Tampilkan postingan dengan label Elsa Diandra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elsa Diandra. Tampilkan semua postingan
BISIKAN IBLIS (2018)
Rasyidharry
Seperti apa bunyi bisikan iblis?
Kalau dalam banyak horor lokal termasuk karya teranyar sutradara Hanny R.
Saputra (Mirror, Heart, Sajen) ini,
bunyinya kurang lebih “was wes wos hhhhh
hau siang hau siang hashama hashama”. Tapi jika bicara realita, tidak perlu
jauh-jauh. Simak saja adaptasi novel Ghost
Dormitory buatan Sucia Ramadhani ini. Iblis-iblis neraka bak tengah
dikuasai dengki menyaksikan kemajuan perfilman Indonesia, lalu berbisik pada
produser dan sutradara Bisikan Iblis
agar menciptakan film berkualitas compang-camping demi menjegal pergerakan
industri negeri ini, toh penonton bakal tetap berbondong-bondong meramaikan
studio.
Perkenalkan Nany (Amanda Manopo),
gadis yang selalu dirundung ketakutan, kerap bersembunyi dalam lemari, akibat
melihat kematian sang ibu, Sophia (Elsa Diandra), semasa kecil. Nany yakin makhluk
yang ia panggil Iblis Hitam merupakan dalang kematian ibunya, meski sang ayah,
Frans (Dicky Wahyudi) menolak percaya. Berusaha mengalahkan rasa takut itu,
Nany memilih bersekolah di asrama Erly yang dahulu juga jadi pilihan Sophia. TAPI
TUNGGU SEBENTAR SAUDARA-SAUDARA!!! Kenapa papan nama asrama menunjukkan tulisan
“Erly”, tapi di sekolahnya (yang dibuat memakai CGI pada tahap pasca-produksi) tertulis
“Early”? Saya berniat membahas kesalahan
penulisan ini lebih lanjut, tapi terdengar bisikan iblis, “Sssst, nikmati saja
filmnya”. Saya pun menurut. Rayuan iblis memang begitu kuat meracuni pikiran
korbannya.
Bisa ditebak, rentetan kejadian
aneh mulai menimpa asrama Erly...eh, Early....ah, maksudnya Erly....well, apa pun itu namanya. Hantu-hantu
menampakkan diri, satu per satu nyawa siswi melayang, lembar demi lembar uang
penonton terbuang. Nany yang mampu melihat para hantu tersebut awalnya ketakutan,
tapi setelah teman sekamarnya, Gie (Zoe Jackson), memberi tahu bahwa mereka muncul
guna menyampaikan pesan, Nany mulai memberanikan diri, walau seringkali,
akhirnya berujung lari kocar-kacir juga. Bicara soal lari, para pemain khususnya
Amanda Manopo perlu belajar bagaimana berlari dikejar setan secara meyakinkan.
Lambat, canggung, mereka berlari bak tokoh film komedi yang kabur karena lupa
membawa uang ketika makan bakso.
Sedangkan Hanny R. Saputra perlu
belajar cara menakut-nakuti penonton. Setelah sebuah jump scare tergarap baik, yakni sewaktu Nany dikagetkan oleh hantu
yang bersandar di pintu kamarnya, Bisikan
Iblis kembali pada rutinitas horor medioker di mana para hantu sebatas setor
muka dibarengi tata musik berisik. Tapi momen saat kita pertama kali
diperlihatkan kematian seorang siswi berhasil menyita perhatian. Diceritakan,
sang siswi tewas tercekik selimut kala sedang tidur. Ajaibnya, ia tidur dalam
kondisi mengenakan seragam sekolah lengkap dan kalau ingatan saya tepat, masih pula
memakai sepatu. Tidak perlu Iblis Hitam turun tangan, dengan kostum tidur
demikian, bocah ini akan mati sendiri karena sakit.
Kelak terungkap jika Nany merupakan
bocah indigo, sanggup mendeteksi target Iblis Hitam berikutnya berkat simbol
mirip garpu tala di jidat mereka. Menurut Bisikan
Iblis, itu adalah lambang Necronomicon,
padahal di dunia ini hanya ada 2 hal yang memakai garpu tala sebagai
lambang: Yamaha dan Psikologi. Artinya, entah Yamaha dianggap sebagai kendaraan
iblis, atau para Psikolog adalah pesuruh iblis. Sementara itu, naskah buatan
Farhan Noaru (Kembang Kantil, Rumah
Belanda) menggiring alur menuju penelusuran misteri mengenai asal muasal
teror Iblis Hitam, yang diyakini Nany berkaitan dengan kematian ibunya.
Penelusuran yang bermuara di hasil mencengangkan sekaligus amat sangat luar
biasa super duper bodoh sekali.
Begitu banyak kebodohan, yang andai
dijabarkan satu per satu takkan usai sampai Valak banting setir jadi ustazah
sekalipun. Menurut film ini, polisi tidak bisa mendeteksi apakah sebuah racun
berasal dari dalam kue atau tidak sengaja terciprat ke permukaannya. Menurut
film ini pula, polisi tak sanggup menemukan botol bekas menyimpan racun yang
terjatuh di TKP, yang tentunya penuh sidik jari guna mencari tahu siapa pemilik
racun itu sebenarnya. Ditambah CGI menggelikan yang membuat sebuah jenazah
tampak mengambang alih-alih tergeletak, lengkap sudah elemen yang Bisikan Iblis butuhkan guna mencemari
industri film kita. Sampai saya keluar dari studio, mendengar seorang penonton
berkata, “Serem yaah filmnya! Hiiiii!!!!”. Rayuan iblis memang begitu kuat
meracuni pikiran korbannya
September 14, 2018
Amanda Manopo
,
Dicky Wahyudi
,
Elsa Diandra
,
Farhan Noaru
,
Hanny R. Saputra
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Zoe Jackson
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

