REVIEW - THE GRAY MAN
Selain James Cameron, hanya Russo Brothers yang memiliki dua film dengan pendapatan mencapai dua miliar dollar. Ditambah tendensi menggelontorkan dana besar-besaran demi konten orisinal, keputusan Netflix menunjuk figur di balik lahirnya babak kulminasi franchise sinema terbesar sepanjang masa untuk mengarahkan produk termahal mereka, dapat dilihat sebagai kejawaran.
The Gray Man yang mengadaptasi novel berjudul sama milik Mark Greaney punya bujet 200 juta dollar, dan Russo Brothers pernah menggarap tiga film dengan biaya di atas itu (bahkan empat kalau memperhitungkan inflasi). Bukankah berarti semua bakal berjalan mulus?
Tapi menonton The Gray Man justru mengingatkan pada realita, bahwa di luar perspektif etika, campur tangan eksekutif studio tak melulu berujung kualitas buruk. Bukan rahasia bila Kevin Feige kerap memberi "masukan" dalam proses produksi MCU (sebelum belakangan mulai membebaskan eksplorasi mengingat kuantitas filmnya bertambah). The Gray Man menandai kemandirian perdana Russo Brothers di ranah blockbuster, yang justru membuat saya mempertanyakan talenta mereka.
Tahanan bernama Courtland "Court" Gentry (Ryan Gosling) direkrut oleh Donald Fitzroy (Billy Bob Thornton) untuk bekerja sebagai "mesin pembunuh" untuk CIA. Memakai kode nama "Sierra Six", ia mengeliminasi target sesuai arahan. Sampai suatu misi membuat Court mengetahui rahasia perusahaan, yang menjadikannya target buruan banyak pembunuh dari berbagai negara, termasuk Lloyd Hansen (Chris Evans), mantan anggota CIA yang dikeluarkan akibat aksi-aksi bengisnya.
Mengusung formula film spionase yang mengirim karakternya menuju petualangan melintasi banyak negara, The Gray Man jelas ini menjadi "the next James Bond". Konfrontasi dua leading man kelas A Hollywood juga memberi nilai jual lebih. Ditambah pemilihan Ana de Armas yang karirnya makin bersinar guna memerankan Dani, agen CIA yang menolong Court, lengkap sudah amunisi The Gray Man.
Tapi kembali ke pembahasan awal, masalah terletak pada orang-orang di balik kamera, baik penyutradaraan maupun naskah yang ditulis Joe Russo, Christopher Markus, dan Stephen McFeely. Dosa besar duo sutradaranya, yang memunculkan pesimisme kalau di masa depan nanti bakal ada studio mau mengucurkan dana ratusan juta untuk mereka, adalah kegagalan membuat The Gray Man nampak punya biaya 200 juta dollar.
Saya bukan sedang menyinggung kualitas CGI sebagaimana kerap jadi acuan publik menentukan apakah sebuah film kelihatan mahal. Simak pilihan-pilihan shot mereka, khususnya di adegan aksi. "Datar", tanpa money shot, bahkan tak jarang terkesan "asal rekam". Ambil contoh set piece di Praha yang memakan biaya 40 juta dollar. Penuh efek, destruktif, tapi lihat bagaimana Russos menangkap Ryan Gosling berlari di atas trem yang hendak menabrak gedung (muncul di trailer). Canggung, kalau tak mau disebut memalukan. Sutradara blockbuster bertalenta bakal mampu mengolah money shot agar si protagonis nampak badass dalam situasi tersebut.
Kasus serupa terjadi dalam sekuen "pesawat jatuh". Saya cuma melihat keruwetan di layar. Tanpa estetika, tanpa intensitas. Beberapa bulan lalu Michael Bay merilis Ambulance, yang meski tidak luar biasa, jelas nampak lebih mahal walau hanya diberi bujet 20% dari The Gray Man, berkat kecerdikan meramu shot. Sedangkan Russo Brothers beranggapan bahwa memakai drone sesering mungkin adalah pondasi kemewahan.
Naskahnya tidak kalah berdosa, entah terkait hal-hal dasar seperti cerita dan penokohan, sampai soal konsepsi adegan aksi. Court merupakan father figure bagi Claire (Julia Butters), ponakan Fitzroy, namun akibat presentasi lemah, ikatan mereka tampil tak bernyawa. Gosling pun bak kebingungan menghidupkan sosok Court, sebab naskahnya sendiri tidak jelas dalam menentukan, apakah karakternya sedingin es dan gemar melempar dry humor, atau memang witty.
Terkait aksi, sebuah sekuen memperlihatkan jelas betapa buruk naskahnya dalam hal pengonsepan. Court diborgol di bangku taman, sementara belasan pembunuh mengepungnya. Situasi macam itu mestinya jadi ajang menegaskan betapa hebatnya si jagoan sampai bisa melumpuhkan begitu banyak lawan di tengah keterbatasan. Tapi tidak. Para pembunuh bukan kelabakan karena kemampuan luar biasa sang protagonis, tapi akibat banyaknya polisi. Jangan-jangan penulisnya belum menonton seri 007, Mission: Impossible, atau John Wick.
Lalu setelah menanti selama hampir dua jam, akhirnya Ryan Gosling dan Chris Evans saling adu jotos.....untuk diakhiri secara antiklimaks. Benar, novelnya mengambil jalan serupa, tapi adaptasi layar lebar memerlukan penyesuaian. Pun sebagai adaptasi, naskahnya berhak memodifikasi, selama bukan terkait hal-hal yang merusak intisari materi asalnya.
Apakah tidak ada redeeming factor di sini? Untungnya ada, yakni jajaran cast-nya. Evans tampak bersenang-senang meski (lagi-lagi) naskah semestinya bisa memberi tambahan materi agar sang aktor dapat mengeksplorasi kegilaan karakter peranannya. Dhanush sebagai Lone Wolf si "pembunuh dari Tamil" di luar dugaan mendapat porsi lebih dari sebatas glorified cameo, dan saya mengapresiasi itu. Ana de Armas kembali mencuri perhatian sebagai jagoan laga tangguh, yang pantas berada di film dengan kualitas lebih baik.
(Netflix)
REVIEW - NO TIME TO DIE
No Time to Die melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan film Bond lain, yakni memberi closure. Sejak era Sean Connery sampai Pierce Brosnan, petualangannya cenderung "lepas". Beberapa sekuel meneruskan kisah sebelumnya, tapi bukan sebagai saga yang berkelanjutan dan saling berpengaruh. Ditambah lagi kontinuitas ambigu serinya, yang sampai memunculkan beragam teori.
Tapi sejak Casino Royale 15 tahun lalu, era Craig memang mendobrak berbagai pola, termasuk memanusiakan Bond sebagai pria dengan trauma yang dipicu kehilangan demi kehilangan. Ketika Vesper Lynd (Eva Green) tewas di Casino Royale, kita tahu ini berbeda dengan kematian Tracy di Vicenzo dalam On Her Majesty's Secret Service (1969). Dampak kehilangan Lynd terus Bond rasakan, membentuknya menjadi figur yang terluka dan sulit menaruh rasa percaya.
Pasca berhasil menangkap Blofeld (Christoph Waltz), Bond pensiun dari MI6 guna menjalani hidup baru bersama Madeleine (Léa Seydoux) di Italia. Sampai serangan para anggota Spectre membangkitkan traumanya, membuatnya mempertanyakan intensi Madeleine. Lima tahun berselang, sebuah kelompok teroris di bawah pimpinan Lyutsifer Safin (Rami Malek) menebar ancaman lewat senjata biologis mematikan, sehingga memaksa Bond kembali beraksi.
Ditulis oleh duo Neal Purvis dan Robert Wade yang telah melahirkan naskah Bond sejak The World Is Not Enough (1999), juga Phoebe Walter-Bridge serta sang sutradara, Cary Joji Fukunaga, sekilas tiada perubahan signifikan antara film ini dengan Skyfall (2012) dan Spectre (2015), selaku kombinasi formula klasik dan modern serinya. Antagonis dengan rencana merusak tatanan dunia; petualangan di berbagai negara, alat canggih ciptaan Q (Ben Whishaw); M (Ralph Fiennes) dan Moneypenny (Naomie Harris) yang tak lagi hanya duduk di belakang meja; dan lain-lain.
Serupa. Tapi, tidak sama. Konflik maupun motivasi karakter, bermuara pada gejolak batin si agen rahasia, ketimbang berdiri sendiri sebagai plot device, menegaskan bahwa film-film Craig merupakan character-driven. Konklusinya mungkin memecah opini penggemar, namun jelas pantas menutup cerita tentang individu yang berusaha memaafkan diri sendiri, sambil belajar cara mencintai. Setelah hampir enam dekade, Bond akhirnya berubah total, dari playboy yang rutin berganti wanita, menjadi pria yang meneteskan air mata sembari tersenyum karena cinta.
Sebagaimana Casino Royale, kelayakan Craig menyabet nominasi Oscar kembali diutarakan banyak kritikus. Tentu peluangnya amat kecil, namun poin utamanya bukan soal berhasil meraih penghargaan atau tidak, tetapi bagaimana Craig memanusiakan Bond, menjadikannya lebih dari sekadar ikon keren, melainkan sosok yang perasaannya bisa penonton pahami.
Jajaran bond girls pun terus berevolusi, naik kelas, bukan cuma pemanis semata. Léa Seydoux bakal mencatatkan namanya di buku sejarah James Bond karena alasan yang tidak bisa saya sebut demi menghindari spoiler. Pastinya, meneruskan jejak Vesper, Madeleine berkontribusi menambah bobot emosi penceritaan. Sedangkan Ana de Armas sebagai Paloma si agen CIA, meski cuma muncul sejenak, turut membawa angin segar. Dia canggung, playful, tapi begitu mengangkat senjata, jelas bahwa masa di mana bond girls adalah damsel in distress yang selalu butuh ditolong, telah berakhir. Paloma is the first bond girl that deserves a spin-off.
Bond yang lebih manusiawi, gadis-gadisnya yang makin modern, semua menyangkut relevansi. Mungkin itu juga, kenapa bagi saya, amunisi Safin lebih mengerikan dari kebanyakan musuh Bond. Senjata biologis yang menyasar target secara spesifik melalui DNA, pun bisa menyebar hanya lewat satu sentuhan layaknya virus mematikan. Bagaimana jika kita menularkan virus itu ke tubuh orang terdekat? Teror Safin memainkan salah satu rasa takut terbesar manusia, yaitu terpisahkan dari orang-orang tercinta. Bakal berbeda jika dipakai lima tahun lalu, tapi sekarang, senjata tersebut jadi lebih nyata, dan memunculkan ketidakberdayaan yang terasa sangat dekat.
Berkatnya, Safin naik kelas. Malek memang tampil cukup baik, dengan ekspresi serta cara bicara dingin, yang membuatnya tampak tak manusawi (berlawanan dengan Bond). Tapi ganti terornya, semisal dengan alat pengendali nuklir, ditambah eksplorasi latar belakang setengah matang, maka ia tak ubahnya antagonis megalomania lain yang sudah sering jagoan kita hadapi.
No Time to Die bukannya tanpa kelemahan. Durasi 163 menitnya (film 007 terpanjang) sulit dijustifikasi. Mengulangi kekurangan Spectre, banyak momen berjalan terlalu panjang (mayoritas berupa eksposisi), pula minim upaya menjadikannya menarik. Bandingkan dengan Casino Royale. Second act-nya didominasi permainan poker, yang secara cerdik, disulap jadi alat pembangun dinamika antara Bond dengan antagonis dan tokoh-tokoh pendukung lain. Satu peristiwa yang terdengar membosankan, rupanya menyimpan banyak fungsi.
Cukup melelahkan, setidaknya sampai adegan aksi mengisi layar. Melalui sekuen pembuka yang meminjam elemen home invasion horror dan baku tembak di tengah hutan berkabut, Fukunaga membawa Bond ke ranah lebih atmosferik, di samping aksi bombastis khas franchise-nya (dan satu sekuen long take). Solid, meski belum seintens Casino Royale, belum pula menandingi pencapaian artistik Skyfall. Begitu pun keseluruhan filmnya. Walau bukan judul terbaik dalam era Craig, No Time to Die merupakan perpisahan yang pantas. James Bond akhirnya berproses, berkembang, dan "merasakan".












