Tampilkan postingan dengan label King Javed. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label King Javed. Tampilkan semua postingan

ARWAH NONI BELANDA (2019)

Arwah Noni Belanda adalah salah satu komedi terlucu tahun ini!

*Sayup-sayup terdengar bisikan* “Mas, ini horor, bukan komedi”.

Apa maksudnya ini bukan komedi?! Saya jelas menemukan setumpuk momen menggelitik, contohnya ketika Kevin (Ferdian Aryadi) menyebut “evil” sebagai “efel” alih-alih “e·vil”. Mustahil film non-komedi mampu sehebat itu mengocok perut. Bagaimana bisa, di saat.....ah, saya mengerti. This is not a comedy, but simply a highly incompetent movie.

Walau Arwah Noni Belanda cuma berdurasi 75 menit, rasanya seperti menonton Avengers: Endgame 75 kali berturut-turut tanpa henti. Tanpa diperbolehkan makan, minum, atau buang air. Pokoknya neraka dunia.

Bukan saja diakibatkan kualitas yang tiarap, juga karena filmnya bergerak begitu lambat supaya ketiadaan cerita tersamarkan. Kata “lambat” di sini bermakna literal. Beberapa establishing shot berlangsung amat lama, saya sempat berpikir sang sutradara lupa berteriak “cut!” atau tertidur di tengah proses pengambilan gambar. Bisa juga sinematografer dan para kameraman yang terlelap, melihat banyaknya gerak kamera acak. Mungkin itu sebuah kecelakaan kala sang juru kamera kebosanan, lalu terkantuk-kantuk dan tidan sengaja menyenggol lensa.

Mari kembali membahas alur, yang bertutur tentang Sarah (Sara Wijayanto), yang baru saja pindah bersama suaminya, Kevin, dan puteri mereka, Amely (Nayla D Purnama), ke rumah yang diberikan sang bos sebagai fasilitas. Fasilitas apa??? Apakah King Javed (Angker, Tujuh Bidadari) selaku penulis naskah lupa mencantumkan latar belakang mengenai pekerjaan Sarah? Atau sutradara lupa mengambil gambarnya? Ataukah momen itu tertinggal di ruang penyuntingan?

Barulah di pertengahan, Kevin menyinggung perihal maksud kedatangan Sarah ke rumah tersebut, yakni guna menulis novel horor berdasarkan kehidupan Hellen Van Stolch (Milena Tunguz), gadis Belanda yang tewas pada 1834. Tidak butuh waktu lama hingga arwah Hellen menampakkan diri lewat cara-cara konyol, yang membuat saya berpikir bahwa sang sutradara, Agus H Mawardy alias Agus Pestol (Tebus, Valentine), memang berusaha menggiring filmnya ke ranah komedi. And please Mr. Pestol, change your nickname into shotgun, bazooka, or grenade. Those sound cooler than PESTOL.

Saya tergelak oleh banyak hal, misalnya teriakan Sara Wijayanto dan Ferdian Aryadi yang terdengar bak baru melihat kecoa terbang ketimbang hantu, atau ketika kita diperlihatkan visualisasi monitor laptop berisi tulisan Sara yang penuh kesalahan penulisan (“angin” menjadi “angina”, “datang” menjadi “dating”). Sekali lagi, apakah orang-orang di balik film ini bekerja sambil tidur? Apakah mereka sungguh-sungguh niat bekerja/berkarya? Apakah mereka peduli???

Arwah Tumbal....ah, maaf, itu film sampah yang berbeda. Arwah Noni Belanda berusaha keras menyembunyikan kemalasan King Javed (apakah beliau punya hubungan darah dengan Baginda KKD dan Sultan Nayato?) menulis alur secara layak. Di samping establishing shot berdurasi abadi yang sudah saya singgung, bisa ditemukan juga gerak kamera selambat siput, juga situasi repetitif, tatkala filmnya mencekoki penonton dengan adegan Sarah memandang foto-foto Hellen. Durasi terus bergulir, namun ceritanya jalan di tempat. Apa namanya kalau bukan mengulur waktu?

Guna mempresentasikan cerita tentang Hellen, Arwah Tumbal Noni....arrggh fuckin hell....Arwah Noni Belanda memanfaatkan sekuen mimpi, membawa kita mundur ke tahun 1834, mengungkap keseluruhan kisah sedikit demi sedikit. Ceritanya sendiri memang sedikit. Jika disatukan, mungkin tak sampai 10 menit. Sekuen mimpinya muncul berkali-kali, bahkan sempat terjadi mimpi dalam mimpi yang akan membuat Christopher Nolan minder akan pencapaian Inception. Film ini patut dianugerahi rekor MURI sebagai film Indonesia dengan jumlah mimpi terbanyak.

Alurnya ditutup oleh twist semrawut yang bakal membuat penonton garuk-garuk kepala dan pantat, kemudian disusul timeskip selama tiga bulan. Apa yang terjadi setelah tiga bulan? TIDAK ADA. Nihil elemen baru maupun progres bagi perjalanan karakternya. Saran saya, apabila anda tetap nekat ingin menghamburkan uang untuk menonton film ini, perlakukan Arwah Noni Belanda sebagai film komedi. Bisa jadi anda terpuaskan.

TUJUH BIDADARI (2018)

Film jelek kadang bisa tampil menyenangkan, entah sebagai guilty pleasure atau tontonan so-bad-it’s-good. Lain cerita dengan film membosankan, yang takkan menarik ditonton—untuk kemudian dievaluasi—ulang. Tapi itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan film jelek sekaligus membosankan. Tujuh Bidadari adalah salah satunya, dan membuat saya bertanya-tanya, “Ada apa dengan Muhammad Yusuf?”.

Sejak 2013 sampai 2015, Yusuf rutin meluncurkan horor tiap tahun, yang seluruhnya, meski jauh dari sempurna, punya kualitas memuaskan. Kemasukan Setan (2013), Angker (2014), dan Misterius (2015) membuktikan kapasitasnya memanfaatkan kesederhanaan guna menciptakan teror. Bukan tumpukan jump scare, melainkan kengerian hakiki. Lalu The Curse (2017) mengubah segalanya, dan kini Yusuf resmi melahirkan dua horor jelek yang membosankan secara beruntun (belum termasuk drama-romantis Bluebell yang tayang April lalu).

Saya sudah mendapat firasat buruk kala filmnya dibuka oleh title card berupa keterangan bahwa Tujuh Bidadari melakukan pengambilan gambar langsung di Aradale Lunatic Asylum yang terletak di Ararat, Australia. Seolah kualitas sebuah film otomatis bertambah jika dibuat di lokasi aslinya. Judulnya sendiri merujuk pada nama band tempat ketujuh tokoh utama film ini tergabung (bukan, bukan 7 Icons), yang sedang melangsungkan proses pembuatan video klip di Australia. Sebuah tantangan besar bagi naskahnya untuk membuat penonton ingat, apalagi peduli terhadap karakter sebanyak itu.

Bagaimana cara filmnya menyiasati itu? Tujuh Bidadari meminta tiap karater menyebut nama beserta posisi mereka di band satu per satu, dan itu dilakukan dua kali (wawancara dan rekaman vlog), alih-alih memberi mereka penokohan solid. Anehnya, bukan itu saja hal yang diulangi secara tidak perlu. Di Australia, Tujuh Bidadari (selanjutnya disebut “7B”) bertemu penyanyi lokal bernama Mark (William D McLennan), yang mengajak mereka mengunjungi Aradale. Mark menyebut bahwa 10 ribu orang tewas di sana. 7B pun terkejut. Keesokan hari, dalam perjalanan menuju Aradale, Mark mengatakan hal serupa, dan 7B kembali terkejut.

Masih ada contoh-contoh lain, seperti cerita Mark bahwa sang kakek dahulu merupakan karyawan Aradale. Saya tak tahu apa yang terjadi di belakang layar. Tapi saya berasumsi, ini akibat kurangnya koordinasi dan/atau pemahaman menyeluruh dalam proses menulis dan/atau menulis ulang, yang dilakukan keempat penulis naskahnya: Muhammad Yusuf, Konfir Kabo (produser eksekutif The Curse), King Javed (Angker), Resika Tikoalu (produser The Curse juga Tujuh Bidadari). Entahlah.

Setelah berkeliling sejenak di rumah sakit, Mark meninggalkan 7B di sebuah ruangan dengan alasan mengambil minum. Tapi, karena beragam alasan, masing-masing anggota 7B mulai meninggalkan ruangan, dan akhirnya tewas satu demi satu. Tersimpan ide menarik di sini, berupa penggabungan slasher yang menekankan atmosfer ketimbang gore, dengan horor supranatural. Masalahnya, tempo lambat yang diterapkan Yusuf nihil intensitas maupun kengerian. Sebagaimana The Curse, sang sutradara hanya melambatkan penuturan, dan itu berbeda dengan membangun atmosfer, yang mana perlu memperhatikan camerawork, mise-en-scène, musik, dan lain-lain.

Pun kita tahu jika sosok yang menghabisi 7B tidaklah menyeramkan, dan sekalinya sosok itu melancarkan serangan, aksinya terjadi off-screen, di mana kita leih sering cuma melihat cipratan darah atau mendengar efek suara tusukan. Artinya, baik penantian atau payoff-nya tak memberi apa pun kecuali rasa bosan. Sulit pula mempedulikan ketujuh gadis itu tatkala para aktris urung memberi performa meyakinkan, antara kurang bernyawa, atau sebaliknya, cringey dan berlebihan. Hanya Dara Warganegara sebagai Stella yang menarik disimak, itu pun karena ia kebagian porsi kesurupan.

Sesekali, Tujuh Bidadari bersedia memperlihatkan sadisme cukup eksplisit, yang sanggup sedikit memudarkan kebosanan, walau lubang-lubang aspek teknis dapat ditemukan di sana-sini. Misalnya satu mayat yang tewas dipenggal, namun kita masih bisa melihat jelas leher dan kepala yang terpasang utuh di tubuh. Tapi saya tidak mengkritisi kurang beraninya Tujuh Bidadari mengumbar kebrutalan. Itu pilihan yang Yusuf beserta timnya ambil, dan sayangnya, pilihan itu gagal dimaksimalkan.

Masalah lain dipicu begitu berantakannya naskah dalam menangani elemen supranatural. Mengapa harus 7B yang diincar? Mengapa Stella sangat mirip Shu Yin si penyihir? Mengapa Shu Yin memerlukan pertolongan manusia biasa jika ia sendiri dapat dengan gampang menghabisi nyawa korban menggunakan ilmu gaibnya? Ketika rangkaian pertanyaan masih berseliweran, Tujuh Bidadari mendadak berakhir setelah memaksakan diri menyampaikan latar belakang soal tragedi 100 tahun lalu. Seolah para penulis kebingungan menentukan kapan, di mana, dan bagaimana mereka mesti menempatkan eksposisi tersebut, lalu memutuskan menaruhnya sembarang tempat. Setidaknya saya suka riasan sederhana untuk hantu Shu Yin yang didominasi warna putih dengan sedikit corak merah di wajah.