Tampilkan postingan dengan label Kumail Nanjiani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumail Nanjiani. Tampilkan semua postingan

REVIEW - ETERNALS

Eternals dibuka oleh teks mitologis, tentang dikirimnya 10 Eternals oleh Celestial (di komik merupakan salah satu ras pertama di alam semesta) bernama Arishem, sekitar 5000 tahun SM, guna menumpas monster yang disebut Deviant. Muncul kesan yang belum pernah ada di film MCU lain. Layaknya epos, daripada kisah pahlawan super kekinian.

Bukan cuma pembukaannya saja, seluruh presentasi film garapan Chloé Zhao ini, hingga ke momen penutupnya, memang berbeda dengan judul-judul Marvel Studios sebelumnya. Kesepuluh jagoan kita pun, ketimbang superhero, rasanya lebih cocok disebut "utusan Tuhan", dalam kisah bernuansa spiritual tentang proses mempertanyakan keimanan.

Mari berkenalan dulu dengan para Eternals. Ajak (Salma Hayek) selaku pemimpin dengan kekuatan penyembuhan, Kingo (Kumail Nanjiani) bisa menembakkan sinar kosmik dari tangannya, Sprite (Lia McHugh) mampu menciptakan ilusi, Phastos (Brian Tyree Henry) sang penemu, Makkari (Lauren Ridloff) sang pemilik kecepatan super, Druig (Barry Keoghan) sanggup memanipulasi pikiran, Gilgamesh (Don Lee) si Eternal terkuat dari segi kemampuan fisik, Thena (Angelina Jolie) si prajurit legendaris, Sersi (Gemma Chan) dengan kemampuan memanipulasi materi lewat sentuhan, dan terakhir, ada Ikaris (Richard Madden) yang perkasa.

Bisakah karakter sebanyak itu diperkenalkan, lalu tampil menarik hanya dalam satu film? Nyatanya bisa. Setidaknya, masing-masing memiliki ciri yang mudah diingat, baik berkat penokohan di naskah atau penampilan pemainnya. Chan adalah figur ethereal, Jolie bak dewi tangguh berharga diri tinggi, sedangkan akting Hayek, sebagai "sosok ibu", memunculkan komparasi menarik dengan perannya di Hitman's Wife's Bodyguard, bukti bahwa ia merupakan aktris versatile. 

Selama ribuan tahun, selain menumpas Deviant, Eternals juga membantu perkembangan umat manusia, khususnya terkait ilmu pengetahuan. Tentu sejarah mencatat eksistensi mereka, dan di sini penonton akan tahu asal-usul kisah Ikaros dan Athena versi MCU. Mereka pun boleh menjalani hidup sebagaimana manusia. Misalnya seperti Kingo yang terkenal sebagai bintang Bollywood, atau Sersi yang menjalin romansa dengan manusia biasa bernama Dane (Kit Harington). Tetapi ada satu aturan: Eternals pantang mencampuri konflik umat manusia. 

Dari situlah sumber dilema berasal. Selama ini, para Eternals setia pada Arishem, menuruti perintahnya tanpa sekalipun mempertanyakan, serupa kesetiaan manusia terhadap Sang Pencipta. Ketika suatu fakta terungkap, timbul krisis keimanan. 

Naskah karya Chloé Zhao, Patrick Burleigh, Ryan Firpo dan Kaz Firpo, secara tajam menyampaikan cerita soal bagaimana makhluk (termasuk manusia), berhak mengutamakan hidup mereka di atas "takdir" yang telah digariskan penciptanya, meski itu bertentangan dengan kepercayaan yang dianut selama ini. Tidak ada "pengorbanan atas nama kebaikan yang lebih besar". Zhao berdiri bersama kemanusiaan.

Kesan humanis tersebut turut nampak dalam kesan diversit-nya terkait penokohan. Phastos menjadi superhero gay pertama di MCU, sementara Makkari berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat (juga yang pertama kalinya ada superhero tuli di MCU). 

Tapi Zhao bukan sedang menampik spiritualitas. Apalagi Eternals sendiri digambarkan bak mesias dengan segala keajaiban yang mereka pakai guna menuntun umat manusia. Zhao tidak melawan "higher power", namun menyampaikan, bahwa spiritualitas dapat disentuh tanpa harus mengerdilkan kemanusiaan, walau secara ukuran, manusia tidak ada apa-apanya dibanding semesta. Di situlah terjadi peleburan narasi dan visual. Apabila narasi Eternals (jiwa) "membesarkan" kemanusiaan, visualnya (raga), senada dengan karya Terrence Malick (dan meninggalkan kesan serupa Dune milik Denis Villeneuve), menggambarkan masifnya semesta. Indah, megah, magis. 

Ada setumpuk cerita yang Eternals ingin sampaikan, khususnya perihal mitologi. Meski perpindahan latar waktunya beberapa kali kurang rapi, pun naskahnya agak terlalu bergantung pada eksposisi, paparan mitologi ini, selain memperluas cakupan MCU ke ranah kosmik yang kompleks, juga luar biasa menarik. Mengikat. Durasi 157 menit seolah berlalu begitu saja.

Elemen di atas penting, mengingat Eternals tidak mengandung spektakel sebanyak film MCU biasanya. Tentu bukan berarti filmnya melulu tampil serius. Komedi tetap mengiringi, yang mana jadi panggung bagi gaya deadpan Brian Tyree Henry, juga Harish Patel sebagai Karun si pelayan Kingo, yang secara mengejutkan, mencuri perhatian sebagai manusia biasa di tengah para dewa. 

Eksekusi aksinya cukup solid. Zhao jelas mengambil beberapa inspirasi dari Zack Snyder (minus gerak lambat), baik dalam karakterisasi Ikaris yang bak Superman (kekokohan fisik serta gestur Richard Madden makin memperkuat kesan ini), hingga baku hantam yang meletup-letup layaknya meriam. Terlebih, Eternals mempunyai Don Lee alias Ma Dong-seok alias "Korean One Punch Man", yang sanggup merobohkan Deviant sekali pukul.

Puncak pertarungannya mungkin agak antiklimaks, sebab film dengan cakupan kisah seluas ini patut diberi klimaks berskala lebih besar, namun di sisi lain, itu bisa dimengerti, mengingat aksi terakhirnya memang soal "menghentikan" alih-alih "menghancurkan". Jangan lupakan pula mid-credits scene dan post-credits scene, yang menampilkan beberapa tokoh penting untuk masa depan MCU (termasuk cameo suara yang mungkin akan terlewatkan identitasnya).

THE LOVEBIRDS (2020)

The Lovebirds jelas dibuat atas kesadaran perihal diversity (baik perspektif humanis maupun bisnis). Kisahnya mengenai romansa antarras pria Pakistan-Amerika dengan wanita Afrika-Amerika. Di tengah cerita, keduanya sempat berbagi Lyft dengan pria kulit putih dan wanita Asia-Amerika, yang kebetulan juga sepasang kekasih. Pada titik itu diversity-nya terlalu on-the-nose, tapi mau bagaimana lagi? Fase ini diperlukan agar Hollywood bisa tiba di titik di mana film dengan tokoh multikultural jadi pemandangan biasa.

Masalahnya bukan tentang hubungan beda ras protagonisnya, namun untuk film berjudul “The Lovebirds”, kedua protagonis kita tidak tampak seperti...well, the lovebirds. Kumail Nanjiani dan Issa Rae memikat sebagai pasangan komedik, bukan romantis. Ketimbang kekasih yang hubungannya retak, mereka lebih seperti sahabat yang selalu bersama, atau malah tinggal di satu atap meski tanpa perasaan lebih. The Lovebirds memang dipenuhi hal-hal yang menuntut pemakluman penontonnya agar dapat dinikmati.

Jibran (Kumail Nanjiani) adalah pembuat dokumenter yang tak menghasilkan uang. Leilani (Issa Rae) terobsesi mengikuti The Amazing Race. Jibran menganggap Leilani berpikiran dangkal, Leilani merasa Jibran seorang yang gagal. Mereka baru saja sepakat mengakhiri hubungan di tengah jalan menuju pesta saat mobil yang dikendarai tiba-tiba menabrak pria penunggang sepeda. Pria tersebut bertingkah mencurigakan, buru-buru kabur tanpa bersedia dipanggilkan ambulans. Lalu datang pria lain (Paul Sparks), yang oleh Jibran dan Leilani dipanggil “Moustache”.

Moustache mengaku sebagai polisi, mengambil alih mobil mereka untuk mengejar si penunggang sepeda, kemudian melindasnya sampai mati. Di tengah kekacauan, datang dua pejalan kaki yang menuduh Jibran dan Leilani telah melakukan pembunuhan dan menelepon polisi. Keduanya panik, lalu melarikan diri, setelah meyakini bahwa sebagai minoritas, polisi takkan berbaik hati memberikan praduga tak bersalah.

Mengingat kerapnya aparat bertindak tidak adil terhadap minoritas, keputusan mereka bisa diterima. Bodoh, tapi dapat dimengerti. Sampai datang deretan keputusan-keputusan bodoh lain yang oleh Aaron Abrams dan Brendan Gall selaku penulis naskah, dipaksakan hadir demi menggulirkan alur. Salah satu kebodohan paling fatal adalah ketidakmampuan Jibran, sebagai pembuat dokumenter, menyadari satu hal yang bisa membuktikan ia dan sang (mantan) kekasih tidak bersalah. Satu hal yang akhirnya juga dipakai film ini sebagai jalan keluar.

Sejatinya The Lovebirds punya ide dasar yang cukup guna menyokong absurditas dalam film semacam ini, dengan melibatkan misteri pembunuhan, konspirasi, hingga rahasia "nakal" para penguasa, tapi eksplorasinya tidak cukup berani (atau kreatif?) untuk melangkah ke jalur yang lebih liar. Sempat tercipta suasana menegangkan kala protagonis kita menyusup ke sarang musuh dan nyaris ketahuan. Saya pun antusias menanti bagaimana filmnya bakal menyelesaikan itu. Antusiasme itu gagal terbayar, saat lagi-lagi rute tidak kreatif ditempuh, yang berujung pada unsur dipaksakan lain. Kali ini mengenai polisi yang terlalu bodoh mengambil sikap ketika menyadari ada mata-mata dalam tubuh mereka.

Humornya mayoritas berasal dari banter yang seringkali berkembang jadi adu argumen konyol, ditambah beberapa komedi situasi. Walau tak cukup kuat menjalin chemistry romantis, Nanjiani dan Rae tampil prima perihal memancing tawa. Keduanya tahu bagaimana harus bereaksi atas banyolan satu sama lain, berimprovisasi, dan menyelamatkan beberapa materi medioker lewat gaya histerikal masing-masing.

Komedinya cukup efektif, namun jauh dari kesan segar, pun sang sutradara, Michael Showalter (The Big Sick) kurang piawai mengolah adegan supaya bertenaga. Sama seperti keseluruhan filmnya, yang sebatas pengulangan lebih lemah dari tontonan-tontonan serupa yang telah ada sebelumnya. The Lovebirds diisi deretan keklisean. Bahkan dua tokoh utamanya menyanyikan lagu klise: Firework. Tapi berbeda dengan lagu Katy Perry tersebut, film ini tak punya gairah kuat yang mampu menyemarakkan hari penontonnya.


Available on NETFLIX

STUBER (2019)

Di tengah kurangnya asupan film bagus (sejak The Lion King belum sekalipun saya memberi penilaian positif), saya tak menempatkan ekspektasi tinggi terhadap Stuber, mengingat belakangan, buddy action comedy bermutu semakin jarang. Sampai Dave Bautista dan Kumail Nanjiani datang, memperlihatkan bagaimana semestinya sub-genre satu ini diperlakukan.

Victor (Dave Bautista) adalah polisi tangguh yang terobsesi meringkus bandar narkoba bernama Tedjo (Iko Uwais). Obsesi itu merenggangkan hubungannya dengan sang puteri, Nicole (Natalie Morales). Bahkan Victor melupakan malam pameran karya seni Nicole, lalu menjadwalkan operasi lasik beberapa jam sebelumnya, membuat penglihatannya terganggu sepanjang hari. Berusaha memastikan kehadiran ayahnya, Nicole memaksa Victor mengunduh Uber.

Seperti kita ketahui bersama, kedatangan Victor bakal terganggu. Gangguan itu berbentuk laporan dari seorang informan bahwa malam itu Tedjo akan melakukan transaksi. Akibat kondisi mata yang tak memungkinkannya menyetir, Victor pun memesan Uber. Di situlah ia bertemu Stu (Kumail Nanjiani), sopir Uber yang susah payah mempertahankan rating empat, sebab kurang dari itu, ia akan kehilangan pekerjaan.

Stu tidak kalah buru-buru. Selepas mengakhiri hubungan dengan pacarnya, Becca (Betty Gilbin), gadis yang diam-diam Stu cintai, memintanya datang untuk berhubungan seks (sambil mabuk dan menonton When Harry Met Sally). Intinya, Becca ingin menjadikan Stu pelampiasan. Sebuah bumper. Sial bagi Stu, ini bukan perjalanan bintang lima mulus sebagaimana dia harapkan.

Alih-alih melesat menuju rumah Becca, Stu terjebak bersama Victor dalam satu hari gila penuh baku tembak, kejar-kejaran mobil, dan mayat-mayat bergelimpangan. Karena kondisi penglihatan Victor tengah memburuk, kebutuhannya akan bantuan Stu jadi suatu hal logis. Setidaknya, elemen itu bisa meminimalisir rasa janggal di benak penonton, karena keduanya sama-sama terpaksa, tidak berdaya, dan tak punya opsi lain.

Buddy movie wajib punya dua protagonis dengan kepribadian berlawanan, dan Stuber memenuhi itu, bahkan menjadikan perbedaan mereka jalan menyentil konsep maskulinitas. Bagi Victor laki-laki tidak boleh menangis, hatinya mesti sekeras batu, dan menganggap kelembutan sebagai kelemahan. Sebaliknya, Stu adalah sosok sensitif yang cenderung mengandalkan otak, pula percaya jika laki-laki berhak meneteskan air mata.

Naskah karya Tripper Clancy (Four Against the Bank, Hot Dog) belum maksimal memanfaatkan ciri menarik para protagonis, di mana Stuber cenderug menggambarkan gesekan mereka lewat adu mulut repetitif nan seadanya, ketimbang gambaran kreatif saat Victor dan Stu saling mengisi lewat keunggulan masing-masing, semisal saat Stu membantu Dave menggali informasi dengan cara “menyiksa” seorang penjahat.

Daya bunuh humornya juga terpengaruh, karena perihal mengocok perut pun filmnya main aman. Leluconnya minim kegilaan pendukung premis “kacaunya”, pula tak seberapa segar selaku pemicu tawa-tawa tak terduga. Untung ada Dave dan Kumail. Kunci sukses keduanya terletak di keengganan tampak konyol secara berlebih. Bahkan mereka bak tidak sedang melawak, tapi menunjukkan respon wajar kala dua orang terjebak dalam situasi yang sukar dipercaya. Khususnya Kumail. Didasari kebutuhan membangun dinamika, tokoh utama buddy comedy wajib diisi satu figur serius dan seorang “badut”, dan saya lelah melihat para badut bersikap seolah mereka adalah manusia terbodoh di dunia. Kumail berbeda. Stu histerikal, namun sesuai kondisi dan situasi.

Satu elemen lagi yang menghalangi Stuber menjadi “perjalanan bintang lima” adalah adegan aksinya. Baku hantam komedik Stu melawan Victor di pusat perbelanjaan memang percampuran sempurna aksi dengan komedi, namun selain itu, gampang dilupakan. Koreografi garapan Iko (memadukan bela dirinya dan street fighting brutal milik Dave) dilemahkan oleh penyutradaraan Michael Dowse (FUBAR, Goon, What If) yang terjangkit penyakit  “quick cuts dan close up”. Bicara soal Iko, meski hanya diberi screen time pada sekuen pembuka dan klimaks, tidak seperti Triple Threat, Stuber menghormati sang aktor, di mana kehadirannya berpengaruh, pun ia berkesempatan membuat Dave Bautista babak belur.  

THE BIG SICK (2017)

Di salah satu adegan The Big Sick, Emily (Zoe Kazan) menyatakan ingin mendengar lebih banyak tentang sisi personal kekasihnya, Kumail (Kumail Nanjiani memerankan dirinya sendiri). Pernyataan itu terlontar pasca Kumail menampilkan pertunjukan monolog di mana ia mengisahkan budaya serta kebiasaannya sebagai anggota keluarga Pakistan. Momen tersebut mewakili pesan utama filmnya, bahwa "Jati diri seseorang ditentukan oleh pribadinya, bukan ras, agama, atau asal negara". Terdengar klise, tapi sungguh pesan penting nan relevan, tidak saja untuk konteks kondisi sosial Amerika Serikat, pula seluruh dunia sekarang.

Ditulis naskahnya oleh pasangan suami istri, Kumail Nanjiani dan Emily V. Gordon, The Big Sick bersifat semi-autobiografi, mengambil intisari masalah mereka selama berpacaran, sebelum menikah pada 2007. Menjadi anak imigran Pakistan yang tumbuh besar di Chicago menghadirkan benturan bagi Kumail. Kedua orang tuanya adalah pemeluk Islam taat sekaligus masih memegang teguh adat istiadat Pakistan, termasuk mengatur perjodohan bagi anak-anaknya. Sebaliknya, hidup di Amerika merangsang Kumail berpikir lebih bebas dan terbuka, menolak menelan mentah-mentah ajaran keluarganya. Apalagi begitu ia jatuh cinta pada Emily, seorang gadis kulit putih.
Ditulis selaku curahan personal membuat The Big Sick begitu dekat bagi penonton yang turut mengalami hal serupa. Karena pembuatnya memahami betul inti persoalan, konflik benturan budaya dan generasi, juga kepercayaan yang melibatkan gesekan dengan orang tua mampu disampaikan melalui ragam situasi familiar. Saya misalnya, pernah seperti Kumail, berpura-pura mematuhi perintah orang tua untuk solat dengan cara masuk ke kamar kemudian menanti selama lima menit. Kedekatan demikian berhasil menambah bobot filmnya, bukan semata presentasi, pula sanggup mewakili. 

Sebagai gambaran, menolak perjodohan dan enggan menaati ajaran agama berpotensi membuat Kumail tak lagi dianggap keluarga. Resiko luar biasa besar, sebab tidak peduli serumit apa problematika makro di dunia, masalah personal dalam lingkup keluarga bakal lebih memancing gejolak perasaan. Kumail menjadikan The Big Sick media meluapkan isi hati termasuk amarah, sebagaimana saat karakternya mengamuk ketika kesulitan memesan burger yang diinginkan (adegan ini pun memiliki benang merah terhadap tema besar terkait kekakuan pola pikir). Namun darah komedian sepertinya mengalir terlalu deras dalam diri Kumail, alhasil konflik pelik pun tetap dibalut menggelitik.
Di sini alasan The Big Sick terasa spesial. Bahkan sewaktu momen dramatis menerjang, kita masih dibuat tergelak berkat baris-baris kalimat tulisan Kumail dan Emily maupun sederet komedi situasi yang seolah berkata "apabila segalanya terlampau sulit, tertawakan saja". Barisan pemainnya mendukung pendekatan tersebut. Jajaran penampil utama wanita, Zoe Kazan dan Holly Hunter (sebagai Beth, ibu Emily) mempesona lewat pembawaan dinamis nan energik. Khususnya Hunter yang melahirkan karakter ibu menarik, yang gemar duduk dengan mengangkat satu kaki, lalu tidak segan terlibat keributan di klub komedi. Sebaliknya, para pria yang diwakili Kumail Nanjiani dan Ray Romano (sebagai Terry, ayah Emily) lebih pasif. Namun di balik kediaman itu tersimpan hati yang didasari usaha membuktikan cinta mereka meski sempat melukai perasaan pasangan.

Film ini juga mencontohkan apa yang disebut ending sempurna. Cukup sebuah momen singkat berbentuk konklusi sesuai harapan, yang membawa karakternya maju ke depan sembari sejenak mengunjungi masa lalu yang mengawali semuanya. Sutradara Michael Showalter (Hello, My Name Is Doris) paham betul substansi adegan penutup itu, menolak berlebihan mendramatisasi. Ibarat suatu lagu, Showalter enggan menggunakan orkestra mewah bernuansa megah, cukup memanfaatkan instrumen serta pilihan nada sesuai yang tepat mengenai sasaran berupa emosi penonton. 

THE LEGO NINJAGO MOVIE (2017)

Ninja itu keren, begitu pun mecha. Ketika Lego, yang notabene juga digemari menggabungkan keduanya, garansi kesuksesan jelas didapat. Melahirkan lebih dari 100 set serta tujuh musim penayangan serial televisi Lego Ninjago: Masters of Spinjitzu adalah bukti nyata. Bicara sisi komersial, adaptasi layar lebar selaku installment ketiga seri film lego ini rasanya bakal bernasib serupa. Sedangkan soal kualitas, baik The Lego Movie maupun The Lego Batman Movie sama-sama berkelas, khususnya berkat humor yang cerdas memainkan kata, menyelipkan budaya populer, sampai lelucon meta. Digawangi oleh tiga sutradara plus enam penulis naskah, The Lego Ninjago Movie berusaha keras meniru pencapaian para pendahulunya.

Itu yang nampak sejak menit pertama, ketika menampilkan manusia sungguhan dalam wujud pemilik toko benda antik (Jackie Chan) yang menceritakan kisah kepahlawanan Lloyd Garmadon (Dave Franco) pada seorang bocah. Kecuali memberi panggung bagi Chan serta menyiratkan keterlibatan seekor kucing, substansi adegan pembuka ini layak dipertanyakan. Setelah memasuki dunia animasi, kemeriahan langsung menyambut kala mecha milik keenam ninja, Lloyd, Kai (Michael Pena), Jay (Kumail Nanjiani), Nya (Abbi Jacobson), Cole (Fred Armisen) dan Zane (Zach Woods) bertempur melawan pasukan Lord Garmadon (Justin Theroux). 
Kekacauan dan keabsurdan serupa tapi tanpa daya setara. Bukan semata masalah sudah familiar  The Lego Batman Movie tetap segar  melainkan karena keenam penulis menyalin mentah-mentah formula kesuksesan film sebelumnya, melemparkan sebanyak mungkin referensi budaya populer sampai permainan kata sambil berharap ada yang kena sasaran. Hasilnya inkonsisten. Sesekali ada kelakar pintar, walau lebih banyak materi medioker, klise, nan predictable misal ungkapan "it's a smash!" dari Cole saat mecha miliknya yang dimotori turntable menghancurkan musuh. Pendekatan "quantity over quality" untuk balutan komedi meniadakan pesona The Lego Ninjago Movie.

Visualnya masih memanjakan mata, termasuk desain mecha yang menggoda untuk merogoh kocek dalam-dalam guna mengoleksinya. Sayangnya kreativitas segenap tim sutradara beserta penulis naskah menyikapi karakter dan setting yang tersusun atas setumpuk lego hanya sebatas hal dasar seperti memasang kaki Garmadon ke kepala Master Wu (Jackie Chan). Sisanya, untuk kali pertama dalam franchise-nya, gelimang lego-lego dibiarkan tersia-sia, sebatas hiasan warna-warni. Imajinasi terliar justru muncul saat kucing asli menghancurkan kota akibat terpancing sinar laser. Momen lucu sekaligus aneh yang jarang terulang.
Porsi drama tetap mengandung pesan, kali ini seputar jati diri dan hubungan ayah-anak. Kental akan referensi Star Wars mengenai seorang anak bertarung menumpas kejahatan sang ayah yang melibatkan tangan kanan yang terputus, dinamika Lloyd-Garmadon mencapai titik unik begitu dipaksa bekerja sama, mengesampingkan ego sambil menyambung ulang ikatan antara keduanya. Namun tatkala Garmadon dengan segala rasa bingung akan tugas sebagai ayah memberi twist menarik, tidak demikian pada Lloyd yang sulit mencuri hati. Apalagi di antara riuh rendah kekacauan aksinya, The Lego Ninjago Movie kurang menyisihkan waktu menangani kompleksitas masalah si protagonis.

Tapi Lloyd lebih beruntung daripada kelima rekannya, di mana kecuali ragam bentuk mecha keren, mereka nampak serupa satu sama lain. Zane si robot cukup menonjol tindak-tanduknya, namun bicara kepribadian, kelimanya sulit dibedakan, sekedar tampil di pusat petualangan tanpa melakukan hal berarti. Apabila The Lego Batman Movie merupakan versi alternatif atau parodi bagi Batman, The Lego Ninjago Movie adalah hal yang sama untuk ninja. Demikian semestinya, sampai film berakhir, dan para ninja lebih banyak mengandalkan mecha ketimbang ilmu bela diri khasnya. Jurus Spinjitzu yang melibatkan elemen alam masing-masing pun sekedar sekilas mengisi di penghujung durasi tanpa kesan.