Tampilkan postingan dengan label Michael Showalter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Michael Showalter. Tampilkan semua postingan
THE LOVEBIRDS (2020)
Rasyidharry
The Lovebirds jelas dibuat atas kesadaran perihal diversity (baik perspektif humanis
maupun bisnis). Kisahnya mengenai romansa antarras pria Pakistan-Amerika dengan
wanita Afrika-Amerika. Di tengah cerita, keduanya sempat berbagi Lyft dengan
pria kulit putih dan wanita Asia-Amerika, yang kebetulan juga sepasang kekasih.
Pada titik itu diversity-nya terlalu on-the-nose, tapi mau bagaimana lagi?
Fase ini diperlukan agar Hollywood bisa tiba di titik di mana film dengan tokoh
multikultural jadi pemandangan biasa.
Masalahnya bukan tentang hubungan
beda ras protagonisnya, namun untuk film berjudul “The Lovebirds”, kedua protagonis kita tidak tampak seperti...well, the lovebirds. Kumail Nanjiani dan
Issa Rae memikat sebagai pasangan komedik, bukan romantis. Ketimbang kekasih
yang hubungannya retak, mereka lebih seperti sahabat yang selalu bersama, atau
malah tinggal di satu atap meski tanpa perasaan lebih. The Lovebirds memang dipenuhi hal-hal yang menuntut pemakluman
penontonnya agar dapat dinikmati.
Jibran (Kumail Nanjiani) adalah
pembuat dokumenter yang tak menghasilkan uang. Leilani (Issa Rae) terobsesi
mengikuti The Amazing Race. Jibran
menganggap Leilani berpikiran dangkal, Leilani merasa Jibran seorang yang
gagal. Mereka baru saja sepakat mengakhiri hubungan di tengah jalan menuju
pesta saat mobil yang dikendarai tiba-tiba menabrak pria penunggang sepeda.
Pria tersebut bertingkah mencurigakan, buru-buru kabur tanpa bersedia
dipanggilkan ambulans. Lalu datang pria lain (Paul Sparks), yang oleh Jibran
dan Leilani dipanggil “Moustache”.
Moustache mengaku sebagai polisi,
mengambil alih mobil mereka untuk mengejar si penunggang sepeda, kemudian
melindasnya sampai mati. Di tengah kekacauan, datang dua pejalan kaki yang menuduh
Jibran dan Leilani telah melakukan pembunuhan dan menelepon polisi. Keduanya
panik, lalu melarikan diri, setelah meyakini bahwa sebagai minoritas, polisi
takkan berbaik hati memberikan praduga tak bersalah.
Mengingat kerapnya aparat bertindak
tidak adil terhadap minoritas, keputusan mereka bisa diterima. Bodoh, tapi
dapat dimengerti. Sampai datang deretan keputusan-keputusan bodoh lain yang
oleh Aaron Abrams dan Brendan Gall selaku penulis naskah, dipaksakan hadir demi
menggulirkan alur. Salah satu kebodohan paling fatal adalah ketidakmampuan
Jibran, sebagai pembuat dokumenter, menyadari satu hal yang bisa membuktikan ia
dan sang (mantan) kekasih tidak bersalah. Satu hal yang akhirnya juga dipakai
film ini sebagai jalan keluar.
Sejatinya The Lovebirds punya ide dasar yang cukup guna menyokong absurditas
dalam film semacam ini, dengan melibatkan misteri pembunuhan, konspirasi, hingga rahasia "nakal" para penguasa, tapi eksplorasinya
tidak cukup berani (atau kreatif?) untuk melangkah ke jalur yang lebih liar.
Sempat tercipta suasana menegangkan kala protagonis kita menyusup ke sarang
musuh dan nyaris ketahuan. Saya pun antusias menanti bagaimana filmnya bakal
menyelesaikan itu. Antusiasme itu gagal terbayar, saat lagi-lagi rute tidak kreatif
ditempuh, yang berujung pada unsur dipaksakan lain. Kali ini mengenai polisi
yang terlalu bodoh mengambil sikap ketika menyadari ada mata-mata dalam tubuh
mereka.
Humornya mayoritas berasal dari
banter yang seringkali berkembang jadi adu argumen konyol, ditambah beberapa
komedi situasi. Walau tak cukup kuat menjalin chemistry romantis, Nanjiani dan Rae tampil prima perihal memancing
tawa. Keduanya tahu bagaimana harus bereaksi atas banyolan satu sama lain,
berimprovisasi, dan menyelamatkan beberapa materi medioker lewat gaya
histerikal masing-masing.
Komedinya cukup efektif, namun jauh
dari kesan segar, pun sang sutradara, Michael Showalter (The Big Sick) kurang piawai mengolah adegan supaya bertenaga. Sama
seperti keseluruhan filmnya, yang sebatas pengulangan lebih lemah dari
tontonan-tontonan serupa yang telah ada sebelumnya. The Lovebirds diisi deretan keklisean. Bahkan dua tokoh utamanya
menyanyikan lagu klise: Firework.
Tapi berbeda dengan lagu Katy Perry tersebut, film ini tak punya gairah kuat
yang mampu menyemarakkan hari penontonnya.
Available on NETFLIX
Mei 23, 2020
Aaron Abrams
,
Brendan Gall
,
Comedy
,
Crime
,
Issa Rae
,
Kumail Nanjiani
,
Kurang
,
Michael Showalter
,
Paul Sparks
,
REVIEW
,
Romance
THE BIG SICK (2017)
Rasyidharry
Di salah satu adegan The Big Sick, Emily (Zoe Kazan) menyatakan ingin mendengar lebih banyak tentang sisi personal kekasihnya, Kumail (Kumail Nanjiani memerankan dirinya sendiri). Pernyataan itu terlontar pasca Kumail menampilkan pertunjukan monolog di mana ia mengisahkan budaya serta kebiasaannya sebagai anggota keluarga Pakistan. Momen tersebut mewakili pesan utama filmnya, bahwa "Jati diri seseorang ditentukan oleh pribadinya, bukan ras, agama, atau asal negara". Terdengar klise, tapi sungguh pesan penting nan relevan, tidak saja untuk konteks kondisi sosial Amerika Serikat, pula seluruh dunia sekarang.
Ditulis naskahnya oleh pasangan suami istri, Kumail Nanjiani dan Emily V. Gordon, The Big Sick bersifat semi-autobiografi, mengambil intisari masalah mereka selama berpacaran, sebelum menikah pada 2007. Menjadi anak imigran Pakistan yang tumbuh besar di Chicago menghadirkan benturan bagi Kumail. Kedua orang tuanya adalah pemeluk Islam taat sekaligus masih memegang teguh adat istiadat Pakistan, termasuk mengatur perjodohan bagi anak-anaknya. Sebaliknya, hidup di Amerika merangsang Kumail berpikir lebih bebas dan terbuka, menolak menelan mentah-mentah ajaran keluarganya. Apalagi begitu ia jatuh cinta pada Emily, seorang gadis kulit putih.
Ditulis selaku curahan personal membuat The Big Sick begitu dekat bagi penonton yang turut mengalami hal serupa. Karena pembuatnya memahami betul inti persoalan, konflik benturan budaya dan generasi, juga kepercayaan yang melibatkan gesekan dengan orang tua mampu disampaikan melalui ragam situasi familiar. Saya misalnya, pernah seperti Kumail, berpura-pura mematuhi perintah orang tua untuk solat dengan cara masuk ke kamar kemudian menanti selama lima menit. Kedekatan demikian berhasil menambah bobot filmnya, bukan semata presentasi, pula sanggup mewakili.
Sebagai gambaran, menolak perjodohan dan enggan menaati ajaran agama berpotensi membuat Kumail tak lagi dianggap keluarga. Resiko luar biasa besar, sebab tidak peduli serumit apa problematika makro di dunia, masalah personal dalam lingkup keluarga bakal lebih memancing gejolak perasaan. Kumail menjadikan The Big Sick media meluapkan isi hati termasuk amarah, sebagaimana saat karakternya mengamuk ketika kesulitan memesan burger yang diinginkan (adegan ini pun memiliki benang merah terhadap tema besar terkait kekakuan pola pikir). Namun darah komedian sepertinya mengalir terlalu deras dalam diri Kumail, alhasil konflik pelik pun tetap dibalut menggelitik.
Di sini alasan The Big Sick terasa spesial. Bahkan sewaktu momen dramatis menerjang, kita masih dibuat tergelak berkat baris-baris kalimat tulisan Kumail dan Emily maupun sederet komedi situasi yang seolah berkata "apabila segalanya terlampau sulit, tertawakan saja". Barisan pemainnya mendukung pendekatan tersebut. Jajaran penampil utama wanita, Zoe Kazan dan Holly Hunter (sebagai Beth, ibu Emily) mempesona lewat pembawaan dinamis nan energik. Khususnya Hunter yang melahirkan karakter ibu menarik, yang gemar duduk dengan mengangkat satu kaki, lalu tidak segan terlibat keributan di klub komedi. Sebaliknya, para pria yang diwakili Kumail Nanjiani dan Ray Romano (sebagai Terry, ayah Emily) lebih pasif. Namun di balik kediaman itu tersimpan hati yang didasari usaha membuktikan cinta mereka meski sempat melukai perasaan pasangan.
Film ini juga mencontohkan apa yang disebut ending sempurna. Cukup sebuah momen singkat berbentuk konklusi sesuai harapan, yang membawa karakternya maju ke depan sembari sejenak mengunjungi masa lalu yang mengawali semuanya. Sutradara Michael Showalter (Hello, My Name Is Doris) paham betul substansi adegan penutup itu, menolak berlebihan mendramatisasi. Ibarat suatu lagu, Showalter enggan menggunakan orkestra mewah bernuansa megah, cukup memanfaatkan instrumen serta pilihan nada sesuai yang tepat mengenai sasaran berupa emosi penonton.
Oktober 04, 2017
Bagus
,
Comedy
,
Emily V. Gordon
,
Holly Hunter
,
Kumail Nanjiani
,
Michael Showalter
,
Ray Romano
,
REVIEW
,
Romance
,
Zoe Kazan
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





