REVIEW - THE ODYSSEY
Ada alasan kuat mengapa di karya terbarunya, Nolan mengangkat mitologi epos, sebuah bentuk literatur yang tak memberatkan sisi faktual. Tujuan sang auteur adalah mengeksplorasi proses kala suatu cerita dikonstruksikan oleh banyak kata "konon", di mana unsur kebenaran cenderung samar dan bias personal merupakan pilar utama.
Nolan di sini bak telah menuntaskan pelatihan yang dijalani sepanjang karirnya, yakni perihal penolakan atas kelinearan melalui pemugaran struktur narasi konvensional. The Odyssey adalah karyanya yang paling berjodoh dengan metode bertutur non-linear. Bukan sekadar gaya-gayaan atau alat penghantar plot twist, melainkan potret berlangsungnya aktivitas bercerita, yang acap kali terjadi secara acak, pun tidak jarang bersifat impulsif sesuai dengan dinamika perasaan si penyampai.
Sehingga epos Odyssey yang konon sudah dirumuskan oleh Homer lebih dari milenium lalu merupakan kendaraan sempurna untuk Nolan. Pasalnya ia mengisahkan soal Odysseus (Matt Damon), Raja Ithaca yang telah meninggalkan kerajaannya selama 20 tahun guna memimpin pasukan di Perang Troya.
Benarkah Odysseus merengkuh kejayaan lewat taktik Kuda Troya yang tersohor? Terpenting, apakah ia masih hidup? Benarkah kabar mengenai pemenjaraannya? Mengapa sang raja tidak kunjung pulang tatkala istrinya, Penelope (Anne Hathaway), dipusingkan oleh ratusan laki-laki, termasuk Antinous (Robert Pattinson), yang bernafsu meminangnya? Kapan kekhawatiran putra Odysseus, Telemachus (Tom Holland), bakal disembuhkan oleh kepulangan ayahnya?
Setumpuk kesimpangsiuran itulah yang Nolan soroti. Melalui naskahnya yang memberatkan penggunaan dialog untuk menyelipkan detail informasi terkait bangunan dunianya, ia beri ruang bagi tiap-tiap karakter guna membagi perspektif mereka yang saling sela-menyela mengenai Odysseus. Sehingga lumrah bila tiada urutan tetap, pun dengan tingkat kebenaran yang senantiasa dipertanyakan. Demikianlah mekanisme konsepsi suatu cerita.
Uniknya, Nolan membubuhkan sudut pandang modern yang agak berlawanan dengan tendensi epos mengagungkan kepahlawanan. Peperangan yang lazim jadi lahan subur penghasil pahlawan enggan dirayakan, tidak peduli sehebat apa sepak terjang sang figur. Sebaliknya, kondisi kelam pascaperang, entah kekalutan berskala besar di sebuah negeri maupun yang lebih kecil berupa serangan PTSD terhadap para prajurit, lebih dikedepankan.
Sama seperti Oppenheimer, The Odyssey punya protagonis yang seiring waktu mulai mempertanyakan warisannya terhadap dunia. Kegamangan Odysseus tentang status mana yang lebih pantas ia sandang antara "pahlawan" dan "pembunuh", melatari upaya Nolan mendekonstruksi perihal kepahlawanan, kemudian mendatangkan twist subtil yang tidak merasa perlu secara lantang memproklamasikan eksistensinya.
Seiring Odysseus melayari lautan menuju Ithaca, Nolan membentangkan visinya soal dunia ajaib Yunani kuno melalui perspektif yang lebih realistis. Beberapa makhluk mitologi menampakkan diri, namun tidak secara reguler, sebab di mata manusia biasa keberadaan mereka pun tetaplah anomali. Dewa tidak sebegitu narsis membagikan kedigdayaan di hadapan rakyat jelata. Hanya Athena (Zendaya) yang sesekali terlibat dialektika batiniah dengan Odysseus.
Kemegahan lanskap dalam sinematografi arahan Hoyte van Hoytema tidak dipenuhi fenomena ajaib seperti warna-warni letupan ilmu sihir, tapi lebih difungsikan guna memotret sebegitu kerdilnya manusia, bahkan Odysseus, di tengah bentangan semesta. Pun sekalinya fenomena yang mengkhianati logika muncul di depan mata, bukan keajaiban yang Nolan ingin penonton rasakan, melainkan kengerian.
The Odyssey dipenuhi momen yang tak ubahnya kisi-kisi untuk film horor seorang Christopher Nolan. Sebutlah saat sepak terjang Circe si penyihir (Samantha Morton) menampakkan visual khas body horror kelas satu, hingga kunjungan ke sarang Polyphemus (Cyclops putra Poseidon) yang jadi panggung bagi departemen tata suara memamerkan hasil kerja luar biasa tatkala teriakan si monster menggema dengan begitu mencekam.
Mari sejenak membicarakan tentang suara. Ragam jenis suara bertebaran selama 173 menit, tetapi satu yang paling berkesan adalah suara senar busur yang senantiasa Odysseus petik sebelum melesatkan panahnya. Sejak dini Nolan telah menyiratkan betapa suara sederhana itu akan punya peranan esensial dalam narasinya, bahkan ampuh menerbitkan air mata saking menggugahnya.
Sekali lagi, The Odyssey bercerita tentang cerita. Sebagaimana figur penyair (Travis Scott) yang mengetukkan tongkatnya sembari membagikan puisi oral, Nolan pun memakai suara sebagai alat bantu bertutur, kemudian melanjutkan warisan Homer, memenuhi tugasnya selaku pencerita yang menyuarakan lagu versinya mengenai Odysseus ke masa kini.


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar