Tampilkan postingan dengan label Brian Lynch. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brian Lynch. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MINIONS: THE RISE OF GRU

Di lingkup film animasi anak sekarang, tidak ada brand yang lebih kuat dibanding Minions. Jangkauannya luas. Kalangan ekonomi atas hingga bawah, anak laki-laki maupun perempuan, semua kenal gerombolan makhluk kuning ini. Buktinya? Di lapak penjual balon yang meramaikan salat Id, bukan Buzz Lightyear yang bakal anda temukan, tapi Minions. 

Lain cerita bila membicarakan kualitas filmnya. Despicable Me (2010) menebar keunikan, tapi deretan sekuel dan prekuelnya dibuat hanya untuk mendorong para bocah memberi merchandise. Saya pun tak memasang ekspektasi tinggi bagi Minions: The Rise of Gru yang kembali diarahkan oleh Kyle Balda (Minions, Despicable Me 3). 

Kemudian sekuen pembukanya hadir, memperlihatkan Vicious 6, kelompok penjahat bentukan Wild Knuckles (Alan Arkin), dalam upayanya mencuri batu keramat berkekuatan sakti. Belle Bottom (Taraji P. Henson) jadi yang pertama kita temui, beraksi dengan dandanan ala Pam Grier muda, diiringi musik soul funk. Saya pun terkejut. "Minions: The Rise of Gru adalah film blaxploitation???". 

Tidak berhenti sampai di situ, kita pun diperkenalkan pada anggota Vicious 6 lain. Jean Clawed (Jean-Claude Van Damme) dengan cakar lobster, Svengeance (Dolph Lundgren) si skater Stronghold (Danny Trejo) si pemilik tangan besi, dan Nunchuck (Lucy Lawless) si biarawati yang bersenjatakan...well, nunchaku. Nantinya kita pun bertemu Master Chow (Michelle Yeoh), seorang master kung fu yang membantu para Minions. 

Target utama The Rise of Gru masih penonton anak, tapi jajaran pengisi suara berisi ikon-ikon film laga, ditambah estetika serta referensi bagi genre yang populer selama 70-an (blaxploitation, nunsploitation, kung fu, monster, hingga spionase ala James Bond yang dipakai membungkus kredit pembuka), membuatnya juga dapat dinikmati penyuka film berusia dewasa. 

Kenapa 70-an? Sebab filmnya mengambil latar masa itu, ketika Gru kecil (Steve Carell) baru mengawali karir sebagai supervillain. Impiannya adalah bergabung dengan Vicious 6, yang mengadakan audisi anggota baru setelah memecat (baca: mengkhianati) Wild Knuckles. Tentu rencana itu tak berjalan mulus, berujung kekacauan demi kekacauan yang makin tak terkendali akibat tingkah polah Minions. 

Naskah buatan Brian Lynch dan Matthew Fogel tampil dengan pola standar seri Despicable Me. Alur generik, humor hit-and-miss (penonton anak bakal tetap menertawakan polah Minions apa pun itu), pun sentuhan emosi yang tak dikembangkan secara maksimal. Tapi eksplorasi terhadap genre-genre di atas memang jadi pembeda. 

Timbul kesan bahwa meski mengandung kelemahan serupa, The Rise of Gru berusaha tampil segar, bukan asal memproduksi mesin promosi merchandise. Animasinya kreatif, termasuk desain karakter dan properti yang mereka gunakan (terutama kendaraan masing-masing anggota Vicious 6). Ditambah pengarahan cepat Kyle Balda, durasi 88 menit terasa sebagaimana mestinya (Minions yang cuma 91 menit bergulir bak dua jam). Momen-momen yang berlalu begitu saja tanpa kesan berarti masih ada di sana-sini, namun tatkala Minions: The Rise of Gru ditutup lewat klimaks seru ala film kaiju, rasanya kekurangan tersebut bukan persoalan besar. 

THE SECRET LIFE OF PETS 2 (2019)

Meraup pendapatan lebih dari $875 juta, kedatangan sekuel The Secret Life of Pets jelas bukan kejutan. Demikian pula fakta bahwa The Secret Life of Pets 2 tak menawarkan jalinan alur solid, mengingat animasi ini dibuat oleh Illumination yang berani membuat film panjang soal eksploitasi kekonyolan Minions belaka. Dan layaknya mayoritas judul studio tersebut, karya penyutradaraan Chris Renaud (Despicable Me, The Lorax, The Secret Life of Pets) ini mampu memproduksi tawa, biarpun penulisannya begitu malas, bahkan untuk standar Illumination.

Saya pun ragu menyebut film ini mempunyai cerita, ketika naskah buatan Brian Lynch (Puss in Boots, Minions, The Secret Life of Pets) cuma menyajikan tiga sketsa terpisah yang dijahit sekenanya, sebelum dipaksa bersinggungan arah pada babak ketiga. Rasanya seperti menonton episode spesial kartun televisi Minggu pagi.

Pertama, ada Max (Patton Oswalt) yang merasa resah setelah pemiliknya memiliki bayi. Liam namanya. Selayaknya bayi, tentu ia kerap membawa kekacauan di rumah. Tapi seiring pertumbuhan Liam, tumbuh pula kepedulian di hati Max. Terlalu peduli malah, sebab Max menjadi paranoid, berlebihan mengkhawatiran kesalamatan si bayi. Sampai suatu hari mereka berlibur ke sebuah peternakan, di mana Max bertemu Rooster (Harrison Ford), anjing gembala tangguh yang mengajarinya soal keberanian menatap kerasnya dunia.

Sepanjang liburan, Max menitipkan Busy Bee, mainan favoritnya, kepada Gidget (Jenny Slate). Malang, Gidget menjatuhkan Busy Bee ke rumah wanita tua yang dipenuhi puluhan kucing beringas. Sementara itu, anjing shih tzu bernama Daisy (Tiffany Haddish) meminta bantuan Snowball (Kevin Hart) untuk menyelamatkan Hu, seekor harimau putih yang disiksa oleh Sergei (Nick Kroll), pemilik sirkus kejam.

Begitulah. The Secret Life of Pets 2 mengisi durasi pendeknya (86 menit) dengan mempertontonkan tiga cerita pendek yang bahkan kalah memorable dibanding lagu Panda yang dinyanyikan Kevin Hart sebelum kredit akhir bergulir. Tanpa modifikasi, tanpa hati, penonton sejatinya tak perlu menyisihkan uang serta waktu mengunjungi biokop guna mencari hiburan semacam ini.

Mengingat statusnya sebagai tokoh utama, petualangan Max pun jadi penceritaan yang palingn mendekati “layak”. Saya bisa membayangkan kisah serupa diangkat oleh animasi lain dengan kualitas lebih baik, sehingga menjadi tontonan yang lebih bermakna dan berperasaan. Tapi akibat pendekatan bak sketsa, tahapan pengembangan pun dipangkas habis (Max berubah setelah mengalami satu insiden saja) demi memberi waktu pada deretan situasi komikal ringan.

Beruntung, kehampaan ceritannya urung menyiksa berkat humor yang bekerja cukup baik, setidaknya jika anda termasuk golongan seperti saya, yang menikmati cara konyol film ini menjelaskan absurditas perilaku hewan-hewan khususnya kucing. Lynch mungkin malas berusaha mengkreasi jalinan alur yang memadai, namun ia bersedia memeras otak memikirkan ide segar untuk memancing tawa.

Tapi sekali lagi, The Secret Life of Pets 2 adalah kumpulan sketsa. Walau terdiri dari tiga buah sekalipun, daya bunuhnya tak mampu bertahan itu. Mendekati satu jam, pesonanya nyaris terkikis habis. Bahkan ketika para pengisi suara seperti Tiffany Haddish, Kevin Hart, hingga Lake Bell sebagai Chloe si kucing gemuk pemalas telah unjuk gigi, The Secret Life of Pets 2 tetap kekurangan energi.