Tampilkan postingan dengan label Matthew Robinson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Matthew Robinson. Tampilkan semua postingan

REVIEW - LOVE AND MONSTERS

Catat Hollywood, beginilah semestinya petualangan fantasi dibuat. Ceritanya boleh saja penuh monster khayalan, tapi "rasa" harus tetap nyata. Catatan berikutnya (lebih tepatnya pertanyaan), mengapa selepas seri The Maze Runner yang notabene salah satu yang terbaik di masa adaptasi novel young adult merajalela, Dylan O'Brien tak mendapat pengakuan sepantasnya? Melihatnya lagi di Love and Monsters, makin meyakinkan saya, bahwa aktor yang bulan Agustus nanti genap menginjak kepala tiga ini, sepatutnya berada di jajaran bintang kelas A.

Filmnya sendiri sudah begitu mengikat sejak prolog unik yang memberi sedikit twist terhadap formula kisah berlatar post-apocalyptic. Pasca kemunculan suatu asteroid, peradaban nyaris musnah, di mana bumi tinggal menyisakan 5% populasi manusia. Tapi bukan asteroid itu penyebabnya. Faktanya, asteroid berhasil dimusnahkan berkat sebuah misil. Sayangnya, saat meledak, senyawa kimia selaku bahan baku misil menghujani permukaan bumi, mengubah hewan-hewan berdarah dingin menjadi monster mutan. 

Selama tujuh tahun terakhir, para penyintas bersembunyi di ruang bawah tanah guna menghindari ancaman monster. Salah satunya Joel (Dylan O'Brien), yang hidup bersama salah satu koloni sebagai koki. Dia ingin berkontribusi lebih, namun masalahnya, Joel selalu membeku ketakutan kala berada di tengah situasi bahaya. Hingga ia menemukan keberadaan kekasihnya, Aimee (Jessica Henwick), dan nekat menempuh perjalanan maut di permukaan selama tujuh hari demi sang pujaan hati. 

Sangat sederhana. Tidak ada misi menyelamatkan dunia. Seperti telah tertulis di judul, semua dilakukan demi cinta. Hilangkan soal kiamat dan monster pemakan manusia, maka perjuangan Joel mungkin pernah pula dialami oleh banyak dari kita. Tapi bukankah alasan serupa sudah banyak dipakai film lain? Benar, namun Love and Monsters termasuk produk Hollywood langka (khususnya belakangan ini), yang sepenuhnya berhasil mengeksplorasi seperti apa rasanya terpisah dari orang tercinta di tengah akhir dunia. 

Petualangan Joel turut mewakili prosesnya berkembang sebagaimana kisah from zero to hero pada umumnya. Dia belajar bertahan hidup, mengatasi ketakutan, sampai akhirnya tumbuh dewasa kala dipaksa menatap realita yang tak seindah ekspektasi. 

Naskah buatan Brian Duffield (Insurgent, The Babysitter) dan Matthew Robinson (The Invention of Lying, Dora and the Lost City of Gold) menyuguhkan transformasi protagonisnya secara masuk akal. Joel bukan pecundang. Dia tampan, baik, tidak canggung dalam bersosialisasi, memiliki pacar cantik. Saya bisa membayangkan, hidupnya sebelum kiamat berlangsung nyaman nan menyenangkan. Justru karena kenyamanan itulah, Joel tidak dibekali kemampuan menangani kondisi darurat. Pun ketakutan berlebihnya dipicu oleh hal yang dapat dimengerti. Motivasinya murni, rasa sakitnya beralasan, pengembangan karakternya believable. Ditambah kemampuan O'Brien menciptakan protagonis membumi di tengah latar fantasi, Joel adalah figur yang mudah dicintai. 

Bukan si tokoh utama saja, jajaran pendukung lain pun tak lupa diberikan nyawa. Sepanjang petualangannya, Joel bertemu beberapa rekan perjalanan. Clyde (Michael Rooker) dan Minnow (Ariana Greenblatt), sepasang pria tua dan gadis cilik yang mengajarinya berbagai metode bertahan hidup, seekor anjing bernama Boy, juga Mav1s yang merupakan sebuah robot. Kedua penulis tahu bagaimana memunculkan sisi likeable dari tiap individu, sehingga dalam waktu singkat, tidak peduli manusia atau bukan, penonton (dan Joel) terikat secara emosional dengan mereka. 

Di kursi penyutradaraan, Michael Matthews memiliki keseimbangan antara sensitivitas rasa dan keahlian menangani deretan aksi seru. Efek visualnya (yang memperoleh nominasi Oscar) tampil meyakinkan meski filmnya "cuma" punya bujet 30 juta dollar, mewujudkan imajinasi sarat kreativitas para pembuatnya mengenai monster. Beberapa tampak mengerikan, beberapa sebaliknya, bak wujud keajaiban dunia yang aneh. Dunia yang pembangunannya membuktikan kapasitas penceritaan visual filmnya. Tidak perlu eksposisi berkepanjangan. Lanskap tanpa eksistensi manusia, yang sesekali menunjukkan bangkai-bangkai monster maupun pesawat tempur (menyiratkan sisa-sisa perlawanan terakhir umat manusia), sudah cukup memberi gambaran jelas mengenai dunia seperti apa yang tengah kita saksikan.


Available on NETFLIX

DORA AND THE LOST CITY OF GOLD (2019)

Inilah kenapa saya enggan bergabung dalam kelompok orang yang gampang skeptis tiap Hollywood mengumumkan proyek adaptasi “aneh”. Dora and the Lost City of Gold, yang dibuat berdasarkan serial animasi edukatif Dora the Explorer, membuktikan para penulis punya kreativitas lebih tinggi daripada apa yang publik tuduhkan. Sebuah petualangan lucu nan menyenangkan yang menolak menangani elemen kekanak-kanakkan serialnya dengan terlampau serius.

Kita mengenal Dora (Isabela Moner) sebagai bocah petualang yang menjelajahi hutan bersama seekor monyet bersepatu bot, serta tas ransel dan peta yang bisa bicara. Sekuen pembuka film ini secara cerdik menyesuaikan absurditas tersebut ke realita. Turut dipermak adalah tedensi Dora untuk melontarkan pertanyaan (konyol) pada penonton. Cerdik, karena alih-alih sepenuhnya dihilangkan atas nama realisme, Nicholas Stoller (Yes Man, The Muppets) dan Matthew Robinson (The Invention of Lying, Monster Trucks) selaku penulis menjadikannya bahan baku komedi. Sayang, resolusi-resolusi yang kerap terlalu gampang tak ikut diparodikan.

Stoller dan Robinson pun piawai mengolah kepolosan karakter Dora yang sering merespon hal-hal secara (terlalu) literal, guna menjadikannya figur likeable dan penuh semangat. Sifat itu acap kali memicu masalah saat Dora meninggalkan hutan untuk bersekolah di kota, setelah orang tuanya (Michael Peña dan Eva Longoria) pergi demi mencari Parapata, kota emas yang telah lama hilang.

Tidak mudah bagi Dora beradaptasi dengan kehidupan kota, terlebih ketika ia mendapati sang sepupu, Diego (Jeff Wahlberg), bukan lagi bocah penuh antusiasme berpetualang. Semakin sulit proses adaptasi Dora, karena ia menuruti nasihat ibunya agar menjadi diri sendiri. Artinya, ia tak ragu melakukan hal-hal aneh yang bahka membuat saya merasakan secondhand embarassment.

Selama di kota, Dora terus berkomunikasi dengan orang tuanya, juga melacak keberadaan mereka lewat titik koordinat yang rutin dikirimkan. Hingga suatu malam komunikasi terhenti secara misterius. Sebelum mampu mendapat petunjuk, di tengah karyawisata sekolah, Dora diculik oleh sekelompok pemburu harta karun yang ingin mencari keberadaan orang tua Dora demi mengeruk emas di Parapata. Tapi Dora tidak sendiri. Kebetulan, Diego, Randy (Nicholas Coombe) si kutu buku, dan Sammy (Madeleine Madden) si siswi teladan yang membenci Dora, ikut terbawa.

Turut dibantu kawan lama sang ayah, Alejandro (Eugenio Derbez), juga Boots yang entah bagaimana mampu menemukan posisi Dora, para remaja ini memulai petualangan menyusuri hutan guna menghentikan niat buruk sekelompok pemburu harta karun tadi. Petualangan menyenangkan dan kaya warna yang sanggup menghibur penonton anak, pula orang dewasa yang menemani mereka.

Beragam rintangan menanti di tengah hutan. Tidak hanya serangan acak hewan-hewan buas atau ancaman alami lain, banyak pula variasi perangkap maupun “jungle puzzle” (begitu Randy menyebutnya) mesti dipecahkan. Bukan teka-teki kompleks tentunya, mengingat anak-anak harus bisa mengikutinya, tapi cukup menambah dinamika yang mengingatkan akan judul-judul bertemakan petualangan di hutan dari masa lalu, misalnya seri Indiana Jones.

Bukan berarti Dora dan kawan-kawan takkan menghadapi tantangan buatan alam, namun berbeda dibanding banyak film petualangan keluarga, presentasinya tidak malas. Selain tata artistik di mana bunga-bunga dan dedaunan menciptakan lingkungan yang memanjakan mata lewat warna-warna cerah, bahaya yang mengancam karakternya pun dipaparkan melalui cara kreatif. Contohnya ketika Dora and the Lost City of Gold sejenak beralih ke medium animasi yang kaya situasi menggelitik. Tidak mudah mengarahkan materi yang bercampur aduk semacam ini, namun tugas berat itu nyatanya mulus dilalui oleh sutradara James Bobin (The Muppets, Alice Through the Looking Glass).

Penampilan Isabela Moner juga suatu kemenangan besar. Senyum lebar ditambah sikap bersemangat tanpa kenal malu miliknya menyuntikkan energi dalam jumlah besar, yang mana amat dibutuhkan sajian petualangan seperti ini. Tatkala sesosok protagonis bisa menggali lubang tempat buang air besar sembari menyanyikan lagu tentang kotoran dan berakhir lucu ketimbang menjijikkan lalu membuatmu ingin memalingkan wajah, itu menandakan kesuksesan sang penampil melahirkan tokoh yang mencuri hati.