Tampilkan postingan dengan label Jamie Lee Curtis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jamie Lee Curtis. Tampilkan semua postingan

REVIEW - EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE

Jika Swiss Army Man (2016) ibarat "film shitpost", maka Everything Everywhere All at Once adalah "film shitpost dengan hati" buatan duo Daniels (Daniel Kwan dan Daniel Scheinert) selaku sutradara. Karya yang bak lahir dari imajinasi tanpa batas seorang bocah, sekaligus sensitivitas jiwa orang dewasa. 

Everything Everywhere All at Once cuma bisa dirasakan, pula mustahil dijabarkan. Apalagi jika suatu penjabaran bertujuan untuk menangkap seluruh tuturannya. Sebuah aksi, drama, komedi, fantasi, sekaligus fiksi ilmiah berlatar multiverse. Sebuah kisah marital drama, hubungan ibu-anak, juga perjuangan imigran Asia. Sebuah eksistensialisme soal pencarian makna hidup, sekaligus nihilisme yang menyatakan bahwa "nothing matters".

Semua bermula dari satu hari yang runyam dalam hidup Evelyn (Michelle Yeoh). Usaha penatunya hendak diaudit oleh Deirdre (Jamie Lee Curtis) dari IRS; sang ayah, Gong Gong (James Hong) baru tiba dari Cina; puterinya, Joy (Stephanie Hsu), seorang lesbian dan berusaha membuat Evelyn menerima hubungannya dengan Becky (Tallie Medel); sedangkan sang suami, Waymond (Ke Huy Quan), dirasa tak banyak membantu oleh Evelyn akibat kekonyolan sikapnya. 

Bagaimana semua itu berujung pada petualangan menembus multiverse? Biarkan filmnya sendiri yang bicara. The less you know, the better. Naskah garapan Daniels merupakan keliaran tak terkontrol dengan kejutan di tiap sudut, yang sensasinya harus dirasakan langsung. 

Pastinya, Evelyn bakal bersinggungan dengan beragam varian dirinya, dari yang normal seperti Evelyn si penyanyi dan si bintang film martial arts (cerminan figur asli Yeoh), hingga versi aneh yang senada dengan gaya absurdist khas Daniels. Fenomena tersebut terjadi berkat konsep "verse jump", yang meski gagasannya rumit, presentasinya mudah dipahami, sebab selain eksposisi verbal, Daniels turut mengandalkan penceritaan visual. 

Kali pertama Evelyn menjajal verse jump juga jadi momen perdana film ini memamerkan pencapaian efek spesial mereka (Oscar nomination is a sure thing). Total sekitar 500 special effects shots dipergunakan, ditangani oleh tim berisi lima orang, dengan bujet cuma 25 juta dollar. Efek praktikal dan komputer dipadukan, teknologi StageCraft ala The Mandalorian diterapkan, petualangan liar pun berhasil disajikan. 

Setiap kunjungan ke semesta berbeda merupakan jembatan eksplorasi terhadap aneka genre dengan segudang referensi (martial arts, romansa moody khas Wong Kar-wai, animasi, dll.), yang masing-masing tentu membawa suasana berbeda pula. Daniels memakai beberapa rasio guna menekankan perbedaan itu (tepatnya empat rasio aspek). 

Penuh? Ya. Kacau? Jelas, tapi bukan kekacauan buruk. Penyuntingan Paul Rogers jadi salah satu departemen paling bersinar. Dibangunnya kesan "berantakan tapi tertata", selaku hasil tubrukan multiverse dalam jumlah tidak terhingga. Pusing rasanya membayangkan pengonsepan di pra-produksi, fase produksi yang melibatkan sebegitu banyak shot, sampai pasca-produksi dengan segudang materi untuk disatukan. This is a never-before-seen achievement (untunglah pengalaman menonton saya untuk film ini pertama terjadi di layar lebar).   

Pencapaian yang dapat terjadi karena duo Daniels menolak membatasi imaji, membebaskannya, bak dua anak kecil yang memainkan mainan semau mereka. Tidak ada kekhawatiran bahwa sebuah elemen bakal terlalu konyol untuk "film sungguhan". Lihat metode yang ditempuh karakternya kala melakukan verse jump. Lucu, kreatif, mengejutkan. 

Tapi selain imajinasi bocah, Daniels juga membawa kepekaan dewasa. Di balik kegilaan multiverse atau prestasi artistiknya, kekuatan terbesar Everything Everywhere All at Once tersimpan di balik segala keriuhan tersebut. 

Petualangan Evelyn didasari formula "the chosen one" klise, di mana ia dipercaya sebagai satu-satunya orang yang mampu menggagalkan upaya entitas misterius bernama Jobu Tupaki untuk menghancurkan multiverse. Tatkala identitas Jobu Tupaki diungkap, arah kisahnya berubah. Skala meluas, namun penelusurannya bergerak memasuki perenungan lebih dalam. 

Perenungan yang diwakili secara luar biasa oleh jajaran cast, terutama trio Yeoh-Hsu-Quan. Kembali berakting setelah 20 tahun absen (kesuksesan Crazy Rich Asian menginspirasinya), Quan menampilkan sensitivitas yang mendefinisikan "kekuatan", sementara Hsu mewakili kegundahan yang begitu dekat, saat individu merasa tiada lagi yang berarti dalam hidup.

Telah berkarir selama hampir empat dekade, sulit menyebut mana akting terbaik Yeoh, tapi penampilannya di Everything Everywhere All at Once jelas yang paling lengkap. Sekuen laga, humor, momen emosional, semua dijalani. Belum lagi mempertimbangkan kuantitas adegan yang mesti ia ambil. Sebuah penampilan dari aktris yang menolak duduk nyaman menikmati status sebagai megabintang legendaris. Saya mendukungnya di musim penghargaan nanti. 

Everything Everywhere All at Once bukan sebuah pertarungan. Setidaknya bukan pertarungan "baik melawan buruk", melainkan proses memahami. Memahami orang lain. Memahami diri kita. Memahami bahwa mungkin saja tiada hal berarti dalam hidup, atau justru segalanya amat berarti. Memahami bahwa hidup dengan segala posibilitas tanpa batas miliknya memang sukar, bahkan mungkin saja mustahil dipahami. Alih-alih menilai maupun menghakimi, kita cukup menjalani, sembari membuka mata, telinga, dan terpenting, hati. 

REVIEW - HALLOWEEN KILLS

Halloween Kills bagi Halloween (2018), sama seperti Halloween II (1981) bagi Halloween (1978) buatan John Carpenter. Sebuah sekuel slasher unik, karena mengambil latar waktu tepat setelah peristiwa film sebelumnya. Setidaknya, demikian harapan David Gordon Green, yang kembali duduk di kursi sutradara, pula menulis naskah bersama Danny McBride dan Scott Teems. Terwujud atau tidaknya harapan tersebut, itu cerita lain.

Pasca mengalahkan Michael Myers, Laurie (Jamie Lee Curtis) dibawa ke rumah sakit bersama sang puteri, Karen (Judy Greer), dan sang cucu, Allyson (Andi Matichak). Tentu Michael belum mati. Berkat "bantuan" para pemadam kebakaran yang kemudian ia bantai, Michael melanjutkan teror di sudut-sudut Haddonfield. 

Serupa Halloween II, kisahnya mengetengahkan histeria massa, tatkala warga setempat memutuskan memburu Michael. Tommy Doyle (Anthony Michael Hall), bocah yang dijaga oleh Laurie pada peristiwa 1978, jadi pemimpin perburuan. 

Fun fact: Di tahun pertama karir layar lebarnya, Paul Rudd memerankan Tommy Doyle dalam Halloween: The Curse of Michael Myers (1995), film keenam (sekaligus yang terburuk sebelum Halloween: Resurrection dan dua produk salah arah karya Rob Zombie membawa franchise ini ke titik nadir) yang eksistensinya sudah tak dianggap lagi. 

Selain Tommy, empat karakter lain dari film 1978, yakni Lonnie Elam (Robert Longstreet), Leigh Brackett (Charles Cyphers), Lindsey Wallace (Kyle Richards), dan Marion Chambers (Nancy Stephens juga muncul di Halloween H20: 20 Years Later), turut kembali. Ditambah cameo Tom Jones, Jr. sang art director yang menghidupkan lagi Dr. Samuel Loomis lewat riasan meyakinkan sehingga amat mirip dengan mendiang Donald Pleasence, pula pemakaian footage Halloween II, film ini memang sarat kesan nostalgia bagi para penggemar. 

Sayangnya, tujuan "mereplikasi" Halloween II tidak berlangsung mulus. Masalah bukan terletak pada penulisan berantakan yang melompat-lompat tanpa struktur alur solid, akting buruk, maupun deretan kalimat cheesy yang hanya bisa ditangani oleh Jamie Lee Curtis (sementara sang aktris sendiri tak terlibat dalam pertempuran, karena "disimpan" untuk final di Halloween Ends tahun depan). Perlu diingat, ini adalah slasher, di mana hal-hal di atas bersifat sekunder. 

Masalah ada pada perbedaan cara Green-McBride-Teems menangani soal histeria massa, dengan pendekatan naskah Halloween II. John Carpenter dan Debra Hill begitu efektif menggambarkan kepanikan warga, yang berpencar ke segala penjuru Haddonfield untuk mencari keberadaan si pembunuh, sedangkan Michael sendiri justru berkeliaran di rumah sakit tempat Laurie dirawat. Alhasil, penonton dapat merasakan ketegangan seisi kota, kala merespon pembantaian yang baru terjadi.

Di sini sebaliknya. Kepanikan terpusat di rumah sakit, sementara Michael berburu dengan bebas di luar, dan hanya segelintir tokoh yang berpatroli. Ketegangan pun hilang. Halloween Kills terlalu ingin berinovasi, mengambil langkah berbeda guna menyampaikan bagaimana teror Michael membuat warga turut berubah menjadi iblis. Terkesan inkonsisten, sebab seperti saya tulis sebelumnya, film ini juga berusaha menghadirkan nostalgia.

Tapi urusan bunuh-membunuh, Halloween Kills tetap memuaskan. Meski kerap kelimpungan mengatur tone (humor yang muncul di saat kurang tepat, ketidakjelasan apakah sebuah adegan memang diniati lucu atau murni kebodohan yang tak disengaja), Green sukses menyuguhkan parade pembantaian brutal yang menunjukkan "kreativitas" Michael, yang tak cuma asal tusuk. Cukup over-the-top, dan mengingatkan ke Halloween 4: The Return of Michael Myers (1988). Diiringi musik tema ikonik gubahan John Carpenter, walau menyimpan banyak lubang, pun hanya berperan sebagai jembatan sebelum babak pamungkas, Halloween Kills masih suatu slasher yang berjalan sesuai hakikatnya.

KNIVES OUT (2019)

Knives Out yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) menunjukkan mengapa acara kumpul keluarga adalah latar sempurna bagi sajian whodunit. Serupa seorang tersangka dalam kisah misteri pembunuhan yang berlagak polos agar tak mengungkap identitasnya sebagai pembunuh, anggota keluarga senantiasa bertingkah ramah, mengeluarkan tutur kata manis, padahal diam-diam memendam kebencian bahkan saling menusuk dari belakang.

Di rumah mewah yang didekorasi sedemikian menawan sampai ke detail terkecil oleh tim artistic filmnya, termasuk singgasana berhiaskan puluhan pisau dan belati ala Game of Thrones, seorang penulis novel kriminal ternama, Harlan Thrombey (Christopher Plummer) merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Anak-anak, menantu, cucu, hingga sang ibu yang sudah pikun karena dimakan usia, berkumpul. Mereka tampak berbahagia. Masalahnya, seperti diungkap di adegan pembuka, Harlan ditemukan tewas akibat luka sayatan pisau di leher.

Para keluarga serta pihak kepolisian meyakini itu adalah kasus bunuh diri, lalu hadirlah Benoit Blanc (Daniel Craig), seorang detektif swasta yang disewa oleh orang tak dikenal guna menyelidiki kasus tersebut. Blanc mencium ketidakberesan di sana. Selepas dilakukan interogasi, rupanya hampir tiap anggota keluarga mempunyai masalah dengan Harlan, sehingga punya cukup motif untuk menghabisi nyawa kepala Keluarga Thrombey.

Di luar internal keluarga, ada juga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat sekaligus sosok yang punya hubungan paling dekat dengan Harlan, lebih dekat dibanding anak-cucunya sendiri. Semua orang memperlakukan Marta dengan baik, menganggapnya seperti bagian keluarga. Marta punya sebuah kondisi aneh yang tidak bisa saya sebutkan, tapi kondisi itu nantinya amat berguna, baik untuk proses investigasi maupun memancing tawa. Marta sendiri merupakan puteri seorang imigran ilegal. Dari mana ibunya berasal? Kita tidak pernah tahu pasti.

Sebab tiap karakter melontarkan nama negara Amerika Latin yang berbeda. Ekuador pertama kali disebut, menyusul Paraguay, Uruguay, sampai Brazil. Hal itu adalah cara menggelitik dari Rian Johnson sebagai pemaparan subtil atas subteks filmnya. Di mata karakter-karakternya, semua negara itu sama saja, sebagaimana stereotip banyak pihak terhadap Asia atau Afrika, atau lebih tepatnya bagaimana orang Amerika memandang negara asing.

Secara luas, Knives Out bicara tentang rasisme, tapi di konteks lebih spesifik, filmnya menyentil isu tentang imigran. Begitu alurnya melangkah jauh, dinamika Keluarga Thrombey mulai mencerminkan ketakutan sebagian warga Amerika bahwa imigran datang guna mencuri kekayaan juga menjajah tanah mereka, membentuk satir sosial di dalam misteri pembunuhan. Jangan khawatir filmnya jadi terlalu politis, karena Johnson memastikan sentralnya tetap whodunit. Dan naskah buatannya benar-benar cerdik mengecoh apa pun ekspektasi penonton mengenai sesuatu dan seseorang.

Presentasi misterinya berdaya kejut tinggi tanpa mencurangi, di mana tiap pengungkapan fakta, meski berusaha tampil mencengangkan, selalu mengutamakan kerapian konstruksi cerita. Semua benih sudah ditanam secara konsisten. Hanya saja, kita tidak menyadari kalau suatu elemen yang muncul di layar adalah benih, atau menyadari tanpa tahu maksud sesungguhnya. Satu-satunya kelemahan naskah Johnson yakni ketika berusaha memperlebar cakupan, menghadirkan aksi-aksi lebih besar, menggiring kisahnya keluar dari kediaman Harlan. Tensi di fase itu berkurang, membuat Knives Out sedikit membengkak

Tapi karena Johnson hadir dengan penyutradaraan yang begitu bertenaga, Knives Out selalu bisa bangkit dari keterpurukan apa pun. Dia memahami seni dramatisasi dalam whodunit, menjadikan investigasi dan momen pengungkapan faktanya mengasyikkan. Ada sekuen di pertengahan durasi tatkala salah seorang karakter menjelaskan runtut semua kejadian di malam kematian Harlan. Di situ Johnson tahu cara memacu adrenalin penonton, alhasil sulit rasanya menahan keinginan bertepuk tangan.

Tidak ada whodunit bagus tanpa jajaran ensemble cast memikat. Seluruh penampil memerankan figur eksentrik, bahkan komedi, dan mereka mampu menarik perhatian bak magnet berkekuatan tinggi pada semua kemunculan. Kita bisa menduga bahwa Jamie Lee Curtis dan Michael Shannon bakal berakting kuat, masing-masing memainkan pebisnis wanita tangguh dan penerbit buku yang putus asa (keduanya juga mendapat momen komedik), dan kesenangan bertambah ketika pelakon lain tampil berlawanan dengan karakter dari film lain yang sebelumnya melambungkan nama mereka di mata publik.

Dari ibu dengan jiwa terguncang akibat gangguan iblis, Toni Collette di sini adalah influencer pencari perhatian; dari pahlawan bangsa, Chris Evans menjadi pemuda pemberontak dengan mulut kasar; Daniel Craig bertransformasi dari agen rahasia berkelas menjadi detektif jenius nan aneh yang bak punya hubungan darah dengan Sherlock Holmes dan/atau Hercule Poirot. Knives Out merupakan produk dari sineas yang paham sekaligus mencintai misteri pembunuhan dan whodunit, lalu bersenang-senang membuatnya, sehingga melahirkan salah satu suguhan terbaik tahun ini yang turut menyimpan nilai hiburan tinggi.

HALLOWEEN (2018)

Begini hasilnya saat sekuel dibuat oleh sineas handal sekaligus pengemar sejati. Tidak mengindahkan installment selain film orisinalnya jelas keputusan berani, sebab, selain elemen-elemen buruk, rumit, sekaligus memalukan (Druid, Busta Rhymes, sampah nuklir buatan Rob Zombie), Halloween II (1981, salah satu sekuel slasher terunik) dan Halloween H20: 20 Years Later (1998, salah satu sekuel slasher terbaik) pun turut terhapus. Pada akhirnya, terbukti keberanian itu merupakan langkah penghormatan terbaik bagi karakter-karakternya, menjadikannya film terbaik Halloween sejak karya John Carpenter 40 tahun lalu.

Apa yang David Gordon Green (George Washington, Pineapple Express, Joe), Danny McBride (Your Highness) dan Jeff Fradley ingin capai melalui naskah yang mereka tulis bukan (cuma) memberi Michael Myers panggung pembantaian, tapi juga kelanjutan natural yang layak bagi kisah Laurie Strode (Jamie Lee Curtis), sembari mengubah modus operandi franchise ini (keluarga), dari alasan membunuh atau kehilangan nyawa, menjadi alasan untuk bertahan hidup.
Mengenyahkan Halloween II berarti tidak lagi menganggap Laurie sebagai saudari Michael, sehingga alasan sang boogeyman alias The Shape mengejar si mantan pengasuh anak kembali ambigu. Kita pun kembali pada ucapan Dr. Loomis (tidak ada stock footage mendiang Donald Pleasence, sebatas gambar di buku dan penyebutan nama) dahulu, bahwa Michael adalah manifestasi iblis. Sesederhana itu. Tidak ada gangguan psikologis, tidak ada alasan pasti.

Dan Green, yang turut menempati kursi sutradra, menekankan itu sejak adegan pembuka mengerikan ketika dua jurnalis, Dana (Rhian Rees) dan Aaron (Jefferson Hall), mengonfrontasi Michael di rumah sakit jiwa. Begitu mereka mengeluarkan topeng Michael, atmosfer seketika berubah. Pasien lain bertingkah manic, anjing menggonggong, seolah sosok iblis tak kasat mata bangun dari tidur panjangnya. Lalu filmnya melompat ke kredit pembuka, dilengkapi gambar labu klasik khas Halloween dan lagu tema ikonik ciptaan Carpenter. Teruntuk para penggemar, momen ini saja sudah cukup memancing sorak sorai.

Laurie sendiri digambarkan tidak jauh berbeda dibanding Michael. Label “gila” disematkan masyarakat. Mengidap PTSD, hidup dalam ketakutan kalau suatu hari Michal bakal kembali, Laurie menghabiskan 40 tahun terakhir menyulap rumahnya menjadi benteng, berlatih teknik membela diri termasuk menggunakan senjata. Apabila Michael dikurung oleh pemerintah, Laurie mengurung dirinya sendiri.

Ketakutan Laurie memaksanya mengalami 2 kegagalan pernikahan plus kehilangan sang puteri, Karen (Judy Greer), yang menghabiskan masa kecilnya berlatih dan membuat perangkap, sementara cucunya, Allyson (Andi Matichak) berusaha meyakinkan orang tuanya untuk tetap menjalin komunikasi dengan sang nenek. Karen menganggap ketakutan Laurie berlebihan. Terlihat demikian selama 4 dekade terakhir, hingga bus yang para pasien termasuk Michael mengalami kecelakaan, dan ia kembali menebar teror bagi warga Haddonfield di malam Halloween.

Pasca tahun-tahun penuh sekuel buruk yang terus membawa franchise-nya bertransformasi dari slasher medioker, slasher dengan unsur supranatural sampai slasher remaja, Green membawa Halloween kembali ke akarnya. Diterapkannya gaya serupa Carpenter, di mana teror berasal dari atmosfer yang mencengkeram perlahan, menahan pembantaian hingga nyaris separuh jalan, walau harus diakui, terkadang Green kehilangan pegangan sehingga beberapa sekuen berakhir draggy.

Tapi Green sadar betul, bahwa sepenuhnya meniadakan sadisme dapat membuat penonton masa kini kebosanan. Alhasil, begitu Michael mengekan topengnya lagi (topeng terbaik sejak 2 film pertama), tubuh tanpa nyawa langsung bertumpuk. Dibandingkan karya Carpenter, jumlah kematian serta kebrutalan digandakan, tetapi mayoritas terjadi di balik layar supaya atmosfer yang hendak dibangun urung terdistraksi oleh gore. Hebatnya, Green bisa menciptakan banyak creative kills tanpa memperlihatkan peristiwanya. Caranya adalah menunjukkan mayat-mayat yang Michael tinggalkan, sehingga nuansa sadisme tetap terasa. Bahkan kali ini Michael tidak segan menghabisi seorang bocah.

Green memahami Halloween luar-dalam, dan itu terlihat. Contohnya, ia mematuhi “aturan” yang Rob Zombie langgar: menampilkan Michael tanpa topeng. Di film ini, sebelum topeng dikenakan, kita hanya melihat punggung, kaki, atau kepala. Ketika menampakkan seluruh tubuh atau wajah pun, kamera menangkapnya dari jauh, di luar fokus, atau dalam kondisi bergerak cepat. Cerdik pula cara Green memainkan visual cues khas Halloween: tubuh yang menghilang, sudut gelap ruangan, lemari. Bukan atas nama nostalgia semata, semuanya jadi bagian pengembangan karakter, termasuk penukaran peran “pemburu” dan “yang diburu”. Laurie bukan sekedar korban tak berdaya, namun aktif mengejar Michael. Jamie Lee Curtis mengerahkan segala kemampuannya sebagai heroine dengan fisik kokoh namun remuk dan rapuh secara mental.

Third act-nya termasuk salah satu yang terbaik di antara jajaran slasher. Ingin rasanya menjerit kegirangan menyaksikan pertarungan terakhir yang turut bertindak selaku konklusi luar biasa memuaskan terhadap segala konflik keluarga di antara tiga generasi Strode, pasca set-up kuat nan panjang. “Happy Halloween, Michael!”.

THE FOG (1980)

Jika Halloween adalah bagaimana John Carpenter membawa sebuah urban legend kedalam dunia nyata, maka The Fog adalah urban legend itu sendiri. Dibuka dengan adegan seorang pria tua (John Houseman) menceritakan kisah seram di depan api unggun tentang kabut misterius yang menenggelamkan sebuah kapal, film ini mengajak penonton menyaksikan teror saat cerita tersebut menjadi kenyataan. Carpenter tidak banyak berbasa-basi disini. Tidak seperti Halloween yang menghabiskan paruh pertamanya untuk pembangunan teror secara perlahan, The Fog langsung tancap gas setelah adegan pembuka tadi selesai. Tengah malam yang biasanya tenang di kota kecil bernama Antonio Bay mendadak dipenuhi kejadian misterius. Kita tahu semua barang yang bergerak dan pecah dengan sendirinya adalah perbuatan para hantu, meski kita akan bertanya-tanya untuk apa hantu mencabut pompa bensin atau menyalakan alarm mobil. Jangan harap Carpenter maupun Debra Hill selaku penulis naskah bakal menjawab itu.

Jika bicara soal cerita, The Fog memang bukan merupakan horror yang cerdas. Kita akhirnya tahu bahwa semua teror itu hadir karena masa lalu kelam yang dimiliki Antonio Bay. Karena itu para hantu berusia 100 tahun tersebut harus membunuh enam orang untuk melampiaskan dendam mereka. Keenam nyawa harus diambil dalam rentang waktu satu jam, antara pukul 12 sampai 1 malam, karena pada jam itulah keenam konspirator yang juga pendiri Antonio Bay berkumpul untuk merencanakan sebuah tindakan kejam. Jadi bisa ditebak para hantu berniat menghabisi enam orang keturunan konspirator tersebut bukan? Disitulah naskah Carpenter dan Hill tampak kebingungan. Di satu momen khususnya yang melibatkan karakter Father Malone (Hal Holbrook) sepertinya memang itu tujuannya. Tapi di momen lain para hantu tampak menyerang siapapun secara acak. Tapi pada adegan pembuka mereka hanya mejatuhkan barang di sebuah supermarket tanpa membunuh seorang pria yang ada disana. 
Pada akhirnya itu adalah lubang yang diciptakan memang hanya untuk memberi kesempatan pada filmnya menebar teror selama mungkin, termasuk adegan saat sebuah papan kayu tiba-tiba terbakar atau mayat yang mendadak hidup kembali hanya untuk menyampaikan pesan menggelikan. Tapi disaat sebuah film horror mampu menghadirkan kengerian, tidak peduli seburuk apapun kualitas naskah maupun aspek lainnya maka itu adalah horror yang baik. Carpenter membuat film horror yang tidak murahan disini. Kengerian dihadirkan lewat pembangunan atmosfer, bukan scare jump penuh efek suara memekakkan. Scare jump muncul hanya pada saat-saat tertentu yang memang membutuhkan kehadirannya, dan tanpa dentuman musik yang berlebihan. Hasilnya pun efektif. Teror sudah dibangun dari awal dan tak pernah berhenti. Tapi itu bukan berarti filmnya terburu-buru. Karena berpusat pada membangun suasana, The Fog sendiri terasa seperti kabut yang menyeruak perlahan tapi secara pasti menyelimuti seisi kota. 

Ketegangan merambati penonton, bukan menggedor mereka tiba-tiba. Alhasil kita tidak akan merasa lelah dan filmnya pun tidak pernah kehabisan bahan bakar. Film ini tidak berusaha mengejutkan penonton, namun bermain-main dengan antisipasi kita. Penonton diajak melihat langsung (khususnya pada klimaks) bagaimana kabut secara perlahan menyelimuti seisi Antonio Bay. Kita tahu jika pada akhirnya kabut telah menutupi seluruh kota, maka bahaya bakal mencapai puncaknya. Rasanya pun mencekam, karena meski tidak diajak berada langsung disana, penonton bagai melihat langsung dari balik kaca. Kecemasan semakin memuncak saat kita sadar bahwa kita hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apapun. Perasaan tidak berdaya melihat para karakter yang juga tidak berdaya itu menjadikan klimaksnya begitu efektif. Seperti di mayoritas filmnya, Carpenter juga menjadi komposer musik film ini. Hasilnya pun luar biasa. Film-film klasiknya termasuk Halloween dan The Fog kerap menghadirkan sebuah scoring klasik yang sempurna mewakili suasana filmnya. Cobalah mendengarkan scoring film ini sambil menutup mata, maka suasana mencekam karena perasaan bakal hadirnya hal misterius yang mengancam sontak bakal kita rasakan. 
Walaupun bernaskah buruk, The Fog punya kelebihan yang jarang dimiliki horror kebanyakan, yaitu karakter yang bagus dan mudah menarik simpati. Karena fokusnya bukan hanya teror terhadap salah satu tokoh melainkan seisi kota, maka film ini membagi fokusnya pada beberapa karakter. Kesemuanya mendapat porsi yang cukup berimbang. Interaksi yang hadir diantara mereka pun bukan sekedar pengisi durasi yang membosankan, melainkan dinamika hidup antara sosok-sosok "nyata". Nick Castle (Tom Atkins) dan Elizabeth (Jamie Lee Curtis) adalah pasangan yang tidak sampai mengganggu tone film ini dengan kisah cinta mereka, meski patut disayangkan karakter Elizabeth tidak mewadahi Jamie Lee Curtis untuk tampil habis-habisan layaknya di Halloween. Kathy Williams (Janet Leigh) dan Sandy (Nancy Loomis) adalah dua karakter bertolak belakang yang memberikan dinamika menarik. Kathy adalah bos yang cerewet tapi tidak annoying sedangkan Sandy adalah asisten yang ketus dan mampu membuat ucapan "Yes mam" seperti "screw you". 

Tapi yang paling mencuri perhatian adalah Stevie Wayne (Adrienne Barbeau) sang penyiar radio. Bermodalkan suara Adrienne Barbeau, karakter Stevie jadi begitu esensial bagi film ini. Diawal kita mengenalnya sebagai tipikal penyiar radio wanita dengan suara menggoda. Tapi seiring film berjalan, perannya berkembang menjadi bumbu ketegangan. Ibarat pertandingan sepak bola, Stevie adalah komentator yang menarasikan tiap kejadian dan membuat pertandingan bertambah seru. Stevie pun semakin mendapat simpati dari saya saat dia mengambil peran heroik dengan bertahan di mercusuar guna memberikan informasi tentang pergerakan kabut meski hal itu membahayakan keselamatannya. Klimaksnya yang terbagi dalam dua lokasi pun mendapat keuntungan dari hal tersebut. Adegan di Gereja memang punya skala lebih besar, tapi meski hanya sendirian dan berada di satu lokasi, kejar-kejaran antara Stevie dengan para hantu (atau zombie?) terasa sama bahkan lebih menegangkan.