usia muda, mereka hanya ingin bersenang-senang, termasuk berbuat kenakalan seperti saat Kevin bersama tiga temannya, Dimas (Joshua Suherman) si penggila K-Pop, Bonbon (Teuku Ryzki) si pelupa, dan Johanna (Kamasean Matthews) melakukan kejahilan-kejahilan di sekolah sebagai pemenuhan tantangan dari sebuah situs misterius. Poin di atas (semua generasi sama) bahkan diucapkan secara gamblang oleh Chelsea (Clairine Clay), si pujaan hati Kevin, di ending, yang (biasanya) berperan selaku perangkum pesan.

Dua tuturan kontradiktif di atas saling bertabrakan. Layaknya banyak tokoh remaja di dalamnya, Generasi Micin mengalami krisis identitas, penuh kebingungan, termasuk ketika mengakhiri kisahnya lewat epilog berkepanjangan yang kelabakan menutup berbagai cabang cerita pada sisa durasinya, dari soal kehidupan sekolah Kevin dan kawan-kawan, kehidupan Trisno, romansa Kevin dan Chelsea, hingga perihal situs misterius tadi.

Namun sekali lagi, bila anda sebatas mengharapkan kelezatan seperti masakan bertabur micin, film ini mungkin memuaskan. Naskah ditambah penyutradaraan Fajar Nugros mengisinya dengan semangat bersenang-senang di tiap momen, menertawakan siapa pun, apa pun, di mana pun. Hampir semua tokoh maupun situasi didesain konyol. Terkadang tawa hadir kala humornya terasa dekat, seperti Ibu Dimas (Cici Tegal) yang tergila-gila menonton drama Korea hingga lupa solat meski berjilbab, hingga kisah “telur dipotong sepuluh”, yang saya percaya, kerap anda dengar. Sayangnya tak jarang juga humornya berlangsung datar, tenggelam dalam absurditasnya sendiri, misalnya tiap hansip bermata juling (Erick Estrada) muncul.

Seperti Kevin dengan penjabaran super cepat yang tak memperhatikan apakah lawan bicaranya paham atau tidak, Generasi Micin terus menerjang, membabat habis hampir semua kesempatan dengan humor tanpa peduli apakah tepat sasaran. Seperti kandungan micin dalam masakan pula, itu bisa menghasilkan kelezatan, tapi alangkah baiknya bila kadarnya dikontrol.

BELOK KANAN BARCELONA (2018)

(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang mampu membawa saya dalam hubungan cinta/benci seperti Belok Kanan Barcelona. Saya mencintai caranya menuturkan betapa cinta dapat mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mencintai caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mencintai masing-masing karakter utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke bab agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang kini tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis adalah pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang kini menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan pernikahan Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi tempat curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut diam-diam memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan SMA selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, setelah terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi karakter beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mencintai kawan sendiri, ketika pengungkapan perasaan bak haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik seperti biasa sehingga mudah menerima saat Francis disukai dua gadis cantik walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: dia populer karena ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva akhirnya memperoleh materi yang pas guna memfasilitasi talenta komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui deretan ekspresi aneh dan ketiadaan urat malu dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan peran yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif menciptakan adegan emosional saat melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi cuci mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta mampu mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, hingga elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan keyakinan Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kamu tega membuat Francis harus memilih antara kamu (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, sebab kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts hereSaya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis akhirnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang keyakinan personal), itu cara paling aman agar bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat saat Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah keyakinan demi pernikahan dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, setelah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai materi komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu membuktikan ketidakpekaan para pembuatnya.

KOKI-KOKI CILIK (2018)

Mengawali debut lewat Garuda Di Dadaku (2009) pun pernah mengarahkan Ambilkan Bulan (2012), sutradara Ifa Isfansyah kembali menangani film anak, atau lebih tepatnya film dengan karakter anak, mengingat kontennya bukan saja dapat dinikmati penonton usia dini, orang dewasa pun bisa memetik pelajaran berharga di balik usaha tokoh utamanya menjadi koki cilik terbaik. Bagi Ifa sendiri, Koki-Koki Cilik membuktikan kapasitasnya menggarap film semua umur belum luntur, bahkan lebih baik ketimbang karya-karya di luar zona aman miliknya seperti Pendekar Tongkat Emas (2014) apalagi Pesantren Impian (2016).

Film ini punya judul awal Cooking Camp yang merujuk pada acara yang ingin diikuti si protagonis, Bima (Farras Fatik), di mana anak-anak berkemah sambil belajar sekaligus berlomba masak. Berasal dari keluarga sederhana yang mesti memaksa ia dan sang ibu (Fanny Fabriana) memecah celengan plus menerima sumbangan warga demi membayar biaya masuk, Bima pun dipandang remeh. Jangankan menggulingkan dominasi Audrey (Chloe Xaviera) selaku juara tiga tahun beruntun, mengucapkan “chef” dengan benar saja dia tak mampu. Tapi berbekal buku resep buatan mendiang ayahnya, Bima optimis mampu bertahan dan menang.

Mengambil latar di perkemahan anak, pastilah elemen persahabatan turut hadir. Teman-teman Bima, meski tak semua punya kepribadian menarik dan saya yakin mayoritas penonton takkan mampu mengingat seluruh nama mereka, cukup piawai perihal mengajak kita bersenang-senang. Apalagi saat Melly yang diperankan Alifa Lubis, sang pemenang Little Miss Indonesia 2013, mengeluarkan polah antik yang melibatkan celotehan serba dramatis bak remaja hingga gerakan yoga. Tapi fokus tak sampai terbelah, tetap mengerucut pada perjuangan Bima.

Naskah karya Vera Varidia (Surat Cinta untuk Kartini, Me vs Mami) urung mengutak-atik formula from-zero-to-hero, sehingga pertemuan Bima dengan karakter father figure yang bakal membimbingnya mencapai status “hero” bisa ditebak kehadirannya sedari awal. Sosok itu adalah Rama (Morgan Oey), petugas kebersihan Cooking Camp yang diam-diam merupakan mantan chef ternama. Polanya jelas: Bima minta diajari memasak, Rama menolak, Bima kukuh, Rama luluh, kemudian dalam montase latihan singkat, Bima diperlihatkan belajar satu-dua hal seputar memasak. Bukan cuma itu, Rama turut mengingatkan Bima akan pesan mendiang ayahnya dahulu, “Yakin akan kekuatan lidah kamu”, atau dalam konteks lebih umum, “percaya pada kemampuanmu”.

Bima coba meningkatkan rasa masakannya, dan hubungannya dengan Rama pun merupakan sumber rasa Koki-Koki Cilik. Farras dalam film keempat sekaligus peran utama perdananya pandai memainkan emosi, sedangkan Morgan mulus menangani Rama yang tengah berkonflik batin. Rama senantiasa ketus, membuat senyum simpul pertamanya, kala Bima melakukan “transfer energi” menghadirkan kehangatan. Kalau bukan karena ketepatan timing Morgan menyunggingkan sekilas senyum, dampak serupa takkan terasa.  

Apabila penonton anak bisa belajar dari perjuangan Bima, para orang tua yang menemani mereka wajib memperhatikan kisah Rama. Awalnya, Rama bersedia mengajari Bima demi menuntaskan dendam personalnya. Menurut Rama, semua peserta adalah saingan. Sebaliknya, Bima menganggap mereka teman. Dia ingin juara namun enggan terbutakan persaingan panas. Ketika orang dewasa dikuasai ambisi, hasrat kompetitif, dan praduga, para anak sebatas ingin bersenang-senang sembari mencintai sesuatu dan/atau seseorang. “Jadi orang jangan terlalu lugu” merupakan pernyataan yang belakangan makin kerap terdengar, dan Koki-Koki Cilik seolah menantang perspektif terseut sewaktu Bima dan Rama sering berbenturan akibat perbedaan cara memandang lomba di Cooking Camp.

Sebagai food movie, adegan penyajian makanan enak dilihat pula menggugah selera. Tampak betul Ifa memahami bahwa momen memasak tak perlu sudut pengambilan gambar penuh gaya. Cukup close up sehingga makanan terlihat jelas. Karena kini, sewaktu proses memasak dimulai, semua adalah tentang masakannya, bukan lagi sang koki. Ifa, dibantu penataan kamera Yadi Sugandi (Sang Penari, Kuntilanak), memastikan penonton bisa merasakan tekstur kenyal daging maupun gurihnya kuah kare. Pun rangkaian momennya dinamis berkat tempo cekatan dari Ifa plus penyuntingan lincah Cesa David Luckmansyah (Sang Penari, Guru Ngaji).

Sayang, selaku “film kompetisi” di mana perlombaan berjalan beriringan dengan proses belajar tokohnya, film ini berlubang. Koki-Koki Cilik bak gemar memencet tombol fast forward. Contohnya saat Bima, si ahli masakan Indonesia yang tak tahu sushi, berhasil mengkreasi masakan Jepang sebagai simbol kesuksesan melampaui batasan diri. Bisa menjadi peristiwa bermakna andai sebelum merengkuh sukses, kita dibawa sejenak menyaksikan Bima meresapi apa yang telah dipelajari, menerapkannya, kemudian baru memetik hasilnya. Alih-alih demikian, Koki-Koki Cilik bergegas mencapai garis akhir saat ramen buatan Bima disajikan. Masalah itu pula penyebab tensi kompetisinya kurang. Kita tak diberi kesempatan “gigit jari” menantikan koki-koki cilik ini berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan.

Tugas pertama bagi koki-koki cilik yakni membuat hidangan berbahan dasar buah. Saya bersorak dalam hati ketika Bima berjaya berkat rujaknya. Itulah titik di mana Koki-Koki Cilik mengingatkan penontonnya kepada hal penting dalam hidup. Ini bukan bagaimana terlihat elegan dan tidak kampungan. Itu dangkal. Bima hanya jujur dan melakukan apa yang dia cinta (masak), yang ia tekuni karena seseorang yang dia cinta (bapak). Do what you love and love what you do. Klise, sederhana, namun benar adanya.  

ARINI (2018)

Bayangkan sebuah puzzle bergambar gajah. Hampir seluruh keping telah tersusun kecuali bagian belalai dan gading yang ternyata hilang. Tentu anda sudah bisa menebak bahwa itu gajah, namun ketidaktuntasan itu pastinya mengganjal. Lagipula esensi puzzle bukan menanyakan “gambar apa?”, melainkan bagaimana potongan-potongan kecil dapat membentuk satu kesatuan besar. Arini sama seperti itu. Film panjang kelima Ismail Basbeth (Another Trip to the Moon, Mencari Hilal) selaku adaptasi novel Biarkan Kereta itu Lewat, Arini karya Mira W. ini adalah puzzle yang tidak selesai.

Saya belum membaca novelnya, pula menonton film versi 1987 (berjudul Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat) yang menampilkan pasangan Widyawati-Rano Karno. Tapi saya bisa merasakan bahwa di balik presentasi 80 menit ini tersembunyi tuturan soal pemberdayaan wanita, hubungan beda usia yang berdampak pada interaksi berupa benturan pola pikir, kegelisahan tentang cinta, hingga beragam kompleksitas lain, termasuk yang ditampilkan melalui sebuah twist di pertengahan kisah. Sayang, semua tersembunyi terlampau dalam dan urung mencuat merasuki hati serta pikiran penonton.
Naskah buatan Ismail Basbeth dan Titien Wattimena (Dilan 1990, Hujan Bulan Juni, Salawaku) menerapkan teknik non-linier di paruh awal. Kita diajak maju-mundur mengamati Arini (Aura Kasih) di masa lalu dan kini. Timbul pertanyaan, mengapa di kedua masa yang terpisah 13 tahun itu sikap Arina bertolak belakang? Sama-sama diawali perjalanan di atas kereta (satu di Jerman, satu di Indonesia), Arini masa kini tampak dingin cenderung ketus. Walau sejatinya kebanyakan orang pasti bersikap sama kala didatangi pria asing macam Nick (Morgan Oey) yang mendadak minta bantuan untuk sembunyi karena naik kereta tanpa karcis.

Nick 15 tahun lebih muda dari Arini. Muda, riang, penuh semangat, juga gila. Kegilaannya terlihat ketika Nick tiba-tiba muncul di apartemen Arini. Ya, ia memiliki alasan jelas (selain jatuh cinta pada pandangan pertama), yaitu mengembalikan telepon genggam yang tertinggal. Tapi setelahnya, Nick menolak pulang, membawakan bunga, memaksa tinggal untuk makan malam. Di sini ketidaklengkapan puzzle tadi berpengaruh. Penggambaran bahwa Arini diam-diam mencari cinta dipaparkan kurang tegas. Arini seperti wanita yang gagal belajar dari trauma masa lalu dengan Helmi (Haydar Salishz) si mantan suami. Motivasinya kabur.
Arini berujung jadi satu lagi simplifikasi kisah cinta, kala suatu film memaksa penonton menerima sikap karakter atas dasar “cinta tidak peduli logika”. Arini dan Nick pun menghabiskan sehari bersama di Heidelberg. Pertemuan yang diakhiri kurang menyenangkan, sebelum filmnya melompat beberapa waktu ke depan sambil memindahkan setting ke Indonesia. Bisa ditebak mereka bertemu lagi, meski sukar dipahami alasan Arini begitu saja memaafkan Nick, bocah yang mencaci-maki hanya karena gagal meniduri wanita. Selanjutnya hubungan keduanya bergerak lebih cepat dari Shinkansen, minim eksplorasi di ranah proses.

Sukar mencintai romantika instan begini kalau bukan didorong penyutradaraan plus akting. Morgan tampil beda. Walau sesekali terlihat memaksakan untuk menjadi pemuda “ekspresif”, penampilannya menyenangkan disaksikan. Begitu pula Aura Kasih, yang menyimpan masalah serupa, yakni terlalu berusaha nampak dingin dan ketus. Menyatukan keduanya adalah penyutradaraan Ismail Basbeth yang sekali lagi berhasil menekankan olah rasa. Dibantu reka ulang lagu-lagu klasik seperti Mencintaimu dan Kaulah Segalanya (dibawakan Morgan dan Claresta), Basbeth memunculkan romantisme dari kehambaran naskah. Simak adegan ciuman pertama yang enggan terburu-buru, sabar membangun tahap demi tahap pertukaran rasa melalui saling tatap dua pemeran utama.

SWEET 20 (2017)

Lebaran bukan melulu soal agama, juga momen berharga di mana bagi sebagian orang jadi kesempatan langka bertemu keluarga besar. Mereka bercengkerama, bertukar cerita, tertawa bahagia. Lebaran adalah liburan. Liburan yang (semestinya) hangat dan menyenangkan. Sehingga "film lebaran" menjadi sempurna apabila mampu menimbulkan rasa-rasa tersebut sekaligus bisa ditonton bersama orang-orang tercinta. Sambutlah Sweet 20, satu dari lima remake (ada tiga lagi sedang dipersiapkan) drama-komedi asal Korea Selatan, Miss Granny, yang niscaya bakal melambungkan Tatjana Saphira ke jajaran lead actress papan atas.

Adaptasi naskah oleh Upi tak sekedar melakukan alih bahasa, juga budaya termasuk menempatkan adat sungkeman keluarga kala lebaran yang dilakukan tokoh Fatmawati (Niniek L. Karim) beserta anak tunggal kesayangannya yang kini sukses menjadi dosen, Aditya (Lukman Sardi), Salma (Cut Mini) si menantu yang gemar ia kritisi, juga kedua cucunya, Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key). Kecerewetan Fatmawati rupanya acap menghadirkan kesulitan, yang akhirnya menyulut wacana memasukkan sang nenek ke panti jompo.
First act mengenai ujian terhadap ikatan kasih keluarga kemudian berpindah menyinggung ranah fantasi (genre yang sulit dieksekusi baik dalam perfilman kita) pada second act ketika Fatmawati yang terpukul mendengar niat anak-cucunya tadi menemukan studio foto milik seorang pria tua (Henky Solaiman). Harapan mendapat foto cantik untuk pemakaman malah memberi keajaiban. Fatmawati kembali bak gadis berusia 20 tahun (diperankan Tatjana Saphira). Mengadopsi nama aktris favoritnya (Mieke Wijaya), Fatmawati berharap menggapai mimpi masa mudanya yang dahulu urung tercapai akibat jerat kemiskinan.

Jujur saja, sebelum ini saya cenderung meragukan kapasitas Tatjana akibat ekspresi maupun luapan emosi tanggung dalam berakting. Peran sebagai Fatmawati/Mieke membawanya naik kelas, dari aktris muda berparas ayu menuju pemeran utama kompeten. Aksinya penuh semangat, jago menangani momen komedik entah melalui raut wajah menggelitik sampai gaya bicara bagai wanita tua sembari tetap solid melakoni porsi dramatik. Tatjana tidak terjebak untuk berlebihan tampil konyol supaya nampak lucu. Sebaliknya, kelincahan berenergi miliknya menguatkan penokohan selaku tingkah wajar Fatmawati kala mendapat lagi gelora dan tenaga yang telah lama hilang. Fatmawati is excited to chase her old dream and we can easily feel that excitement.
Bukan sang aktris saja, sutradara Ody C. Harahap (Me vs. Mami, Kapan Kawin?, Skakmat) dan Upi sebagai penulis naskah pun saling melengkapi, berujung pencapaian terbaik sepanjang karir masing-masing. Ramuan komedi Upi sempurna divisualisasikan oleh Ody melalui pendekatan “makin kacau makin baik” semisal saat Hamzah (Slamet Rahardjo), si kakek yang terpikat pada Fatmawati berteriak ketakutan setengah mati menaiki wahana Dunia Fantasi, hingga gemasnya Hamzah bersama Mieke menonton sinetron di televisi. Demikian pula paparan drama. Upi konsisten memberi latar (kenangan, kasih sayang keluarga, persahabatan tak terucapkan) dalam tiap kesedihan atau haru, bukan dramatisasi asal guna memaksa mengucurkan air mata penonton.

Di sinilah Ody melakukan hal yang sutradara kelas satu pun belum tentu sanggup: memuluskan perpindahan tone. Lompatannya tak tergesa-gesa berkat keberadaan transisi memadahi, pandai juga ia mengatur dinamika melalui kecermatan menaikturunkan intensitas rasa. Sang sutradara paham kapan pembangunan emosi dilakukan, kapan hook dilemparkan, kapan mesti menetap di satu momen, kapan waktunya berpindah ke momen lain. Alhasil baik tawa atau tangis tersaji total, urung terkikis kekuatannya.
Kembali ke naskah, Upi berhasil memaksimalkan karakter pendukung yang tidak sedikit. Secara natural semua diberi porsi mencuri perhatian berkat penempatan tepat di mana seorang tokoh mendapat fokus karena memang sudah tiba waktunya hadir mengisi sentral. Kelebihan ini mendukung fakta Sweet 20 diisi ensemble cast yang bermain apik. Slamet Rahardjo terlihat bersenang-senang menjadi kakek centil sambil mempertahankan bobot akting, Widyawati Sophiaan yang “menggila” dan tidak kalah centil, Lukman Sardi yang menyentuh hati dalam klimaks emosi film, sampai sejumlah memorable cameo sebutlah Joe P Project dan Karina Nadila. Bakal terlampau panjang membahas kualitas para penampil sebab nama-nama seperti Cut Mini, Morgan Oey, Kevin Julio, hingga Tika Panggabean tak kalah memikat.

Sisi artistik Sweet 20 juga ikut melengkapi, memuaskan mata dan telinga melalui nuansa retro yang cakap ditunjukkan lewat kostum serta tata rias yang dikenakan Tatjana, pemilihan warna-warni indoor setting, juga penggunaan lagu-lagu klasik macam Payung Fantasi dan Bing. Memikat luar-dalam di segala aspek, Sweet 20 akan mengobrak-abrik tembok perasaan anda, jadi apabila sepanjang liburan lebaran hanya satu film sempat ditonton, pastikan pilihan jatuh pada film ini. The best Indonesian movie of the year by far