REVIEW - HOKUM
Salah satu templat tertua di film horor adalah penampakan hantu. Kita dibiasakan untuk menghafal, bahwa ketika bangunan angker dijadikan panggung, pastilah eksistensi hantu benar adanya, sementara para skeptis beserta segala keraguan mereka bakal terkena batunya. Hokum berupaya mendekonstruksi formula itu dengan mendorong penonton mempertanyakan, apakah kita tengah berada dalam film horor konvensional atau bukan.
Sebagaimana kita saksikan di karya-karya Damian McCarthy sebelumnya (Caveat, Oddity), semua hal maupun orang tidak sepenuhnya seperti yang nampak di permukaan. Begitu pun si protagonis, Ohm Bauman (Adam Scott), novelis Amerika yang sedang menyambangi hotel bernama The Bilberry Woods di area rural Irlandia.
Sekilas ia hanya novelis berengsek yang menolak memberi tanda tangan, bahkan bersikap kasar kepada salah satu penggemarnya. Kelak sikap itu akan dijabarkan akarnya. Demikian pula alasan mengapa Ohm memilih akhir (terlalu) kelam guna menutup cerita novel terbarunya, yang sempat ia bagikan di hadapan Fiona (Florence Ordesh) si bartender hotel.
Ada yang aneh dengan The Bilberry Woods dan sekelilingnya, termasuk keberadaan Jerry (David Wilmot) yang menetap di tengah hutan, hingga legenda mengenai penyihir yang konon bersemayam. Ada pula kabut pekat menyelubungi hati Ohm. Cukup sampai situ seluk-beluk plot yang perlu kalian tahu. Berikutnya, biarkan naskah buatan McCarthy membawa kita mengarungi perjalanan sarat progresi plot tak terduga.
Hokum enggan tampil mengejutkan secara asal, sebab setiap tikungan memiliki alasan. Sama halnya dengan gelaran jumpscare yang rutin meramaikan presentasi film ini. Bentuknya cenderung berkutat pada penampakan wajah hantu generik yang senantiasa diiringi musik berisik. Menyebalkan? Terkadang. Efektif menggedor jantung? Jelas! McCarthy jeli mengatur timing dalam pengadeganannya.
Tapi coba simak lebih jauh deretan jumpscare klise tersebut. Beberapa dialami langsung oleh si protagonis, yang seiring waktu akan kita sadari merupakan unreliable narrator, entah karena kondisi mental atau tendensinya menenggak alkohol. Sedangkan sisanya berupa flashback yang dituturkan oleh karakter lain, tak ubahnya dalam "sesi cerita seram" di tengah api unggun.
Sederhananya, tidak satu pun pengalaman mengerikan di atas bisa kita pastikan kebenarannya. Mungkin saja semuanya, sebagaimana novel fiktif yang Ohm lahirkan, hanyalah kebohongan (hokum), baik yang sifatnya disengaja atau dikarenakan adanya kekeliruan karakternya memersepsikan realita.
Hokum tampil bak kisah-kisah horor di dunia nyata yang kesahihannya sulit dibantah, tapi juga sukar untuk dibuktikan. Babak keduanya berjalan cukup berlarut-larut sehingga terasa agak melelahkan tatkala alih-alih memperdalam eksplorasi, McCarthy terkesan hanya tertarik mengulur waktu (film ini idealnya cuma membutuhkan durasi sekitar 90 menit).
Setidaknya titik tersebut memberi kita waktu guna memikirkan ulang segala peristiwa yang telah terjadi. Keseluruhan Hokum sendiri, biarpun belum sempurna, memancing hadirnya perenungan terkait semua yang saya kira sudah saya ketahui betul mengenai film horor.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar