REVIEW - MONSTER PABRIK RAMBUT
Beberapa orang mungkin bakal menganggap karya terbaru Edwin ini terlampau aneh, tapi bagi saya di situlah pesona Monster Pabrik Rambut. Dituturkannya kisah tentang bagaimana kebusukan sistem dapat menghancurkan manusia, lewat pendekatan yang terasa menentang sistem di balik keseragaman horor, yang berpotensi menghancurkan industri perfilman Indonesia.
Sesuai judulnya, pabrik rambut bernama PT Raga Abadi jadi panggung investigasi Putri (Rachel Amanda kembali menghadirkan protagonis yang mudah disukai) terhadap kematian misterius sang ibu yang bekerja di situ. Segera saja Putri menemukan keanehan, di mana banyak buruh yang kurang tidur akibat terlalu banyak lembur, bertingkah bak orang kesurupan sebelum mengalami kecelakaan kerja.
Didik Nini Thowok memerankan si pemilik pabrik, perempuan misterius bernama Maryati. Dia bukan satu-satunya karakter yang menegaskan perspektif film ini akan fluiditas gender. Maryati sendiri punya hobi unik memainkan maket pabrik, lengkap dengan figur mini yang mewakili buruhnya. "Rakyat jelata hanyalah boneka mainan bagi para penguasa", mungkin demikian keresahan yang ingin ditumpahkan oleh naskah buatan Edwin, Eka Kurniawan, dan Daishi Matsunaga.
Nantinya penyelidikan Putri juga melibatkan adiknya, Ida (Lutesha), yang mengikuti langkah sang kakak bekerja di PT Raga Abadi. Lutesha membawakan sosok Ida dengan bersenjatakan presisi luar biasa kala menangani komedi bergaya deadpan. Satu lagi saudara mereka adalah Bona (Iqbaal Ramadhan) yang mempunyai kemampuan aneh.
Karakter Bona sejalan dengan keliaran eksplorasi b-movie era 80-an yang dianut Monster Pabrik Rambut. Bona bisa sesuka hati memutilasi anggota tubuhnya, yang kemudian bisa segera tumbuh lagi. Tatkala Putri dan Ida menerima daun telinga sang adik yang dipotong oleh penagih utang, mereka cuma berujar santai, "Nanti juga tumbuh lagi." Bagi rakyat kecil, terluka adalah perihal biasa.
Film ini memang berjalan di garis batas. Serupa kelompok sinema yang jadi sumber inspirasinya, Monster Pabrik Rambut tidak takut memenuhi narasinya dengan elemen eksentrik, dari kemampuan spesial Bona hingga keputusan mengganti hantu dengan monster berbentuk...well, rambut. Beberapa adegan kematian pun dipresentasikan secara over-the-top, termasuk saat badan salah satu karakter menggelembung sebelum meledak.
Biar demikian, relevansi dalam kisahnya, terutama mengenai kegagalan sistem, membuat Monster Pabrik Rambut masih terasa membumi. Asal muasal si monster punya kaitan subtil dengan kegagalan sistem tata kota rancangan pemerintah. Problematika di pabrik pun sama. Alih-alih mengacungkan jari pada perseorangan, Edwin mengarahkan lampu sorot pada sistem yang gagal menyediakan pilihan bagi manusia di dalamnya.
Nantinya segelintir orang akan bangkit untuk menggugat sistem itu, dan di situlah satu-satunya keluhan saya untuk narasi film ini terletak. Perlawanan para buruh, yang sebelumnya berhasil dicuci otak bahkan sampai menggelar "ritual" guna mengucap syukur atas kebaikan Maryati, terkesan hadir secara mendadak, tanpa menyediakan waktu bagi jiwa mereka melewati proses transisi.
Di luar kekurangan tadi, alurnya bergulir dengan apik. Efektivitas misterinya dalam menyulut rasa penasaran seolah jadi bukti bahwa daripada senantiasa bergantung pada kompilasi penampakan hantu guna mengisi guliran durasi, horor lokal juga bisa memiliki sesuatu untuk dipertanyakan dan diresapi.
Estetika filmnya tidak kalah memuaskan. Monster Pabrik Rambut mengembalikan sesuatu yang semakin jarang dipunyai horor modern, yaitu kesan "kotor". Sewaktu horor masa kini cenderung nampak sangat jernih, film ini mengedepankan visual yang serba kusam (in a good way), sehingga tingkat ketidaknyamanan pun meninggi. Citra yang semakin diperkuat oleh penggunaan efek praktikal, yang melenyapkan kehigienisan ala efek komputer dari deretan adegan sadisnya.
Di departemen audio, lagu Kepala, Pundak, Kerja Lagi yang dibawakan Sal Priadi (juga berakting secara natural sebagai buruh bernama Rudi) dengan suara "raw" selaku ciri khasnya, sembari diiringi gitar yang digenjreng bak suara derap langkah pasukan militer, terdengar bagai lagu kebangsaan yang dinyanyikan secara patuh oleh barisan buruh di bawah efek hipnotis sang penguasa.
Ketika horor dalam negeri masih susah (baca: ogah) lepas dari formula melelahkan seperti hantu yang begitu rajin memamerkan wajahnya ke arah penonton, maupun penggunaan lagu beraroma tempo dulu yang makin lama makin kehilangan keangkerannya, Monster Pabrik Rambut datang dan mengacak-acak sistem banal tersebut.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar