Tampilkan postingan dengan label Ana de Armas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ana de Armas. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE GRAY MAN

Selain James Cameron, hanya Russo Brothers yang memiliki dua film dengan pendapatan mencapai dua miliar dollar. Ditambah tendensi menggelontorkan dana besar-besaran demi konten orisinal, keputusan Netflix menunjuk figur di balik lahirnya babak kulminasi franchise sinema terbesar sepanjang masa untuk mengarahkan produk termahal mereka, dapat dilihat sebagai kejawaran. 

The Gray Man yang mengadaptasi novel berjudul sama milik Mark Greaney punya bujet 200 juta dollar, dan Russo Brothers pernah menggarap tiga film dengan biaya di atas itu (bahkan empat kalau memperhitungkan inflasi). Bukankah berarti semua bakal berjalan mulus? 

Tapi menonton The Gray Man justru mengingatkan pada realita, bahwa di luar perspektif etika, campur tangan eksekutif studio tak melulu berujung kualitas buruk. Bukan rahasia bila Kevin Feige kerap memberi "masukan" dalam proses produksi MCU (sebelum belakangan mulai membebaskan eksplorasi mengingat kuantitas filmnya bertambah). The Gray Man menandai kemandirian perdana Russo Brothers di ranah blockbuster, yang justru membuat saya mempertanyakan talenta mereka. 

Tahanan bernama Courtland "Court" Gentry (Ryan Gosling) direkrut oleh Donald Fitzroy (Billy Bob Thornton) untuk bekerja sebagai "mesin pembunuh" untuk CIA. Memakai kode nama "Sierra Six", ia mengeliminasi target sesuai arahan. Sampai suatu misi membuat Court mengetahui rahasia perusahaan, yang menjadikannya target buruan banyak pembunuh dari berbagai negara, termasuk Lloyd Hansen (Chris Evans), mantan anggota CIA yang dikeluarkan akibat aksi-aksi bengisnya. 

Mengusung formula film spionase yang mengirim karakternya menuju petualangan melintasi banyak negara, The Gray Man jelas ini menjadi "the next James Bond". Konfrontasi dua leading man kelas A Hollywood juga memberi nilai jual lebih. Ditambah pemilihan Ana de Armas yang karirnya makin bersinar guna memerankan Dani, agen CIA yang menolong Court, lengkap sudah amunisi The Gray Man. 

Tapi kembali ke pembahasan awal, masalah terletak pada orang-orang di balik kamera, baik penyutradaraan maupun naskah yang ditulis Joe Russo, Christopher Markus, dan Stephen McFeely. Dosa besar duo sutradaranya, yang memunculkan pesimisme kalau di masa depan nanti bakal ada studio mau mengucurkan dana ratusan juta untuk mereka, adalah kegagalan membuat The Gray Man nampak punya biaya 200 juta dollar.

Saya bukan sedang menyinggung kualitas CGI sebagaimana kerap jadi acuan publik menentukan apakah sebuah film kelihatan mahal. Simak pilihan-pilihan shot mereka, khususnya di adegan aksi. "Datar", tanpa money shot, bahkan tak jarang terkesan "asal rekam". Ambil contoh set piece di Praha yang memakan biaya 40 juta dollar. Penuh efek, destruktif, tapi lihat bagaimana Russos menangkap Ryan Gosling berlari di atas trem yang hendak menabrak gedung (muncul di trailer). Canggung, kalau tak mau disebut memalukan. Sutradara blockbuster bertalenta bakal mampu mengolah money shot agar si protagonis nampak badass dalam situasi tersebut. 

Kasus serupa terjadi dalam sekuen "pesawat jatuh". Saya cuma melihat keruwetan di layar. Tanpa estetika, tanpa intensitas. Beberapa bulan lalu Michael Bay merilis Ambulance, yang meski tidak luar biasa, jelas nampak lebih mahal walau hanya diberi bujet 20% dari The Gray Man, berkat kecerdikan meramu shot. Sedangkan Russo Brothers beranggapan bahwa memakai drone sesering mungkin adalah pondasi kemewahan. 

Naskahnya tidak kalah berdosa, entah terkait hal-hal dasar seperti cerita dan penokohan, sampai soal konsepsi adegan aksi. Court merupakan father figure bagi Claire (Julia Butters), ponakan Fitzroy, namun akibat presentasi lemah, ikatan mereka tampil tak bernyawa. Gosling pun bak kebingungan menghidupkan sosok Court, sebab naskahnya sendiri tidak jelas dalam menentukan, apakah karakternya sedingin es dan gemar melempar dry humor, atau memang witty. 

Terkait aksi, sebuah sekuen memperlihatkan jelas betapa buruk naskahnya dalam hal pengonsepan. Court diborgol di bangku taman, sementara belasan pembunuh mengepungnya. Situasi macam itu mestinya jadi ajang menegaskan betapa hebatnya si jagoan sampai bisa melumpuhkan begitu banyak lawan di tengah keterbatasan. Tapi tidak. Para pembunuh bukan kelabakan karena kemampuan luar biasa sang protagonis, tapi akibat banyaknya polisi. Jangan-jangan penulisnya belum menonton seri 007, Mission: Impossible, atau John Wick. 

Lalu setelah menanti selama hampir dua jam, akhirnya Ryan Gosling dan Chris Evans saling adu jotos.....untuk diakhiri secara antiklimaks. Benar, novelnya mengambil jalan serupa, tapi adaptasi layar lebar memerlukan penyesuaian. Pun sebagai adaptasi, naskahnya berhak memodifikasi, selama bukan terkait hal-hal yang merusak intisari materi asalnya. 

Apakah tidak ada redeeming factor di sini? Untungnya ada, yakni jajaran cast-nya. Evans tampak bersenang-senang meski (lagi-lagi) naskah semestinya bisa memberi tambahan materi agar sang aktor dapat mengeksplorasi kegilaan karakter peranannya. Dhanush sebagai Lone Wolf si "pembunuh dari Tamil" di luar dugaan mendapat porsi lebih dari sebatas glorified cameo, dan saya mengapresiasi itu. Ana de Armas kembali mencuri perhatian sebagai jagoan laga tangguh, yang pantas berada di film dengan kualitas lebih baik. 

(Netflix)

REVIEW - NO TIME TO DIE

No Time to Die melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan film Bond lain, yakni memberi closure. Sejak era Sean Connery sampai Pierce Brosnan, petualangannya cenderung "lepas". Beberapa sekuel meneruskan kisah sebelumnya, tapi bukan sebagai saga yang berkelanjutan dan saling berpengaruh. Ditambah lagi kontinuitas ambigu serinya, yang sampai memunculkan beragam teori.  

Tapi sejak Casino Royale 15 tahun lalu, era Craig memang mendobrak berbagai pola, termasuk memanusiakan Bond sebagai pria dengan trauma yang dipicu kehilangan demi kehilangan. Ketika Vesper Lynd (Eva Green) tewas di Casino Royale, kita tahu ini berbeda dengan kematian Tracy di Vicenzo dalam On Her Majesty's Secret Service (1969). Dampak kehilangan Lynd terus Bond rasakan, membentuknya menjadi figur yang terluka dan sulit menaruh rasa percaya. 

Pasca berhasil menangkap Blofeld (Christoph Waltz), Bond pensiun dari MI6 guna menjalani hidup baru bersama Madeleine (Léa Seydoux) di Italia. Sampai serangan para anggota Spectre membangkitkan traumanya, membuatnya mempertanyakan intensi Madeleine. Lima tahun berselang, sebuah kelompok teroris di bawah pimpinan Lyutsifer Safin (Rami Malek) menebar ancaman lewat senjata biologis mematikan, sehingga memaksa Bond kembali beraksi.

Ditulis oleh duo Neal Purvis dan Robert Wade yang telah melahirkan naskah Bond sejak The World Is Not Enough (1999), juga Phoebe Walter-Bridge serta sang sutradara, Cary Joji Fukunaga, sekilas tiada perubahan signifikan antara film ini dengan Skyfall (2012) dan Spectre (2015), selaku kombinasi formula klasik dan modern serinya. Antagonis dengan rencana merusak tatanan dunia; petualangan di berbagai negara, alat canggih ciptaan Q (Ben Whishaw); M (Ralph Fiennes) dan Moneypenny (Naomie Harris) yang tak lagi hanya duduk di belakang meja; dan lain-lain.

Serupa. Tapi, tidak sama. Konflik maupun motivasi karakter, bermuara pada gejolak batin si agen rahasia, ketimbang berdiri sendiri sebagai plot device, menegaskan bahwa film-film Craig merupakan character-driven. Konklusinya mungkin memecah opini penggemar, namun jelas pantas menutup cerita tentang individu yang berusaha memaafkan diri sendiri, sambil belajar cara mencintai. Setelah hampir enam dekade, Bond akhirnya berubah total, dari playboy yang rutin berganti wanita, menjadi pria yang meneteskan air mata sembari tersenyum karena cinta.

Sebagaimana Casino Royale, kelayakan Craig menyabet nominasi Oscar kembali diutarakan banyak kritikus. Tentu peluangnya amat kecil, namun poin utamanya bukan soal berhasil meraih penghargaan atau tidak, tetapi bagaimana Craig memanusiakan Bond, menjadikannya lebih dari sekadar ikon keren, melainkan sosok yang perasaannya bisa penonton pahami. 

Jajaran bond girls pun terus berevolusi, naik kelas, bukan cuma pemanis semata. Léa Seydoux bakal mencatatkan namanya di buku sejarah James Bond karena alasan yang tidak bisa saya sebut demi menghindari spoiler. Pastinya, meneruskan jejak Vesper, Madeleine berkontribusi menambah bobot emosi penceritaan. Sedangkan Ana de Armas sebagai Paloma si agen CIA, meski cuma muncul sejenak, turut membawa angin segar. Dia canggung, playful, tapi begitu mengangkat senjata, jelas bahwa masa di mana bond girls adalah damsel in distress yang selalu butuh ditolong, telah berakhir. Paloma is the first bond girl that deserves a spin-off. 

Bond yang lebih manusiawi, gadis-gadisnya yang makin modern, semua menyangkut relevansi. Mungkin itu juga, kenapa bagi saya, amunisi Safin lebih mengerikan dari kebanyakan musuh Bond. Senjata biologis yang menyasar target secara spesifik melalui DNA, pun bisa menyebar hanya lewat satu sentuhan layaknya virus mematikan. Bagaimana jika kita menularkan virus itu ke tubuh orang terdekat? Teror Safin memainkan salah satu rasa takut terbesar manusia, yaitu terpisahkan dari orang-orang tercinta. Bakal berbeda jika dipakai lima tahun lalu, tapi sekarang, senjata tersebut jadi lebih nyata, dan memunculkan ketidakberdayaan yang terasa sangat dekat.

Berkatnya, Safin naik kelas. Malek memang tampil cukup baik, dengan ekspresi serta cara bicara dingin, yang membuatnya tampak tak manusawi (berlawanan dengan Bond). Tapi ganti terornya, semisal dengan alat pengendali nuklir, ditambah eksplorasi latar belakang setengah matang, maka ia tak ubahnya antagonis megalomania lain yang sudah sering jagoan kita hadapi. 

No Time to Die bukannya tanpa kelemahan. Durasi 163 menitnya (film 007 terpanjang) sulit dijustifikasi. Mengulangi kekurangan Spectre, banyak momen berjalan terlalu panjang (mayoritas berupa eksposisi), pula minim upaya menjadikannya menarik. Bandingkan dengan Casino Royale. Second act-nya didominasi permainan poker, yang secara cerdik, disulap jadi alat pembangun dinamika antara Bond dengan antagonis dan tokoh-tokoh pendukung lain. Satu peristiwa yang terdengar membosankan, rupanya menyimpan banyak fungsi.

Cukup melelahkan, setidaknya sampai adegan aksi mengisi layar. Melalui sekuen pembuka yang meminjam elemen home invasion horror dan baku tembak di tengah hutan berkabut, Fukunaga membawa Bond ke ranah lebih atmosferik, di samping aksi bombastis khas franchise-nya (dan satu sekuen long take). Solid, meski belum seintens Casino Royale, belum pula menandingi pencapaian artistik Skyfall. Begitu pun keseluruhan filmnya. Walau bukan judul terbaik dalam era Craig, No Time to Die merupakan perpisahan yang pantas. James Bond akhirnya berproses, berkembang, dan "merasakan".

KNIVES OUT (2019)

Knives Out yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) menunjukkan mengapa acara kumpul keluarga adalah latar sempurna bagi sajian whodunit. Serupa seorang tersangka dalam kisah misteri pembunuhan yang berlagak polos agar tak mengungkap identitasnya sebagai pembunuh, anggota keluarga senantiasa bertingkah ramah, mengeluarkan tutur kata manis, padahal diam-diam memendam kebencian bahkan saling menusuk dari belakang.

Di rumah mewah yang didekorasi sedemikian menawan sampai ke detail terkecil oleh tim artistic filmnya, termasuk singgasana berhiaskan puluhan pisau dan belati ala Game of Thrones, seorang penulis novel kriminal ternama, Harlan Thrombey (Christopher Plummer) merayakan ulang tahunnya yang ke-85. Anak-anak, menantu, cucu, hingga sang ibu yang sudah pikun karena dimakan usia, berkumpul. Mereka tampak berbahagia. Masalahnya, seperti diungkap di adegan pembuka, Harlan ditemukan tewas akibat luka sayatan pisau di leher.

Para keluarga serta pihak kepolisian meyakini itu adalah kasus bunuh diri, lalu hadirlah Benoit Blanc (Daniel Craig), seorang detektif swasta yang disewa oleh orang tak dikenal guna menyelidiki kasus tersebut. Blanc mencium ketidakberesan di sana. Selepas dilakukan interogasi, rupanya hampir tiap anggota keluarga mempunyai masalah dengan Harlan, sehingga punya cukup motif untuk menghabisi nyawa kepala Keluarga Thrombey.

Di luar internal keluarga, ada juga Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat sekaligus sosok yang punya hubungan paling dekat dengan Harlan, lebih dekat dibanding anak-cucunya sendiri. Semua orang memperlakukan Marta dengan baik, menganggapnya seperti bagian keluarga. Marta punya sebuah kondisi aneh yang tidak bisa saya sebutkan, tapi kondisi itu nantinya amat berguna, baik untuk proses investigasi maupun memancing tawa. Marta sendiri merupakan puteri seorang imigran ilegal. Dari mana ibunya berasal? Kita tidak pernah tahu pasti.

Sebab tiap karakter melontarkan nama negara Amerika Latin yang berbeda. Ekuador pertama kali disebut, menyusul Paraguay, Uruguay, sampai Brazil. Hal itu adalah cara menggelitik dari Rian Johnson sebagai pemaparan subtil atas subteks filmnya. Di mata karakter-karakternya, semua negara itu sama saja, sebagaimana stereotip banyak pihak terhadap Asia atau Afrika, atau lebih tepatnya bagaimana orang Amerika memandang negara asing.

Secara luas, Knives Out bicara tentang rasisme, tapi di konteks lebih spesifik, filmnya menyentil isu tentang imigran. Begitu alurnya melangkah jauh, dinamika Keluarga Thrombey mulai mencerminkan ketakutan sebagian warga Amerika bahwa imigran datang guna mencuri kekayaan juga menjajah tanah mereka, membentuk satir sosial di dalam misteri pembunuhan. Jangan khawatir filmnya jadi terlalu politis, karena Johnson memastikan sentralnya tetap whodunit. Dan naskah buatannya benar-benar cerdik mengecoh apa pun ekspektasi penonton mengenai sesuatu dan seseorang.

Presentasi misterinya berdaya kejut tinggi tanpa mencurangi, di mana tiap pengungkapan fakta, meski berusaha tampil mencengangkan, selalu mengutamakan kerapian konstruksi cerita. Semua benih sudah ditanam secara konsisten. Hanya saja, kita tidak menyadari kalau suatu elemen yang muncul di layar adalah benih, atau menyadari tanpa tahu maksud sesungguhnya. Satu-satunya kelemahan naskah Johnson yakni ketika berusaha memperlebar cakupan, menghadirkan aksi-aksi lebih besar, menggiring kisahnya keluar dari kediaman Harlan. Tensi di fase itu berkurang, membuat Knives Out sedikit membengkak

Tapi karena Johnson hadir dengan penyutradaraan yang begitu bertenaga, Knives Out selalu bisa bangkit dari keterpurukan apa pun. Dia memahami seni dramatisasi dalam whodunit, menjadikan investigasi dan momen pengungkapan faktanya mengasyikkan. Ada sekuen di pertengahan durasi tatkala salah seorang karakter menjelaskan runtut semua kejadian di malam kematian Harlan. Di situ Johnson tahu cara memacu adrenalin penonton, alhasil sulit rasanya menahan keinginan bertepuk tangan.

Tidak ada whodunit bagus tanpa jajaran ensemble cast memikat. Seluruh penampil memerankan figur eksentrik, bahkan komedi, dan mereka mampu menarik perhatian bak magnet berkekuatan tinggi pada semua kemunculan. Kita bisa menduga bahwa Jamie Lee Curtis dan Michael Shannon bakal berakting kuat, masing-masing memainkan pebisnis wanita tangguh dan penerbit buku yang putus asa (keduanya juga mendapat momen komedik), dan kesenangan bertambah ketika pelakon lain tampil berlawanan dengan karakter dari film lain yang sebelumnya melambungkan nama mereka di mata publik.

Dari ibu dengan jiwa terguncang akibat gangguan iblis, Toni Collette di sini adalah influencer pencari perhatian; dari pahlawan bangsa, Chris Evans menjadi pemuda pemberontak dengan mulut kasar; Daniel Craig bertransformasi dari agen rahasia berkelas menjadi detektif jenius nan aneh yang bak punya hubungan darah dengan Sherlock Holmes dan/atau Hercule Poirot. Knives Out merupakan produk dari sineas yang paham sekaligus mencintai misteri pembunuhan dan whodunit, lalu bersenang-senang membuatnya, sehingga melahirkan salah satu suguhan terbaik tahun ini yang turut menyimpan nilai hiburan tinggi.

BLADE RUNNER 2049 (2017)

Sekuel dirilis puluhan tahun pasca film asli bukan hal asing. Beberapa demi nostalgia, beberapa semata usaha putus asa mengais sisa kejayaan untuk pundi-pundi uang, beberapa memang sebuah lanjutan perjalanan yang perlu. Blade Runner 2049 selaku sekuel Blade Runner (1982) yang merupakan adaptasi novel Do Androids Dream of Electric Sheep? buatan Philip K. Dick sejatinya tanpa urgensi. Tapi melanjutkan rentetan kemenangannya, Denis Villeneuve mampu melahirkan sekuel yang melampaui pendahulunya, setidaknya di mata minoritas macam saya yang kurang mengagumi karya Ridley Scott tersebut.

Blade Runner versi original kental eksplorasi filosofis tentang eksistensi dan kemanusiaan tapi kurang perihal balutan misteri guna menemani tuturan neo-noir tempo lambatnya. Masih ditulis oleh Hampton Francher yang kini berduet bersama Michael Green menggantikan David Peoples, Blade Runner 2049 tetap mempertanyakan humanisme yang tersimpan di balik investigasi K (Ryan Gosling), anggota Blade Runner yang bertugas "memensiunkan" replicants. K sendiri juga seorang replicants. Karena menghindari spoiler, saya tidak bisa menjabarkan lengkap, tapi intinya penyelidikan K mengarah akan rahasia replicants yang dapat mengubah dunia, khususnya hubungan mereka dengan manusia.
Berlangsung selama 163 menit, naskahnya rutin menyuguhkan misteri berdaya tarik tinggi untuk penonton gali. Kuatnya pengaruh noir yang identik dengan alur rumit di mana penyelidikan bakal bercabang dan fakta disebar dalam bentuk kepingan-kepingan kecil pula urung diungkap secara gamblang memaksa penonton berkonsentrasi penuh. Di sinilah gaya Villenueve berperan penting. Serupa Arrival, tempo lambat dipakai supaya tiap momen dan potongan puzzle tertancap di benak penonton, memberi kita waktu mengolah seluruh informasi. Walau di beberapa kesempatan, kelambatan itu berlebihan, menjadikan aktivitas sederhana para tokoh bak berlangsung tanpa ujung.

Pemangkasan durasi sekitar 10-15 menit akan membantu mempertahankan konsistensi intensitas. Setidaknya sinematografi luar biasa Roger Deakins setia menemani. Ditemani tata artistik yang meyakinkan melebur pemandangan tandus wasteland dengan nuansa "low life, high tech" ala cyberpunk, gambar olahan Deakins adalah masterpiece soal pilihan warna dan permainan cahaya. Ketika kisahnya menyoroti jurang pemisah manusia dan replicants, Deakins juga menghadirkan kontradiksi antara reruntuhan peradaban maju seperti di Las Vegas, tempat Rick Deckard (Harrison Ford) bersembunyi yang kental warna Jingga dengan atmosfer futuristik di markas Niander Wallace (Jared Leto) sang produsen replicants
Perpaduan juara sinematografi plus tata artistik tersebut membantu Villeneuve mewujudkan visinya mengemas adegan aksi yang memberi peran penting pada lingkungan sekitar. Aksi milik Blade Runner 2049 cenderung artistik ketimbang bombastis, kondisi sekeliling mempengaruhi rintangan karakter (ombak di klimaks) atau mempengaruhi mood macam hologram Elvis dan Marilyn Monroe yang mengiringi baku hantam K dan Deckard. Momen kedua jadi contoh eksperimen cerdik untuk visual serta suara. Sayangnya departemen musik yang digawangi duo Hans Zimmer-Benjamin Wallfisch tak mampu mengulangi maha karya Vangelis di film pertama walau mempertahankan synth atmosferik sambil diselingi hentakan khas Zimmer. Apalagi dibanding pendahulunya, Blade Runner 2049 menambah kadar bumbu romantika, sehingga scoring jazzy yang intim pun terkadang seksi milik Vangelis jelas lebih cocok.

Gosling sempurna mewakili tema "mempertanyakan kemanusiaan" filmnya lewat penampilan dingin yang turut memancing ambiguitas K dan replicants pada umumnya. Apakah mereka punya jiwa, sekedar benda tanpa nyawa, atau justru lebih manusia dari manusia itu sendiri? Ford membawa Deckard menjadi lebih gritty, selaras dengan setumpuk hal yang menimpanya selama 30 tahun, sementara Leto tampil eksentrik sebagaimana baris-baris kalimat filosofis yang diucapkan Wallace. Namun hati terbesar bersumber dari Ana de Armas sebagai Joi, kekasih hologram K yang meski tanpa tubuh nyata, justru lebih memiliki rasa ketimbang para manusia. Kalimat "like a real girl" yang ia lontarkan adalah hal paling menyentuh sepanjang film. Jadi, apakah yang membuat kita spesial?

OVERDRIVE (2017)

Overdrive adalah satu dari sekian banyak tontonan kelas dua yang berusaha mengekor kesuksesan seri Fast & Furious, berharap sebagian target pasar franchise raksasa itu tergoda oleh kemiripan yang ditawarkan. Formulanya memang serupa. Mobil mewah, perempuan cantik, aksi gila melawan logika, sampai plot soal pencurian yang memaksa tokoh utamanya membentuk sebuah tim. Kebetulan Scott Eastwood sebagai salah satu cast The Fate of the Furious turut ambil bagian memerankan Andrew Foster sang protagonis. 

Cerita dalam naskah besutan Michael Brandt dan Derek Haas sebetulnya generik. Andrew bersama adik tirinya, Garett (Feddie Thorp) merupakan dua bersaudara pencuri mobil yang mesti berurusan dengan mafia sekaligus kolektor mobil antik bernama Jacomo Morier (Simon Abkarian) akibat "tanpa sengaja" mencuri koleksi barunya. Keduanya dipaksa mengambil mobil milik saingan bisnis Morier, Max Klemp (Clemens Schick) yang konon terkenal bengis. Intinya hanya itu. Tapi Brandt dan Haas menumpahkan banyak belokan tajam, karakter tambahan, serta sub-konflik, menghasilkan setumpuk kerumitan.

Hampir 10 menit sekali muncul masalah baru yang dibawa oleh tokoh baru pula, menjadikan durasi 93 menitnya penuh sesak. Semua didasari usaha memberi kompleksitas yang sesungguhnya tak perlu, sebab sering kali poin plotnya mengundang tanya, "untuk apa?". Tidak jarang keputusan karakternya justru menyulitkan diri sendiri. The kind of stupidity that hide behind unnecessary complexites. Belum lagi, mengikuti semangat film heist, twist beraneka ragam khususnya soal rencana pencurian bakal bergantian muncul ke permukaan. Kejutan yang tidak terduga, bukan karena kepintaran naskah mengecoh penonton, melainkan murni bentuk "penipuan" yang tiba-tiba saja terjadi.
Tentu bodoh. Sebodoh rencana Andrew dan kawan-kawan yang tak nampak disusun oleh para ahli di bidangnya. Namun kebodohan tersebut sulit dipungkiri, terasa menyenangkan. We love surprises. Kala Overdrive yang overstuffed ini dikemas penuh kesadaran atas kebodohan miliknya, penonton pun tinggal duduk menikmati sambil mengistirahatkan otak. Dan walau keterbatasan biaya (dan imajinasi) menghalangi kegilaan maksimum seperti inspirasi terbesarnya, Antonio Negret selaku sutradara masih punya visi mencukupi dalam membuat brainless action set piece. Duel (literally) mobil melawan pesawat adalah contoh terbaik.

Beberapa kali Andrew dan Garrett membicarakan ayah mereka. Selain demi menanamkan (secara paksa) drama keluarga, seolah merupakan nod bagi si pemeran utama. Scott Eastwood memang masih tenggelam di balik bayang-bayang sang ayah. Mungkin pesonanya masih amat jauh dibanding Clint, tetapi Scott menampilkan charm memadahi, cukup merepresentasikan sosok jagoan keren sesuai kebutuhan film. Ana de Armas sebagai Stephanie, kekasih Andrew, dan Gaia Wess sebagai Devin si pencopet pun serupa, walau bukan tokoh-tokoh dengan dengan penulisan solid, telah memenuhi kebutuhan filmnya selaku car movie akan aktris berparas cantik. Overdrive is fun. Brainless fun. Just don't expect more