Tampilkan postingan dengan label Rian Johnson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rian Johnson. Tampilkan semua postingan

KNIVES OUT (2019)

Knives Out yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) menunjukkan mengapa acara kumpul keluarga adalah latar sempurna bagi sajian whodunit. Serupa seorang tersangka dalam kisah misteri pembunuhan yang berlagak polos agar tak mengungkap identitasnya sebagai pembunuh, anggota keluarga senantiasa bertingkah ramah, mengeluarkan tutur kata manis, padahal diam-diam memendam kebencian bahkan saling menusuk dari belakang.

Di rumah mewah yang didekorasi sedemikian menawan sampai ke detail terkecil oleh tim artistic filmnya, termasuk singgasana berhiaskan puluhan pisau dan belati ala Game of Thrones, seorang penulis novel kriminal ternama, Harlan Thrombey (Christopher Plummer) merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Anak-anak, menantu, cucu, hingga sang ibu yang sudah pikun karena dimakan usia, berkumpul. Mereka tampak berbahagia. Masalahnya, seperti diungkap di adegan pembuka, Harlan ditemukan tewas akibat luka sayatan pisau di leher.

Para keluarga serta pihak kepolisian meyakini itu adalah kasus bunuh diri, lalu hadirlah Benoit Blanc (Daniel Craig), seorang detektif swasta yang disewa oleh orang tak dikenal guna menyelidiki kasus tersebut. Blanc mencium ketidakberesan di sana. Selepas dilakukan interogasi, rupanya hampir tiap anggota keluarga mempunyai masalah dengan Harlan, sehingga punya cukup motif untuk menghabisi nyawa kepala Keluarga Thrombey.

Di luar internal keluarga, ada juga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat sekaligus sosok yang punya hubungan paling dekat dengan Harlan, lebih dekat dibanding anak-cucunya sendiri. Semua orang memperlakukan Marta dengan baik, menganggapnya seperti bagian keluarga. Marta punya sebuah kondisi aneh yang tidak bisa saya sebutkan, tapi kondisi itu nantinya amat berguna, baik untuk proses investigasi maupun memancing tawa. Marta sendiri merupakan puteri seorang imigran ilegal. Dari mana ibunya berasal? Kita tidak pernah tahu pasti.

Sebab tiap karakter melontarkan nama negara Amerika Latin yang berbeda. Ekuador pertama kali disebut, menyusul Paraguay, Uruguay, sampai Brazil. Hal itu adalah cara menggelitik dari Rian Johnson sebagai pemaparan subtil atas subteks filmnya. Di mata karakter-karakternya, semua negara itu sama saja, sebagaimana stereotip banyak pihak terhadap Asia atau Afrika, atau lebih tepatnya bagaimana orang Amerika memandang negara asing.

Secara luas, Knives Out bicara tentang rasisme, tapi di konteks lebih spesifik, filmnya menyentil isu tentang imigran. Begitu alurnya melangkah jauh, dinamika Keluarga Thrombey mulai mencerminkan ketakutan sebagian warga Amerika bahwa imigran datang guna mencuri kekayaan juga menjajah tanah mereka, membentuk satir sosial di dalam misteri pembunuhan. Jangan khawatir filmnya jadi terlalu politis, karena Johnson memastikan sentralnya tetap whodunit. Dan naskah buatannya benar-benar cerdik mengecoh apa pun ekspektasi penonton mengenai sesuatu dan seseorang.

Presentasi misterinya berdaya kejut tinggi tanpa mencurangi, di mana tiap pengungkapan fakta, meski berusaha tampil mencengangkan, selalu mengutamakan kerapian konstruksi cerita. Semua benih sudah ditanam secara konsisten. Hanya saja, kita tidak menyadari kalau suatu elemen yang muncul di layar adalah benih, atau menyadari tanpa tahu maksud sesungguhnya. Satu-satunya kelemahan naskah Johnson yakni ketika berusaha memperlebar cakupan, menghadirkan aksi-aksi lebih besar, menggiring kisahnya keluar dari kediaman Harlan. Tensi di fase itu berkurang, membuat Knives Out sedikit membengkak

Tapi karena Johnson hadir dengan penyutradaraan yang begitu bertenaga, Knives Out selalu bisa bangkit dari keterpurukan apa pun. Dia memahami seni dramatisasi dalam whodunit, menjadikan investigasi dan momen pengungkapan faktanya mengasyikkan. Ada sekuen di pertengahan durasi tatkala salah seorang karakter menjelaskan runtut semua kejadian di malam kematian Harlan. Di situ Johnson tahu cara memacu adrenalin penonton, alhasil sulit rasanya menahan keinginan bertepuk tangan.

Tidak ada whodunit bagus tanpa jajaran ensemble cast memikat. Seluruh penampil memerankan figur eksentrik, bahkan komedi, dan mereka mampu menarik perhatian bak magnet berkekuatan tinggi pada semua kemunculan. Kita bisa menduga bahwa Jamie Lee Curtis dan Michael Shannon bakal berakting kuat, masing-masing memainkan pebisnis wanita tangguh dan penerbit buku yang putus asa (keduanya juga mendapat momen komedik), dan kesenangan bertambah ketika pelakon lain tampil berlawanan dengan karakter dari film lain yang sebelumnya melambungkan nama mereka di mata publik.

Dari ibu dengan jiwa terguncang akibat gangguan iblis, Toni Collette di sini adalah influencer pencari perhatian; dari pahlawan bangsa, Chris Evans menjadi pemuda pemberontak dengan mulut kasar; Daniel Craig bertransformasi dari agen rahasia berkelas menjadi detektif jenius nan aneh yang bak punya hubungan darah dengan Sherlock Holmes dan/atau Hercule Poirot. Knives Out merupakan produk dari sineas yang paham sekaligus mencintai misteri pembunuhan dan whodunit, lalu bersenang-senang membuatnya, sehingga melahirkan salah satu suguhan terbaik tahun ini yang turut menyimpan nilai hiburan tinggi.

STAR WARS: THE LAST JEDI (2017)

Lebih dari satu abad lalu Georges Méliès memperkenalkan sinema fiksi-ilmiah lewat A Trip to the Moon, publik sadar bahwa film bisa lebih dari sekedar cerminan keseharian yang mendominasi masa awal perfilman. Film mampu membuat terpana melalui petualangan kaya imajinasi, pula memancing segala jenis emosi manusia. Itulah pemicu kesuksesan Star Wars dahulu, saat George Lucas mengajak penonton menuju galaksi nun jauh di sana, di mana dunia serta isinya tampak asing dan baru tetapi perasaan dan perjuangan karakternya sama dengan kita. 

Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order sampai adu tebas lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait tempat klimaks berlangsung merupakan contoh kesegaran fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada aksi selipan. Semua bak pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri dipakai untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, karena alih-alih musik menggelegar, Johnson memilih meniadakan suara. 
Deretan peperangan itu ada di luar jangkauan kehidupan nyata, tapi tentu kita pernah disentuh oleh gejolak ambiguitas kebaikan versus keburukan seperti yang dialami Luke (Mark Hamill), kemudian Rey (Daisy Ridley). Luke menganggap eksistensi Jedi dan pihak-pihak lain yang mengaku berada di "sisi putih" justru bertanggungjawab melahirkan "sisi hitam". Sebaliknya, Rey bersikukuh Jedi dibutuhkan demi menghentikan tirani First Order. Rey sendiri dihantui setumpuk masalah batin, dari mencari identitas orang tuanya, hingga mellawan godaan Kylo Ren (Adam Driver) agar beralih ke sisi gelap. 

Snoke (Andy Serkis), pimpinan tertinggi First Order yang kini tidak muncul sebagai hologram raksasa melainkan duduk di singgasana, dalam ruang berdinding merah yang memperlihatkan puncak pencapaian tata artistik The Last Jedi masih menjadi musuh utama. Resistance, di bawah pimpinan Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher) makin tersudut, memaksa Finn (John Boyega), Poe (Oscar Isaac), dan Rose (Kelly Marie Tran) melangsungkan misi diam-diam untuk menyabotase pesawat First Order. 
Kisah maupun problematika personal karakternya semakin kompleks, kuantitas pun bertambah. Bahkan sebelum klimaks, fokus alur sempat terbagi di tiga titik, yang berkat kepiawaian Johnson menulis naskah serta menyusun narasi visual, sanggup terjalin rapi sekaligus memberi porsi merata bagi tiap tokoh, baik itu Vice Admiral Holdo (Laura Dern) sampai Rose si mekanik yang awalnya tampil selaku penyegar suasana sebelum diberi porsi dramatik, termasuk obrolan dengan Finn di beranda kasino yang turut menegaskan kapasitas Johnson menulis dialog penuh makna. 

Banyaknya tokoh dan konflik adalah penyebab durasinya mencapai 152 menit, yang urung terasa lama berkat dinamika konsisten bersumber kekayaan emosi. Kadar humor termasuk penempatannya tepat, khususnya keputusan jitu memanfaatkan talenta komedik Mark Hamill di beberapa kesempatan. Star Wars kerap menyimpan cinta bagi sosok hewan, tak terkecuali The Last Jedi. Mata jadi media "berbicara", dari menggemaskannya Porg atau Falthiers yang seolah bisa menyampaikan pilu dan keramahan. Makhluk aneh yang dapat membuat penonton percaya mereka memiliki jiwa. Ini salah satu alasan trilogi aslinya dicintai sedangkan prekuelnya tidak. 
Namun Johnson tidak lupa bahwa The Last Jedi bercerita mengenai peperangan maut melawan penindas kejam. Selain tawa, kita pun dihantam ketegangan tatkala karakternya menghadapi rintangan berat. Berulang kali The Last Jedi merangsek menuju keputusasaan yang seolah tanpa jalan keluar, kemudian melambungkan kita lewat sederet momen pemancing sorak sorai sarat kejutan. Berbagai twist film ini bukan hanya mencoba mengejutkan, menjadi spesial karena menggambarkan betapa di tengah kekacauan dan pertikaian kompleks, sikap seseorang sulit diduga. 

Bila The Force Awakens mengetengahkan nostalgia, The Last Jedi menatap masa depan sembari menghormati warisan masa lalu. Kental penghormatan tapi tak lupa mengajak melangkah maju. Pula merupakan surat cinta untuk mendiang Carrie Fisher, di mana sebuah adegan indah nan menyentuh menyatakan bahwa dalam dunia tanpa batas Star Wars, maut nampak tak berdaya di hadapan General Leia Organa. Saya memilih mengesampingkan beberapa kelemahan kecil dan memberi Star Wars: The Last Jedi nilai sempurna setelah mengajukan pertanyaan "apa lagi yang saya harapakan?"