REVIEW - MERINDU CAHAYA DE AMSTEL

18 komentar

Merindu Cahaya de Amstel diadaptasi dari novel berjudul sama buatan Arumi E, yang konon terinspirasi kisah nyata seorang wanita Belanda, Marien (Amanda Rawles), yang memutuskan jadi mualaf setelah hidupnya hancur. Pacarnya berselingkuh lalu menyebarkan video pribadi mereka, membuat orang tua Marien yang religius mengusirnya. Marien coba bunuh diri. Beruntung, Fatimah (Oki Setiana Dewi) menemukannya tepat waktu.

Marien, yang berganti nama menjadi Khadija, merasa Islam memberinya "kesembuhan". Lewat cara apa? Bagaimana Khadija mampu mentas dari titik terendahnya? Entahlah. Melalui flashback, kita cuma melihat Fatimah memakaikan hijab, saat Khadija menanyakan cara untuk menjadi manusia yang lebih baik. Itulah permasalahan Merindu Cahaya de Amstel. Terlalu menggambangkan, dangkal, mendahulukan tampak luar ketimbang unsur spiritual.

Kebetulan (disebut "takdir Allah" oleh filmnya) Khadija bertemu Nicholas (Bryan Domani), seorang fotografer jurnalistik. Nicholas tidak sengaja memotret Khadija, dan alangkah terkejut ia, kala foto itu memperlihatkan tubuh si wanita memancarkan cahaya. Terdengar bak "berita" sensasional yang gemar dibagikan boomers di grup WhatsApp, tapi biarlah. 

Bersama rekannya, orang Indonesia bernama Joko (Ridwan Remin), Nicholas berniat menjadikan Khadija narasumber untuk artikel mengenai wanita muslim Eropa. Ada poin menarik tentang dua protagonis kita. Mereka lancar berbicara Bahasa Indonesia, sebab sama-sama pernah tinggal di Indonesia. Sungguh kebetulan (baca: takdir Allah) yang luar biasa. Setidaknya film ini mau susah payah mencari alasan, daripada secara ajaib membuat orang Belanda tulen fasih berbahasa Indonesia. 

Kebetulan (baca: takdir Allah) kembali menampakkan kuasanya, dengan mempertemukan Khadija dan Kamala (Rachel Amanda), mahasiswi asal Indonesia. Mereka akhirnya bersahabat, meski Kamala terkadang kurang nyaman di dekat Khadija, yang dianggapnya seperti guru agama. "Kamu hidup bebas, sama seperti wanita-wanita di sini", ucap Nicholas pada Kamala. Oh, sudahkah saya menuliskan soal kebetulan (baca: takdir Allah) yang turut mempertemukan Nicholas dan Kamala?

Sebebas apa hidup Kamala? Jawabannya, dia tidak pernah salat. Kamala selalu jengah tiap sang ibu (Maudy Koesnaedi) menelepon jam lima pagi agar dia salat subuh. Tapi Kamala tidak mabuk-mabukkan, tidak menganut seks bebas, tidak suka clubbing, bahkan menerapkan larangan membawa masuk pria ke apartemennya. Jadi bagian mana yang di mata Nicholas "seperti wanita Belanda?". 

Harus diakui 30 menit pertamanya menyenangkan. Empat karakter saling bertegur sapa, bercanda, bertukar cerita, diperankan empat aktor yang ahli berkomunikasi. Rachel selalu natural, Ridwan tak pernah gagal memancing tawa, sedangkan Bryan-Amanda, meski kerap mengalami inkonsistensi logat (beberapa kali berubah dari "bule berbahasa Indonesia" ke "orang Jakarta biasa"), sanggup menghindari kesan hiperbolis dalam akting mereka. Bryan tidak berusaha keras agar terlihat keren, Amanda tidak berlebihan sebagai sosok wanita solehah. Di titik ini, pengarahan Hadrah Daeng Ratu pun menitikberatkan pada interaksi sederhana alih-alih dramatisasi. 

Sayang, seiring meningkatnya kuantitas konflik, semakin kualitas film menurun. Kisah cinta segitiga klisenya bisa dimaklumi, mengingat itu elemen khas genre romansa religi yang digandrungi target pasarnya (remaja-remaja wanita di studio tempat saya menonton jelas memberi respon positif), namun beberapa subplot yang lebih "berat" justru lebih mengganggu.

Sebagaimana saya singgung di atas, Merindu Cahaya de Amstel adalah suguhan religi dangkal. Mengangkat perihal agama tanpa pembahasan tentang batin, spiritual, atau semacamnya. Khadija akhirnya menerima tawaran Nicholas sebagai narasumber, dengan harapan bisa mengangkat soal wanita muslim di Eropa. Seperti apa wanita muslim di Eropa? Kisah apa yang mereka lalui? Tidak pernah jelas, sebab penuturan Khadija pun hanya ditampilkan sambil lalu. Mendadak di penghujung durasi, disebut bahwa ceritanya tersebar luas dan dikagumi warga Eropa. Cerita apa?

Muncul kesan jika Merindu Cahaya de Amstel sebatas mendefinisikan wanita muslim Eropa (atau wanita muslim secara keseluruhan) melalui tampilan luar saja. Selalu pemakaian hijab yang dibahas. Ingin jadi manusia yang lebih baik? Pakailah hijab. Ingin menjadi muslimah yang membanggakan sang ibu? Pakailah hijab. Tidak lupa, naskah buatan Benni Setiawan (tentu seorang pria), melempar analogi permen saat membahas alasan wanita perlu menutup aurat.

Film ini menganggap wanita bak permen yang sebaiknya tetap dibungkus? Baik. Saya juga bisa memakai analogi serupa. Merindu Cahaya de Amstel juga sebaiknya tetap dibungkus. Biarkan saja DCP-nya tersimpan di dalam lemari. Tidak perlu ditayangkan. Sayang kan? Sudah keluar banyak uang untuk memproduksi DCP, kok malah disebarkan ke bioskop-bioskop. Nanti rusak lho! 

18 komentar :

Comment Page:
vian mengatakan...

Pas baca part "permen" itu, langsung setuju rate-nya. Hadeuh, analogi murahan ini udah nyusup ke layar lebar juga ternyata. :'(

Andri mengatakan...

Bang Rasyid gak ada keinginan buat review Makmum 2?

Anonim mengatakan...

Bang review makmum 2 dong, soalnya ini film terlaris selama era pandemi hahaha. Film ini mengalahkan 'sebelum iblis menjemput' yg notabene artisnya lebih menjual.

Anonim mengatakan...

mas rasyid ngga ada niatan nge review makmum 2

Aksa mengatakan...

Sedang menunggu review makmum 2

Albert mengatakan...

Kok tanyanya Makmum semua sih 😂😂

Mollywood mengatakan...

Bangke nih malah pada pengen review makmum 2 ����. Kalo gitu gw usul sekalian trah 7 di review dong gan, lumayan balik ke jaman vividism.

Anonim mengatakan...

Kok cewe2 cerdas dan modern itu mau2nya disamain dg benda mati seperti permen (yg selalu terbungkus) ya. Bangga pula.

hilpans mengatakan...

Plus..bung...review makmum 2 dunk....

Unknown mengatakan...

MAKMUM 2 MAS RASYID, SATU JUTA PENONTON LOCHH FILM TERLARIS 2021

Anonim mengatakan...

Loh, makmum 2 belum di review toh?

Anonim mengatakan...

Makmum 2 boleh mas direview

Max And Mania mengatakan...

mas rasyid, request review makmum 2

Cinema Paradiso mengatakan...

Amanda Rawles dan Rachel Amanda balik ke setelan pabrik

Billy Loomis mengatakan...

Jadi penasaran pengen nonton film Merindu Cahaya De Amstel.
Kayanya menarik.


Ngomong2 review MAKMUM nya ditunggu ya
Film pemecah rekor era pandemi

Anonim mengatakan...

berarti ini kesimpulannya ga suka film ini?

Fradita Wanda Sari mengatakan...

Aduh ngakak dari beberapa post film Indo terakhir komentarnya Makmum semua hahaha

Freeinay mengatakan...

selalu ngakak pas baca bagian, 'kebetulan (baca : takdir Allah)... wkwkwkwk....