Tampilkan postingan dengan label Keanu Reeves. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keanu Reeves. Tampilkan semua postingan

REVIEW - DC LEAGUE OF SUPER-PETS

Walau ditangani oleh Jared Stern dan John Whittington yang sebelumnya tergabung dalam tim penulis naskah The Lego Batman Movie (2017), kurang bijak mengharapkan DC League of Super-Pets membawa keunikan serupa, mengingat seri The Lego Movie memang punya gayanya sendiri. Tapi premis mengenai hewan peliharan para pahlawan super jelas mengandung lebih banyak potensi ketimbang sebatas "modifikasi The Secret Life of Pets".

Krypto (Dwayne Johnson) adalah anjing peliharaan Superman (John Krasinski) yang mendarat di Bumi bersama sang majikan selepas Krypton binasa. Setelah dewasa, keduanya berduet sebagai pelindung Metropolis. Krypto menganggap Superman tidak butuh sahabat selain dirinya. Sampai datang sebuah ancaman. Bukan ancaman berupa supervillain atau alien jahat, melainkan Lois Lane (Olivia Wilde), kekasih Superman. Krypto khawatir Lois bakal mengambil alih posisinya.

Tapi ancaman dari supervillain juga siap menghadang, kala seekor guinea pig di tempat penampungan hewan bernama Lulu (Kate McKinnon), mendapat kekuatan super karena terpapar batu kryptonite oranye. Lulu mengagumi Lex Luthor (Marc Maron) yang pernah menjadikannya bahan eksperimen, dan kekaguman itu mendorongnya membuktikan diri dengan cara menangkap semua anggota Justice League. Tapi rupanya, hewan-hewan lain di tempat penampungan juga memperoleh kekuatan, lalu bersama Krypto, mereka membentuk tim super guna menolong Superman dan kawan-kawan.

PB (Vanessa Bayer) si babi mampu mengubah ukuran tubuhnya, Merton (Natasha Lyonne) si kura-kura kini bisa berlari secepat kilat, Chip (Diego Luna) si tupai merah dapat menembakkan listrik, sedangkan Ace (Kevin Hart) si anjing boxer punya kekuatan fisik super. Warna tubuh hitam, telinga runcing bak tanduk, bahkan penonton yang tak familiar dengan komiknya pun akan mudah menebak, siapa superhero yang kelak bakal jadi majikan Ace.

Satu yang membuat DC League of Super-Pets terasa serba tanggung adalah cara kedua penulisnya menangani komedi, selaku amunisi hiburan utama filmnya, di sela-sela alur yang bermain di ranah familiar ('The Secret Life of Pets' with superpowers). Stern dan Whittington bak ragu, apakah ingin tampil konyol demi menyenangkan penonton anak, atau memancing tawa para orang tua. Hasilnya tak cukup total bagi bocah, namun cenderung kekanak-kanakan bagi penonton dewasa. Humor yang mengolok-olok Batman (Keanu Reeves) selalu menggelitik, tapi karena sudah terlalu sering mendengarnya, entah di media sosial atau The Lego Batman Movie, dampak yang dihasilkan tidak maksimal. 

Di "film bocah" macam ini saya cenderung mengesampingkan keluhan terkait plot hole, tapi rasanya anak pun bakal bertanya, mengapa Justice League dengan cepat dilumpuhkan oleh pasukan guinea pig, sedangkan Krypto dan timnya menang tanpa perlawanan berarti. Lain cerita bila kemenangan itu terjadi karena adanya sesuatu yang cuma bisa dilakukan para hewan peliharaan. Ada beberapa kejanggalan lain (misal saat Merton dengan kecepatannya tak menolong Krypto yang diancam oleh Lulu), tapi lubang di atas paling fatal, sebab dari situlah pondasi cerita tentang "tim hewan peliharaan super membantu Justice League" berasal. 

Untungnya memasuki paruh akhir, ketika fokus mulai sepenuhnya beralih ke aksi, DC League of Super-Pets sukses menawarkan hiburan. Terdapat deretan ide kreatif (granat berbentuk bola bulu adalah ide brilian), pun di kursi sutradara, Jared Stern melahirkan aksi superhero seru yang biasanya identik dengan format live action. 

Third act-nya tampil megah, bombastis, dinamis, dengan animasi mumpuni, menjadikannya klimaks yang pantas bagi sebuah film bertema pahlawan super. Dua pesan mengenai persahabatan dan berkorban demi sosok tercinta juga terhubung dengan apik di akhir, di mana sensitivitas Stern meramu pengadeganan mampu menciptakan konklusi menyentuh untuk eksplorasi penceritaan yang kurang matang.

REVIEW - THE MATRIX RESURRECTIONS

The Matrix merupakan seri film dengan kemunduran kualitas luar biasa parah. Film pertamanya yang rilis tahun 1999 amat revolusioner. Salah satu yang terbaik sepanjang masa. Empat tahun berselang, menyusul Reloaded, yang meski punya beberapa gelaran aksi memikat, jelas wujud penurunan. Kemudian Revolutions menutup trilogi dengan kekecewaan mendalam, dan pantas masuk jajaran sekuel terburuk yang pernah dibuat.

Seperti judulnya, Resurrections diharapkan jadi titik kebangkitan. Sejam pertamanya memang bak sebuah kebangkitan, kala naskah buatan Lana Wachowski, David Mitchell, dan Aleksandar Hemon "mereplikasi" sekuen pembuka film aslinya, kala Trinity kabur dari serbuan para agen setelah menemukan keberadaan Neo. Tapi ada perubahan, salah satunya sosok Trinity yang berbeda dari yang kita kenal. 

Seolah jadi perpanjangan tangan penonton, Bugs (Jessica Henwick) turut menyaksikan peristiwa tersebut dan menyadari perbedaannya. Tidak lama kemudian, Bugs pun mendapati bahwa Thomas Anderson alias Neo (Keanu Reeves) masih hidup, selepas tak sengaja bertemu Morpheus, yang kali ini diperankan Yahya Abdul-Mateen II, menggantikan Laurence Fishburne. 

Kenapa ada versi lain dari Trinity dan Morpheus? Lalu bagaimana bisa, Neo yang terakhir kita tahu berkorban nyawa di konklusi Revolutions, masih segar bugar? Apakah wanita bernama Tiffany (Carrie-Anne Moss) yang selalu mencuri perhatiannya juga adalah Trinity yang hidup kembali?

Sebaiknya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas anda temukan sendiri, sebab itulah pondasi utama satu jam pertamanya, yang kembali melemparkan perenungan kompleks perihal eksistensi. Pasca perluasan mitologi dalam Reloaded membuat ceritanya hilang fokus, sementara Revolutions justru membuang segala narasi tentang kemanusiaan, The Matrix akhirnya kembali ke dasar. 

Pemakaian eksposisi verbal sarat istilah teknis asing yang disampaikan begitu cepat memang menuntut konsentrasi penonton, tapi jika berhasil mengikutinya, paruh awal Resurrections menawarkan misteri yang sangat mengikat. Penceritaan meta dirambah, termasuk menyentil kegundahan The Wachowskis perihal tuntutan memproduksi film keempat (Neo ibarat representasi mereka selaku kreator), lalu memancing pertanyaan atas segala yang kita saksikan di triloginya. Sebagaimana Neo 22 tahun lalu, penonton diajak mempertanyakan, "Apakah semua itu nyata?". 

Sayangnya, misteri tersebut ditutup lewat simplifikasi, yang menegaskan bahwa film ini, terutama first act-nya, bertujuan sebagai retcon semata bagi konklusi Revolutions. Tidak salah, bahkan perlu dilakukan, mengingat "dosa besar" yang film ketiganya lakukan. Tapi setelah satu jam penuh penelusuran rumit, jawabannya menyisakan harapan lebih. 

Sejak itu Resurrections tak mampu mengembalikan kekuatan narasinya, walau keputusan menjadikan cinta selaku motor penggerak si protagonis, membawa kisahnya ke ranah lebih personal dibanding tiga installment sebelumnya. 

Setidaknya, sebagai sineas yang selalu membuka tangan lebar-lebar akan kemajuan teknologi, Lana Wachowski (karena terbentur jadwal produksi serial Work in Progress, Lilly Wachowski absen di kursi penyutradaraan) mampu membawa filmnya tampil memukau di departemen tersebut. "That Looks real", ucap Neo kala melihat langit buatan Io, kota pengganti Zion. Itu pula yang saya rasakan tiap Resurrections memamerkan CGI miliknya. 

Canggih. Kata ini wajib dipunyai The Matrix, baik terkait pengemasan dunianya, maupun dalam eksekusi aksi. Di luar dugaan, kuantitas aksi Resurrections terhitung minim, apalagi jika dibandingkan durasinya yang mencapai 148 menit. Lebih banyak teori, filosofi, perenungan, dan diskusi. Beberapa tampil seolah hanya untuk diri sendiri, alih-alih menstimulus pikiran penonton, namun konsistensi Lana dalam bercerita membuat pacing-nya terjaga. 

Aksinya sendiri cenderung inkonsisten. Sangat inkonsisten. Ada kalanya, tepat selepas kreativitas tinggi seperti "bom manusia" di klimaks, kita langsung disuguhi aksi minim gaya, yang bagai bukan berasal dari seri The Matrix. Eksplorasinya tak seliar dulu, yang ketimbang "pendewasaan", lebih pantas disebut "penurunan". Neo paling terkena dampak. Mengurangi kesan godlike hero dalam dirinya adalah pilihan masuk akal, namun lain cerita saat ia cuma dibekali energy shield membosankan.

The Matrix Resurrections merupakan definisi sempurna untuk reaksi "it's good, but...". Selalu ada kata "tapi". Termasuk mengenai recasting. Secara narasi, termasuk latar waktunya, mengganti Morpheus jadi keputusan tepat. Terlebih Yahya Abdul-Mateen II bisa melahirkan versi karakter yang berbeda. Sebaliknya, mengubah Smith dari Hugo Weaving ke Jonathan Groff justru melukai filmnya. Terdapat sebuah momen di klimaks, yang hanya akan berhasil memantik antusiasme bila Smith masih diperankan Weaving. Groff is good, but...

REVIEW - THE SPONGEBOB MOVIE: SPONGE ON THE RUN

Merupakan film SpongeBob ketiga, sekaligus yang pertama sepenuhnya menggunakan animasi CGI, The SpongeBob Movie: Sponge on the Run jelas bakal memuaskan penggemar setianya. Pun ada sedikit nuansa sentimental, mengingat filmnya didekikasikan kepada sang kreator, Stephen Hillenburg, yang meninggal pada 2018 lalu. Tapi mengesampingkan deretan trivia di atas, apakah kualitasnya memang spesial?

Alurnya terdengar familiar. Seperti biasa Plankton (Mr. Lawrence) berusaha mencuri resep Krabby Patty dari Mr. Krabs (Clancy Brown). Tapi setelah menyadari bahwa alasan kegagalannya selama ini adalah SpogeBob (Tom Kenny), ia mulai menyusun rencana baru. Kebetulan, Poseidon (Matt Berry) sedang mencari siput, yang cairannya ampuh untuk menghilangkan keriput wajah. Masalahnya, akibat konsumsi berlebihan sang penguasa lautan, jumlah siput semakin langka. Maka diadakanlah sayembara.

Melalui campur tangan Plankton, Poseidon pun menculik siput kepunyaan SpongeBob, Gary (disebut “snailnapped”). Dibantu Patrick (Bill Fagerbakke), SpongeBob memberanikan diri pergi ke Lost City of Atlantic City, kota gemerlap ala Las Vegas tempat Poseidon berada, guna menyelamatkan Gary.

Secara garis besar, naskah buatan Tim Hill (Alvin and the Chipmunks, Hop) yang juga menjabat selaku sutradara, tidak punya banyak perbedaan dengan episode-episode serial televisinya. Film ini bak episode versi extended, hanya saja, dengan subplot dan flashback  jauh lebih banyak (bukan cuma satu-dua, kita dibawa melihat pertemuan perdana semua karakternya dengan SpongeBob); animasi lebih mahal, yang meski digarap memakai teknik berbeda, tetap mempertahankan gaya serta desain aslinya; dan terpenting, emosi yang lebih kuat.

Bagian flashback memang difungsikan sebagai alat mengaduk-aduk perasaan penonton, di mana bagian Squidward (Rodger Bumpass) jadi yang paling mengharukan. Pertama karena memang penceritaannya paling lengkap dan tergali. Kedua, karena dinamika menarik, didasari hubungan cinta/benci antara SpongeBob dan Squidward.

Humornya, meski tetap mempertahankan beberapa absurditas, bila dibandingkan serial televisinya, cenderung ringan, mudah dicerna, pula lebih bersahabat bagi penonton yang belum terbiasa dengan gaya bercanda SpogeBob dan kawan-kawan. Tapi humor terbaiknya adalah terkait pemilihan pemain, yang beberapa merupakan humor meta, dengan memanfaatkan citra mereka di dunia nyata. Danny Trejo sebagai pemimpin zombie bajak laut koboi bernama El Diablo, sementara Keanu Reeves memerankan Sage, sesosok tumbleweed bijak berwajah...well, Keanu Reeves.

The SpongeBob Movie: Sponge on the Run adalah petualangan menyenangkan penuh tawa. Tapi jangan terkejut jika begitu film usai, seperti saya, anda juga meneteskan air mata menyaksikan keriangan di Bikini Bottom, diiringi lagu Take On Me. Mungkin, walau tidak punya kualitas luar biasa, Sponge on the Run mewakili apa yang kita rindukan dewasa ini: harmoni.


Available on NETFLIX

REVIEW - BILL & TED FACE THE MUSIC

Bagaimana menciptakan follow-up untuk petualangan gila bernama Bill & Ted’s Bogus Journey (1991), yang membawa dua tokoh utamanya mengunjungi surga dan neraka, juga bertemu malaikat pencabut nyawa, alien jenius dari Mars, iblis, bahkan Tuhan? Jawabannya, dengan membentuk Avengers versi musisi, dan terpenting, menambahkan hati. Bill & Ted memang seri komedi absurd yang terkesan bodoh, namun film ketiganya ini sanggup menerjemahkan gagasan “musik dapat menyelamatkan dunia” dengan cara paling optimistis sekaligus menyentuh.

Diramalkan bakal menyatukan dunia melalui musik, karir Bill (Alex Winter) dan Ted (Keanu Reeves) malah hancur lebur. Dari band penguasa tangga lagu yang menggelar konser di Grand Canyon, sekarang Wyld Stallyns cuma tampil di pub kecil, ditonton oleh 40 orang yang datang demi makanan gratis. Bukan cuma soal karir, kehidupan personal keduanya pun berantakan. Istri mereka, Elizabeth (Erinn Hayes) dan Joanna (Jayma Mays), pun mulai kehilangan kebahagiaan.

Tuntutan “berpaling pada realita” makin tinggi, apalagi sekarang Bill dan Ted memiliki puteri yang sudah beranjak dewasa. Serupa ayah mereka, Thea (Samara Weaving) dan Billie (Brigette Lundy-Paine) adalah pengangguran yang hanya peduli soal musik. Tatkala dunia melupakan Wyld Stallyns, mereka tetap jadi penggemar setia. Ya, kali ini dua jagoan kita menghadapi masalah yang jauh lebih nyata, juga dewasa. Kembali menulis naskahnya, duet Chris Matheson dan Ed Solomon tahu bagaimana menerapkan pendewasaan tanpa menghilangkan identitas.

Walau masih dua sosok clueless yang acap kali melakukan kebodohan, Bill dan Ted kini lebih bijak. Bahkan Ted sempat mencetuskan ide untuk menjual gitar miliknya demi keluarga. Keduanya bertambah dewasa, tapi pastinya, dalam lingkup pendewasaan ala Bill dan Ted. Biarpun berjarak nyaris tiga dekade dari installment sebelumnya, Winter dan Reeves seolah tak pernah pergi, masih dengan ekspresi, gestur, serta penghantaran kalimat seperti dulu. Sedangkan Weaving dan Lundy-Paine memudahkan penonton untuk mempercayai kalau Thea dan Billie memang puteri Bill dan Ted. Keduanya menggelitik, bahkan Lundy-Paine bak kopian sempurna dari Reeves muda.

Petualangan sesungguhnya baru terjadi setelah kedatangan Kelly (Kristen Schaal), puteri Rufus (mendiang George Carlin), dari masa depan, yang menyampaikan kabar mengejutkan. Jika dalam beberapa jam ke depan Bill dan Ted tidak melahirkan lagu pemersatu dunia, bakal terjadi keruntuhan ruang dan waktu. Runtuh seperti apa? Well, contohnya, Yesus menghilang dari perjamuan terakhir, pun piramida tiba-tiba muncul di San Dimas sementara Ratu Elizabeth memandanginya dengan penuh kebingungan.

Ya, Face the Music masih imajinatif dan kreatif perihal eksplorasi konsep perjalanan waktunya, yang tak terbatasi hukum-hukum pasti. Masih bebas, masih semaunya, masih menyenangkan. Kreativitas serupa turut dimiliki humornya, termasuk absurditas jenius berwujud robot pembunuh dengan hati lembut bernama Dennis Caleb McCoy (Anthony Carrigan). Bagaimana bisa robot pembunuh punya kepribadian seperti itu? Punya nama lengkap pula! Itulah intinya.

Kemudian terjadilah beberapa perjalanan waktu. Menyadari keterbatasan waktu, Bill dan Ted pergi ke masa depan guna menemui diri mereka, yang diharapkan, sudah berhasil menulis lagu pemersatu dunia. Sebaliknya, menyadari kalau ayah-ayah mereka membutuhkan tim musisi terbaik, Thea dan Billie kembali ke masa lalu untuk mengumpulkan jajaran nama-nama legendaris, dari Jimi Hendrix di era 60an hingga Ling Lun, yang konon merupakan penemu musik Cina dari era prasejarah. Ada kesan puitis, , sewaktu kedua ayah “maju ke depan” sementara puteri-puteri mereka “mundur ke belakang”, untuk kemudian bertemu lagi di tengah sebagai satu keluarga.

Hebatnya, Bill & Ted Face the Music tidak terserang penyakit yang kerap menjangkiti sebuah franchise kala berusaha menerapkan peremajaan. Masa depan jelas penting, tapi masa lalu harus dihargai. Babak ketiganya memperlihatkan suatu pencapaian langka, di mana alih-alih “menyerahkan tongkat estafet”, karakternya membawanya ke garis akhir bersama-sama, yang menciptakan dampak emosional luar biasa terkait presentasi drama keluarganya.

Cuma satu kata yang pantas menggambarkan klimaksnya: EPIC! Bukan tentang “Seperti apa lagu terbaik sepanjang masa?”, melainkan esensi musik itu sendiri, yang dapat dinikmati dan dimainkan bersama tanpa batasan bahasa, tempat budaya, bahkan ruang dan waktu. Ditunjang CGI memadai, sutradara Dean Parisot (Galaxy Quest, Red 2) menciptakan salah satu sekuen musik paling meriah nan menggugah yang pernah ditampilkan dalam film. As the world unites, so is the family. What a movie!



Available on KLIK FILM

TOY STORY 4 (2019)

Toy Story 4 menunjukkan bahwa meski pencapaian film ketiga ada di luar jangkauan, melanjutkan kisahnya secara natural bukanlah kemustahilan. Seri mana mampu melakukan itu sampai judul keempat? Bahkan ini merupakan installment yang melengkapi perjalanan mainan-mainan tercinta kita, menyempurnakan mereka sebagai karakter yang hidup, baik di dunianya maupun hati penonton.

Adegan pembukanya menjawab pertanyaan yang ditimbulkan Toy Story 3: Ke mana Bo Peep (Annie Potts)? Jawabannya sederhana. Seperti banyak mainan lain, ia berpindah pemilik 9 tahun lalu. Sedangkan kini, Woody (Tom Hanks) dan kawan-kawan melanjutkan hidup sebagai mainan milik Bonnie (Madeleine McGraw) yang tengah menanti masa orientasi taman kanak-kanak.

Kehidupan mereka sejatinya bahagia, tapi Woody mulai ditinggalkan. Walau jarang dimainkan, toh afeksi Woody terhadap Bonnie tak terkikis, sebab membuat si gadis cilik bahagia adalah tujuan hidup utamanya. Sehingga saat Bonnie membuat mainan bernama Forky (Tony Hale) dari garpu bekas di tempat sampah yang kemudian menjadi favoritnya, Woody memutuskan untuk menjaga Forky sebisa mungkin. Semua demi Bonnie.

Itu sebabnya, ketika Forky—yang masih kesulitan beradaptasi dengan identitas baru sebagai mainan—kabur, Woody bersedia mempertaruhkan nyawa guna membawanya pulang. Beberapa mainan ia temui sepanjang jalan, dari Gabby Gabby (Christina Hendricks) si boneka menyeramkan beserta para pasukannya yang mengingatkan kepada Slappy dari Goosebumps, sampai Bo Peep yang kini hidup bebas di dunia luar.

Reuni Woody-Bo memperlihatkan bahwa dalam debut penyutradaraannnya, Josh Cooley mewarisi kekuatan Pixar perihal menghantarkan emosi melalui penceritaan visual. Tidak perlu bahasa verbal, hanya dua mainan yang berdiri bersandingan sambil menebar senyum lebar dan mata berbinar, saling bertukar rasa setelah terpisah selama hampir satu dekade.

Bicara soal visual, Toy Story 4 punya salah satu animasi komputer paling memukau yang pernah saya saksikan. Babak keduanya mengambil lokasi toko benda antik, sebelum berpindah ke karnaval pada babak ketiga. Kedua latar tersebut bagai panggung unjuk gigi hasil kerja luar biasa tim animasinya. Saat karnavalnya mengandung keriuhan kaya warna, toko benda antik dipenuhi detail barang-barang dalam tiap sudut lemari.

Anda akan dimaafkan bila sesekali lupa sedang menonton animasi. Semua tampak nyata, mendukung pendekatan seri Toy Story yang memposisikan lingkungan para mainan bak miniatur dunia kita. Ambil contoh ketika Woody dan Bo berjalan di sela-sela lemari. Permainan bayangan dan detail dekorasinya membuat mereka berdua nampak seperti sepasang manusia yang melintasi gang gelap nan sempit di satu sisi kota.

Ditulis naskahnya oleh Andrew Stanton (trilogi Toy Story, Finding Dory, Wall-E) dan Stephany Folsom, sebenarnya plot Toy Story 4 sebatas pengulangan deretan cerita sebelumnya, yakni kenekatan Woody dan teman-teman menempuh misi berbahaya untuk menyelamatkan mainan lain. Begitulah kelemahan film ini, namun jangan khawatir, karena plot generik itu tertutupi kesenangan yang ditawarkan.

Humornya, yang masih berbasis ragam keunikan setumpuk karakter, tampil segar khususnya berkat pengenalan tokoh-tokoh baru, dari Forky dengan tendensi membuang diri sendiri ke tempat sampah (dipakai oleh film ini untuk mempresentasikan pesan tentang “menghargai diri sendiri”), Duke Caboom (Keanu Reeves) si penantang maut asal Kanadia, sampai Ducky dan Bunny (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key dalam kejenakaan banter khas keduanya) yang gemar mencetuskan imajinasi absurd.

Gabby Gabby pun bukan antagonis dangkal berkat keberadaan alasan kuat atas segala tindakannya, meniupkan kegetiran yang bakal memancing simpati alih-alih kebencian penonton. Dia naif, kesepian, memimpikan hal yang Woody miliki, baik secara fisik (sebuah benda di tubuhnya) atau spiritual (kasih sayang pemilik). Sementara jajaran karakter lamannya, walau kuantitas penampilannya cenderung minim, bukan berarti dilupakan, terlebih Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen) melalui beberapa interaksi sederhana yang memancing nostalgia.

Woody di sini layaknya banyak dari kita pernah alami, sedang tersesat, kebingungan menemukan tujuan, sebelum mendapatkannya dalam wujud cinta. Cinta adalah tujuan paling murni, dan sewaktu akhirnya Woody menyadari itu, Toy Story 4 menggiring kita menuju konklusi emosional yang membuat petualangan si koboi jadi lebih bermakna.

JOHN WICK: CHAPTER - PARABELLUM (2019)

John Wick: Chapter 3 – Parabellum bakal menjadi keluaran terbaik dalam waralaba film aksi kebanyakan. Masalahnya, seri John Wick yang dimulai lima tahun lalu bukan suguhan aksi kebanyakan. Masih digawangi sutradara Chad Stahelski, Parabellum tetap merupakan tontonan brutal sesuai harapan penonton, pula menampilkan bangunan dunia unik berisi para pembunuh taat aturan, tapi mayoritas hanya pengulangan, sebatas jembatan menuju puncak, yang sejatinya bisa film ini hantarkan.

Melanjutkan akhir film kedua, John Wick (Keanu Reeves) dideklarasikan sebagai excommunicado pasca melakukan pembunuhan di Hotel Continental selaku tempat netral. Dihargai setinggi $14 juta, seluruh pembunuh di New York tidak berpikir ulang untuk mengincar nyawanya. Bukan itu saja, High Table mengutus sang Adjudicator (Asia Kate Dillon) guna menghukum pihak-pihak yang dianggap membantu kaburnya John, termasuk Winston (Ian McShane) si manajer Continental dan Bowery King (Laurence Fishburne).

Kehebatan jajaran penulis naskah seri John Wick adalah menjalin cerita sederhana soal “mengejar dan dikejar” sembari menyelipkan keping-keping yang melengkapi latar dunianya di sepanjang perjalanan. Elemen unik tersebut masih dapat ditemui, dari diharuskannya para karakter mematuhi kode moral yang acap kali menimbulkan situasi kompleks, detail di balik layar mengenai bagaimana prosedur organisasi dijalankan, sampai pengenalan Adjudicator yang memperkaya tatanan High Table.

Seri John Wick menciptakan latar di mana para pembunuh dituntut mematuhi kode etik, dan itu membentuk kepribadian mereka menjadi mesin pencabut nyawa berdarah dingin namun bermartabat. Sisi tersebut dimanfaatkan oleh tim penulis naskah untuk mengkreasi interaksi menarik berisi baris dialog kaya yang merepresentasikan dua wajah karakternya. Kata-kata mereka boleh terdengar bermartabat (ancaman membunuh terdengar semanis ucapan customer service ke pelanggan), tapi mereka tetap individu dunia hitam bengis yang memandang nyawa begitu murah pula tak ragu menerapkan cara kotor demi mencapai tujuan.

Sayangnya, jika film pertama berfungsi memperkenalkan dunianya sementara film kedua bertujuan memperkaya, kali ini segala detail tersebut bagai pernak-pernik belaka tatkala alurnya urung bergerak ke mana-mana. Parabellum hanya pengulangan karena kita sudah pernah melihat John diburu, tersudut, dan dikhianti. Masuknya nama-nama baru termasuk Elder (Saïd Taghmaoui) selaku pemimpin High Table tidak memberi dampak, karena begitu durasi usai, John berada di posisi serupa seperti di awal film. Konklusi Chapter 2 yang memberi impresi bahwa John bakal berperang melawan High Table pun tak ubahnya trik guna menjual film ketiga.

Terkait adegan aksi, Chad Stahelski dibatu penata kamera Dan Laustsen (The Shape of Water, John Wick: Chapter 2) setia mempertahankan gaya yang membuat seri ini dicintai penonton, berupa keengganan menyembunyikan detail melalui quick cut. Walau demikian, serupa alurnya, gaya gun-fu tak lagi sememukau itu selepas dua film pertama. Bos utama yang malah tampak mudah John habisi dibanding jajaran tukang pukulnya juga meninggalkan kekecewaan.

Khusus penonton Indonesia, momen sebelum klimaks jadi salah satu pemandangan paling dinanti, karena di sinilah Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian berhadapan melawan John Wick. Tidak sepenuhnnya memuaskan (intensitas koreografi jelas diturunkan demi memfasilitasi Keanu Reeves), dan kehadiran keduanya cenderung berupa fan service untuk penggemar The Raid. Setidaknya mereka bernasib lebih baik ketimbang Iko Uwais yang dipermalukan dalam Triple Threat saat diberi kesempatan memamerkan jurus di beberapa poin filmnya.

Parabellum justru paling mengundang decak kagum ketika pertarungan terjadi tanpa melibatkan senjata api. Lemparan puluhan pisau yang menancap di sekujur tubuh korban, buku tebal yang mampu mematahkan leher, sampai pemakaian kuda dan anjing, membuat saya antusias menebak-nebak metode eksekusi macam apa yang akan dipakai. Aksi adu bacok dibungkus koreografi memukau plus tata artistik memanjakan mata inilah bukti kepantasan John Wick sebagai seri aksi langka yang mampu mendefinisikan “The Art of Violence”.

JOHN WICK: CHAPTER 2 (2017)

Sekilas, "John Wick"  yang di luar dugaan menuai sukses secara komersial maupun critical  adalah sajian aksi sekali jalan macam "Taken". Apabila sekuel film yang dibintangi Liam Neeson mencuatkan pertanyaan sarkas "siapa lagi yang diculik?", maka "John Wick", bermodalkan premis seorang pembunuh bayaran kembali dari masa pensiun setelah anjing kesayangannya dibunuh telah membuat publik bergurau "anjingnya dibunuh lagi?" menanggapi perilisan chapter keduanya. Namun sejatinya film karya Chad Stahelski dan David Leitch tersebut menyimpan materi kaya berupa pembangunan dunia dan mitologi, memfasilitasi pengembangan kisah secara lebih jauh. 

Spoiler alert: tidak ada anjing dibunuh kali ini. Pasca mengambil kembali mobilnya dalam 15 menit kebisingan adegan pembuka yang menegaskan kebrutalan film pertamanya tak diturunkan bahkan ditingkatkan, John Wick (Keanu Reeves) berharap dapat kembali menikmati masa pensiun damai di rumah bersama anjing barunya. Tapi harapan itu segera pudar tatkala mafia bernama Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio) menagih hutang budi John, memintanya membunuh sang adik, Gianna (Claudia Gerini). Sisanya adalah rutinitas biasa. John berburu, menghabisi setiap lawan termasuk sederet pembunuh bayaran yang mengincarnya. 
Kembali, ditinjau selintas, "John Wick: Chapter 2" hanyalah full throttle action movie nihil landasan cerita solid, sebab Derek Kolstad sukses melanjutkan pekerjaanya di film pertama yaitu membangun detail dunia lewat jalan sederhana tetapi efektif. Tanpa perlu berbelit dan mencuri fokus (berfungsi sebagai latar, bukan pusat cerita), Kolstad menambah pemahaman bagaimana setting, tata aturan, pula modus operandi para pembunuh. Setelah Hotel Continental selaku tempat bernaung, cleaner, dan koin khusus untuk alat transaksi, kita diperkenalkan pada metode "sayembara". Dunia di mana filmnya bertempat bagai adaptasi buku komik yang imajinatif, kreatif, dan terancang sedemikian mapan. Interaksi antar-tokoh dikemas berdasarkan code of honor, menjelaskan ada aturan dan nilai bagi para pembunuh tersebut, melengkapi bangunan latar di atas. 

Pintar pula cara Kolstad memanfaatkan lingkaran setan dunia kriminal yang tak mengenal kata "istirahat" supaya sang titular character selalu punya alasan kembali, dengan kata lain materi bagi sekuel. Selalu ada sisi baru untuk digali yang tak terasa dipaksakan sebab dunia "bawah tanah" memang penuh rahasia serta misteri yang baru sekali waktu mencuat ke permukaan. Selaku penambah daya tarik adalah sederet karakter pendukung (baca: pembunuh) unik mulai gelandangan, pengamen bersenjatakan biola, hingga pria bertubuh besar dengan dandanan bak pesumo. 
Stahelski selaku sutradara tunggal (Leitch berposisi produser) meningkatkan dosis kebrutalan. Masih mengandalkan gun-fu, sequence aksinya menampilkan kelincahan John melepaskan tembakan jarak dekat mematikan tanpa quick cut atau shaky cam memusingkan. Kreativitas Stahelski menambah kesan badass sang protagonis ketika John tak hanya menembak, juga menabrakkan mobil ke tubuh lawan, menghempaskannya ke dinding dan menghabisi dua pembunuh dengan sebatang pensil. Dipadukan sound mixing mumpuni, deru mesin mobil dan letusan peluru terdengar bombastis, menciptakan mimpi indah bagi penikmat kegilaan action. Dan Laustsen mempertahankan sinematografi artistik film pendahulunya, menempatkan warna-warna berbeda di tiap sudut ruangan, menyalakan gemerlap neon yang bakal membuat Nicolas Winding Refn sekalipun tersenyum senang menyaksikannya.

Melakoni banyak adegan tanpa stuntman, Keanu Reeves terbukti masih aktor laga reliable, piawai menghadapi rangkaian koreografi, memainkan pistol bak sosok "boogeyman" yang berpengalaman, ahli menangani senjata. Sedangkan Laurence Fishburne dalam penampilan singkatnya terjebak pada akting "heeheehaahaa" klise seorang villain, menghadirkan tanya soal pemilihannya selain reuni "The Matrix" dengan Reeves. "John Wick: Chapter 2" diakhiri lewat tease akan film ketiga yang lebih besar, menempatkan John di posisi tersulit. Sepanjang tetap konsisten menjalin aksi tingkat tinggi over-the-top sekaligus kreatif dan eksplorasi atas universe miliknya, berapa chapter pun saya tak keberatan.