Tampilkan postingan dengan label Karen Gillan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karen Gillan. Tampilkan semua postingan

REVIEW - GUNPOWDER MILKSHAKE

Saat Atomic Blonde (2017) pertama diumumkan, saya mengira bakal mendapat John Wick-esque versi wanita. Seperti kita tahu, hasilnya berbeda (yang mana bukan masalah). Lebih serius, lebih suram, lebih mengedepankan intrik spionase kompleks. Empat tahun berselang, Navot Papushado (Rabies, Big Bad Wolves) menghidupkan harapan itu melalui Gunpowder Milkshake. 

Alurnya sendiiri mengikuti formula yang membuat John Wick populer (selain karena aksinya tentu saja), salah satunya terkait pembangunan mitologi unik dalam dunia kriminal. Diner dan rumah sakit yang mau membuka pintu bagi para pembunuh selama tak membawa pistol, gudang senjata berkedok perpustakaan, dan lain-lain. Hanya saja, tanpa kematian seekor anjing. 

Sam (Karen Gillan) adalah pembunuh bayaran, yang dipekerjakan oleh Nathan (Paul Giamatti), kepala HR untuk perusahaan bernama The Firm. Ibu Sam, Scarlet (Lena Headey), juga melakoni profesi serupa, sebelum mendadak pergi meninggalkannya 15 tahun lalu. Walau handal, Sam dikenal sukar diatur, dan kerap bertindak di luar misi. 

Seperti kala ia memilih menyelamatkan Emily (Chloe Coleman) si bocah berusia 8 ¾ tahun, ketimbang mengembalikan uang milik The Firm sesuai instruksi. Alhasil, Sam berbalik jadi buronan The Firm. Seolah belum cukup bahaya mengancam, nyawanya turut diincar Jim McAlester (Ralph Ineson), bos gangster yang menaruh dendam setelah Sam membunuh puteranya. 

Satu hal yang langsung mencuri perhatian sejak menit pertama adalah visual. Cahaya khas neo(n)-noir yang di satu titik, pantulannya membuat langit malam memancarkan semburat merah muda, sampai perpaduan properti beraneka warna, semua mampu memanjakan mata. Meski banyak baku tembak dan kematian, film ini terlihat cerah, manis, seperti segelas milkshake. 

Sementara naskahnya, yang ditulis oleh Papushado bersama Ehud Lavski, menawarkan pemanis lain melalui dinamika dua tokoh utama. Berkat penampilan Chloe Coleman, Emily jadi tandem yang pas bagi Sam. Sikapnya dewasa, tapi bukan kedewasaan berlebihan yang menghilangkan sisi kanak-kanaknya. Emily dewasa karena dia cerdas dan kuat. Pula kritis, sehingga kerap membuat Sam kehabisan kata-kata untuk merespon perkataan si bocah.

Karen Gillan adalah pilihan tepat bagi sineas yang ingin memunculkan kecanggungan dalam interaksi. She is such a mood. Memakai gaya deadpan andalannya, Gillan bak orang yang mengusung prinsip "fuck my life". Kombinasikan itu dengan kemampuannya menangani adegan aksi, ia sempurna menghidupkan visi sang sutradara. 

Papushado jelas menginginkan keunikan, khususnya terkait aksi. Baginya, sekuen aksi tidak cuma seru, juga harus sesekali menggelitik, dan mementahkan ekspektasi penonton. Karakternya "tidak boleh" asal menusukkan pisau, tapi menghunuskannya melalui sela-sela pelatuk pistol. Kejar-kejaran mobil bukan saja adu kecepatan, pula kecerdikan layaknya bermain petak umpet. 

Tentu sentuhan kekerasan tidak dilupakan, yang lagi-lagi sering muncul dengan cara serta waktu tak terduga. Darah berceceran, tubuh meledak, sementara kepala ada yang terpotong, ada yang remuk. Papushado tahu bagaimana memancing tepuk tangan penonton. Tapi dari semua aksi, pertarungan di perpustakaan adalah yang terbaik, baik di sini maupun di antara seluruh film aksi rilisan 2021 secara menyeluruh. 

Gunpowder Milkshake jadi satu lagi film bertema empowerment. Para jagoan wanita film ini bertugas membereskan kekacauan para pria (The Firm), hanya untuk kemudian dikhianati. Alurnya merupakan proses mereka melepaskan diri dari situasi tersebut, dan sepak terjang trio sisterhood makin memperkuat temanya.

Pada aksi berlatar perpustakaan tadi, Michelle Yeoh tampil bersenjatakan rantai yang menegaskan statusnya sebagai ikon wuxia, Angela Bassett tanpa basa-basi mengayunkan dua martil, dan Carla Gugino  membantai lawan memakai senjata mesin diiringi lagu Piece of My Heart milik Janis Joplin. Tambahkan Karen Gillan dan Lena Headey sebagai ibu-anak yang berbaikan lewat cara ekstrim (baca: membunuh), lalu pengarahan penuh tenaga dengan intensitas yang terjaga begitu rapi, maka terciptalah moviegasm. 


Available on NETFLIX (US)

JUMANJI: THE NEXT LEVEL (2019)

Dua tahun lalu, Jumanji: Welcome to the Jungle meruntuhkan segala skeptisme lewat petualangan segar nan menghibur yang juga sukses secara finansial dengan pendapatan $962 juta. Franchise-nya pun mendapat suntikan tenaga sekaligus arah baru. Sekuelnya ini—yang bisa dianggap film ketiga atau keempat di seri Jumanji tergantung apakah anda menghitung Zathura: A Space Adventure (2005) atau tidak—mungkin tak menghadirkan petualangan tingkat lanjut sebagaimana judulnya siratkan, namun petualangan yang familiar ini masih sama menyenangkannya.

Selepas peristiwa film pertama, Fridge (Ser'Darius Blain) si atlet, Martha (Morgan Turner) si pemalu yang cerdas, dan Bethany (Madison Iseman) si gadis populer, masih rutin berkomunikasi lewat grup chat meski sudah tinggal terpisah. Spencer (Alex Wolff) juga tergabung di grup itu, tapi ia lebih banyak diam. Hubungan jarak jauhnya denga Martha pun bermasalah. Spencer kehilangan arah. Kepercayaan dirinya terkikis, dilahap oleh hiruk New York. Saat keempatnya hendak bereuni, Spencer justru punya rencana lain.

Dia rindu menjadi Dr. Bravestone (Dwayne Johnson) yang perkasa. Akhirnya, ia nekat memperbaiki gim Jumanji yang diam-diam dipungutnya, lalu kembali memasuki dunia tersebut. Mengetahui itu, Martha, Fridge, dan Bethany terpaksa menyusul demi menolong Spencer, sampai peristiwa mengejutkan terjadi. Di Jumanji, Martha masihlah Ruby Roundhouse (Karen Gillan) dengan segala keatletisannya. Sial bagi Fridge. Kini avatarnya adalah Professor Sheldon (Jack Black) si arkeologis yang menurutnya tidak berguna.

Tapi bukan itu saja. Kakek Spencer, Eddie (Danny DeVito) serta mantan sahabatnya, Milo (Danny Glover) ikut terhisap ke Jumanji, dan masing-masing menempati avatar Dr. Bravestone dan Mouse (Kevin Hart) si zoologist, sedangkan Bethany tertinggal di dunia nyata. Ke mana perginya Spencer? Pertanyaan itu bakal terjawab bersama paparan filmnya soal penerimaan diri. Nantinya diungkap bahwa avatar Spencer tidak jauh beda dibanding sosoknya di kehidupan nyata. Dari situ, Jumanji: The Next Level memperlihatkan proses Spencer menerima seluruh kekurangan dirinya, lalu berusaha melakukan yang terbaik. Bukan begitu?

Awalnya demikian, sampai naskah buatan sutradara Jake Kasdan (yang turut membidani film sebelumnya) bersama Jeff Pinker dan Scott Rosenberg (keduanya pernah berduet di Jumanji: Welcome to the Jungle dan Venom) merusak pesan tersebut di babak ketiga, sewaktu filmnya menempuh jalur malas guna menyelesaikan masalah tokoh-tokohnya yang terjadi akibat avatar mereka saling tertukar. Bobot emosi justru hadir di tengah konflik Eddie dan Milo, dalam kisah tentang retaknya persahabatan yang awalnya konyol, namun perlahan menemukan hati, kala menyinggung betapa pertemanan dua manusia lanjut usia punya makna lebih, sebab mereka mesti bergulat dengan waktu, juga “akhir”.

Humornya masih mengandalkan kekacauan kala beberapa avatar diisi oleh seseorang dengan karakterisasi berlawanan. Bahkan beberapa humor Welcome to the Jungle, seperti “smoldering intensity” atau “jurus menari” milik Ruby, ditampilkan lagi, seolah Jumanji: The Next Level coba menghadirkan nostalgia dari film yang baru rilis dua tahun lalu. Tidak sesegar dulu? Jelas. Apakah masih lucu? Ternyata iya. Jake Kasdan sanggup memanfaatkan talenta luar biasa jajaran pemainnya, yang dituntut memerankan berbagai macam kepribadian.

Dwayne Johnson sebagai kakek pelupa yang cerewet, Kevin Hart sebagai zoologist dengan tempo bicara super lambat yang kerap menggiring teman-temannya menuju bahaya, dan Jack Black, meski tak lagi mengutamakan kecentilan seperti film sebelumnya, membawa sisi histerikal yang juga menghibur. Karen Gillan masih menggila, apalagi saat di satu titik, avatar Ruby Roundhouse sempat dimasuki karakter lain, sedangkan Awkwafina sebagai Ming, si avatar baru dengan spesialisasi mencuri, bakal membuatmu sakit perut hanya dengan melihat postur dan gesturnya.

Dunia Jumanji mayoritas terbuat dari CGI, tapi itu urung membuat Jake Kasdan terlalu bergantung kepadanya. Sewaktu banyak film setipe cuma asal membentangkan dunia CGI warna-warni yang terasa mati, Kasdan memperhatikan betul tiap set piece aksi, membuatnya bertenaga berkat penempatan sekaligus pergerakan kamera yang sesuai. Dan sewaktu saya mulai khawatir bila film keempatnya kelak bakal repetitif, Jumanji: The Next Level menampilkan mid-credits scene yang menjaga antusiasme untuk menantikan sekuelnya. Bring me the next, more advance level!


AVENGERS: ENDGAME (2019)

(JANGAN MEMBUKA KOLOM KOMENTAR KALAU BELUM MENONTON. 
IT'S A WILD JUNGLE FULL OF SPOILERS THERE!)
Merasa Infinity War merupakan keberhasilan mengeksekusi kemustahilan? Tunggu sampai anda menyaksikan sekuelnya. Marvel Cinematic Universe (MCU) adalah soal kesabaran dalam perencanaan. Total 21 film selama hampir 11 tahun dihabiskan demi membangun kisah, yang dibayar lunas lewat kulminasi epik bernama Avengers: Endgame. Hampir seluruh guratan emosi maupun pertarungan masif miliknya, berpijak pada pondasi yang disusun sekian lama. Begitu film usai (kali ini tanpa post-credits scene) wajar saat penonton bertepuk tangan melihat jajaran kredit, khususnya enam anggota “asli” Avengers.

Karena seperti telah dikonfirmasi, salah satu tujuan Endgame adalah memberi penghormatan bagi perjalanan yang telah dilalui Tony Stark (Robert Downey Jr.), Steve Rogers (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Banner (Mark Ruffalo), Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), dan Clint Barton (Jeremy Renner). Saya takkan membocorkan sedikit pun poin plot, kecuali bahwa bersama nama-nama lain yang tidak menjadi debu, mereka berusaha memulihkan akibat perbuatan Thanos (Josh Brolin).

Melanjutkan atmosfer konklusi Infinity War, film ini dibuka dengan melankoli. Bahkan dibanding judul keluaran Marvel Studios lain, selama 181 menit durasinya, Endgame punya proporsi drama terbesar, tatkala duo penulis naskah, Christopher Markus dan Stephen McFeely (The Winter Soldier, Civil War, Infinity War), memilih banyak menggulirkan studi karakter, khususnya proses coping jagoan-jagoan kita pasca tragedi jentikkan jari Thanos. Beberapa menolak menyerah, beberapa tenggelam dalam amarah, ada pula yang coba meneruskan langkah.

Hal di atas bukan sebatas pernak-pernik. Di sinilah penanaman benih selama satu dekade menuai hasil. Kita mengenal karakternya, terikat pada mereka, sehingga memahami keputusan serta respon emosional yang muncul. Berkatnya, paparan dramatik Endgame pun menyentuh ranah detail, di mana tiap gestur, ekspresi, juga baris kalimat pendek, menyimpan makna kaya rasa, yang seringkali merujuk pada peristiwa film-film sebelumnya. Dan semuanya mustahil diraih tanpa kegemilangan jajaran pemain.

Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, hingga Karen Gillan membuktikan diri telah melebur dengan sosok peranan masing-masing, sementara kepiawaian memadukan talenta komedi dan dramatik dipamerkan oleh Chris Hemsworth dan Paul Rudd (that “running scene” is really heartbreaking). Tapi bintang utamanya tetap sang maskot: Robert Downey Jr. Melalui performa yang layak diganjar nominasi Oscar, secara meyakinkan ia tunjukkan konflik batin seorang pahlawan yang dihantui kegagalan dan kehilangan. Apabila Infinity War menggiring Tony menuju tantangan fisik dalam pertarungan satu lawan satu menghadapi Thanos, maka Endgame memberinya ujian psikis terberat.

Ini memang cerita di mana status “pahlawan” para jagoannya diuji, kala pengorbanan mesti dilakukan dan egoisme bukan pilihan. Ketimbang melawan Thanos, Endgame cenderung menonjolkan pertarungan Avengers melawan musuh lain: diri mereka sendiri. Terdengar kelam, namun tak pernah depresif, mengingat jalinan humor tetap dapat ditemukan, yang penempatannya memperhatikan presisi, sehingga alih-alih mendistraksi, kita justru bakal dibuat tertawa sembari meneteskan air mata atau terpaku dalam cengkeraman ketegangan. Menyenangkan pula menyaksikan tokoh-tokoh yang baru bertemu seperti Nebula (Karen Gillan), Rhodey (Don Cheadle) dan Scott Lang (Paul Rudd) saling bertukar interaksi kasual.

Di samping deretan drama humanis, spektakel utama Endgame tetaplah soal mencari jalan “membatalkan” perbuatan Thanos. Beragam teori membanjiri internet. Beberapa jadi kenyataan, namun banyak kejutan masih tersimpan rapat. Akan sulit mempersiapkan hati menyaksikan kecerdikan Markus dan McFeely menyulap petualangan Avengers menjadi penghormatan bagi mereka, dengan membawa kita mengunjungi kumpulan momen (plus sosok) familiar, sementara karakternya coba berdamai dengan permasalahan silam yang belum usai.

Puncaknya adalah pertempuran epik yang menebus perencanaan jangka panjang Marvel Studios. Semua shared universe, tidak peduli dalam media apa pun, bermimpi mencapai titik ini. Russo Bersaudara mengangkangi pencapaian di Infinity War lewat kesuksesan memproduksi salah satu set piece terbesar dan tergila penuh momen fan service, yang berkat tangkapan kamera sang sinematografer langganan, Trent Opaloch, banyak menampilkan heroic money shot. Alhasil, tiap individu memperoleh kesempatan bersinar meski hanya sejenak, termasuk jajaran jagoan wanita. Walau mengharapkan porsi lebih bagi Captain Marvel (Brie Larson), saya bisa memaklumi mengingat Endgame mengutamakan pemberian spotlight untuk keenam anggota asli Avengers.

Belum cukup mendengar pujian? Tunggu sampai anda mendapati keberhasilan Endgame memberi konklusi yang pantas terhadap seluruh konflik personal menahun yang karakternya hadapi, sembari tak lupa menebar petunjuk terkait masa depan. Mungkin anda tak menganggap Avengers: Endgame sempurna, namun jika pulang tanpa merasakan kepuasan, mungkin film blockbuster memang bukan untuk anda.

JUMANJI: WELCOME TO THE JUNGLE (2017)

Banyak film berbasis video game menutup mata akan gameplay sumber materinya sehingga gagal menghasilkan pengalaman yang sama. Sebagai adaptasi kegiatan menyenangkan, mereka bersikap terlalu serius. Seperti kita tahu, Jumanji: Welcome to the Jungle adalah sekuel Jumanji (1995) yang diangkat dari buku anak buatan Chris Van Allsburg. Tapi jika timbul pertanyaan "film apa yang menimbulkan kesan serupa bermain video game?", inilah jawabannya. Gamers bakal tertawa sambil mengangguk paham mendapati beragam referensinya, penonton umum pun takkan terasing dan tersesat, sementara keempat tokoh utamanya tersesat di suatu dunia asing. 

Dunia itu berada dalam video game. Ya, Jumanji yang 22 tahun lalu berbentuk papan permainan kini adalah Nintendo 90-an. Jangan tanya bagaimana. Anggap saja keajaiban. Keajaiban serupa turut mengubah Spencer, Bethany, Fridge, dan Martha, dari kuartet siswa SMA bermasalah menjadi tokoh video game. Ini membahagiakan bagi Spencer, yang memiliki otot besar sebagai Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson) atau Martha sebagai Ruby Roundhouse (Karen Gillan) yang atletis pula jago berkelahi sambil menari. Sebaliknya, Fridge dibuat kesal akibat perawakan tinggi tegapnya mengkerut saat menempati badan Moose Finbar (Kevin Hart).
Setidaknya penderitaan Fridge tidak setara Bethany. Hilang sudah paras cantik dan rambut pirang (dan telepon genggam), berganti jenggot lebat dan perut buncit Professor Sheldon Oberon (Jack Black). Melihat Dwayne Johnson kagum pada tubuh kekarnya,  sebagaimana kita para manusia biasa kerap rasakan  Kevin Hart heboh mengeluhkan keadaan, hingga ketangguhan bertarung serta kecanggungan Karen Gillan berlagak seksi jelas menghibur. Namun Jack Black dengan tingkah "anggun" yang bukan parodi murahan terhadap pria feminin memberi pesona terkuat, bukti bahwa sang komedian belum habis.

Perjalanan berikutnya sederhana. Keempatnya mesti menyelamatkan dunia Jumanji, menjelajahi hutan, menghadapi serbuan kudanil buas, segerombol badak, sampai ular berbisa. Kemasan aksi dalam penyutradaraan Jake Kasdan (Bad Teacher, Sex Tape) memang menyenangkan walau detail tiap set-piece mudah terlupakan begitu kita meninggalkan bioskop. Menariknya, justru para karakter yang dapat bertahan lama di ingatan berkat penokohan khas, juga porsi merata, baik momen aksi maupun komedi. Bermain video game perlu pemikiran taktis, dan mereka berempat memperlihatkan itu kala menghadapi setumpuk rintangan. 
Jatah nyawa, NPC (Non-Player Character) dengan kemampuan bicara sebatas instruksi samar bak sandi, merupakan segelintir cara Jumanji: Welcome to the Jungle bersenang-senang menggunakan ciri video game. Tidak muluk pula usungan pesannya, sekedar "we can make new friends by playing multiplayer video game", yang mana kerap terjadi di keseharian kita. Kisah persahabatan (berbumbu romansa) ditangani dengan baik, menciptakan penutup hangat meski tidak mencapai level emosional setinggi reuni Alan dan Sarah di film pertama.

Jumanji: Welcome to the Jungle memilih menekan nostalgia secukupnya, hanya secuil referensi berupa nama dua tokoh, termasuk versi lain Van Pelt (Bobby Cannavale) selaku antagonis. Tidak seperti pendahulunya, Jumanji: Welcome to the Jungle takkan meraih status tontonan keluarga klasik, apalagi di tengah seringnya keterlibatan Dwayne Johnson pada suguhan aksi petualangan. Pun empat bulan lagi, kita segera melihatnya memerankan action hero, bertarung melawan hewan-hewan liar di tengah hutan belantara (sebelum berlanjut ke pusat kota) sambil mengenakan kemeja berwarna abu-abu yang sama dalam Rampage. But this is fun and that should be enough.

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017)

James Gunn dan Guardians of the Galaxy adalah contoh sempurna bagaimana menjalankan waralaba lewat proses menanam dan menuai. Tiga tahun lalu, langkah berani memperkenalkan lima a-holes tak dikenal sukses melahirkan idola baru berkat penokohan solid pula interaksi menarik. Hasilnya, begitu penonton bertemu mereka lagi di sekuelnya, timbul kelekatan secara emosional guna memaksimalkan penceritaan yang lebih personal. Selain mempertahankan kejeniusan Gunn merangkai komedi, Vol. 2 menegaskan posisi franchise ini sebagai drama keluarga, tepatnya tentang sekelompok individu yang kehilangan keluarga, menemukan satu sama lain, tumbuh bersama membentuk keluarga baru.

Kisahnya didasari pertanyaan film sebelumnya mengenai identitas ayah Peter Quill / Star-Lord (Chris Pratt), yang rupanya adalah sosok celestial bernama Ego (Kurt Russell). Demi menebus hangatnya hubungan ayah-anak yang tak pernah mereka punya, Ego mengundang Peter, Drax (Dave Bautista) dan Gamora (Zoe Saldana) ke planet miliknya, sedangkan Rocket (Bradley Cooper) dan Baby Groot (Vin Diesel) tinggal guna memperbaiki Milano pasca pertempuran melawan pasukan Sovereign sambil menjaga Nebula (Karen Gillan). Sementara Ayesha (Elizabeth Debicki), sang Pendeta Sovereign menyewa Yondu (Michael Rooker) dan Ravagers untuk menangkap Guardians yang mencuri barang kepunyaannya. 
Guardians of the Galaxy dipersenjatai winning formula yang saking ampuhnya, memberi template bukan hanya bagi film MCU (warna vibrant), pula rilisan studio lain dalam pemakaian lagu era 70 hingga 80-an. Ada rasa khawatir Gunn dan tim berlebihan menggunakan formula tersebut. Kekhawatiran itu sempat menguat di 15-20 menit awal kala lagu-lagu bertumpuk silih berganti terdengar, setiap kalimat karakternya berintensi melucu, sampai eksploitasi Baby Groot pada opening credit. Terasa melelahkan ketimbang menyenangkan akibat kesan memaksakan diri menyamai bahkan menggandakan keasyikan pendahulunya. Tanpa pemanasan, penonton langsung diajak mengarungi parade sok asyik yang Gunn jejalkan.

Kondisi berubah setelah Ego datang membawa Mantis (Pom Klementieff), alien berkemampuan emphatic yang ia besarkan. Tidak pernah mengalami interaksi sosial membuatnya polos (cenderung bodoh), sisi utama pemancing gelak tawa. Bicara kebodohan, tentu Guardians memiliki Drax yang selalu bicara terus terang. "Mulut busuk" Drax plus keluguaan Mantis menciptakan interaksi komedi kelas satu, di mana kepiawaian Bautista melontarkan ejekan (baca: kejujuran pedas) menggelitik direspon sempurna ekspresi kosong Klementieff. Tiap kali keduanya bersama adalah jaminan tawa tak berujung, "memanaskan" penonton supaya siap terhibur oleh deretan humor berikutnya.
Selanjutnya, Guardians of the Galaxy Vol. 2 bagai mesin penghasil tawa yang enggan berhenti beroperasi. Gunn jeli melihat sisi lucu bermacam hal, dan berbeda dengan paruh awal durasi, makin pintar memilih timing menyelipkan beragam lelucon, entah olok-olok nama Taserface (Chris Sullivan) atau humor seksual. Ketika Drax dan Mantis berjasa di comic timing, Baby Groot merupakan salah satu tokoh paling menggemaskan yang pernah hadir di layar lebar. Lebih naif dari Groot dewasa, tingkahnya mengundang kecintaan, menyesakkan sewaktu melihatnya terancam bahaya di puncak pertempuran.

Dibanding film pertama dengan politik luar angkasa ditambah pencarian infinity stone, Vol. 2 berjalan sederhana dibalut cerita yang layak disebut tipis. Namun fokus filmnya memang bukan kompleksitas alur, melainkan hubungan karakter yang ditautkan benang merah berupa kekeluargaan antara anggota Guardians, Gamora dan Nebula, sampai Peter dan ayahnya. Salah satu credit scene pun memperlihatkan Guardians of the Galaxy tak ubahnya perjalanan tumbuh kembang dalam keluarga. Poin itu berhasil sebab kita sudah terikat dan terpikat dengan karakternya sedari film pertama, dan sekuel ini berfungsi menegaskan bahwa di samping tingkah seenaknya pun saling ejek yang rutin terjadi, para penjaga galaksi ini menyimpan kebaikan hati, peduli satu sama lain.
Niat Gunn menjadikan filmnya bukan saja spectacle megah terlaksana kala klimaks. Bukan epic macam The Avengers, pertarungan menyakitkan ala Captain America: Civil War, maupun keunikan kreatif seperti Ant-Man (tiga third act terbaik MCU sejauh ini), Guardians of the Galaxy Vol. 2 mengutamakan dampak emosional hasil dramatic arc-nya. Melihat Peter meluapkan kesedihan seorang anak, Yondu si father figure coba menebus dosa, saling tolong Nebula dan Gamora selaku dua saudari yang selalu berseteru, hingga usaha Drax menolong Mantis memancing gejolak perasaan. Gunn sanggup menekankan ikatan erat para protagonis beserta aksi heroik mereka ketimbang pertunjukan bombastis belaka. 

Proses menanam dan menuai tak berakhir di tataran karakter, juga soal masa depan Marvel Cinematic Universe khususnya seputar dunia kosmik. Pengenalan sosok celestial, peran singkat Sylvester Stallone, dua dari lima credit scene, bahkan cameo Stan Lee menanam benih yang berpotensi mengembangkan dunia kosmik ke jangkauan lebih luas yang bukan tidak mungkin bakal berperan besar pada MCU pasca invasi Thanos berakhir di kemudian hari. Tapi untuk sekarang, nikmati dahulu kembalinya tim pahlawan super Marvel yang lebih mampu mengocok perut pula mencuri hati ketimbang Avengers di Bumi lengkap dengan kemeriahan visual berhiaskan warna-warna mencolok.

OCULUS (2014)

Tahun 2013 lalu berhasil memberikan harapan besar pada franchise horror mainstream dengan kesuksesan The Conjuring (review) dan Insidious: Chapter 2 (review) milik James Wan. Tidak hanya sukses secara finansial, kedua film tersebut merupakan sajian horror dengan scare jump yang cukup mengagetkan dan kreatif setidaknya bagi saya. Karena itulah saat saya mendengar tentang perilisan Oculus lengkap dengan segala pujian tentangnya saya pun semakin menanti film garapan sutradara Mike Flanagan ini. Berasal dari film pendek karya Mike Flanagan sendiri yang berjudul Oculus: Chapter 3 - The Man with the Plan, film ini sesungguhnya bukanlah sebuah film horror "besar" layaknya dua film James Wan yang saya sebutkan diatas. Diproduksi oleh WWE Studio, Oculus hanya mempunyai bujet sebesar $5 juta. Tapi justru itulah yang menarik dari film ini. Menarik melihat bagaimana Mike Flanagan akan memanfaaatkan bujet minim tersebut. Menarik juga menantikan bagaimana Oculus akan memberikan kengerian pada penontonnya dengan berbekal sebuah cermin tua sebagai sajian utamanya. Jadi semengerikan apakah cermin jahat yang memberikan teror dalam Oculus?

Filmnya akan membawa kita bolak-balik dari masa sekarang ke masa lalu tepatnya 11 tahun yang lalu. Adalah sepasang kakak beradik, Kaylie (Karen Gillian) dan Tim (Brenton Thwaites) yang akan jadi karakter utama disini. Tim kini baru saja diperbolehkan keluar dari rumah sakit jiwa tempat ia dirawat akibat trauma masa kecilnya, sedangkan Kaylie yang kini bertunangan dengan Michael (James Lafferty) menghabiskan banyak waktunya untuk melakukan penelitian sekaligus mencari keberadaan sebuah cermin. Cermin yang selama ini dicar Kaylie adalah sebuah cermin yang dipercaya menyimpan kekuatan supranatural jahat di dalamnya. Cermin itu jugalah yang 11 tahun lalu menjadi pemicu tragedi mengerikan yang terjadi di keluarga Kaylie dan Tim sekaligus yang membuat Tim pada akhirnya didiagnosis menderita gangguan jiwa akibat segala ceritanya tentang cermin jahat tersebut. Dengan segala terapi yang telah ia terima, Tim pun kini mulai meyakini bahwa segala cerita tentang cermin pembunuh tersebut hanya rekayasa belaka. Tapi belum lama ia keluar dari rumah sakit jiwa, Tim sudah harus bertemu lagi dengan cermin tersebut dan kembali ke rumah lama miliknya setelah Kaylie dengan segala rencan yang telah lama ia susun memutuskan bahwa sekarang adalah waktunya bagi mereka untuk menuntut balas dan memusnahkan iblis penunggu cermin tersebut.
Cermin memang bukan barang baru untuk dieksplorasi dalam film horror, tapi jelas potensinya luar biasa besar. Bahkan di dunia nyata pun cermin seringkali menjadi barang yang cukup mengerikan, apalagi jika cermin itu adalah cermin lama yang punya desain ukiran kayu yang klasik. Saya sendiri seringkali merasa tidak betah menatap cermin seperti itu karena merasa ada sosok yang mengawasi. Hal itulah yang menjadi potensi terbesar bagi Oculus. Mike Flanagan sendiri nampaknya sadar bahwa filmnya ini tidak hanya berpotensi bagus tapi juga berpotensi disandingkan dengan film-film horror sukses milik James Wan diatas. Karena itulah Flanagan mencoba pendekatan yang sedikit berbeda dan cukup unik disini. Alih-alih memberikan sebuah narasi yang linear, Flanagan mengemas Oculus dengan memadukan teror yang terjadi di masa sekarang saat Kaylie dan Tim coba menghancurkan cermin tersebut dengan flashback 11 tahun lalu saat keduanya masih kecil dan terjadi tragedi mengerikan yang menimpa keluarga mereka. Hal tersebut memang unik dan saya akui cukup menyegarkan melihat kedua plot yang silih berganti tersebut, Pengemasan Flanagan pun cukup menarik saat "menabrakkan" kedua alur tersebut tapi tetap membuatnya terasa sebagai sebuah satu kesatuan. Sayangnya teknik yang menarik itu tidak dibarengi dengan pembangunan tensi yang menarik pula.
Penggabungan dua plot bakal terasa maksimal jika ada penyelipan misteri di dalamnya yang membuat penonton bertanya-tanya apa yang terjadi, khususnya pada paruh flashback. Kemudian pada akhirnya saat kedua plot bertabrakan di konklusi maka akan tercipta sebuah klimaks dengan intensitas dan revelation yang memuaskan. Sayangnya Oculus tidak memiliki itu, dan yang terjadi pada akhirnya adalah film ini tetap terasa sebagai sebuah straight horror biasa meski dikemas dengan berbeda. Alurnya sendiri berjalan dengan cukup lambat bahkan seringkali terasa membosankan. Ironisnya, lagi-lagi hal ini terjadi akibat usaha Flanagan untuk membuat filmnya berbeda dari kebanyakan horror pada umumnya. Oculus bukanlah film yang setiap beberapa menit sekali menyajikan penampakan dengan memakai jump scare. Film ini lebih berusaha membangun atmosfer dan ketegangan lewat pikiran penontonnya. Usaha yang patut diapresiasi sebenarnya mengingat banyak film horror malas melakukan ini dan lebih memilih melakukan jump scare untuk mengageti penonton daripada menciptakan sebuah kengerian. Tapi sayangnya hal itu tidak berhasil. Kadangkala bahkan perpadua kedua plotnya terasa berantakan. Tidak membingungkan, hanya saja kekacauan itu membuat ketegangannya gagal terbangun. Beberapa jump scare yang dipakai juga sama sekali tidak menimbulkan efek shocking, malah beberapa diantaranya menggelikan.

Untungnya masih ada poin yang membuat Oculus terasa sebagai horror yang meneror, yaitu lewat aspek gore dan beberapa gambar-gambar disturbing yang ada. Beberapa adegannya terasa menyakitkan seperti adegan "makan lampu" dan sebagainya. Beberapa graifk yang ada khususnya saat Kaylie memperlihatkan foto-foto para korban dari cermin tersebut juga sanggup membuat imajinasi saya bermain-main dan berujung pada kengerian yang cukup efektif. Belum lagi ditambah dengan sebuah ending yang sebenarnya tidaklah terlalu mengejutkan tapi dieksekusi dengan jalan yang shcoking sehingga memberikan efek kejut yang cukup besar. Ya, saya menyukai ending-nya yang menguatkan kesan betapa jahatnya cermin terkutuk itu. Sampai disini Oculus terlihat akan mendapat penilaian positif dari saya, tapi sayangnya ada satu poin yang sangat mengganjal, yaitu kebodohan karakternya. Ya, saya tahu bahwa sebuah film horror "halal" untuk sebodoh apapun asal bisa memberikan kengerian. Bahkan karakter dalam Oculus masih jauh lebih cerdas daripada korban-korban di film slasher. Tapi ada satu hal yang benar-benar mengganggu, yaitu fakta bahwa Kaylie sebenarnya telah mengetahui bagaimana kekuatan iblis jahat di dalamnya yang mampu memanipulasi pikiran korbannya dengan cara apapun tanpa bisa disadari oleh mereka. Dengan menegtahui fakta itu bukankah merupakan keputusan yang begitu bodoh untuk melakukan perlawanan "hanya" dengan cara yang menurut saya cuma efektif untuk melawan para pembunuh itu? Terasa sekali bahwa Flanagan menggiring plotnya tersebut untuk menciptakan sebuah ending yang cukup "depresif".