Tampilkan postingan dengan label Mike Flanagan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mike Flanagan. Tampilkan semua postingan

DOCTOR SLEEP (2019)

The clarity of the storytelling is what makes it special”, puji Stephen King pada Doctor Sleep, film adaptasi novel berjudul sama karyanya. Apakah ucapan itu bermakna ganda? Apakah King diam-diam sedang membandingkan film ini dengan The Shining (1980), yang sebagaimana publik tahu, kerap ia kritisi? Pastinya, penuturan Doctor Sleep memang lebih “jelas”, menyisakan lebih sedikit ambiguitas, pula menjawab beberapa pertanyaan yang ditinggalkan horor klasik milik Stanley Kubrick tersebut.

Disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Mike Flanagan (Hush, Ouija: Origin of Evil, Gerald’s Game), Doctor Sleep ibarat jembatan visi King dan Kubrick, di mana elemen novel serta filmnya digabungkan. Flanagan mengkreasi ulang beberapa momen dari film Kubrik, baik berupa flashback (Danny bersepeda mengitari Hotel Overlook) maupun easter eggs, misalnya saat Danny Torrance (Ewan McGregor) ditawari pekerjaan, yang punya latar, konteks, bahkan shot serupa adegan wawancara kerja sang ayah, Jack Torrance.

Flanagan bukan sedang pamer gaya semata. Sekitar 31 tahun pasca tragedi Hotel Overlook, Danny memang bak cerminan Jack. Trauma ditambah usaha menekan kemampuan supernaturalnya (disebut “shining”) menenggelamkannya dalam alkoholisme. Dia hidup tanpa arah, sampai bertemu Billy Freeman (Cliff Curtis), yang membantunya lepas dari kecanduan serta mendapat pekerjaan sebagai perawat rumah sakit. Di sana, Danny mulai memakai lagi shining-nya, guna membantu pasien menemukan ketenangan menjelang ajal. Julukan “Doctor Sleep” pun melekat padanya.

Tapi sejak opening, kita tahu bahwa pemilik shining bukan Danny seorang, kala tokoh Rose (Rebecca Ferguson) diperkenalkan. Rose memimpin kelompok kultus bernama True Knot, yang memburu anak-anak spesial seperti Danny. Memakai “topi tukang sulap”, Rebecca Ferguson kembali sanggup menyihir lewat pesonanya. Dialah satu dari sedikit aktris modern yang punya pancaran aura layaknya bintang-bintang Hollywood era Golden Age. Kali ini pancaran itu ia salurkan ke arah mistisisme, menjadikan karakternya antagonis yang berkesan.

Melompat ke tahun 2019, Danny memulai komunikasi dengan sesamanya, gadis 13 tahun bernama Abra Stone (Kyliegh Curran). Keduanya berinteraksi melalui tulisan kapur di dinding kamar Danny. Dan sejak titik ini Flanagan mulai membelokkan pendekatan filmnya. Seperti The Shining, Doctor Sleep enggan mengandakan jump scare. Tapi tidak seperti The Shining, pasca melalui fase kontemplatif di awal, Doctor Sleep bertransformasi jadi film pahlawan super membumi berkedok horor psikologis.

Walau berjalan dalam tempo medium penuh kesabaran, film ini cenderung action-oriented, bahkan menyimpan adegan baku tembak. Flanagan melakukan apa yang dilakukan James Cameron dalam Aliens (1986), yakni mengambil esensi pendahulunya, kemudian mengeksplorasi potensinya, membawa kelanjutan kisahnya ke ranah baru berskala lebih besar. Penulisan Flanagan membuat transformasi itu terasa seperti progres alamiah ketimbang usaha mengkomersialkan karya.

Sebab fokus Doctor Sleep tetap soal proses karakternya berdamai. Danny mesti berdamai dengan ayahnya, dengan trauma masa lalu, juga dengan dirinya sendiri termasuk shining miliknya. Artinya, merupakan hal logis saat filmnya berfokus pada kekuatan super karakternya. Di sinilah kreativitas Flanagan berperan. Konfrontasi shining antar karakter tidak cuma baku hantam generik, melainkan visualisasi magis nan imajinatif, yang tidak mengenal batasan ruang dan waktu. Pun napas horor tak lupa Flanagan hembuskan, dari sentuhan gore hingga deretan creepy imageries.

Seperti Kubrick, Flanagan, yang juga mengemban posisi editor, menerapkan efek transisi dissolve yang kerap memancing ilusi, seolah dua gambar berbeda menyatu di satu frame. Tapi teknik penyuntingan Flanagan yang paling memikat adalah ketika di sebuah adegan, ia secara cerdik memvisualisasikan situasi di mana dua karakter berada dalam satu sudut pandang. Bukan saja dinamis, momen tersebut membuktikan kebolehannya sebagai seorang pencerita gambar yang baik.

Setelah melalui perjalanan panjang namun padat dan tidak melelahkan, babak ketiganya membawa kita kembali mengunjungi lokasi familiar. Sempat terbuai nostalgia sehingga bergulir agak terlalu lama (nostalgia yang mestinya bisa lebih berdampak andai Flanagan bersedia memakai bantuan CGI), Doctor Sleep menyuguhkan klimaks sekaligus konklusi memuaskan atas kisah yang membentang selama puluhan tahun. Tidak semua babak lanjutan suatu film klasik berujung pencemaran nama baik, selama—seperti Flanagan—fokusnya bukan pada usaha replikasi, melainkan eksplorasi.

GERALD'S GAME / BRAWL IN CELL BLOCK 99 / GOOD TIME

Karena serangkaian kesibukan, banyak sekali film yang belum ditonton dan ditulis. Permintaan mengulas judul-judul di luar rilisan bioskop mendorong saya merasa perlu tetap membuat review, tapi karena penulisan review penuh seperti biasa butuh waktu 2-4 jam, mustahil rasanya menerapkan itu di semua film. Akhirnya saya memilih review pendek khusus bagi FILM NON-BIOSKOP, di mana tiap artikel memuat tiga judul, walau tak menutup peluang review panjang bakal sesekali dibuat, tergantung filmnya. 
GERALD'S GAME (2017)
Merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Stephen King, Gerald's Game mengisahkan sepasang suami istri, Gerald (Bruce Greenwood) dan Jessie (Carla Gugino) yang menghabiskan akhir pekan di kawasan terpencil, dengan tujuan menyelamatkan pernikahan mereka. Permainan seks nakal yang direncanakan Gerald berujung ancaman maut begitu kisahnya secara cerdik menghasilkan teror dari jalur tak terduga. Ini bukti ketajaman insting horor King yang oleh Mike Flanagan dan Jeff Howard mampu diterjemahkan dengan baik, termasuk beragam metafora, semisal soal kekangan pria terhadap wanita yang tertuang rapi. Horor psikologis, thriller satu lokasi, sampai sedikit bumbu supernatural tumpah ruah. Pada unsur supernatural, Flanagan mumpuni menyusun kesan atmosferik. Sementara jelang akhir, sang sutradara tidak ragu memberi gore eksplisit nan detail yang dapat membuat penonton mengalihkan tatapan. Gugino memikat, nyaris seorang diri memanggul beban menyampaikan ketegangan hingga rasa sakit. Dia pun tak kalah solid melakoni fase dialogue-based filmnya, tatkala naskah Gerald's Game jeli mengolah psikis Jessie dalam presentasi tentang kematian, pernikahan, dan masa lalu traumatik. (4/5)

BRAWL IN CELL BLOCK 99 (2017)
This is a weird movie for some reasons. Pertama karena Vince Vaughn melawan typecasttampil intimidatif, bahkan saat kamera menyoroti sisi belakangnya, memperlihatkan kepala botak berhiaskan tato salib. Kedua, terkait tone. Brawl in Cell Block 99 dibuka bagai drama realis kelam mengenai Bradley Thomas (Vince Vaughn) yang dihantam pemecatan lalu perselingkuhnya sang istri (Jennifer Carpenter). Sutradara S. Craig Zahler (Bone Tomahawk) merangkai tempo lambat plus nuansa low-key. Namun begitu setting berganti, filmnya bertransformasi, menampilkan penjara maximum security tak masuk akal dengan Tuggs (Don Johnson) sebagai kepala penjara keji nan komikal, sampai kekerasan over-the-top saat kepala manusia dengan mudahnya remuk seperti kue. Uniknya, aura kontemplatif bertahan sepanjang film, yang akan seketika menguap sewaktu Bradley terlibat baku hantam. Brawl in Cell Block 99 tak ubahnya Riki-Oh versi gritty. Kisah Bradley terasa ironis, sebab sejak awal ia berniat memperbaiki hidupnya dan sang istri, hanya untuk dipaksa berjuang pindah dari sel "nyaman" menuju "lubang neraka". Sempat muncul inkonsistensi tone, tapi hawa menusuk penjara kumuh, kekerasan tinggi, pula terjaganya intensitas, berujung menghasilkan b-movie menyenangkan. (3.5/5)

GOOD TIME (2017)
Disutradarai Safdie Brothers, Good Time merupakan drama spesial karena bisa tampil kritis tanpa perlu menjadi ekstrimis. Karakternya melanggar hukum atas nama persaudaraan, namun kriminalitas tidak dijustifikasi. Si karakter adalah Connie (Robert Pattinson), yang mengajak adiknya, Nick (Ben Safdie), selaku penderita gangguan mental untuk merampok bank. Connie mendukung Nick, membuatnya merasa berharga dan berguna, memanusiakannya. Tatkala terjadi kekacauan dan Nick tertangkap polisi, Connie bersedia menempuh segala cara demi membebaskannya. Kisah kasih persaudaraan ditekankan, tapi tanpa glorifikasi tindak kejahatan, memastikan ada harga yang wajib dibayar. Estetika "hipster" pada scoring synth ala 80-an serta pencahayaan warna-warni yang kini makin klise masih diandalkan, namun setidaknya, di departemen musik Oneohtrix Point Never memberi modifikasi berupa aransemen liar pula trippy. Serupa karakternya, Good Time bergerak bak tengah berlari berkat pengarahan chaotic nan dinamis Safide Brothers. Tidak melulu sprint, tapi cukup menjaga kerapatan intensitas. Sementara Robert Pattinson dengan jenggot berantakan langsung menggebrak sejak awal kemunculan, senantiasa menggoncang situasi lewat performa paling powerful sepanjang karirnya. (4/5)

OCULUS (2014)

Tahun 2013 lalu berhasil memberikan harapan besar pada franchise horror mainstream dengan kesuksesan The Conjuring (review) dan Insidious: Chapter 2 (review) milik James Wan. Tidak hanya sukses secara finansial, kedua film tersebut merupakan sajian horror dengan scare jump yang cukup mengagetkan dan kreatif setidaknya bagi saya. Karena itulah saat saya mendengar tentang perilisan Oculus lengkap dengan segala pujian tentangnya saya pun semakin menanti film garapan sutradara Mike Flanagan ini. Berasal dari film pendek karya Mike Flanagan sendiri yang berjudul Oculus: Chapter 3 - The Man with the Plan, film ini sesungguhnya bukanlah sebuah film horror "besar" layaknya dua film James Wan yang saya sebutkan diatas. Diproduksi oleh WWE Studio, Oculus hanya mempunyai bujet sebesar $5 juta. Tapi justru itulah yang menarik dari film ini. Menarik melihat bagaimana Mike Flanagan akan memanfaaatkan bujet minim tersebut. Menarik juga menantikan bagaimana Oculus akan memberikan kengerian pada penontonnya dengan berbekal sebuah cermin tua sebagai sajian utamanya. Jadi semengerikan apakah cermin jahat yang memberikan teror dalam Oculus?

Filmnya akan membawa kita bolak-balik dari masa sekarang ke masa lalu tepatnya 11 tahun yang lalu. Adalah sepasang kakak beradik, Kaylie (Karen Gillian) dan Tim (Brenton Thwaites) yang akan jadi karakter utama disini. Tim kini baru saja diperbolehkan keluar dari rumah sakit jiwa tempat ia dirawat akibat trauma masa kecilnya, sedangkan Kaylie yang kini bertunangan dengan Michael (James Lafferty) menghabiskan banyak waktunya untuk melakukan penelitian sekaligus mencari keberadaan sebuah cermin. Cermin yang selama ini dicar Kaylie adalah sebuah cermin yang dipercaya menyimpan kekuatan supranatural jahat di dalamnya. Cermin itu jugalah yang 11 tahun lalu menjadi pemicu tragedi mengerikan yang terjadi di keluarga Kaylie dan Tim sekaligus yang membuat Tim pada akhirnya didiagnosis menderita gangguan jiwa akibat segala ceritanya tentang cermin jahat tersebut. Dengan segala terapi yang telah ia terima, Tim pun kini mulai meyakini bahwa segala cerita tentang cermin pembunuh tersebut hanya rekayasa belaka. Tapi belum lama ia keluar dari rumah sakit jiwa, Tim sudah harus bertemu lagi dengan cermin tersebut dan kembali ke rumah lama miliknya setelah Kaylie dengan segala rencan yang telah lama ia susun memutuskan bahwa sekarang adalah waktunya bagi mereka untuk menuntut balas dan memusnahkan iblis penunggu cermin tersebut.
Cermin memang bukan barang baru untuk dieksplorasi dalam film horror, tapi jelas potensinya luar biasa besar. Bahkan di dunia nyata pun cermin seringkali menjadi barang yang cukup mengerikan, apalagi jika cermin itu adalah cermin lama yang punya desain ukiran kayu yang klasik. Saya sendiri seringkali merasa tidak betah menatap cermin seperti itu karena merasa ada sosok yang mengawasi. Hal itulah yang menjadi potensi terbesar bagi Oculus. Mike Flanagan sendiri nampaknya sadar bahwa filmnya ini tidak hanya berpotensi bagus tapi juga berpotensi disandingkan dengan film-film horror sukses milik James Wan diatas. Karena itulah Flanagan mencoba pendekatan yang sedikit berbeda dan cukup unik disini. Alih-alih memberikan sebuah narasi yang linear, Flanagan mengemas Oculus dengan memadukan teror yang terjadi di masa sekarang saat Kaylie dan Tim coba menghancurkan cermin tersebut dengan flashback 11 tahun lalu saat keduanya masih kecil dan terjadi tragedi mengerikan yang menimpa keluarga mereka. Hal tersebut memang unik dan saya akui cukup menyegarkan melihat kedua plot yang silih berganti tersebut, Pengemasan Flanagan pun cukup menarik saat "menabrakkan" kedua alur tersebut tapi tetap membuatnya terasa sebagai sebuah satu kesatuan. Sayangnya teknik yang menarik itu tidak dibarengi dengan pembangunan tensi yang menarik pula.
Penggabungan dua plot bakal terasa maksimal jika ada penyelipan misteri di dalamnya yang membuat penonton bertanya-tanya apa yang terjadi, khususnya pada paruh flashback. Kemudian pada akhirnya saat kedua plot bertabrakan di konklusi maka akan tercipta sebuah klimaks dengan intensitas dan revelation yang memuaskan. Sayangnya Oculus tidak memiliki itu, dan yang terjadi pada akhirnya adalah film ini tetap terasa sebagai sebuah straight horror biasa meski dikemas dengan berbeda. Alurnya sendiri berjalan dengan cukup lambat bahkan seringkali terasa membosankan. Ironisnya, lagi-lagi hal ini terjadi akibat usaha Flanagan untuk membuat filmnya berbeda dari kebanyakan horror pada umumnya. Oculus bukanlah film yang setiap beberapa menit sekali menyajikan penampakan dengan memakai jump scare. Film ini lebih berusaha membangun atmosfer dan ketegangan lewat pikiran penontonnya. Usaha yang patut diapresiasi sebenarnya mengingat banyak film horror malas melakukan ini dan lebih memilih melakukan jump scare untuk mengageti penonton daripada menciptakan sebuah kengerian. Tapi sayangnya hal itu tidak berhasil. Kadangkala bahkan perpadua kedua plotnya terasa berantakan. Tidak membingungkan, hanya saja kekacauan itu membuat ketegangannya gagal terbangun. Beberapa jump scare yang dipakai juga sama sekali tidak menimbulkan efek shocking, malah beberapa diantaranya menggelikan.

Untungnya masih ada poin yang membuat Oculus terasa sebagai horror yang meneror, yaitu lewat aspek gore dan beberapa gambar-gambar disturbing yang ada. Beberapa adegannya terasa menyakitkan seperti adegan "makan lampu" dan sebagainya. Beberapa graifk yang ada khususnya saat Kaylie memperlihatkan foto-foto para korban dari cermin tersebut juga sanggup membuat imajinasi saya bermain-main dan berujung pada kengerian yang cukup efektif. Belum lagi ditambah dengan sebuah ending yang sebenarnya tidaklah terlalu mengejutkan tapi dieksekusi dengan jalan yang shcoking sehingga memberikan efek kejut yang cukup besar. Ya, saya menyukai ending-nya yang menguatkan kesan betapa jahatnya cermin terkutuk itu. Sampai disini Oculus terlihat akan mendapat penilaian positif dari saya, tapi sayangnya ada satu poin yang sangat mengganjal, yaitu kebodohan karakternya. Ya, saya tahu bahwa sebuah film horror "halal" untuk sebodoh apapun asal bisa memberikan kengerian. Bahkan karakter dalam Oculus masih jauh lebih cerdas daripada korban-korban di film slasher. Tapi ada satu hal yang benar-benar mengganggu, yaitu fakta bahwa Kaylie sebenarnya telah mengetahui bagaimana kekuatan iblis jahat di dalamnya yang mampu memanipulasi pikiran korbannya dengan cara apapun tanpa bisa disadari oleh mereka. Dengan menegtahui fakta itu bukankah merupakan keputusan yang begitu bodoh untuk melakukan perlawanan "hanya" dengan cara yang menurut saya cuma efektif untuk melawan para pembunuh itu? Terasa sekali bahwa Flanagan menggiring plotnya tersebut untuk menciptakan sebuah ending yang cukup "depresif".