Tampilkan postingan dengan label Isabela Moner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Isabela Moner. Tampilkan semua postingan

DORA AND THE LOST CITY OF GOLD (2019)

Inilah kenapa saya enggan bergabung dalam kelompok orang yang gampang skeptis tiap Hollywood mengumumkan proyek adaptasi “aneh”. Dora and the Lost City of Gold, yang dibuat berdasarkan serial animasi edukatif Dora the Explorer, membuktikan para penulis punya kreativitas lebih tinggi daripada apa yang publik tuduhkan. Sebuah petualangan lucu nan menyenangkan yang menolak menangani elemen kekanak-kanakkan serialnya dengan terlampau serius.

Kita mengenal Dora (Isabela Moner) sebagai bocah petualang yang menjelajahi hutan bersama seekor monyet bersepatu bot, serta tas ransel dan peta yang bisa bicara. Sekuen pembuka film ini secara cerdik menyesuaikan absurditas tersebut ke realita. Turut dipermak adalah tedensi Dora untuk melontarkan pertanyaan (konyol) pada penonton. Cerdik, karena alih-alih sepenuhnya dihilangkan atas nama realisme, Nicholas Stoller (Yes Man, The Muppets) dan Matthew Robinson (The Invention of Lying, Monster Trucks) selaku penulis menjadikannya bahan baku komedi. Sayang, resolusi-resolusi yang kerap terlalu gampang tak ikut diparodikan.

Stoller dan Robinson pun piawai mengolah kepolosan karakter Dora yang sering merespon hal-hal secara (terlalu) literal, guna menjadikannya figur likeable dan penuh semangat. Sifat itu acap kali memicu masalah saat Dora meninggalkan hutan untuk bersekolah di kota, setelah orang tuanya (Michael Peña dan Eva Longoria) pergi demi mencari Parapata, kota emas yang telah lama hilang.

Tidak mudah bagi Dora beradaptasi dengan kehidupan kota, terlebih ketika ia mendapati sang sepupu, Diego (Jeff Wahlberg), bukan lagi bocah penuh antusiasme berpetualang. Semakin sulit proses adaptasi Dora, karena ia menuruti nasihat ibunya agar menjadi diri sendiri. Artinya, ia tak ragu melakukan hal-hal aneh yang bahka membuat saya merasakan secondhand embarassment.

Selama di kota, Dora terus berkomunikasi dengan orang tuanya, juga melacak keberadaan mereka lewat titik koordinat yang rutin dikirimkan. Hingga suatu malam komunikasi terhenti secara misterius. Sebelum mampu mendapat petunjuk, di tengah karyawisata sekolah, Dora diculik oleh sekelompok pemburu harta karun yang ingin mencari keberadaan orang tua Dora demi mengeruk emas di Parapata. Tapi Dora tidak sendiri. Kebetulan, Diego, Randy (Nicholas Coombe) si kutu buku, dan Sammy (Madeleine Madden) si siswi teladan yang membenci Dora, ikut terbawa.

Turut dibantu kawan lama sang ayah, Alejandro (Eugenio Derbez), juga Boots yang entah bagaimana mampu menemukan posisi Dora, para remaja ini memulai petualangan menyusuri hutan guna menghentikan niat buruk sekelompok pemburu harta karun tadi. Petualangan menyenangkan dan kaya warna yang sanggup menghibur penonton anak, pula orang dewasa yang menemani mereka.

Beragam rintangan menanti di tengah hutan. Tidak hanya serangan acak hewan-hewan buas atau ancaman alami lain, banyak pula variasi perangkap maupun “jungle puzzle” (begitu Randy menyebutnya) mesti dipecahkan. Bukan teka-teki kompleks tentunya, mengingat anak-anak harus bisa mengikutinya, tapi cukup menambah dinamika yang mengingatkan akan judul-judul bertemakan petualangan di hutan dari masa lalu, misalnya seri Indiana Jones.

Bukan berarti Dora dan kawan-kawan takkan menghadapi tantangan buatan alam, namun berbeda dibanding banyak film petualangan keluarga, presentasinya tidak malas. Selain tata artistik di mana bunga-bunga dan dedaunan menciptakan lingkungan yang memanjakan mata lewat warna-warna cerah, bahaya yang mengancam karakternya pun dipaparkan melalui cara kreatif. Contohnya ketika Dora and the Lost City of Gold sejenak beralih ke medium animasi yang kaya situasi menggelitik. Tidak mudah mengarahkan materi yang bercampur aduk semacam ini, namun tugas berat itu nyatanya mulus dilalui oleh sutradara James Bobin (The Muppets, Alice Through the Looking Glass).

Penampilan Isabela Moner juga suatu kemenangan besar. Senyum lebar ditambah sikap bersemangat tanpa kenal malu miliknya menyuntikkan energi dalam jumlah besar, yang mana amat dibutuhkan sajian petualangan seperti ini. Tatkala sesosok protagonis bisa menggali lubang tempat buang air besar sembari menyanyikan lagu tentang kotoran dan berakhir lucu ketimbang menjijikkan lalu membuatmu ingin memalingkan wajah, itu menandakan kesuksesan sang penampil melahirkan tokoh yang mencuri hati.

INSTANT FAMILY (2018)

Mungkin banyak yang memandang sebelah mata Instant Family karena statusnya sebagai drama-komedi ringan. Tapi karya terbaru Sean Anders (Horrible Bosses 2, Daddy’s Home, Daddy’s Home 2) ini sejatinya mengusung pesan penting soal parenting. Pun balutan komedi tak melucuti kekuatan ceritanya, sebab seperti perkataan Karen (Octavia Spencer), “It’s important to have sense of humor in this (parenting)”. Mengasuh anak dapat menimbulkan frustrasi, namun tawa tak boleh dienyahkan dari prosesnya.

Instant Family mengajak kita menertawakan sulitnya mengasuh anak, sambil mengaduk emosi lewat drama keluarga menyentuh. Film ini bagai versi ringan dari Shoplifters milik Hirokazu Kore-eda. Walau pendekatannya amat berbeda, kedua film sama-sama mempertanyakan, “What makes a family?”. Apakah ikatan darah merupakan kewajiban? Ataukah besarnya cinta kasih jadi hal terpenting?

Keinginan menimang buah hati mulai timbul dalam benak pasangan suami-istri, Pete (Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne). Tapi mempertimbangkan usianya, Pete khawatir jika kelak ia sudah terlalu tua begitu sang anak mulai beranjak dewasa. Walau dipresentasikan secara jenaka, topik tersebut sebenarnya relevan. Saya sendiri kerap terlibat obrolan serupa dengan ayah. Itulah alasan di balik keputusan mereka memilih mengadopsi anak berusia sekitar lima tahun.

Tapi atensi mereka justru direbut oleh remaja 14 tahun bernama Lizzie (Isabela Moner), yang juga memiliki dua adik, Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz). Pete dan Ellie pun berujung membawa pulan tiga anak. Keduanya boleh mencari nafkah dari bisnis reparasi rumah, namun itu tak otomatis memudahkan pekerjaan “memperbaiki” ketiga anak angkat mereka, yang mempunyai masa lalu suram akibat sosok ibu tak bertanggung jawab.

Hari-hari yang tadinya sunyi mendadak riuh, kacau, dan tentunya penuh tekanan. Lita yang terobsesi pada keripik kentang selalu histerikal, Juan amat sensitif sehingga bisa menangis karena hal kecil, sedangkan Lizzie, well.....remaja. Mayoritas konflik yang menggambarkan repotnya proses mengasuh, dibungkus menggunakan sampul komedi dengan presentasi keberhasilan memancing tawa yang sangat tinggi berkat materi lawakan segar dari naskah buatan Sean Anders bersama John Morris (Hot Tube Time Machine, We’re the Millers, Dumb and Dumber To).

Porsi Mark Wahlberg dan Rose Byrne bagai mencerminkan pembagian peran orang tua. Terlepas dari kesanggupan mereka menangani kedua elemen, terlihat bahwa Byrne—dengan talenta luar biasa dalam merespon segala situasi menggelikan—menyokong porsi komedi, sementara Wahlberg—berbekal kharisma sosok ayah keren—hadir untuk menghangatkan perasaan kita (dan anak-anaknya).

Kesuksesan terbesar Instant Family terletak pada kecakapan beralih antara komedi dan drama secara konstan. Di satu titik, filmnya bisa mengocok perut kita lewat gelak tawa, lalu sejurus kemudian mencengkeram dada melalui rasa haru. Penggambaran ikatan keluarganya selalu kuat, sebab Anders—yang menulis naskah ini berdasarkan cerita hidupnya—tahu, pemandangan terkait hubungan anak dengan orang tua seperti apa yang efektif melelehkan hati. Benang merahnya selalu sama: ungkapan cinta.

Instang Family adalah soal cinta, dan dalam menyampaikan pesannya, film ini beruntung mempunyai kreativitas Sanders perihal menjalin kata-kata, yang ketimbang terdengar murahan atau terlalu melankolis, justru mampu seketika menusuk perasaan penontonnya, sekaligus menggiring kita supaya menyadari, bahwasanya setiap anak di muka Bumi pantas dicintai. Instant Family adalah suguhan kaya rasa, sehingga biarpun bergerak cukup panjang untuk ukuran drama-komedi keluarga (119 menit), saya takkan keberatan bila kisahnya terus digulirkan.

SICARIO: DAY OF THE SOLDADO (2018)

Sicario pertama (2015) bicara soal “sosok putih”, agen FBI bernama Kate Macer (Emily Blunt), yang mempelajari realita abu-abu setelah ditampar keras oleh ambiguitas moral di mana hukum tak berlaku. Pada sekuelnya, giliran dua sosok “penampar” Kate lah yang mendapati bahwa ketiadaan hukum mereka pun nampak bersih di hadapan intrik kotor politik internasional. Di satu kesempatan, agen CIA Matt Graver (Josh Brolin) menyuarakan kejengahannya pada sang atasan, Cynthia Foards (Catherine Keener), bahwa langkah yang diambil pemerintah takkan mengubah apa pun. Respon Cyhnthia membuat Matt, si prajurit brutal nihil aturan tampak bak bocah naif.

Ada pula dua muda-mudi terlibat dalam konflik: Isabela Reyes (Isabela Moner), puteri bungsu seorang pimpinan kartel Meksiko yang di sekolahnya bisa bersikap layaknya bos mafia tanpa takut tersentuh hukuman guru, dan Miguel Hernandez (Elijah Rodriguez), remaja Meksiko-Amerika yang ingin menjadi kriminal. Seperti Kate di film pertama, Isabela dan Miguel bagai domba, tapi di sini, domba-domba itu berlagak layaknya serigala, hingga akhirnya nasib mempertemukan mereka dengan kawanan serigala sungguhan yang tengah berperang. Apakah domba-domba ini akan jadi mangsa, kembali ke habitatnya, atau bertransformasi menjadi predator pula? Konklusinya memberi siratan cukup jelas bagi arah lingkaran kehidupan yang bakal mereka tempuh.

Day of the Soldado membahas dua pokok persoalan yang belakangan makin kerap menyulut kontroversi, khususnya di Amerika, yakni serbuan teroris asing serta imigran. Tapi Taylor Sheridan (Sicario, Wind River, Hell or High Water) yang masih menulis naskahnya tak tertarik menjabarkan “Apa yang seharusnya dilakukan?”, melainkan “Apa yang selama ini sudah dilakukan dari di balik layar”. Setidaknya menurut perspektif Sheridan, yang membuka filmnya langsung lewat hantaman mencekat dan menegangkan berupa aksi bom bunuh diri. Sayang, ketegangan di tingkatan setara gagal terulang di sisa durasi. Kementrian Pertahanan mengutus Matt guna menutup jalur para terors yang diselundupkan oleh kartel di Meksiko.

Taktik adu domba diterapkan. Kembali dibantu Alejandro (Benicio del Toro), Matt menculik puteri pimpinan kartel, Isabela, lalu mengaturnya agar tampak seperti perbuatan kartel saingan. Tujuannya agar kedua belah pihak saling menghancurkan tanpa perlu campur tangan pemerintah Amerika, yang nantinya diharapkan memutus mata rantai terorisme. Meski jika ditanya mengenai definisi terorisme, Matt menjawab, “Tugas Menteri Pertahanan untuk menyematkan definisi itu ke siapa”. Di sini Sheridan tengah menyentil tentang Amerika, sang negeri adidaya, mampu pengelompokkan “si baik” dan “si jahat” sesuai kepentingan mereka.

Artinya, ambiguitas pendahulunya masih dipertahankan. Sheridan menegaskan ketiadaan kepastian soal siapa kawan maupun lawan, yang diwakili suatu momen yang ia tulis secara cerdas tatkala Isabela berhasil “diselamatkan” dari kurungan penculik. Tapi tidak semua momen tampil secerdik itu. Ada kalanya rencana Sheridan pintar, ada kalanya tidak masuk akal. Atau mungkin di dalam imajinasinya, itu masuk akal, hanya saja, akibat kebencian Sheridan terhadap eksposisi (diakuinya sendiri), banyak poin terkesan membingungkan. Bahkan lebih membingungkan ketimbang film pertama karena kali ini konspirasi bertambah rumit seiring skala yang turut membesar, juga melibatkan lebih banyak pihak. Kadang kebingungan tersebut mempengaruhi intensitas.  

Untung penyutradaraan Stefano Sollima (Suburra) solid. Mengusung tempo lebih cepat, toh kita tetap bisa menemukan pergerakan kamera yang melayang lambat khususnya dalam establishing shot, yang mengingatkan akan gaya Denis Villeneuve. Masih dipertahankan pula musik atmosferik nan menghantui, walau departemen musik sekarang ditangani Hildur Guðnadóttir, menggantikan mendiang Jóhann Jóhannsson. Tidak mengherankan, sebab keduanya pernah berkolaborasi di Mary Magdalene (2018), dan Guðnadóttir pernah memainkan cello dalam Arrival (2016) yang musiknya digubah Jóhannsson. Sayang, meski tetap sedap dipandang, sinematografi Dariusz Wolski (The Martian, Prometheus) nyatanya tak seindah karya Roger Deakins.

Tidak ada Emily Blunt yang kehadirannya berfungsi sebagai kacamata penonton mengintip kerasnya dunia kriminalitas, namun Day of the Soldado masih punya Josh Brolin dan Benicio del Toro, dua aktor yang mampu menebarkan aura machismo cukup dengan duduk diam atau bertutur secara kasual. Karakter peranan del Toro memperoleh story arc bersifat personal selaku lanjutan film pertama, yang lagi-lagi Cuma berujung sempilan di tengah tanpa dampak emosi. Tidak ada pilihan lain. Apabila Sheridan begitu getol ingin menguatkan elemen drama di sekitar Alejandro, ia membutuhkan filmnya sendiri. Sementara Brolin memantapkan status sebagai “actor of the year”. Pasca Thanos, Cable, lalu Matt, pesan yang muncul jelas: “Jangan macam-maca dengan Josh Brolin!”.

Konklusinya membuka lapang beragam kemungkinan untuk kisah masa depan andai seri Sicario dilanjutkan. Kemungkinan yang rasanya nyaris tidak berujung mengingat kriminalitas dan konspirasi politik merupakan jalur utamanya. Tapi di waktu bersamaan, konklusi tersebut melucuti gambaran kerasnya dunia gelap milik seri Sicario, di mana semestinya tak ada pihak yang aman dalam tempat sekelam nan semematikan ini. Sicario: Day of the Soldado tidak se-memorable pendahulunya, tidak pula mengandung teror yang sama kuatnya, tetapi sebagai sajian aksi/thriller semata, Day of the Soldado memberikan cengkeraman cukup kencang.

TRANSFORMERS: THE LAST KNIGHT (2017)

Suatu ketika saya membaca wawancara suatu majalah film dengan Michael Bay. Disebutkan bahwa menikmati gelaran eksplosi sang sutradara bagai menjual jiwa pada setan. Penonton tahu filmnya buruk ditinjau dari standar sinematik namun tak kuasa menolak dan akhirnya menerima kegembiraan yang dirasa. Istilah umumnya "guilty pleasure". Saya kurang setuju. Benar Bay bukan jagoan pembangun tensi layaknya Cameron atau ahli mengawinkan aksi dengan hati seperti Spielberg. Tapi ia diberi talenta yang didukung passion dan kecintaan. Talenta berupa menyajikan epic cinema berbasis ledakan "cantik". Bayhem (begitu gayanya disebut) adalah soal spektakel yang saking bombastisnya jadi terasa dramatis, poin yang tidak semua sutradara blockbuster punya.

The Last Knight menawarkan formula familiar, dan mencapai installment kelima seri Transformers memang enggan ke mana-mana. Pasca tease menarik di konklusi Age of Extinction saat Optimus Prime lepas landas menuju Cybertron toh kisahnya tetap berpijak di Bumi, menyoroti invasi robot yang hendak menabrakkan Cybertron ke planet ini (tak jauh beda dibanding Dark of the Moon). Pembuka menjanjikan kala kita diajak ke era medieval menyaksikan Raja Arthur bersama Merlin si penyihir dan 12 Kesatria Meja Bundar berperang dibantu para Transformers pun bertahan sejenak saja. Sekedar prolog, eksposisi singkat bagi cerita selanjutnya di masa kini. Padahal melihat naga robot berkepala sukses mengundang decak kagum sekaligus bukti Transformers bisa bekerja dengan baik di setting waktu dan tempat non-kontemporer. 
Cerita kembali berpusat di Cade Yeager (Mark Wahlberg) yang kini menetap di junkyard penampung Autobots sementara Optimus pergi. Di tengah penelusuran terkait makin banyaknya robot mendarat di Bumi, sesosok Transformers sekarat memberi Yeager sebuah jimat. Tanpa dia tahu, benda itu menggiringnya ke rahasia ribuan tahun mengenai eksistensi robot dan manusia. Bersama Sir Edmund Burton (Anthony Hopkins) sang pemimpin organisasi rahasia, mekanik cilik pemberani bernama Izabella (Isabela Moner), Viviane (Laura Haddock), Profesor dari Oxford, dan tentunya Autobots, Yeager memperjuangkan keselamatan Bumi. Perjuangan berujung semakin berat karena "pengkhianatan" Optimus Prime.

Tuturan bahwa tokoh legendaris semisal Einstein, Galileo, dan Wright Bersaudara tergabung dalam organisasi rahasia yang menyembunyikan keberadaan Transformers, juga keterlibatan robot pada peristiwa sejarah (kematian Hitler misalnya) hanya jadi bumbu penyedap. Menarik di awal kemudian dilupakan. Proses Yeager dan Viviane memecahkan teka-teki soal tongkat Merlin yang bak diambil dari salah satu chapter The Da Vinci Code pun bukan konflik pintar, meski setidaknya menstimulus otak penonton berproses, memancing gejolak naik-turun alur yang lebih menggigit ketimbang sepenuhnya "hit and run" macam film-film sebelumnya. The Last Knight memang penuh pernak-pernik kurang substansif tapi memperkaya warna. Sebutlah pembuatan tokoh Cogman dan Sqweeks selaku "tiruan" C-3PO dan R2-D2 dari Star Wars
Pergantian penulis dari Ehren Kruger menjadi trio Art Marcum, Matt Holloway, dan Ken Nolan mungkin urung menambah bobot, namun sukses memperbaiki kelemahan terkait komedi. Kita ingat betul Revenge of The Fallen dan Dark of the Moon dirusak oleh lelucon menyebalkan, berlebihan nan dipaksakan di waktu tak tepat. The Last Knight bisa menghadirkan beberapa tawa berkat dosis humor secukupnya, entah berbentuk banter karakter maupun situasi absurd (yang sesungguhnya klise) kala Cogman mendadak memainkan musik dramatis mengiringi pembicaraan. Sayangnya, Bay kurang cakap meramu momen komedik. Timing menyelipkan kesunyian tiba-tiba sering meleset, begitu pula transisi kasar antar adegan yang kerap melemahkan daya bunuh humor.

Penampilan jajaran cast turut membaik. Setelah meraba-raba di Age of Extinction, sekarang Wahlberg maksimal melakoni peran sebagai leading hero di antara kepungan robot-robot raksasa, seutuhnya menghapus memori buruk bernama Shia LaBeouf. Walau bukan performa kelas Oscar, Hopknis nampak jelas bersenang-senang di sini. Lalu tatkala Isabela Moner memamerkan kapasitas sebagai bintang muda potensial, Laura Haddock akhirnya mengobati kehilangan atas Megan Fox. Selain paras serupa, sewaktu Rosie Huntington-Whiteley dan Nicola Peltz sekedar berusaha tampak cantik, Haddock memiliki sensual presence tinggi. Haddock dan Wahlerg pun saling mengimbangi, menciptakan interaksi raunchy yang jauh lebih bernyawa dibanding duo tokoh utama lain franchise ini.

Tidak perlu mempertanyakan eksekusi aksi Michael Bay. Ledakan bombastic artistic dengan staging yang dipikir masak-masak atau penggunaan slow-motion tepat guna sehingga aksi Autobots makin badass adalah alat pacu kegembiraan yang hanya bisa diimpikan banyak kompatriotnya sesama blockbuster filmmaker. Hanya ada satu minus, di mana intensitas gagal mencapai titik maksimum akibat set-piece acap kali berlangsung terlampau singkat. Bukan sepenuhnya kekeliruan Bay (the anticlimactic third act was his fault though), sebab terburu-burunya naskah merangkum konklusi ikut jadi penyebab. Tengok resolusi konflik seputar Optimus sebagai contoh. Kekurangan tersebut masih termaafkan, apalagi sensibiltas visual Bay dalam melukiskan massive landscape tetap terjaga. Salah satu momen menampilkan pertarungan Autobots melawan Decepticon di tengah padang rumput hijau dengan Stonehenge sebagai pusat, api bergelora di sana-sini, sementara di angkasa Cybertron berukuran raksasa ikut melatari. What a chaotic beatuy.