Tampilkan postingan dengan label Brian Duffield. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brian Duffield. Tampilkan semua postingan

REVIEW - LOVE AND MONSTERS

Catat Hollywood, beginilah semestinya petualangan fantasi dibuat. Ceritanya boleh saja penuh monster khayalan, tapi "rasa" harus tetap nyata. Catatan berikutnya (lebih tepatnya pertanyaan), mengapa selepas seri The Maze Runner yang notabene salah satu yang terbaik di masa adaptasi novel young adult merajalela, Dylan O'Brien tak mendapat pengakuan sepantasnya? Melihatnya lagi di Love and Monsters, makin meyakinkan saya, bahwa aktor yang bulan Agustus nanti genap menginjak kepala tiga ini, sepatutnya berada di jajaran bintang kelas A.

Filmnya sendiri sudah begitu mengikat sejak prolog unik yang memberi sedikit twist terhadap formula kisah berlatar post-apocalyptic. Pasca kemunculan suatu asteroid, peradaban nyaris musnah, di mana bumi tinggal menyisakan 5% populasi manusia. Tapi bukan asteroid itu penyebabnya. Faktanya, asteroid berhasil dimusnahkan berkat sebuah misil. Sayangnya, saat meledak, senyawa kimia selaku bahan baku misil menghujani permukaan bumi, mengubah hewan-hewan berdarah dingin menjadi monster mutan. 

Selama tujuh tahun terakhir, para penyintas bersembunyi di ruang bawah tanah guna menghindari ancaman monster. Salah satunya Joel (Dylan O'Brien), yang hidup bersama salah satu koloni sebagai koki. Dia ingin berkontribusi lebih, namun masalahnya, Joel selalu membeku ketakutan kala berada di tengah situasi bahaya. Hingga ia menemukan keberadaan kekasihnya, Aimee (Jessica Henwick), dan nekat menempuh perjalanan maut di permukaan selama tujuh hari demi sang pujaan hati. 

Sangat sederhana. Tidak ada misi menyelamatkan dunia. Seperti telah tertulis di judul, semua dilakukan demi cinta. Hilangkan soal kiamat dan monster pemakan manusia, maka perjuangan Joel mungkin pernah pula dialami oleh banyak dari kita. Tapi bukankah alasan serupa sudah banyak dipakai film lain? Benar, namun Love and Monsters termasuk produk Hollywood langka (khususnya belakangan ini), yang sepenuhnya berhasil mengeksplorasi seperti apa rasanya terpisah dari orang tercinta di tengah akhir dunia. 

Petualangan Joel turut mewakili prosesnya berkembang sebagaimana kisah from zero to hero pada umumnya. Dia belajar bertahan hidup, mengatasi ketakutan, sampai akhirnya tumbuh dewasa kala dipaksa menatap realita yang tak seindah ekspektasi. 

Naskah buatan Brian Duffield (Insurgent, The Babysitter) dan Matthew Robinson (The Invention of Lying, Dora and the Lost City of Gold) menyuguhkan transformasi protagonisnya secara masuk akal. Joel bukan pecundang. Dia tampan, baik, tidak canggung dalam bersosialisasi, memiliki pacar cantik. Saya bisa membayangkan, hidupnya sebelum kiamat berlangsung nyaman nan menyenangkan. Justru karena kenyamanan itulah, Joel tidak dibekali kemampuan menangani kondisi darurat. Pun ketakutan berlebihnya dipicu oleh hal yang dapat dimengerti. Motivasinya murni, rasa sakitnya beralasan, pengembangan karakternya believable. Ditambah kemampuan O'Brien menciptakan protagonis membumi di tengah latar fantasi, Joel adalah figur yang mudah dicintai. 

Bukan si tokoh utama saja, jajaran pendukung lain pun tak lupa diberikan nyawa. Sepanjang petualangannya, Joel bertemu beberapa rekan perjalanan. Clyde (Michael Rooker) dan Minnow (Ariana Greenblatt), sepasang pria tua dan gadis cilik yang mengajarinya berbagai metode bertahan hidup, seekor anjing bernama Boy, juga Mav1s yang merupakan sebuah robot. Kedua penulis tahu bagaimana memunculkan sisi likeable dari tiap individu, sehingga dalam waktu singkat, tidak peduli manusia atau bukan, penonton (dan Joel) terikat secara emosional dengan mereka. 

Di kursi penyutradaraan, Michael Matthews memiliki keseimbangan antara sensitivitas rasa dan keahlian menangani deretan aksi seru. Efek visualnya (yang memperoleh nominasi Oscar) tampil meyakinkan meski filmnya "cuma" punya bujet 30 juta dollar, mewujudkan imajinasi sarat kreativitas para pembuatnya mengenai monster. Beberapa tampak mengerikan, beberapa sebaliknya, bak wujud keajaiban dunia yang aneh. Dunia yang pembangunannya membuktikan kapasitas penceritaan visual filmnya. Tidak perlu eksposisi berkepanjangan. Lanskap tanpa eksistensi manusia, yang sesekali menunjukkan bangkai-bangkai monster maupun pesawat tempur (menyiratkan sisa-sisa perlawanan terakhir umat manusia), sudah cukup memberi gambaran jelas mengenai dunia seperti apa yang tengah kita saksikan.


Available on NETFLIX

UNDERWATER (2020)

“Memindahkan Alien (1979) karya Ridley Scott ke bawah laut” merupakan misi Underwater. Karena baik di luar angkasa maupun dasar samudera, tidak ada yang bisa mendengarmu berteriak. Anda pun bisa menemui jump scare berupa monster kecil melompat dari tubuh korban layaknya chestburster (bedanya, di sini lewat punggung alih-alih dada), dilanjutkan oleh analisa karakternya terhadap si monster di atas meja berwarna putih. Referensinya sudah tepat, namun penggarapan keseluruhannya belum.

Kru sebuah proyek pengeboran bawah laut dikejutkan saat laboratorium mendadak bocor, menghancurkan hampir segalanya, membunuh mayoritas manusia di dalamnya. Ada beberapa penyintas, sebutlah sang Kapten (Vincent Cassel); Paul (T.J. Miller) yang eksentrik dan selalu membawa boneka kelinci bernama “Lil Paul”; Emily (Jessica Henwick) yang dikuasai ketakutan; Liam (John Gallagher Jr.) yang diam-diam meyukai Emily; serta protagonis kita, Norah (Kristen Stewart dengan model rambut yang mengingatkan akan Sigourney Weaver di Alien 3), seorang teknisi yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang pesimis.

Mudah ditebak, terkait pengembangan karakter, naskah buatan Brian Duffield (Insurgent, The Babysitter) dan Adam Cozad (Jack Ryan: Shadow Recruit, The Legend of Tarzan) hendak memaparkan perjalanan Norah, dari seseorang yang pesimis, pasrah, dan senantiasa diam, hingga akhirnya bersedia melakukan sesuatu demi perubahan. Betul bahwa kedua penulis memberi alasan di balik sikap Norah, berdasarkan suatu peristiwa tragis di masa lalunya. Tapi alasan tersebut sebatas hiasan minim eksplorasi, pun proses perubahan Norah tidak dibarengi tahapan-tahapan meyakinkan. Terkesan, ia mendadak berubah sikap di akhir cerita.

Tapi kekurangan itu, maupun kritik sambil lalu terkait perusakan alam oleh manusia, bisa dimaafkan, andai Underwater sebagai berhasil memenuhi tugasnya sebagai horor: menakut-nakuti. Di sini kegagalan “meniru” Alien tampak jelas. Sama-sama menyembunyikan monsternya di mayoritas durasi, film ini lupa mengatur atmosfer sekaligus membuat tiap kematian karakter meninggalkan dampak. Menyusuri dasar laut gelap dan reruntuhan laboratorium sempit memang aktivitas klaustrofobik, namun bukan berarti, semakin sering menampilkan karakternya berjalan, berenang, dan mengambang di kegelapan otomatis memperkuat atmosfer.

Berjalan, berenang, berbicara, berjalan, berenang lagi. Pemandangan itu mendominasi Underwater. Membosankan. Bisa tertolong, andai William Eubank (Love, The Sigal) selaku sutradara piawai mengatur suasana serta intensitas. Sayangnya tidak. Saat tidak terjadi hal signifikan di layar, tak sedikit pun yang dapat penonton nikmati, pun tatkala teror mulai mengancam, ketegangannya hilang akibat pemakaian shaky cam memusingkan ditambah gerak lambat—yang meski terlihat cukup cantik—nihil substansi, bahkan tak jarang menggelikan. Soal metode menghabisi karakternya, Eubank terbatasi rating PG-13, di mana deretan kematian brutal banyak terjadi di balik layar.

Kualitas CGI-nya, dibantu banyak efek praktikal, tergolong solid, meyakinkan dalam membangun kehancuran-kehancuran bawah laut, walau pujian serupa tidak bisa diberikan terkait penampakan monsternya. Ada tiga jenis makhluk. Demi menghindari spoiler, mari sebut saja “monster 1”, “monster 2”, dan “monster 3”. Monster 2 punya generik, serupa deretan monster-monster kebanyakan di film bertema serupa, jauh dari kesan menyeramkan. Karena mereka yang paling sering kita temui sekaligus memiliki jumlah terbanyak, seberapa besar dampak kehadiran Monster 2 berifat esensial bagi keberhasilan Underwater. Artinya sederhana. Filmnya gagal.

Monster 3 paling intimidatif, paling berkesan, pula melahirkan satu-dua momen menegangkan jelang akhir yang mampu menggiring penonton membayangkan betapa mengerikannya kalau harus berhadapan langsung dengannya. Tapi statusnya sebagai “big boss” sekaligus keterbatasan dana membatasi kuantitas kemunculannya, sehingga belum cukup mengatrol daya bunuh Underwater, sekalipun sudah ditambah kemampuan Kristen Stewart menyeimbangkan kontemplasi dan ketangguhan sesosok jagoan.