REVIEW - COLONY
Melalui Colony, untuk pertama kalinya sejak Train to Busan (2016), Yeon Sang-ho yang kembali menyusuri semesta per-zombi-an, akhirnya melahirkan film live action berkualitas memadai yang tidak membuat penonton garuk-garuk kepala sembari mengajukan pertanyaan, "Apa sih yang hendak si sutradara perbuat?!"
Mungkin pasca kesuksesan besar satu dekade lalu Yeon Sang-ho terlalu buru-buru beranjak dari teritori amannya. Di sini ia kembali ke akar, dan kendati Colony takkan diingat sebagai satu lagi "instant classic" sebagaimana Train to Busan, pun filmnya digerogoti oleh penuturan dangkal, Colony memperlihatkan seorang sineas yang tahu betul arah tujuannya.
Kali ini zombinya bersumber dari senjata biologis yang dikembangkan oleh ilmuwan bernama Seo Young-Cheol (Koo Kyo-hwan). Sebagai bentuk balas dendam karena merasa risetnya dikangkangi oleh Chains Bio tempatnya bekerja, Young-Cheol melancarkan aksi bioterorisme dengan mengubah orang-orang dalam gedung tempat diadakannya seminar menjadi zombi.
Sesuai pakem klasik genrenya, para penyintas pun segera bersatu: Kwon Se-jeong (Jun Ji-hyun) si profesor bioteknologi beserta mantan suaminya, Han Gyu-seon (Go Soo); Choi Hyun-seok (Ji Chang-wook) si anggota sekuriti gedung dan kakaknya, Choi Hyun-hee (Kim Shin-rok), yang duduk di kursi roda; So-eun (Lee Dam-hee), siswi SMA yang jadi korban perundungan; juga beberapa individu lain yang eksistensinya tak seberapa signifikan.
Naskah yang Sang-ho garap bersama Choi Gyu-seok berharap bisa menjalin koneksi emosional antara penonton dengan para penyintas, hanya saja penulisannya terlampau dangkal. Sulit memedulikan mereka. Saya bahkan tidak ingat kapan si pembuat sushi dan karyawannya tewas dilahap zombi.
Cuma dua karakter manusia yang mengundang daya tarik di sini: Se-jeong yang digawangi karisma Jun Ji-hyun selaku jagoan yang lebih mengutamakan otak ketimbang otot, dan Young-Cheol. Koo Kyo-hwan luar biasa apik menghidupkan antagonis yang memandang manusia lain bak serangga rendahan, di mana kebodohan serta ketakutan mereka ia pandang layaknya humor konyol yang patut ditertawakan. Terselip beberapa detail mikro yang saya percaya adalah hasil improvisasi sang aktor guna memperkaya karakternya.
Justru pasukan zombi yang lebih dieksplorasi. Diperankan jajaran pelakon dengan fleksibilitas di atas rata-rata untuk menggerakkan badan secara tidak manusiawi, Yeon Sang-ho menginjeksi zombinya dengan sebuah elemen unik, yakni kemampuan mereka berbagi kecerdasan kolektif.
Tanpa harus bertegur sapa, mereka sanggup berbagi informasi bak sedang bertukar telepati, kemudian melewati proses belajar secara gradual, sebelum akhirnya berevolusi. Awalnya zombi-zombi ini tiada beda dengan hewan buas yang berjalan menggunakan empat kaki, lalu belajar berdiri memakai dua kaki, membedakan mana foto mana manusia sungguhan, bahkan kelak mampu berbicara dan menembakkan senjata.
Sekali lagi, Colony punya naskah dangkal. Pengembangannya atas konsep kecerdasan kolektif lebih sering terkesan bodoh daripada sebaliknya. Selain tampak keren di kamera, apa substansi dari membuat para zombi saling menggendong? Mengapa selepas berevolusi sedemikian jauh zombinya masih terkecoh saat si protagonis menyamar menjadi salah satu dari mereka dengan mengenakan kaos bernoda darah? Daftar kejanggalannya masih cukup panjang.
Tapi kesampingkan setumpuk kejanggalan di atas, dan elemen kecerdasan kolektif tersebut nyatanya efektif memberi tokoh-tokohnya lebih banyak tantangan, sehingga memaksa mereka lebih keras pula memeras otak dibanding barisan penyintas di film zombi generik. Hasilnya cukup segar.
Sebagai spektakel, Colony nyaris tak menyisakan ruang untuk melempar keluhan. Selama 122 menit, sang sutradara konsisten menggerakkan aksinya dengan tempo setinggi terjangan beringas pasukan zombinya. Cepat, tangkas, minim basa-basi. Adegan saat salah seorang karakternya membantai zombi seorang diri hanya dengan bersenjatakan pisau, akan memperkuat argumen bahwa di luar kegagalan demi kegagalan belakangan ini, Yeon Sang-ho tetap sineas yang punya kecakapan mengarahkan horor-aksi.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar