Tampilkan postingan dengan label Jared Leto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jared Leto. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MORBIUS

Di awal peluncurannya, baik MCU maupun DCEU sama-sama tersendat (proyek DC bahkan terancam berhenti). Tapi seburuk apa pun hasilnya,  tujuan Marvel Studios dan Warner Bros selalu jelas. MCU ingin menghibur lewat tuturan ringan ditambah shared universe, sementara DCEU mulai bersinar lewat eksplorasi genre. Eksistensi dua pihak ini saling melengkapi. Lalu Sony menghadirkan SSU (Sony's Spider-Man Universe). 

Benar bahwa Warner Bros sempat latah ingin meniru pola bisnis Marvel, namun tidak dengan pendekatan estetikanya. Counterprogramming jadi misi mereka. Tapi Sony bak cuma bergerak berdasarkan gagasan, "Mari manfaatkan kesuksesan Marvel Studios mengembangkan properti kita". 

Sony enggan tampil seceria MCU, sambil menampik pendekatan (lebih) dewasa DCEU. Sajian "hidup segan mati tak mau" macam Venom (2018) pun lahir. Venom: Let There Be Carnage (2021) membaik, namun kesan tersebut muncul karena buruknya film pertama. Lalu datang Morbius, yang menegaskan bahwa franchise ini belum benar-benar berkembang.

Dibantu Dr. Martine (Adria Arjona), Dr. Michael Morbius (Jared Leto) bereksperimen memadukan DNA manusia dan kelelawar, dengan harapan bisa menyembuhkan penyakit darah langka yang ia derita. Eksperimen yang sejatinya tak sesuai kode etik itu didanai oleh Milo (Matt Smith), sahabat Morbius yang mengidap penyakit serupa. Kita tahu akhirnya eksperimen itu berujung mengubah Morbius menjadi vampir haus darah.

Penokohan Morbius sejatinya agak menjauhi stereotip "ilmuwan gila pemakai segala cara". Dia menyadari ketidaketisan risetnya, tapi tetap nekat demi orang lain. Motivasinya adalah sahabat dan para pasien, alih-alih mengatasnamakan kejayaan sains. Desain Morbius si vampir pun didukung kombinasi solid antara efek prostetik dan CGI. Di beberapa kesempatan, wajah Morbius berubah selama beberapa detik akibat kurang mampu mengontrol diri, dan hasilnya cukup meyakinkan.

Walau demikian, Morbius bukan protagonis yang perjalanannya menarik diikuti selama 104 menit (apalagi jika dikembangkan ke sekuel-sekuel serta lintas franchise). Leto tidak bermain buruk, hanya saja karakter Figur Morbius ada di area serba tanggung. He was not fun nor engaging. Elemen terbaik film ini justru Matt Smith yang bersenang-senang dengan gaya over-the-top. 

Sewaktu Milo turut bertransformasi, muncul potensi menampilkan drama persahabatan tragis, sayang, naskahnya lemah. Mendapati nama Matt Sazama dan Burk Sharpless, yang sebelumnya menulis naskah untuk film-film seperti Dracula Untold (2014), The Last Witch Hunter (2015), dan Gods of Egypt (2016), kelemahan itu tidak mengejutkan. 

Aroma "bad storytelling" sejatinya telah tercium sejak kekacauan sekuen pembuka, yang bahkan gagal menyusun timeline secara jelas. Semakin jauh kisah bergulir, semakin kentara kalau kedua penulis tidak tahu cara menciptakan tontonan menghibur bertema superhero. Naskahnya terlalu hambar untuk sebuah popcorn flick, tapi terlalu dangkal untuk mengikat lewat penceritaan. Cuma asal berjalan didasari pemikiran "pokoknya selesai".  

Daniel Espinosa selaku sutradara berusaha menyuntikkan sedikit gaya melalui pemakaian gerak lambat, tapi ketika pondasi adegan aksinya sendiri sudah nihil kreativitas, tidak banyak yang bisa dilakukan. Cerita dan aksinya sama saja. Tanpa dinamika, tanpa hati, tanpa intensitas, tanpa kreativitas. Tidak heran babak puncaknya tampil antiklimaks. 

Di titik ini mungkin mayoritas penonton sudah tahu credits-scene milik Morbius (ada dua adegan di tengah kredit). Espinosa sudah memberi konfirmasi, beberapa materi promosi (termasuk trailer rilisan 2020) pun ikut "membocorkannya". Pertanyaannya, "Kenapa?". Jika diposisikan sebagai kejutan dalam credits-scene, kenapa diungkap jauh-jauh hari? Sony memang tidak tahu cara menjual film ini selain mendompleng kesuksesan trilogi Spider-Man MCU, seperti halnya ketidaktahuan mereka tentang pendekatan yang pas bagi Morbius (dan keseluruhan franchise-nya). 

REVIEW - HOUSE OF GUCCI

Penonton drama Korea pasti akrab dengan istilah makjang. Sebuah genre penuh hal berlebihan, yang jago menaikkan tekanan darah penontonnya (contoh: Sky Castle, The World of the Married, Penthouse). Cinta beda kasta, keluarga luar biasa kaya (biasanya memiliki ayah diktator dan salah satu anaknya tidak berguna), latar mewah, konspirasi berbelit, korupsi, perselingkuhan, pembunuhan, jadi beberapa elemen khasnya. Eksekusinya cenderung over-the-top. Serba berlebih. 

House of Gucci punya semua elemen di atas, namun Ridley Scott jelas tidak pernah menonton makjang. Mengadaptasi buku The House of Gucci: A Sensational Story of Murder, Madness, Glamour, and Greed karya Sara Gay Forden, naskah buatan Becky Johnston dan Roberto Bentivegna kaya akan peristiwa menghebohkan, namun Scott bak gamang, terombang-ambing di antara pemahaman soal seberapa campy ceritanya, dengan ambisi bertutur secara elegan.

Tampilan House of Gucci jelas elegan. Mewah. Mahal. Baik dari pemilihan set, properti, kostum, pula bagaimana Dariusz Wolski menekankan nuansa grandiose melalui lensa kameranya. Kulit luarnya memang harus begitu, mengingat karakternya berasal dari keluarga yang dahulu membuat dan menguasai merek fashion tersohor, Gucci. 

Pada 1978, Maurizio Gucci (Adam Driver), pewaris 50% saham Gucci milik ayahnya, Rodolfo Gucci (Jeremy Irons), bertemu dengan Patrizia Reggiani (Lady Gaga) di sebuah pesta. Mereka jatuh cinta, walau Rodolfo (dan rasanya banyak penonton juga) meragukan Patrizia. Apakah ia tulus, atau hanya mengincar harta Maurizio? 

Pertanyaan itu terus berputar sepanjang durasi, namun bukan karena naskahnya kompleks. Sebaliknya, naskah House of Gucci luput mendalami internal si karakter. Tidak seperti anggota keluarga Gucci lain, Maurizio tak terobsesi harta. Di satu titik ia bahkan rela melepas segalanya, bekerja sebagai tukang cuci truk di perusahaan ayah Patrizia, demi menikahi gadis pujaannya yang tak direstui Rodolfo. Patrizia berbahagia. 

Apakah berarti ia memang tulus, atau tengah memainkan trik? Jika tengah "bermain", sungguh mulus permainannya. Tapi mengapa kemulusan itu lenyap selepas keduanya menikah? Patrizia mulai mengadu domba semua pihak, mulai dari paman Maurizio, Aldo (Al Pacino), hingga Paolo (Jared Leto), putera Aldo yang eksentrik dan berambisi memulai lini bisnis sendiri meski tak berbakat. Atau memang naskahnya hendak menampilkan proses berubahnya manusia akibat kuasa harta? Kalau iya, naskahnya gagal menggali detail transformasi tersebut (catat, "transformasi", bukan perihal keserakahan secara general). 

Mungkin karena naskahnya sendiri kepayahan dalam merangkum 400 halaman bukunya, sebab aliran alur pun kerap kurang mulus. Lompatan-lompatan kasar penuh kesan "tiba-tiba" jamak terjadi, yang makin kentara kala Scott menggerakkan film dengan tempo cepat. Tetap ada poin yang tersampaikan dengan kuat, yakni soal "Mana pihak yang benar?".

Jawabannya "tidak ada". Semua keliru. Semua terjerat keserakahan, sehingga saling berkhianat. Saling tusuk. House of Gucci adalah tragedi mengenai upaya saling menghancurkan didasari ketamakan, yang berakhir menghancurkan semuanya. Memang kelam, dan di sinilah masalah utama House of Gucci bermula: inkonsistensi tone.

Saya bisa membayangkan bagaimana Scott dan tim menilik materinya, lalu berujar, "Wow, this is absurd". Tragis, gelap, tetapi absurd. Ketimbang memilih, Scott justru meleburkan kedua sisi yang bak air dan minyak itu. Pengadeganan serius, plus color grading yang "dingin", membungkus momen-momen konyol, sebutlah pertemuan Patrizia dengan cenayang bernama Pina (Salma Hayek), yang selain meramal masa depan, juga mengirim mantera guna-guna untuk Maurizio. Tidak sinkron. 

Driver, Gaga, Irons, Pacino, Leto, semua bermain baik, namun masing-masing tokoh bagai berasal dari film berbeda. Maurizio dari film biografi serius yang mengingatkan pada perjalanan "good-boy-turns-bad" Michael Corleone di seri The Godfather, sedangkan Gaga dan Leto bersenang-senang memamerkan keeksentrikan.

Membingungkan. Inkonsisten. Paling tidak, pacing cepat Scott, biarpu mengorbankan kesolidan narasi, membuat durasi 157 menitnya tidaklah melelahkan. Pun tidak peduli seberapa kuat usaha Scott menekan sisi absurd filmnya agar tampak elegan, pada dasarnya House of Gucci sudah diberkahi materi warna-warni yang menarik diikuti. Andai saja Ridley Scott lebih dulu menonton makjang sebelum membuat film ini. 

REVIEW - ZACK SNYDER'S JUSTICE LEAGUE

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengenai bagaimana pergerakan #ReleaseTheSnyderCut berhasil merealisasikan apa yang sebelumnya nampak mustahil. Tapi saya perlu menegaskan, bahwa Zack Snyder's Justice League jauh lebih baik, sekaligus film yang "berbeda" dibanding versi Joss Whedon (saya termasuk sebagian kecil penonton yang cukup menikmatinya).

Kata "berbeda" di sini punya definisi yang tak sederhana. Garis besar alurnya masih sama. Bruce Wayne / Batman (Ben Affleck) membentuk tim metahuman yang terdiri dari Diana Prince / Wonder Woman (Gal Gadot), Arthur Curry / Aquaman (Jason Momoa), Barry Allen / The Flash (Ezra Miller), dan Victor Stone / Cyborg (Ray Fisher), guna menghadapi Steppenwolf (Ciarán Hinds), yang bersama pasukan Parademons miliknya, berusaha mengumpulkan tiga Mother Boxes. Merasa tak cukup kuat, para superhero memutuskan untuk menghidupkan kembali Clark Kent / Superman (Henry Cavill). 

Gagasan dasarnya serupa, namun pengembangannya berbeda. Konon cuma 20% dari versi bioskopnya yang merupakan hasil karya Snyder. Sedangkan 80% sisanya adalah footage baru ditambah modifikasi konsep lama. Sebelum menontonnya, saya termasuk kalangan yang menganggap pernyataan di atas hanya strategi marketing belaka. Sungguh saya keliru. Begitu menyaksikan Snyder Cut, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin jajaran eksekutif Warner Bros. menonton ini, kemudian berujar, "Film ini buruk dan terlalu gelap. Mari buat versi lebih ringan dengan kisah lebih sederhana"?

Tanpa campur tangan Whedon pun, film ini jauh lebih ringan dari Batman v Superman: Dawn of Justice berkat beberapa sentuhan humor, meski masih seperti biasa, Snyder bukan sutradara yang piawai soal comic timing. Soal durasi yang mencapai empat jam (tepatnya 242 menit, dibagi dalam enam babak plus epilog), saya yakin, bila dahulu berkesempatan menyelesaikan visi aslinya, Snyder takkan merilis film sepanjang itu, walau tentunya bakal lebih dari dua jam sebagaimana mandat Warner Bros. (durasi tiga jam seperti Avengers: Endgame rasanya masuk akal). 

Versi ini mencapai empat jam karena Snyder tidak harus menerapkan asas kill your darlings (menghapus bagian-bagian yang dirasa kurang penting, seberapa pun sang pembuat karya mencintainya). Biarpun tidak lebih dari lima menit, turut terdapat adegan baru. Menurut Snyder, "adegan Knightmare" di mana Joker (Jared Leto) dan Batman bertemu, merupakan satu-satunya tambahan, namun saya cukup meyakini, momen penutupnya, tatkala Bruce disambangi oleh cameo salah satu karakter, baru diambil belakangan, mengacu pada konsep cerita dua sekuel Justice League yang tak menyertakan karakter itu, ditambah massa otot Ben Affleck yang berkurang. Harus diakui, beberapa update tersebut adalah wujud fan service menyenangkan, yang memancing rasa penasaran terhadap kelanjutan kisahnya (kini pergerakan RestoreTheSnyderVerse mulai bergema). 

Di luar itu, perbedaan mendasar sudah nampak sejak menit pertama. Momen saat Batman memancing Parademon menggunakan ketakutan seorang pencuri hilang. Bahkan di sini, modus operandi Parademons bukanlah mencium aroma rasa takut, yang otomatis mengubah cara membunuh Steppenwolf. Sebagai gantinya, kita menyaksikan lagi kematian Superman, di mana teriakannya menciptakan gelombang suara begitu kuat, hingga mencapai Atlantis dan Themyscira, yang makin menegaskan bagaimana tragedi itu berdampak luar biasa.

Kemudian Steppenwolf memulai invasinya, dan semakin kentara superioritas Snyder Cut. Tengok pertempuran di Themyscira. Versi Whedon berlangsung cuma lima menit, sedangkan versi Snyder hingga sekitar 10-11 menit. Whedon yang menyebut dirinya feminis, rupanya tidak sehebat Snyder perihal menunjukkan kehebatan prajurit wanita Amazon, yang dengan lantang berteriak, "We have no fear!" kepada Steppenwolf. Dan sungguh Snyder memperlihatkan ketiadaan rasa takut mereka, melalui pertempuran dahsyat yang juga mengandung bobot emosional lebih. Ketimbang sekadar membuat Steppenwolf menerobos keluar dari kuil penyimpanan Mother Box, di sini kuil itu ditenggelamkan bersama puluhan prajurit Amazon. Bukan sebatas tragedi, melainkan pengorbanan berbasis kepahlawanan. 

Kesan di atas makin kentara, lewat bertambahnya unsur kekerasan. Zack Snyder's Justice memang mendapat rating R karena beberapa cipratan darah, yang meski tak sampai membuat filmnya layak dicap "gory", terbukti meningkatkan dampak adegan aksi, bahkan di saat kelemahan CGI masih terasa di sana-sini. Musik gubahan Tom Holkenborg a.k.a. Junkie XL terdengar menggelegar, menambah nuansa epik, yang tak dimiliki buatan Danny Elfman. Bukan berarti hasil karya Elfman buruk, hanya saja, bukan iringan yang pas guna membungkus aksi masif para dewa. Begitu pula rasio aspek 4:3 khas IMAX, sehingga jajaran superhero-nya tampak bak dewa-dewa agung yang berdiri di tengah umat manusia.

Naskah Chris Terrio juga terkatrol kualitasnya, baik soal penokohan maupun penceritaan. Saya mengeluhkan bagaimana Batman v Superman: Dawn of Justice dan Justice League membuat salah satu superhero paling badass sepanjang masa terlihat bak pecundang di hadapan lawan (serta kawan) berkekuatan super. Kali ini, Snyder dan Terrio sanggup menjadikan Batman jauh lebih berguna, tanpa mengsampingkan fakta bahwa ia manusia biasa. Berkat teknologi serta kepintarannya, jangankan melawan Parademons, Batman bisa menahan mata laser Superman, walau cuma sementara. 

Saya bukan penggemar Affleck kala ia mengenakan mantel Batman, namun sebagai Bruce Wayne, ia salah satu yang terbaik (bagi saya, cuma kalah dari Michael Keaton). Penokohan Bruce lebih konsisten, betul-betul memperlihatkan proses perubahannya, dari figur paranoid di Batman v Superman: Dawn of Justice, menjadi, well, paranoid yang lebih memiliki harapan, serta mulai bersedia menaruh kepercayaan terhadap orang lain. 

Cyborg jauh lebih berkembang lagi. Penonton diajak mempelajari betapa luar biasa potensi kekuatannya (penutup trilogi Justice League berencana menjadikannya semacam "dewa teknologi"), pula lebih terikat secara emosional, terkait konflik batin Victor. Kita tahu mengapa ia begitu membenci sang ayah (Joe Morton), mengapa proses tranformasinya begitu memilukan, pun konklusi hubungan ayah-anak tersebut berbeda. Lebih emosional, yang memungkinkan Fisher memberi performa dramatik solid. 

Meski tak sampai meningkatkan kelasnya di jajaran villain film superhero secara signifikan, Steppenwolf tak luput diberi bobot lebih, sebagai pelayan Darkseid (Ray Porter) yang pernah berkhianat, dan tengah berusaha mengembalikan kepercayaan tuannya. Semua terjadi, sebab Snyder benar-benar peduli dan mengenal karakter-karakternya. Alhasil pengarahannya juga sarat sensitivitas, walau dalam bentuk dramatisasi penuh gerak lambat plus musik folk/rock, yang bagi sebagian penonton mungkin dianggap berlebihan. Aksi Barry menyelamatkan Iris (Kiersey Clemons) diiringi lagu Song to the Siren adalah peristiwa "cinta pada pandangan pertama" yang cheesy tetapi manis, sedangkan Distant Sky milik Nick Cave menemani rutinitas Lois Lane (Amy Adams) membeli kopi di pagi hari. Perlukah? Mungkin tidak, tapi bukankah sewaktu patah hati, dirundung duka akibat kehilangan, merindukan seseorang, atau malah gabungan ketiganya, hidup kita memang bagai berada dalam gerak lambat, yang makin terasa "nikmat" jika ditemani rintik hujan dan lagu-lagu sendu? 

Kalau anda seperti saya, yang mempertanyakan cara kerja Mother Boxes di versi bioskop, maka film ini muncul dengan jawaban. Daripada perdebatan mengenai etika yang tak lebih dari versi medioker dari pertengkaran Avengers di The Avengers, "rapat perdana" Justice League berisikan eksposisi tentang itu, sekaligus penjelasan mengapa Superman menjadi individu berbeda ketika dibangkitkan lagi. Lalu saat ingatannya kembali, terdapat penjelasan lebih nyata sekaligus heartful, yang makin emosional berkat What Are You Going to Do When You Are Not Saving the World buatan Hans Zimmer. 

Superioritas Zack Snyder's Justice League makin tidak bisa disangkal begitu mencapai klimaks. Salah satu alasan saya menyukai Justice League adalah kembalinya Superman sebagai beacon of hope, dan nyatanya, Snyder melakukan hal serupa secara lebih baik. Mengenakan kostum hitamnya, Superman muncul, mengucapkan kalimat paling badass sepanjang film, kemudian melancarkan serangan brutal. Masih deus-ex-machina yang overpoweres, tapi kali ini dia tidak bekerja sendirian. Kedatangannya membuat Justice League bekerja lebih efektif sebagai tim. 

Tapi sebagaimana keseluruhan film, poin terbaik klimaksnya terletak pada gagasan besar di universe Snyder, sekaligus bagaimana ia memperlakukan para jagoan layaknya dewa. Misalnya di momen paling jaw-dropping berbalut visual fantastis, tatkala The Flash memamerkan salah satu kekuatan terhebatnya (that somehow mirroring one moment in the third act of 'Avengers: Infinity War', but this time for the heroes' sake). Justice League adalah tim berisi gabungan dewa, yang juga bertarung melawan para dewa, dan Zack Snyder's Justice League memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. 


Available on HBO MAX / HBO GO / MOLA TV

REVIEW - THE LITTLE THINGS

The Little Things bukan film yang bagus, terlepas dari usaha membangkitkan thriller bertema police procedural, yang pada medio 90an sempat marak mengisi layar lebar, dan kini malah jadi sajian alternatif di televisi melalui True Detective hingga Mindhunter. Ditambah saat lahir komparasi dengan Se7en (1995), yang notabene salah satu judul terbaik dari subgenre tersebut. Apakah ini satu dari sekian banyak copycat karya David Fincher itu patut diperdebatkan, mengingat draft pertamanya dibuat oleh John Lee Hancock (The Blind Side, Saving Mr. Banks, The Founder) pada 1993. Nama-nama seperti Steven Spielberg, Clint Eastwood, hingga Warren Beatty sempat dikaitkan, sebelum akhirnya kursi sutradara diisi oleh Hancock sendiri.

Di internet, saya banyak menemukan diskusi terkait ending film ini. Diramaikan oleh mereka yang mengklaim sebagai "penggemar Se7en", dan hampir semua mencuatkan pertanyaan, "Siapa pembunuh sebenarnya?". Padahal substansi mendasar Se7en bukan soal "siapa". Mungkin kelangkaan produk membuat penonton lupa akan esensi film berjenis ini. Sayangnya The Little Things tak cukup mumpuni untuk dapat mengembalikan ingatan itu, apalagi membangkitkan popularitas subgenrenya. 

Joe Deacon (Denzel Washington), wakil sheriff dari Kern County, ditugaskan menyambangi markas kepolisian Los Angeles, guna mengumpulkan barang bukti suatu kasus pembunuhan. Dahulu Deacon merupakan detektif di sana, sebelum dipindahkan akibat obsesi berlebih terhadap sebuah kasus. Disambutlah ia oleh detektif Jim Baxter (Rami Malek), yang mengajak Deacon ke TKP sebuah pembunuhan. Tidak butuh waktu lama bagi Deacon untuk menyadari, bahwa modus operandi si pelaku memiliki kemiripan dengan kasus yang dulu gagal ia pecahkan. 

Apa yang mengakibatkan The Little Things tampak inferior dibanding Se7en? Tidak usah dulu membahas subteks, karena yang paling terasa adalah perihal intensitas. Sekali lagi, Se7en bukanlah soal "siapa", dan modus operandi unik John Doe (Kevin Spacey) membuat penonton tidak menomorsatukan identitas pelaku, melainkan "kenapa". Investigasi berjalan menarik berkat lika-liku yang kaya, serta tidak terbatasnya posibilitas jawaban. 

Di sini, penyelidikan Deacon dan Baxter berlangsung membosankan, karena meski golnya bukan menerka identitas, naskah buatan Hancock gagal memancing ketertarikan penonton guna mencari tahu lebih dari itu, di tengah rangkaian prosedur yang entah sudah berapa ribu kali dimunculkan dalam film. Mayat pertama ditemukan. Diyakini, beberapa hari setelah melangsungkan aksinya, si pelaku kembali, hanya untuk mengubah posisi korban. Fakta berikutnya menyusul: seluruh korban adalah PSK. Kenapa? Diduga motifnya adalah pemuasan hasrat seksual. Titik. Tiada lagi misteri. 

Daya tarik baru meningkat begitu Albert Sparma (Jared Leto) muncul. Deacon dan Baxter yakin ialah sang pembunuh. Sosok Sparma memang seolah meneriakkan "I'm the weird pervert killer!". Lagi-lagi Leto tampil eksentrik. Matanya kosong, cara berjalannya aneh. Perangai yang sekali lagi bakal memunculkan pro-kontra, tapi bagi saya, kali ini keanehan Leto tepat guna. Sparma harus tampak creepy, dan ia menampilkan itu (nominasi Golden Globe dan SAG Awards melambungkan peluangnya di Oscar). 

Keeksentrikan Leto berpadu sempurna dengan Denzel Washington, yang selalu membuat saya percaya bahwa ia benar-benar merasakan apa yang karakternya rasakan, dalam penampilan yang mendefinisikan kompleksitas dari realisme. Di realita, saat seseorang marah, ia tidak melulu berteriak. Demikian pula Denzel. Dia sesekali tersenyum, tertawa, menekankan ironi dari kegetiran. Tidak banyak penampil sepertinya, yang sanggup menyulap "obrolan" dengan mayat (yang di atas kertas bagai pemaksaan dramatisasi konyol), menjadi perenungan menyakitkan, tentang tragedi saat remaja, yang semestinya berkesempatan menikmati masa-masa emas, malah kehilangan nyawa terlalu cepat.

Terkait akting, rasanya saya punya opini yang berbeda dengan kebanyakan penonton. Malek paling janggal. Di awal kemunculannya, Baxter cukup eksentrik, bak sosok berdarah dingin yang takkan mengejutkan bila akhirnya terungkap sebagai pembunuh sebenarnya (tenang, ini bukan spoiler). Barulah memasuki pertengahan durasi, ia menjadi lebih manusiawi. Belum tentu ini sepenuhnya kesalahan Malek. Bisa jadi, inilah intensi Hancock untuk memperkuat pesannya. Terkesan janggal akibat naskah yang lemah dalam mengeksplorasi proses psikis karakter, sehingga perubahannya terasa mendadak.

Pesan apa yang coba Hancock sampaikan? Sekali lagi, tidak jauh beda dengan Se7en, yakni sebuah nihilis, di mana dunia begitu kelam akibat "God is a long past giving shit". Seperti Morgan Freeman, Denzel melontarkan kalimat pesimistis, mengenai bagaimana investigasi polisi sekadar formalitas, alih-alih perjuangan memperbaiki keadaan. Sebaliknya, serupa Brad Pitt, Malek memerankan figur yang meyakini peluangnya mengangkangi kejahatan. Metode yang dipakai kedua film juga mirip, tatkala di pertengahan, duet diubah menjadi trio. Saat itulah si buruan memegang kendali atas pemburunya, menyeretnya ke dalam jurang tak berujung.

Dibarengi musik intens garapan Thomas Newman, babak ketiganya tersaji menegangkan, penuh penantian sekaligus harapan bahwa cahaya akan muncul. Tapi rupanya harapan itu semu. Itulah mengapa jangan mengharapkan kejelasan soal identitas sang pembunuh. Di dunia nihilis, tidak ada satu pun kepastian, selain kegelapan tanpa akhir.


Available on HBO MAX

BLADE RUNNER 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film asli bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata usaha putus asa mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan adaptasi novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve mampu melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis tentang eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang kini berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik investigasi K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi intinya penyelidikan K mengarah akan rahasia replicants yang dapat mengubah dunia, khususnya hubungan mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya pengaruh noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat dipakai supaya tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, menjadikan aktivitas sederhana para tokoh bak berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins adalah masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah manusia dan replicants, Deakins juga menghadirkan kontradiksi antara reruntuhan peradaban maju seperti di Las Vegas, tempat Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan aksi yang memberi peran penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling mempengaruhi rintangan karakter (ombak di klimaks) atau mempengaruhi mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi contoh eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak mampu mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis jelas lebih cocok.

Gosling sempurna mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan dingin yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih manusia dari manusia itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa tubuh nyata, justru lebih memiliki rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang ia lontarkan adalah hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang membuat kita spesial?