REVIEW - LIVING THE LAND
Living the Land dibuka dengan memperlihatkan satu keluarga menggali tulang kerabat mereka, guna dimakamkan di samping sang istri yang baru tiada. Rasanya sakral. Seiring waktu, bersama bocah bernama Chuang (Wang Shang) yang jadi penghubung antara penonton dengan cerita, kita belajar bahwa orang-orang ini memperlakukan segalanya, baik perihal kebahagiaan maupun kesedihan, sebagai ritual. Hidup pun ibarat serangkaian selebrasi.
Latarnya adalah di Desa Bawangtai pada tahun 1991. Sayup-sayup terdengar berita mengenai lahirnya domba tabung pertama dari embrio beku di Inner Mongolia University. Dunia mereka sedang berada di persimpangan. Tradisi yang sudah sekian lama dijunjung pun mulai dirundung oleh modernisasi.
Menariknya, Huo Meng selaku sutradara sekaligus penulis naskah memposisikan pemahaman kita nyaris setara dengan Chuang, sehingga tidak semua problematika diperbincangkan secara gamblang. Misal bagaimana si bocah hanya tahu kalau guru muda di sekolahnya kerap meminjamkan buku untuk ia bawa pulang, tanpa memahami kaitan rutinitas tersebut dengan bibi kesayangannya, Xiuying (Zhang Yanrong).
Chuang menyaksikan kesedihan Xiuying kala dipinang lelaki asing, juga saat sepupunya terancam dikeluarkan dari sekolah akibat gagal membayar iuran gandum, namun belum memahami akar dari masalah-masalah itu. Begitu pula terkait perbedaan nama keluarganya dari orang tua serta kakak-kakaknya yang tinggal di perantauan.
Satu hal yang Chuang pahami: menikmati es loli bersama keluarga di sela-sela aktivitas panen gandum terasa menyenangkan. Mungkin itu juga peristiwa yang dipeluk mesra oleh ingatan Huo Meng tentang masa kecilnya. Dirindukannya kegiatan komunal, yang oleh Living the Land berkali-kali ditampilkan.
Pengarahan sang sutradara sarat akan kepekaan. Deretan shot yang memamerkan harmoni alam dengan manusia ditampilkan, seiring ia menggulirkan rekam jejak kenangan masa lalu, yang akhirnya turut terekam dan menjadi kenangan masa kini di hati penonton filmnya.
Tapi Huo Meng enggan menuang romantisasi secara berlebih supaya narasinya mampu menghindari simplifikasi atas isunya. Modernisasi tidak seutuhnya diberi label "buruk", pun tradisi tak selamanya mendatangkan kebaikan. Living the Land memandang keduanya memakai perspektif objektif yang berhasil menyibak kompleksitas persoalannya.
Benar bahwa tradisi warga Bawangtai telah dicurangi oleh dahaga pemuja modernisasi akan materi. Sebutlah praktik korupsi akar rumput, sampai ketika ladang gandum mereka terancam bakal bertransformasi jadi tambang minyak. Tapi beberapa tradisi juga membawa represi. Kendati usia keduanya terpaut 60-70 tahun, toh Xiuying dan si nenek buyut (Zhang Chuwen) masih jadi korban patriarki dalam lingkup pernikahan, kendati konteks permasalahannya lain (satu tentang fenomena "kawin bocah", satu lagi soal keperawanan).
Kompleksitas di atas jauh lebih mencengkeram, pun ampuh mendorong penontonnya berkutat dalam kontemplasi, ketimbang andai Living the Land terang-terangan memihak satu sisi. Daripada menyalahkan atau membenarkan, filmnya membiarkan dua jalan itu saling berkelindan membentuk labirin kehidupan. Menontonnya mendatangkan benturan perasaan rumit yang sukar dienyahkan. Ada kehangatan yang tumbuh, bersamaan dengan bilur yang tak kunjung sembuh.
Kerumitan rasa itu secara sempurna dipotret oleh adegan penutup yang tampil bak cerminan momen pembukanya. Di situ, keluarga besar Chuang berbarengan mendorong traktor butut di hamparan jalan bersalju, sembari membawa abu seorang mendiang yang akan segera berpulang ke tanah kelahirannya. Terdengar ratap tangis orang-orang, juga desahan penderitaan mereka, namun di sela-selanya, ada tindak kebersamaan yang terasa menenangkan.
(Klik Film)


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar