Tampilkan postingan dengan label Amanda Rawles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amanda Rawles. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MERINDU CAHAYA DE AMSTEL

Merindu Cahaya de Amstel diadaptasi dari novel berjudul sama buatan Arumi E, yang konon terinspirasi kisah nyata seorang wanita Belanda, Marien (Amanda Rawles), yang memutuskan jadi mualaf setelah hidupnya hancur. Pacarnya berselingkuh lalu menyebarkan video pribadi mereka, membuat orang tua Marien yang religius mengusirnya. Marien coba bunuh diri. Beruntung, Fatimah (Oki Setiana Dewi) menemukannya tepat waktu.

Marien, yang berganti nama menjadi Khadija, merasa Islam memberinya "kesembuhan". Lewat cara apa? Bagaimana Khadija mampu mentas dari titik terendahnya? Entahlah. Melalui flashback, kita cuma melihat Fatimah memakaikan hijab, saat Khadija menanyakan cara untuk menjadi manusia yang lebih baik. Itulah permasalahan Merindu Cahaya de Amstel. Terlalu menggambangkan, dangkal, mendahulukan tampak luar ketimbang unsur spiritual.

Kebetulan (disebut "takdir Allah" oleh filmnya) Khadija bertemu Nicholas (Bryan Domani), seorang fotografer jurnalistik. Nicholas tidak sengaja memotret Khadija, dan alangkah terkejut ia, kala foto itu memperlihatkan tubuh si wanita memancarkan cahaya. Terdengar bak "berita" sensasional yang gemar dibagikan boomers di grup WhatsApp, tapi biarlah. 

Bersama rekannya, orang Indonesia bernama Joko (Ridwan Remin), Nicholas berniat menjadikan Khadija narasumber untuk artikel mengenai wanita muslim Eropa. Ada poin menarik tentang dua protagonis kita. Mereka lancar berbicara Bahasa Indonesia, sebab sama-sama pernah tinggal di Indonesia. Sungguh kebetulan (baca: takdir Allah) yang luar biasa. Setidaknya film ini mau susah payah mencari alasan, daripada secara ajaib membuat orang Belanda tulen fasih berbahasa Indonesia. 

Kebetulan (baca: takdir Allah) kembali menampakkan kuasanya, dengan mempertemukan Khadija dan Kamala (Rachel Amanda), mahasiswi asal Indonesia. Mereka akhirnya bersahabat, meski Kamala terkadang kurang nyaman di dekat Khadija, yang dianggapnya seperti guru agama. "Kamu hidup bebas, sama seperti wanita-wanita di sini", ucap Nicholas pada Kamala. Oh, sudahkah saya menuliskan soal kebetulan (baca: takdir Allah) yang turut mempertemukan Nicholas dan Kamala?

Sebebas apa hidup Kamala? Jawabannya, dia tidak pernah salat. Kamala selalu jengah tiap sang ibu (Maudy Koesnaedi) menelepon jam lima pagi agar dia salat subuh. Tapi Kamala tidak mabuk-mabukkan, tidak menganut seks bebas, tidak suka clubbing, bahkan menerapkan larangan membawa masuk pria ke apartemennya. Jadi bagian mana yang di mata Nicholas "seperti wanita Belanda?". 

Harus diakui 30 menit pertamanya menyenangkan. Empat karakter saling bertegur sapa, bercanda, bertukar cerita, diperankan empat aktor yang ahli berkomunikasi. Rachel selalu natural, Ridwan tak pernah gagal memancing tawa, sedangkan Bryan-Amanda, meski kerap mengalami inkonsistensi logat (beberapa kali berubah dari "bule berbahasa Indonesia" ke "orang Jakarta biasa"), sanggup menghindari kesan hiperbolis dalam akting mereka. Bryan tidak berusaha keras agar terlihat keren, Amanda tidak berlebihan sebagai sosok wanita solehah. Di titik ini, pengarahan Hadrah Daeng Ratu pun menitikberatkan pada interaksi sederhana alih-alih dramatisasi. 

Sayang, seiring meningkatnya kuantitas konflik, semakin kualitas film menurun. Kisah cinta segitiga klisenya bisa dimaklumi, mengingat itu elemen khas genre romansa religi yang digandrungi target pasarnya (remaja-remaja wanita di studio tempat saya menonton jelas memberi respon positif), namun beberapa subplot yang lebih "berat" justru lebih mengganggu.

Sebagaimana saya singgung di atas, Merindu Cahaya de Amstel adalah suguhan religi dangkal. Mengangkat perihal agama tanpa pembahasan tentang batin, spiritual, atau semacamnya. Khadija akhirnya menerima tawaran Nicholas sebagai narasumber, dengan harapan bisa mengangkat soal wanita muslim di Eropa. Seperti apa wanita muslim di Eropa? Kisah apa yang mereka lalui? Tidak pernah jelas, sebab penuturan Khadija pun hanya ditampilkan sambil lalu. Mendadak di penghujung durasi, disebut bahwa ceritanya tersebar luas dan dikagumi warga Eropa. Cerita apa?

Muncul kesan jika Merindu Cahaya de Amstel sebatas mendefinisikan wanita muslim Eropa (atau wanita muslim secara keseluruhan) melalui tampilan luar saja. Selalu pemakaian hijab yang dibahas. Ingin jadi manusia yang lebih baik? Pakailah hijab. Ingin menjadi muslimah yang membanggakan sang ibu? Pakailah hijab. Tidak lupa, naskah buatan Benni Setiawan (tentu seorang pria), melempar analogi permen saat membahas alasan wanita perlu menutup aurat.

Film ini menganggap wanita bak permen yang sebaiknya tetap dibungkus? Baik. Saya juga bisa memakai analogi serupa. Merindu Cahaya de Amstel juga sebaiknya tetap dibungkus. Biarkan saja DCP-nya tersimpan di dalam lemari. Tidak perlu ditayangkan. Sayang kan? Sudah keluar banyak uang untuk memproduksi DCP, kok malah disebarkan ke bioskop-bioskop. Nanti rusak lho! 

REVIEW - DEAR NATHAN: THANK YOU SALMA

Rilis pada 2017, Dear Nathan memperoleh 700 ribu penonton. Setahun berselang, Hello Salma selaku sekuel disaksikan oleh 840 ribu orang. Pun peran Nathan melambungkan nama Jefri Nichol sebagai salah satu aktor muda paling bersinar. Menyebutnya "underrated" jelas kurang pas, tapi secara kualitas, nyatanya adaptasi novel karya Erisca Febriani ini memang belum mendapat pengakuan yang sesuai.

Coba sebutkan trilogi film Indonesia yang kualitasnya konsisten. Laskar Pelangi dan Jelangkung terjun bebas di installment ketiga, sementara kalau Kuntilanak yang muncul di kepala anda, percayalah itu lebih karena faktor nostalgia. Sehingga Thank You Salma merupakan produk langka. Sebuah penutup kuat nan segar, yang memantapkan status Dear Nathan sebagai salah satu trilogi terbaik negeri ini.

Kini Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) adalah mahasiswa. Salma aktif menulis puisi, percaya bahwa dunia dapat berubah melalui gagasan-gagasan modern media digital, sebaliknya Nathan, yang aktif demo bersama kelompok himpunan mahasiswa, menganggap aktivisme sebaiknya dilakukan langsung di jalan. Jurang perbedaan tersebut mulai memunculkan keraguan akan masa depan hubungan mereka.

Serupa dua film pertama, naskah buatan Bagus Bramanti dan Gea Rexy masih tampil sederhana tetapi kuat dalam presentasi romansanya. Pasca kerusuhan di sebuah demo, Salma meminta Nathan berhenti. Perspektif Salma adalah, semestinya Nathan lebih mementingkan orang-orang terdekat yang memedulikan keselamatannya. Sedangkan Nathan tetap kukuh bahwa membela kaum tertindas melalui demonstrasi merupakan keharusan. 

Soal siapa benar atau salah itu relatif. Tergantung pada kacamata mana yang dipakai. Terpenting, filmnya memastikan bahwa dua sudut pandang berlawanan itu masuk akal, serta didasari cinta masing-masing. Gesekan ini makin rumit lewat kehadiran Afkar (Ardhito Pramono), musisi yang menyembunyikan identitasnya memakai nama panggung Gema Senja. Salma mengidolakan Gema Sanja, dan keduanya bertemu di kelompok mahasiswa pecinta puisi yang diketuai Afkar. 

Sama seperti Salma, Afkar meyakini perubahan bisa dibawa oleh gagasan dalam karya seni, alih-alih melalui demonstrasi. Thank You Salma punya romantika di fase yang tricky. Bukan lagi remaja SMA yang terpikat rayuan gombal atau (cuma) fisik, bukan pula cerita cinta dewasa yang penuh lika-liku kompleks. Karakternya berada di usia dewasa awal. Usia pencarian jati diri yang sesungguhnya, tatkala ideologi terbentuk dan dipuja, sehingga individu mencari "teman perjalanan" berdasarkan itu. Apa yang film ini hadirkan adalah proses pendewasaan, guna mencari titik tengah di antara dua ideologi, yang walau berbeda, namun menyimpan satu tujuan. 

Tapi yang membuat Thank You Salma terasa segar (sekaligus ambisius, karena menggiring konklusi sebuah trilogi keluar dari pakem romansa) adalah selipan isu tentang pelecehan seksual di latar kampus. Korbannya Zanna (Indah Permatasari dalam satu lagi performa emosional), teman sekelas Nathan. Pelakunya Rio (Sani Fahreza), rekan Nathan di himpunan mahasiswa. Dibantu Rebecca (Susan Sameh), Zanna memperjuangkan keadilan, meski ditentang banyak pihak, termasuk kampus yang justru membela si pelaku. 

Identitas pelaku adalah alasan urgensi isu milik Thank You Salma. Aktivis, berasal dari keluarga terpandang, pula berprestasi di kampus. Fenomena serupa belakangan makin marak, ketika aktivisme jadi kedok predator seksual menyembunyikan ketidakmampuan mengontrol kelamin busuk mereka. Apa yang terjadi saat si aktivis mesum hendak diperkarakan? Seperti respon teman-teman "seperjuangan" Nathan, terucaplah "Jangan merusak pergerakan".

Beberapa kalimat seputar pelecehan seksualnya acap kali terdengar preachy, terutama saat Rebecca "menceramahi" Nathan tentang cara menyikapi pengakuan para penyintas. Tapi itu wajar terjadi, karena masih luar biasa tololnya laki-laki Indonesia menyikapi isu tersebut. Melihat situasi sekarang, penyampaian secara lebih halus dan subtil takkan berdampak. Sudah sepantasnya edukasi itu diteriakkan dengan gamblang tepat di depan muka orang-orang. 

Menjelang babak akhir, penceritaannya memang agak goyah. Bagaimana Salma ditarik memasuki lingkup konflik Zanna tampak canggung, baik dalam penulisan maupun pengadeganan Kuntz Agus selaku sutradara. Begitu juga resolusi percintaan Nathan-Salma, yang penempatannya kurang tepat, sehingga terkesan "mencuri panggung" dari isu pelecehan seksualnya. 

Tapi saya mengapresiasi penggambaran karakter Nathan. Tentu pada akhirnya ia jadi figur pahlawan (a dependable and likeable one thanks to Jefri's usual charisma), namun di awal, ia gagal memahami penyintas. "Kalau Zanna jujur, kenapa dia nggak langsung lapor?", tanya Nathan. Bedanya, jika banyak masyarakat negeri ini menolak paham, Nathan mau belajar. Karena Nathan tahu cara menjadi manusia. Kita pun seharusnya demikian. 

REVIEW - A WORLD WITHOUT

Menciptakan dunia distopia di narasi fiksi tidak bisa asal. Proses "melebih-lebihkan" suatu elemen sosial harus dilakukan secara cermat. Harus ada pijakan kokoh berbasis kondisi realita, agar sewaktu mengunjunginya, penonton dapat mengasosiasikan dunia tersebut dengan masa depan yang mungkin terjadi. 

Menonton A World Without karya Nia Dinata (Arisan, Berbagi Suami, Ini Kisah Tiga Dara), yang menulis naskahnya bersama Lucky Kuswandi (Galih dan Ratna, Ali & Ratu Ratu Queens), saya merasa asing. Bagaimana bisa dunia kita berubah menjadi dunia di dalamnya? Pertanyaan yang lebih penting, "Apa sebenarnya yang hendak disampaikan film ini?".

A World Without berlatar tahun 2030 selepas pandemi COVID-19 usai, di mana sebuah komunitas bernama The Light milik pasangan suami-istri, Ali Khan (Chicco Jerikho) dan Sofia (Ayushita). Bisa dibilang The Light adalah evolusi dating app. Para remaja berkumpul, belajar beragam kemampuan, lalu saat menginjak 17 tahun, The Light bakal menikahkan mereka dengan pasangan yang dipilih menggunakan algoritma. 

Tiga sahabat, Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura) baru saja bergabung. Melihat ketiganya, pertanyaan-pertanyaan langsung memenuhi otak. Nia dan Lucky ingin menyentil "kaum kanan" melalui idelogoi The Light yang menentang konsep pacaran (termasuk lewat video propaganda palsu), pula mendukung gerakan nikah muda dan poligami. 

Saya termasuk yang bakal menentang, alias berada di pihak pembuat film ini. Di realita, ideologi The Light berasal dari sudut pandang agama. Saya bisa memahami alasan Tara yang mempunyai masa lalu kelam (orang-orang serupa kerap mudah tergoda "hijrah salah kaprah"), tapi bagaimana dengan Salina? Dia mengidolakan Ali Khan karena merindukan sosok ayah, namun itu belum cukup menjelaskan, mengapa gadis sepertinya bersedia jadi "budak moral", seperti saat merekam orang-orang yang berpacaran di ruang publik? 

Mari berasumsi kalau Salina begitu memuja Ali, sampai mau mengikuti seluruh perkataannya. Kalau begitu, menjadi tidak wajar tatkala prinsipnya goyah hanya karena sekali menerima bantuan dari Hafiz (Jerome Kurnia dengan rambut acak-acakan, yang kembali menunjukkan kengawuran perspektif sineas Jakarta dalam menggambarkan orang miskin dan/atau daerah). Mendadak ia jatuh cinta, mendadak ia bersedia melanggar aturan terkait interaksi antar lawan jenis. 

Seiring waktu, Salina menyadari betapa The Light bukan surga seperti bayangannya. The Light ibarat cult. Pengikut Ali memanggilnya "Yang Istimewa". Wajar jika The Light tampak menggoda karena menawarkan kepemilikan properti setelah menikah, namun mengingat anggotanya adalah remaja (yang belum dicekoki beban pikiran membeli rumah dan sebagainya), pun latarnya tidak sampai satu dekade di masa depan, saya kembali mempertanyakan, fenomena apa yang mendasari perubahan ekstrim tersebut? Pandemi bukan alasan kuat. Begitu pun soal maraknya propaganda bernapas agama. Naskahnya seperti enggan berpijak pada realita, dalam usahanya mengkritik realita. 

Anda bakal sering menemukan kata "cringey" dalam berbagai ulasan atau reaksi penonton terhadap A World Without. Tidak salah. Desain kostum Isabelle Patrice dan Tania Soeprapto (dua penata kostum langganan Joko Anwar, yang turut muncul sebagai cameo guna menyindir perihal "co-director" di perfilman Indonesia), terutama yang dikenakan Chicco dan Ayushita, memang bagus. Glamor. Unik. Tapi deretan properti futuristik seperti bingkai foto digital, hingga jam pintar ala Nubia Smartwatch, malah tampak menggelikan. 

Bukan hanya di tata artistik, penulisan maupun penyutradaraannya pun tidak jarang terasa cringey. Asmara Abigail tampil semaksimal mungkin, namun sialnya, ia banyak mendapat bagian momen, yang entah disengaja atau tidak, tersaji konyol. Amanda Rawles dan Ayushita lebih beruntung. Keduanya (khususnya Ayushita) merupakan elemen terbaik A World Without, sebuah film yang pasca melewati klimaks tanpa sense of urgency, menawarkan konklusi yang justru semakin meninggalkan kebingungan tentang, "Apa yang sebenarnya mau dibicarakan?". 


(Netflix)

BEBAS (2019)

Selama pembuatnya tidak mengacau, remake dari Sunny (2011) takkan berakhir buruk, karena basis materinya luar biasa solid, meski sederhana. Bebas, selaku remake ketiga setelah versi Vietnam, Go Go Sisters, dan versi Jepang, Sunny: Our Hearts Beat Together yang sama-sama rilis tahun lalu, membuktikan itu. Kelemahan tercipta saat naskahnya melakukan modifikasi berupa pengurangan elemen cerita, sementara titik-titik terbaik hadir dalam momen reka ulang yang setia terhadap materi aslinya.

Pemakaian judul Bebas merujuk pada lagu legendaris berjudul sama karya Iwa K, sekaligus nama geng di mana protagonisnya, Vina Panduwinata (Maizura) si murid baru, tergabung. Geng Bebas dipimpin oleh Krisdayanti (Sheryl Sheinafia), siswi jago bela diri yang disegani di sekolah. Ya, jika Sunny mengambil nama girl group seperti So Nyeo Shi Dae alias Girls’ Generation (kalau tak salah Fin.K.L. juga sempat disebut) untuk gengnya, maka Bebas menjadikan nama diva tanah air sebagai nama karakter.

Selain keduanya, geng Bebas juga beranggotakan tiga perempuan; Jessica (Agatha Pricilla) yang gemar mempercantik diri, Gina (Zulfa Maharani) si gadis kaya, Suci (Lutesha) si model ternama, dan seorang laki-laki, yaitu Jojo (Baskara Mahendra). Tentu perpisahan tak terelakkan, tapi keenam remaja ini bersumpah akan terus bersama meski kelak tumbuh dewasa. 25 tahun pun berlalu.

Vina dewasa (Marsha Timothy) telah hidup mapan tapi ia merasa hampa. Tanpa sadar, dia hanyalah karakter pendukung di kehidupannya. Istri seseorang, ibu seseorang, dan melupakann identitas diri sendiri. Sampai Vina bertemu Kris (Susan Bachtiar) yang terbaring di rumah sakit dan divonis umurnya tinggal tersisa dua bulan. Permintaan terakhir Kris adalah agar Vina mengumpulkan geng Bebas sekali lagi sebelum ajal menjemputnya.

Naskah buatan Mira Lesmana (Ada Apa dengan Cinta?, Laskar Pelangi, Kulari ke Pantai) dan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara, Dua Garis Biru) secara keseluruha masih mengikuti pola yang diterapkan naskah aslinya yang ditulis oleh Kang Hyeong-cheol. Tetap menerapkan narasi non-linear yang terus melompat antar era sekarang dan SMA, pun masih mengusung tema besar mengenai kesemuan masa dewasa kala individu melupakan jati dirinya akibat tuntutan realita.

Tapi seperti sudah saya singgung, ada perubahan. Beberapa memberi kekhasan, beberapa justru melemahkan. Perubahan yang berhasil, terkait penggantian gender karakter. Keberadaan Jojo membawa Bebas menyinggung perihal identitas gender, preferensi seksual, serta pandangan sosial akan machismo. Sosok penindas di sekolah pun diubah jadi laki-laki, yakni Andra (Giorgino Abraham). Suatu keputusan yang menguatkan tuturan soal “kekuatan wanita”. Berkat kesubtilan naskahnya menuturkan bahasan-bahasan di atas, Bebas berhasil tampil kritis tanpa perlu terkesan politis.

Perubahan yang kurang berhasil terletak pada penghilangan beberapa unsur, yang menurut Mira dan Gina, dipandang tak seberapa substansif. Mungkin betul, namun naskah Sunny ibarat puzzle yang keping-kepingnya menciptakan kesatuan sempurna. Ketika beberapa keping hilang, gambaran besarnya tetap bisa dipahami, tapi meninggalkan lubang mengganggu. Begitulah jalannya film ini. Pergerakan alur di beberapa titik terasa kasar dan buru-buru, lalu berujung merusak dinamika.

Beruntung dampak emosi tidak ikut terlemahkan, sewaktu penyutradaraan Riri Riza berhasil mengkreasi ulang rasa di momen-momen ikonik milik Sunny dengan sensitivitas serupa. Departemen musik juga berkontribusi besar pada keberhasilan tersebut. Scoring garapan Lie Indra Perkasa (Banda the Dark Forgotten Trail, 6,9 Detik) paling memikat kala memperdengarkan suara synth bernuansa dreamy yang membuai hati.

Sementara pilihan soundtrack-nya, senada dengan tujuan Bebas selaku kapsul waktu, menampilkan deretan lagu populer era 90-an yang efektif membangun mood, sebutlah Cukup Siti Nurbaya, Bidadari, Aku Makin Cinta, dan pastinya Bebas. Tapi satu lagu yang penggunaannya paling saya suka adalah Sendiri milik mediang Chrisye, yang mengiringi salah satu sekuen terbaik film ini (sekuen serupa di Sunny memakai Reality milik Richard Sanderson). Magis, indah, intim, dan amat mengharukan.

Tapi apa jadinya semua itu bila tidak dibarengi kehebatan jajaran cast dua generasinya. Dua kutub berlawanan, Sheryl Sheinafia yang tangguh dan Maizura beserta kepolosannya memotori era 90an, didukung Baskara Mahendra melalui intrepretasi akan sosok laki-laki feminin yang menolak terjebak pada stereotip. Menyenangkan pula menyaksikan Amanda Rawles memainkan peran berbeda, sebagai Lila si ketua geng lawan yang bermulut besar tapi sebenarnya penakut. 

Di latar modern, prestasi Baskara Mahendra dilanjutkan oleh Baim Wong sebagai Jojo dewasa, sedangkan Marsha Timothy dan Indy Barends (Jessica dewasa), masing-masing sukses mengemban tugas sebagai ujung tombak elemen dramatik dan komedik. Geng Bebas di dua generasi sama-sama punya chemistry solid, yang mewakili kehangatan serta keseruan kala hidup diisi kebebasan memilih jati diri.

SUNYI (2019)

Sunyi merupakan remake dari Whispering Corridors (1998), yang mana ambil bagian dalam era baru perfilman Korea Selatan pasca pembebasan dari penyensoran selepas kediktatoran militer berakhir. Alhasil, film tersebut dimanfaatkan selaku media menyuarakan kritik terhadap banyak isu, khususnya perundungan dan kerasnya sistem pendidikan. Itulah alasan mengapa karya Park Ki-hyung tersebut jadi fenomena populer, meski kualitasnya sendiri agak mengenaskan. Berbeda dibanding pendahulunya, Sunyi tak kebingungan menentukan jati diri, mencampur horor dan drama dengan cukup apik, menjadikannya remake yang superior.

Tema perundungan bukan saja dipertahankan oleh Sunyi, bahkan diberi eksplorasi lebih dalam. Kisahnya berlatar tahun 2000 di SMA Abdi Bangsa yang prestisius namun digelayuti isu perundungan yang konon telah berlangsung turun-temurun. Pun tersebar rumor bahwa pada dekade lalu, hal tersebut merenggut nyawa tiga siswi, yang hingga kini arwahnya senantiasa bergentayangan di sekolah.

Protagonis kita bernama Alex (Angga Yunanda), putera mediang paranormal terkenal, yang jelang hari pertamanya bersekolah di Abdi Bangsa, makin mengkhawatirkan senioritas di sana. Ketika ia nyatakan kekhawatiran tersebut, sang ibu (Unique Priscilla) merespon, “Senioritas kan bagus buat character building”. Dari situ kita bisa melihat pola yang menyebabkan perundungan terus lestari.

Pada malam pertama, siswa-siswi tahun pertama dikumpulkan oleh ketiga senior mereka: Andre (Arya Vasco), Erika (Naomi Paulinda), dan Fahri (Teuku Ryzki), guna menghadiri malam orientasi. Saat itulah hukum senioritas mulai diberlakukan. Murid tahun pertama adalah budak (tahun kedua disebut “manusia”, tahun ketiga disebut “raja”, alumni disebut “dewa”) yang wajib menuruti perintah senior yang berhak mengambil barang apa pun milik mereka, bahkan dilarang memasuki area-area seperti perpustakaan, kafetaria, juga toilet.

Bu Ningsih (Dayu Wijanto) selaku kepala sekolah merasa khawatir, tapi atas nama tradisi, memilih membiarkan. Sedangkan para junior tetap diam, karena melawan bukan saja menjadikan mereka musuh publik, pula menghilangkan kesempatan mendapat jaringan luas milik alumni. Sampai titik ini, naskah buatan sutradara Awi Suryadi (Danur, Badoet) bersama duet Agasyah Karim dan Khalid Kashogi (Badoet, Mau Jadi Apa?, Reuni Z), terbukti mampu menyediakan pijakan solid dalam penggambaran lingkaran setan budaya perundungan. Tidak berhenti di situ, naskahnya melangkah lebih jauh menelusuri soal kontribusi pola asuh orang tua lewat tro Andre-Erika-Fahri. Orang tua mereka sama-sama bermasalah, entah menerapkan hukuman fisik, menuntut terlalu tinggi, atau tidak hadir di rumah.

Ketiganya membuat hari-hari Alex bak neraka. Beruntung, ia bertemu Maggie (Amanda Rawles). Keduanya semakin dekat, dan dunia SMA Alex tak lagi sesunyi itu. Sialnya, begitu identitas ayahnya diketahui Fahri, Alex dipaksa memanggil arwah para siswi yang konon bergentayangan di sekolah. Awalnya usaha itu nampak gagal, namun tak lama berselang, kematian mulai menyebar dan darah mulai tumpah di SMA Abdi Bangsa.

Sewaktu Whispering Corridors seolah melupakan hakikatnya sebagai horor, Sunyi menerapkan pendekatan familiar sembari tetap memberi jalan bagi elemen-elemen di atas agar mengalir sebagai pondasi cerita, alih-alih sekedar jump scare layaknya banyak horor medioker lokal belakangan. Di luar adegan “listening class” dan “kolam renang” (yang sudah muncul di trailer), terornya tak banyak memperlihatkan kreativitas. Mayoritas formulaik, ditambah riasan hantu seadanya. Tapi saya mengapresiasi penolakannya untuk melempar jump scare membabi-buta atau memakai efek suara berisik. Serupa judulnya, film ini tidak takut menerapkan kesunyian, tahu kapan mesti berdiam diri, kapan mesti tampil menggelegar (yang juga tak pernah terlampau berisik). Tata musik garapan Ricky Lionardi (Danur, Sakral, Lukisan Ratu Kidul) juga sesekali terdengar atmosferik.

Sunyi pun menempatkan hati di tempat yang tepat. Kembali ke adegan “kolam renang”, secara mengejutkan momen tersebut menyimpan bobot emosi. Ada kesedihan di sana, tatkala senior pelaku perundungan ditampakkan kerapuhannya, digambarkan sebagai salah satu korban kegagalan sistem pendidikan, tentunya tanpa berusaha menjustifikasi perbuatan mereka kepada junior. Momen itu meyakinkan saya bahwa mereka tidak pantas mati. Sehingga saya mengamini ketika Alex mengonfrontasi sang hantu di klimaks sambil menyampaikan pernyataan serupa. Semakin memuaskan kala Sunyi ditutup oleh konklusi hangat, sesuatu yang dikorbankan film aslinya demi tambahan twist tak perlu.

Ya, jika sudah menonton Whispering Corridors, anda tahu akan ada twist. Sepanjang durasi, filmnya menyiratkan itu melalui beberapa petunjuk subtil. Apa yang membuatnya spesial adalah, sekalinya kejutan tersebut diungkap (sayangnya lewat eksekusi antiklimaks), penonton tidak dijejali rekap, selaku penjabaran atas sebaran petunjuk-petunjuk tadi. Seolah semua itu adalah “bonus” bagi penonton yang bersedia menaruh perhatian lebih.

DEAR NATHAN HELLO SALMA (2018)

Ironis. Dear Nathan Hello Salma (berikutnya disebut “Hello Salma”) terkena dampak tren “Jefr-Amanda” yang dimulai oleh film pertamanya, yang secara mengejutkan jadi salah satu tontonan terbaik tahun lalu. Setelahnya, selama satu setengah tahun, mereka berpasangan dalam 4 judul (Jailangkung, Jailangkung 2, A: Aku, Benci, dan Cinta, Something in Between), belum ditambah One Fine Day di mana Amanda Rawles mendapat peran kecil. Padahal Hello Salma adalah film solid, tapi serupa pasangan yang selalu bersama tiap hari, pasti ada kejengahan, sehingga kilau-kilau percintaan yang dahulu manis mulai terkikis.

Tapi kembali, Hello Salma tetap film apik. Mengadaptasi novel berjudul sama karya Erisca Febriani, kisahnya melanjutkan romantika Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) selepas keduanya memutuskan berpacaran di film pertama. Namun, memasuki tahun akhir SMA, hubungan mereka justru retak, (lagi-lagi) akibat kekisruhan buatan Nathan, yang berujung memaksanya pindah sekolah. Mereka memilih putus. Sewaktu Salma tertekan akibat paksaan ayahnya (Gito Gilas) melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UI (terjadi pada banyak remaja termasuk di sekitar saya), Nathan bertemu Rebeca (Susan Sameh) di sekolah barunya.

Rebeca tak ubahnya Nathan di masa lalu. Dia hidup sendiri, jauh dari ibu karena enggan tinggal bersama sang suami baru pasca ayahnya meninggal bunuh diri, sebagaimana dahulu konflik Nathan dengan ayahnya (Surya Saputra). Apabila perkelahian jadi pelarian Nathan, Rebeca tenggelam dalam depresi, bahkan mencoba bunuh diri. Kemiripan itu mendorong Nathan tergerak mengulurkan tangan, sesuatu yang akhirnya meluluhkan hati sang gadis.

Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Kartini, Benyamin Biang Kerok) mempertahankan elemen terbaik dari naskah film pertama buatannya, yakni perihal motivasi. Kita tak perlu bertanya-tanya “Kenapa?”, sebab senantiasa ada alasan jelas. Sungguh wajar bila Rebeca kepincut. Ketika keluarganya menjauh, pihak sekolah hanya bisa memarahi dan menghukum, juga jadi korban perundungan teman-teman, Nathan justru berdiri, bersedia terlibat perkelahian demi membelanya.

Nathan menghembuskan napas baru bagi hidup Rebeca, mengalunkan kembali musik di telinganya seperti saat Nathan memperbaiki radio tape milik mendiang ayahnya. Sama pula dengan bagaimana Rebeca membawa nyawa baru untuk franchise ini. Nathan tetap sosok yang dicintai penggemarnya berkat kemampuan Jefri Nichol menyeimbangkan sisi bad boy dan sweet boy. Chemistry-nya dengan Amanda Rawles pun sekuat biasanya, kalau bukan bertambah natural.

Tapi mungkin itu penyebabnya. Mereka berdua masih (atau selalu) sama, dan setelah bersama di begitu banyak film dalam waktu berdekatan, saya mulai lelah menyaksikan dinamika yang “itu-itu saja”. Nathan berseloroh, Salma merespon lewat sikap malu-malu mau. Beberapa pihak mungkin bakal berargumen bahwa itu bukan kesalahan filmnya, melainkan eksploitasi berlebihan dari industri. Tapi tidak. Orang-orang di balik Hello Salma sadar betul formula Jefri-Amanda telah diperas habis-habisan, dan ketimbang mencoba arah baru yang segar, mereka memilih jalur mudah dengan mengikuti pola.

Dan begitu Rebeca muncul sebagai sosok likeable berkat kemahiran Susan Sameh memainkan 2 wajah berlainan karakternya, Hello Salma malah tiba di titik jenuhnya kala kedua tokoh utamanya bersama. Khususnya saat sutradara Indra Gunawan (Hijrah Cinta, Dear Nathan, Serendipity) memasang mode autopilot, berbeda dibanding film pertama tatkala ia sanggup mengkreasi beberapa situasi romantis. Tarian slo-mo di bawah ujan sebagai penutup, misalnya.

Bukti kebersamaan Jefri-Amanda mulai menjemukan adalah, setiap Hello Salma menyelipkan elemen tambahan (meski kecil), contohnya menaruh Surya Saputra—dengan sisi kebapakan yang jauh dari kaku—di antara mereka, filmnya selalu menemukan pijakannya lagi. Semua berjalan mulus selama layar tidak cuma menampilkan mereka saja. Satu-satunya modifikasi bagi dinamika Nathan dan Salma, yakni menggiring Salma menuju kondisi yang lebih gelap, pun tak seberapa membantu.

Permasalahan Salma relevan. Tekanan orang tua, depresi pada pelajar akibat tuntutan akademis, semua penting untuk dituturkan. Namun naskahnya urung menghasilkan penelusuran mendalam terhadap masalah-masalah di atas, melainkan sebatas jembatan supaya Nathan dan Salma bisa kembali bersama. Nasib demikian turut dialami Rebeca, yang berujung dikesampingkan selaku penghubung, walau kondisinya lebih kompleks, menarik, pun mampu mengemban peran Salma sebagai penyalur isu.

Untunglah, soal menyusun momen-momen ringan termasuk komedik, naskahnya tampil solid. Walau satu adegan yang menampilkan seorang dukun terasa dipaksakan, sisanya mampu menghadirkan senyum dan tawa, apalagi saat berurusan dengan situasi-situasi canggung yang berujung celetukan jenaka karakternya. Hello Salma menunjukkan bahwa seri Dear Nathan masih menonjol dibanding romansa putih abu-abu kebanyakan. Andai Jefri dan Amanda tak sesering itu bersama. Sebab, sewaktu pasangan utama film romansa yang mestinya didukung penonton justru tenggelam, tentunya ada permasalahan.  

SOMETHING IN BETWEEN (2018)

Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films mampu tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat agar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di kursi sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.

Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melakukan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, seperti dialog puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada akhir bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, sebab mengungkap kejadian selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang pemuda yan memutuskan kembali ke Indonesia dari London setelah ia terus bermimpi tentang sebuah tempat dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi SMA yang saling cinta.

Tidak ada alasan kuat mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), sebab keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya karena mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema adalah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya bahan pembicaraan. Gema sendiri beralasan jika “Menyukai Maya karena tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi mencintai dalamnya?”. Tidak masuk akal memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan verbal gombal. Something in Between menekan dialog (sok) puitisnya sampai ke dosis yang dapat dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah perilaku antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali populer di kisah cinta SMA perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup menciptakan nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa bodoh ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan efek kejut, juga menjadikan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar relasi berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, sampai Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang tua Maya, semua mendapat kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan karena ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri kisah sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya meragukan sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

JAILANGKUNG 2 (2018)

Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947 untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon karam akibat kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan logika serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang lebih besar adalah “kenapa sekuel ini dibuat jika orang-orang yang terlibat tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya saya bertanya.

Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 jelas sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar, punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada di bawah pengaruh Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.

Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, lalu terinspirasi membuat jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu. Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri Nichol), melakukan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya bisa membendung kekuatan Matianak, setelah memperoleh informasi dari Bram (Naufal Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan karakter yang terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya, mendadak bergegas ke WC untuk cuci tangan. Bisa jadi dia menjunjung tinggi kebersihan, meski saya yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism) dari departemen penulisan naskah supaya Bella seorang diri di ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat menyelidiki.

Di saat bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari Tasya yang hilang setelah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang jelas sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan usaha itu. Satu momen singkat sempat memperlihatkan para hantu merangkak di depan Matianak layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, penjabaran mengapa hantu-hantu selain Matianak ikut meneror.

Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman hingga Keraton gaib Alas Ketonggo jadi contoh lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak seperti ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menjadikan film ini tidak semelelahkan mayoritas horor lokal buruk yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar laut jauh lebih mudah ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.

Setelah berpetualang sedemikian jauh bersama karakternya, tentu saya mengharapkan puncak yang sepadan, bukannya konfrontasi canggung yang bak dikemas tanpa perencanaan, tanpa koreografi matang, tanpa totalitas. Beberapa horor terakhir karya duo sutradaranya, Jose Purnomo (Alas Pati, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) dan Rizal Mantovani (Kuntilanak, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) memang buruk, tapi setidaknya ada energi. Jump scare-nya memiliki tenaga meski berhenti di taraf trik mengagetkan murahan. Jailangkung 2 bagai anak kurang gizi yang dipaksa berlari. Begitu pula jajaran pemainnya. Menyaksikan Amanda Rawles-Jefir Nichol bersama di layar lebar tak pernah sedatar dan semembosankan ini. 

THE PERFECT HUSBAND (2018)

Sepertinya sineas kita masih sulit membedakan antara “lelaki pantang menyerah” dengan “lelaki penguntit”. Setelah Dilan (Dilan 1990) dan Nick (Arini), The Perfect Husband, selaku adaptasi novel berjudul sama karya Indah Riyana, mengenalkan kita pada Arsen (Dimas Anggara) seorang pilot yang ngotot mengantar-jemput Ayla (Amanda Rawles), calon istri dari proses perjodohannya, meski sang gadis yang berusia jauh lebih muda (siswi SMA) menolak keras. Arsen pun mengikuti Ayla ke mana saja ia pergi, bahkan berani menggendong secara paksa di depan teman-temannya, di lingkungan sekolah pula. Dan tatkala Ayla mengaku tak lagi perawan, Arsen mengungkapkan kekecewaan sambil berkata bahwa semestinya Ayla lebih menghargai dirinya sendiri.

Saya tidak setuju anggapan film harus mendidik atau mengusung pesan. Namun pada masa di mana gerakan-gerakan positif soal “kemerdekaan diri” maupun “mencerdaskan bangsa” tengah vokal didengungkan, The Perfect Husband bagai proses mundur beberapa langkah. Betapa tidak? Filmnya seolah mendukung perjodohan paksa yang berujung pernikahan dini selepas SMA. Menghadapi persoalan itu, pikiran Ayla tentu kacau. Terlebih ia telah memiliki seorang kekasih, vokalis band rock bernama Ando (Maxime Bouttier), yang tampil di acara bernama “Indienight”, mengenakan dandanan rock ‘n roll yang tidak lagi dipakai rockstar mana pun, tapi menyanyikan lagu pop-punk berlirik galau. Bagaimana Ayla bisa mencintainya adalah pertanyaan besar. Mungkin anak SMA memang sebodoh itu.
Ucapkan selamat tinggal kepada potensi dinamika serta tensi cinta segitiga, sebab Ando dan Arsen jelas timpang saat disandingkan. Selain penokohan Ando yang terlampau menggelikan untuk menjadi pesaing serius, pesona Dimas Anggara dengan mudah menghempaskan Maxime Bouttier dan tato spidolnya. Di sisi lain, Amanda Rawles menghasilkan kesegaran memerankan gadis remaja yang bertingkah sekaligus bicara seenaknya. Pun berkat Amanda pula bumbu humornya mampu bekerja cukup baik, khususnya di paruh awal yang sempat memberi ilusi bahwa The Perfect Husband bakal jadi film terbaik produksi Screenplay yang lebih “manusiawi”, urung mengandalkan dialog puitis.

Apalagi ada Slamet Rahardjo sebagai Tio, ayah Ayla, yang seperti biasa mulus menangani tiap momen, kecuali ketika menyebut nama sang puteri. Dua kali ia luput menyebut “Alya”. Mungkin Rudy Aryanto (Surat Cinta untuk Starla) selaku sutradara segan mengoreksi si aktor senior. Mengapa Tio kukuh menjodohkan Ayla yang belum lulus SMA tentu mengundang tanya. Bisa ditebak ada hal yang Tio dan para penulis naskahnya sembunyikan demi menyulut konflik. Karena, andai Tio mengutarakan alasan perjodohan sedari awal, yang mana merupakan pilihan logis, film ini bakal selesai dalam 15 menit.
Pun sewaktu akhirnya diungkap, rahasia itu tak lebih dari elemen paling klise yang mampu dipikirkan seorang penulis kisah melodrama, yang kebetulan juga ciri khas judul-judul produksi Screenplay. Film Screenplay di bawah arahan Asep Kusdinar memang berlebihan mendramatisasi, tetapi setidaknya keputusan itu menghadirkan ketepatan porsi melodrama. Di tangan Rudi Aryanto, momen yang seharusnya menyajikan puncak emosi justru berujung canggung nan kaku. Rudi cukup sukses di Surat Cinta untuk Starla karena dibantu nomor-nomor balada ciptaan Virgoun. Tanpanya, sang sutradara bak hilang akal dan kekurangan amunisi.

Kembali sejenak menuju fakta yang Tio sembuynikan, rahasia tersebut gagal memberi justifikasi terhadap problematika perjodohan dan nikah muda. Ada begitu banyak alternatif cara menuturkan pesan mengenai bakti anak pada orang tua. Menurut The Perfect Husband, menikah setelah lulus SMA merupakan jalan keluar pemberi kebahagiaan sekaligus bukti bakti terhadap orang tua yang telah memberi segalanya untuk anak. Ya, segalanya kecuali kebebasan menjalani hidup sesuai kemauan sendiri. Dengan pola pikir demikian, jangan heran jika negeri ini dipenuhi orang bodoh. The Perfect Husband menanggalkan gaya Screenplay yang makin repetitif hanya untuk menemukan kelemahan baru yang lebih fatal.


Untuk ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

A: AKU, BENCI, DAN CINTA (2017)


Perbedaan tipis benci dan cinta, gangguan-gangguan mengesalkan yang ternyata bentuk ekspresi malu-malu atas perasaan suka, tentu kita familiar dengan rupa-rupa gejolak asmara kawula muda semasa SMA di atas. Dalam A: Aku, Benci, dan Cinta, kondisi serupa dialami Anggia (Indah Permatasari) dan Alvaro (Jefri Nichol). Anggia setengah mati membenci Alvaro, cowok paling populer di sekolah sekaligus ketua OSIS dengan Anggia sebagai wakilnya. Baginya Alvaro tak berotak maupun hati, hanya playboy bermodal tampang penggoda belasan cewek naif yang telah menjadi korbannya. Apalagi, Alvaro kerap sengaja memancing amarah Anggia.


Polanya bisa ditebak. Alvaro sejatinya menyimpan cinta, begitu pula Anggia yang akhirnya luluh juga. Keduanya hanya terlalu ragu atau gengsi mengakui apalagi mengungkapkan isi hati. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Alvaro menyimpan rahasia tentang persahabatan dengan Alex (Brandon Salim) dan Athala (Amanda Rawles), bagaimana tiga sahabat itu terpecah akibat cinta segitiga, serta kondisi Athala yang telah beberapa lama koma di rumah sakit. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wulanfadi, debut penyutradaraan Rizki Balki ini mengandung setumpuk potensi pembeda bila dibandingkan mayoritas romansa putih abu-abu. 
Komedinya segar. Dasar ide dari naskah buatan Alim Sudio (Surga Yang Tak Dirindukan 2, Jilbab Traveler, Pesantren Impian) mampu diwujudkan oleh Rizki Balki menjadi serangkaian sempilan momen absurd hasil imajinasi karakternya, misal saat Anggia dikuasai rasa malu sampai ingin loncat dari atap sekolah. Didukung pula kebolehan Indah Permatasari memerankan cewek galak cenderung kasar yang jangankan marah sambil berteriak, bogem mentah pun tidak ragu dia lemparkan. She could be our future romcom queen. Para pembuatnya sadar betul keunggulan sisi komedik filmnya, menumpahkannya sebanyak mungkin, yang saking efektifnya, kerap mendistraksi aspek dramatik.

A: Aku, Benci, Dan Cinta seolah bingung menentukan waktu pula cara untuk tampil serius. Bahkan penjelasan sebab Athala koma pun berujung kelucuan disengaja yang seharusnya tak perlu ada. Tensi pertikaian mengenai cinta segitiga yang dua kali menimpa Alvaro dan Alex urung mencapai titik maksimal, khususnya karena persahabatan yang telah berlangsung lama pun konon demikian solid itu tak pernah terasa meyakinkan. Konflik Alvaro-Alex-Athala dan kisah Alvaro-Anggia yang akhirnya bersinggungan bagai dua gagasan yang saling bertabrakan mencuri fokus tanpa sanggup membaur bersinergi. 
Begitu juga paparan percintaan. Walau diberkahi insting humor mumpuni, Rizki Balki kurang cakap merangkai sisi manis romantisme remaja. Lihat ketika Alvaro dan Anggia berduet menyanyikan lagu ciptaan berdua (Alvaro membuat melodi dari puisi Anggia). Mixing jernih ala suara CD mengundang kesan artificial, menghilangkan ungkapan emosi, melemahkan momentum. Segala interaksi protagonis bakal berlalu tak berbekas andai tiada Indah Permatasari dan Jefri Nichol di jajaran lead. Bersenjatakan jangkauan emosi semakin luas dibandingkan performanya pada Dear Nathan, Jefri makin piawai memainkan sosok berandalan dengan tingkah seenaknya, tapi punya pesona kuat guna menggaet hati baik karakter lain atau penonton. 

A: Aku, Benci, Dan Cinta merupakan komedi romantis masa SMA yang lebih ampuh menggelakkan tawa daripada memancing gejolak rasa manis asmara. Toh cukup mengasyikkan dikonsumsi sebagai hiburan ringan. Di sisi lain turut memberi panggung bagi Indah Permatasari dan Jefri Nichol menunjukkan kapasitas mereka lebih jauh. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, Jefri Nichol akan kokoh jadi raja film SMA yang selalu memancing jerit histeris penonton remaja. Sementara Indah Permatasari membuktikan bahwa ia perlu mendapat pengakuan, layak dipercayakan memikul beban pemeran utama. 

JAILANGKUNG (2017)

Salah besar menganggap horor tak memerlukan naskah mumpuni. Meski bukan mengedepankan alur kompleks, dialog cerdas, atau penokohan solid naskah horor berguna menyediakan layout, khususnya apabila penulis dan sutradara tidak dipegang satu orang. Deskripsi bagaimana sebuah kengerian muncul amat membantu pengadeganan sutradara. Dan satu poin yang kerap tertinggal (baik sengaja maupun tidak) adalah "rule" alias aturan. Poin ini penting apalagi bagi horor mistis dengan mitologi mengenai hantu, apa pemancing kehadirannya, kemampuan, sampai cara mengusir. Aturan ini merupakan logika tersendiri yang wajib dipegang dalam film horor kala ketiadaan common sense bersifat lumrah.

Jailangkung jelas berambisi mengulang fenomena Jelangkung 16 tahun lalu. Duet Rizal Mantovani dan Jose Purnomo kembali di kursi sutradara, sedangkan naskah dipegang Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 2, Sawadikap, Ghost Diary) menggantikan Adi Nugroho (Kuldesak, Ruang, Strawberry Surprise). Kisahnya memakai template umum, tentang perjalanan tiga kakak beradik, Bella (Amanda Rawles), Angel (Hannah Al Rashid), dan Tasya (Gabriella Quinlyn) menuju pulau Alas Keramat, tempat di mana sang ayah, Ferdi (Lukman Sardi) berada terakhir kali sebelum koma. Dibantu Rama (Jefri Nichol) si pemuda ahli ilmu kejawen, mereka menemukan rahasia mengerikan yang bertahun-tahun disimpan Ferdi.
Walau adegan pembukanya tak lebih dari eksposisi buru-buru, awal Jailangkung cukup menjanjikan berkat penanaman misteri terkait mitos Jawa. Mitologi klenik daerah kita memang berpotensi dieksplorasi karena memberi bekal misteri untuk ditelusuri. Walau teori seputar jiwa dan raga menurut kepercayaan Jawa yang dipresentasikan Rama nyata didasari riset seadanya, rasa ingin tahu masih mampu disulut. Ritual apa yang Ferdi lakukan? Siapa sosok Mati Anak yang mengganggunya? Ada modal kuat guna menggulirkan alur menarik. Ditambah lagi, Jailangkung enggan mengumbar penampakan sebanyak dan sedini mungkin. Sampai akhirnya, semakin jauh perjalanan, semakin buruk filmnya.

Penyebabnya naskah buatan Baskoro gemar menyalahi logika umum hingga rule khusus sebagaimana tersebut tadi. Kakak gila mana yang membawa adik kecilnya ke pulau terpencil kemudian meninggalkannya sendiri di kamar sebuah rumah kosong menyeramkan? Remaja gila mana pula yang bisa duduk santai tersenyum menonton rekaman pernikahan orang tua mereka di sana pada tengah malam? Lalu apa tujuan Ferdi merekam aktivitasnya selain sebagai cara filmnya mengakali flashback? Banyak juga sudut peletakan kamera terlampau sinematik untuk footage amatir. Tapi dosa lebih besar adalah ketika Baskoro mengesampingkan aturan buatannya sendiri mengenai hantu dan jailangkung, contohnya ketika dampak gangguan hantu untuk seorang tokoh berbeda dari tokoh lain (what's the deal with Angel's absurd hallucination?). Hantu memang tak butuh aturan main, tapi untuk apa membangun mitologi kalau berujung seenaknya sendiri? Saat penulisnya menolak peduli, bagaimana penonton mau mempedulikan filmnya?
Buruknya naskah tidak membantu Rizal Mantovani dan Jose Purnomo yang sama-sama dikenal akan kemampuan menangkap gambar indah namun kurang pandai bercerita. Didukung biaya 10 miliar rupiah, Jailangkung serupa produksi Screenplay Films lain, terlihat mahal, enak dilihat, tapi nihil substansi, seperti ditunjukkan tata artistik setting rumah tempat ritual dengan beragam ornamen aneh. Sinematografi Jose Purnomo pun menyajikan kemegahan dramatis (shot pemakaman dari atas misalnya) yang urung mendukung tingkat kengerian. Setelah irit di awal, begitu jump scare mulai menerjang, kita dihadapkan pada rutinits biasa berupa kejutan berisik asal masuk. Kombinasi lemahnya naskah dan penyutradaraan berpuncak di third act. Berniat membangun nuansa chaotic, kekacauan sesungguhnya justru tercipta. Saking kacaunya, bila anda ajukan pertanyaan memakai rumus 5W+1H tentang klimaksnya, jawaban bakal sulit didapat.

Eksekusi teror mencapai paruh akhir tak hanya meniadakan kengerian, bahkan memunculkan geli. Saya bersama mayoritas penonton lain tertawa menyaksikan Lukman Sardi menggendong hantu di depan cermin. Bukan seluruhnya salah sutradara, karena Lukman sendiri (bukan di adegan ini saja) bagai berakting di film horor-komedi lewat ekspresi dibuat-buat. Jarang melihat Lukman Sardi sebagai salah satu aspek terlemah film. It's unusual to see Lukman Sardi became one of a movie's weakest aspect, but there you go. Penampilan Lukman diikuti Jefri Nichol yang pasca penuh karisma di Dear Nathan, kini salah mengartikan "quirky, introvert guy" dengan wooden acting. Karakter Rama si ahli ilmu mistis tidak berguna, malah beberapa kali jadi penyebab peristiwa buruk. Beruntung ada Hannah Al Rashid yang seorang diri menciptakan momen paling mencekam berkat ekspresi believable. Kita bisa merasa pun percaya atas rasa takut serta penderitaannya. She's that good, but the rest is just a big waste of money and many potentials.