REVIEW - THE FURIOUS
Para pelakon The Furious akan membuat penonton percaya terhadap eksistensi manusia super. Mereka bisa melontarkan jurus-jurus bela diri, berlari secepat kilat, hingga melakukan gerakan-gerakan gimnastik ekstrim bak akrobat dalam waktu sepersekian detik.
Ceritanya sederhana: Ada pria bisu yang baru kita ketahui namanya di penghujung durasi (Xie Miao) dalam perjuangannya menolong sang putri, Rainy (Yang Enyou), dari sekapan sindikat perdagangan anak; ada pula Navin (Joe Taslim) yang berupaya menyelidiki keberadaan istrinya, Matia (Jeeja Yanin), seorang jurnalis yang hilang saat tengah menginvestigasi sindikat tersebut.
Keduanya menyatukan kekuatan, berpacu dengan waktu, sembari menunjukkan kapasitas fisik di atas rata-rata manusia biasa guna menghadapi lawan-lawan yang tak kalah gila seperti Ho (Brian Le) si tukang pukul brutal, Tak (Yayan Ruhian) si pembunuh sadis bersenjatakan panah, dan Paklung (Joey Iwanaga) selaku dalang dari segala kejahatan.
Setiap lapis koreografi memerlukan kemampuan atletik tingkat tinggi, bahkan di luar adegan baku hantam. Hentakan kaki si jagoan sewaktu berlari seolah mampu mengguncang bumi. Sedangkan saat ia dihantam oleh kendaraan yang melaju kencang, peristiwa tersebut nampak mematikan sebab Kenji Tanigaki selaku sutradara memastikan dampak tiap benturan sungguh terasa.
Pengarahan Tanigaki menggarisbawahi kata "arts" dalam istilah "martial arts". Estetika dinomorsatukan, seperti ketika Xie Miao beraksi sambil berdiri di atas tumpukan tubuh musuh-musuhnya yang sudah tak berdaya, atau bagaimana Joe Taslim akhirnya memamerkan jurus-jurus judo yang selama ini cenderung dipandang kurang sinematik.
Apa pun yang mampu menguatkan kekerasan estetis dalam The Furious bakal senang hati diterapkan oleh Tanigaki, kendati harus sambil mengacungkan jari tengah pada realisme. Tokoh-tokohnya memanfaatkan barang apa pun untuk berkelahi, dari sepeda sampai palu godam raksasa.
Bagaimana nasib seorang karakter jika menerima pukulan telak dari palu godam di kepalanya? Jangan khawatir, ia bukan saja bertahan hidup, namun masih cukup kuat untuk terlibat pertarungan melawan empat pria lain. Satu-satunya realisme di The Furious adalah sewaktu memotret tindak korupsi aparat yang mengutamakan keuntungan personal ketimbang melayani masyarakat.
Hampir semua pelakon diberi ruang unjuk kebolehan. Xie Miao yang secara lantang menyuarakan ketangguhan tanpa perlu berkata-kata, Joe Taslim yang kembali mendemonstrasikan "wajah marah" bak monster yang jadi ciri khasnya, Yayan Ruhian dengan seringai yang menguarkan aroma kematian, juga Brian Le yang sanggup bergerak lincah layaknya rudal biarpun berbadan besar. Bahkan si kecil Yang Enyou bukan cuma bocah lemah yang menunggu pertolongan secara pasif. Leher seorang penculik tidak ragu disayatnya demi menyelamatkan diri.
Satu-satunya keluhan saya untuk The Furious hanyalah momen pengepungan di tangga yang bagai difungsikan untuk tes daya tahan protagonisnya, dengan penyajian yang terlampau berlarut-larut. Saya pikir itulah klimaksnya, dan kebanyakan film aksi memang bakal berpuas diri menjadikan pengepungan tersebut selaku puncak. Tapi The Furious masih menyimpan satu lagi kesintingan.
Cerita utamanya telah usai, sehingga daripada babak ketiga konvensional, pertempuran pamungkas film ini lebih terasa seperti encore bombastis. Kenji Tanigaki melahirkan klimaks film aksi paling gila sejak threesome di The Raid pertama, berupa kemeriahan royal rumble berdarah yang membawa sang sutradara menyuguhkan kekacauan terkendali. Kamera arahan Meteor Cheung menari-nari, aktor-aktornya berkelahi seolah sambil kerasukan memedi, sedangkan penonton bertepuk tangan sembari berteriak meminta lagi dan lagi.


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar