Tampilkan postingan dengan label Steve Carell. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Steve Carell. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MINIONS: THE RISE OF GRU

Di lingkup film animasi anak sekarang, tidak ada brand yang lebih kuat dibanding Minions. Jangkauannya luas. Kalangan ekonomi atas hingga bawah, anak laki-laki maupun perempuan, semua kenal gerombolan makhluk kuning ini. Buktinya? Di lapak penjual balon yang meramaikan salat Id, bukan Buzz Lightyear yang bakal anda temukan, tapi Minions. 

Lain cerita bila membicarakan kualitas filmnya. Despicable Me (2010) menebar keunikan, tapi deretan sekuel dan prekuelnya dibuat hanya untuk mendorong para bocah memberi merchandise. Saya pun tak memasang ekspektasi tinggi bagi Minions: The Rise of Gru yang kembali diarahkan oleh Kyle Balda (Minions, Despicable Me 3). 

Kemudian sekuen pembukanya hadir, memperlihatkan Vicious 6, kelompok penjahat bentukan Wild Knuckles (Alan Arkin), dalam upayanya mencuri batu keramat berkekuatan sakti. Belle Bottom (Taraji P. Henson) jadi yang pertama kita temui, beraksi dengan dandanan ala Pam Grier muda, diiringi musik soul funk. Saya pun terkejut. "Minions: The Rise of Gru adalah film blaxploitation???". 

Tidak berhenti sampai di situ, kita pun diperkenalkan pada anggota Vicious 6 lain. Jean Clawed (Jean-Claude Van Damme) dengan cakar lobster, Svengeance (Dolph Lundgren) si skater Stronghold (Danny Trejo) si pemilik tangan besi, dan Nunchuck (Lucy Lawless) si biarawati yang bersenjatakan...well, nunchaku. Nantinya kita pun bertemu Master Chow (Michelle Yeoh), seorang master kung fu yang membantu para Minions. 

Target utama The Rise of Gru masih penonton anak, tapi jajaran pengisi suara berisi ikon-ikon film laga, ditambah estetika serta referensi bagi genre yang populer selama 70-an (blaxploitation, nunsploitation, kung fu, monster, hingga spionase ala James Bond yang dipakai membungkus kredit pembuka), membuatnya juga dapat dinikmati penyuka film berusia dewasa. 

Kenapa 70-an? Sebab filmnya mengambil latar masa itu, ketika Gru kecil (Steve Carell) baru mengawali karir sebagai supervillain. Impiannya adalah bergabung dengan Vicious 6, yang mengadakan audisi anggota baru setelah memecat (baca: mengkhianati) Wild Knuckles. Tentu rencana itu tak berjalan mulus, berujung kekacauan demi kekacauan yang makin tak terkendali akibat tingkah polah Minions. 

Naskah buatan Brian Lynch dan Matthew Fogel tampil dengan pola standar seri Despicable Me. Alur generik, humor hit-and-miss (penonton anak bakal tetap menertawakan polah Minions apa pun itu), pun sentuhan emosi yang tak dikembangkan secara maksimal. Tapi eksplorasi terhadap genre-genre di atas memang jadi pembeda. 

Timbul kesan bahwa meski mengandung kelemahan serupa, The Rise of Gru berusaha tampil segar, bukan asal memproduksi mesin promosi merchandise. Animasinya kreatif, termasuk desain karakter dan properti yang mereka gunakan (terutama kendaraan masing-masing anggota Vicious 6). Ditambah pengarahan cepat Kyle Balda, durasi 88 menit terasa sebagaimana mestinya (Minions yang cuma 91 menit bergulir bak dua jam). Momen-momen yang berlalu begitu saja tanpa kesan berarti masih ada di sana-sini, namun tatkala Minions: The Rise of Gru ditutup lewat klimaks seru ala film kaiju, rasanya kekurangan tersebut bukan persoalan besar. 

BATTLE OF THE SEXES/THE DISASTER ARTIST/THE MEYEROWITZ STORIES

Tiga film di bawah sama-sama menyoroti mereka yang terpinggirkan. Di Battle of the Sexes, para petenis wanita dipandang sebelah mata, seolah tidak sama berharganya dengan petenis pria, The Disaster Artist memiliki Tommy Wiseau yang menjadi sasaran empuk olok-olok akibat The Room yang melegenda, sementara The Meyerowitz Stories (New and Selected) bertutur soal seniman yang terlupakan, juga seorang pria pengangguran yang merasa sang ayah lebih menyayangi kakaknya.

Battle of the Sexes (2017)
Film biografi bertema olahraga biasanya mengedepankan usaha tokohnya memenangkan pertandingan dengan tujuan akhir merengkuh gelar juara. Para petenis wanita di Battle of the Sexes pun berjuang untuk menang. Bukan demi piala berkilau atau pundi-pundi uang, melainkan kesetaraan gender. Petenis wanita nomor satu pada 1973, Billie Jean King (Emma Stone), menolak begitu saja menerima fakta wanita hanya dibayar seperdelapan dari pria. Bersama beberapa  petenis wanita lain, ia pun nekat membentuk WTA (Women’s Tennis Association) dengan dana seadanya dan menggelar tur sendiri. Stone, selain bersenjatakan senyum yang punya jangkauan ekspresi luas (dari sarkasme hingga kebahagiaan berbunga-bunga), juga meyakinkan dalam bergerak di atas lapangan. Caranya merayakan poin, berjalan sambil bersiasat, memasang kuda-kuda, semua menampakkan pengalaman petenis unggulan. Pun perihal akurasi, duo sutradara, Jonathan Dayton dan Valerie Faris (Little Miss Sunshine, Ruby Sparks) mampu mereka ulang detail (pernikahan di bangku penonton, spanduk yang bertebaran) event legendaris Battle of the Sexes, kala Billie Jean bertanding melawan Larry Riggs (Steve Carell), mantan petenis top yang ingin membuktikan bahwa pria lebih superior dari wanita. Sebelum third act, kita urung dipamerkan seberapa hebat kemampuan Billie Jean, ketika Battle of the Sexes lebih tertarik menyoroti affair-nya dengan sang penata rambut, Marilyn Barnett (Andrea Riseborough). Namun mungkin itulah poinnya. Battle of the Sexes adalah film dalam lingkup tenis yang tak mengutamakan tenis, melainkan perjuangan kaum marginal, meski perjuangan cinta Billie Jean tampil tak sesimpatik seharusnya. (3.5/5)

The Disaster Artist (2017)
Apa yang ada di kepala Tommy Wiseau saat membuat The Room? Kenapa banyak momen acak tak berkesinambungan? Kenapa dialognya aneh? Kenapa akting pemainnya amat buruk? Kenapa memakai CGI alih-alih mengambil gambar di atap gedung sungguhan. The Disaster Artist memberi pencerahan mengenai setumpuk tanya di atas. Bukan jawaban pasti. Sebab dari mana Wiseau berasal, mengapa kekayaannya seolah tanpa ujung, dan berapa usia pastinya tetaplah misteri. Namun naskah buatan Scott Neustadter dan Michael H. Weber yang mengadaptasi buku non-fiksi berjudul sama karya Greg Sestero dan Tom Bissell piawai mengaitkan deretan keanehan Wiseau (James Franco) jadi kesatuan kisah seputar mimpi dan persahabatan. Kita diajak melihat bahwa seluruh keputusan janggal Wiseau sejatinya bentuk solidaritas juga ungkapan sayang terhadap sahabat. Setidanya itu yang Greg Sestero (Dave Franco) percaya. The Disaster Artist bukan saja menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang The Room, pula berpotensi mengubah persepsi. Dari salah satu tontonan terburuk sepanjang masa yang layak ditertawakan jadi karya dengan ketulusan dan passion selaku pondasi. Pancaran kegetiran di wajah Franco kala penonton tertawa terbahak-bahak di tengah pemutaran perdana akan menusuk hati, apalagi bila anda selama ini kerap menjadikan Wiseau bahan olok-olok. Franco sendiri tak hanya meniru gerak dan tutur Wiseau yang ganjil, tetapi total meresapi, lalu sepenuhnya bertransformasi. Sebagai sutradara, keberhasilan Franco merekonstruksi ulang momen-momen ikonik The Room sampai ke detail terkecil patut diacungi jempol. Baik selaku studi karakter, biografi, maupun komedi kental kebodohan tingkah tokohnya, The Disaster Artist tampil unik nan efektif. (4.5/5)

The Meyerowitz Stories (2017)
Sebagai Danny Meyerowitz, Adam Sandler berkumis, berjalan pincang, tidak mengenakan kaus oblong andalannya. Singkatnya, ia meninggalkan sosok pria kekanakan yang melekat kuat dan mencirikan filmnya.  Danny adalah putera Harold Meyerowitz (Dustin Hoffman), mantan pematung tersohor yang enggan menerima kenyataan bahwa dirinya makin terlupakan. Total  Harold memiliki tiga anak dari tiga pernikahan berbeda (kini dia tengah menjalani pernikahan keempat). Selain Danny ada Jean (Elizabeth Marvel), satu-satunya anak perempuan sekaligus anak paling tertutup, juga Matthew (Ben Stiller), putera kesayangan Harold yang sukses sebagai penasihat finansial. Merupakan kenikmatan melihat Sandler dan Stiller beradu memamerkan performa sensitif yang turut menyelipkan sisi komedik. Tampil ketiga kalinya di film Noah Baumbach, Stiller tampak telah terbiasa, mudah melakoni kecanggungan di sela-sela kegetiran persoalan keluarga. Namun sumber emosi terbesar tetap Sandler.  Melalui akting jujur nan hangat, dibuatnya paparan konflik ayah-anak yang ada terasa bernilai. Lewat senyum serta tatapan yang sulit ditebak, Sandler memberi kompleksitas yang tak kalah rumit dibanding problematika utama yang diangkat, yakni soal keluarga modern. Keluarga Meyerowitz tersusun atas satu ayah, banyak anak, banyak ibu, menghasilkan kepribadian, kisah, pula permasalahan beragam. The Meyerowitz Stories (New and Selected) menuturkan proses pemahaman tiga bersaudara Meyerowitz , bahwa rupanya mereka tidak serenggang dan seberbeda itu. Ingatan rancu Harold mengenai siapa yang sewaktu kecil dulu kerap menemaninya berkarya jadi bukti. Like most of Baumbach’s movies, The Meyerowitz Stories finds its sweetness in a quirkiness. (4/5)

DESPICABLE ME 3 (2017)

Pada film ini, Gru (Steve Carell) terjebak dilema, bertahan sebagai diri barunya atau kembali menyandang status penjahat super. Kita pun melihat ekspresi licik serta mendengar tawa jahatnya lagi. Dan dalam suatu kesempatan, ia menipu saudara kembarnya, Dru (juga disuarakan Steve Carell) guna mencapai tujuan pribadi  walau tujuan ini sejatinya berguna bagi dunia. Inilah Gru yang penonton kenal pula sukai. Lebih dari itu, juga penokohan yang sejak dulu berusaha dibentuk franchise-nya, yaitu sosok dengan ambiguitas moral, setidaknya untuk ukuran animasi semua umur. Filmnya sendiri adalah yang terbaik sejak installment perdana (termasuk Minions). 

Kali ini Gru bersama sang istri, Lucy (Kristen Wiig) selaku agen Anti-Villain League (AVL) berurusan dengan Balthazar Bratt (Trey Parker) yang hendak mencuri berlian terbesar di dunia. Bratt adalah mantan bintang cilik ternama. Namun pasca serial televisinya dibatalkan akibat kehilangan penonton setelah menginjak masa puber (bayangkan Macaulay Culkin sekarang bermain di Home Alone), Bratt mulai percaya bahwa dia adalah tokoh peranannya di serial tersebut, memutuskan menjadi penjahat super sungguhan. Karakterisasi di atas bak parodi tentang aktor yang tenggelam terlampau jauh dalam karakter yang dimainkan dan/atau aktor cilik yang kehabisan masa jaya begitu beranjak dewasa. 
Besar di 80-an, wajar tatkala Bratt dihiasi gabungan pernak-pernik era tersebut dan benda khas anak. Kostum dengan shoulder pad, gaya rambut mullet, senjata berbentuk yoyo dan permen karet, markas berwujud rubik, sampai yang paling berpengaruh untuk filmnya, kegemaran menyetel musik 80-an. Deretan nomor seperti Bad-nya Michael Jackson hingga Take on Me milik a-ha sesekali menambah keasyikan petualangan yang sayangnya, walau oleh duet sutradara Pierre Coffin dan Kyle Balda konsisten digerakkan secepat kilat, gagal menyamai kreativitas memikat first act-nya. Gru dan Lucy dengan kendaraan canggih bak versi futuristik James Bond melawan bermacam senjata unik berbentuk mainan kepunyaan Bratt jadi keseruan yang gagal terulang, bahkan oleh klimaks yang menampilkan robot raksasa.

Dasar ceritanya masih mempertahankan usungan tema keluarga, meski kini persaudaraan Gru dan Dru mengurangi porsi ayah-anak. Ada usaha Lucy belajar menjadi sosok ibu bagi trio Margo-Edith-Agnes, namun sekedar selipan dangkal ketimbang proses utuh sebagaimana Gru belajar menjadi ayah di film pertama. Tapi Coffin dan Balda selalu menggarap tiap momen kekeluargaan dengan sensitivitas tinggi, menyertakan cukup kasih sayang demi menghasilkan kehangatan. Adegan kala Mel  Minions yang memprovokasi rekan-rekannya agar mendorong Gru kembali berbuat jahat  mengingat masa-masa bersama Gru tersaji manis layaknya memori indah ayah dan anak. 
Lain halnya dengan porsi komedi. Despicable Me 3 berusaha keras melucu di tiap kesempatan. Hampir lima menit sekali humor digelontorkan. Ada adegan ketika Gru dan Dru terpingkal-pingkal menertawakan lelucon mereka sendiri sementara Lucy serta tiga puterinya terdiam, entah bingung harus merespon bagaimana atau sepenuhnya tak peduli. Situasi yang cocok menggambarkan usaha komedi filmnya. Turut digandakan adalah sisi cuteness. Seolah keberadaan Minions dan Agnes belum cukup, hewan-hewan seperti kambing pula babi jadi target, didesain semenggemaskan mungkin. Setidaknya poin ini lebih mencuri hati daripada humornya. 

Despicable Me 3 mengembalikan peran Minions sebagai pendukung yang bahkan tak berbuat satu pun hal signifikan. Keputusan tepat, sebab sejak dulu, tiap kemunculan makhluk kuning ini memakan beberapa menit durasi demi kehadiran situasi komikal random yang sejatinya dapat diluangkan guna menguatkan alur. Begitu juga di sini, walau harus diakui Minions menguasai penjara adalah salah satu momen paling menarik pun terlucu dalam film ini. Ditutup oleh ending yang membuka peluang sekuel, Despicable Me 3 paling tidak membawa lagi sang tokoh utama ke posisi semestinya. This movie makes Gru cool and interesting again