REVIEW - MINIONS: THE RISE OF GRU
Di lingkup film animasi anak sekarang, tidak ada brand yang lebih kuat dibanding Minions. Jangkauannya luas. Kalangan ekonomi atas hingga bawah, anak laki-laki maupun perempuan, semua kenal gerombolan makhluk kuning ini. Buktinya? Di lapak penjual balon yang meramaikan salat Id, bukan Buzz Lightyear yang bakal anda temukan, tapi Minions.
Lain cerita bila membicarakan kualitas filmnya. Despicable Me (2010) menebar keunikan, tapi deretan sekuel dan prekuelnya dibuat hanya untuk mendorong para bocah memberi merchandise. Saya pun tak memasang ekspektasi tinggi bagi Minions: The Rise of Gru yang kembali diarahkan oleh Kyle Balda (Minions, Despicable Me 3).
Kemudian sekuen pembukanya hadir, memperlihatkan Vicious 6, kelompok penjahat bentukan Wild Knuckles (Alan Arkin), dalam upayanya mencuri batu keramat berkekuatan sakti. Belle Bottom (Taraji P. Henson) jadi yang pertama kita temui, beraksi dengan dandanan ala Pam Grier muda, diiringi musik soul funk. Saya pun terkejut. "Minions: The Rise of Gru adalah film blaxploitation???".
Tidak berhenti sampai di situ, kita pun diperkenalkan pada anggota Vicious 6 lain. Jean Clawed (Jean-Claude Van Damme) dengan cakar lobster, Svengeance (Dolph Lundgren) si skater Stronghold (Danny Trejo) si pemilik tangan besi, dan Nunchuck (Lucy Lawless) si biarawati yang bersenjatakan...well, nunchaku. Nantinya kita pun bertemu Master Chow (Michelle Yeoh), seorang master kung fu yang membantu para Minions.
Target utama The Rise of Gru masih penonton anak, tapi jajaran pengisi suara berisi ikon-ikon film laga, ditambah estetika serta referensi bagi genre yang populer selama 70-an (blaxploitation, nunsploitation, kung fu, monster, hingga spionase ala James Bond yang dipakai membungkus kredit pembuka), membuatnya juga dapat dinikmati penyuka film berusia dewasa.
Kenapa 70-an? Sebab filmnya mengambil latar masa itu, ketika Gru kecil (Steve Carell) baru mengawali karir sebagai supervillain. Impiannya adalah bergabung dengan Vicious 6, yang mengadakan audisi anggota baru setelah memecat (baca: mengkhianati) Wild Knuckles. Tentu rencana itu tak berjalan mulus, berujung kekacauan demi kekacauan yang makin tak terkendali akibat tingkah polah Minions.
Naskah buatan Brian Lynch dan Matthew Fogel tampil dengan pola standar seri Despicable Me. Alur generik, humor hit-and-miss (penonton anak bakal tetap menertawakan polah Minions apa pun itu), pun sentuhan emosi yang tak dikembangkan secara maksimal. Tapi eksplorasi terhadap genre-genre di atas memang jadi pembeda.
Timbul kesan bahwa meski mengandung kelemahan serupa, The Rise of Gru berusaha tampil segar, bukan asal memproduksi mesin promosi merchandise. Animasinya kreatif, termasuk desain karakter dan properti yang mereka gunakan (terutama kendaraan masing-masing anggota Vicious 6). Ditambah pengarahan cepat Kyle Balda, durasi 88 menit terasa sebagaimana mestinya (Minions yang cuma 91 menit bergulir bak dua jam). Momen-momen yang berlalu begitu saja tanpa kesan berarti masih ada di sana-sini, namun tatkala Minions: The Rise of Gru ditutup lewat klimaks seru ala film kaiju, rasanya kekurangan tersebut bukan persoalan besar.
REVIEW - THE SPONGEBOB MOVIE: SPONGE ON THE RUN
Merupakan film SpongeBob ketiga, sekaligus yang pertama sepenuhnya
menggunakan animasi CGI, The SpongeBob
Movie: Sponge on the Run jelas bakal memuaskan penggemar setianya. Pun ada
sedikit nuansa sentimental, mengingat filmnya didekikasikan kepada sang
kreator, Stephen Hillenburg, yang meninggal pada 2018 lalu. Tapi mengesampingkan
deretan trivia di atas, apakah
kualitasnya memang spesial?
Alurnya terdengar familiar. Seperti biasa Plankton (Mr.
Lawrence) berusaha mencuri resep Krabby Patty dari Mr. Krabs (Clancy Brown).
Tapi setelah menyadari bahwa alasan kegagalannya selama ini adalah SpogeBob
(Tom Kenny), ia mulai menyusun rencana baru. Kebetulan, Poseidon (Matt Berry) sedang
mencari siput, yang cairannya ampuh untuk menghilangkan keriput wajah.
Masalahnya, akibat konsumsi berlebihan sang penguasa lautan, jumlah siput
semakin langka. Maka diadakanlah sayembara.
Melalui campur tangan Plankton, Poseidon pun menculik siput
kepunyaan SpongeBob, Gary (disebut “snailnapped”).
Dibantu Patrick (Bill Fagerbakke), SpongeBob memberanikan diri pergi ke Lost City of Atlantic City, kota
gemerlap ala Las Vegas tempat Poseidon berada, guna menyelamatkan Gary.
Secara garis besar, naskah buatan Tim Hill (Alvin and the Chipmunks, Hop) yang juga
menjabat selaku sutradara, tidak punya banyak perbedaan dengan episode-episode
serial televisinya. Film ini bak episode versi extended, hanya saja, dengan subplot dan flashback jauh lebih banyak (bukan
cuma satu-dua, kita dibawa melihat pertemuan perdana semua karakternya dengan
SpongeBob); animasi lebih mahal, yang meski digarap memakai teknik berbeda,
tetap mempertahankan gaya serta desain aslinya; dan terpenting, emosi yang
lebih kuat.
Bagian flashback memang difungsikan sebagai alat mengaduk-aduk
perasaan penonton, di mana bagian Squidward (Rodger Bumpass) jadi yang paling
mengharukan. Pertama karena memang penceritaannya paling lengkap dan tergali.
Kedua, karena dinamika menarik, didasari hubungan cinta/benci antara SpongeBob
dan Squidward.
Humornya, meski tetap mempertahankan beberapa absurditas,
bila dibandingkan serial televisinya, cenderung ringan, mudah dicerna, pula
lebih bersahabat bagi penonton yang belum terbiasa dengan gaya bercanda
SpogeBob dan kawan-kawan. Tapi humor terbaiknya adalah terkait pemilihan pemain,
yang beberapa merupakan humor meta, dengan
memanfaatkan citra mereka di dunia
nyata. Danny Trejo sebagai pemimpin zombie bajak laut koboi bernama El Diablo,
sementara Keanu Reeves memerankan Sage, sesosok tumbleweed bijak berwajah...well, Keanu Reeves.
The SpongeBob Movie:
Sponge on the Run adalah
petualangan menyenangkan penuh tawa. Tapi jangan terkejut jika begitu film
usai, seperti saya, anda juga meneteskan air mata menyaksikan keriangan di
Bikini Bottom, diiringi lagu Take On Me.
Mungkin, walau tidak punya kualitas luar biasa, Sponge on the Run mewakili apa yang kita rindukan dewasa ini: harmoni.
Available on NETFLIX

%20(1).png)

