REVIEW - STAR WARS: THE MANDALORIAN AND GROGU

Tidak ada komentar

The Mandalorian and Grogu adalah film Star Wars terlemah. Orang-orang di baliknya bak mengira tengah memproduksi kelanjutan serial yang jadi basis ceritanya, alih-alih sebuah tontonan layar lebar. Jadilah 132 menit episodik yang kacau pula tanpa tujuan. This isn't the way. 

Din Djarin alias "Mando" (Pedro Pascal) masih pemburu hadiah karismatik. Si kecil Grogu pun tetap menggemaskan. Hati siapa tidak meleleh melihatnya memukuli helm besi Mando saat ketakutan? 

Ketika musik ikonik gubahan Ludwig Göransson yang meleburkan nuansa misterius western dan kemegahan space opera berkumandang, penonton serialnya bakal segera menyadari, bahwa dari kulit luar ini masih The Mandalorian yang mereka cintai. Tapi begitu cerita mulai dituturkan, kegembiraan tersebut perlahan berubah jadi kekecewaan bercampur kebosanan.

Kali pertama kita bertemu Mando, ia sedang menyerbu markas salah satu petinggi Galactic Empire, guna menjalankan misi dari New Republic. Gelaran aksinya (baik dalam penyerbuan ini maupun di titik-titik berikutnya) berlangsung solid. Tanpa terobosan baru, tanpa ketegangan luar biasa, tanpa momen super keren yang bakal melegenda, tapi Jon Favreau selaku sutradara jelas tahu cara merangkai aksi layar lebar yang punya daya hibur. 

Ceritanya mengikuti modus khas The Mandalorian: Si protagonis menerima misi yang mengharuskannya mampir ke beberapa persinggahan guna bertemu informan, yang akan memberi petunjuk tentang sebuah tempat atau informan lain, lalu ia bergerak menuju persinggahan berikutnya, dan seterusnya. 

Seiring perjalanan, Mando dan Grogu bertemu beragam makhluk menarik, dari Rotta the Hutt (Jeremy Allen White), putra Jabba the Hutt yang likeable dan bertolak belakang dari ayahnya; Embo si pemburu hadiah dari spesies Kyuzo dengan desain keren ala samurai Jepang; hingga Dragonsnake, si monster raksasa intimidatif yang seperti berasal dari semesta Lovecraftian. 

Potensinya tersebar di segala sudut, tapi alurnya, yang dipresentasikan dalam format episodik oleh naskah buatan Jon Favreau, Dave Filoni, dan Noah Kloor, terlalu miskin urgensi maupun aspek menarik apa pun. Ragam permasalahan silih berganti datang dan pergi, yang menjadikan alurnya tampil menyerupai kompilasi episode-episode sebuah serial.

Tidak semua film wajib punya satu konflik besar untuk dituntaskan, tapi ketiadaannya di sini, membuat The Mandalorian and Grogu kekurangan daya guna menjaga atensi penonton selama lebih dari dua jam. Penuturan episodiknya pun menyebabkan inkonsistensi perihal intensitas akibat pacing yang naik-turun secara tidak teratur. 

Di satu kesempatan, dua protagonis kita tersudut di tengah hutan Nul Hatta, lalu selama beberapa waktu, filmnya beralih menampilkan petualangan kecil dari Grogu. Momen ini cocok dirilis sebagai satu episode santai di pertengahan musim sebelum serialnya memasuki babak final. Tapi sebagai bagian film, kehadirannya mengacaukan tempo penceritaan. 

Bahkan trilogi prekuel dengan segala tetek bengek politik serta romansa opera sabunnya, maupun The Rise of Skywalker yang terlampau menyeriusi berbagai kekonyolan alurnya, tidak semembosankan ini. Star Wars: The Mandalorian and Grogu bakal membuat penontonnya menguap kebosanan, kemudian menguap dengan cepat dari ingatan. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: