REVIEW - MOTHER MARY
Pondasi Mother Mary sesungguhnya tersusun atas kisah klasik (kalau tak mau disebut "usang") tentang pergumulan bintang pop dengan belenggu ketenaran. Tentang masalah personal sebagai manusia biasa yang tersembunyi di balik pemujaan para penggemar, yang memandangnya bak figur religius macam Bunda Maria. Tentang kegelapan yang bersemayam dalam kulit luar penuh pendaran cahaya.
Keberadaan David Lowery selaku sutradara sekaligus penulis naskah, dengan pengalamannya melahirkan sejumlah karya yang menantang narasi konvensional seperti A Ghost Story (2017) dan The Green Knight (2021), menjadi pembeda. Ibarat musisi, Lowery memakai Mother Mary sebagai medium bereksperimen untuk membawa musik pop ke arah yang lebih artistik.
Mother Mary (Anne Hathaway) adalah bintang pop yang bakal mengingatkan ke nama-nama seperti Beyoncé, Taylor Swift, atau Lady Gaga di dunia nyata, namun dengan barisan lagu elektropop atmosferik ala Charli XCX dan FKA Twigs (keduanya turut menyumbang lagu, FKA Twigs bahkan muncul dalam peran kecil).
Karya-karyanya memang menghipnotis. Lowery mengarahkan tiap aksi panggung Mother Mary dengan kemegahan sebagaimana mestinya tur stadion musisi nomor satu, sementara kostum-kostum eksentrik buatan Bina Daigeler bukan cuma cantik, pula mendefinisikan ketegasan si protagonis mengenai identitas personanya.
Tapi akibat suatu peristiwa yang baru akan diungkap di paruh akhir, karir Mother Mary berada dalam titik nadir. Dia berniat kembali, namun tak jua merasa cocok dengan kostum yang timnya sediakan. Dari situlah ia mencari Sam Anselm (Michaela Coel), desainer sekaligus mantan sahabat dan kolaboratornya di awal karir.
Konflik membuat hubungan keduanya kini teramat asing, namun ikatan di antara mereka masih sekuat dulu. Begitu kuat hingga nyaris terasa magis. Tanpa harus melempar kabar, Sam dan Mary dapat merasakan keberadaan satu sama lain dari jarak jauh. Pertalian batin dengan seorang manusia ini lebih substansial dalam hidup Mary ketimbang dengan jutaan pemujanya.
Mary meminta Sam mendesain kostum untuk konsernya. Sam sempat menolak. Sakit hati membuatnya bertahun-tahun menghindari mendengarkan lagu-lagu Mary. Kemudian mereka bicara, bicara, dan bicara, mengenang setumpuk peristiwa lalu sambil sesekali meraba-raba posibilitas masa depan yang masih begitu samar.
Michaela Coel menampilkan performa yang kaya akan eksplorasi ekspresi. Raut wajahnya mampu sedemikian cepat beralih rupa, dari yang bersifat "besar" ke arah yang lebih subtil. Sedangkan Anne Hathaway punya karisma panggung yang meyakinkan selaku bintang pop pujaan jutaan manusia.
Sejatinya menarik untuk menyelisik makna-makna yang bersembunyi di antara kalimat dalam baris dialog hasil tulisan Lowery, yang menuntut Mary dan Sam terus saling bicara dalam ambiguitas. Tapi proses mendengarkan obrolan dua orang yang seolah ingin sok misterius dalam berkomunikasi selama nyaris dua jam memang cukup melelahkan. "These metaphors are exhausting", ucap Sam. Saya pun mengamini.
Mother Mary perlu tambahan injeksi olah visual khas David Lowery, di tengah presentasinya yang mengedepankan ungkapan verbal. Untung babak keduanya memfasilitasi kebutuhan tersebut, tatkala Mary dan Sam mulai membagi pengalaman aneh masing-masing saat melihat sosok hantu berwujud kain merah yang melayang dalam gerak lambat.
Lowery kembali memposisikan "hantu" bukan selaku makhluk supernatural yang mampu diusir memakai mantra atau doa, melainkan entitas abstrak yang mewakili ketidaktuntasan problematika manusia. Mungkin dilandasi tendensi industri musik arus utama untuk bermain aman di hadapan publik, Mary memilih menutup jati dirinya sebagai queer, yang secara otomatis membuat Sam terasing.
Lowery membawa hantu itu kembali ke depan dua tokoh utamanya, lalu menghantarkan breakup story (juga sebuah kisah usang) yang diangkat nilai estetikanya, guna mempercantik proses protagonis mengangkat luka di hati mereka. Kalimat "Your song is the greatest song in the history of song" yang filmnya perdengarkan sebagai penutup pun menjadi ungkapan indah nan emosional mengenai pemujaan terhadap sesosok manusia yang tidak melulu dibarengi obsesi berlebihan untuk memiliki.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar