Tampilkan postingan dengan label Eva Green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eva Green. Tampilkan semua postingan

DUMBO (2019)

Di atas kertas, pilihan menunjuk Tim Burton sebagai sutradara adaptasi live action dari animasi berjudul sama rilisan tahun 1941—yang juga adaptasi novel karya Helen Aberson dan Harold Pearl—ini adalah pilihan masuk akal. Berlatar sirkus penuh anggota unik, menampilkan Colin Farrell sebagai ayah berlengan satu, dan punya protagonis seekor gajah terbang yang dianggap hina karena telinga lebarnya. Sepanjang karirnya, Burton terbukti ahli menangani sosok-sosok eksentrik yang diremehkan karena dipandang aneh.

Tapi sentuhan sang sutradara kentara memudar belakangan ini. Ketika Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)—film dengan materi yang seolah ditakdirkan khusus untuk Burton—berakhir selaku tontonan ala kadarnya, saya yakin “Burton lama” telah hilang. Setidaknya sampai ia bersedia menepi sejenak dari dunia film studio berbujet besar yang menghalangi keleluasaannya. Tapi rasanya itu takkan terjadi dalam waktu dekat.

Dumbo pun serupa, tatkala Burton kesulitan memadupadankan keanehan dengan drama manis. Sayangnya, “manis” dan “Tim Burton” bukan dua hal yang serasi. Alhasil, sekali lagi kita disuguhi identitas khas karya modern sang sutradara: tontonan mudah dilupakan penuh latar CGI yang tak seberapa cantik, kreatif, apalagi menghadirkan terobosan visual.

Padahal kisahnya memiliki materi memadahi guna melahirkan drama keluarga menyentuh. Sepulangnya dari Perang Dunia I, Holt Farrier (Colin Farrell), kembali ke sirkus milik Max Medici (Danny DeVito), tempatnya dahulu angkat nama sebagai penunggang kuda. Tapi bukan saja mendapati kudanya telah dijual untuk menutup kesulitan ekonomi, Holt turut kelabakan menjalin hubungan dengan kedua anaknya, Milly (Nico Parker) dan Joe (Finley Hobbins). Tidak seperti mendiang istrinya, Holt tak tahu cara berkomunikasi dengan mereka.

Saya tidak menyalahkan Holt, sebab anak-anaknya, terlebih sang puteri yang bermimpi menjadi ilmuwan (elemen yang urung mendapat pengembangan maupunn payoff layak), bicara layaknya orang dewasa. Naskah tulisan Ehren Kruger (Transformers 2-4, Scream 3, The Ring) memaksa Milly bertutur terlampau bijak, yang acap kali menyulitkan si aktris cilik memberi penampilan maksimal.

Tanpa kudanya, Holt ditugasi merawat gajah bernama Jumbo yang tengah mengandung. Bayi Jumbo diharapkan dapat menarik pengunjung. Tapi begitu Dumbo (awalnya bernama Baby Jumbo) lahir dengan telinga super lebar, harapan itu perlahan sirna. Kelainan fisik Dumbo dianggap bencana, hingga Milly dan Joe mengetahui bahwa kepakan telinga itu mampu menerbangkan si gajah kecil ke angkasa.

Tentu orang-orang dewasa tak seketika mempercayai pengakuan dua bocah itu, memberi tantangan bagi mereka untuk membuktikan bahwa alih-alih kegagalan, Dumbo merupakan keajaiban. Pun merupakan tantangan bagi Burton mengeksekusi debut Dumbo terbang di hadapan penonton, yang patut disebut momen “make it or break it” filmnya, dan menentukan apakah atensi penonton bakal terjaga atau tidak. Beruntung, dibantu orkestra menggugah garapan Danny Elfman (Good Will Hunting, Big Fish, Spider-Man) Burton mampu menciptakan pemandangan uplifting agar Dumbo punya cukup tenaga melangkah ke fase berikutnya.

Fase tersebut memperkenalkan kita kepada V. A. Vandevere (Michael Keaton), pengusaha dunia hiburan yang berhasrat menjadikan Dumbo bagian pertunjukkan taman bermain Dreamland miliknya. Eva Green pun turut serta memerankan pemain trapeze dengan julukan “Queen of the Heaven” lewat aura menghipnotis seperti biasa. Mereka berdua mendatangi sirkus milik Max, menawarkan kerja sama bagi seluruh penampil, meski kita tahu betul ia hanya ingin merebut Dumbo.

Lalu apa yang terjadi pasca bergabungnya sirkus dengan kemeriahan Dreamland? Latihan dan atraksi terbang tentu saja. Dumbo berlatih lalu tampil di pertunjukan yang senantiasa menghasilkan masalah. Terus demikian, sampai membuat film ini bagai 112 menit kombilasi latihan terbang tanpa dibantu narasi memadahi. Saya dibuat bertanya-tanya, apa yang naskahnya coba sampaikan? Nilai kekeluargaan? Larangan menilai orang hanya lewat penampilan luarnya? Ajakan untuk berbuat baik? Semua ada dan dicampur paksa. Dampaknya, konklusi Dumbo gagal mengaduk perasaan, sebab proses yang karakternya lalui tak pernah jelas.

Klimaksnya melibatkan misi penyelamatan, tatkala para anggota sirkus berkesempatan unjuk gigi kemampuan masing-masing (Butuh waktu lebih dari 90 menit sampai mereka menjadi lebih dari sebatas pajangan). Momen tersebut bisa terasa menghibur sekaligus rewarding andai (A) Bukan cuma numpang lewat; dan (B) Bersedia mengeksplorasi unsur soal orang-orang (dan hewan) “aneh” yang senantiasa dicemooh. Mungkin naskahnya menghindari kesan eksploitatif, lalu memutuskan bermain aman dengan menyajikan kisah setengah matang.

Filmnya begitu datar dan dingin, hanya menyisakan mata serta senyum Dumbo sebagai satu-satunya hal yang memancarkan hati. Sebuah adegan berpotensi tampil magis, ketika gelembung-gelembung sabun raksasa membentuk wujud cantik gajah-gajah merah muda. Sayang, keajaibannya seketika memudar kala Burton menyusunnya sebagai sekuen konyol dan cartoonish. Sama seperti keseluruhan Dumbo, yang menjadi salah satu adaptasi live action modern Disney terburuk akibat kehilangan sihir sumber adaptasinya.

BASED ON A TRUE STORY (2017)

Art imitates life. Karya seni mengimitasi realita. Istilah tersebut sebenarnya erat kaitannya dengan metode seorang seniman mengais inspirasi, yakni bersumber dari dunia nyata. Tapi dalam perjalanannya, penciptaan karya, yang juga merupakan proses penciptaan kehidupan di tatanan fiktif, dapat memunculkan efek berkebalikan apabila sang pembuat karya mulai terseret terlampau jauh menuju kreasinya. Terjadilah life imitates art. Hal ini jadi pokok bahasan Based on a True Story yang menampilkan kolaborasi Roman Polanski (The Pianist, Chinatown, Rosemary’s Baby) dan Oliver Assayas (Personal Shopper, Clouds of Sils Maria) sebagai penulis naskah. Hanya saja, proses observasi itu ditambahi bumbu thriller.

Seorang novelis yang baru meraih kesuksesan perdana, tersiksa akibat kebuntuan menulis, lalu bertemu penggemar misterius seiring dengan memudarnya batasan fantasi dan realita sang novelis. Premisnya familiar, apalagi bagi kedua penulis naskah. Film terakhir Polanski, Venus in Fur (2013) serta judul-judul lamanya kerap membahas soal itu, sementara Assayas, hampir di tiap karyanya, gemar bertutur tentang krisis eksistensial. Paruh awalnya bekerja layaknya drama psikologis observasional pada umumnya, ketika Delphine (Emmanuelle Seigner, istri Polanski) berkenalan dengan Elle (Eva Green), si penggemar berat yang ia rasa amat mengerti isi hati dan pikirannya. Dari penggemar-idola, hubungan keduanya cepat berkembang menjadi persahabatan.
Delphine bersedia menunjukkan ringkasan novel terbaru yang tengah susah payah ia tulis, memberitahu kata sandi komputernya, bahkan mengizinkan Elle tinggal di apartemennya sementara waktu. Kehadiran Elle dirasa mampu melucuti beban Delphine, yang bukan cuma buntu, pula sedang menghadapi teror dari surat misterius yang menuduhnya mengeksploitasi aib keluarga lewat novel. Semakin jauh kisahnya bergerak, nuansa thriller makin kental merasuk, bahkan mencapai third act, Based on a True Story mulai terang-terangan merujuk pada Misery (1990), lengkap dengan penulis yang kakinya terluka dan mesti terus berbaring.

Di tangan Polanski selaku sutradara, Based on a True Story lebih condong ke ranah slow-burning thriller ketimbang drama meditatif sebagaimana pendekatan Assayas sebagai sutradara. Pun tak mengejutkan ketika aroma psikoseksual samar-samar tercium di balik interaksi Delphine dan Elle. Kadang kamera Polanski bergerak terlampau lambat, namun ada kalanya perpindahan sekuen terlalu cepat. Hasilnya sama. Potensi ketegangan urung memuncak. Klimaksnya sendiri menghadirkan usaha Polanski mengajak penonton mengecap atmosfer film suspense era 70-80an, dilengkapi orkestra mencekam Alexandre Desplat yang kental membawa rasa dari masa tersebut.
Satu hal yang Polanski tahu pasti, bahwa Eva Green mampu menciptakan intensitas. Kamera pun seolah begitu mantap menangkap setiap ekspresi sang aktris. Berkat sang aktris pula, mudah memahami alasan Delphine tetap terobsesi kepadanya walau telah melalui sejumlah pertengkaran, kekangan, dan perilaku histerikal Elle. Green memiliki sorot mata menghipnotis, yang sekalinya mencengkeram, sulit untuk melepaskan diri darinya. Terkadang, Polanski pun memanfaatkan Green guna memproduksi creepy factor, sewaktu diam-diam sekaligus tiba-tiba, dia sudah berada di satu sudut ruangan.  Kedua penampil utama sama-sama memamerkan transformasi dengan gradasi bertahap. Green dari penggemar antusias yang tak jarang seduktif, sementara Seigner perlahan semakin kehilangan pegangan atas realita.

Penutupnya menyimpan twist yang dapat terlihat jelas bahkan sedari menit pertama jika anda familiar dengan karya-karya Polanski maupun Assayas. Tapi twist itu bukan semata soal daya kejut, karena Based on a True Story bicara mengenai bagaimana kesuksesan dan ketenaran dadakan menciptakan tekanan, kebuntuan penulis yang mengikuti kesuksesan itu, juga proses mengkreasi kehidupan. Semua ini adalah soal observasi terhadap proses, bukan hasil akhir. Pun filmnya memancing pertanyaan, “bukankah tiap bentuk karya seni, jika dilihat dari aspek tertentu, sejatinya dibuat berdasarkan kisah nyata?”.