REVIEW - NOBODY LOVES KAY

Tidak ada komentar

Nobody Loves Kay mengisahkan seorang remaja yang memberanikan diri menempuh jalur hidup di luar arus utama, dengan cara yang juga menampik teknik formulaik khas sinema drama arus utama Indonesia. Bernardus Raka yang melakoni debut penyutradaraan layar lebarnya tahu kapan mesti berkata "cukup" perihal mendramatisasi. 

Alurnya terinspirasi dari perjalanan Kairi, atlet esports asal Filipina untuk permainan Mobile Legends yang kini berkarir bersama tim Onic Esports di Indonesia. Kay (Bima Azriel) selaku protagonis film ini merupakan versi fiktif dirinya, seorang siswa SMA yang terombang-ambing di antara dua pilihan: menuruti harapan orang tuanya yang bekerja sebagai TKI di Arab Saudi supaya fokus menempuh pendidikan, atau mengejar cita-citanya menjadi pemain gim profesional. 

Bersama sahabatnya, Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico), Kay yang sudah tak lagi tertandingi di kampung mereka, senantiasa menghabiskan hari bermain Mobile Legends dengan harapan bakal menggapai status "pro-player" suatu hari nanti. Tentu bukan perkara mudah. Stigma negatif terhadap gim, tekanan ekonomi, serta gesekan di tengah persahabatan membentangkan aral di hadapan Kay. 

Tidak harus menjadi penggila Mobile Legends untuk dapat menikmati Nobody Loves Kay, sebab kata-kata kejam yang kerap Kay dengar, baik dari orang tua, guru, bahkan teman sejawat pun mungkin pernah dialamatkan pada kita yang belum mencicipi gimnya. Permasalahannya dapat diaplikasikan ke konteks lain, dalam hidup para pemburu mimpi yang tak sejalan dengan norma konservatif. 

Dipayungi warna visual yang sesekali meminjam rasa manis nan hangat khas film Thailand, penceritaan dalam naskah buatan Bernardus Raka dan Johanna Wattimena memastikan penonton sepenuhnya peduli akan suka duka protagonisnya, dengan melakukan eksplorasi mendalam terhadap tokoh Kay, yang juga diperankan secara apik oleh Bima Azriel.

Enggan pula filmnya menyembah moralitas dangkal, karena kita juga diajak memahami tokoh-tokoh lain, yang berlawanan dengan Kay, nekat merangkul kegelapan atas nama bertahan hidup. Sebutlah Ido yang mempertaruhkan persahabatannya, hingga tetangga Kay, Abel (Dewa Dayana) beserta rutinitas COD-nya. Baik Rey Bong maupun Dewa Dayana sama-sama berakting ciamik.

Setiap departemen turut memastikan segala lika-liku manusia-manusia di atas tidak tampak dibuat-buat. Bahkan taburan bumbu romansa antara Kay dan Amanda (Aurora Ribero) si bintang kelas pun mengakar kuat pada kesan naturalistik. Sewajarnya murid SMA, mereka belajar seusai kelas berdua, bertukar janji guna berjuang menempuh mimpi bersama, sebelum dibuat merana oleh cara pandang yang tidak senada.

Realisme Nobody Loves Kay amat ditunjang oleh kehati-hatian pembuatnya menangani tuturan verbal. Tokoh-tokohnya baru membicarakan isi hati mereka hanya di titik yang memang memerlukan penekanan lebih, pun dengan diksi yang dipikirkan secara masak-masak oleh para penulis naskah. 

Di film ini, tidak semua rasa yang timbul harus dikatakan, tapi semua kata yang terucap harus bisa dirasakan. Konklusinya pun lepas dari tuntutan arus utama untuk menelanjangi segala peristiwa (yang berujung meningkatkan dampak emosi sekaligus mengenyahkan kesan banal) karena sekali lagi, Bernardus Raka tahu kapan mesti berkata "cukup". 

Penggemar Mobile Legends bakal dipuaskan, bukan semata karena eksistensi gameplay di beberapa kesempatan, tapi terkait bagaimana filmnya memperlakukan dunia kecintaan mereka dengan sedemikian serius, sebagai sebuah skena serba profesional alih-alih gim remeh seperti yang dipercaya orang-orang kolot.

Penonton di sebelah yang sepertinya adalah seorang pecinta Mobile Legends ditinjau dari pemahamannya akan berbagai referensi yang  disisipkan, bertepuk tangan begitu filmnya usai. Saya, yang tidak menangkap satu pun referensi tersebut, juga memberi reaksi serupa, membuktikan bagaimana Nobody Loves Kay mampu merayakan hidup dua manusia yang sama sekali berbeda. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: